Showing posts with label Aceh. Show all posts
Showing posts with label Aceh. Show all posts

21 September 2014

10 Tempat Wisata di Banda Aceh

Ada banyak tempat menarik di Aceh yang selama ini belum terekpose dan belum menjadi tempat wisata yang populer, terutama yang ada di daerah kabupaten. Misalnya, danau Laut Tawar di kota Takengon Aceh Tengah, Pulau Banyak di Singkil, Pantai-pantai di sepanjang jalan menuju Barat-Selatan Aceh, dan banyak lainnya. Selain karena masalah lokasi yang sangat jauh dengan Banda Aceh, lokasi tesebut juga tidak memiliki fasilitas yang memadai sebagai sebuah tempat wisata. Apalagi pemerintah Aceh hingga saat ini masih belum memandang lokasi wisata sebagai tempat yang dapat menghasilakn PAD dalam jumlah besar, sehingga mereka masih belum terlalu serius menggarapnya. Namun demikian beberapa diantaranya, terutama yang ada di sekitar Banda Aceh sudah memiliki jalan akses yang mudah dan memiliki fasiltas yang baik untuk wisatawan. Kalau memiliki waktu beberapa hari di Banda Aceh, inilah lokasi yang mudah dikunjungi:

  1. Masjid Raya Baiturrahaman
Masjid Baiturrahman adalah icon provinsi Aceh. Dalam masyarakat Aceh terkenal sebuah pomeo: "Belum sampai di Banda Aceh kalau belum shalat dan berfoto di depan Mesjid Raya Baiturrahaman." Makanya di rumah-rumah orang Aceh yang pernah pergi ke Banda Aceh selalu terdapat sebuah foto mereka di depan Mesjid Raya Baiturrahman, sebab itu sebagai "bukti" bahwa mereka sudah pernah pergi ke mesjid ini. Mesjid Raya Baiturraham memiliki sejarah yang sangat panjang. Mesjid ini berdiri pada masa kerajaan Aceh Darussalam, sekitar abad XV. Pada awal abad XVIII Belanda menyerang Aceh. Para Pejuang Aceh menjadikan mesjid Raya sebagai benteng pertahanan. Serangan ini gagal total. Panglima perang mereka Jenderal Kohler tewas di depan Mesjid Raya. Hingga sekarang kuburan itu diabadikan di depan Mesjid sebagai "pelajaran" bagi manusia, bahwa tindakan merusak mesjid akan berakibat seperti Jenderal Kohler tersebut. Pada serangan kedua, Belanda berahasil menguasai Mesjid Raya dan membakarnya. Beberapa tahun kemudian mereka mendirikan mesjid yang baru sebagai pengganti mesjid lama. Hal ini juga sebagai politik Belanda untuk "mendekatkan diri dengan orang Aceh" selama mereka berada di sana. Mendirikan mesjid untuk menunjukkan mereka sangat peduli dengan agama orang Aceh. Sejak saat itulah mesjid ini ditambah dan direhab beberapa kali hingga nampak seperti sekarang ini. Kalau mau merasa "Menjadi orang Aceh" maka shalat dan berdoalah di Mesjid Raya Baiturrahman jika kamu pergi ke Banda Aceh. 

2. Masjid Baiturrahim Ulee Lheu
Masjid yang penuh sejarah ini berada tidak jauh dari Banda Aceh ke arah Barat. Posisinya persisi di jalan menuju pelabuhan Ulhe Lheu (Pelabuhan menuju pulau Sabang). Masjid ini menjadi saksi bisu bagaimana tsunami dahsyat terjadi di Aceh tahun 2004 yang lalu. Ia tetap kokoh berdiri dan hanya mengalami kerusakan sedikit saja meskipun duterpa air deras. Padahal bangunan yang ada di sekitarnya hancur luluh tidak tersisa. Ulee Lhee adalah salah satud aerah yang sangat parah karena musibah itu. Setelah melakukan beberapa renovasi, masjid ini sudah tampak seperti sedia kala dan menjadi tempat wisata baru di Banda Aceh. banyak wisatawan datang ke sana untuk merasakan bagaimana dahsyatnya tsunami pada masa itu dan berdoa. 

3. Makam Massal Tsunami Banyak jenazah korban tsunami tahun 2004 tidak bisa diidentifikasi dengan jelas sementara semakin bertambah hari maka semakin jenazah akan semakin membusuk. Pemerintah mengambil kebijakan memakamkan mereka sejaca massal. Beberapa lokasi dipilih untuk menjadi makam masal tersebut. Salah satunya berada tidak jauh dari masjid Ulee Lheu di atas. Berkunjunglah ke makam ini untuk mengetahui bagaimana dahsyatnya tsunami tahun 2004 itu. 

4. Museum Tsunami Saya belum pernah pergi ke museum ini. Tapi saya dengar ini lokasi yang menarik. 

5. Pantai Lhoknga dan Beberapa Pantai yang lain Pantai Lhoknga adalah salah satu pantai yang sangat indah di Indonesia. Fahmi Idris, penyanyi dangdut era 90'an menjadikan Lhoknga sebagai salah satu judulnya (lihat You Tube). 

6. Makam Syiah Kuala Syiah Kuala adalah salah satu ulama yang sangat terkenal di Aceh. Ia diabadikan sebagai nama Universitas Terbesar di Aceh: Universitas Syiah Kuala. 

7. Warung Kopi Ini lokasi paforit saya. Saya menghabiskan banyak waktu di warung kopi, dan merindukannya kalau sedang berada di luar kota Banda Aceh. Saya pernah berkunjung di beberapa kota di Indonesia, namun belum menemukan tempat di mana saya bisa seperti di warung kopi yang ada di Aceh. Tentang porubahan warung kopi di Aceh dari waktu ke waktu bisa baca di sini: 

8. Kapal Apung 9. Arena PKA 

10. Tsunami Tour

24 February 2012

Haruskan IAIN Menjadi UIN?

Belakangan ini kampanye dan usaha mengubah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry semakin kencang. Pihak kampus IAIN melakukan beberapa audiensi dengan berbagai pihak di Aceh untuk mendapatkan dukungan perubahan tersebut. Selain pemerintah Aceh, pemerintah kota Banda Aceh, DPRA, Polda Acehpun sudah menyatakan dukungan untuk perubahan IAIN menjadi UIN. Dukungan ini menjadi salah satu aspek yang akan menguatkan tawaran IAIN kepada pemerintah dalam usaha perubahan ini. Tanpa mengecilkan arti usaha itu, sebuah pertanyaan yang layak diajukan adalah: sejauh mana perlunya perubahan IAIN menjadi UIN?

Alasan terdepan yang selalu dikemukakan oleh petinggi kampus dalam usaha perubahan ini adalah, "agar IAIN bisa membuka fakultas umum seperti halnya kampus tetangga, Unsyiah". Pembukaan fakultas dan prodi umum akan menjadikan IAIN ampu bersaing dengan universitas lain dalam menjaring minat studi mahasiswa. Apalagi belakangan di Aceh sudah berdiri STAIN Malikussaleh dan STAIN Cot Kala yang juga memiliki misi studi Islam yang hampir sama dengan IAIN. Nyaris, mahasiswa IAIN Ar-Raniry beberapa tahun terakhir didominasi oleh alumni SMA/MAN dari pantai Barat Selatan dan Banda Aceh-Aceh Besar.

Tujuan lainnya yang meskipun tidak terlalu populer namun ada dalam pikiran semua pihak di IAIN adalah, perubahan IAIN menjadi UIN akan memberikan jalan yang lebih mudah untuk menerapkan dan merealisasikan ide-ide tentang ilmu integrasi islam dan ilmu pengetahuan umum yang selama beberapa dasawarsa terakhir sudah sangat populer di dunia Islam. Sudah terlalu banyak "teori" integrasi yang sudah diberikan, namun masih sangat sedikit aplikasinya di lapangan. Dengan menjadi UIN maka kesempatan IAIN mengaplikasikan teori tersebut akan menjadi lebih mudah.

Arti IAIN: Sebuah Introspeksi

Meskipun sebagai dosen di IAIN Ar-Raniry, saya tidaklah terlalu ambisius untuk perubahan ini, meskipun saya bukan orang yang menolak sama sekali. Ada sebuah keraguan yang tidak bisa saya hindari ketika semangat perubahan ini didengungkan. Keraguan ini adalah menyangkut dengan pertanyaan: Apakah kita sanggup dengan perubahan tersebut?

Banyak kolega saya di IAIN menyambutnya dengan acungan kepalan tangan ke atas dan mengatakan: "Kita bisa!" Sungguh sebuah jawaban yang luar biasa. Saya yakin, kesiapan dan semangat akan membuat semuanya menjadi lebihmudah. Jika semua orang di IAIN sudah merasa perubahan ini akan menjadikan IAIN lebih baik, maka tidak tidak alasan untuk menundanya.

Namun saya ingin mengatakan, janganlah semangat perubahan menjadi UIN hanya didasarkan pada keinginan "kesempatan membuka prodi umum" dan "kesempatan integrasi ilmu keislaman dengan ilmu umum" semata tanpa melihat apa yang bisa kita lakukan selama ini. "Bisa" di sini adalah, apa yang sudah kita lakukan selama ini dengan status kampus yang "hanya" Institut.

Ada sebuah pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab. Apakah yang menyebabkan IAIN mundur karena "institut" atau karena faktor lain yang ada di dalamnya. Kedua, apakah nama "universitas Islam" akan menjamin IAIN ke depan lebih baik? Dua pertanyaan ini akan membawa kita untuk bisa melihat kembali pada diri masing-masing, lalu menilais sejauh mana perubahan nama ini perlu.

Kualitas Pribadi vs Sebuah Nama

Saya sendiri cenderung berfikir bahwa ketertinggalan kampus bukan disebabkan oleh namanya, namun ada pada sistim pengelolaan yang ada di dalamnya. "Institut" dan "Universitas" bagi saya sama saja sejauh ia bisa dikelola dengan baik dan dengan sebuah visi yang jelas. Selain itu, di dalamnya ada civitas akademika yang memiliki dedikasi dan semnagat yang tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Apapun namanya, jika ia memiliki dedikasi yang kuat dalam pengembangan ilmu, maka ia tetap akan maju dan diincar oleh siapa saja.

Selama ini, saya melihat, IAIN belumlah menjadi sentral pengembangan ilmu pengetahuan agama di Aceh. Peran IAIN masih sekedar menjalankan administrasi pendidikan ilmu agama Islam saja, belum sampai pada mengembangkan dan mensponsori pengembangan ilmu keislaman. Sebagai "administrator", selama ini IAIN menjadi media transformasi ilmu dari seorang dosen kepada mahasiswa. Dosen mendapatkan ilmu dari tempat lain dan membaginya kepada mahasiswa. Tidak ada ilmu "khas" IAIN yang dikembangkan, yang ada hanyalah pengambilan ilmu dari tempat lain dan bulat-bulat diberikan kembali kepada mahasiswa.

Mudahnya begini. Meskipun IAIN berada di Aceh, namun Aceh sama sekali tidak bisa dilihat dari IAIN. Penelitian-penelitian yang ada di IAIN masih tidak bisa menggambarkan apa yang terjadi di Aceh. Bahkan apa yang terjadi di Aceh, tidak bisa dijelaskan oleh civitasakademika IAIN. Justru ornag luar -provinsi atau negara- yang datang ke Aceh untuk melakukan penelitian dan dokumentasi mengenai Aceh. Celakanya, dokumentasi mereka kemudian menjadi rujukan bagi civitasakademika IAIN dalam melihat daerahnya sendiri.

Tentu kita tidak bisa menafikan beberapa pakar dari IAIN yang berperan dalam pengembangan agama dan pemerintahan di Aceh. Namun itu jelas bukan (setidaknya tidak 100%) bagian dari posisinya sebagai ilmuan. Sebagai ilmuan, menurut saya, civitasakademika IAIN harus menjadi "perekam peradaban" yang sedang berlangsung di Aceh, dan menempatkan perspektifnya dalam semua hal yang yang terjadi di Aceh belakangan ini. Apakah ini sudah terjadi? Saya melihatnya belum.

Hal yang paling mudah adalah dengan melihat konteks Aceh kontemporer, saat ini. Sekarang di Aceh sedang berlangsung sebuah proses pemeilihan kepala daerah. Ada banyak partai, ada banyak kekerasan, ada banyak teror, ada banyak intrik politik, dan lain sebagainya. Di sisi lain, IAIN memiliki jurusan politik Islam. Pertanyaannya, sejauh mana akademisi di jurusan politik Islam mencerdasi apa yang terjadi dalam proses demokrasi di Aceh ditinjau dari eprspektif Islam? Apakah proses ini sudah sesuai dengan prinsip politik Islam?

Seharunya, ini menjadi "laboraorium hidup" bagi IAIN untuk menerapkan apa yang berkembang di kampus. Apa yang sudah didiskusikan di kelas, bisa dilihat di pangangan dan melakukan penilaian. Hasil penelitian akan kembali didiskusikan di kampus dan diabstraksikan dalam bentuk tesis-tesis keilmuan yang akan terus berkembang secara dinamis. Semakin lama, abstraksi ini semakin kuat dan teruji. Dan pada suatu masa ia akan menjadi salah satu produk ilmu pengetahuan khas yang lahir dari IAIN.

Mungkin lain kali saya akan mencoba memberikan gambaran dan contoh dari beberapa fenomena sosial di Aceh lainnya.

Kembali ke pertanyaan semula, apakah untuk melakukan ini perlu mengubah IAIN menjadi UIN? Saya kembali menjawabnya: Tidak! Dalam status sebagai IAINpun, hal ini bisa dilakukan.

Namun pertanyaan yang paling -menurut saya- sulit untuk dijawab adalah, Apakah alumni sebuah kampus yang bergelut dengan wacana keilmuan teoritis adakan bisa mendapatkan pekerjaan setelah ia menjadi sarjana?

Mungkin ini bisa jadi sebuah pertanyaan yang lain lagi, namun sekaligus harus dijawab berbarengan dengan keinginan perubahan IAIN menjadi UIN. Memang sulit mengatakan bahwa seorang alumni IAIN bisa eksis di dunia kerja kalau kampus tidak menyesuaikan diri dengan apa yang berkembang. Seorang ahli filsafat Islam alumni Fakultas Ushuluddin misalnya. Ia lulus dengan predikat terbaik di kampus, mau jadi apa? Apa yang bisa dilakukannya? Satu dua orang bisa menjadi peneliti atau penulis, namun berapa banyak yang bisa demikian? Akhirnya mereka akan kembali ke kampung dan hidup seperti masyarakat biasa di sana. Lalu untuk apa kuliah?

Saya sendiri sungguh tidak punya jawaban untuk pertanyaan seperti ini. Jika dengan mengubah Institut menjadi Universitas mampu mengatasi problem ini, maka saya bisa maklumi kalau perubahan itu memang niscaya. Saya ikut mendoakan saja.



15 August 2011

Lelaki Tua yang Menamatkan al-Qur'an Tiga Hari Sekali

Saat itu tahun 2006 akhir, persis masyarakat Aceh sedang disibukkan dengan pemilihan umum kepala daerah pertama setelah konflik dan tsunami. Saya berkunjung ke sebuah dayah di Simpang Mamplam, Bireun. Dayah itu tidak terlalu tua, namun ada banyak anak yatim yang ditampung di sana. Sebagian mereka adalah korban tsunami tahun 2004. Sebagian yang lain anak dari orang tua yang kurang mampu secara ekonomi. Di sana mereka tinggal sambil belajar agama Islam.

Tokoh sentral dalam dayah itu adalah seorang kakek tua yang dipanggil dengan sebutan "Abi". Beliau kakek berusia -saat itu- 87 tahun. Meskipun ia tidak lagi mengajar di dayah secara formal, namun nasehat-nasehat, petuah dan "ceramahnya" selalu dinantikan santri dayah. Menurut pengakuannya, ia kurang beruntung dalam hal ibadah. Sebab dalam usia yang sudah sangat tua ia baru memiliki kesempatan menunaikan haji. Yakni tahun 2003, saat usianya sudah 84 tahun. Itupun setelah sebuah proyek reklamasi pantai dilakukan pemerintah daerah dan ia mendapatkan mengganti rugi tanah dengan harga yang lumayan tinggi.

Jauh hari sebelum naik haji, ia sudah bernazar. Kalau nanti kesempatan naik haji datang dan ia bisa pulang ke Aceh dengan selamat, maka ia akan mengisi waktunya dengan membaca al-Qur'an. Setelah ia benar-benar mendapatkan kesempatan naik haji dan pulang dengan selamat, ia menunaikan nazarnya. Awalnya, ia menamatkan membaca al-Qur'an sekali sebulan. Namun lama-lama semakin meningkat. Saat saya datang ke sana, ia mengaku biasa menamatkan al-Qur'an sekali dalam tiga hari. Bahkan terkadang dalam dua hari!

Kemarin (11/08/2011) di Bandara Banda Aceh, saya tanpa sengaja berjumpa kembali dengan beliau, setelah lima tahun yang lalu. Ia ternyata hendak berangkat ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Umrah. "Ini tahun ketiga saya berangkat ke sana," katanya. Artinya, dalam tiga tahun terakhir ini, setiap puasa ia pergi ke Makkah untuk berumrah. "Apa Abi masih kuat?" tanya saya. "Alhamdulillah, saya bisa berjalan sendiri meskipun dengan tongkat", katanya.Memang terlihat, di bandarapun ia berjalan sendiri. Meskipun terkadang seorang cucunya yang masih remaja memapahnya, namun jelas nampak kalau tenaganya masih sangat kuat untuk lelaki seusianya.

Perjumpaan ini mengingatkan saya perjumpaan kami lima tahun yang lalu. Ia duduk di sebuah balai kayu di depan rumahnya. Sebuah al-Qur'an terbuka di depannya. Al-Qur'an itu terus terbuka sepanjang hari. Setiap ia memiliki waktu kosong ia mendekatinya, dan membaca ayat-ayat suci itu. Dengan cara ini ia menamatkan al-Qur'an tiga kali dalam sehari; "Sudah tiga tahun, sejak saya pulang dari haji", katanya.

Lalu saya memilihat pada diri sendiri sambil membela diri: "Beliau bisa karena beliau tidak punya kesibukan, cuma itu saja yang dipikirkannya" kata saya dalam hati. Lalu bagian hati yang lain menjawab: "Iya, kamu memang sibuk, sangat sibuk, tidak mungkin bisa membaca al-Qur'an sepeti beliau".

02 July 2011

Budaya Ngopi; antara Aceh dan Milan

Siapa yang tidak kenal kopi? Mau tidak mau, suka tidak suka, saya kira semua orang di dunia ini mengenalnya. Bedanya, sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman akrab, sebagian yang lain teman biasa, dan tidak jarang pula menjadi musuh bebuyutan karena dianggap (atau bahkan memang) mendatangkan penyakit baginya. Namun, bagaimanapun, kopi tetap dikenal.

Di Indonesia, kopi menjadi minuman paforit banyak suku. Apalagi tanaman kopi bisa hidup di banyak tempat dengan “mudah”. Sehingga kita sering dengar istilah “petani kopi” yang berarti sekelompok orang yang bekerja untuk menanam kopi, menjaga, memanen dan mengolahnya. Kondisi ini pula yang selanjutnya memunculkan personal-personal yang sangat menyukai kopi.

Salah satu suku bangsa yang “gila” kopi adalah orang Aceh. Bagi yang pernah datang ke Aceh tahu bagaimana kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat keseharian. Di Banda Aceh misalnya, anda tidak perlu capek-capek bikin kopi sendiri. Berbagai jenis kopi, aroma kopi, ada di warung kopi dengan harga terjangkau. Lebih mudah lagi, warung kopi itu ada di mana-mana, sangat mudah mencarinya. Dari yang paling kecil hingga yang besar. Dari pinggiran hingga pusat kota. Tersebar merata.

Di Milan (dan Italia pada umumnya), minum kopi juga menjadi sebuah budaya yang tidak teprisahkan dari kultur masyarakatnya. Sama seperti di Aceh warung kopi dengan mudah bisa diperoleh di Milan. Di mana-mada ada Bar atau cafe yang menyedikan kopi. Kopi menjadi minuman paforit juga di kantin kampus, di terminal, di stasion kereta api, dan lainnya. Singkatnya, kopi adalah minuman yang sangat populer di Milan (juga Italia).

Seperti kata pepatah “beda padang beda ilalang, beda lubuk beda ikannya”, antara Aceh dan Milan memiliki budaya minum kopi yang berbeda. Beberapa perbedaannya adalah sebagai berikut:

Pertama, kebanyakan orang Aceh mengkonsumsi kopi dalam gelas sedang yang diisi dengan kopi encer ditambah gula. Meskipun ada beberapa orang yang suka minum kopi pahit, namun itu bukanlah fenomena umum di kota-kota. Anak muda dan lelaki paruh baya biasanya memesan kopi manis. Bahkan sangat manis hingga rasa pahit kopi jadi hilang. Sedangkan di Milan, orang sangat suka minum espresso, kopi pahit yang kental yang diisi dalam gelas kecil, sebesar jempol kaki. Itupun tidak penuh, mungkin hanya setengah. Beberapa orang memang menambahkan gula ke dalamnya, namun yang lebih umum, orang Milan meminum kopi itu apa adanya. Pahitnya menusuk jantung dan kepala. Tapi sedapnya menyebar ke seluruh tubuh.

Kedua,
Orang Aceh memiliki warung kopi yang banyak, besar dan rame. Kalau anda masuk ke warung kopi, anda akan mendengar suara “gemuruh” seperti di pasar. Semua orang berbicara, tertawa, bercerita, berdiskusi, seperti menjerit. Kalau mau minum kopi dengan tenang dan senyap memang bukan warung kopi tempatnya. Kecuali pada waktu tidak banyak orang, atau di warung kopi yang tidak populer. Nah, ini sangat berbeda dengan di Milan. Banyak warung kopi tidak menyediakan tempat duduk. Kalau mau ngopi, anda masuk ke dalam, memesan kopi yang anda inginkan, dan minum sambil berdiri. Kadang ada satu set meja kursi, namun itu jarang dipakai. Orang lebih suka minum kopi sambil berdiri, bahkan kalau mereka berdua atau bertiga.

Ketiga, di Aceh, kopi diolah secara tradisional. Di warung kopi Banda Aceh dan Aceh Besar, sebelum kopi dituangkan ke dalam gelas, kopi disaring dengan kain khusus sehingga tidak ada serbuk kopi yang masuk ke dalam gelas. Di beberapa kabupaten lain, kopi dihidangkan bersama bubuk kopi yang masih kasar sehingga setelah selesai diminum di dalam gelas akan tersisa ampasnya. Orang Aceh mengatakan kopi pertama dengan “kupi sareng” dan kopi kedua dengan “kupi tubroek”. Di Milan, pada umumnya kopi disajikan dengan menggunakan mesin modern. Bubuk kopi hanya dimasukkan dalam sebuah alat pengolahan. Ketika ada yang memesan, penjual akan mengeluarkan perasan kopi dari alat tersebut. Ini membuat kopi yang keluar adalah ekstrak kopi yang sangat kental dan rasanya juga sangat nikmat. Sebab ia adalah “uap kopi” yang memiliki aroma menusuk hidung.

Keempat, Di Aceh pada umumnya hanya ada kopi hitam saja dan tidak banyak pilihan olahan. Selain kopi hitam, paling kita bisa memesan kopi susu, kopi sanger (kopi+susu+gula), kopi kocok, dan kopi telor. Namun kopi hitam sangat pupuler dan yang lainnya hanya insidentil dan disukai oleh orang tertentu saja. Di Milan, ada banyak olahan kopi dan sangat variatif. Dua kopi yang sangat terkenal adalah espresso dan capucino. Kalau espresso adalah kopi hitam pekat, capucino adalah kopi campur susu yang lumayan “terang”. Dua-duanya populer dan dua-duanya memiliki kenikmatan tersendiri yang masyaallah.

Kelima, Di Aceh kopi pada umumnya ditanam sendiri oleh orang Aceh. Memang, kebanyakan berasal dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua kabupaten di dataran tinggi Aceh yang memiliki kebun kopi yang maha luas. Ada juga kopi yang di datangkan dari Sumatera Utara, hasil produksi dari dataran tinggi Berastagi. Namun masyarakat Aceh pada umumnya memiliki kebun kopi untuk kebutuhan sendiri mereka, terutama masyarakat pedesaan Aceh. Lantas dari mana kopi yang ada di Milan? Seorang teman yang saya temui mengatakan kalau kopi di Milan diimpor dari luar. Di Italia sendiri tidak banyak tumbuh kopi, mereka mendatangkannya dari negara lain. Salah satu negara pemasok kopi ke Milan adalah Belanda.

Belanda? saya jadi ingat sebuah perusahan kopi asal Belanda yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Mereka menampung kopi masyarakat dan mengirimkannya langsung ke Belanda. Apakah perusahaan ini yang memasok kopi ke Milan? Boleh jadi. Kalu benar, berarti saya sudah minum kopi Aceh di Milan. Hehehehe

Btw, bagaimana budaya minum kopi di tempat anda? Saya yakin pasti menarik!

11 May 2011

Pang Leman

Pang Leman tidak mau ketinggalan. Naluri pengusahanya langsung hidup saat tahu kalau rincong itu diperlombakan. "Saya sudah dapatkan segalanya, saya sudah miliki semuanya, kenapa saya tidak bisa dapatkan sebuah rincong?" batinnya. Bagi Pang Leman, rincong adalah sebuah "cap" bagi pengakuan orang atas kesuksesannya. Kurang afdal kalau ia hanya punya uang, punya usaha, punya harta, punya pengaruh, tapi ia tidak punya nama. Sebab "nama" adalah identitas yang akan menguatkan apa yang ia sudah miliki. Dari nama ia akan mengekspresikan dirinya secara total. Dan nama yang paling tepat untuk mendapatkan itu adalah "pemilik rincong sakti". Pang Leman akan bertempur untuk mendapatkannya. Habis-habisan.

Langkah paling penting mencari kemenangan adalah membangun jaringan. Jaringan adalah kumpulan sekelompok orang yang secara sadar mau membantunya mendapatkan apa yang ia inginkan. Tentu saja tidak gratis. Pang Leman tahu ia harus mengeluarkan banyak uang untuk membangun jaringan yang bagus. Ia sadar kalau kekuatan sebuah jaringan sangat terkait dengan berapa banyak uang yang digunakan untuk menggerakkannya.Orang bisa katakan yang lebih penting dari segalanya adalah ideologi. Namun apakah ada ideologi bisa hidup tanpa orang-orang yang hidup. Orang hidup dengan uang. dengan itu mereka mengasapi dapurnya. dan uang bukanlah masalah besar bagi Pang Leman. Ia punya pundi-pundi uang yang besar, yang bias membeli apa yang ia suka.

Pang Leman mulai menebar jala, pada penganggur-penganggur yang butuh pekerjaan. Sebagian mereka adalah pemalas yang punya gengsi besar. Sebagai lain orang cerdas yang tidak punya lapangan. Namun banyak pula dedengkot-dedengkot sampah yang bisa bersandiwara mengubah wajah dalam sekejap. Bekerja sebagai anggota tim sukses Pang Leman sedikit menaikkan gengsi mereka. Mereka merasa mendapatkan pekerjaan "terhormat". Tidak segan, tidak ragu. Para penganggur dan pemburu gengsi ini akan segera bergabung, bergabung sangat cepat. Bahkan terkadang tanpa diminta. Sinar sematan rincong di pinggang Pang Leman sudah mereka bayangkan. Bagaimana indahnya dunia jika itu terjadi.

Para penganggur ini mulai bekerja. Tidak bekerja iklas, namun sejauh mana mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pekerjaan itu. Pang Leman tidak peduli. Ia hanya memerintahkan dan melemparkan sejumlah uang. Ia hanya menginginkan menjadi pemilik rincong, meskipun rincong itu entah dimana dunianya. Uangnya benar-benar sihir. Orang-orang bekerja cepat untuknya, bahkan lebih cepat dari seorang ibu yang harus menyusui anaknya karena kegerahan. Pang Leman, dengan uangnya ia benar-benar berkuasa. ia bisa meminta orang melakukan apapun, dan mereka langsung melakukannya.

Pang Leman menyedikan kantor agar mereka bisa berkumpul. Ia membelikan mobil yang bertempel foto dirinya agar orang bisa melakukan pejalanan ke mana yang ia suka. Ia memberikan mereka baju, sepatu, jaket, tas, handphone, dan lainnya. apa saja yang mereka perlukan. Sebab mereka adalah bebatuan yang diinjak oleh Pang Leman agar ia bisa sampai pada posisi di mana rincong akan disematkan. Mereka adalah budak-budak yang seolah diajarkan tentang sebuah arti hidup, namun sesungguhnya robot-robot yang bekerja untuk kehendak Pang Leman. Pang Leman tahu ini, namun ia tidak memberitahukan kepada mereka. Sebab mereka hanya ingin hidup dengan gaji yang sederhana.

Apakah Pang Leman ingin membantu para pengangguran mendapatkan pekerjaan? Tidak! Ia menginginkan rincong sakti. Jika rincong itu tersemat di pinggangnya, ia akan lebih mudah mempengaruhi orang untuk bekerja kepadanya. Ia akan lebih mudah mendapatkan uang dari usahanya. Orang-orang akan lebih percaya padanya. Dan yang paling penting adalah, jika rincong itu tersemat di pinggangnya, tanah negeri ini seolah akan menjadi miliknya. Ia bisa menjual sesuka hatinya, ia bisa mengekploitasi kekayaannya, ia bisa memeras orangnya, ia bisa melakukan apapun baik pada apa yang ada di atasnya, maupun apa yang ada di dalamnya. Itu tentang alam.

Ada yang lebih penting, jika rincong itu tersemat pada pinggangnya. Ia seoalah memiliki apapun yang hidup di atas negeri itu. Ia bisa memilih perempuan yang ia sukai. Ia bisa mengambil istri orang atau anak gadisnya. ia bisa memenjarakan orang yang memusuhinya. ia bisa mengatur wartawan agar memberitakan hanya apa yang menyenangkan hatinya. Ia, bahkan bisa mengatur para ahli agama agar mengeluarkan fatwa-fatwa yang bisa mendukung rencana-rencananya. Kalau ini bisa ia dapatkan, kenapa ia tidak berani mengeluarkan modal lebih banyak lagi? dan ini terus ia lakukan, sampai waktunya tiba.

Pang Leman sungguh gila.

Lem Baka Mencari Rincong

Ini peluang besar," kata Lem Baka, begitu tahu kalau makhluk ghaib menyerahkan orang-orang menentukan sendiri siapa yang paling layak mendapatkan rincong sakti diantara mereka. " Aku takkan lepaskan kesempatan baik ini. Apapun akan kulakukan untuk mendapatkannya." Lem Baka sangat berbirahi menggenggam rincong dan menyematkan dipinggangnya. Ia lalu berdiri di cermin kamarnya. Mulai meliat kopiahnya yang mulai pudar karena tidak pernah tercuci telungkup mereng ke kri di kepalanya. Beberapa uban mulai muncul di kepalanya. Ia melihat baju yang ia kenakan. merapikan sedikit di bagian leher dengan kedua tanagnnya. Berpindah ke perut. Sedikit berisi, mungkin seperti perempuan hamil 4 bulan. Lalu ia memegang sisi kanan pinggangnya, dan ternyenyum. Hayalnya mulai terbang, andai rincong itu tersemat di sini. "Aku harus mendapatknnya!"

Lem Baka punya segala yang diperlukan untuk mendapatkan rincong sakti itu, kecuali kejujuran. Ia adalah lelaki paruh baya yang bisa menikah kapan saja ia mau. Dalam diari pribadinya sudah tertera lima perempuan yang penrha ia nikahi di depan penghulu. Beberapa perempuan yang "dinikahi" secara khusus senagja tidak disebutkan di sana. Lem Baka punya semua apa yang diperlukan orang yang bersimpati padanya, kecuali keikhlasan. Ia bisa memberikan apapun yang dibutuhkan asal niatnya tercapai dan mimpinya terwujud. Ia akan berikan tiga kali lipat lebih banyak dari orang lain. Inilah yang membuat orang berlulut di kakinya.

Dengan modal inilah, Lem Baka memanggil empat anak buah terbaiknya. "Aku mau rincong sakti itu menjadi milikku." Keempat temannya segera sadar, itu bukan sebuah keluhan, curhat, pemberitahuan, atau mimpi di siang bolong. Itu adalah perintah!! Ya, perintah. Lima thau sudah mereka mendampingi Lem Baka. Mereka tahu passti mana yang perintah, maka larangan, mana ajakan, maka cemoohan, dan mana kesih sayang (yang terakhir ini baru dua kali terjadi dalam lima tahun terakhir). Mereka sudah sangat hafal, bahkan mereka juga hafal arti sorotan mata Lem Baka, arti lidah yang dijulurkan ke luar, dan arti dengusan hidungnya. sebab mereka dibayar oleh Lem Baka untukmelakukan itu.

Tapi ini sesuatu yang berat. bahkan nyaris tidak mungkin. Mereka sangat kenal dengan Lem Baka. Meraka tahu seperti apa perangainya, setinggi apa nafsunya, sebulus apa strateginya, seburuk apa niatnya. Merea tahu persis. Namun mereka juga tahu kekejaman Lem Baka. Tidak mungkin mengatakn niatnya mendapatkan rincong suatu hal yang buruk dan absurd, apalagi mengajaknya memabatlkan niat itu. Bisa jadi dapur mereka berhenti mengobarkan asap. Bagaimana istri dan anak mereka dapat makan? Tapi ini benar-benar sulit.

Lem Baka tahu apa yang mereka pikirkan.Sebab iapun sadar "siapa" dirinya selama ini dan apa yang sudah dilakukan. Namun sematan rincong di pinggang kanan sungguh sangat ia dambakan. Dan ia akan melakukan apapun agar keinginan itu terwujud. Dan ia akan menghancurkan siapapun yang menghalangi keinginannya. Namun ia juga sadar, ia tidak sepenuhnya bisa mewujudkan mimpinya. Ada hal lain yang lebih menentukan yaitu semua orang harus merasa ia memang patas mendapatkanya. Jadi satu-satuya cara unutk itu adalah membangun citra diri, menunjukkan ia seorang yang peduli, mengatakan ia adalah teladan yang patut diikuti. Dan ia hanya punya waktu satu bulan unutk melakukannya.

Minggu lalu misi ini mulai dilaksanakan. Ia memimpin ritual di rumah ibadah yang ia tidak pernah berkunjung ke sana selama ini. Ia mengkampanyekan iman mayoritas dan melarang interpretasi berbeda tentang keyakinan dengan berbeda dengan mayoritas. ia mulai berkunjung kepada kelompok-kelompok pemegang otoritas agama. Ia mulai peduli pada mereka yang membutuhkan. Ia mulai mudah membuka dompetnya dan memberikan uang kepada siapa yang meminta. Tidak lupa, ia meminta seorang wartawan menuliskan apa yang dia lakukan di koran. Wartawan itu adalh temannya. Tidak ada hal buruk yang keluat dari penanya. Ia selalu menunjukkan, Lem Baka adalah dewa yang bijak. dan diantara pembaca ada yang percaya.

Tapi apakah cara ini akan membawa rincong ke pinggangnya?

Seorang yang lain, Pang Leman melakukan hal yanglebih gila

29 April 2011

Rincong Sakti

Sebuah rincong warisan nenek monyang kini kehilangan pemiliknya.Dua hari yang lalu, sang pemilik meninggal dunia dengan tenang. Pada hembusan nafasnya yang terakhir, terucap sebuah pesan, rincong yang kini terselip di pinggangnya akan menghilang seiring nafasnya berhenti. Sesosok makhluk ghaib akan datang mengambil rincong dan menyelamatkannya. Pada satu waktu rincong itu akan dikembalikan ke dunia, jika ada seorang anak manusia yang memenuhi syarat menerimanya. Dan hanya mereka yang sabar dalam kekayaan, rendah hati dalam kekuasaan, ramah dalam kejayaan, punya cinta dalam kemegahan, yang akan mewarisinya.

Rincong itu sebuah rincong sakti yang diwariskan dari indatu sejak zaman batu. Berbeda dengan emas dan perak, rincong berhias zamrut mutiara intan berlian ini diwariskan bukan kepada anak, tidak pada kemenakan, apalagi pada teman dan kerabat. Ia diwariskan kepada orang yang memang pantas mendapatkannya. Tidak peduli apakah ia seorang petani, seorang pelayan, seorang tukang batu, abang becak, saudagar kain, ustaz, aktivis, ma blien, atau siapa saja. Selama ia memiliki syarat yang cukup, sosok bayangan yang datang dari alam ghaib akan mengantarkan rincong kepadanya.

Setelah pewaris terakhirnya meninggal dunia, masyarakat mulai membicarakan perihal rincong.Siapakah yang akan mewarisinya kelak? Siapakah yang berhak mendapatkannya? Siapa gerangan orang yang dipilih si makhluk ghaib untuk diselipkan rincong di pinggangnya?

Banyak orang mengharapkan rincong jadi miliknya. Namun semakin kuat ia berharap, semakin jauh rincong darinya. Semakin nampak ia berambisi, semakin menghilang bayangan rincong dari benaknya. Sebab rincong hanya memilih mereka yang tidak berkepentingan dengannya sebagai rincong, namun punya komitmen dan tanggung jawab menjaganya, menyelamatkannya, memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingan besar yang bermanfaat untuk orang banyak.

Sebagian orang tidak sabar. Ia berharap rincong ia dapatkan, namun tidak mau memahami untuk apa rincong akan digunakan dan bagaimana mendapatkannya. Ia merasa bangga andai sebilah rincong terselip di pinggangnya. Apalagi jika itu adalah rincong warisan dari alam ghaib yang hanya ada satu-satunya di negeri itu. Ia berhayal dengan rincong di pinggangnya, ia bisa dapatkan apa yang ia mau, ia boleh pergi kemana ia suka, ia mampu penuhi semua hasrat. Dan hidup adalah surga dunia. Namun mimpi ini pula yang menyebabkan rincong semakin jauh darinya. Jangankan melirik, si makhluk ghaib sama sekali tidak teringat padanya.

Sayangnya, saat ini, tidak ada yang benar-benar memenuhi syarat mendapatkan rincong. Si makhluk ghaib sudah kepanasan menggenggam rincong. Tahun ini ia harus sudah menyelipkan rincong itu ke pinggang seseorang. Bagaimana kalau tidak ada yang memenuhi syarat? Harus ada, batinnya. Sebab ia bukanlah makhluk yang tepat untuk menggenggam rincong. Ia adalah perantara yang membawa rincong dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dan waktu itu semakin dekat, sementara seseorang belum ia dapat. Pada sebuah malam setelah maghrib sekonyong-konyong terdengar suara dibawa angin. "Sudah saatnya rincong aku sematkan, tapi tidak ada orang yang pantas dapatkan. Mungkin penglihatanku mulai rabun, telingaku mulai uzur. Sampaikanlah kepadaku wahai manusia, siapa gerangan yang layak mendapatkan rincong dari bangsamu. Antarkan namanya ke bukit anu. Saya menungu hingga mata hari tenggelam pada hari ini di bulan depan."

Negeri itu menjadi gempar. Semua orang hendak mendapatkan rincong. Semua merasa berhak. Semua merasa mampu. Yang dulu pencopet kini jadi penceramah. Yang dulu pembunuh kini jadi pencinta. Yang dulu pendusta kini jadi alim. Yang dilu menipu sekarang jadi amanah. Bukan hanya itu, yang dulu menyimpan hartanya di lemari besi berkunci nuga, kini menghamburkan emas ke jalan-jalan. Yang dulu berlumpur dalam dosa dan kekejian, sekarang berbalut sorban mengharap simpati.Dan simpati mulai datang. Nama-nama mulai diunggulkan. Dan pemilik nama mulai bertengkar. Masing-masing mengatakan dialah yang paling pantas, dialah yang paling unggul, dialah yang paling berhak. Tidak ada yang rendah hati, tidak ada yang sabar, tidak ada yang bicara dengan cinta.Mereka bicara tentang dirinya, bukan tentang siapa yang telah mempercayakan rincong kepadanya.

Makhluk ghaib dari persemayamannya menyaksikan. Semakin bingung dengan keadaan. "Mereka tahu rincong ini untuk seorang yang tabah, seorang yang ramah, seorang yang adil,yang penuh cinta. Tapi kenapa mereka memperebutkannya dengan kekerasan, kesombongan, kekejian, salaing hasut dan fitnah?"

17 December 2010

Si Birah

Konon dulu, kata Lem Baka memulai kisah untuk anaknya yang akan tidur, di sebuah kampung ada seerkor ayam jago. Namanya Birah, Si Birah. Ia demikian jagonya, hingga tidak ada satupun ayam di kampung itu yang berani menantangnya. Ia punya pasukan yang kuat, punya peralatan perang yang lengkap, dan sangat canggih untuk ukuran masanya. Dengan itu semua ia menjadi sangat berkuasa. Apa yang diinginkannya akan dipenuhi oleh para pekerja, apa yang ia harapkan akan disedikan oleh budak-budak yang dimilikinya. Budaknya berasal dari bangsa bebek yang tidak banyak macam dan suka menurut.

Si Birah punya obsesi besar untuk menjadi raja di atas raja-raja lain yang ada di kampung tetangga. Apalagi konon di kampung tetangga rajanya bukan dari kalangan ayam jago. Sebagian dari bangsa burung, sebagian kambing, sebagian kerbau. Namun ia tidak peduli, ia yakin akan mengalahkan mereka semua. Karena itu ia menyiapkan berbagai perlengkapan perang untuk penyerangan kampung tetangga. Dengan kedigdayaan senjatanya, Si Birah dan pasukannya dapat menaklukkan satu persatu kampung-kampung itu. Hingga lama kelamaan ia benar-benar menjadi raja di atas raja-raja. Raja diraja.

Menjadi raja diraja membuat Si Birah merasa banyak musuh. Ia terus merasa berbagai bangsa, berbagai suku hendak menghancurkan dan merebut kekuasaannya. Ia menjadi sangat protektif menjaga kekuasaannya. Setiap orang yang dianggap melanggar hukum lantas disiksa dengan siksaan yang berat, apakah hukuman itu sesuai dengan aturan atau tidak, itu bukan masalah baginya. Ia, dengan kekuasaannya, dapat membuat hukum sendiri. Kalau ia keliru, para ulama, para cendikiawan, para cerdik pandai dan perangkat adat akan membenarkannya. Dan sejarah tentang Si Birah ditulis oleh mereka yang ada di sekitarnya.

Namun umur ayam tidaklah lama. Masa kegemilangan itu akhirnya hancur. Kekuasan Si Birah diwariskan pada anak cucunya. Namun mereka tidak sejago Si Birah. Apalagi, sebuah bangsa entah dari mana datang menyerang. Berbagai pasukan dikerahkan, berbagai senjata dikeluarkan, namun pasukan asing itu tetap tak terkalahkan. Meskipun pasukan asing itu tidak mampu menduduki kampung Si Birah, namun kekuasaan keturunan si Birah sudah hancur lebur. Mereka terpencar ke mana-mana. Hingga beberapa tahun kemudian sulit menentukan apakah Si Birah benar-benar punya keturunan atau tidak.

Pada suatu masa, kampung Si Birah dianggap terlalu lemah. Ia dianggap tidak pantas menjadi kampung dengan pemerintahan sendiri. Lantas entah ide siapa, kampung si Birah masukkan sebagai sebuah dusun kecil di dalam sebuah kecamatan yang lebih besar. Beberapa sisa pasukan Si Birah mencoba berontak. Mereka merasa di hina diturunkan derajat dari sebuah kampung menjadi sebuah dusun. Sayangnya, pasukan ini bukanlah pasukan si Birah. Lambat laun mereka takluk. Bukan takluk dalam perang, tapi menyerah di meja perundingan. Sesuatu yang jika Si Birah masih hidup pasti akan dikutuknya.Namun sayang Si Birah sudah tiada. Kini, orang-orang yang mengatasnamakan generasi penerusnya berselemak dengan jabatan, pangkat, dan kekuasaan yang diperoleh sebagai imbalan terima kasih dari bangsa lain.

Belakangan, entah dari mana mulainya, mereka bicara lagi tentang Si Birah. Konon katanya, meskipun kini bukan kampung lagi, namun perlu "Si Birah" baru. Si Birah baru tidak lagi punya kuasa untuk berperang, namun ia akan memimpin adat, mengawal budaya, menjadi panutan anak negeri. Mereka menggambarkan Si Birah demikian heroik, demikian besar, demikian agung, hingga hampir tidak ada cacat padanya. Si Birah yang dulu ayam jago biasa, sekarang terlahir dalam wujud ayam suci.

Namun nak, kata Lem Baka, ketahuilah itu hanya akal-akalan orang-orang yang hendak menjaga kekuasaannya semata.

Lem Baka bercerita dengan penuh emosi. Entah anaknya mengerti entah tidak, dia tidak peduli. Sebuah dagelan sejarah tentang Si Birah sedang berlangsung di depan mata.

29 May 2010

Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek

Mungkin satu-satunya kota provinsi yang tidak ada bioskop hanyalah Banda Aceh. Saya tidak terlalu yakin dengan kesimpulan ini, namun dari sedikit kota yang saya kunjungi, nampaknya di daerah lain di Indonesia bioskop bukan hanya di kota provinsi, namun juga banyak terdapat di kota-kota kabupaten. Bahkan beberapa kecamatan yang agak besar juga memiliki bioskop sendiri. Meskipun dengan banyaknya media yang bisa dipakai untuk menonton film belakangan ini, namun citra bioskop sebagai tempat menonton film sesungguhnya masih sangat terasa dalam masyarakat. Jadinya, sebuah film akan terasa berbeda rasa dan kesannya jika ditonton di rumah dengan di bioskop.

Namun demikian di Banda Aceh, sampai saat ini tidak ada sebuah bioskop yang menayangkan film secara terjadwal dengan tetap seperti di kebanyakan kota lain. Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak bermasalah. Sebab tanpa bioskop masyarakat tetap bisa mendapatkan hiburan berupa film melalui media yang lain, seperti VCD Palyer, TV, Internet dan bahkan di handphone dengan fasilitas tertentu. Jadi sebenarnya tanpa bioskoppun masyarakat tetap mendapatkan kepuasan tontonan melalui media-media tersebut. Namun bagi sebagian orang kepuasan dalam menonton hanya diperoleh jika ia menonoton di pada layar lebar dan dengan suara besar-besar. Oleh sebab itu media-media pemutar film yang ada selama ini sangat tidak memadai. Selain suaranya kecil dan sulit didengar, juga gambar yang ditampilkannya tidak sedramatis dalam bioskop.

Sebelum Tsunami

Sebenarnya Banda Aceh bukan sama sekali tidak pernah memiliki bioskop. Dulu, tahun 2000-an dan sebelumnya, ada beberapa bioskop yang beroperasi di Banda Aceh. Antara lain Sinar Indah Bioskop (SIB) di Penayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Center. Namun semua bioskop itu sekarang sudah mati dan sama sekali tidak ada aktifitas pemutaran film lagi. Bahkan gedung bioskop itu sendiri sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kepentingan yang lain.

Pun demikian, bioskop-bioskop tersebut di atas, dalam sejarahnya tidak semuanya menayangkan film-film terbaru dan “berkualitas.” Saya dan beberapa orang teman satu kos-kosan pernah pergi menonton bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam dekat Balang Padang tahun 1998. Saat itu harga tiket sekitar Rp. 750 untuk satu orang. Saya dengan semua teman-teman sama sekali belum pernah menonoton bioskop sebelumnya. Pilihan kami pada Garuda hanya karena tiketnya murah dan lebih terkenal dibandingkan bioskop “murah” yang lain.

Di dalam gedung besar itu kami duduk di kursi yang sudah sangat lusuh dan goyang-goyang. Teman saya kesakitan dan gatal-gatal setelah pulang dari sana karena digigit kutu busuk. Belum lagi suasana yang gelap dan pengap. Meskipun film belum diputar, lampu yang menerangi ruangan besar itu hanya beberapa watt saja dan tidak mampu menunjukkan celah dan jalan yang ada di dalam sana. Saya dengar dari beberapa teman, hal yang sama terjadi juga di bioskop Jelita dan SIB. Namun saya tidak pernah masuk ke dalam dua bioskop tersebut. Hanya saja dari sisi performa luar bangunannya, sepertinya tidak jauh beda dengan bioskop Garuda.

Film yang diputar juga bukan film baru yang sedang hangat dalam berita televisi atau koran. Di sana diputar film-film lama yang judulnya saja terkadang tidak diketahui. Pada sore harinya, di depan gedung bioskop memang dipasang spanduk tentang film yang akan diputar pada malam harinya. Namun kenyataannya, tidak semua film yang ditunjukkan di depan bioskop diputar di dalam bioskop. Beberapa bioskop bahkan memutar blue film di sela-sela film yang sedang diputar. Saat saya menonton bioskop tahun 1998 tersebut, saya juga mendengar teriakan dari penonton “puta asoe sigoe!” (putar “yang berisi” sekali). Kata “asoe” atau “berisi” berarti mereka meminta diputarkan blue film.

Pas 21 dan Gajah Theater

Namun tidak semua bioskop demikian adanya. Pas 21 dan Gajah Theater adalah bioskop yang memutar film terbaru dan film-film modern. Jadwal tayangnya juga tetap dan konsisten. Bahkan mereka mempublikasi film yang akan ditayangkan di koran lokal setiap hari. Kedua bioskop ini tidak jauh berbeda dengan bioskop Pas 21 yang hampir ada di berbgaia kota di Indonesia saat ini. Namun Pas 21 berakhir setelah terjadi kebakaran (dikbakar?) hebat di Pasar Aceh Shoping Center pada tahun 2001 (?). Sejak saat itu bioskop ini tidak beroperasi lagi di Banda Aceh. Gajah Theater menjadi pemain terakhir yang menutup lapaknya setelah tsunami melanda Aceh.

Kenapa bioskop di Banda Aceh gulung tikar? Menurut saya ini adalah pertanyaan menarik untuk ditelusuri. Sebab ada beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin “bisnis tidak menguntungkan” adalah jawaban dari pengusaha bioskop itu sendiri. Namun sebagai daerah yang memiliki tiga peristiwa “seksi”; Syariat Islam Konflik dan tsunami, kita tidak bisa bisa hanya melihat dari sisi bisnis semata. Di balik itu, ketiga peristiwa lain, menurut saya, pasti memiliki kontribusi yang menyebabkan bioskop di Banda Aceh ditutup oleh pengusahanya.

Konflik dan Syariat Islam


Suasana konflik di Aceh yang mulai memanas pada tahun 2008 memang menjadi salah satu penyebab utama. Setidaknya konflik menyebabkan dikuranginya jam penayangan film dimalam hari. Tahun 1997 saya masih jualan durian sampai jam satu malam di Pasar Aceh. Saat itu tidak ada masalah dengan tengah malam berada di luar ruamah. Namun setelah konflik mulai membesar di Aceh, jam malam mulai berlaku. Akibatnya bisoskop di Banda Aceh menutup pemutaran film di malam hari. Mereka hanya membukanya sore hari saja. Kondisi ini meyababkan bioskop SIB, Garuda dan Jelita Theater mati suri. Sebab sebelumnya pangsa pasar mereka ada di malam hari, terdiri dari pekerja dan mahasiswa yang hanya punya waktu malam hari untuk menonton.

Kemudian, pemberlakuan Syariat Islam juga mungkin menjadikan usaha ini menjadi tidak menarik bagi pengusaha. Sebab hampir diketahui bersama, dalam bioskop orang bukan hanya menonotn film saja, namun juga mengambil kesempatan bersepi-sepi, atau dalam bahasan Syariat Islam di Aceh, berhalwat. Sebuah pasangan yang masuk ke dalam gedung itu tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan, namun juga menjadi ajang di mana mereka bisa bermesra-mesraan, peluk cium dan meraba-raba. Kondisi ini ingin dihindari oleh pemerintah Aceh setelah penerapan syariat Islam. Oleh sebab itu ada sebuah seruan agar bioskop memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menonton. Saya memang tidak melihat hal ini dipraktekkan dengan baik di gedung bioskop. Namun setidaknya seruan ini menyebabkan pengusaha bioskop enggan membuka bioskopnya. Sebab akan sangat banyak pasangan muda yang menjadi target pasar mereka memilih tidak menonton bioskop dari pada ditangkap Wilayatul Hisbah (petugas pengawas penerapan syariat Islam) yang bertugas untuk menertipkan mereka.

Sejak konflik dan adanya penerapan syariat Islam di Aceh, operasi bioskop di Banda Aceh mulai surut. Bahkan setelah Pas 21 terbakar hanya Gajah Theater yang beroperasi. Seingat saya, tahun 2003 saya masih sempat beberapakali menonton bioskop di Gajah Theater. Di sanalah saya melihat instruksi dari pemerintah agar melakukan pemisahan penonton laki-laki dan perempuan sama sekali tidak diindahkan. Di dalam bioskop laki-laki dan perempuan tetap juga duduk bersama, seperti di berbagai bioskop kota lain di Indonesia. Namun saat itu bioskop hanya diputar sampai jam 18.30, sesaat sebelum azan maghrib. Hal ini berkaitan dengan jam malam yang diterapkan oleh pemerintahan militer yang sempat memegang kendali pemerintahan Aceh pada awal tahun 2000-an.

Bioskop Pasca Tsunami


Setelah tsunami melanda Aceh semua bioskop musnah. Gajah Theater yang bertahan sampai tsunami juga menutup usahanya hingga saat ini. Sekarang ini gedung Gajah Theater telah dipakai oleh aparat militer sebagai gudang logistik mereka. Saya tidak tahu apakah bangunan itu memang miliki militer. Sebab dari sisi lokasinya, Gajah Theater memang berada di dekat komplek militer, jadi memang memungkinkan kalau bangunan dan usaha itu memang milik mereka sebelumnya.

Apakah bioskop masih diperlukan di Banda Aceh? wallahu’a’lam. Dilihat dari sisi pengembangan kota dan kebutuhan modern masyarakat sebuah bioskop adalah keniscayaan. Apalagi belakangan ini masyarakat Aceh jelas terlihat kekurangan hiburan. Pusat-pusat hiburan dikunjungi banyak orang dan jauh melebihi kapasitasnya. Namun dilihat dari mudharatnya, terutama berkaitan dengan penerapan syariat Islam, menghadirkan bioskop mungkin perlu sebuah kajian mendalam lagi, baik dari film yang diputar, setting tempat duduk di dalam ruangan dan lain sebagainya. Saya sangat yakin, semangat Islam tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk mendapatkan hiburan.Wallahu’a’lam.

20 March 2010

Ngopi; dari TV, LD, CD ke Wifi

Semua masyarakat di dunia memiliki budaya sendiri. Sebagian berasal dari warisan genarasi masa lalu mereka. Namun tidak sedikit yang terbangun karena perubahan zaman dan penyesuaian antara lokalitas dengan kehidupan modern yang dibawa televisi dan media lainnya. Salah satu budaya baru itu adalah apa yang belakangan marak berkembang di Aceh, budaya minum kopi.

Tidak ada yang unik sebenarnya, sebab minum kopi adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir di seluruh Indoensia kopi menjadi tanaman yang memberikan penghasilan untuk warganya. Bukan hanya sekarang, sejak masa penjajahan, bahkan masa kerajaan negara kepulauan ini sudah dikenal sebagai penghasil kopi. bahkan salah satu alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena mereka merebut pasar Kopi Dunia. Karenanya tidaklah heran pula kalau masyarakatnya juga penikmat kopi yang taat. Bahkan menjadikannya sebagai budaya.

Di Aceh, kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan sosial masyarakat. Tahun 2008 yang lalu saya melakukan penelitian di Kluet, sebuah suku kecil di Aceh Selatan. Di sana, setiap kehadiran kita di sebuah rumah masyarakat langsung dihidangkan kopi tanpa minta persetujuan dulu. Padahal saat itu saya sudah meninggalkan kopi selam tiga bulan. Namun karena saya sedang melakukan penelitian sangat tidak enak kalau menolak pemberian tersebut. Jadinya, saya ketagihan minum kopi lagi. Hal yang sama saya temukan dalam masyarakat Gayo di Kabupaten Bener Meriah. Sama halnya dengan di Kluet, setiap kita datang bertamu ke rumah seorang warga langsung disuguhkan kopi. Jadinya saya harus minum kopi minimal tiga kali sehari. Istimewanya, masyarakat Gayo adalah penghasil kopi. Bahkan kebanyakan kopi yang ada di Aceh berasal dari dataran tinggi Gayo. Kopi Gayo juga diekspor ke luar negeri. Sebuah perusahaan Belanda berdiri di sana untuk keperluan ekspor tersebut.

Budaya minum kopi bukan hanya dalam rumah tangga, tapi lebih “heboh” lagi dalam pergaulan sosial. Warung kopi tumbuh sangat banyak di Aceh. Saya yang tinggal di kota Banda Aceh menjadi saksi pertumbuhan warung kopi yang sangat pesat tersebut, terutama pasca tsunami di Aceh. Untuk menarik peminat beragam cara pula dilakukan oleh pemiliknya. Tidak hanya dalam desain dan penempatan bangunan, namun juga fasilitas hiburan.

Dulu, saat saya pertama kali merantau ke Banda Aceh, warung kopi yang ramai dikunjungi adalah warung kopi yang ada TV-nya. Saat itu TV masih menjadi barang langka, terutama TV besar. Maka warung kopi bersaing menyediakan TV memanjakan palnggannya. Semakin besar TV semakin banyak pelanggan. Kemudian, saat teknologi Laser Disk (LD) berkembang, warung kopi bersaing menyediakan LD. LD dipakai untuk memutar film. Mulai setelah maghrib sampai jam dua malam. Dan warug kopi dengan fasilitas LD penuh pengunjung. Bahkan saya dengar beberapa pemilik warung kopi menggunakan LD untuk memutar Blue Film untuk menarik peminat dari kalangan remaja, mahasiswa dan pemuda. Meskipun resikonya LD mereka disita oleh Satpol PP. Demikina halnya Saat VCD Player mulai marak di pasaran, teknologi LD-pun mati berganti CD. CD jauh lebih mudah dan murah. Apalagi saat masuk teknologi Ghina yang murahnya minta ampun, hampir semua warung kopi menyedikannya. Mereka mendapatkan film dari tempat-tempat penyewaan CD yang juga tumbuh pesat.

Sekarang ini, Wifi adalah tawaran terpopuler bagi pecandu kopi di Banda Aceh. Seperti dituis oleh Rahmat, hampir semua warung kopi yang baru tumbuh di Banda Aceh menyediakan wifi. Kalau malam-malam berjalan keliling kota Banda Aceh, pemandangan kerumunan anak muda di pinggir jalan dengan laptop bukan hal yang asing lagi. Saya tidak tahu dengan pasti mereka membuka apa dengan fasilitas tersebut. Namun seorang mahasiswa saya yang melakukan survey kecil-kecilan mengatakan umumnya mereka membuka facebook dan jejaring sosial yang lain. Mungkin ini perlu research lebih serius.

Namun demikian, beberapa warung kopi di aceh masih bertahan dengan “Keasliannya”. Mereka tidak menyediakan fasilitas apapun selain kopi. Daya tariknya adalah kelezatan kopi dan aromanya yang khas. Warung kopi seperti ini biasanya dikunjungi oleh pecandu kopi yang memang tidak berkepentingan dengan wifi. Dan inipun tumbuh subur seiring dengan meningkatnya pecandu kopi. Sebuah warung kopi yang menjadi langganan saya adalah warung kopi tradisional yang khas. Pemiliknya seorang Kepala Desa yang membangkang pada Soeharto di zaman Oede Baru. Beliau membuka warung kopi sejak tahun 1969 hingga sekarang. Karena usianya sudah sangat tua, ia hanya membuka warung kopi selama tiga jam, setelah shalat subuh di masjid hingga jam delapan pagi. Jadinya warung itu penuh setiap pagi buta meskipun tanpa fasilitas apa-apa dan lampu yang remang-remang. Yang duduk di sana umumnya orang tua. Saya mungkin yang termuda menjadi pelanggannya.

Seperti apa warung kopi Aceh di masa depan? Tuhan yang tahu. Namun satu hal yang pasti terus berkembang, ngopi bukan hanya sebagai sebuah budaya konsumsi amun juga gaya hidup. Saat ini wifi lagi marak-mraknya, maka warung kopi menyediakan wifi. Kalau ke depan ada teknologi publik lain yang lebih maju maka tidak heran juga warung kopi akan menyediakannya. Dalam waktu dekat akan ada perandingan piala dunia di Afrika Selatan. Pasti warung kopi di Aceh akan bersaing menyediakan layar lebar untuk memanjakan penontonnya.

Huuuhh…capek juga nulis. Ya sudah, ngopi dulu.

08 February 2010

Waduk Keliling Ketandusan

Kemarin, saya dan istri menghabiskan hari minggu di sebuah waduk di Aceh Besar yang dikenal dengan Waduk Keliling. Saya sudah lama merencanakan akan mengunjungi waduk tersebut, sejak pertama kali saya dengar tahun lalu. Namun baru kemarin rencana itu terealisasi, alhamdulillah. Waduk ini adalah waduk terbesar di Aceh di mana air yang ditampung telah menyerupai danau. Presiden SBY meresmikannya pada pertengahan tahun lalu. Untuk membuat waduk pemerintah telah merogoh pundi-pundi negara Rp. 270,3 milyar yan disebarkan di atas lahan lahan 330 hektare. Waduk Keliling ini dapat menampung air lebih 20 juta meter kubik dengan kedalaman 7 sampai 20 meter. Waduk ini menadi sumber air bagi pertanian dan rumah tangga masyarakat di beberapa wilayah Aceh Besar. Kondisi inilah yang menyebabkannya menjadi sebagai salah satu objek wisata baru di Aceh Besar. Dan saya adalah salah seorang wisatawannya.

Saya pergi ke sana menjelang tengah hari, membawa bekal makan siang dengan menu khas Aceh tempoe doeloe; asam sabe. Perjalanan dengan sepeda motor di tengah terik matahari menjadikan jarak ke Waduk terasa sangat jauh. Padahal kalau dilihat dari batu tanda kilometar yang dibuat oleh pemerintah, jarak ke sana hanya 25 km plus 5 km masuk ke dalam. Beruntung ketika mulai masuk ke jalan menuju lokasi waduk di sisi kiri dan kanan jalan masih ada pepohonan meskipun tidak terlalu banyak. Apalagi jalan yang menanjak menurun dengan aspal yang bagus menjadikan perjalanan terasa menyenangkan.

Sekelompok anak muda berdiri di pintu masuk menuju lokasi. Mereka menghentikan semua kenderaan yang akan masuk ke arena waduk dan memberikan karcis. Saya menanyakan berapa saya harus bayar untuk masuk ke sana, dan seorang anak muda menjawab Rp. 5.000,- Saat saya mengeluarkan uang yang ternyata saya hanya memiliki pecahan uang ribuan tiga lembar. Anak muda itu mengatakan, “itu saja sudah cukup.” “Ini Cuma tiga ribu.” “Hana peu bang, nyang kasep,” katanya, cukup tiga ribu. Saya lalu membayar dengan uang itu dan saya diberikan selembar kertas berwarna biru. Di sana tertera tulisan, karcis masuk lokasi Bendungan Keliling Rp. 2.000,-.

Saya terkesima dengan bendungan itu. Tidak seluas Danau Laut Tawar memang. Tidak pula seindah danau Toba. Apalagi kalau dibandingakan dengan beberapa danau yang sudah mendunia dan dikunjungi jutaan orang. Ini hanyalah sebuah waduk yang menampung air guyuran hujan plus air serapan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Sebab dari sana, sebelah barat dan selatan adalah rentetan pegunungan yang menabingi Aceh Besar dan Banda Aceh. Air dari pegunungan itulah yang mengalir ke waduk ini.

Jalan aspal yang mengelilingi waduk hanya pendek saja, mungkin satu kilometer. Selebihnya jalan masih berbatu dan bergelombang. Saya menelusuri jalan itu dengan sepeda motor dan masuk ke jalan-jalan yang ada bekas kenderaan orang lain. Di bagi timur waduk ada jalan yang menuju ke gundukan-gundukan hijau dengan beberapa pohon kecil di atasnya. Gundukan itu nampak seperti pulau di tengah danau. Ada beberapa gundunkan yang terpisah-pisah dan nampak alami. Banyak juga orang memancing dengan membuat tenda di pinggir waduk. Ketika saya tanyakan ikan apa yang mereka peroleh, salah seorang mengatakan ikan nila. Dengan kondisi rumput yang hijau dan tebal, saya kira ini tempat yang bagus buat proses pembelajaran, pelatihan, outbound, camping dan lainnya. Mungkin satu saat saya akan mebawa mahasiswa saya ke sana. Sedikit gangguan dengan banyaknya kotoran sapi, mungkin bisa dibersihkan sebelum dipakai.

Di sebuah tepian waduk yang agak sepi dan terpisah, di mana banyak semak-semak di pinggir waduk, saya melihat sebuah sepeda motor dengan tiga orang anak usia SMP duduk di sisinya. Mereka berteduh di bawah sebatang pohon rindang seukuran betis orang dewasa yang tingginya lebih kurang tiga meter. Seorang perempuan duduk persis di bawah pohon. Seorang perempuan lainnya dan seorang laki-laki duduk setengah meter di depannya sambil berpelukan. Saat saya lewat si laki-laki muda ini sedang berusa memeluk kepala teman perempuannya dan mendekatkan mukanya ke arah pipi perempuan. Teman perempuannya melihat saja dari belakang. Tiba-tiba si laki-laki muda ini melihat saya tanpa mengehentikan aksinya. Saya melambatkan laju sepeda motor dan mendehem lalu bertanya: “peu acara nyan?” Ia menghentikan aksinya dan tersenyum pada saya dan melepaskan pelukannya, bertingkah persis seperti anak yang tertangkap basah, duduk sedikit menjauh dan nampak malu-malu. Saya tidak tahu apakah mereka melanjutkan acara setelah saya pergi.

Waduk ini memang berisi air yang jernih. Sayangnya gudukan-gundukan itu hanya ditumbuhi semak-semak dengan pohon-pohon kecil saja. Hanya sedikit pohon besar layaknya hutan, dan itu sangat tidak mewakili. Bahkan di sisi Utara waduk yang ada pegunungan juga terlihat gunung yang gundul akibat penebangan, entah liar atau dibiarkan. Yang pasti tidak nampak lagi pohon besar menjulang dengan dau hijau yang rindang. Di beberapa bagian nampak ada pohon jati dan pohon cemara yang baru di tanam. Namun sedikit kurang dirawat sehingga banyak pohon tidak tumbuh normal bahkan banyak yang mati dan mengering. Ini menyebabkan suasanya di sana menjadi sama panasnya dengan di Banda Aceh. Padahal saat melihat bentangan air ada kesenangan, kedamaian dan kesegaran meresap dalam jiwa, sesegar air di sana. Namun saat mata mengarah ke pegunungan yang ada di sekelilingnya, yang ada adalah ketandusan dan kekeringan. Mungkin inilah sebabnya kenapa disebut dengan Waduk keliling, yaitu Waduk yang dikelilingi oleh ketandusan. Hom lah.


08 November 2008

Dekontruksi Sejarah dan Sastra Aceh Klasik

Kehidupan sebuah bangsa amat dipengaruhi oleh sejauh mana masyarakatnya memiliki kesadaran sejarah akan bangsanya. Bangsa yang besar adalah mereka yang mau belajar dari masa lalu, mengambil manfaat dari kesuksesan dan tidak mengulangi kesalahan. Dengan demikian sebuah bangsa akan berjalan ke arah yang lebih maju dan membangun peradaban semakin tinggi dan bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Melihat sejarahnya, Aceh merupakan sebuah bangsa dan memiliki kedaulatan dan kemandirian, mengurus rumah tangga sendiri dan mampu membangun kerja sama dan hubungan dengan bangsa lain. Inggris, Turki, Spanyol dan Belanda meruakan beberapa negara yang pernah menjalin kerja sama dengan Kesultanan Aceh masa lalu. Hubungan dengan bangsa lain bukan hanya dalam bidang ekonomi, namun juga dalam bidang politik, agama dan ilmu pengetahuan, persenjataan dan lainnya. Kekuasaan yang luas dan sistem pemerintahan yang sudah teratur semakin memungkinkan Aceh tumbuh dan berkembang menjadi sebuah bangsa.

Kemajuan Aceh dalam bidang politik juga diikuti dengan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama. Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf as-Singkili merupakan empat nama yang menjadi icon perkembangan pengetahuan agama di Aceh masa lalu. Berkat usaha Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani, maka bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu pengetahuan di Nusantara yang kini menjadi bahasa Nasional. Mereka menggunakan bahasa Melayu dalam karya puisi dan prosa yang mereka buat, sehingga sedikit demi sedikit bahasa tersebut berkembang di seluruh Indonesia. Peran yang sama juga dimainkan oleh Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf as-Singkili yang telah mewariskan pengetahuan agama untuk umat Islam dewasa ini. Bahkan banyak informasi sejarah Aceh kita ketahui dari “ensiklopedi” Bustan al-Salatin yang ditulis oleh Ar-Raniry.

Pudarnya Kesadaran
Dewasa ini banyak anggota masyarakat Aceh yang tidak mengenal dan merasa asing dengan sejarah yang benar mengani daerahnya sendiri. Demikian juga banyak kaum terpelajar Aceh lebih mengenal Syekh Siti Jenar daripada Hamzah Fansuri. Padahal kalau dilihat dari realitas sejarah, Syekh Siti Jenar tidak meninggalkan tulisan sendiri dan tidak mendeskripsikan dengan jelas konsepsi-konsepsi beragamanya. Dilain pihak, Hamzah Fansuri, memiliki karya sendiri, terstruktur dalam prosa dan puisi, berperan dalam masyarakat dan Kesultanan Aceh, akan tetapi kurang dikenal oleh masyarakta Aceh sendiri. Ini terlihat dari minimnya sastrawan dan akademisi Aceh yang mengangkat kembali pemikiran dan ajaran-ajaran yang telah dikemukakan oleh Hamzah Fansuri dalam kehidupan beragama dan dunia sastra Aceh modern. Demikian juga halnya dengan kebesaran Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf as-Singkili.

Hal yang sama juga berlaku dalam hal masalah sejarah Aceh. Dilihat dari realitas keilmuan saat ini, kebanyakan sejarah Aceh ditulis oleh sarjana asing. Selain memiliki keunggulan metodologi, mereka juga memiliki akses yang mudah untuk mendapakan data dan manuskrip peninggalan sejarah Aceh masa lalu. Catatan dan bukti kebesaran Aceh masa lalu, kini tersimpan di Museum Negeri Belanda, Inggris, Rusia dan Malaisya. Hanya sedikit tersisa di Museum Negeri Aceh dan beberapa Museum dan Pustaka Pribadi di Aceh. Apalagi catatan mengenai sejarah Aceh juga dilakukan oleh sarjana dan penjelajah asing yang sempat singgah dan menyaksikan perkembangan Aceh masa lalu.
Dengan kenyataan ini studi terhadap Aceh dapat saja dilakukan meskipun tidak pergi ke Aceh.

Kondisi lain yang memprihatinkan adalah kajian-kajian budaya yang transformatif dan minim sehingga budaya Aceh seolah tidak relevan untuk kontek perkembangan modern. Hal ini menyebabkan salah pandang mengenai masyarakat dan struktur budaya Aceh, dan salah pula dalam menafsirkan sistem sosial yang berkembang di Aceh. Salah satu contoh adalah masalah gender. Beberapa gerakan perempuan –termasuk organisasi perempaun di pemerintahan- tidak berusaha menggali konsep hubungan dan relasi gender yang mengakar dalam masyarakat Aceh. Kebanyakan konsep yang dibawa justru konsep impor yang kadang kala tidak sesuai dengan kultur keacehan. Konsepsi budaya yang mandiri dan berakar dalam masyarakat juga ada dalam masalah child protection. Konsepsi perlindungan berbasis kawoem dalam budaya Aceh sebenarnya menjadi dasar yang kuat bagi permasalahan sosial mengani pengemis dan anak terlantar.

Melihat kenyataan di atas, sungguh ironis jika selama ini pemerintah, akademisi, bdan dan pihak terkait di Aceh lainnya tidak memperhatikan masalah sejarah dan budaya Aceh. Meskipun kita sadar kalau setiap orang, darimana dan berbangsa apapun ia berhak menulis masalah Aceh, namun sudah sewajarnya dan seharusnya pula, sejarah Aceh juga ditulis oleh orang Aceh sendiri yang memiliki keterikatan budaya dan mewarisi prinsip-prinsip budaya yang tidak ditulis dalam catatan sejarah, namun dipraktekkan turun temurun dalam masyarakat. Dengan demikian tentunya catatan dan kajian yang akan dilakukan oleh orang Aceh akan lebih hidup dan sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat Aceh sendiri. Dan akhirnya akan lebih memberikan spirit untuk masyarakat Aceh dalam membangun kehidupan masa kininya.

Kontruksi sejarah dan Sastra Aceh klasik semakin nniscaya dilakuakn untuk Aceh kontemporer dengan beberapa pertimbangan. Pertama, keinginan masyarakat Aceh untuk mengulang kesuksesan masa lalu dalam pemerintahan kesultanan Aceh dalam konteks kehidupan modern. Hal ini hanya dapat diakukan dengan memiliki konstruksi yang jelas mengenai Aceh masa lalu. Dengan demikian akan ditemukan struktur dan pola yang dapat dipakai dan digunakan untuk konteks pemerintahan saat ini. Kedua, keinginan masyarakat untuk dapat menerapkan ajaran Islam sebagaimana dalam sejarah Aceh. Hal ini juga hanya dapat dilakukan dengan adanya sebuah paparan yang jelas mengenai sejarah agama dia ceh masa lalu yang tertulis dalam karya-karya sastra, prosa dan buku ilmiah agama yang dtulis oleh ulama Aceh.

Selama ini, banyak pihak –yang umumnya dari luar- sadar akan kondisi ini dan berusaha melakukan penyelematan naskah dan pengaturan sumber naskah sejarah Aceh. Sementara masyarakat Aceh dan tidak memberikan perhatian cukup dalam masalah ini. Hal ini terlihat kurungnya perhatian pemerintah untuk menjaga dan melestarikan situs-situs sejarah yang ada di Aceh, dan perhatian yang kurang dalam uapya penyelamatan naskah klasik. Dikhawatirkan, kalau masalah ini tidak diperhatikan maka khazanah klasik Aceh tersebut akan hancur dan leyap, hilang ditelan zaman. Bhakan pasca Ali Hasjmy, Ibrahim Alfian, Isa Sulaiman, Talsya, Rusdi Sufi, Zakaria Ahmad, Amirul Hadi, maka tidak ada orang lain yang melakukan kajian serius mengenai sejarah dan budaya Aceh masa lalu sebagai bahan dalam pengembangan budaya Aceh masa depan. Sehingga cerita mengenai kebesaran Aceh masa lalu dalam bidang politik dan agama yang berkembang dalam dalam masyarakat Aceh saat ini akan lebih banyak bersifat fiktif dan dongeng daripada kenyataan sesungguhnya yang diambil dari kajian akademik yang serius. Kalau ini terjadi, maka bukannya manfaat yang dapat diperoleh, namun malah kehinaan dan rasa malu karena kita tidak mengerti dengan sejarah masa lalu kita sendiri.

Beberapa Usaha
Melihat realitass di atas, maka seharusnya Pemerintah Daerah Provinsi NAD, DPRA dan kalangan akademisi di Aceh untuk melakukan berbagai upaya dalam rangka “penyelamatkan” manuskrip dan catatan sejarah Aceh masa lalu, melakukan penelitian dan penulisan ulang, menafsirkannya untuk konteks kehidupan modern, dengan beberapa upaya:

Selain itu diperlakukan pula untuk melakukan inventarisasi dan membuat duplikasi terhadap berbagai peninggalan sejarah Aceh, baik berupa manuskrip maupun bahan arkeologis yang ada di berbagai belahan dunia dan “membawa pulang” ke Aceh, sehingga memudahkan bagi sarja dan mahasiswa Aceh untuk mengkaji peninggalan sejarah mereka dalam usaha merekonstruksi sejarah Aceh masa lalu untuk pelajaran bagi pembangunan Aceh masa depan.

Pemerintah dan berbagai pihak yang berwewenang lainnya juga perlu melakukan usaha-usaha yang mendorong dan memotivasi masyarakat untuk mencintai dan mengerti sejarah Aceh dan menyari kebesarannya, sehingga memotivasi mereka untuk terus berkarya dan mendalami sejarah. Hal ini dapat dilakukan dengan, misalnya, melakukan peringatan dan pesta budaya yang merujuk pada sastrawan Aceh masa lalu, beasiswa studi sejarah Aceh, penerbitan manuskrip budaya dan sejarah, seminar dan diskusi sejarah dan sastra Aceh masa lalu.

Dan terakhir melakukan upaya inventarisasi dan pemugaran cagar budaya Aceh yang tersebar di berbagai wilayah Aceh yang selama ini terkesan diabaikan dan tidak diperhatikan. Beberapa cagar budaya tidak diperhatikan dan tidak diurus dengan benar, misalnya Benteng Inong Balee di Krueng Raya Aceh Besar, dan Kuburan-kuburan lama di Singkil dan Aceh Utara.

19 July 2008

Geliat Pembangunan di Pantai Ulee Lheu Pasca Tsunami


Ulee Lheu mungkin menjadi salah satu daerah yang paling hancur terkena tsunami Desember 2004 yang lalu. banyak masyarakat di sini yang meninggal dunia. demikian juga harta benda dan bangunan sosial yang ada. seminggu setelah tsunami saya berkunjung ke Ulee Lhee. ia berubah dari sebuah perkempungan yang ramai menjadi sebuah sahara genangan air seluas mata memandang. Yang terlihat hanya bangunan puing pondasi rumah yang ditinggalkan oleh rangkanya.Masih ada deretan mayat yang tidak berdaya. mobil dan sepeda motor yang tidak memiliki pemilik lagi.
tapi itu dulu, empat tahun yang lalu. sekarang tanda-tanda kesedihan itu mulai terhapus. bukan saja dari pesatya pembangunan, namun pandangan masyarakat yang sudah mulai yakin akan kehidupan yang perlu dilanjutkan. biarlah sejarah menjadi kenangan. masa depan harusdihadapi dengan keyakinan dan usaha. berdiam diri dan mengutuk kesempatan yang terabaikan adalah perbuatn sa-sia yang tidak boleh dilakukan.


Salah satu pembangunan pesat yang dilakukan sekarang adalah pembangunan pelabuhan. kudengar pemerinath aceh akan membangun ulee lehe sebagai pelabuhan laut bertaraf internasional. dengan wajhanya kini, mungkin ini bisa dipercaya. nampaks ekali pembangunan ini dilaksanakan dengan serius dan dirancang denagn semangat prestisius. meskipun belum namapak tanda-tanda internasionalnya, namun pelabuhan ini sudha mulai menunjukkan geliatnya sebagai palabuhan trasportasi yang sempurna.
banyak masyarakat yang mulai berkunjung ke sana untuk berekseasi. di atas pagar batu besar yang membentang sejah sepuluh kilometer mereka dapat memandang ke lautan lepas sampabil menikmati makanan ringan. aku menyaksikan beberapa pasng mdua-mudi yang bermesraan dipinggil laut. ini menarik. mereka mendapatkan kebebasan memadu cinta di alam bebas.

Pelabuhan ini akan menjadi pealbuhan transportasi terbesar di aceh. selain itu kudengar pemerintah Aceh juga sedang membangun pelabuhan perikanan raksasa di lampulo. pelabuhan perikanan akan menjadi pelabuhan terbesar di INdonesia dan nomor dua terbesar di asia tenggara. akan banyak perdagangan ikan dari seluruh dunia nantinya. pelabuhan itu juga akan dilengkapi dengan pabrik pengolahan ikan dan barang lainnya yang membutuhkan ikan. jadi akan ada ekspor impor ikan di pelabuhan lampulo nantinya.
pembangunan peabuhan ini diikuti dengan menyiapkan Krueng Raya (Pelabuhan Malahayati) sebagai palbuha bongkar muat barang. jadi sudah ada tiga pelabuhan besar di kuta raja, Malahayati sebagai pelabuhan barang, Lampulo pelabuhan ikan dan ulee lheu sebagai pelabuhan transportasi internasional. sebuah usaha yang sangat bagus dan perencanaan yang mantap untuk pembagunan aceh lebih baik.

Bicara pelabuha, aku jadi ingat sejarah masa lalu aceh. Sebab sejarah aceh tidak bisa dipisahkan dengan sejarah badar-bandar (palbuhan)yang menjadi kunci dari kehidupan kerjaan aceh tempo dulu. bahkan bangsa asing yang datang ke aceh juga karena pelabuhannya ang banyak dikunjungi oleh berbagai bangsa dari ebrbagai belahan dunia. Belanda, inggris, portugis termasuk abngsa yang "jatuh cinta" dengan pelabuhan aceh. sayangnya jiwa imperialis mereka tidak bsia dikuburkan. karenanya mereka datang bukan sekedar untuk memand\faatkan pelabuhan sebagai sentral dagang tapi ingin menguasainya dan memonopoli perdagangan di sana. inilah awal dari penjajajahan aceh oleh bangsa asing.
nah, kalau sekarang pelabuihan dmajukan lagi apakan aceh akan siap "dijajah" oleh bangsa asing? mungkin saat ini bukan penjajahan dalam bentuk senjata dan imperialisme kekuasaan sebagaimana dahulu. imperialisme sekarang adala ekonomi dan ideologi. kita bisa saksikan bagaimana nilai-nilaikonsumerisme dan hedoneisme mulai berkembang di aceh. dan ini semakin berkembang setelah tsunami. saat bangsa asing menawarkan begitu banyak uang, orang aceh langsung jatuh hati dan menganggap semuanya baik-baik saja sejauh kita dapat meanfaatkan dengan baik. sayngnya ungkapan ini tidak terbukti di lapangan. ajaklah orang gotong royongmembangun sebuah gubukkecil untuk dhuafa sekarang ini. apakah ada yang mau? pertanyaan petama adalah siapa yang akan bayar? berapa? "Kalau lima puluh ribu lebih baik saya minum kopi, hana hek."

pernyataan-pernyataan ini adalah wujud dari "suksesnya" budaya asing menggerogoti nilai lokal yang komunal. swatu saa jika kita tidak siap dan bangsa asing masuk, maka kita akan menjadi bagian dari mereka. tidak ada lagi indentitas, tidak ada lagi karakter. apa yang baik bagi mereka, menjadi baik bagi kita dan sebaliknya. aku khawatir saja, meskipun aku pasti tidak sanggup menghentikan laju pembangunan yang dikuasai pasar saat ini.

07 July 2008

Makam Hamzah Fansuri di Ujong Pancu?


Siapa tidak kenal dengan Hamzah Fansuri? (banyak pasti hehehe). Namun bagi komunitas yang dekat dengan sastra Melayu dan tasawuf Nusantara, maka Hamzah adalah kunci bagi perkembangan keduanya. Ia merupakan sastrawan Melayu pertama yang mempopulerkan sajak dan syair bukan hanya sebagai rangkaian kata yang indah, namun sebagai media tranfer ilmu pengetahuan. tidak tanggung-tanggung, Hamzah menggunakan puisi sebagai media transper pengetahuan Ketuhanan tingkat tinggi, Filsafat Wujud! Sebuah pengetahuan
yang dijelaskan dengan esaasy dan bahasa ilmiah sekalipun sulit dipahami.
namun bagiku sangat aneh kalau sebuah komunitas di daerah paling ujung pulau Sumatera, Ujong Pancu, percaya makamnya ada di gunung sana. Padahal masalah makam Hamzah Fansuri telah menjadi perdebatan alot di kalangan ilmuan. bahkan profesor Sastra melayu selevel Braginsky sendiri tidak tahu makam Hamzah ada di mana.


Minggu kemarin (060708) aku dengan beberapa teman pergi ke Ujong Pancu. Semula rencananya adalah menacing. Ujong pancu terkenal sebagai daerah paling bagus untuk memancing ikan.Banyak orang (terutama hari sabtu dan minggu) datang ke sana untuk memancing. ada yang sekedar menyalurkan hobi, namun tidak sedikit yang datang untuk mencari ikan sebagai komoditi yang akan dijual.
Kami datang tanpa rencana. setibanya di sana yang dilakukan pertama adalah jalan-jalan, bukan mempersiapkan diri untuk memancing. menelusuri jalan setapak yang ada di atas gunung yang ditabiri hutan. suara jengekerik dan binatang hutan mendendangkan lagu alam. Semula kami tidak tahu jalan ini berakir di mana.Namun kami terus telusuri hingga berakir di sbeuah bangunan yang sedang direnovasi.
sedikit agak terkejut ketika mneyaksikan bangunan tua yang hampir roboh. namun di sekelilingnya ada material bangunan yang berserakan yang menunjukkan kalau bangunan itu sedang direnovasi dan diperbaiki. tidak ada orang di sana. karenanya kami langsung mendekati dan mencoba melihat-lihat di sekitar bangunan.
ternyata ini adalah sebuah pemakaman. ada sebuah makam yang sangat panjang (kuperkirakan 8 m) yang ditutup dengan kain kuning. di kedua ujung makan terdapat batu bulat besar yang menandai makam.

Setelah mengamati makam tersebut aku tahu kalau makam ini mendapatkan perhatain yang lebih dari masyarakat sekitar. buktinya bangunan yang dibuat luamyan besar dan kokoh. demikian juga di sana ada sebuha bendera putih (panji-panji) yang menunjukkan kehormatan makam dan penghormatan mereka atas makam tersebut. aku langsung membayangkan kalau makam ini pasti dianggap sebagai makam kerapat dan disana terbaring seorang ulama mesar di masa lalu.
dugaanku benar. ketika kami pulang kami singgah di warung kopi pinggiran laut di Ujong Pancu. di warkop ini banya orang memancing dan duduk santai. tersedia berbagai jenis makanan ringan dan mie aceh. santai juga duduk di sana karena berhadapn langsung dengan lautan biru yang luas. di seberang sana sayup-sayup nampak pelabuhan ulee lehee yang sedang dikerjakan.
aku mencoba membangun dialog dengan seorang gadis yang menjadi pelayan warung. katanya makam tersebut adalah makam Hamzah Fansuri. Hamzah Fansuri? masa? kok bisa? sejak kapan? aku jadi mengajukan pertanyaan berantai.
bagiku ini sesuatu yang sangat aneh. dalam sejarah tokoh tasawuf aceh ini, tidak diketahui lahir dan makamnya. ada dua pendapat yang berkembang selama ini mengenai makam hamzah fansuri. pertama kalangan yang mengatakan kalau makam hamzah ada di singkil, sebuah daerah du bagian selatan provinsi aceh. ia memang berasal dari sana. sampai saat ini banyak masyarakat yang bersiarah ke makam tersebut. (sayangnya aku tidak memiliki foto makam hamzah di singkil. suatu saat akalau aku ke sana akan ku posting di sini. Namun banyak pihak yang meragukannya. sebab tidak ada petunjuk apapun dari tulisan dan arkeologis yang menunjukkan keberadaan makam tersbeut.

pendapat kedua, makam Hamzah ada di Babul Ma'la, yakni komplek mpemakaman "elit" di Makkah. ia dibaringkan dalam satu komplek besama dengan Khatijah, Aishay, Fatimah dan keluarga nabi dan sahabatnya yang lain. ini disebabkan kebesaran dan pengaruhnya di Arab pada masa itu (abat XV). dengan demikian, ketika ia meninggal dunia, maka ia dimakamkan di sana oleh jamaah dan pegikutnya.sayangnya pendapat kedua ini hanya dikemukakan oleh Gulliot, seorang sejarawan dari Perancis. belum ada usaha lain untuk membuktikan keberadaan makam tersbut.
nah, kalau kemudian ada sebuah pendapat di kalangan masyarakat ujong pancu mengenai makam hamzah ada di sana, ini merupakan sesuatu yang menarik dan akan menambah wawasan keilmuan mengenai hamzah fansuri di masa yang akan datang.

02 July 2008

Tapak Tuan: Panorama Yang Terhijab


Memang, aku lahir di sana, Aceh Selatan. Namun sampai saat ini saya belum punya kesempatan untuk menulisnya. Pulang kampung dalam rangka penelitian minggu lalu aku manfaatkan untuk memotret sepenggal alam Aceh Selatan yang menurutku indah dan mempesona. sayangnya keindahan ini tidak disadari oleh masyarakat atau pemdanya. Karenanya keidnahan itu hanya menjadi simpanan yang dipandang mata sejenak saja tanpa dimanfaatkan secara maksimal. padahal banyak diantaranya yang dapat digunakan sebagai lahan mencari uang, bukan hanya bagi masyarakat namun lebih luas lagi bagi upaya memenuhi pundi-pundi KAS daerah Aceh Selatan.

Ada dua bagian alam yang menurutku dapat menjadi daya tarik utama di Aceh Selatan, gunung dan pantai/lautan. beberapa diantara potensi ini ada yang telah dimanfaatkan, namun masih dalam bentuk terbatas. Puncak panorama hatta misalnya memiliki keindahan alam yangd apat dimafaatkan untuk beristirahat. sudah ada sebuah bangunan di sana yang bisa digunakan oleh pengunjung. ada cafe yang menyediakan makanan. namun masih sangat terbatas.

dari Jambo Hatta terlihat dua sisi alam Aceh Selatan. Di kanan terlihat bentangan lautan hindia yang berbatasan dengan Batu Hitam.
sementara di sisi kiri terbentnag kampung kecil nelayan.

bersambung...

15 June 2008

Makam-makam yang terabaikan: Sebuah Muhibah ke Makam Tua di Banda Aceh


Hari minggu, gada kerjaan, malas n bosan. aku berfikir untuk mengunjungi tempat-tempat sejarah yang mungkin telah dilupakan orang.aku sempat berfikir beberapa alternatif, benteng, meseum, aceh pedalaman, pelabuhan, atau makam. pilihanku jatuh pada makam. aku mau melihat nisan-nisan lama aceh pada kuburan raja dan bangsawan lama. di beberapa daerah di aceh besar, makam-makam tua tidak terurus. beberapa batu nisan malah sudah dijadikan bate meuasah (atu untuk mengasah pisau atau paang) oelh penduduk. padahal batu-batu itu adalah bukti sejarah yang amat berharga dan memiliki nilai estetika yang tinggi. aku mulai dengan ke bengkel...

AKu service motorku. udah dua bulan ngak cium bengkel. perjalanan mencari makam adalah perjalanan jauh. ada beberapa tempat yang kukenal sebagai tempat pemakaman lama. di peuniti dekat meseum, di daerah perumahan tenatar di dekat mesjid raya baiturrahaman, di kampung pande, dan beberapa diantaranya ada di Peukan Bada. daerah-daerah letaknya berjauhan. makanya aku siapkan mental dan spiritual yang cukup...
aku mulai ke museum. di sana ada kuburan iskandar muda


Iskandar muda adalah raja Aceh yang paling besar dan berpengaruh. ia memerintah pada tahun 1607-1636. pada masa pemerintahannya, aceh bukan hanya daerah yang ada saat ini, namun hampir seluruh sumatera dan seluruh Malaya kecuali Malaka. ia juga melakukan hubungan yang baik dengan berbagai negara di dunia. dengan Turki Iskandar muda saling mengirimkan tenaga ahli dan pasukan perang. ratusan tenaga ahli meriam datang ke aceh dari turki pada masa pemerintahan iskandar muda. karenanya pada masa itu aceh tidak perlu mengimpor bantuan alat perang dari luar. bahkan beberpaa kerajaan di Nusantara memasuk perlengkapan senjatanya dari Aceh.

di samping makam iskandar muda, ada beberapa makam lain, Makam Kandang Mueh.


makam kandang meuh artinya makam kandang emas. sayangnya aku belum medapatkan referensi sejarah yang cukup mengenai makam dan istilah ini. sedangkal bacaanku belaum kutemukan istilah ini, dan siapa saja yang dimakamkan di sana. dulu, lama sekali sudah, aku pernah dengar kalau di sana dimakamkan keluarga iskandar muda.Iskandar muda punya beberapa istri. diantaranya dari pahang dan bugis. istri dari pahang merupakan permaisuri yang sangat dicintainya. bahkan ia mebangun sebuah taman untuk istrinya ini. ia juga membuat sebuah sungai (Krueng Daroy) yang mengalir di bawah istana.Ini merupakan persembahan Iskandar Muda untuk permaisuri yang sangat dicintainya tersebut.
dari makam iskandar Muda aku menuju ke perumaham TNI yang tidak jauh dari sana.

Di sini dimakamkan raja-raja awal aceh (abad 16). ini merupakan makam raja sebelum iskandar muda bertahta. menurut penjaganya, raja yang dimakamkan di sini tidak berurutan. artinya ada beberapa raja yang memerintah dalam periode itu dimakamkan di tempat lain.bahkan ada seorang ulama yang hidup pada masa safiatuddin tapi dimakamkan di sana. padahal safiatuddin memerintah pada abad 18. ini berarti selang 200 tahun.
makam ini sedikit terawat. mungkin karena berada di komplek pemukiman penduduk.
setelah di makam ini aku melanjutkan ke kampung pande. aku kesasar. terbawa ke kampung jawa.
tapi ada yang mnarik di sana. aku memang sudha lama mau ke kampung jawa.di sini tempat pembuangns ampak kota. aroma menyengat lansgung tercium ketika baru masuk ke sana. tumpukan sampah yang menggunung langsaung terlihat.

daerah ini bersambung dengan pelabuhan ujong pula di sebelah barat. hanya satu kilometer langsung menuju kuala dan berhadpan dengan lautan hindia. dari sana nampak jelas pualng sabang dan kapal yang yang lalu lalalng menuju Pulau sabang. banyak orang mancing juga. bahkan jumlah pemancing akan bertambah banyak waktu sore.

setelah minum2 aku melanjutkan ke rute yang benar. kampung pande mencari makam-makam tua. menurut sejarah, di sebut kampung pande karena disni bermukim para ahli dalam berbagai bidang. pembuat kapal, meriam, perlengkapan perang, perlengkapan rumah tangga dan lain sebagainya. mereka berasal dari berbagai belahan dunia. mereka dikenal dengan "pande" artinya para ahli. makanya kampung itu dinamakan kampung pande.Ada beberapa makam di kampung pande. namun semuanya tidak terurus dengan baik.

nampaknya pemerintah tidak terlalu peduli dengan makam-makam ini. makam tua yang menjadi saksi kebesaran kerajaan aceh masa lalu terbengkalai begitu saja dan tidak dihiraukan. aku tidak tahu apa ada studi intensif yang pernah dilakukan untuk inventarisir makam-makam ini. pernah kudengar kalau BRR melakukannya. namun namanya juga BRR, dana sudah keluara banyak hasilnya tidak ada sama sekali. menurutku aharus ada kerja keras dan perhatian serius pemda untuk menyelamatkan aset-aset sejarah ini. ke depan juga diperlukan penelitian dan inventarisir nisan dan makam ini. ini sekedar harapan.

guru sejarah juga perlu mebawa muridnya jalan2 ke sana untuk perkenalan dengan objek sejarah. dengan demikian makam2 ini "hidup" dan berfungsi ganda. sebagai objek wisata sekaligus objek kajian sejarah. aku yakin kalo di eropa atau di daerah yag perkembangan ilmu pengetahuan sudah pesat, makam seperti ini akan dijaka bak emas murni.sebab ini akan menceritakan banyak hal di masa lalu. dari makam ini kita akan tahu kapan dan dengan siapa aceh pernah menjalin hubungan di masa lalu dan bagaimana peredaran ilmu pengetahuan. namun ini -sekali lagi- butuh usaha dan kerja keras semua pihak.


bersambung.........

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...