Showing posts with label Sehat Ihsan Shadiqin. Show all posts
Showing posts with label Sehat Ihsan Shadiqin. Show all posts

16 September 2014

Autoetnografi: Dari Pengalaman ke Teks

Apa yang paling mudah ditulis? Jawabnya sudah pasti: pengalaman pribadi, sesuatu yang pernah dilakukan, dialami, dan itu sangat berkesan. Berbeda dengan pengetahuan yang sering kali terlupakan, pengalaman seperti terpatri di dalam ingatan seseorang. Semakin berkesan sebuah pengalaman, maka semakin kuat ia melekat dalam ingatan. Memang terkadang ia mengalami degradsai, atau bahkan penambahan dalam beberapa aspek detail, namun substansi sebuah pengalaman tetap tidak akan pernah hilang. 

Sayangnya, seringkali pengalaman personal ini diposisikan sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bisa dipakai sebagai data dalam penelitian. Penelitian yang -selalu dianggap- sangat objektif, berusaha seminimal mungkin menggunakan intervensi pribadi sipeneliti dalam laporannya. Peneliti -dianggap- harus independen, harus tidak memihak, dan harus menyajikan data apa adanya seperti yang ia temukan di lapangan. Ia harus memihak pada data, pada temuan-temuan faktual yang ada tenpam emanipulasinya. Hanya dengan cara seperti itu sebuah masalah dapat dilihat lebih terang dan intervensi atas masalah tersebut bisa dilakukan dengan objektif pula.

Anggapan demikian ada benarnya, namun dalam beberapa model penelitian sebenarnya tidak tepat. Seorang peneliti sosial adalah seorang yang mencoba mendalami pengalaman, cara pandang, proses perjalanan hidup seseorang untuk diangkat menjadi sebuah bahan analisis akademik. Pengalaman orang tersebut akan dijadikan bahan untuk dilihat berbagai aspek yang melatarbelakanginya, aspek yang mempengaruhi, hubungan antara satu orang dengan orang lain, faktor pembentuk, dan lain sebagainya sesuai dengan tujuan, metoda, atau teori yang digunakan. Dengan dasar ini, kenapa seseorang tidak bisa menggunakan pengalamannya sendiri sebagai basis sebuah penelitian sosial? Bukankah ia sangat memahami pengalamnnya? Ia mengerti, dan bahkan sangat mengerti, apa yang pernah ia alami? 

Autoetnografi 
Dalam konteks inilah sebuah penelitian autoetnografi dapat digunakan. Autoetnografi adalah penelitian sosial yang sangat dekat dengan antropologi. Sebelumnya hanya dikenal etnografi, yakni sebuah penelitian yang mencoba mendeskripsikan sistem hidup yang berlangsung dalam seubuah masyarakat. Pada awalnya, etnografi digunakan oleh sarjana Barat untuk mendeskripsikan kebudayaan dan kehidupan bangsa di Timur. Beberapa karya besar dalam antropologi sesungguhnya dilakukan melalui sebuah proses etnografi. Mereka tinggal dan hidup dengan sebuah suku bangsa, dan melihat semua proses yang berlangsung dalam suku bangsa tersebut. Inilah yang kemudian dijadikan bahan dalam membuat teori sosial mereka. Dalam autoetnografi, maka “suku bangsa” yang dilihat itu adalah diri sendiri. 

Ada banyak pengalaman yang dilalui oleh seseorang selama ia hidup. Ia pernah melalui masa kecil, masa bermain, masa sekolah. Ia pernah mengalami bagaimana berinteraksi dengan orang lain pertama kali, bagaimana menjalani hidup saat sekolah, saat remaja, dan bahkan beberapa waktu sebelum ia menulis. Ia pernah memutuskan sesuatu baik untuk dirinya atau untuk orang lain, ia pernah mendapatkan tanggung jawab dan menajalninya. Singkatnya, seorang orang yang masih hidup pernah melalui sebuah proses hidup yang banyak diantara pengalaman itu masih diingat dan direkam dalam pikirannya. Inilah yang dijadikan bahan dalam sebuah penelitian Autoetnografi. 

Bagaimana Menulis Autoetnografi? 

Langkah Pertama, dan paling penting, seorang peneliti harus mencatat pengalamannya sendiri dalam berhadapan dengan orang lain, keterpengaruhannya pada sesuatu, alasannya memilih atau tidak memilih sesuatu, dan hal lain yang memiliki relevansi dengan penelitian. Catatan ini harus sedetail mungkin, persis seperti sebuah narasi cerita. Aspek-aspek di luar yang dialami juga dicatat unutk menunjukkan cerita itu hidup dan dialami secara alami. Sebenarnya semua cerita bisa dipakai untuk sebuah penelitian etnografi. Namun dalam artikel pendek, misalnya makalah untuk jurnal, maka pengalaman yang diangkat hanya yang relevan dengan apa yang hendak dibahas saja, dan disesuaikan dengan pendekatan keilmuan yang dipakai dalam menulis. 

Kedua, Pengalaman yang ada dikalsifikasikan dalam tema tertentu yang hendak ditulis dalam artikel. Semua pengalaman akan membantuk sebuah tema dan tema ini akan menjadi “sub judul” dalam sebuah artikel. Letakkan pengalaman itu di bawah sub judul yang hendak ditulis. Sebuah sub judul bisa saja memiliki satu pengalaman saja, atau bisa beberapa pengalaman kalau ia memiliki relevansi dan unsur tambahan yang penting untuk menjelaskan sebuah sub judul. 

Ketiga, menjelaskan pengalaman dalam konteks sosial di mana pengalaman itu dilakukan atau terjadi. Misalnya, pengalaman “dipukul oleh orang tua”, dibahas dalam konteks bagaimana masyarakat sekitar melakukan atau tidak melakukan hal yang sama. Atau bagaimana sebuah kekerasan pada anak dalam bentuk yang lain terjadi di lingkungan itu. Jika terkait dengan pengalaman “desa yang hijau” bisa dijelaskan konteks bagaimana “hijau” itu terjadi, dimanfaatkan, dan dipersepsikan oleh masyarakat sekitar. Intinya, pengalaman personal harus dijelaskan dalam konteks yang lebih luas di sekitarnya, bukan berdiri di arena kosong dan hampa. 

Keempat, menempatkan pengelaman itu dalam konteks teoritis yang lebih luas lagi. Dalam fase ini maka apa dan siapa menjadi tidak penting lagi, yang utama adalah pola pengalaman itu sendiri. Kita belajar dari pola-pola itu dan menganalisanya dengan teori yang ada. Dalam kontek ini kita bisa mendukung sebuah teori, menjelaskan teori, memperbaiki atau bahkan memabantah teori yang sudah ada sebelumnya. Dalam kontek ini juga pengalaman personal itu akan dianalisis dengan jalan yang lebih serius yang melibatkan beragam analisis sejenis dalam kontek masyarakat yang berbeda yang pernah ditulis oleh para ahli. 

Memulai Autoetnografi 

Kembali pada paragraf awal tulisan ini, bahwa hal yang paling mudah kita tulis adalah pengalaman sendiri, sebab itu sangat kita ingat dan membekas dalam pikiran kita. Oleh sebab itu, saat merasa “tidak ada ide” untuk menulis, maka tulislah pengalaman sendiri dan jelaskan konteks pengalaman itu terjadi. Tidak harus menjadi sebuha makalah ilmiah, menulis autoetnografi bisa saja hanya dimulai dalam catatan kecil dan ringkas seperti di dalam blog ini. Dalam konteks ini kita belajar merangkai kata dan menyusun logika-logika yang nantinya dalam makalah ilmiah juga akan dipakai meskipun dengan analisis yang lebih dalam dalam kompleks. 

Banda Aceh, 16 September 2014.

28 June 2011

Sehari Bersama Keluarga Italia

Saya beruntung, dalam sebuah kunjungan ke Milan beberapa waktu yang lalu, saya bisa tinggal dengan sebuah keluarga asli Italia. Awalnya, saya diperkenalkan oleh seorang teman kepada seorang perempuan yang menurut saya hampir sebaya saya juga, namanya Amalia. Ia tinggal di Pavia, sebuah kota yang tidak jauh dari Milan. Ia mengundang saya ke kotanya untuk melihat kota lama peninggalan Romawi kuno. Dan pada satu hari minggu, saya memenuhi undangannya mengunjungi Pavia. Hanya 30 menit dari Milan dengan kereta api.

Sebelum mampir ke rumahnya, saya diajak makan siang di sebuah desa pinggiran, tidak jauh dari Pavia. Perjalan ke sana butuh waktu 30 menit. Namun karena ini perjalanan pertama saya ke Eropa, saya merasa semua indah. Pohon-pohon yang masih kering, lahan gandum yang siap tanam, dan pegunungan di kejauhan yang nampak ditutup salju. Sungguh memikat hati. Apalagi Amalia selalu menjelaskan tentang semua tempat yang kami lewati.

Rumah yang kami tuju adalah sebuah bangunan kecil namun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ia ada di tengah ladang gandum yang maha luas. Rumah itu nampak seperti tidak terurus. Di depannya tumbuh rumput hijau yang memanjang dan tidak dirapikan. Ada sampah dedauanan di mana-mana. Bebeberapa pohon yang tumbuh di depan rumah juga seperti tidak dirapikan. Namun kondisi ini menunjukkan sebuah suasana pedesaan yang sangat khas.

Si empunya rumah adalah keluarga muda yang punya tiga orang anak, dua perempuan dan yang bungsu laki-laki, masih balita. Clara, sanga istri mengaku tidak kuliah. Setelah tamat SMU ia menikah dan mengurus anaknya. Karenanya, ia bekerja sebagai desainer sekaligus penjahit di rumahnya. Semula saya kurang yakin, sebab dalam benak saya, kalau ia desainer dan penjahit, pasti ia butuh tenaga kerja. Sementara itu tidak terlihat di rumahnya. Setelah saya tanya, ternyata ia mendesain sendiri dan menjahit sendiri baju yang akan dijual. Ia mengaku memilih jenis kain yang bagus, membuatnya dengan bagus pula sehingga bisa dijual mahal. Baju hasil desainnya dijual di pusat kota Milan.

Si suami, Fabio, adalah laki-laki muda yang tinggi. Ia mengaku seorang petani. Ia pernah bekerja di Inggris 9 bulan sebagai pelayan restoran. Karenanya ia bisa bahasa Inggris, meskipun sudah tidak lancar lagi karena sudah lama. Namun kemampuan bahasa ini membuat saya merasa nyaman berada di sana. Apalagi selama ada saya, mereka tidak bicara bahasa Italia, melainkan bahasa Inggris.

Fabio ahli masak. Dialah yang memasak makan siang untuk kami. Ia mengatakan kalau ia memasak sesuatu yang berbeda kepada saya. Katanya” “Amalia bilang kalau kamu seornag muslim. Kami hanya tahu kalau muslim tidak boleh makan babi. Saya masak pasta dengan labu untuk kamu. Saya masakkan dalam panci masak air, supaya tidak ada bekas babi.” Sungguh saya terharu. Grazie Fabio. Mereka menghargai keimanan saya dengan caranya sendiri.

Namun ada yang mengesakan saya. Anak perempuan Clara yang berusia tujuh tahun digigit anjing saat ia sedang bermain hingga berdarah. Ia tidak menjerit, tidak menangis. Ia datang kepada ibunya dan mengatakan kalau ia digigit anjing. Karena Clara sedang membereskan piring di meja, ia meminta kakaknya membersihkan luka si adik dengnan tissue. Setelah darah dibersihkan, mereka kembali bermain, termasuk anjing yang barusan menggigitnya.

Menjelang sore kami kembali ke Pavia, menuju rumah Amalia. Saya diperkenalkan dengan suami Amalia. Ia mengaku pernah pergi ke Bali lima tahun yang lalu. Dan masih bisa mengucapkan “Apa Kabar” denga nada dan intonasi khas Italia. Ia seorang punk, namun juga seorang professor sejarah Eropa Klasik yang mengajar di sebuah Universitas di Bologna.

bersambung…..

05 June 2010

Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!

Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: Mahalnya Ongkos Sekolah. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)

Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.

Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.

Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.

Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.

Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.

Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.

Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.

Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.



Tsunami dan Aceh Yang Berubah

“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”

Profesor Emeritus Harold Crouch
ANU-Australia

Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.

Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?

Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.

Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.

Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.

Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.

Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.




Kenapa Membaca Biografi?

Semua orang akan menjalani hidup seperti adanya. Semua orang punya jalannya sendiri. Anda tidak mungkin berjalan di rel orang lain meskipun mereka dengan rel itu telah sampai pada tujuannya. Tuhan Maha Kaya dan Dia menciptakan semua manusia sebuah rel.

Lalu kenapa perlu membaca biografi orang lain? Pertanyaan ini muncul suatu ketika saat kami mulai mendiskusikan beberapa tokoh sufi terkemuka pada awal-awal kebangkitan Islam. Kalau para sufi sukses itu adalah jalannya sendiri yang sama sekali tidak ada kesamaan dengan jalan sufi lainnya. Dan mereka membentuk jalannya sendiri tanpa mencontoh jalan spiritual yang dibangun oleh orang lain. Lalu untuk apa kita tahu hidupnya? Bukankah kita juga memiliki jalan spiritual sendiri?

Biografi adalah penjelasan dari sebuah potret kehidupan yang pernah dijalani oleh seseorang dalam mendapatkan suatu tujuan. Selama ini biografi identik dengan kehidupan orang sukses dan mendapatkan posisi “terhormat” dalam kehidupan masyarakat. Sebab kesukksesan dalah keinginan semua orang. Sehingga mereka cenderung ingin mengetahui apa dan bagaimana seorang telah melakukan sesuatu sehingga ia menjadi sukses.

Ada seribu alasan untuk mengatakan kenapa sebuah biografi itu perlu. Diantaranya adalah membaca biografi akan membuka mata kita pada jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup. Tidak ada masalah yang sama di dunia ini, yang ada hanyalah kemiripan. Terkadang kita stres tidak mendapatkan jalan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Nah, dengan membaca biografi mungkin kita mendapatakn alternatif pemecahan dan solusi berdasarkan pengalaman orang lain.

Kedua, membaca biografi akan memberikan kita penjelasan lebih beragam mengenai kehidupan. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, punya pemikiran yang berbeda pada satu hal yang sama. Dengan membaca biografi kita akan tahu kalau di sana ada banyak cara orang menafsirkan suatu hal dan suatau persoalan. Dan ini bisa menjadi sebuah pengayaan wawasan kita dan menjadi suatu masukan untuk menyempurnakan konstruksi pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Ketiga, membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.

Ada yang mau mendambahkan?

Kesimpulan: Membaca biografi memperkaya jiwa :-D

menulis biografi apalagi, meperkaya jiwa, dan memperkaya diri (baca: mendapatkan komisi hasil penjualan, heheheh)




06 April 2010

Ada Tuhan dalam Bola? (1)

Satu dari teman saya di kos-kosan tahun 2002 adalah alumni pesantren yang sangat taat dan alim. Ia menjalani harinya dengan bedakwah, memuji Allah; sepanjang jalan, dalam shalat, dalam makan, dalam semua aktiitas yang ia lakukan. Ia juga sangat ramah dan dermawan. Apalagi banyak nasehatnya yang sangat “berisi” dan menjadi teladan yang baik untuk menjalani kehidupan. Karenanya tanpa ragu kami mengangkatnya menjadi imam untuk mushalla kecil di kos-kosan kami. Dia yang menjadi imam dan memberikan siraman ruhani setiap shalat maghrib dan -kadang-kdang- subuh. Apa yang ia sampaikan sungguh, menentramkan hati.

Namun ada satu hal yang paling ia benci; kebiasaan kami menonton pertandingan bola kaki. Sebab lebih dari setengah teman-teman yang ada di kos-kosan adalah penggila bola. Hampir setiap akhir minggu, saat liga-liga di Eropa dilaksanakan, kami beramai-ramai menunggu dengan sabar di depan televisi. Karena di kos-kosan tidak ada TV, maka kami menontonnya di warung kopi yang agak jauh dari kos-kosan. Kami datang ke sana beberapa saat sebelum pertandingan di mulai. Kalau jam 02.00 dini hari, seperti pertandingan La Liga, maka jam 01.00 kami mulai bergerak. Sebab kalau terlambat bisa-bisa tidak kebagian kursi.

Nah, perilaku inilah yang paling dibencinya. Katanya, nonton bola membuang-buang waktu. Tidak ada manfaat apapun yang bisa dipetik di dalamnya selain capek, mengantuk pagi hari, habis uang bayar air dan makan mie. Sementara yang dilihat hanya gambar manusia seukuran telunjuk yang bergerak dalam layar televisi. Bersorak saat tercipta gol, berdesah saat gagal gol, berkeluh kesah saat tim kesayangan kalah, bergembira saat tim kesayangannya menang. “Itu konyol!” katanya dalam sebuah ceramah setelah maghrib. “Sama sekali tidak ada manfaatnya. Jak mita boh-boh sidom na cit!” katanya mengumpamakan dalam bahas Aceh.

Dasar anak kos, seusia pula dengan sang ustaz, semua tertunduk dan saling memandang saat ia cerita demikian. Namun pada malam-malam saat pertandingan akan dilaksanakan, kami kembali mendatangi warung kopi buat nonoton bola. Bahkan tidak segan kami mengajaknya juga, meskipun kami yakin ia akan menolak dan memberikan sedikit “pencerahan” agar kami segera meninggalkan kebiasaan “buruk” itu. Hal ini terjadi berbulan-bulan, hingga dilaksanakan piala dunia tahun 2002.

Tahun 2002 itu saat itu saya sudah pindah kos ke tempat lain karena melanjutkan pendidikan. Saya tidak pernah mendengar ceramahnya lagi. Apalagi “bahasannya” mengenani bola. Meskipun masih di Banda Aceh, kami sudah jarang bertemu. Di lokasi baru di mana saya tinggal, saya merajut pengalaman lain. Dan di kosan lama, dimana teman kami sang ustaz tinggal, ia merajut pengalaman lainnya. Tidak semua pengalamannya saya ketahui.

Suatu hari, masih di tahun 2002 akhir, saya berjumpa dengannya. Ia bicara tentang Inter MIlan dan Bacelona, serta menomentari perhelatan akbar para penggila bola di seluruh dunia yang baru beberapa bulan berlalu. Semula saya menduga ia mau menghujat teman-teman yang menyukai klub bola tersebut. Namun ketika mendengar lebih jauh, saya mendapatkannya mendeskripsikan dengan baik kekuatan dan kelemahan tim-tim bola tersebut. Katanya ada peluang-peluang yang diabaikan oleh pelatih, ada hal-hal yang tidak dilakukan oleh pemain. Bahkan ia menawarkan beberapa tips, kepada saya (meskipun dia tahu kalau saya bukan bagian dari manajemen Barcelona dan Inter Milan), sehingga kedua tim dapat tampil lebih bagus.

Karena heran, saya bertanya, “kenapa Teungku (ustaz) sudah suka bola?”

“Karena dalam bola ada Tuhan,” katanya.

Ia menjelaskan panjang lebar.

bersambung…..

***

Janganlah membenci sesuatu dengan berlebihan, mungkin saja engkau belum mengenalnya. Tapi ketika engkau tahu ada pelajaran di sana, engkau menjadi berubah. Alangkah malunya mereka yang dulu mengejek dan menjelekkan sesuatu tetapi kemudian berlaih memuji dan menyanjungnya.

05 April 2010

Indatu Ureung Aceh

Indatu adalah sebutan orang Aceh kepada funding father mereka. Kata ini sepadan dengan kata ‘nenek monyang’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘indatu’ tidak merujuk pada seseorang atau sekelompok orang tertentu, namun merujuk pada beberapa orang yang samar yang dianggap pernah hidup pada masa lalu. Kata indatu selalu disebutkan pada beberapa kesempatan yang berkaitan dengan tercemarnya moralitas, tercoreng harga diri, dan perubahan budaya pada sistem yang dianggap tidak memiliki dasar budaya sendiri. Arti kata ‘indatu’ dipersepsikan sangat kontekstual, sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung.

Pada kasus pencemaran moralitas, maka yang dianggap indatu adalah para ulama yang pernah hidup di Aceh sejak masa lalu hingga ulama yang meninggal belum lama. Orang Aceh menempatkan ulama sebagai bagian yang integral dan tidak terpisahkan dari kehidupan sosial mereka. Mereka menempatkan ulama sebagai rujukan untuk sebuah pembenaran mengenai salah dan benar dalam suatu perbuatan. Peran demikian ini menjadikan ulama sangat sentral karena semua perbuatan dan aktifitas yang dilakukan masyarakat dikaitkan dengan keputusan dari ulama. Karenanya, ulama tetap mendapatkan penghormatan, pun mereka sudah meninggal dunia.

Pencemaran moralitas yang dianggap telah mengotori ajaran indatu dari kalangan ulama umumnya berkaitan dengan pakaian dan pergaulan. Seseorang yang melihat banyak masyarakat yang memiliki gaya pakaian tidak sesuai dengan budaya Aceh (yang umumnya dikaitkan dengan Islam) maka masyarakat tersebut dianggap sudah mencoreng wajah indatu. Mereka telah mengkhianati budaya Aceh yang lalu yang penuh dengan nilai-nilai Islam dalam berpakaian. Mengenakan pakaian ala eropa yang terbuka dan tidak mengenakan kerudung berarti telah menjadikan orang luar Aceh sebagai patron dalam berpakaian. Ini salah satu indikasi kalau masyarakat Aceh telah melupakan ajaran indatu mereka.

Harga diri orang Aceh dalam hubungannya dengan indatu berkaitan dengan kebijakan politik. Dalam hal ini indatu yang dipersepsikan adalah mereka yang membangun kerajaan Aceh Darussalam ratusan tahun yang lalu. Mereka telah membangun kerajaan Aceh Darussalam sebagai sebuah bangsa merdeka seperti halnya bangsa-bangsa lain di dunia. Banyak orang Aceh bahkan sangat yakin kalau Aceh pada masa lalu termasuk salah satu kerjaan besar yang setara dengan Dinasti Otoman di Turki bahkan dengan kerjaan Inggris di Eropa. Kebesaran kerajaan Aceh ini dikaitkan dengan kepemimpinan beberapa rajanya yang berjaya menjadikan Aceh go Internasional melalui perdagangan dan kerja sama peperangan.

Dengan persepsi di atas, maka ketertundukan kepada berbagai kebijakan pemerintah, dalam hal ini Indonesia, yang terjadi selama ini dianggap telah “melukai” hati indatu yang berjuang keras menegakkan kerajaan Aceh Darussalam di masa lalu. Apalagi ketertundukan yang dilakukan pemerintah Aceh saat ini bukan sekedar ketertundukan administratif di mana Aceh mengakui diri sebagai bagian dari Indonesia, namun juga ketertundukan politik. Ketertundukan polisitk ini ditunjukkan ketika politik dan kebijakan di Aceh sangat ditentukan oleh kebijakan politik di Jakarta. Berbagai penghargaan dengan menyebut Aceh sebagai daerah istimewa tidak berarti apa-apa. Politisi dari pemerintah pusat tetap mendominasi kebijakan politik di Aceh. Ketertundukan ini juga dianggap sebagai praktek yang telah mencoreng harga diri indatu orang Aceh masa lalu.

Aspek lain yang dianggap “mencoreng muka” indatu adalah kecenderungan masyarakat yang mengikut gaya hidup yang jauh berbeda dengan apa yang pernah ada dalam masyarakat Aceh dalam sejarah. Beberapa gaya makan, prosesi budaya –seperti pernikahan dan pesat lainnya-, juga hubungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari yang dianggap lebih bebas dari sewajarnya. Perilaku ini merupakan salah satu indikasi kalau masyarakat Aceh dianggap telah meninggalkan ajaran indatu mereka.

Kuasa Indatu

Dalam beberapa masyarakat suku di Nusantara ada keyakinan bahwa nenk monyang mereka yang sudah ada di alam akhirat dapat mempengaruhi kehidupan mereka yang masih ada di dunia. Inilah yang menyebabkan beberapa suku Dayak dan Asmat membuat kuburan batu sebagai tempat peristirahatan yang baik bagi tulang belulang nenek monyangnya. Demikian juga orang Batak Toba besaing membangun Tugu tempat menyimpanan tulang belulang nenek monyang mereka di pulau Samosir. Ini semua dilakukan agar nenek monyang tidak murka kepada mereka yang masih hidup namun lalu menurunkan bencana kepada mereka.

Dalam tataran konsep pandangan seperti tersebut di atas hampir tidak ditemukan dalam masyarakat Aceh. Hal ini disebabkan keyakinan bahwa orang yang telah meninggal dunia tidak memiliki hubungan dengan oarang yang masih hidup di dunia. Mereka telah berada di alam sana yang sama sekali tidak mampu lagi mengatur berbagai problematika kehidupan di alam dunia. Para ulama di Aceh juga selalu menjelaskan persoalan ini kepada umat Islam. Bahwa seseorang yang telah pergi meninggalkan dunia, maka hubungannya telah terputus dengan dunia ini. Ia sama sekali tidak dapat mengintervensi lagi apa-apa yang terjadi di dunia.

Pun demikian dalam beberapa kelompok masyarakat keyakinan bahwa indatu mereka dapat memberi berkah, memberi kesembuhan, memberi kedamaian dan bahkan dapat menjadi perantara untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. Hal ini terlihat dari beberapa prosesi budaya yang berkembang dalam masyarakat. Di beberapa kuburan indatu orang Aceh dilaksanakan prosesi penghormatan kepada mereka. Sekelompok masyarakat di Aceh Jaya misalnya, melaksanakan sebuah kenduri masal pada harii Raya Idul Adha setiap tahun untuk menghormati indatu mereka yang dimakamkan di sebuah bukit pinggir laut. Demikian juga dengan masyarakat Nagan Raya yang menempatkan sebuah makam indatu mereka sebagai tempat yang mulia. Mereka datang ke sana untuk berdoa dan beribadah dengan harapan ibadah mereka lebih cepat diterima Allah.

Penghormatan pada Indatu

Yang paling banyak dilakukan masyarakat Aceh adalah penghormatan pada indatu mereka dengan memberikan pelayanan pada makam dan nama besar mereka. Di Aceh ada sebuah kenduri yang dikenal dengan nama kenduri jeurat. Kenduri ini adalah salah satu prosesi yang dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menghormati mereka yang telah meninggal dunia. Dalam prosesi ini, selain membersihkan makam-makam umum, makam keluarga dan makam-makan tokoh yang mereka hormati, juga mengadakan doa bersama kepada mereka yang sudah ada di alam sana. Doa ini dikirim kepada mereka dengan memohon kepada Allah agar memberikan mereka kebahagiaan dan menjauhkan mereka dari siksa.

Penghormatan lain yang diberikan dengan membuat bangunan yang bagus di atas makam-makam tertentu. Seperti halnya di daerah lain di seluruh dunia Islam, makam ulama, raja, pahlawan, dan orang penting lainnya berbeda dengan makam masyarakat biasa. Di atas makam mereka didirikan bangunan beton yang kuat sehingga bisa bertahan puluhan tahun. Pada beberapa makam penting, seperti makam Syiah Kuala di Banda Aceh, juga disediakan mushalla tempat di mana orang bisa beribadah dan berdoa. Makam-makam seperti ini bukan hanya dikunjungi oleh orang Aceh saja, namun banyak pula yang berasal dari luar Aceh, bahkan luar negeri, seperti Malaysia.

Indatu dan Pemberontakan

Sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kepada negara Republik Indonesia selama hampir sepuluh tahun (1998- 2005) memasukkan indatu sebagai salah satu alasannya. Bagi kelompok GAM, Aceh adalah sebuah negara berdaulat sebagai negara sendiri dan bukan menjadi bagian dari negara lain seperti yang terjadi selama ini. Oleh sebab itu bergabungnya Aceh dengan Indonesia telah melangkahi perjuangan Indatu Ureung Aceh masa lalu di mana mereka telah bersusah payah berjuang mendirikan Aceh sebagai negara berdaulat. Apalagi, menurut GAM, selama bergabung dengan Indonesia Aceh dijadikan sapi perahan dengan mengambil seluruh kekayaan alam di Aceh dan membawanya ke Jakarta, sementara orang Aceh sendiri hidup menderita.

Dengan alasan meneruskan perjuangan indatu tersebut, GAM melancarkan pemberontakan pada negara Repulik Indonesia. Pemberontakan ini sering dianggap sebagai kelanjutan dari pemberontakan lain yang memang terjadi di Aceh sepanjang sejarah. Pada masa kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam sekalipun berbagai pemberontakan telah dilakukan oleh orang Aceh melawan Portugis, Inggris, Belanda, Jepang, dan lain sebagainya. Dengan demikian pemberontakan yang dilakukan kepada pemerintah Indonesia adalah salah satu “kalanjutan” dari rangkaian pemberontakan tersebut. Meskipun akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 2005 GAM mengakhiri pemberontakannya, namun pemikiran yang menempatkan indatu sebagai dasar untuk mengatakan hubungan Aceh-Indonesia bermasalah, masih ada dalam banyak jiwa orang Aceh hingga sekarang ini.

Masa Depan Indatu

Keyakinan akan peran besar indatu dalam kehidupan duniawi orang Aceh telah menjadi sebuah spirit dalam banyak hal. Meskipun tidak secara langsung, adanya keyakinan akan keberadaan indatu menyebabkan tumbuhnya semangat berbuat baik dan memperjuangkan kebenaran. Pasti tidak semua apa yang terjadi di aceh dan dilakukan dalam masyarakat Aceh didorong oleh keberadaan indatu, namun setidaknya itu menjadi faktor dominan dalam beberapa praktik budaya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi modern apakah semangat yang dilatari oleh keberadaan indatu ini akan punah? Waktu akan menjawabnya. Namun belajar dari beberapa bangsa besar jelas menunjukkan mereka tetap menempatkan pahlawan dan orang yang berjasa sebagai bukti semangat. Beberapa bangsa bahkan memahat patung besar untuk mengenang nenek monyang mereka. Di Eropa dan Amerika sekalipun, negara yang tingkat rasionalitasnya sudah maju, kebudayaan modern semakin berkembang, penghomatan pada indatu tetap mereka lakukan. Wallahu’a’lam.

tulisan ini pernah dimuat di Harian Aceh, Maret 2010

29 March 2010

Aman Guntur: Tetuwe Adat Gayo

Tahun lalu saat melakukan penelitian di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, saya berjumpa dengan seorang tokoh adat Gayo di sana. Beliau mengaku lahir pada tahu 30-an. Jadi, saat ini umurnya sudah lebih 70 tahun. Namun di usia tuanya, ia masih aktif mengepalai dua organisasi. Sebagai ketua Jaringan Komunikasi Masyarakat Adat (JKMA) wilayah Lut Tawar, yang membawahi masyarakat adat di tiga kabupaten; Aceh tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Kedua ia menajadi Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Bener Meriah. MAA adalah lembaga adat bentukan pemerintah yang ada di setiap kabupaten kota dan kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Makasar, dan beberapa kota lainnya di mana banyak orang Aceh.

Beliau dikenal dengan nama Aman Guntur. Sebenarnya nama asli beliau Jafaruddin. Namun sudah menjadi kebiasaan di sana seseorang dipanggil dengan nama anaknya yang paling tua di tambah kata ‘aman’ (orang tua dari) di depan nama tersebut. Jadi, karena Pak Jakfar nama anaknya Guntur, maka ia dikenal dengan nama Aman Guntur. Nama ini sudah melekat padanya sejak anak pertamanya lahir. Sehingga banyak orang di desa itu, terutama anak muda, tidak mengenal Jafaruddin. Yang mereka tahu adalah Aman Guntur atau Kepala Mukim, karena ia pernah menjabat sebagai Mukim sejak tahun 1969.
Aman Guntur adalah tokoh yang memperjuangkan agar adat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistim pemerintahan yang ada. Soeharto dengan UU No. 5 Tahun 1979 menyeragamkan sistim pemerintahan di Indonesia meniru model pemerintahan di Jawa. Dengan UU ini menyebabkan model pemerinatahan Mukim di Aceh, Nagari di Sumatera Barat menjadi mati layu. Akibatnya beberapa sistem budaya tidak berjalan dengan baik. Apalagi Aceh diperparah dengan konflik yang membuat orang sangat takut menentang Soeharto.

Nah, pasca keluarnya UU Otonomi Khusus dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Pada tahun 2006, Aceh mendapatkan kesempatan membangun kembali institusi adat yang sudah layu tersebut. Salah satunya adalah melalui revitalisasi peran mukim. Dan inilah yang dilakukan oleh Aman Guntur. Ia, di sepanjang usia senjanya masih sangat bersemangat untuk menghidupkan kembali adat di dataran tinggi Gayo.

Ia mengomandoi dua lembaga adat sekaligus, JKMA dan MAA. Bagi Aman Guntur kedua lembaga ini memiliki fungsi dan misi yang sama. Tujuannya sama-sama menginginkan bagaimana adat dan budaya dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan pemerintahan di Kabupaten Bener Meriah. Kedua harus sejalan dan tidak boleh ada dualisme. Jakfar menganggap pemerinatah tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan pengkajian dan mengeksplorasi berbagai aspek budaya yang hidup dalam masyarakat. Itulah yang menjadi tugasnya, mengambilnya dari kehidupan masyarakat, merumuskannya dalalu menyampaikan kepada pemerintah untuk dilaksanakan, baik dalam tubuh pemerintah itu sendiri maupun dalam aturan keseluruhan masyarakat umum.

Apalagi di Bener Meriah Meriah ada banyak suku (Gayo, Aceh dan Jawa), maka JKMA dan MAA harus menjadi fasilitator yang dapat menggabungkan seluruh suku itu untuk hidup rukun dan damai jangan ada perpecahan. Jakfar mengatakan, adat harus dapat menyelesaikan masalah yang ada dalam suku-suku tersebut. Sebab penyelesaian dengan adat jauh lebih efektif dibandingkan dengan penyelesaian di Pengadilan Negara. Untuk ini setiap masalah yang ada dalam suku tertentu harus didekati dan diselesaikan dengan pendekatan suku itu pula.

Aman Guntur juga menjelaskan kalau tidak semua undang-undang negara “laku” dalam masyarakat. Masyarakat punya undang-undang sendiri yang dapat menyelesaikan masalah mereka. Menurut Aman Guntur, 75% dari masalah yang ada dalam masyarakat dapat diselesaikan melalui adat. Hanya 20% saja yang harus ke pengadilan. Misalnya masalah sengketa di perbatasan desa. Ini tidak bida dengan pengadilan atau KUHP. Ini masalah adat yang dapat diselesaikan dengan adat. Sebab tanah dibagi secara adat.
Damai di pengadilan tidak sama dengan damai di adat. Meskipun damai sudah diputuskan, namun hatinya tidak dapat menerima sepenuhnya. Sebab yang berperkara hanya satu orang lawan satu saja, tidak dengan keluarga. Dalam penyelesaian adat damai adalah kelompok dan keluarga, sehingga damainya iklas dan dapat terjalin lama dan hilang dendam.

Dalam akhir-akhir wawancara Aman Guntur juga memberikan nasehat tentang menjaga kesehatan dan resep panjang umur. Ia mengatakan kalau resep panjang umur adalah menjaga kesehatan dan tidak larut dalam masalah yang membuat stress. Selain itu selalu memberi salam, sebab salam adalah damai. Ketika kita sudah menyampaikan salam kepada seseorang dan ia menjawab salam, maka itu berarti sudah damai dan sudah saling memaafkan.


Boom Kuah Basi

Biasanya bom terbuat dari bahan kimia yang diisi dengan berbagai partikel berbahaya. Jika meleddak maka akan menghancurkan apa saja yang ada di sekiratnya. Bukan hanya orang dan bangunan, sebuah pulau bisa saja tenggelam kalau terkena bom. Ya.. pulaunya harus kecil dan bomnya harus bertenaga ledak luar biasa. Mungkin bom atom dan bom-bom lain yang dipakai Amerika untuk meledakkan Irak bisa jadi contoh yang sesuai.

Tapi belakangan ada yang unik, bom terbuat dari barang alami yang pedas dan baunya menusuk hidung. Bom sejenis ini saya dengar sedang dikembangkan di India. Bom tersebut terbuat dari ekstrak cabe India yang super pedas, terpadas di dunia. Untuk satu beulangong kari kambing mungkin hanya perlu beberapa biji saja. Ekstrak inilah yang dikumpulkan dan dipadatkan untuk dijadikan bom. Saya dengar juga, bom tersebut khusus diperutukkan buat teroris. Mereka akan kesulitan bernafas dan melihat jika kena ledakan bom ekstrak cabe.

Tapi ada yang lebih aneh, sebuah bom terbuat dari kuah basi. Bahkan teman seprofesi saya, penjual durian tahun 2000 pernah menjadi korban. Saya tidak tahu bagaimana rasanya, namun saya bisa lihat ekspresinya dan dapat bayangkan juga perasaannya setelah kena bom.

Ceritanya, tahun 2000 saya jualan durian di Pasar Peunayong, Banda Aceh. Saya bukan toke-nya, hanya seorang yang membantu mendistribusikan saja di pasar. Pemiliknya seorang teman lain yang mendapatkan durian di beberapa daerah di Aceh. Di sisi kanan tempat saya jualan ada seorang laki-laki paruh baya yang sama seperti saja juga jualan durian. Kami sama-sama bermandi keringat saat siang terik Banda Aceh yang membakar.

Tempat di mana saya berjualan tidak jauh dari sebuah kontainer sampah. Dasar orang kota, meskipun kontainer sudah disedikan, sampah tetap saja dibuang sembarangan, bahkan sampai di tempat saya jualan. Persis di depan kami, agak ke pinggir jalan ada sebuah bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman. Sepertinya salah satu bagian sampah yang tidak dibuang di kontainer sampah yang telah disediakan.

Suatu teman saya membeli air mineral dalam gelas plastik (aqua gelas) dan memberikan saya satu gelas. Saya menyimpannya karena saat itu sedang tidak mau minum. Teman saya langsung meminum sampai habis dan membuang gelas platik itu di depan kami berjualan. Gelas itu jatuh persis di dekat bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman. Saya menegurnya, agar ia membuang sampah pada tempatnya. Jangan buang sampah sembarangan, Sebab di sana tempat orang lewat dan akan sangat mengganggu pemandangan.

Teman ini menjawab: “Tidak masalah, nanti ada dinas kebersihan yang membersihkannya, kalau ngak untuk apa mereka digaji,….”

Ia belum selesai bicara saat tiba-tiba sebuah mobil sedan abu-abu melintasi jalan di depan kami. Pas di depan kami mobil itu hendak menghindari sebuah becak yang datang dari arah berbeda sehingga ia berjalan agak menepi, hanya satu meter dari kami berdiri. Mobil berjalan agak kencang karena jalan memang lagi kosong.

“Cpraaattt…” (saya lupa persis seperti apa suaranya). Bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman yang ada di depan kami meledak terlindas ban mobil. Air kuning kehitam-hitaman dari dalam palstik langsung terbang menuju teman saya. Air itu mengenai bagian depan baju teman saya dan sebagian mukanya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Bau menusuk hidung tidak terhindarkan. Saya tidak bisa gambarkan bagaimana baunya. Tapi itu memang sangat bau.

Saya lihat muka teman saya memerah, atau tepatnya membara. Ia menahan amarah yang maha dahsyat dan mengutuk pengendara mobil. Beberapa saat setelah ia kena bom kuah basi ia tidak berkata apa-apa, namun dalam beberapa detik kemudian keluar berbagai sumpah serapah dan “peribahasa khas” yang tidak layak diucapkan dalam situasi normal.

Ia melihat pada saya, saya katakan: “Tidak masalah, nanti ada Dinas Kebersihan yang membersihkannya…”

***

Keburukan yang kita buat akan kembali kepada kita sendiri. Mungkin dalam bentuk lain yang kita tidak sadari.


27 March 2010

Pengumuman, Azan Dibatalkan!

Tahun 2009, saat masih kuliah semester empat saya bekerja sebagai buruh bangunan. Saat itu kami bekerja membuat sebuah gedung di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Yang saya maksud adalah gedung lama, sebelum pindah ke bangunan bantuan Jerman saat ini. Bangunan yang kami kerjakan setelah selesai dipakai untuk ruang bedah dan cuci darah. Letaknya persis di bagian belakang tempat parkir sebelah Barat bersisian dengan ruang ICCU.

Di tengah-tengah komplek rumah sakit ada sebuah masjid yang dinamakan Masjid Ibnu Sina. Masjid ini tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung jamaah yang terdiri dari keluarga pasien atau orang yang mengunjungi orang sakit. Letaknya yang memang berada di tengah-tengah menjadikan masjid ini mudah dijangkau dari sisi mana saja di rumah sakit tersebut. Dari tempat saya bekerja hanya melintasi tiga bangunan lain saja sudah sampai ke sana. Mungkin sekitar 150 meter. Di masjid itu kami sering shalat zuhur.

Rumah sakit ini dikelola oleh seorang imam yang sudah sangat tua, mungkin usianya saat itu lebih 70 tahun. Beliau adalah seorang pensiunan Angkatan Darat sejak masa Soekarno. Selain sebagai imam masjid, Ia memiliki “hak” untuk mengumpulkan kantong plastik infus bekas yang dipakai oleh pasien. Botol plastik ini dijual ke agen di Medan, Sumatera Utara. Ia dikenal dengan ketegasan dan disiplin. Salah satu yang paling diingat orang dari sikap beliau adalah instruksi awal sebelum shalat jamaah. Dengan menghadap kepada jamaah beliau berkata dengan suara sangat keras; “Lurus dan rapikan shaf, ratakan tumit dengan garis coklat”

Suatu hari, cuaca di Banda Aceh sangat mendung. Awan hitam seolah memayungi kota sejak pagi. Anehnya, sudah lama mendung hujan tidak juga turun. Kami bekerja seperti biasa dan sedikit santai karena udara tidak panas. Apalagi saat itu bos sedang tidak ada, katanya tidak bisa datang karena ada hal penting di rumahnya. Jadi kami hanya bisa menggali tanah untuk pondasi dan mengikat behel untuk cor tiang bangunan.

Tiba-tiba, jam 10.20 menjelang siang terdengar suara azan dari masjid yang memang tidak jauh dari tempat kami bekerja. Saya jadi heran, kenapa azan dikumandangkan begitu cepat. Di Banda Aceh umumnya shalat zuhur jam 12.45, bahkan terkadang jam 13.00. Tidak pernah jam 10.20. Atau apakah ada cara tertentu yang harus mengumandangkan azan? saya berfikir itu tidak mungkin.Pasti ada masalah. Apalagi dengan cuaca yang tidak menentu seperti ini.

Untuk memastikan semua dugaan saya pergi ke masjid. Saya lihat pak tua sudah duduk di tengah-tengah ruangan masjid yang memang tidak terlalu besar. Saya yang masih mengenakan pakaian kotor karena baru saja menggali tanah tidak bisa masuk ke dalam. Kebetulan beliau melihat saya di pintu. Saya bertanya:

“Pak imam, barusan azan untuk shalat atau ada acara?”

“Untuk shalat zuhur… ini sudah siang, karena mendung kita tidak rasakan.”

“Wah… sekarang belum zuhur pak imam. masih jam 10.45. Kan kita zuhur jam 12.45″ kata saya sambil menunjukkan jam dinding di bagian depan masjid.

Setelah berkata demikian, saya lihat beliau melihat jam yang tergantung agak tinggi tersebut. Kemungkinan beliau silau, dan menutup keningnya seperti orang hormat bendera. Selanjutanya saya tidak tahu apa yang terjadi, saya kembali ke lokasi kerja. Dalam perjalanan menuju lokasi kerja, saya dengat microfon dihidupkan. Setelah batuk-batuk beberapa kali, terdengar suara serak namun tegas dari pak imam:

“Pengumuman…pengumuman… azan dibatalkan… waktu zuhur belum tiba….”

Saya tertawa sendiri. Ada-ada saja Pak Imam.

***

Kalau kita bergantung pada perasaan, maka cuacapun bisa menipu kita.

Demi Cinta Kau Kubunuh Nak!

Ada sepasang suami-istri yang tinggal tidak jauh dari kampung kami. Suaminya seorang dokter spesialis penyakit dalam yang sudah sangat terkenal di Banda Aceh. Sementara istrinya seorang bidan yang bekerja di sebuah rumah sakit umum, juga di Banda Aceh. Saat ini mereka sudah berumur separuh baya dan tinggal berdua di sebuah rumah mewah di salah satu sudut kota.

Mereka menikha tahun 1983 karena saling mencintai. Adalah seorang anak yang menjadi dambaan hati pengikat kasih selalu mereka damba. Namun setahun, dua tahun, tiga tahu, dan lima tahun berlalu belum ada juga tanda-tanda. Tidak mungkin mereka tidak tahu “caranya” sebab selain itu adalah naluri manusia, juga keduanya paramedis yang belajar menekuni seluk beluk fisiologi manusia. Dari kabar angin yang pernah saya dengar, saat itu mereka sudah sangat mendambakan seorang buah hati penyejuk mata penenang jiwa. Segala cara mereka lakukan, berobat pada dokter, dukun, para normal, dalam dan luar negeri. Dan tentu saja, berdoa. Terkahir pada tahun 1992 mereka menunanaikan ibadah haji ke Makkah.

Alhamdulillah, beberapa bulan pulang dari sana terjadi keanehan pada si istri. Ikan tawar dibilang asin, sayur asin dibilang pahit, suka yang masam-masam, suka bakso, dan berbagai keanehan yang lain. Pasti mereka lebih dahulu tahu dengan tanda-tanda itu karena mereka memang ahlinya. Dan benar saja, sembilan bulan kemudian seorang anak laki-laki sehat, tampan, lahir ke dunia. Mereka membuat namanya Syukran Peunawa. Syukran berarti terima kasih, dan penawa berarti penawar rindu, penawar harap dan penantian orang tua.

Syukran tumbuh sehat karena kedua orang tuanya memang tenaga kesehatan. Beberapa pekerja didatangkan kerumah untukmengurus anak mereka. Seentara kedua orang tuanya, meskipun cinta dan sangat sayang pada anak yang memang mereka nantikan sejak lama tetap tidak mungkin menunggunya sepanjang hari. Tapi tidak masalah, karena orang yang mereka pilih untuk mengasuhnya dapat memenuhi kebutuhan si anak. Di akhir minggu mereka berekreasi ke berbagai tempat. Bahkan tidak jarang, ketika anaknya sudah mulai masuk sekolah, masa liburan diisi dengan jalan-jalan ke luar negeri.

Si anak tumbuh sangat manja. Bahkan hampir menamatkan pendidikannya di sekolah dasar ia masih belum bisa membuka dan memakai baju sendiri. Tapi tidak masalah, bapak dan ibunya bisa menggaji orang untuk memakaikan pakaian kepada anak mereka. Pada usia SMP sifat manjanya menjadi lebih-lebih lagi. Ia meminta bapaknya membelikan sebuah sepeda motor, dan itupun bukan masalah pada orang tuanya. Pada awal-awal masuk SMA bahkan ia minta orang tunya membelikan ia mobil. Lagi-lagi bagi orang tuanya tidak masalah, karena mobil juga bukan barang terlalu mahal bagi mereka. Si anak hidup sangat bergantung pada orang tuanya, tidak kreatif, tidak berfikir tentang masa depan, bahkan tidak peduli dengan resiko.

Saat ia duduk di kelas dua SMA, ia minta orang tuanya membelikan ia sebuah sepeda motor besar yang mirip-mirip pembalap di televisi. Semula orang tunya keberatan, sebab ia sudah ada sepeda motor, dan bahkan ada sebuah mobil, Untuk apa lagi sepeda motor? Namun mereka tidak kuat menahan tatkala si anak berulah, ia pulang larut malam, tidak mau makan, tidak mau ke sekolah, tidak mau mandi. Akhirnya hati mereka luluh, sebuah sepeda motor besar yang diimpikan datang ke rumah pada hari minggu.

Si anak senang bukan main. Ia berterima kasih pada kedua orang tuanya, mencium dan memeluknya. Segera mengenakan pakaian dan hendak pergi entah kemana. Katanya ia akan menjumpai teman-temannya. Biasa, remaja yang suka menunjukkan kepada temannya apa yang baru yang dimilikinya. Dan hari ini ia akan menunjukkan pada teman-temannya sebuah sepeda motor besar yang gagah dan model terbaru yang baru dibeli orang tuanya. Orang tunya melepas dengan senyuman.

Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Pagi minggu yang cerah itu adalah akhir pertemuan dari orang tua dengan satu-satunya anak mereka. Setelah sebuah SMS masuk ke nomor ibunya mengatakan ia tidak bisa pulang makan siang, sampai sore hari tidak ada kabar berita dari si anak. Setelah maghrib seorang rekan bapaknya yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit di mana ia bekerja menelponnya. Hanya satu kalimat pendek yang terucap dari mulut temannya: “Syukran ada di sini”. Bergegas, kedua orang tuanya menuju IGD dengan hati yang tidak tenang. Sepuluh meit kemudian, ketika mereka tiba, mereka mendapatkan anaknya, Syukran, telah terbujur kaku berlumuran darah. Dokter mengatakan, Syukran diambil di sebuah jalan sepi yang sering dipakai remaja untuk balapan liar di sore hari.

***

terkadang cinta yang berlebihan justru membunuh mereka yang kita cintai

24 March 2010

Semangat Peneliti Asing

Sudah dua tahun terakhir saya berteman dan membangun relasi dengan beberapa peneliti asing yang datang ke Aceh. Awalnya saya mengikuti sebuah pelatihan penelitian yang dilaksanakan oleh Aceh Research Training Institute (ARTI) di Banda Aceh. ARTI sendiri awalnya dipimpin oleh seorang peneliti dari Amerika Serikat. Programnya sederhana saja, melakukan pelatihan kepada siapa saja yang berminat dan mendaftar ke kantor ARTI. Pelatihan ini sendiri dibimbing oleh beberapa peneliti internasional, nasional dan peneliti lokal Aceh.

Selama melakukan pelatihan di sana saya mendapatkan banyak teman peneliti dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di Aceh untuk keperluan akademiknya, tesis master atau Ph.D. Namun beberapa yang saya kenal adalah peneliti senior yang memang sudah malang melintang dalam konteks penelitian di Indonesia. Dari mereka saya belajar banyak hal, khususnya dalam masalah penelitian sosial.

Pelajaran yang sangat penting pada awal saya berkenalan adalah masalah dikotomi kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian. Sebelum bergabung dengan mereka saya seringkali disibukkan dengan masalah istilah ini. Apakah kualitatif itu metode, pendekatan, teknik atau apa? Nah, saat permasalah ini saya bicarakan dengan David Reeve, penulis Biografi Ong Hok Ham, ia mengatakan, itu semua adalah istilah saja. Penelitian adalah cara kamu menjawab masalah penelitian. Metodenya terserah saja, mana yang menurutmu dapat membawa kepada hasil yang kau inginkan. Tentu saja ia memberikan beberapa penjelasan lebih lanjut yang sedikit agak panjang. Namun saya mencatat adanya “penyederhanaan” metode dalam penelitian yang diberikan David. Dan ini sangat memudahkan saya dalam menempatkan masalah penelitian dan memetakan rencana-rencana penelitian.

Hal lain adalah menghubungakan konteks-konteks lokal dengan perkembangan ilmu yang lebih luas di dunia. Bagaimana konteks lokal yang hendak kita teliti dapat dihubungkan dengan sebuah teori besar keilmuan yang sedang berkembang. Saya berkenalan dengan Anthony Reid, profesor sejarah yang banyak menulis mengenai sejarah Aceh. saat itu saya menulis megenai kenduri kematian dalam suku Kluet. Saya tidak sadar kalau topik yang saya pilih adalah topik yang berhubungan secara luas dengan berbagai teori ilmu sosial, sampai Toni menjelaskannya. Dia adalah guru yang hebat!

Saya berkenalan dengan Harold, profesor politik dari Australian National University yag ahli politik Indoensia. Ia memimpin ARTI lebih dari satu tahun. Dan selama itu pula yang sering berdiskusi dengannya. Saya sangat teringat berbagai “kemudahan” yang ditunjukkan Harold dalam sebuah penelitian. Saat itu saya terjebak pada kesulitan dalam menentukan “teori” yang sesuai untuk penelitian yang akan saya lakukan. Namun Harold membebaskannya dengan pendapat bahwa penelitian adalah cara kita menulis sesuatu yang terjadi di lapangan dengan kaedah-kaedah akademik. Kesampingkan teori, bekerjalah. Teori akan datang menjemputmu saat data sudah ada di tangan.Prinsipnya hampir sama dengan slogan Majalah Tempo, “enak dica dan perlu”, kata Harold.

Saya tidak bisa menyebutkan semua yang saya kenal. Namun saya akui beberapa peneliti yang saya kenal memeiliki dedikasi yang kuat dan kesungguhan dalam melakukan penelitian. Saya melihat mereka melakukannya dengan sangat halus dan detail. Beberapa peneliti asing yang datang ke Aceh bahkan lebih banyak tahu mengenai Aceh dari pada saya sendiri yang selama hidup berada di Aceh. Hampir semua aspek yang ada di Aceh belakangan ini terekam dengan baik oleh peneliti-peneliti ini. Beberapa hasil penelitian mereka yang saya lihat membuktikan semua ini.

Namun satu hal yang saya salut dari mereka, semangat yang tidak pernah pudar. Saya sendiri adalah orang yang “naik-turun”. Terkadang, kalau lagi semangat, saya melakukan penelitian dengan ssangt serius. Namun kala semangat itu pudar, saya menelantarkan beberapa tugas penelitian saya sehingga menjadi menumpuk. Akibatnya, ketika deadline tiba, -seperti sebulan kedepan- saya akan sibuk dengan penulisan. Jadinya, kualitas artikel hasil penelitian yang saya buat menjadi sangat rendah. Pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari mereka tidak sempat saya terapkan. Saya kembali kepada kebiasaan penelitian di kampus, “yang penting selesai”.
Saya masih harus terus belajar!

Penumpang vs Polisi 1-1

Tahun 2001, saat masih mahasiswa, saya dengan seorang teman, Ardi, menghadiri sebuah undangan pertemuan junalis kampus di Jember, Jawa Timur. Sebagai sesama jurnalis kampus kami diundang bersama teman yang lain untuk mempresentasikan perkembangan media kampus kami kepada teman-teman lain di Indonesia. Demikian juga dari berbagai kampus lainnya. Kebetulan saya dan Ardi yang punya waktu dan bersedia mengambil resiko perjalanan. Sekedar kilas balik informasi, tahun 2001 adalah waktu di mana perjalanan Aceh-Medan Seumatera Utara adalah perjalanan hidup mati. Banyak yang selamat di jalan, namun banyak juga yang selamat jalan untuk selamanya. Jangan tanya kenapa, itu kisah pilu negeri kami masa lalu.

Kami menumpang bus kelas ekonomi dari Banda Aceh menuju Jakarta. Sebab saya hanya mengantongi uang Rp. 500 ribu, demikian juga teman saya. Saya mendapatkan uang bantuan dari Kantor Gubernus Aceh yang saat itu di bawah pimpinan Abdullah Puteh. Saya menandatangani kuitansi Rp. 1.200 000, dan hanya mebawa pulang Rp. 500 ribu. Yah... maklum saja. Ongkos bus ke Jakarta saat itu Rp. 210 ribu. Tapi kami nekat saja, dengan doa dan tawakkal kami yakin jalan kami akan lancar.

Cerita ini bermula saat kami tiba diperbatasan Aceh dengan Sumatera Utara. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sekelompok Polisi berseragam lengkap, di depan kantor mereka yang remang-remang meminta bus dihentikan dan semua penumpang diturunkan. Tidak ada yang aneh, sebab ini adalah pemeriksanan yang kesekian kalinya sepanjang perjalanan kami yang sudah tujuh jam. Beberapa anggota polisi naik ke dalam bus dan mulai memeriksa KTP penumpang dan barang-barang yang dimasukkan dalam Bus. Beberapa yang lain menunggu di bawah mengelilingi bus, dan melihat-lihat barang di dalam bagasi.

Tiba-tiba... srreekkk..., terdengar sebuah suara sesuatu meluncur di lantai bus. Dua polisi yang ada di dalam bus melihat ke bawah tempat duduk penumpang. Tiba-tiba mereka menemukan sebuah bungkusan seukuran bantal kursi di ruang tamu. Bungkusan itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak dan diikat dengan sangat rapi. Buru-buru seorang polisi mengambilnya dan lalu membawa turun. Hanya berselang menit, sebuah suara dari bawah mubil berteriak, "turun.... turun... semua penumpang turun...." Suara itu sangat keras dan ganas, lebish keras dari suara Sueharto di FIlm PKI.

Di bawah, kami dibariskan. Sebelum ditanyai apa-apa setiap laki-laki mendapatkan "salaman" pembukaan. Alhamdulillah saya hanya dapat dua hok kanan di perut dan satu tendangan di pantat. Teman saya, saya tahunya belakangan, mendapatkan beberapa pukulan di perut dan dua di pipi. Namun ada yang lebih dahsyat lagi, seorang laki-laki yang duduk persis di belakang kami. Dia dipukul, ditampar, ditendang, uang dalam dompetnya diambil, sebuah rantai emas di lehernya dirampas. Setiap pukulan dilakukan untuk sebuah jawaban dari pertanyaan: "Siapa pemilik ganja itu?" ternyata bungkusan tersebut berisi ganja 3,5 kg.

Setelah tidk sukses di pinggir jalan, semua penumpang dibawa ke dalam kompleks kantor polisi. KAmi dipanggil dua-dua orang ke dalam ruangan ntuk diselidiki. Sementara yang lain menunggu di halaman sambil dag-dig-dug membayangkan nasib. Kami menunggu tanpa bicara. Alhamdulillah... setelah dua ham menunggu polisi mengatakan pemilik ganja sudah ditemukan. Seorang ibu dengan seorang anak lima tahun yang ikut bersamanya. Namun kami tetap belum boleh melanjutkan perjalanan. Saya tidak tahu kenapa.

Seorang polisi muda setengah mabok, bermata merah, menghampiri kami. Ia nampak lebih ramah dan sepertinya mau diajak ngobrol. Saya ingat kalau dia tadi termasuk salah seorang yang memukul kami. Di depan kami yang duduk di halaman berbatu kerikil ia mulai bercerita tentang susahnya untuk menjadi polisi. "Kita harus lewat beberapa tas fisik yang berat. Jadi polisi itu harus kuat fisik dan mental, kalau ngak ngak bisa." Lalau dia menyebutkan beberapa jenis tes yang dilakukan sebelum akhirnya ia terpilih menjadi seorang polisi. Diantaranya push up dengan dua jari, bergerak kedepan dengan kekuatan siku, sit-up, jalan jongkok, dan beberapa tes lainnya. Dan model tes ini pula katanya yang dipakai waktu latihan.

Tiba-tiba seorang penumpang bersuara, setengah bertanya. "Mana mungkin push up dengan dua jari bang?" Polisi terkejut, saya juga. Beraninya teman ini bertanya. Tiba-tiba polisi setengah mabok itu menjawab. "Iya, bisa donk. Nih, coba lihat" katanya, sambil melakukan push up dengan dua jari beberapa kali. "Ooo... kalu itu memang mudah, tapi kalau jalan dengan siku kan tidak mungkin?" orang tadi bertanya lagi. "Kenapa ngak mungkin? lihat ni" kata polisi itu lagi sambil berjalan dengan siku keliling halaman. Saat kembali tiba di hadapan kami saya lihat siku polisi itu berdarah. Namun si penumpang ini tidak peduli, dia tersu bertanya dan polisi itu menjawab dan melakukannya. Sampai kami diminta aik bus kembali. Saat itu sudah jam tiga pagi.

Setelah bus berjalan, sopir bilang: "Apa yang kalian lakukan sama polisi tadi?" hahaha... kami tertawa hampir serempak. "Mantap..... satu sama" kata sopir.

***

Saat engkau terlena dengan pujian dan sanjungan,pelan-pelan engkau membunuh dirimu sendiri.


22 March 2010

Diimami Pasien RSJ

Kampung kami terletak di tengah kota Banda Aceh, persis di belakang Rumah Sakit Jiwa. Jalan menuju RSJ langsung melintasi kampung kami. Karena itu sering kali di jalan lewat pasien RSJ yang sudah lumayan sembuh untuk membeli rokok, beli mie, atau sekedar lewat tanpa alasan. Tidak semua yang lewat di sana bisa dinyatakan sembuh. Sebab beberapa yang saya jumpai masih suka ngobrol sendiri, berceramah, mengais tumpukan sampah mencari makanan, dan perilaku lainnya. Bahkan sering juga mereka menakut-nakuti anak-anak, meskipun tidak melakukan pelecehan seksual seperti yang kebanyakan dilakukan oleh orang yang mengaku tidak gila di berbagai daerah di Indoensia.

Kisah ini diceritakan oleh seorang bapak kepada saya, minggu lalu. Peristiwa ini sendiri terjadi tahun lalu, pas bulan puasa.

Sudah biasa masjid kami melaksanakan shalat berjamaah setiap waktu tiba. Saat matahari sudah menunjukkan waktu zuhur, seorang anak muda mengumandangkan azan menandakan shalat segera dimulai. Setelah azan, beberapa jamaah yang datang melaksanakan shalat sunat qabliah zuhur dua rakaat. Ini butuh waktu beberapa menit. Mereka melaksanakan di berbagian pojokan masjid. Sebagai di sisi dinding, ada di balik tiang, dan banyak pula di saf terdepan.

Seorang lelaki muda yang mengenakan serban berwarna putih bersih melaksanakan shalat persis di belakang tempat imam berdiri. Bajunya berwarna abu-abu mencapai lutut. Sementara celananya longgar dan hanya sampai ke mata kaki. Dengan pakaian demikian jelas, siapapun akan menduganya sebagai seorang yang terpelajar dalam agama. Sebab pakain demikian umumnya dipakai oleh orang yang baru tamat dari pesantren atau kiai atau kelompok oraganisasi islam tertentu yang banyak berkembang saat ini. Ia shalat sangat khusyuk. Bahkan muazin harus menunggu agak lama sebelum mengumandangkan iqamah karena ia belum menyelesaikan shalatya. Setelah selesai shalat ia berdoa dengan khusyuk pula, matanya sedikit terpejam dan kepala menengadah ke atas. Hingga tiba mu'azin mengumandangkan iaqamah, tanda shalat akan dimulai.

Melihat pakaian dan laku yang demikian, beberapa orang tua mempersilahkannya maju ke depan menjadi imam. Apalagi hari itu imam kampung tidak datang. Setelah melihat kiri dan kanan ia maju penuh percaya diri. Ia menghadap jamaah yang hanya satu saf dan dengan suara keras dan tegas mengatakan: Lurus, rapat dan rapikan saf, samakan tumit dengan garis hitam. Saf yang rapi adalah setengah dari pahala shalat. Lalu ia berbalik menghadap kiblat dan mengangkat takbir: Allaaaahu Akbar! Kami mengikutinya dari belakang.

Pada rakaat pertama setiap shalat sebenarnya tidak memerlukan waktu yang terlampau lama. Hanya membaca doa iftitah, al-fatihah dan sebuah surat pendek atau beberapa ayat dari al-Qur'an. Namun kali ini sudah berlangsung sedikit lama. Saya mendengar beberapa jamaah membatuk atau bedehem. Nampaknya mereka "mengingatkan imam" agar jangan terlalu lama. Tapi imam masih dalam posisinya semula. Satu...dua...empat... sudah lebih lima menit kami belum juga ruku'. Imam masih saja khusyuk dengan bacaannya. Bahkan sesekali ia terdengar berdesis melafalkan sesuatu.

Tiba-tiba, dari luar masjid terdengar suara gaduh. "Tadi dia di sini menghilangnya. Coba ke belakang masjid. Di kamar mandi. Tadi dia pakai serban putih....." entah apa lagi. Sepertinya ada banyak orang di luar sana yang sedang mencari orang tertentu.

"Nyopat lhon" (saya di sini) teriak sang imam tiba-tiba. Kami sangat kaget. Konsentrasi menjadi buyar. Apalagi tiba-tiba sang imam langsung berjalan ke luar masjid, menerobos saf di belakangnya. Ia terus berteriak. "Nyopat lhon...nyopat lhon...." Sebuah suara lain terdengar dari luar masjid. "Ooo.. ternyata kamu di sini. Cepat pulang ke Rumah Sakit. Pergi ngak permisi. Itu ada keluarga yang datang." Jamaah kamipun buyar lalu bubar. Kami tertawa cekikan bersama. Ternyata imam kami pasien rumah sakit jiwa. Kami terpaksa mengulang shalat dari pertama.

***

Jadi, jangan tertipu dengan pakaian. Kami mengangkatnya menjadi imam (pemimpin shalat) karena surban dan baju koko yang ia kenakan. Tapi pakaian tidak hanya kain tenunan yang dijahit rapi. Pakaian bisa berbentuk partai, suku, agama, daerah, kemampuan retorika. Pilihlah pemimpin karena kita benar-benar mengenalnya, bukan mengenal dia dari pakaiannya saja.

19 March 2010

Sufi dan Seks

Kenapa banyak kiai poligami? Saya tidak tahu dengan pasti sampai seorang teman menceritakan sebuah kisah.

Katanya, seorang kiai adalah orang yang sangat rajin beribadah. Ia menghabiskan hidupnya dalam jalan Tuhan. Sementara menikah, dan melakukan hubungan seksual adalah bagian dari ibadah. Sang kiai pasti dengan senang hati akan melakukannya, selalu! Apalagi saat melakukan hubungan seksual yang bernilai ibadah tersebut ada momentum di mana ia mungkin bisa sangat dekat kepada Tuhan. Setidaknya, ia akan menemukan beberapa biji tasbih. Ia juga akan menemukan puncak-puncak pendakian menuju Tuhan. Apalagi di sana juga ia akan mendapatkan lorong-lorong gelap yang sunyi, di mana ia bisa mengulang-ulang zikirnya dan melafalnya dengan cepat. Perjalan itu akan berakhir pada ekstase, saat ia melepaskan segala-galanya kecuali dia sendiri.

Cerita ini dianalogikan sebagai sebuah pendakian spiritual oleh sang teman yang sedang berusaha menjadi sufi. Katanya, seorang sufi yang bermujahadah menuju Tuhan dan seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual hampir sama. Sang lelaki akan mendapatkan kepuasan setelah ia berlama-lama bermain di taman birahi. Saat organsme ia akan terputus dengan dunia di sekitarnya. “Apakah orang organsme sadar dengan apa yang ada di sekelilingnya? pasti tidak” katanya. Demikian halnya dengan seorang yang ekstase di jalan Tuhan. Ia akan penuhi jiwanya dengan Tuhan. Ia akan isi batinnya dengan Tuhan. Apa yang dilihatnya adalah Tuhan. Apa yang dirasakannya adalah kehadiran Tuhan. Pada saat demikian ia akan terlepas dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya sebab ia telah menyatu dengan Tuhan. Mmmm… menaik… menarik, ujar saya.

Saya jadi teringat dengan beberapa buku Paulo Coelho. Dalam beberapa novelnya menggambarkan bagaimana cinta dan hubungan seksual yang dilakukan manusia bukan hanya sebagai cara memuaskan nafsu birahi, namun juga jalan menuju pada Tuhan. Seingat saya ada satu bagian dalam Davinci Code, novel bestseller karya Dan Brown yang juga menceritakan hal yang sama. Pada satu waktu Sophie melihat kakeknya, Suniere melakukan hubungan seksual yang kemudian diidentifikasi sebagai sebuah upacara spiritual. Penggambaran ini adalah dua diantara beberapa penjelasan lain yang menghubungkan antara seks dengan pendakian spiritual yang dilakukan manusia.

Tentu sangat berbeda antara apa yang diceritakan Paulo Coelho dan Dan Brown dengan cerita teman saya di atas. Ia hanya menjadikan hubungan seksual sebagai media pemahaman tentang bagaimana seorang sufi menemukan Tuhan. Sementara dalam novel-novel tersebut justru menjadikan hubungan seksual sebagai media menemukan Tuhan. Meskipun itu bukan hal yang tidak mungkin, namun itu bukan konteks yang ingin saya kemukakan di sini.

Jadi, kembali kepada cerita teman saya, salah satu cara mengerti jalan sufisme, pahamilah jalan hubungan seksual. Dan untuk mengerti bagaimana hubungan seksual maka lakukanlah! bagi yang sudah menikah tentunya.

13 March 2010

Terorisme Dan Kenyamanan di Jalan

Sejak munculnya masalah terorisme di Aceh, bayangan masa-masa konflik dulu kembali menjelma. Pemeriksanaan KTP, periksa barang-barang bawaan, tanya ini itu, tanya hubungan dengan seseorang yang sama nama dengan kita, dan pertanyaan aneh lain kembali bermunculan. Setiap perjalan ke luar kota setidaknya kita harus periksa dahulu apakah sudah siap dengan KTP atau identitas lain? apakah tidak ada penampilan mencurigakan? seperti jenggot, baju koko dan baju jubah? Apakah di dalam dompet tidak ada catatan yang memakai pinsil? Apakah nama dan daerah asal anda dari Jawa? Sebab semua itu adalah identitas awal untuk dugaan teroris yang diyakini oleh aparat keamaan.

Saya merasakan sendiri saat pulang dari Aceh Barat ke Banda Aceh dua hari yang lalu. Setelah tsunami di Aceh tahun 2004, Meulaboh bisa ditempuh dengan dua jalan. Pertama jalus Tangse Pidie Jaya dan kedua jalan Calang Aceh Jaya. Melalui Tangse jalannya bagus kecuali lobang-lobang biasa sepeti halnya dimanapun di Indonesia. Hanya saja perjalanan akan menempuh pegunungan Lauser selama empat jam. Sementara melalui jalur Calang Aceh Jaya hanya ada beberapa pegunungan. Selebihnya perjalanan di pinggir pantai yang elok. Sayangnya jalan masih hancur-hancuran karena belum diperbaiki.

Saat mau pulang dari Meulaboh saya beserta lima orang teman lainnnya merencanakan jalan Tangse sebab lebih nyaman karena bisa tidur di dalam mobil. Namun seorang teman berkata: “Jalan Calang saja, nanti di Tangse banyak pemeriksaan.” Merujuk pada masa konflik dulu, pemeriksaan selalu harus turun dari mobil, kasih KTP, buka tas dan barang bawaan lain. Kalau polisinya masih “sadar” tidak masalah, pemeriksaan akan berjalan mulus dan mudah. Namun kalau polisinya lagi “mabuk” dan emosi, bisa-bisa kena dua hok, kanan dan kiri. Syukur-syukur kalau hanya di perut. Seringnya di pipi kanan dan kiri. Itulah yang terbayang, sesuai dengan pengalaman masa lalu, masa konflik. Akhirnya kami pulang jalur Calang. Jalan berbatu dan bedebu. Hanya ada satu kali pemeriksanaan Polisi saja. Alhamdulillah lancar.

Begitulah hidup di Aceh kalau aparat kemanan sudah mulai beraksi. Beberapa teman mengurungkan niatnya pergi ke luar kota belakangan ini. Sebab ada satu kalimat yang sangat terkenal di Aceh: “Jangan berurusan engan aparat (polisi dan tentara) mereka menentukan apakah kita salah atau tidak.” Jadi meskipun kita tidak bermasalah dengan terorisme, separatisme, pengedar narkoba, namun merekalah yang menentukannya. Kalau mereka mau menjadikan kita teroris, maka jadilah. Ada saja alasan yang bisa diberikan. Mereka yang punya senjata dan merekalah penguasanya.

Saya sedih banyak pengamat yang masih juga menyarankan pendekatan militer untuk menyelesaikan terorisme di Aceh. Apakah Indonesia tidak memiliki indetelejen? Apakah Indonesia tidak bisa melakukan pendekatan budaya? Apakah tidak ada cara damai dalam menyelesaikan amsalah? Entahlah, mugkin orang Aceh ditakdirkan nyalakan senjata sebagai pengantar tidurnya sepanjang masa.

Dulu separatis diburu Kopasus, sekarang teoris diburu Densus. Ke depan entah apa lagi. Nasibmu Aceh!

04 March 2010

Mengajak Guru Menulis di Jurnal

Dua hari yang lalu, sekelompok guru Agama Islam SMP Banda Aceh mengundang saya untuk berdiskusi menganai penulisan makalah ilmiah. Saya tidak yakin benar kalau saya mampu mengemban permintaan tersebut. Namun berbekal pengalaman menulis beberapa kali plus beberapa pelatihan yang saya ikuti, saya memenuhi undangan tersebut. Apalagi saya merasa juga harus memulai berlatih berbicara di dapan orang lain, tidak hanya menulis. Almarhum HAMKA yang menjadi tokoh kebanggaan saya menginspirasi saya, bagaimana seseorang yang mampu menulis juga harus mampu berbicara tentang tulisannya.

Pertemuan itupun dimulai. Ada dua pluhan guru yang hadir. Menurut ketua kelompok, sebenarnya kelompok mereka ada 60 orang. Namun yang hadir memang sangat variatif. Terkadang banyak, namun sering pula sangat sedikit. 20 orang yang hadiri pada hari itu semuanya guru perempuan. Seorang guru laki-laki yang datang hanya bembantu memasang proyektor, lalu menghilang entah kemana. Jadi selama dua jam saya berdiskusi dengan ibu-ibu mengenai tema yang kami pilih: Bagaimana Menulis Makalah Ilmiah?

Mengawali diskusi, saya meminta mereka untuk mengemukakan unek-uneknya tentang menulis dan kenapa mereka berfikir mau belajar menulis makalah ilmiah. Beberapa orang guru memberikan pandangan, atau lebih tepat curhat mengenai penulisan. Dari bicang-bincang tersebut ternyata mereka mau menulis untuk memuluskan usaha naik pangkat. Katanya, kalau mau dapat IVa maka harus ada satu makalah ilmiah. Kalau mau IVb harus ada dua makalah ilmiah. Semula yang saya pikirkan makalah ilmiah adalah artikel akademik seperti yang sering dipublikasi dalam jurnal ilmiah di kampus. Ternyata dugaan saya salah, yang mereka maksudkan adalah sebuah laporan penelitian tindakan kelas yang dibagi dalam beberapa bab seperti umumnya tugas akhir mahasiswa.

Saya sedikit bersedih ketika ada beberapa guru yang mengatakan: “Bapak berikan contohnya saja lalu jelaskan apa yang harus kami tulis. Nanti kami bisa contoh tulisan yang sudah ada saja. Banyak kok tulisan di mana-mana, tinggal pindahkan saja lalu masukkan nilainya.” Semula saya bingung dengan kalimat ini, namun setelah mendapatkan penjelasan saya maklum, ternyata mereka mau saya memberikan sebuah format yang lengkap: bab satu isinya apa, bab dua apa, bab tiga apa dan seterusnya. Berdasarkan format ini mereka tinggal mengisi nilai yang mereka dapatkan dalam ujian di kelas, dan sebuah “laporan ilmiah” selesai.

Saya sungguh sangat tidak mau ini terjadi. Bagi saya itu adalah sebuah bentuk plagiat yang sangat tercela. Karenanya, sebelum menjelaskan mengenai bagaimana membuat makalah ilmiah, saja meengajak mereka untuk merenungi kembali kenapa harus menulis dan apa yang harus kita tulis. Karena mereka guru agama, maka saya mendekatinya dengan dasar-dasar agama. Saya tegaskan bahwa agama sangat melarang praktek plagiat dengan mengatakan karya orang lain sebagai karya kita. Saya juga menegaskan kalau niat menulis hanya untuk naik pangkat, maka sampai kiamat ibu-ibu tidak akan bisa menulis. Namun menulislah untuk agama dan ridha Allah, ibu-ibu akan mendapat pahala dari apa yang ibu lakukan, akan diberikan kemudahan dalam memahami “ilmu menulis” dan pasti kalau sudah bisa menulis bisa naik pangkat seperti apa yang mereka inginkan.

Saya lalu mengajak mereka untuk membuka diri bahwa menulis karya ilmiah bukan hanya laporan penelitian tindakan kelas semata. Laporan penelitian tindakan kelas juga bukan satu versi saja. Ia bisa dilakukan dengan banyak cara dan metode. Ia bisa dibuat dalam beragam jenis penulisan yang sesuai dan mudah untuk kita. Model laporan berbagi bab hanyalah salah satu diantaranya. Namun kita bisa membuatnya dalam makalah ilmiah yang akan dipublikasi dalam jurnal di kampus. Bahkan untuk yang satu ini nilainya jauh lebih banyak.

Singkat cerita, saya mulai mempresentasikan bahan yang sudah saya sediakan tentang beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membuat tulisan yang dapat dipublikasi di jurnal ilmiah. Saya menghabiskan waktu lebih satu jam untuk presentasi ini diselingi dengan tanya jawab dan diskusi beberapa masalah teknis.Yang membuat saya senang adalah ketika pada bagian akhir seorang ibu mengatakan: “Wah… kalau begini lebih menarik lagi dan lebih menantang. Ngak bisa sekali pertemuan ini. Kalau Bapak mau bulan depan kami undang lagi. BUlan ini kami mulai dengan ecari topik tulisan yang pas dan memulai membuat pendahuluan. Bulan depan bapak harus periksa dan koreksi tulisan kami. Kalau bapak berani usul maka bapak harus berani pikul.” Guru-guru lain setuju. Dan kami akan berjumpa lagi bulan depan.

Saya senang ibu-ibu mulai semangat. Semoga harapan mereka terwujud.


Note;
Tulisan ini saya muat juga di blog saya: www.sehatihsan.blogspot.com dan www.kompasiana.com/sehatihsan
di kompasiana tulisan ini menjadi headline


Gambar di awal tulisan hanyalah ilustrasi. Saya ambil di sini: http://gemasastrin.files.wordpress.com/2007/07/st_nulis.jpg

03 March 2010

Tabungan DPR di Bank Budi Anjlok!

“Aku mulai menyimpan di rekeningmu–bukan simpanan uang, tapi kontak. Kukenalkan kau pada orang ini dan orang itu, aku mengatur perjanjian-perjanjian, selama tidak melanggar hukum. Kau tahu kau berutang budi padaku, tapi aku tak pernah minta apa pun darimu.”

Itulah Bank Budi yang diperkenalkan Paulo Coelho, Novelis Brazil yang mahsyur dengan Al-Chemist. Dalam novelnya The Zahir memperkenalkan istilah Bank Budi tersebut. Intinya adalah hubungan yang terbina antar manusia laiknya sebuah bank di mana kita bisa menabung dan menarik kembali uang yang kita simpan. Bedanya, dalam Bank Budi kita menyimpan “jasa budi”. Inilah yang menjadikan orang lain merasa “berhutang budi” pada kita dan akan membalasnya ketika ia punya kesempatan. Balasan-balasan atas budi tersebut menjadi sebuah jaring yang membangun komunikasi dan relasi baik diantara manusia.

Dalam dunia pendidikan dan Human Relation dikenal juga istilah Bank Emosi. Hampir sama dengan Bank Budi, bank Emosi adalah tabungan yang kita berikan kepada orang lain berupa kepercayaan dalam membina hubungan. Tabungan ini bisa ditarik dan ditambah kembali sesuai dengan yang kita inginkan seperti halnya dalam bank biasa. Bedanya, penambahan jumlah “tabungan” dalam Bank Emosi sangat tergantung dengan kepuasan si Bank. Anda bisa saja menabung jasa besar, namun itu tidak memberikan kepuasan pada orang tempat anda menabung, maka nilainya akan kecil. Sebaliknya anda bisa saja melakukan hal yang kecil, namun kalau itu membuat orang senang, nilai tabungan anda akan menjadi sangat besar. Beda lain, dan ini paling penting, kalau rekening di tabungan Bank Emosi ditarik, maka untuk mengembalikan kepada bentuk semula anda butuh waktu lebih lama dan “dana” lebih banyak dari apa yang anda tarik.

Baik. Usaha yang dilakukan Pansus Ceuntury telah menjadi sebuah tabungan Bank Budi anggota DPR kepada lebih 100 juta rakyat Indonesia. Dalam hati banyak orang telah tertanam kepercayaan dan keyakinan bahwa DPR benar-benar tlah memainkan perannya dengan baik sebagai wakil rakyat. Terlepas dari berbagai sikap mereka sendiri yang mencemarkan kelompoknya, apa yang dilakukan Pansus mendapat banyak dukungan dari masyarakat Indonesia. Lebih lagi apa yang dilakukan oleh anggoat dewan ini disiarkan langsung oleh televisi dan diberitakan besar-besar oleh media cetak. Jadinya, masyarakat sendiri seolah menjadi bagian dari pansus yang sedang menelaah apa yang dilakukan oleh petinggi negara dalam mengelola keuangan negara.

Bagi saya itu semua adalah tabungan berharga yang telah didepositokan oleh anggoat DPR pada rekening Bank Budi masyarakat Indoensia. Semua orang yang sepakat dengan DPR merasa senang dan puas dengan apa yang dilakukan wakil mereka. Otomatis jumlah tabungan mereka didalam bank Budi semakin membesar. Di mana-mana orang mulai bangga dengan wakilnya. Beberapa wakil yang tidak memihak pada arus utama untuk mengusut Century dianggap bukan wakil yang baik. Ini indikasi bahwa kepuasan masyarakat kepada wakilnya sangat baik. Dan ini indikasi tabungan wakil rakyat dalam rekening Bank Budi yang ada pada masyarakat juga semakin besar.

Sayangnya, kejadian Selasa 2 Maret 2010 kemarin menjadikan tabungan ini dikuras habis oleh anggota DPR sendiri. Menjadikan gedung terhormat sebagai warung kopi untuk berdebat tanpa akhir lalu saling “menyerang” merupakan ulah mereka yang menyebabkan kepercayaan kepada anggota dewan juga menurun. Tontonan sikap kekanak-kanakan dan depat kusir saling interupsi menjadikan DPS sebagai ajang di mana kekerasan dan ketidakdewasaan dipertontonkan. “Moral dan etikanya rendah, mereka kampungan” kata Jimly Ash-Shiddique. Sikap-sikap seperti ini menjadikan tabungan DPR dalam Bank Budi masyarakat Indonesia mulai terkuras habis. Dan suatu saat akan habis dan bahkan minus. Mereka butuh waktu lama dan usaha besar untuk kembali bisa membuka tabungan di hati rakyat Indonesia.

02 March 2010

Pertokoan dan Pohon Yang Hilang

Pasca tsunami akhir tahun 2004 yang lalu pembangunan di Aceh berlari lebih cepat. Apalagi kondisi keamanan yang lebih baik dengan berakhirnya konflik antara GAM dan Pemerintah Indonesia pada pertengahan tahun 2005. Ini menyebabkan iklim usaha dan pembangunan di Aceh semakin baik. Bukan hanya di kota Banda Aceh, namun juga di kota-kota lain di Aceh.

Salah satu pembangunan yang tumbuh pesat adalah pembangunan pertokoan. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya modal usaha yang diberikan lembaga Internasional dan pemerintah kepada masyarakat Aceh pasca bencana Tsunami. Kalau anda melakukan perjalanan sepanjang dari Banda Aceh ke Medan Sumatera Utara lewat darat, maka akan nampak di sisi kanan dan kiri jalan pertokoan yang baru dibangun, Pertokoan ini berada persis di pinggir jalan, baik jalan raya maupun nasional maupun jalan kabupaten. Hampir di semua kota di Aceh memiliki model pembangunan toko yang sama. Apalagi di tengah-tengah kota, seperti Banda Aceh, Bireun, Lhokseumawe dan kota lain di Aceh.

Toko dibangun menghadap jalan dengan lebar 4,5 meter dan memanjang ke belakang tergantung luas tanah. Bangunan ini dibuat berderet bersambung sehingga semua lahan termanfaatkan untuk bangunan. Umumnya ketinggian toko hanya dua atau tiga lantai. Beberapa bangunan mencapai lima lantai, namun itu sangat jarang. Dalam satu lahan yang memanjang mengikuti jalan 50 meter bisa muat sepuluh pintu toko. Di beberapa tempat di Kabupaten Pidie dan Aceh Utara ada pertokoan yang bersambung hingga 100 meter bahkan lebih.

Secara penggunaan lahan, ini memeng efektif karena semua tanah dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif. Namun di sisi lain pembangunan pertokoan demikian mengabaikan dua hal penting untuk keselamatan hidup manusia. Pertama, tidak ada jalan keluar di saat darurat. Dengan jenis pertokoan yang berderet, maka toko yang berada di tengah-tengah tidak memiliki jendela kecuali di bagian depan dan belakang saja. Otomatis ini menyebabkan kondisi di dalam pertokoan yang sangat gelap jika tidak ada listrik dan pengap. Lebih bahaya lagi, pertokoan demikian tidak memiliki jalan darurat untuk kondisi-kondisi gempa dan bencana kebakaran.

Kedua, jenis pembangunan pertokoan seperti ini menyebabkan tertutupnya banyak permukaan tanah sehingga sangat terbatas ruang untuk tumbuhnya pepohonan. Hampir semua pertokoan di Aceh tidak memiliki pohon di depannya. Bagian depan dipakai untuk parkir, dan itupun sangat smpit. Kondisi demikian, selain tidak bagus dalam pandangan, juga tidak bagus untuk menjaga lingkungan yang hijau. Tidak ada ruang yang bisa ditanami tumbuhan.

Di Kota Fajar, salah satu kota kecamatan di Aceh Selatan, kota dirancang dengan jalan berpetak yang sangat simetris. Jalan lurus memotong ke Timur-Barat dan Utara-Selatan. Di sisi kiri dan kanan jalan dibangun pertokoan seperti pertokoan di atas. Kondisi ini menyebabkan di kota kecil tersebut hampir tidak ada ruang untuk tumbuhan dan pepohonan. Yang terjadi adalah, kota kecil di pinggiran gunung itu terasa sangat panas di siang hari. Untuk berlindung kita harus pergi ke bangunan umum sebab kita tidak mungkin berlindung dari sengatan matahari didepan pertokoan orang.

Sepertinya, pemerintah Aceh, Provinsi dan Kabupaten perlu memikir ulang tata kota khususnya masalah model pembangunan pertokoan. Kalau ini terus berlanjut maka sepuluh tahun mendatang, kita tidak akan menemukan pohon besar tumbuh di dalam kota. Kegersangan dan kekeringan pasti akan menjadi keseharian kita. Mau?

Mengganti Metode Bukan Menyalahkan

Seorang teman faceebook saya menulis di statusnya bahwa ia ditolak oleh sejumlah dosen di sebuah universitas di mana ia diundang untuk memberikan Pidato Kebudayaan. Penolakan ini berkaitan dengan aktifitas dan pemikirannya yang menyebutkan diri sebagai muslim transformatif. Kata “transformatif” sendiri dianggap sebagai kata tengah antara muslim fundamentalis dengan muslim liberal. Transformatif adalah pilihan yang tepat bagi dia untuk menggambarkan adanya usaha kaum muslimin untuk bergerak dari pandangan-pandangan yang terlalu fundamental yang menjurus pada terorisme, atau pandangan liberal yang terlalu jauh meninggalkan dasar-dasar agama.

Dalam status tersebut ia menyayangkan adanya sekelompok orang yang masih takut dengan pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan mainstrem selama ini. Ada orang yang menganggap perbedaan dalam interpretasi agama adalah kehancuran atas agama itu sendiri. Oleh sebab itu mereka berusah membentengi diri bahkan cenderung tertutup atas ide baru. Temanku mengkritik orang yang demikian. Baginya itu adalah sikap yang ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan pemikiran modern. Seharusnya sebagai dosen di perguruan tinggi mereka lebih terbuka pada perbedaan, bukannya menutup diri dan mementengi pemikiran dari ide yang berbeda.

Dalam hal pentingnya menghargai perbedaan, saya sepakat dengannya. Setiap orang memiliki hak untuk mengekspresikan diri dan mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Kita memiliki saringan sendiri untuk menerima yang benar sebagai sebuah kebenaran dan yang salah sebagai suatu kesalahan. Pasti setiap orang memiliki saringan yang berbeda dan kita tidak bisa memaksakan semua orang memakai saringan yang sama. Latar belakang pendidikan, interaksi dengan sumber ilmu pengetahuan, pertemahan dan organisasi, ekonomi dan politik bisa menjadi pengaruh yang membuat lahirnya perbedaan tersebut.

Namun saya tidak sepakat dengannya pada ungkapan-ungkapan pelabelan dan pelecehan. Bagi saya saya semua orang memiliki hak untuk mengekspresikan dirinya. Penolakan yang dilakukan sebagai dosen, kalau memang mereka memiliki hak menolak, itu adalah sebuah ekspresi kebebasannya dalam memilih. Sangat tidak bagus kalau kita menjadikan itu sebagai dasar untuk menuduhnya ketinggalan zaman dan tidak terbuka pada pemikiran baru. Itu menunjukkan diri kita memiliki egoisme yang ingin memaksanakan pemikiran kita didengar dan menjadi “ajaran” yang benar pada orang lain.

Saya sarankan padanya untuk mengganti metode. Mungkin pemahaman yang ia berikan adalah benar adanya. Bisa jadi ajaran Islam sebagaimana yang ia tafsirkan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Namun apakah metode yang ia pakai sudah sejalan dengan prinsip-prinsip humanisme? Apakah ia menghormati pemikiran dan kebebasan orang lain? Apakah ia punya sensitifitas pada perasaan orang lain di mana mereka bisa jadi merasa tenang dengan agama yang diyakininya? Inilah yang saya anggap sang teman mengabaikannya.

Yang sering terjadi adalah, kita membawa ajaran perdamaian, namun menyampaikannya tidak dengan cara damai. Kita menjelaskan tentang kebebasan berpendapat namun kita sendiri adalah orang yang memaksakan kebenaran pendapat kita sendiri dan menganggap salah pendapat orang lain. Termasuk pendapat yang menganggap “kebebasan berpendapat adalah benar.” Kita mengklaim diri sebagai orang yang liberal, namun kita mencap orang lain fundamental dan tidak menghormatinya.

Kita harus bercermin pada apa yang kita katakan, kita perjuangkan, kita tulis, yang kita lukis. Apakah kita menjadi referensi terbaik dari itu semua?

Wallahu’a’lam.


Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...