Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

11 May 2011

Pang Leman

Pang Leman tidak mau ketinggalan. Naluri pengusahanya langsung hidup saat tahu kalau rincong itu diperlombakan. "Saya sudah dapatkan segalanya, saya sudah miliki semuanya, kenapa saya tidak bisa dapatkan sebuah rincong?" batinnya. Bagi Pang Leman, rincong adalah sebuah "cap" bagi pengakuan orang atas kesuksesannya. Kurang afdal kalau ia hanya punya uang, punya usaha, punya harta, punya pengaruh, tapi ia tidak punya nama. Sebab "nama" adalah identitas yang akan menguatkan apa yang ia sudah miliki. Dari nama ia akan mengekspresikan dirinya secara total. Dan nama yang paling tepat untuk mendapatkan itu adalah "pemilik rincong sakti". Pang Leman akan bertempur untuk mendapatkannya. Habis-habisan.

Langkah paling penting mencari kemenangan adalah membangun jaringan. Jaringan adalah kumpulan sekelompok orang yang secara sadar mau membantunya mendapatkan apa yang ia inginkan. Tentu saja tidak gratis. Pang Leman tahu ia harus mengeluarkan banyak uang untuk membangun jaringan yang bagus. Ia sadar kalau kekuatan sebuah jaringan sangat terkait dengan berapa banyak uang yang digunakan untuk menggerakkannya.Orang bisa katakan yang lebih penting dari segalanya adalah ideologi. Namun apakah ada ideologi bisa hidup tanpa orang-orang yang hidup. Orang hidup dengan uang. dengan itu mereka mengasapi dapurnya. dan uang bukanlah masalah besar bagi Pang Leman. Ia punya pundi-pundi uang yang besar, yang bias membeli apa yang ia suka.

Pang Leman mulai menebar jala, pada penganggur-penganggur yang butuh pekerjaan. Sebagian mereka adalah pemalas yang punya gengsi besar. Sebagai lain orang cerdas yang tidak punya lapangan. Namun banyak pula dedengkot-dedengkot sampah yang bisa bersandiwara mengubah wajah dalam sekejap. Bekerja sebagai anggota tim sukses Pang Leman sedikit menaikkan gengsi mereka. Mereka merasa mendapatkan pekerjaan "terhormat". Tidak segan, tidak ragu. Para penganggur dan pemburu gengsi ini akan segera bergabung, bergabung sangat cepat. Bahkan terkadang tanpa diminta. Sinar sematan rincong di pinggang Pang Leman sudah mereka bayangkan. Bagaimana indahnya dunia jika itu terjadi.

Para penganggur ini mulai bekerja. Tidak bekerja iklas, namun sejauh mana mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pekerjaan itu. Pang Leman tidak peduli. Ia hanya memerintahkan dan melemparkan sejumlah uang. Ia hanya menginginkan menjadi pemilik rincong, meskipun rincong itu entah dimana dunianya. Uangnya benar-benar sihir. Orang-orang bekerja cepat untuknya, bahkan lebih cepat dari seorang ibu yang harus menyusui anaknya karena kegerahan. Pang Leman, dengan uangnya ia benar-benar berkuasa. ia bisa meminta orang melakukan apapun, dan mereka langsung melakukannya.

Pang Leman menyedikan kantor agar mereka bisa berkumpul. Ia membelikan mobil yang bertempel foto dirinya agar orang bisa melakukan pejalanan ke mana yang ia suka. Ia memberikan mereka baju, sepatu, jaket, tas, handphone, dan lainnya. apa saja yang mereka perlukan. Sebab mereka adalah bebatuan yang diinjak oleh Pang Leman agar ia bisa sampai pada posisi di mana rincong akan disematkan. Mereka adalah budak-budak yang seolah diajarkan tentang sebuah arti hidup, namun sesungguhnya robot-robot yang bekerja untuk kehendak Pang Leman. Pang Leman tahu ini, namun ia tidak memberitahukan kepada mereka. Sebab mereka hanya ingin hidup dengan gaji yang sederhana.

Apakah Pang Leman ingin membantu para pengangguran mendapatkan pekerjaan? Tidak! Ia menginginkan rincong sakti. Jika rincong itu tersemat di pinggangnya, ia akan lebih mudah mempengaruhi orang untuk bekerja kepadanya. Ia akan lebih mudah mendapatkan uang dari usahanya. Orang-orang akan lebih percaya padanya. Dan yang paling penting adalah, jika rincong itu tersemat di pinggangnya, tanah negeri ini seolah akan menjadi miliknya. Ia bisa menjual sesuka hatinya, ia bisa mengekploitasi kekayaannya, ia bisa memeras orangnya, ia bisa melakukan apapun baik pada apa yang ada di atasnya, maupun apa yang ada di dalamnya. Itu tentang alam.

Ada yang lebih penting, jika rincong itu tersemat pada pinggangnya. Ia seoalah memiliki apapun yang hidup di atas negeri itu. Ia bisa memilih perempuan yang ia sukai. Ia bisa mengambil istri orang atau anak gadisnya. ia bisa memenjarakan orang yang memusuhinya. ia bisa mengatur wartawan agar memberitakan hanya apa yang menyenangkan hatinya. Ia, bahkan bisa mengatur para ahli agama agar mengeluarkan fatwa-fatwa yang bisa mendukung rencana-rencananya. Kalau ini bisa ia dapatkan, kenapa ia tidak berani mengeluarkan modal lebih banyak lagi? dan ini terus ia lakukan, sampai waktunya tiba.

Pang Leman sungguh gila.

Lem Baka Mencari Rincong

Ini peluang besar," kata Lem Baka, begitu tahu kalau makhluk ghaib menyerahkan orang-orang menentukan sendiri siapa yang paling layak mendapatkan rincong sakti diantara mereka. " Aku takkan lepaskan kesempatan baik ini. Apapun akan kulakukan untuk mendapatkannya." Lem Baka sangat berbirahi menggenggam rincong dan menyematkan dipinggangnya. Ia lalu berdiri di cermin kamarnya. Mulai meliat kopiahnya yang mulai pudar karena tidak pernah tercuci telungkup mereng ke kri di kepalanya. Beberapa uban mulai muncul di kepalanya. Ia melihat baju yang ia kenakan. merapikan sedikit di bagian leher dengan kedua tanagnnya. Berpindah ke perut. Sedikit berisi, mungkin seperti perempuan hamil 4 bulan. Lalu ia memegang sisi kanan pinggangnya, dan ternyenyum. Hayalnya mulai terbang, andai rincong itu tersemat di sini. "Aku harus mendapatknnya!"

Lem Baka punya segala yang diperlukan untuk mendapatkan rincong sakti itu, kecuali kejujuran. Ia adalah lelaki paruh baya yang bisa menikah kapan saja ia mau. Dalam diari pribadinya sudah tertera lima perempuan yang penrha ia nikahi di depan penghulu. Beberapa perempuan yang "dinikahi" secara khusus senagja tidak disebutkan di sana. Lem Baka punya semua apa yang diperlukan orang yang bersimpati padanya, kecuali keikhlasan. Ia bisa memberikan apapun yang dibutuhkan asal niatnya tercapai dan mimpinya terwujud. Ia akan berikan tiga kali lipat lebih banyak dari orang lain. Inilah yang membuat orang berlulut di kakinya.

Dengan modal inilah, Lem Baka memanggil empat anak buah terbaiknya. "Aku mau rincong sakti itu menjadi milikku." Keempat temannya segera sadar, itu bukan sebuah keluhan, curhat, pemberitahuan, atau mimpi di siang bolong. Itu adalah perintah!! Ya, perintah. Lima thau sudah mereka mendampingi Lem Baka. Mereka tahu passti mana yang perintah, maka larangan, mana ajakan, maka cemoohan, dan mana kesih sayang (yang terakhir ini baru dua kali terjadi dalam lima tahun terakhir). Mereka sudah sangat hafal, bahkan mereka juga hafal arti sorotan mata Lem Baka, arti lidah yang dijulurkan ke luar, dan arti dengusan hidungnya. sebab mereka dibayar oleh Lem Baka untukmelakukan itu.

Tapi ini sesuatu yang berat. bahkan nyaris tidak mungkin. Mereka sangat kenal dengan Lem Baka. Meraka tahu seperti apa perangainya, setinggi apa nafsunya, sebulus apa strateginya, seburuk apa niatnya. Merea tahu persis. Namun mereka juga tahu kekejaman Lem Baka. Tidak mungkin mengatakn niatnya mendapatkan rincong suatu hal yang buruk dan absurd, apalagi mengajaknya memabatlkan niat itu. Bisa jadi dapur mereka berhenti mengobarkan asap. Bagaimana istri dan anak mereka dapat makan? Tapi ini benar-benar sulit.

Lem Baka tahu apa yang mereka pikirkan.Sebab iapun sadar "siapa" dirinya selama ini dan apa yang sudah dilakukan. Namun sematan rincong di pinggang kanan sungguh sangat ia dambakan. Dan ia akan melakukan apapun agar keinginan itu terwujud. Dan ia akan menghancurkan siapapun yang menghalangi keinginannya. Namun ia juga sadar, ia tidak sepenuhnya bisa mewujudkan mimpinya. Ada hal lain yang lebih menentukan yaitu semua orang harus merasa ia memang patas mendapatkanya. Jadi satu-satuya cara unutk itu adalah membangun citra diri, menunjukkan ia seorang yang peduli, mengatakan ia adalah teladan yang patut diikuti. Dan ia hanya punya waktu satu bulan unutk melakukannya.

Minggu lalu misi ini mulai dilaksanakan. Ia memimpin ritual di rumah ibadah yang ia tidak pernah berkunjung ke sana selama ini. Ia mengkampanyekan iman mayoritas dan melarang interpretasi berbeda tentang keyakinan dengan berbeda dengan mayoritas. ia mulai berkunjung kepada kelompok-kelompok pemegang otoritas agama. Ia mulai peduli pada mereka yang membutuhkan. Ia mulai mudah membuka dompetnya dan memberikan uang kepada siapa yang meminta. Tidak lupa, ia meminta seorang wartawan menuliskan apa yang dia lakukan di koran. Wartawan itu adalh temannya. Tidak ada hal buruk yang keluat dari penanya. Ia selalu menunjukkan, Lem Baka adalah dewa yang bijak. dan diantara pembaca ada yang percaya.

Tapi apakah cara ini akan membawa rincong ke pinggangnya?

Seorang yang lain, Pang Leman melakukan hal yanglebih gila

29 April 2011

Rincong Sakti

Sebuah rincong warisan nenek monyang kini kehilangan pemiliknya.Dua hari yang lalu, sang pemilik meninggal dunia dengan tenang. Pada hembusan nafasnya yang terakhir, terucap sebuah pesan, rincong yang kini terselip di pinggangnya akan menghilang seiring nafasnya berhenti. Sesosok makhluk ghaib akan datang mengambil rincong dan menyelamatkannya. Pada satu waktu rincong itu akan dikembalikan ke dunia, jika ada seorang anak manusia yang memenuhi syarat menerimanya. Dan hanya mereka yang sabar dalam kekayaan, rendah hati dalam kekuasaan, ramah dalam kejayaan, punya cinta dalam kemegahan, yang akan mewarisinya.

Rincong itu sebuah rincong sakti yang diwariskan dari indatu sejak zaman batu. Berbeda dengan emas dan perak, rincong berhias zamrut mutiara intan berlian ini diwariskan bukan kepada anak, tidak pada kemenakan, apalagi pada teman dan kerabat. Ia diwariskan kepada orang yang memang pantas mendapatkannya. Tidak peduli apakah ia seorang petani, seorang pelayan, seorang tukang batu, abang becak, saudagar kain, ustaz, aktivis, ma blien, atau siapa saja. Selama ia memiliki syarat yang cukup, sosok bayangan yang datang dari alam ghaib akan mengantarkan rincong kepadanya.

Setelah pewaris terakhirnya meninggal dunia, masyarakat mulai membicarakan perihal rincong.Siapakah yang akan mewarisinya kelak? Siapakah yang berhak mendapatkannya? Siapa gerangan orang yang dipilih si makhluk ghaib untuk diselipkan rincong di pinggangnya?

Banyak orang mengharapkan rincong jadi miliknya. Namun semakin kuat ia berharap, semakin jauh rincong darinya. Semakin nampak ia berambisi, semakin menghilang bayangan rincong dari benaknya. Sebab rincong hanya memilih mereka yang tidak berkepentingan dengannya sebagai rincong, namun punya komitmen dan tanggung jawab menjaganya, menyelamatkannya, memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingan besar yang bermanfaat untuk orang banyak.

Sebagian orang tidak sabar. Ia berharap rincong ia dapatkan, namun tidak mau memahami untuk apa rincong akan digunakan dan bagaimana mendapatkannya. Ia merasa bangga andai sebilah rincong terselip di pinggangnya. Apalagi jika itu adalah rincong warisan dari alam ghaib yang hanya ada satu-satunya di negeri itu. Ia berhayal dengan rincong di pinggangnya, ia bisa dapatkan apa yang ia mau, ia boleh pergi kemana ia suka, ia mampu penuhi semua hasrat. Dan hidup adalah surga dunia. Namun mimpi ini pula yang menyebabkan rincong semakin jauh darinya. Jangankan melirik, si makhluk ghaib sama sekali tidak teringat padanya.

Sayangnya, saat ini, tidak ada yang benar-benar memenuhi syarat mendapatkan rincong. Si makhluk ghaib sudah kepanasan menggenggam rincong. Tahun ini ia harus sudah menyelipkan rincong itu ke pinggang seseorang. Bagaimana kalau tidak ada yang memenuhi syarat? Harus ada, batinnya. Sebab ia bukanlah makhluk yang tepat untuk menggenggam rincong. Ia adalah perantara yang membawa rincong dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dan waktu itu semakin dekat, sementara seseorang belum ia dapat. Pada sebuah malam setelah maghrib sekonyong-konyong terdengar suara dibawa angin. "Sudah saatnya rincong aku sematkan, tapi tidak ada orang yang pantas dapatkan. Mungkin penglihatanku mulai rabun, telingaku mulai uzur. Sampaikanlah kepadaku wahai manusia, siapa gerangan yang layak mendapatkan rincong dari bangsamu. Antarkan namanya ke bukit anu. Saya menungu hingga mata hari tenggelam pada hari ini di bulan depan."

Negeri itu menjadi gempar. Semua orang hendak mendapatkan rincong. Semua merasa berhak. Semua merasa mampu. Yang dulu pencopet kini jadi penceramah. Yang dulu pembunuh kini jadi pencinta. Yang dulu pendusta kini jadi alim. Yang dilu menipu sekarang jadi amanah. Bukan hanya itu, yang dulu menyimpan hartanya di lemari besi berkunci nuga, kini menghamburkan emas ke jalan-jalan. Yang dulu berlumpur dalam dosa dan kekejian, sekarang berbalut sorban mengharap simpati.Dan simpati mulai datang. Nama-nama mulai diunggulkan. Dan pemilik nama mulai bertengkar. Masing-masing mengatakan dialah yang paling pantas, dialah yang paling unggul, dialah yang paling berhak. Tidak ada yang rendah hati, tidak ada yang sabar, tidak ada yang bicara dengan cinta.Mereka bicara tentang dirinya, bukan tentang siapa yang telah mempercayakan rincong kepadanya.

Makhluk ghaib dari persemayamannya menyaksikan. Semakin bingung dengan keadaan. "Mereka tahu rincong ini untuk seorang yang tabah, seorang yang ramah, seorang yang adil,yang penuh cinta. Tapi kenapa mereka memperebutkannya dengan kekerasan, kesombongan, kekejian, salaing hasut dan fitnah?"

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...