29 December 2009

Politik Bakar Buku

Hulagu Khan, siapa yang tidak kenal? Panglima besar pasukan Mongol yang mengakhiri salah satu episode kekuasaan Islam di Baghdad pada tahun 1258 setelah berkuasa lebih dari 500 tahun. Saat itu pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Muktasim Billah (1242-1258) dari Dinasti Abbasiyah. Dalam penyerangannya, selain membunuh para penguasa dan menghancurkan peradaban, ia juga membakar ribuan kitab karangan ulama yang ada diperpustakaan Baitul Hikmah. Perpustakaan ini adalah sebuah pusat penerjemahan dan penelitian para cendikiawan Muslim terbesar yang dirintis sejak masa Harun al-Rasyid dan berkembang pesat pada masa al-Makmun. Di sana dilakukan alih bahasa dan penafsiran terhadap filsafat Yunani dan juga digunakan sebagai laboratorium bagi ilmuan Islam dalam melahirkan berbagai teori ilmu pengetahuan. Namun kebesaran perpustakaan ini musnah di tangan Hulaghu Khan, hanya dalam waktu beberapa hari saja. Konon air sungai Eufrat yang membelah Baghdad menjadi hitam terkena polusi abu kertas jutaan buku yang terbakar.

Melompat ke Aceh dalam abad ke 17, di mana Nuruddin Ar-Raniry memfatwakan pemusnahan terhadap buku-buku karangan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani pada masa kekuasaan Iskandar Tsani (1637-1641) karena dituduh sesat. Ajaran yang dibawa oleh Hamzah dianggap mengandung pemikiran wahdatul wujud yang pernah dikembangkan oleh Ibnu Arabi dan al-Jili. Wahdatul wujud adalah sebuah paham di mana manusia dianggap sebagai titisan Tuhan (wujud bayangan). Oleh sebab itu pada dasarnya manusia tidak memiliki keberadaan esensial, yang ada adalah keberadaan semu. Dalam pemahaman seperti ini wahdatul wujud dipandang menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya, dan itu adalah perilaku syirik, dan sesat.

Belakangan, di Aceh peristiwa ini hampir saja terulang. Sekelompok ulama di Aceh menyatakan sebuah ajaran yang dibawa oleh ulama lain sebagai ajaran sesat. Mereka berargumen di dalam buku kecil yang diedarkan tertulis mengenai ajaran-ajaran Abdul Karim Al-Jili yang bernah “bermasalah” di masa lalu. Ulama tersebut meminta masyarakat mengumpulkan buku yang telah terlanjur beredar dalam masyarakat untuk dimusnahkan karena dikhawatirkan meracuni pemikiran umat Islam, merusak aqidah dan menimbulkan kesalahfahaman di kalangan umat.

Bagaimana dengan buku Gurita Cikeas dan beberapa buku yang dilarang oleh Mahkamah Agung sebelumnya? Jelas alasan terpenting yang dikemukakan adalah apa yang disampaikan dalam buku-buku yang dilarang bertentangan dengan pemahaman umum yang berkembang dan atau dikembangkan pemerintah. Memberikan perspektif yang berbeda atas pandangan umum itu bisa jadi sebagai sebuah gerakan anti pemerintah yang bermuara pada penyatuan visi menggulingkan kekuasaan. Sehingga untuk kepentingan proteksi kemungkinan ini pemerintah melakukan langkah awal dengan pelarangan peredaran buku dimaksud. Padahal pelarangan justru menjadikan buku itu semakin dicari dan menjadi semakin diyakini kebenarannya. Sekali titah pelarang dikeluarkan maka seribu kali klarifikasi yang disampaikan tidak akan mempan menghilangkan anggapan bahwa buku itu berisi kebenaran.

Padahal kalau si buku dibiarkan bereda luas dan bebas di masyarakat akan ada penghakiman publik pada isi buku. Masyarakat akan membaca sendiri dan menilai apakah buku itu memang menyampaikan kebenaran atau ia hanya rekayasa si penulis untuk mencari popularitas, atau memancing di air keruh. Atau seperti banyak yang menyarankan silakan jawab buku dengan buku yang lain. Kalau saya tidak salah respon seperti ini pernah dilontarkan oleh Prabowo (atau Wiranto?) kepada Mantan Presiden B.J. Habibie yang menyinggung namanya dalam Detik-Detik Yang Menentukan. Saat itu Prabowo (atau Wiranto?) mengatakan “Saya akan membuat buku untuk mengklarifikasi hal itu.

Jadi bukan dengan melarang dan membakar, tapi dengan menulis buku lain. Dari sini iklim menulis dan mulai bersinar dan ilmu pengetahuan akan menerangi bumi Indonesia.

27 December 2009

Sebuah Kenangan bersama ARTI

Desember 2009 ini secara resmi berakhir aktifitas Aceh Research Institute (ARTI) di Aceh. Berakhirnya peran lembaga ini menjadi sebuah ending yang mengharukan bagi banyak orang yang pernah terlibat di sana. Selama tiga tahun terakhir ARTI telah melakukan peran penting sebagai mesin produksi lahirnya peneliti-peneliti muda Ilmu Sosial dan Humaniora di Aceh. Meskipun kantornya ada di Banda Aceh, namun ARTI menjangkau berbagai perguruan tinggi lain, seperti Universitas Malikussaleh dan STAIN Malikusaleh di Lhokseumawe, Universitas Gajah Puteh Aceh Tengah dan Universitas Teuku Umar Aceh Barat. Di sana peneliti Aceh masa depan dikaderkan dengan bimbingan dan arahan intensif dari peneliti senior lokal, nasional dan internasional.

Saya adalah satu di antara orang yang mendapatkan kesempatan masuk ke dalam mesin produksi peneliti ARTI. Meskipun saat ini belum lahir sebagai seorang peneliti handal, namun saya sudah melihat jalan itu dan tahu arahnya. Bola ada di kaki saya, apakah saya akan membawa diri ke sana atau tidak itu adalah pilihan, usaha, nasib, dan doa; saya sendiri yang menentukan. Namun ARTI telah melakukan tugasnya dengan baik, membuka mata pada realitas yang lebih besar, menunjukkan bahwa Aceh adalah ladangnya penelitian sosial, mengatakan bahwa di sana, di mana-mana orang begitu bersemangat bicara ilmu pengetahuan, dan petunjuk-petunjuk lain yang diberikan.
Apa yang dilakukan ARTI bagi saya merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Dengan sistem pelatihan yang berbeda dengan apa yang saya peroleh sebelumnya, dengan keseriusan, ketegasan, kedisiplinan yang diterapkan, dengan fasilitas dan pendampingan yang disediakan, saya dengan jujur mengatakan bahwa ARTI telah melakukan yang terbaik untuk saya bahkan jauh di atas apa yang saya bisa bayangkan. Saya yakin ini pula yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.

Saat saya ikut kelas ARTI level Pertama, saya berjumpa dengan Prof. David Reeve, penulis biografi terkenal. Salah seorang tokoh Indonesia yang ditulis dengan begitu apik adalah Ong Hok Ham, orang Tionghoa yang lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri. David memperkenalkan dasar-dasar penelitian dengan begitu renyah. Sebelumnya saya membayangkan sebuah penelitian begitu rumit. Beberapa kali belajar metodologi penelitian saya disuguhkan dengan berbagai teori dan pengertian yang tidak pernah saya ketahui maksudnya secara pasti hingga sekarang. Namun hal ini menjadi berbeda di tangan David. Penelitian adalah berusaha menulis apa yang kamu ingin tulis. Bagaimana caranya, itu terserah kamu. Kamulah yang tahu bagaimana melakukan pekerjaanmu sendiri. Orang boleh mengatakan apa saja, namun yang harus memutuskan adalah kamu sendiri, sebab kamu yang tahu akan menulis apa, tentang apa, lokasinya di mana, orangnya seperti apa, dan lain sebagainya. Saya terkesan dan terkesima, ternyata peneliti itu adalah saya sendiri dan sayalah yang menentukan langkahnya.

Ketika saya dipanggil untuk masuk ke level kedua saya berjumpa dengan Arskal Salim, Adlin Sila, dan Eka Srimulyani. Para peneliti muda yang pengalaman pelitiannya sudah mendunia. Arskal Salim adalah dosen UIN Jakarta yang melakukan penelitian di Aceh dalam beberapa topik. Ia memiliki berpengalaman yang kaya dalam penyusun proposal penelitian yang berhubungan dengan funding internasional yang sering membiayai penelitian. Dan darinyalah kami menuntut “Ilmu Proposal”, tentang bagaimana membuat proposal yang baik. Sebab, kata Arskal, tidak ada proposal yang benar atau proposal salah. Sebuah proposal –selama dibuat dengan serius- telah melewati tahapan pemikiran dan kontemplasi yang panjang. Oleh sebab itu yang diperlukan adalah bagiamana menjadikannya lebih baik. Dan proposal yang baik adalah proposal yang jelas masalahnya apa, tujannya untuk apa, dan bagaimana anda akan melakukan penelitian. Kalau tiga hal ini sudah jelas maka yang lain akan menyusul pula, hanya perlu ketekunan dan keseriusan saja.

Kemudian, yang tidak mungkin saya lupakan adalah pelatihan tahap ketiga. Dalam tahapan ini peserta dibimbing oleh tiga pembimbing sekaligus; lokal, nasional dan internasional. Saya teringat ketika ibu Laura Yoder, direktur ARTI tahun 2008 mengirimi saya SMS yang isinya kira-kira: Selamat, anda berhak mengikuti pelatihan tahap ketiga. Ini adalah awal dari sebuah pengalaman yang tidak pernah akan saya lupakan. Saya ditawarkan memilih sendiri siapa yang akan menjadi pembimbing saya untuk penelitian yang saya ajukan: “Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet.” Saya memilih orang yang saya sudah kenal dalam dunia akademik meskipun belum kenal secara fisik. Pembimbing lokal saya memilih Bapak Aslam Nur, dosen Antropologi Agama di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Untuk Nasional saya memilih Prof. Irwan Abdullah, Direktur (sekarang mantan) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. Dan untuk pembimbing internasional saya memilih (atas saran dari Laura) Prof. Anthony Reid, sejarawan yang telah menulis beberapa buku dan jumlah artikel ilmiah yang tidak terkira mengenai sejarah Aceh. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Seorang anak kampung yang baru bisa berbicara bahasa Indonesia dalam usia 17 tahun, berjumpa dengan orang-orang besar adalah anugerah yang tiadatara. Dan di bawah bimbingan merekalah saya belajar melakukan penelitian.

Saya ingin cerita sedikit tentang dua orang pembimbing saya, Anthony Reid dan irwan Abdullah. Bagi saya Toni adalah sebuah kebun ilmu yang sangat luas. Wawasan dan pengetahuannya terbentang tak bertepi. Setidaknya begitulah yang saya lihat dalam konsultasi pertama kali bersamanya. Saya bagaikan sebuah gelas yang kecil dan ia adalah ember besar penuh air ilmu. Tatkala air di dalamnya dituangkan, sangat banyak yang tercecer dan terbuang karena keterbatasan tempat penampungan yang saya miliki. Saya hanya menangkap sedikit sekali dari ilmunya. Meskipun, dengan keterbatasan komunikasi karena kendala bahasa, saya tahu ia telah berusaha menyesuaikan memberikan pengetahuan sesuai dengan tingkat atau kadar keilmuan saya.

Dalam konsultasi pertama yang saya laksanakan dengan Anthony saya mendapatkan banyak pengetahuan. Yang paling berkesan adalah, cara pandangannya mengenai sebuah masalah kecil dalam konteks yang besar. Semula saya berfikir, apalah artinya penelitian mengenai kenduri kematian dalam masyaraat Kluet. Ini hanyalah masalah kecil dan tidak menyelesaikan apa-apa dan tidak menjelaskan banyak hal. Namun tatkala Toni sedikit demi sedikit mebawa saya ke cakrawala ilmu yang berkembang di dunia, saya mulai sadar bahwa apa yang saya lakukan dalam membahas kenduri dalam masyraklat Kluet bukan sekecil yang saya bayangkan. Ia berada di antara semaraknya kajian keilmuan dalam bidang yang sama yang telah dilakukan banyak orang lain. Saya bukanlah satu-satunya orang yang mengerjakan dan tertarik dengan bidang ini.

Prof. Irwan Abdullah saya umpamakan dengan sebuah kebun pengetahuan serba ada. Meskipun ia memperkenalkan diri sebagai antropolog, namun dalam diskusi bersamanya ia ternyata menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan metodologi ilmu-ilmu. Pertemuan pertama saya bersamanya tatkala ia datang ke Banda Aceh untuk sebuah urusan. Ia menelpon saya dan mengajak saya minum kopi pagi di warung kopi Cek Yuke jalan Tepi Kali. Bagi saya ini sungguh menyenangkan. Kapan lagi bisa duduk dengan Profesor Antropologi UGM? Saya akan memanfaatkan waktu untuk maksimal menggali ilmu darinya. Dan apa yang saya pikirkan benar terwujud. Dalam diskusi bersamanya, keran ilmunya mulai dibuka dan sedikit demi sedikit airnya mengalir. Awalnya saya katakan, saya kesulitan dalam menentukan sistematika sebuah tulisan. Lalu ia mulai mendiskusikan tulisan saya dan membuat coretan yang sampai sekarang masih saya simpan sebagai kenangan dan yang paling penting itu adalah model untuk tulisan apapun juga. Darinya saya juga belajar semangat menulis. “Coba kamu pikirkan, apakah saya, sebagai seorang direktur sekolah pascasarjana UGM, memiliki waktu untuk menulis dan melakukan penelitian?” Saya bayangkan, sebagai seorang dosen muda dan baru saja saya sering tidak cukup waktu, bagaimana lagi dengan seorang Prof. Irwan? Ternyata saya salah. Ia mengatakan tulisanya terbit hampir setiap bulan di berbagai jurnal ilmiah. Ia juga menulis sendiri makalah seminar, modul mengajar dan materi pelatihan. Kapan itu dilakukan? “Kitalah yang menetukan waktu untuk menulis, bukan waktu yang mengatur kita.” Lalu ia menjelaskan beberapa tips yang dapat digunakan. Misalnya memulai dengan membuat kerangka, mengisi ide pokok, pengembangkan paragraf, dan seterusnya. Saat mendengar penjelasanya, rasanya keesokan hari saya bisa menulis lima artikel akademik. Tapi ternyata, saya masih saja belum bisa selancar yang saya bayangkan.

Memang saya akui saya tidak dapat melakukan penelitian tahap tiga dengan maksimal, terutama dalam bagian akhir penelitian sampai penulisan hasilnya. Pertama karena kesibukan pembimbing nasional dan internasional saya. Prof. Irwan Abdullah adalah direktur Sekolah Pascasarjana yang tidak mungkin datang ke Aceh dan menemani saya di lapangan, jauh di pedalaman Kluet Timur Aceh Selatan. Demikian juga Anthony Reid yang tinggal di Singapura. Saya berjumpa dengan mereka beberapa kali saja, selebihnya berkomunikasi dengan e-mail. Sebagai orang yang masih sangat awam dengan penelitian seperti ini, maka saya masih sangat kesulitan dalam mewujudkan banyak saran dari pembimbing saya tersebut. Namun masalah paling berat adalah ketika pada 10 Agustus 2008 bapak saya tercinta meninggal dunia. Beliau adalah orang Kluet, beliau mengetahui banyak adat budaya Kluet. Beliau menjadi teman diskusi saya selama di lapangan, bahkan tidak jarang diskusi sampai pagi. Setelah beliau meninggal dunia, sangat berat bagi saya untuk membaca catatan lapangan dan hasil wawancara saya di lapangan. Sebab penelitian saya juga mengani kenduri kematian. Sehingga membuka file-file penelitian itu saya langsung terbayang wajahnya, tawanya, semangatnya, kasih sayang dan cintanya. Dan saya butuh waktu berbulan-bulan untuk memisahkan saya sebagai seorang peneliti dengan saya sebagai anak yang memiliki kedekatan emosional dengan orang tua. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan artikel penelitian saya meskipun paling terlambat dibandingkan teman-teman yang lain.
Dan yang sangat-sangat tidak mungkin terlupakan adalah bimbingan, pencerahan, kuliah, diskusi yang dilakukan dalam sela-sela program pelatihan yang dilaksanakan.

Saya ingat sekali bagaimana Ibu Melly dan Eve selalu mengirimi SMS bahwa akan ada seorang ahli datang ke ARTI dan dia bersedia memberikan kuliah dan bimbingan. Di waktu lain ada SMS yang isinya ada pemaparan hasil penelitian sementara dari seorang mahasiswa internasional yang sedang melakukan penelitian di Aceh. Pernah juga seorang ahli dalam bidang tertentu datang ke ARTI dan kami berkumpul untuk mendiskusikan berbagai temuan sementara di lapangan dan mencari pemecahannya bersama.
Hal di atas masih ditambah dengan berbagai pelatihan lain yang saya ikuti di kampus dan di luar kampus. Di IAIN Ar-Raniry saya megikuti sebuah pelatihan metodologi penelitian bagi dosen. Saya juga mengikuti pelatihan metodologi penelitian bencana alam di Yogayakarta. Pada pertengahan 2009 saya mengikuti metode penulisan makalah ilmiah di USU Medan. Di ARTI sendiri diadakan pelatihan penulisan artikel untuk buku kompilasi. Semua menerpa saya untuk dapat maju dan berusaha menggapai yang terbaik.

Apa yang saya dapatkan dari ini semua? Tidak terhingga dan tidak terkira, mungkin ini jawaban saya. Saya merasa “lebih nyambung” saat mendiskusikan penelitian dengan siapapun di bandingkan dulu. Harus saya akui saya kewalahan dalam teori-teori dan istilah yang rumit, terutama dalam penelitian angka-angka. Namun alhamdulillah saya sedikit diberikan kemudahan oleh Allah dalam membahas penelitian-penelitin sosial lapangan. Saya merasa lebih percaya diri dalam menceritakan dan membincangkan penelitian kepada orang lain. Saya lebih mudah membagi pengetahuan mengenai penelitian dengan teman dan mahasiswa. Saya lebih mudah dan terbimbing dalam menulis, walaupun masih jauh dari sempurna. Dan banyak hal lain. Yang sangat penting adalah saya memiliki semangat yang menggelora untuk terus belajar menulis, melakukan penelitian, mendiskusikan ilmu pengetahuan dalan lain sebagainya. Saya tahu bahwa di balik semua ini salah satunya ada ARTI.

Saat ini saya sedang menyelesaikan peneltian saya mengenai Adat Gayo bersama Internasional Center foa Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Awal Desember 2009 saya mempresentasikan sebuah hasil penelitian saya di International Posgraduate Conference di Yogyakarta. Di kampus saya mengasuh mata kuliah Metodologi penelitian. Beberapa teman mulai menjadikan saya sebagai salah seorang teman disksui dalam membuat penelitian. Bagi saya ini adalah rahmat keilmuan yang Allah berikan melalui serangkaian pelatihan bersama ARTI.

Hanya karena penguasan bahasa Inggris yang sangat buruk sehingga saya masih merasa ada yang mengganjal dalam diri saya ketika mau mengembangkan diri lebih baik lagi. Dan persoalan bahasa ini pula yang membuat saya masih terus menunda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya masih berusaha untuk meningkatkan kemampuan meskipun terasa sangat berat. Hanya ada satu keyakinan bahwa ini bukan “hil yang mustahal” untuk diwujudkan.Saya masih mengimpkan suatu saat saya dapatmelanjutkan pendidikan di tempat yang pebih maju dan memiliki iklim akademik yang menyenangkan.

Akhirnya saya ingin mengatakan terima kasih Arti, Pak Michael, Ibu Barbara, Ibu Laura, Pak Harold, Eve, Ibu Melly, Ibu Eka, David, Arskal, Adlin, Kamaruzzaman, Irwan Abdullah, Anthony Reid, Aslam Nur, dan semua teman-teman pelatihan ARTI Level I, II dan III. Mudah-mudahan apa yang telah saya peroleh dari ARTI menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat untuk kehidupan umat manusia.


26 December 2009

Tsunami: yang Tersisa Adalah Pelajaran (5)

Peristiwa itu terus mejauh. Tanggal 26 Desember 2009 kali ini berarti telah lima tahun ia berlalu. Namun gempa dahsyat, gelombang hitam, gerombolan manusia yang melarikan diri, lautan genangan air hitam, mayat-mayat yang berserakan, puing rumah yang roboh, anak-anak yang mejerit mencari orang tuanya, orang tua yang menangis kehilangan anaknya, manusia yang terurai ususnya terbaring tanpa pertolongan, seorang gadis kecil yang kehilangan sebelah lengannya, seorang orang tua yang kehilangan matanya, seorang ibu yang kehilangan kakinya, masih terbayang jelas di pelupuk mata. Rasanya gambar itu terukir dan tidak mungkin hilang lagi. Begitu jelas, begitu hidup, begitu nyata, sampai kini.

Namun saya yakin pula bahwa hidup bukan hanya untuk mengenang itu saja. Ada banyak hal lain yang perlu dilakukan. Bencana memang datang, prahara memang terjadi, kekacauan, konflik, perebutan kekuasaan selalu terulang dan terulang. Tapi hidup tetap harus dilalui dengan perjuangan dan kebahagiaan. Terlarut dalam duka dan kenangan masa lalu akan menghantarkan manusia pada masa lalu itu dalam hayal dan mimpinya. Ia terbuai dan terlalai dengan mimpi itu hingga ia lupa realita yang ada di depan matanya. Dan tidak ada yang diperoleh oleh orang yang demikian selain penyesalan dan kegagalan. Kita harus bangkit dan bersemangat!

Semangat saya semakin bangkit tatkala ribuan orang datang dari berbagai daerah dan negera bahu-membahu menampakkan kepedulian mereka untuk membantu masyarakat Aceh bangkit kembali. Malam kedua pasca bencana langit Banda Aceh dipenuhi oleh pesawat yang datang setiap menitnya. Beberapa diantaranya harus terbang berputar di udara untuk menapatkan “giliran” mendarat. Mereka membawa orang yang hendak membantu meringankan penderitaan korban tsunami dan membawa banyak bantuan yang diperlukan; makanan, pakaian, obat-obatan, selimut, tenda, dan lainnya. Sehingga pada minggu pertama saja ratusan tenda pengungsi telah dilengkapi dengan posko kesehatan dan tenaga medis. Bukan hanya tenaga kesehatan dari Indonesia, namun juga dari manca negara. Pasukan militer dari Jerman, Malaisya, Amerika, Australia, Jepang, Inggis, Rusia dan dari berbagai negara lain mendirikan tenda pelayanan bagi pengungsi. Saya takjub, mereka begitu siap, begitu lengkap, begitu rapi terkoordinasi. Kehadiran mereka sungguh membuat semangt hidup saya bangkit kembali.

Beberapa bulan kemudian, kala bantuan darurat itu selesai, disusul pula bantuan jangka panjang, fisik dan mental intelektual. Saya adalah salah satu orang yang “bangkit” dengan berbagai bantuan tersebut. Dua bulan setelah tsunami saya bekerja dengan Nonviolence International selama delapan bulan. Kemudian saya bergabung dengan British Red Cross Society (BRCS) untuk program community development, di Aceh Jaya. Bekerja dengan lembaga asing, berteman dan bergaul dengan orang yang berbeda daerah dan negara menjadikan saya seolah lupa bahwa saya adalah bagian dari korban. Saya malah merasa orang yang harus membantu teman-teman, saudara-saudara, masyarakat Aceh yang menjadi korban tsunami. Bekerja dengan mereka saya belajar banyak hal, tentang pergaulan, manajemen, keuangan, kedisiplinan, kepemimpinan, fasilitasi dan lain sebagainya. Nampak saja saya bekerja, padahal sesungguhnya saya sedang belajar. Dan belajar adalah terapi untuk mental saya yang droup dan trauma setelah musibah itu melanda.

Wujud bantuan dan kepedulian Indonesia dan Dunia pasca tsunami terus berlanjut pada hitungan bulan dan tahuan kemudian. Kepada masyarakat yang rumahnya hancur dibangun kembali rumah, walaupun tidak sebaik dan seindah sebelumnya. Kepada mereka yang hilang mata pencaharian diberikan modal usaha. Kepada mereka yang tidak memiliki keterampilan diberikan pelatihan. Kepada mereka yang tidak memiliki biaya pendidikan diberikan beasiswa. Pemerintah Aceh dan kabupaten kota, baik yang terkena tsunami atau tidak juga mendapatkan bantuan yang besar. Banyak bangunan yang didirikan dengan bantuan dari berbagai negara, banyak fasilitas yang disediakan dengan sumbangan masyarakat Internasional. Banyak pelatihan, seminar, workshop yang digelar untuk kemajuan sumber daya manusia di Aceh oleh berbagai organisasi nasional dan Internasional. Dan berkah yang paling besar adalah terwujudnya perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Republik Indonesia (RI) pada tanggal 15 Agustus 2005. Sungguh, bagi saya ini adalah berkah dan nikmat yang tiada terkira. Andai mereka tidak ada atau tidak peduli, mungkin Aceh hari ini adalah sebuah kota tua yang terhapus dari peta dunia.

Saya berjumpa dengan orang yang merasa dizalimi dan tidak puas dengan semua bantuan itu. Ada mereka yang merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan semua yang diberikan untuk korban tsunami. Ada juga yang sampai hari ini masih tinggal di tenda-tenda karena mereka terabaikan dari pantauan pemberi bantuan. Di sebalik itu ada mereka yang memanfaatkan bantuan untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya. Ada yang menggunakan data korban untuk mencari uang. Tidak sedikit pula yang “mengemis” mengatakan ia adalah korban tsuami untuk membangkitkan emosi iba pada orang lain dan memberinya bantuan. Bagi saya itu adalah fenomena manusiawi yang ada dan terjadi di mana saja di dunia ini.

Satu hal yang pasti, setelah bencana besar itu terjadi lima tahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang tak terkira besarnya. Pelajaran tentang fenomena alam, tentang keterbukaan, tentang kerja sama dan bantuan kemanusiaan, pelajaran kehidupan dari masyarakat yang berbeda, pelajaran tentang berbagai ilmu kehidupan yang kaya yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di kesempatan lain dalam hidup saya. Dan saya berterima kasih kepada semua yang memberikan perhatian itu, sejak hari pertama tsunami hingga hari ini. Terima kasih Indonesia, terima kasih dunia.

25 December 2009

Menulis Itu Sebagian Dari Iman

Kalau dalam sebuah hadits disebutkan kebersihan adalah sebagian dari iman, maka saya yakin pula kalau menulis juga sebagian dari iman. Sebab menulis menyebabkan orang tahu kalau ada hadits yang mengatakan demikian. Andai menulis tidak ada, atau andai apa yang dikatakan Nabi tidak tertulis, mungkin ucapannya kini hilang ditelan zaman. Menulislah yang menyelamatkannya, maka menulis itu sebagai dari iman.
Almarhum Hamka, orator, ulama dan sastrawan Indonesia yang terkenal mengatakan, “tulisalah apa yang baik orang lakukan atau lakukanlah apa yang baik orang tuliskan.” Hal inilah yang akan menjadikan seseorang tercatat dalam buku stambuk dunia. Sebab seorang penulis atau seorang yang melakukan hal-hal yang perlu ditulis akan hidup lebih lama dari ajalnya. Sementara mereka yang tidak menulis atau melakukan hal-hal yang layak ditulis akan mati sebelum ajalnya tiba.

“Saya hanya menulis apa yang saya benar-benar lakukan,” kata Paulo Coelho, penulis novel best seller sepanjang zaman, The Alchemist. Sebab tanpa melakukan, maka tulisan bukanlah keluar dari hati namun hanya sebuah kamuflase semata. Pembaca mungkin saja tertipu dengan olah kata dan diksi puitis dalam sebuah tulisan sehingga mempengaruhinya masuk dalam alam tulisan itu. Namun tulisan yang tidak sesuai dengan kepribadian penulisnya tidak akan menadapatkan nilai di sisi yang Maha Menulis, Dia yang menulis segala apa yang terjadi pada ciptaan-Nya. Sementara seorang penulis yang menulis sekaligus melakukan apa yang ditulisnya akan mendapatkan nilai double, dari manusia yang mendapatkan manfaat dari tulisannya dan dari Tuhan yang Maha Menulis. Bahkan jika ia menulis tentang kebenaran yang mendapatkan cacian dan ejekan dari manusia lain, Tuhan tetap memihak padanya. Dalam koteks inilah Bunda Taresha pernah mengatakan bahwa teruslah berbuat baik meskipun orang memandang perbuatanmu hina dan tercela. Sebab pada akhirnya perbuatan baik itu bukanlah antara engkau dengan mereka, namun antara engkau dengan Dia di Sana.

Teruslah menulis sebab itu akan membuat catatan amal baik kita menjadi lebih banyak. Menulis membantu para malaikat yang bertugas mencatat amalan kebajikan dalam menilai perbuatan kita. Mereka terbantu karena tulisan kita adalah bukti tidak terbantahkan dihadapan Tuhan atas apa yang telah kita lakukan di dunia. Tulisan yang kita buat sekarang akan merekam siapa saja yang membacanya dan siapa saja yang mengambil manfaat darinya. Suatu saat kelak, ketika hari pembalasan tiba, ia akan menjadi saksi di hadapan Tuhan bahwa apa yang kita lakukan telah meberikan manfaat yang besar untuk banyak manusia. Ia akan menceritakan siapa yang membacanya dan siapa yang mengambil manfaat darinya kepada Tuhan. Dan berdasarkan laporan itu Tuhan akan menganugerahkan satya lencana Surga bagi penulisnya. Amin…


24 December 2009

Pengabdian dan Masa Depan (4)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2006. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------

Saya mendapatkan makan pagi di rumah famili setelah berjalan kaki 4 km. Kemudian saya dipesankan untuk melihat nenek yang ada di Kp. Keuramat, sekitar 7 km dari rumah itu. Berbekal sebuah sepeda kecil saya menelusuri jalan di Kota Banda Aceh pas sehari setelah tsunami. Sengaja saya memilih jalan utama kota untuk menyaksikan bagaimana peristiwa ini meluluhlantakkan semua yang ada di kota ini. Sayangnya berjalan dengan sepeda pada hari kedua tsunami sama saja dengan membawa sepeda. Artinya bukan kita yang naik ke atas sepeda, tapi sepeda yang harus digendong. Sampah-sampah bercampur mayat menggunung di sepanjang jalan. Saya dengan terpaksa, kadang sengaja terkadang tidak, harus menginjak mayat yang ada di sepanjang jalan itu (Kepada mayat yang merasa saja injak, saja mohon maaf).

Pada hari itu beberapa mobil yang datang entah dari mana sudah mulai membersihkan jalan. Banyak orang mulai mencari saudaranya yang hilang. Ada juga yang mencari kenderaan atau benda berharga di dalam puing-puing rumahnya yang ditinggalkan. Namun tidak sedikit ada orang yang sangat tidak bermoral, hari itu mereka datang untuk mengumpulkan emas dan barang berharga yang ada di tubuh dan pakaian jenazah korban tsunami. Saya tidak tahu mereka datang dari mana. Semoga Tuhan memberikan balasan yang setimpal untuk kejahatan itu.

Saya mendapatkan saudara saya yang di kampung Keuramat selamat. Mereka sempat naik ke lantai dua hingga air yang penuh di lantai satu rumah itu tidak mencederai siapapun. Namun tidak ada yang dapat diselamatkan di dalam rumah. Semua barang, mobil, motor, buku, lemari dan lainnya hancur dimakan air. Kami mencoba turun dari lantai dua dengan menyusun beberapa lemari dekat jendela. Sebab lantai satu, jalan yang ada tangganya sudah tertutup sama sekali. Lalu dari sana kami berjalan dan mencari tempat yang aman. Setelah membawa mereka ke rumah famili yang lain, saya kembali ke Rukoh dan sekitarnya untuk membantu mengangkat jenazah yang berserakan di pinggir jalan dan di dalam rumah. Saat itu sudah banyak orang yang bekerja untuk mengangkat jenazah.

Keesoan harinya (hari selasa), saya baru sadar kalau tamu di rumah famili di Lambaro sudah sangat banyak. Beras, air, makanan lain yang ada di sana tidak mungkin mencukupi untuk orang sejumlah itu. Dengan tiga orang laki-laki lain yang ada di sana kami menempuh perjalanan ke Peunayong (10 km) untuk mencari makanan. Di Peunayong kami mencari makanan yang terbuang yang masih bisa dimanfaatkan. Saya mendapatkan minyak goreng dan sekardus Indomie. Teman saya yang lain mendapatkan roti dan makanan yang lain lagi. Inilah yang kami bawa pulang, lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sampai di rumah saya kelelahan dan hampir tidak daat bergerak lagi. Tangan, kaki, dan badan saya semuanya seperti patah-padah tidak berdaya. Saya tertidur telentang dan fana. Baru sadar keesokan harinya. Saya tertidur 14 jam.

Saya katakan sama Makcik pemilik rumah bahwa saya tidak mungkin berpangku tangan atas kejadian ini. Saya ingin melakukan sesuatu. Memang saya korban, namun kesedihan, kerugian, pederitaan saya tidak sebanding dengan penderitaan banyak orang lain yang juga menjadi korban tsunami. Saat itulah saya pergi ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman di Asrama Pascasarjana IAIN Banda Aceh. Asrama ini menampung 300 kk pengungsi dari seputaran IAIN. Di sana antara lain ada Bapak Prof. Rusjdi, Rektor IAIN Ar-Raniry dan Prof. Muslim, ketua MPU Aceh. Mereka mengungsi karena rumahnya juga diterjang gelombang. Selain mereka ada juga dosen lain dan masyarakat di sekitar kampus.

Beberapa hari kemudian kami membentuk Pusat Koordinasi Pasca Bencana (PKPB) atas nama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Saya salut dengan Prof. Muslim yang pada masa itu langsung berfikir untuk melakukan koordinasi dengan berbagai organisasi sosial masyarakat untk bentuan pasca bencana. Sebab saat itu, seminggu setelah Tsunami, banyak bantuan yang datang namun tidak terdistribusi dengan merata. PKPB rencanya akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak lain hingga bantuan tidak tumpang tindih sementara banyak pengungsi yang sama sekali tidak mendapatkan bantuan. Sayangnya PKPB hanyalah kelompok kecil, sehingga untuk melakukan itu tidak memiliki bergaining yang kuat. Jadinya, PKPB melakukan servey ke beberapa lokasi yang disinyalir tidak mendapatkan bantuan lalu memberikan info kepada organisasi yang menangani bantuan untuk menyalurkan ke sana.

Sebulan setelah tsunami adalah bulan pengabdian. Bergabung dengan teman-teman saya mencoba melakukan apa yang paling baik untuk menjadikan kehidupan dalam kesedihan itu bisa bersemangat kembalai. Pada akhir bulan Januari 2005 kami sempat menyelenggarakan pertemuan pertama berbagai tokoh dan unsur masyarakat mengenai rehabilitasi pasca bencana. Seingat saya inilah pertemuan pertama menyusun rancangan pembangunan Aceh pasca Tsunami. Salah satu rekomendasinya adalah perbaikan jalan. Sebab katanya, orang Aceh kalau ada jalan tanpa bantuan yang lain juga bisa hidup dan bangkit kembali. Sayangnya jalanlah yang terakhir dibuat. Hingga saat ini, lima tahun pasca tsunami, Barat-Selatan Aceh masih terisolir karena tidak ada jalan.

Hidup adalah Saling Memberi (3)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-----------------------------------------------------------------------
Di tengah kerumunan orang saya melihat manusia yang tidak sempurna. Ada yang tanpa kaki, tanpa lengan, usus yag keluar, tanpa mata sebelah, dan kebanyakan tanpa nyawa. Beberapa orang berinisiatif menutupi jasad tanpa nyawa itu dengan kain yang ada di badannya, lalu seorang bapak paruh baya mengatakan, tutuplah yang masih hidup dan dirimu sendiri. Jaga yang masih hidup agar tetap hidup, iklaskan yang telah meninggal dunia. Pakaian tidak berarti apa-apa untuk mereka. Kitalah yang memerlukan pakaian sekarang. Kalau pakaian ini kita berikan kepada yang telah mati, apa yang akan kita gunakan untuk mngusir dingin nanti malam? Petuah bapak paruh baya ini dipatuhi. Mayat-mayat yang tergeletak disana akhirnya terbuka tanpa tutupan sama sekali. Hanya beberapa lembar tikar lusuh dan kertas koran dari asrama yang digunakan untuk menutupinya.

Lalu saya meminta izin kepada adik perempuan saya untuk pergi. Saya sudah pastikan mereka selamat dan sementara itu cukup. Saya harus membantu banyak orang yang mungkin bisa diselamatkan. Turun dari asrama saya mencoba menyusuri jalan yang berlumpur di depannya. Pemandangan mayat dan orang sakit ada di mana-mana. Saya membantu beberapa orang menganggat orang yang terluka. Tiba-tiba sala melihta sepotong tangan bergerak di tengah lumpur. Tangan itu melambai-lambai sambil berucap: Allah… Allah…. Allah… Seorang anak muda lari ketakutan. Tangan tanpa kepala itu disangka hantu. Saya dan seorang teman jadi penasaran. Tidak mungkin hantu mengucapkan lafaz suci nama Ilahi. Kami mendekati tangan hitam legam itu. Ternyata seorang orang tua yang terkubur lumpur. Lalu kami mengangkat orang itu dan membawa ke asrama.

Hari itu saya habiskan untuk membantu mengangkat jenazah, sampai sore. Sedikit waktu saya sisakan untuk mengantar makanan kepada adik-adik saya di asrama. Makanan yang saya peroleh dari sebuah kulkas yang hanyut (Seandainya ada yang merasa sebagai pemilik kulkas itu izinkan saya telah mengambil beberapa potong kue dan beberapa buah jeruk di dalamnya). Lalu kami berjalan kaki 6 km ke Lambaro Angan, rumah famili yang tidak terkena tsunami karena jauh dari lautan. Di sana berkumpul banyak famili lain dan saudara dari famili itu. Sehingga rumah kecil tiga kamar itu menjadi penuh sesak. Sebuah tenda darurat harus segera dibangun di depannya karena di dalam rumah tidak cukup tempat. Saya sendiri kembali ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman lain yang tidak ada saudaranya di Banda Aceh. Sangat tidak enak rasanya membiarkan mereka “terbuang” tanpa kebersamaan.

Malam hari kami tidur seputaran masjid dan perpustakaan Induk Unsyiah. Di sana tidur dan berkumpul banyak orang, entah dari mana saja asalnya. Pemandangan korban tsunami semakin beragam. Di atas masjid saya menjumpai beberapa orang dengan usus terburai di laur badan tidur dengan berlapis koran. Beberapa orang lainnya merintih kesakitan karena anggota badannya yang hilang. Namun hanya sedikit yang dapat terlayani, sebab kebanyakan mereka harus melayani diri sendiri. Di Masjid itu juga kami sering harus berlarian karena ada isu tsunami yang lebih besar muncul lagi. Katanya, air sudah smpai ke Rukoh dan dua kali lebih besar dari pagi tadi. Dan itu terjadi beberapa kali. Sampai ada inisiatif dari pengurus masjid untuk menjamin kebenaran informasi. Jam 11.00 malam pengurus masjid mengumumkan lewat microfon bahwa yang memiliki otoritas untuk menyatakan benar atau tidaknya info tsunami hanyalah pengurus masjid, selebihnya tidak boleh dipercaya. Kalau pengurus mengatakan ada air laut naik, maka larilah. Kalau sumber informasi tidak jelas, maka baikan saja. Sejak saat itulah kami sedikit lebih tenang dan dapat tidur dengan nyenyak.

Saya tidak memiliki kain selain baju yang menempel di badan. Di sebuah aula dekat perpustakaan ada dipajang beberapa papan bunga yang berisi ucapan selamat pernikahan yang dilaksanakan paginya. Saya dan beberapa orang yang lain merusak papan bunga itu dan mengambil kain dasarnya. Ternyata pemilik bunga menggunakan kain bludu yang agak tebal untuk ditusuk dengan jarum bunga. Setelah bunga-bunga itu saya buang saya mendapatkan selembar kain tebal yang luas dan sangat hangat. Cukup untuk mebungkus badan dan menghabiskan sisa malam itu. Dengan kain itu saya mencari posisi di tengah orang-orang yang sudah berbaring di sembarang tempat di sekitar masjid dan perpustakan. Di sebuah tempat kosong, di antara tubuh-tubuh yang terbujur lelap saya membaringkan diri berselimut kain bunga.

Saya bangun ketika matahari sudah naik sehasta dan menyilaukan mata. Meskipun masih ngantuk dan lelah saya mencoba bangun dan menggerakkan badan. Ketika keluar dari bungkjusan kain selimut dan membuka mata saya sedikit heran kanapa orang-orang yang tidur di samping kanan dan kiri saya juga belum bangun. Mereka masih tidur dengan tenang dan nyaris tanpa gerakan. Beberapa detik kemudian saya baru sadar kalau di sana adalah tempat meletakkan jenazah korban tsunami yang sudah ditutp dengan berbagai macam benda, kain, goni, daun, koran dan lain sebagainya. Padahal pagi tad saya ikut mengantarkan jenazah ke sana, namun saya lupa. Semalam fenomena ini tidak nampak karena gelapnya malam sehingga saya tidur di sana bersma mereka. Dan ketika pagi datang saya baru tahu kalau semalam saya tidur diapit oleh jenazah-jenazah korban tsunami. Pantas saya bermimpi masuk surga.

Artikel ini juga dimuat di:
www.sehatihsan.blogspot.com
www.kompasiana.com/sehatihsan

23 December 2009

Manuskrip Yang Tertindas

Kemarin (22/12/09), seharian saya mengikuti seminar pernaskahan Nusantara yang dilaksanakan Oleh LSM PKPM Aceh bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Topik utama seminar ini adalah melihat begaimana perkembangan upaya penyelamatan naskah lama (manuskrip) yang ada di Aceh dan dinusantara pada umumnya. Bagi saya ini menarik karena persoalan manuskrip bukan hanya masalah ilmuan semata, namun juga masalah politik. Kesadaran yang rendah akan manuskrip di kalangan pemerintah menyebabkan banyak kekayaan cagar budaya berbentuk naskah kuno berpindah tangan kepada ilmuan asing dan bangsa asing yang kemudian menyimpannya di perpustakaan negara mereka. Ilmuan Indonesia yang memiliki ketertarikan dengan naskah tersebut atau ada usaha untuk mengkaji berbagai perkembangan sosial dalam sejarah Indonesia harus datang ke luar negeri, ke museum-museum dan perpustakaan di Belanda, Inggris, Amerika, Jepang dan Jerman untuk mendapatkannya.

Dalam seminar terungkap beberapa pengalaman teman-teman yang melakukan usaha penyelamatan naskah kuno di Aceh dan Indonesia umumnya ketika berhadapan dengan sistem kebijakan pemerintah. Misalnya, ketika mereka membutuhkan kertas penempel untuk naskah yang rusak dan bolong, mereka harus memesannya di Jepang. Meskipun Indonesia bisa membuatnya, namun kebutuhan yang sangat sedikit membuat perusahaan tidak mengeluarkan kertas tersebut. Di Jepang, kertas itu mereka beli dengan harga sekitar 5 juta. Namun ketika masuk ke Indonesia, pemerintah mengenakan pajak barang Impor senilai 11 juta. Padahal kertas tersebut jelas untuk kepentingan penyelamatan naskah kuno Indonesia dan bukan untuk kepentingan komersil.

Pengalaman lain adalah kedatangan kolektor ke daerah-daerah, seperti Aceh, Riau dan Padang yang menjadi “gudang” naskah kuno Melayu. Mereka datang dari berbagai belahan dunia, terutama Malaysia, Inggris, Belanda, Jerman dan Amerika. Naskah tua mereka beli dengan harga murah (tapi mahal bagi masyarakat kita). Lalu naskah tersebut dibawa ke negeri mereka. Pihak imigrasi di Bandara tidak pernah mempermasalahkan dan menangkap barang tersebut. Padahal jelas itu termasuk benda cagar budaya yang dijamin penyelamatannya oleh undang-undang. Dengan cara ini maka naskah-naskah lama mulai berpindah ke luar negeri. Saya tidak tahu persis apakah bandara tidak memiliki sistem untuk mengetahui manuskrip yang dibawa keluar atau mereka tidak peduli, apalah arti sebuah buku lama.

Apa akibatnya? Saat ini para cendikiawan Indonesia yang hendak melakukan penelitian mengenai naskah kuno dan perkembangan masyarakat di Nusantara dalam sejarah, harus datang ke negara lain untuk mendapatkan bahannya. Di sana untuk melihat dan mendapatkan focopynya mereka harus membayar mahal. Namun tidak ada pilihan lain karena Indonesia sendiri tidak menjaga dan melestarikannya. Pemerintah nampaknya tidak peduli dengan masalah ini karena pemahaman yang kurang mengenai manuscrip dan kegunaannya. Sampai sekarang, setelah dimulai tahun 2003, Perpustakaan Nasional baru menyelesaikan restorasi (penyelamatan) sekitar 1300 naskah kuno (termasuk peta dan surat). Padahal indonesia adalah gudang bagi manuskrip kuno tersebut. Dengan pola kerja seperti sekarang Perpusnas butuh waktu 150 tahun untuk menyelesaikan semua naskah yang tersedia.

Alhamdulillah, belakangan ini ada sebuah keinginan baik dari berbagai negara lain untuk “mengembalikan” manuskrip Indonesia. Pengembalian ini bukanlah dalam bentuk fisiknya, sebab hal ini tidak mungkin, selain mereka tidak mau, Indonesia pasti belum siap untuk mejaganya. Mereka akan mengembalikan dalam bentuk digital. Untuk manuskrip Aceh di Belanda sudah dilakukan tahun lalu. Semua manuskrip Aceh bisa diperoleh secara online di www.acehbooks.org. Kita masih menunggu “kebaikan hati” negara lain untuk melakukan hal yang sama sehingga sejarah bangsa kita bisa dikaji oleh naka Indonesia sendiril

Agaknya diperlukan sebuah badan khusus untuk mpenanganan Naskha dan manuskrip kono di Indonesia. Kalau pemerintah membuat Badan Arkeologi Nasional, seharusnya ada juga Badan Manuskrip Nasional, agar manuskrip hasil karya bapak bangsa yang ratusan tahun yang lalu dapat diselamatkan dan dipelajari kembali.

Semoga.

Memori Tsunami: Amal dan Ilmu (2)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
------------------------------------------
Sukses menyelamatkan diri dari kejaran Tsunami ternyata bukan akhir dari pejalanan hari itu, malah sebaliknya, awal dari semua perubahan yang saya alami sampai saat ini. Saya berlari lebih kurang 1,5 km dari rumah sampai benar-benar selamat dari amukan gelombang. Di Darussalam, tepatnya di lokasi kampus Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, ternyata banyak orang berkumpul. Sebab di sanalah ujung dari gelombang dahsyat itu. Saya berjumpa dengan banyak teman yang juga “berhasil” menyelamatkan diri. Saat bertemu kami bercanda, tertawa, mengisahkan kehebohan yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Sama sekali saya, dan juga beberapa teman, tidak sadar ini adalah sebuah peristiwa besar yang mengubah sejarah Aceh dan mungkin juga sejarah Indonesia.

Sampai tiba-tiba kami dihebohkan dengan sekelompok orang yang mengangkat sesosok jenazah laki-laki telanjang dari dalam air yang masih tergenang. Orang-orang berkerumun menyaksikan jenazah itu. Mungkin sebagian ingin tahu itu jenazah siapa, namun banyak pula yang hanya ingin melihat saja kondisi jenazah yang tidak lazim itu. Sebelum semua orang dapat melihat, dari arah lain sudah terdengar kabar ada jenazah yang lain lagi, dan bagitu seterusnya. Muka-muka senang dan penuh canda yang kami perlihatkan sebelumnya mendadak kecut dan takut. Saya berjalan agak ke Barat, dekat Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Di sana ada sebuah jalan yang mengarah ke dalam lautan air gelombang yang sedang surut. Tiba-tiba seorang perempuan setengah telanjang, berkulit putih, sedikit gemuk dan agak pendek diangkat dari air. Itu persis seperti ciri-ciri adik perempuan saya. Tiba-tiba jantung saya berdetak cepat. Saya lupa diri dan kalut. Tidak peduli dengan air gelombang yang surut dengan begitu deras, saya masuk dan berenang. Niat hati hanya satu, memastikan kondisi tiga orang adik perempuan saya plus dua adik sepupu yang tinggal di desa Rukoh, sebuah desa yang turut hancur terkena tsunami.

Saya berusaha berenang dan sesekali berjalan mengarungi air gelombang yang sedang surut. Tempat di mana saya berjalan pada dasarnya memang sebuah jalan umum, namun gelombang lautan yang naik tiba-tiba menjadikannya sebagai sebuah sungai. Saya berusaha terus berjalan dan sesekali berenang. Setelah 100 meter saya lalui, air sudah mulai mengering hingga menjadi selutut. Saya bisa berjalan lebih cepat ke arah rumah adik saya meskipun dengan sebuah perjuangan keras karena air surut yang sangat deras.

Perjalanan itu menimbulkan kesan yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan. Untuk pertama kali, saya melihat beberapa jenazah tersangkut di pagar dan di dalam mobil. Sebuah mobil angkutan yang penuh sesak dengan penumpang terbalik ke selokan di pinggir jalan dengan seluruh penumpang di dalamnya tewas menggenaskan. Banyak jenazah tertutup lumpur dan hanya terlihat bagian tertentu dari badannya. Kebanyakan jenazah itu terbuka pakaiannya hingga telanjang. Mungkin ganas dan putaran air yang sangat kuat menjadikan semua yang melekat pada tubuh mereka lepas dan hilang. Saya juga melihat beberapa potongan tubuh yang tidak utuh. Di atas sebuah sampah yang menumpuk saya lihat sebuah potongan tangan yang badannya sama sekali tidak ada di sana. Belum lagi beberapa peralatan rumah tangga masyarakat yang berhamburan ke tengah jalan. Mobil, motor, kulkas, mesin cuci, dispenser, kompor gas, gas kompor, semuanya berserakan di tengah dan sekitar jalan yang saya lalui.

Tapi saya tidak bisa peduli dengan itu semua karena pikiran dan perasaan saya masih berkecamuk. Bagaimana nasip adik-adik saya? Dengan kondisi yang saya saksikan di sepanjang jalan, membuat saya semakin khawatir nasib mereka. Saya terus berjalan hingga sampai di ujung jalan, di mana ada tiga asrama mahasiswa Unsyiah berlantai tiga yang penuh sesak dengan manusia. Saya mencoba menuju ke sana, sebab bangunan itu tidak jauh dari rumah kosan adik saya. Ketika saya masuk ke pagar halaman yang di sisi kirinya tersangkut mayat seorang bapak tua, sebuah suara serak penuh tangisan memanggil saya dari lantai dua. Saya kenal pasti dengan suara itu, dan itu adalah adik perempuan saya. Setetes air mata meleleh di pipi saya. Setidaknya satu orang pasti selamat. Lalu saya bergegas naik ke lantai dua bangunan yang penuh sesak itu. Alhamdulillah, saya berjumpa dengan tiga orang adik perempuan saya dan dua adik sepupu. Mereka semuanya selamat. Hanya saja rumah dan semua isinya hancur lebih diterjang tsunami. Saya teringat dua lemari buku yang berisi lebih kurang 600 judul buku plus makalah, majalah, jurnal, kliping, dll yang saya “titip” di rumah mereka. Semuanya wa’fuanna, innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Renungan:


Saya kalang kabut, tidak hati-hati dan ceroboh. Perasaan sedih dan duka membuat saya bertindak tidak hati-hati. Saya “terjun” ke dalam air begitu ingin tahun kondisi adik saya. Padahal saya hanya punya pakaian di badan satu-satunya dan handphone di dalam kantong. Saya juga masuk ke dalam air yang masih deras. Saya bertindak tanpa ilmu. Handphone saya sebenarnya sudah selamat, namun ia menjadi korban kecerobohan saya. Untung saya selamat dalam air surut yang di tempat lain memakan banyak korban. Seharusnya saya sedikit berfikir dan tenang sebelum bertindak.

Bagian I

22 December 2009

Memori Tsunami: Ilmu dan Amal (1)

Artikel ini saya tulis untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------------------------------------------------
Pagi itu saya bangun agak awal dari biasanya. Maklum minggu, jatahnya olahraga bagi kebanyakan anak kos di tempat saya. Saya dan beberapa teman kosan yang lain bermain bola di depan rumah kontrakan kami yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Saat kami asyik dengan sikulit bundar, berteriak, berlarian, tiba-tiba sebuah getaran dari pusat bumi datang, disusul dengan ayunan tanah yang maha dahsyat. Pepohonan yang ada di sekitar rumah bergoncang layaknya ditiup sangkakala kiamat. Kami menjauh dari pepohonan dan duduk berkerumun di tengah halaman sambil memandang pohon yang berayun. Takut kalau-kalau tumbang ke arah kami. Dari lidah kami keluar ucapan: “lailaha illallah” berulang-ulang. Meudo’a oh wate saket, Meuratep oh wate geumpa, kata orang Aceh. Sindiran untuk orang yang menyebut nama Allah hanya pada saat sakit dan dalam bencana.

Sepuluh menit kemudian gempa berhenti. Dari wajah kami terpancar rasa ketakutan, kekhawatiran, was-was dan berbagai macam perasaan lain yang tak tergambarkan. Saya, selain orang yang paling tua dan paling lama tinggal di sana, juga yang paling “senior” menjadi tempat teman-teman bercerita perasaannya. Kami berkerumun di bawah pohon akasia yang masih teguh berdiri dan mulai bertukar cerita tentang perasaan mereka diguncang gempa selama sepuluh menit. Tidak semua, beberapa diantaranya mengejar sarang burung yang jatuh dari pohon kelapa. Ada anak burung yang masih kecil jatuh dari sana. Katanya itu burung tiong meuh (tiung emas – maaf kalau bahasa indonesianya keliru) yang bisa dijual mahal kalau sudah mulai tumbuh bulu dan mulai bisa terbang.

Kebetulan saya punya sedikit pengetahuan tentang tsunami. Saya becerita kepada teman-teman mengenai berbagai peristiwa tsunami yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, misalnya Bayuwangi. Tsunami adalah naiknya air laut ke daratan sampai jauh. Hal semacam ini sering terjadi di Jepang. Biasanya tsunami terjadi setelah gempa besar melanda. Ada banyak penyebab kenapa ini terjadi. Diantaranya adalah terjadinya sebuah retakan di dasar lautan yang menyebabkan air masuk ke dalamnya, lalu ketika air penuh maka terjadi gelombang balik ke daratan dan akan menghancurkan kehidupan di sana.

Saya ingat bagaiamana teman-teman saat itu menyimak apa yang saya katakan dengan hati-hati. Mereka paham bahwa itu adalah sebuah realitas yang alami dan terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Pelajaran penting yang kami catat bahwa gempa dan tsunami bukan karena Tuhan sudah mulai bosan apalagi marah dengan apa yag dilakukan anak manusia di bumi-Nya, namun itu adalah bagian dari cara Dia mengatur tata kehidupan bumi agar semakin stabil dan berjalan lancar.

Itu hanya lima belas menit. Saya kemudian mandi dan mengganti baju. Rencananya saya akan pergi ke rumah paman karena ada sedikit pekerjaan yang harus saya lakukan. Sepuluh menit menunggu angkot tapi tidak juga kunjung datang. Tiba-tiba dari arah jembatan Lamnyong, 100 m dari tempat saya berdiri, orang-orang berkerumun mengatakan kalau air laut naik ke darat. Lari…. larii…. air laut naiik…. Teriakan itu diulang-ulang. Saya bukannya lari menjauh tapi justru lari ke jembatan. Penasaran bagaimana wujud air laut yang naik ke darat tersebut. Namun langkah saya terhalang oleh gerombolan besar manusia yang lari menjauh.

Saya bergegas kembali ke rumah. Saya ingat di dalam tas saya ada kunci toko teman yang saya pinjam dua hari sebelumnya saat saya ingin mengetik di komputernya. Saya berniat mengambil kunci tersebut, siapa tahu bisa menyelamatkan orang ke dalam toko kalau-kalau airnya besar. Bergegas pulang dan masuk ke dalam kamar lalau mengambil kunci. Saat keluar saya melihat sebuah gelombang hitam pekat, tinggi dan kekar, seolah ingin mencengkram semua benda di depannya, membawa kayu, papan, seng, droum, sampah segala jenis, berlari kencang mengejar saya. Saat itu, dengan kekuatan entah dari mana, saya lari menjauh. Saya tidak bisa lagi sampai ke pintu keluar pagar komplek karena terlalu jauh. Sehingga terpaksa langsung melompat pagar kawat berduri yang berada lima meter dari tempat saya berdiri. Wallahu’a’lam. Entah dari mana tenaga, pagar setinggi satu meter setengah itu berhasil saya lewati. Hanya sebuah goresan memanjang di kaki saya (saya baru sadar tiga hari kemudian) terkena duri pagar. Saya lalu main kejar-kejaran dengan gelombang hitam. Ada jarak 10 meter di antara kami. Namun kekuatan gelombang yang semakin melemah dan akhirnya pecah membuat pelarian saya tidak terlalu jauh. Inilah yang kemudian disebut tsunami.

Renungan:


Saya sedih dan kecewa, kenapa pengetahuan saya mengenai tsunami tidak menggerakkan saya untuk mengajak masyarakat mengungsi dan lari. Saya hanya bercerita tapi tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan saya. Andai waktu itu apa yangs aya ketahui saya sampaikan kepada banyak orang, mungkin akan lebih banyak lagi orang yang terselamatkan, atau setidaknya akan banyak barang berharga bisa diselamatkan pemiliknya.

Bersambung ke Bag.II: Memori Tsunami: Amal dan Ilmu (2)

20 December 2009

Tasawuf Gaul

Tiba-tiba saya ingat cerita seorang teman yang dulu kuliah di UIN Jakarta tahun 1998, beberapa bulan setalah Sueharto lengser. Dalam sambutan pelepasan jenazah Prof. Harun Nasution, Pjs. Rektor UIN Jakarta, saya lupa nama beliau, mengatakan: “Pak Harun ini Sufi, tapi beliau Shalat.” kalimat pendek ini menimbulkan dua pertanyaan: pertama, memang kalau sufi tidak shalat? kedua, apakah seseorang yang melakukan shalat tidak bisa jadi sufi?

Dalam belantara wacana pemikiran keislaman, tasawuf sering kali diposisikan sebagai ajaran yang meninggalkan berbagai ajaran islam “biasa” dan melakukan hal-hal yang tidak biasa. Hal yang tidak biasa adalah menunjukkan perilaku yang bagi normalnya ajaran agama adalah sesat dan tidak sesuai dengan kaidah kesilaman. Oleh sebab itu sering kali para sufi dianggap sebagai pembawa aliran sesat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. Dalam sejarah kita bisa lihat bagaimana sufi dan fuqaha salaling klaim kebenaran dan tidak mau melakukan dialog untuk kebaikan kehidupan beragama. Pandangan demikian tentu saja kurang bijak, sebab selain bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri yang menempatkan kebebasan berfikir di atas segalanya, tasawuf dan para sufi juga sama sekali bukan orang yang meninggalkan ajaran Islam syariat.

Kalau kita lihat asal kata dan asal munculnya, sufi adalah mereka yang dengan semangat yang kuat ingin menjadikan hidup dan segala aktifitasnya sebagai cara menunju Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semua yang ia lakukan, selama ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran agama dan kebaikan universal, maka itu bisa dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah yang dilakukan para sufi. Setiap gerah dan pemikiran yang ada padanya, setiap potensi yang ia miliki, setiap masalah yang ia terima, setiap apapun yang terjadi padanya, maka itu adalah sarana menunju kepada Tuhan. Ia menghadirkan Tuhan dalam pekerjaaan, dalam pemikiran, dalam wacana, dalam aktifitas yang ia lakukan.

Untuk konteks modern saat ini maka sufi bisa hadir dalam diri setiap orang selama ia melakukan sesuatu dengan landasan keinginan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya sangat yakin sufi bisa berwujud dalam seorang pekerja kantoran, pedagang, penguasa, pengajar, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan semua orang. Hanya sata yang mereka butuhkan yaitu kesadaran dan keinginan mempersembahkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhan dan kehidupan manusia. Sebab kehidupan manusia yang baik juga sebagai sebuah amanah dari Tuhan. Dalam konteks ini maka sufi pasti shalat dan orang yang rajin shalat pasti bisa jadi sufi. Sufi pasti berbuat untuk kebaikan sosial dan masyarakat dalam bentuk apapun dan bagaimanapu, dan mereka yang berbuat untuk kebajiakan pasti bisa jadi sufi. Dan mereka inilah yang saya namakan dengan Sufi Gaul.

09 December 2009

Peluncuran Buku itu Perayaan

Ada satu hal menarik dari peluncuran buku "Perempuan Dalam Masyarakat Aceh: Memahami Beberapa Persoalan Kekinian" yang dilaksanakan Aceh Research Training Institute (ARTI) tadi pagi. Peluncuran adalah perayaan atas sebuah usaha yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan buku tersebut. Ini sedikit berbeda dengan kebiasaan peluncuran yang saya ikuti selama ini di mana peluncuran sekaligus sebagai forum diskusi dan perdebatan. Perbedaan sedikit ini bermakna besar. Sebagai sebuah perayaan maka peluncuran adalah ajang di mana semua orang yang hadir di sana bergembira atas terwujudnya sebuah buku. Sebaliknya, jika peluncuran adalah sebuah ajang diskusi maka forum akan menjadi tempat di mana penulis mendapatkan kritikan atas karyanya pada hari pertama hasil karya itu dipublikasi.

Bagi saya ini menarik karena menyangkut dengan penghargaan terhadap kerja keras. Selama ini peluncuran buku disertai dengan kritik 7C yang diajukan kepada penulisnya; cover, content, color, construc, comment, (apalagi? saya lupa). Padahal hari itu adaalh hari pertama secara resmi buku itu beredar. Uniknya lagi orang yang mengkritik belum membaca buku itu secara keseluruhan. Umumnya mereka baru mendapatkan pada hari ketika acara itu dilakukan. Namun dengan "semena-mena" mereka menyatakan buku itu belum sempurna dan masih perlu diperbaiki.

Apakah ada karya yang sempurna? semua karya adaalh sebuah proses. Kesempurnaan adaalh milik Tuhan. Sebuah karya lahir dari sebuah kerja keras yang dilakukan penulisnya berbulan-bulan dengan pengorbanan yang tidak sedikit, uang, waktu, perasaan, keluarga dan lainnya. Sangat menyedihkan melihat mereka, sipenulis, tertunduk lesu pada hari pertama hasil kerja kerasnya dipublikasikan.

Ke depan saya pikir model peluncuran ini layak dicontoh. Semua orang yang hadir dalam peluncuran buku akan memberikan pujian kepada penulisnya dan mengungkapkan kebanggaannya atas keluarnya karya itu. Sebuah pujian yang tulus dan iklas akan memberikan motivasi kepada sipenulis untuk terus berkarya dan berusaha mewujudkan karya yang lainnya. Sebaliknya sebuah kritikan, meskipun itu dibalut dengan kritikan positif yang membangun, tetap saja menyisakan duka kepada penulis bahwa apa yang dilakukannya belum layak publish. Padahal belum tentu orang yang mengkritiknya telah melakukan usaha yang sama dengan apa yang dilakukan si penulis.Meunan kira-kira.

08 December 2009

Info Hot!!! Konferensi Aceh dan Nasional

Saya mendapatkan dua buah konferensi menarik yang akan diadakan oleh dua lembaga berbeda pada tahun 2010 mendatang. Satu diadakan oleh Malaysian Aceh Student Association (MASA)-UPM, bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia (UPM) dan yang satu lagi oleh Universitas Paramadina. Kedua konferensi ini terbuka untuk umum. Untuk konferensi Aceh tidak dipungut biaya, hanya mendaftarkan makalah saja dan panitia akan menyeleksi makalah mana yang akan diikutkan dalam konferensi. Sementara konferensi di Jakarta oleg Paramadina dipungut biaya Rp. 600.000,- dan biaya transportasi ditanggung sendiri oleh pemakalah. Ini adalah dua kesempatan yang menerik bagi intelektual muda di aceh.


Aceh Development International Conference
Konferensi ini akan dilaksanakan oleh Malaysian Aceh Student Association (MASA)-UPM, bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia (UPM. Ada tiga tujuan yang ingin dicapai:
1. Mempertemukan berbagai fihak yang tertarik untuk melakukan penyelidikan dan kajian tentang perubahan di kawasan terkena musibah Tsunami khasnya Aceh.
2. Memberikan sarana untuk membentangkan hasil kajian dan penyelidikan yang pada saatnya akan disampaikan kepada fihak pemerintahan Aceh.
3. Menjadikan forum silaturrahmi bagi pemikir pemikir untuk bertukar pengalaman dan mencadangkan kegiatan kegiatan bermanfaat dimasa yang akan datang.


Untuk itu panitia mengundang semua pihak untuk memberikan bantuan dan sumbangan pemikiran menurut kepakaran masing-masing. Hasil kajian masyarakat akademik tentang Aceh di Malaysia perlu dikumpul dan "diterbitkan". Beberapa bidang kepakaran yang akan dikaji didalam konferensi ini antara lain berkaitan dengan:

1. Konsep Pembangunan Beracuankan Ajaran Islam
2. Perancangan Bandar dan Kampung
3. Pembangunan Pendidikan, Budaya dan Adat
4. Perancangan Sistem Pengangkutan dan Fasilitas Am
5. Perancangan Sistem Perumahan, Office dan Pelayanan Masyarakat
6. Pembangunan Sistem Pentadbiran, Birokrasi dan Hubungan Antara Bangsa
7. Pembangunan Infrastruktur, Telekomunikasi danTeknologi Termaju
8. Bidang Pertaniandan Teknologi Makanan
9. Bidang Penternakan, Kesihatan Haiwan dan Perubatan Veteriner
10. Bidang Perikanan, Kelautandan Pesisir
11. Bidang Pelancongan (Wisata) dan Promosi Daerah
12. Bidang Teknologi Maklumatdan Komputerisasi
13. Bidang Teknik, Kajian Alam Sekitar, Industridan Automotive
14. Bidang Kewirausahaan, EkonomidanPerbankan
15. Bidang Wanita, KeluargadanAnak.
16. Bidang Kesihatan, FarmasidanPsikologi

Waktu pelaksanaan adaalh sebagai berikut:

04 December 2009 : 1st Announcement
01 Februari 2009 : Final of abstract submission
01 Mac 2009 : Final of full paper submission
05 Mac 2009 : Notification of full paper acceptance
20 Mac 2009 : Last date for registration
26 - 28 Mac 2009 : Conference

Untuk lebh lengkap silakan kunjungi web resmi panitia


Konferensi Nasional "Menuju Pembangunan Berkelanjutan Indonesia: Pemberdayaan Kompetensi Lintas Studi" - 16 Juni 2010


Dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-14, Universitas Paramadina menyelenggarakan Konferensi Nasional "Menuju Pembangunan Berkelanjutan Indonesia: Pemberdayaan Kompetensi Lintas Studi"

Waktu Pelaksanaan:
Hari/Tanggal : Rabu, 16 Juni 2010
Pukul : 08.00-21.00 WIB
Tempat : Auditorium Nurcholish Madjid
Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav 97
Mampang, Jakarta 12790

Peserta:
Akademisi, peneliti, mahasiswa dan praktisi dari multidisplin

Biaya Pemakalah:
Rp. 500.000,-/makalah/1 penulis
Rp. 650.000,-/makalah/>1 penulis
Makalah tambahan untuk penulis yang sama Rp. 100.000,-/makalah/peserta

Biaya Non Pemakalah:
Umum: Rp. 200.000/orang
Mhs S1/S2/S3: Rp. 100.000/orang

(Biaya termasuk proceeding (CD dan hardcopy), seminar kits, coffeebreak, makan siang dan gala dinner)

Batas Waktu:
Batas waktu penyerahan makalah lengkap 31 Maret 2010
Pengumuman makalah terseleksi 20 April 2010
Batas registrasi dan pembayaran 31 Mei 2010

Topik-Topik Makalah:

Teknik Informatika
• Network Technology (TI 1)
• IT Good Governance : Quality Assurance, IT Audit (TI 2)
• Knowledge Management (TI 3)
• Mobile Technology (TI 4)
• Multimedia Application (TI 5)

Komunikasi
• Budaya dan Media Baru (IK 1)
• Media Baru: Implikasi Teoritis dan Metodologis (IK 2)
• Hukum dan Etika Media Baru (IK 3)
• Media Baru dan Masa Depan Media Lama (IK 4)

Psikologi
• Psikologi Positif dan Kepemimpinan (PS 1)
• Kearifan Lokal dan Antikorupsi (PS 2)
• Perbedaan Individual dalam Kewirausahaan (individu,
interpersonal, sosial) (PS 3)
• Etika dalam Modernisasi (PS 4)

Manajemen
• Green Business (MJ 1)
• Good Governance (MJ 2)
• Leadership (MJ 3)
• Entrepreneurial Orientation (MJ 4)

Hubungan Internasional
• Kepemimpinan Indonesia dalam ASEAN (HI 1)
• Peran Sektor Swasta dalam Pembangunan Negara-Negara ASEAN (HI 2)
• Pluralisme dan Demokrasi dalam Kehidupan Berbangsa di Negara-
Negara Anggota ASEAN (HI 3)
• Islam dan Peradaban: Politik Identitas Negara-Negara Asia
Tenggara (HI 4)

Falsafah dan Agama
• Islam, budaya dan kearifan-lokal di Indonesia (FA 1)
• Islam, nasionalisme & gerakan-gerakan transnasional (FA 2)
• Islam, terorisme & strategi penanggulangan (FA 3)
• Islam, etos kerja & pembangunan(FA 4)

Desain Produk Industri
• Eko-Design (DP 1)
• Desain dan Ekonomi Kreatif (DP 2)
• Kebijakan Strategis Desain (DP 3)
• HaKi Desain Industri (DP 4)

Desain Komunikasi Visual
• Strategi Brand UKM (DKV 1)
• Etika Visual Desain (DKV 2)
• Ekonomi Kreatif (DKV 3)
• Enterpreneurship dalam Pendidikan Desain (DKV 4)
• HaKi Desain Komunikasi Visual (DKV 5)

Format penulisan :
- Semua penulisan merupakan hasil pemikiran orisinil, yang belum
dipresentasikan atau dipublikasikan.
- Makalah ditulis dalam Bahasa Indonesia.
- Abstrak dalam Bahasa Indonesia dan Inggris tidak lebih dari 200
kata
- Penulisan makalah, jenis font: Times New Roman, ukuran font 12,
1 spasi dan tidak lebih dari 15 lembar (termasuk daftar pustaka
dan lampiran). Margin atas dan kanan 3 serta margin bawah dan
kiri 4

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi sekretariat panitia:

Dewi Kurniaty/ Putri Yuriko

Universitas Paramadina
Jl Gatot Subroto Kav 97 Mampang 12790
Telp : 021-79181188 ext. 152
email: konferensinas2010@paramadina.ac.id


Paulo Coelho si Penyihir Sesat

Bagaimana menemukan keberanian untuk senantiasa jujur pada diri sendiri--bahkan pada saat kita tak yakin akan diri kita? Itulah pertanyaan utama dalam karya penulis bestseller Paulo Coelho, Sang Penyihir dari Portobello. Seperti halnya Sang Alkemis, karya Coelho yang telah diterjemahkan kedalam 64 bahasa di dunia, kisah Sang Penyihir dari Portobello ini memiliki kekuatan untuk mengubah sudut pandang para pembacanya mengenai cinta, gairah, suka cita, dan pengorbanan. Ini pula yang menjadikan saya tertarik untuk membaca buku yang satu ini. Dengan keterbatasan dalam bahasa Inggris, saya membaca edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Gramedia.


Di buku Sang Penyihir dari Portobello ini Coelho menamakan tokoh utamanya dengan Athena. Athena memiliki daya spiritual yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Athena lahir dari rahim seorang Gipsi di Rumania. Saat berumur kurang dari 3 bulan ia diadopsi oleh sebuah keluarga kaya asal Beirut yang sudah lama tidak memiliki anak. Ia dibawa pulang ke negeri di Timur Tengah tersebut dan diberi nama Sherine Khalil. Namun atas saran seorang familinya yang sepertinya tahu bahwa nama berbau Arab akan membawa masalah kelak kemudian hari, mereka memanggil gadis ciliknya dengan sebuah nama yang cenderung netral; "Athena"; merujuk pada dewi kebijaksanaan, kecerdasan, dan peperangan bagi orang Yunani.

Dari kecil Athena ’berbeda’ dari gadis lainnya. Ia punya kecendrungan religius yang kuat, mengatakan dirinya dikelilingi sekumpulan teman tak terlihat, dan meramalkan perpecahan panjang di Beirut. Ramalan itu menjadi kenyataan, lalu dia bersama keluarga pun migrasi ke Inggris, menikah di usia muda, bercerai dan menjadi single mother dari satu putra hasil pernikahannya.

Fokus cerita yang dipaparkan Coelho adalah tentang Athena yang terus mencari ’ruang kosong di dalam diri’ sampai ia menemukan sebuah cara mendapatkan ketenangan yakni dengan tarian. Tarian yang dilakukan dengan gerakan tertentu diiringi dengan musik tertentu membawanya pada kondisi trans. Trans adalah situasi di mana ia menemukan dirinya sendiri dalam kebahagiaan dan kekuatan untuk mempengaruhi orang lain.

”......Menarilah dengan hanya diiringi suara perkusi; ulangi prosesnya setiap hari; ketahuilah bahwa, pada momen tertentu, matamu akan terpejam secara amat alami, dan kau akan mulai melihat cahaya yang datang dari dalam, cahaya yang menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dan membangun kekuatanmu yang tersembunyi,” demikian kata Pavel Podbielski, pemilik apartemen di mana ia tinggal. Pria imigran Polandia ini membuat Athena paham untuk pertama kalinya bahwa menari bisa membawanya pada kepuasan spiritual.

Namun pencarian ’ruang kosong dalam diri’ belum berhenti ketika Athena memahami jalan cahaya (Vertex) yang berasal dari tradisi Siberia. Ia memboyong Viorel, sang anak, pergi ke Dubai dan sukses menjadi agen properti. Akan tetapi, keberhasilan secara materi tak pula membawa kebahagiaan. Di kota ini Athena sempat belajar kaligrafi. Dalam kaligrafi ia juga menemukan jalan menuju ketenangan. Sebab setiap gerak dalam kaligrafi mengikuti gerak kosmos yang berpengaruh pada ketenangan. Namun ini juga tidak memuaskannya, hingga akhirnya ia memutuskan menelusuri jejak ibu kandung ke Rumania, yang justru mempertemukan dirinya dengan Edda yang akhirnya menjadi guru spiritualnya.

Athena selanjutnya menularkan ajaran spiritualnya ke penduduk London, dalam bentuk kebijaksanaan universal Hagia Sofia, dan pada akhirnya menimbulkan reaksi pro dan kontra. Ada pengikutnya, dengan tujuan bermacam-macam. Menemukan kebahagiaan, atau sekadar ingin tahu dan minta diramal. Sebaliknya kelompok penghujat menjulukinya sebagai Sang Penyihir dari Portobello.

Hingga suatu hari ditemukan mayat wanita yang identitasnya dikenali sebagai Athena.

Kisah tentang Athena bergulir paska kematiannya, dari penuturan orang ketiga. Heron Ryan, jurnalis yang jatuh cinta pada Athena sejak pertemuan di Rumania. Guru spiritual Athena, Deidre O’Neill atau lebih dikenal dengan nama ”Edda”. Ibu angkat Samira R. Khalil, Andrea McCain (aktris), Sejarawan Antoine Locadour, pemilik apartemen tempat Athena pernah menyewa kamar, dan mantan suami Athena. Masih adapula tokoh-tokoh lain yang sempat bersinggungan dengan wanita yang meninggal sebelum berusia 30 tahun itu.

Darah Gipsi mengalir dalam tubuh Athena yang membuatnya menikmati bunyi-bunyian dan tarian. Ditinjau dari ilmu antropologi kita juga memahami tradisi lama menghormati Dewa, Yang Maha Agung, atau Maha Besar dalam bentuk tarian pemujaan. Misalkan Whirling Dervishes dalam aliran Sufisme. Atau dalam buku ini menyebutkan tentang tari jalan cahaya atau Vertex dari kaum Siberia yang diajarkan oleh Podbielski.

Athena menemukan kedamaian dalam Tuhan yang feminin. Tuhan dalam bentuk ”Dewi” atau ”Ibu” dalam pencarian ibu kandungnya. ”Dewi” yang memberikan sisi wanita yang melindungi kita di saat bahaya, menemani saat kita menjalankan kegiatan sehari-hari dengan penuh cinta dan sukacita. Sekali lagi kita diingatkan akan cinta, sebuah kisah perjalanan menemukan kedamaian spiritual dan pengorbanan atas nama cinta.

Sumber: Ruang Resensi (dengan sedikit perubahan)

04 December 2009

Fatwa Sesat dan Pentingnya Dialog

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara telah menfatwakan “haram” atas sebuah buku yang dikarang oleh Abuya Syeikh H. Amran Wali (Serambi, 26/11/09). Buku tersebut berjudul agak panjang; “Sekelumit Penjelasan Tentang Ajaran Tauhid-Tasawuf Abuya Syeikh H. Amran Waly dan Penjelasan Beberapa Ucapan Abdul Karim al-Jili dalam Kitabnya Al-Insanul-Kamil fi Ma’rifatil-Awakhir wal-Awa’il”. MPU Aceh Utara menganggap isi buku yang hanya sebanyak delapan halaman tersebut memberikan informasi yang dapat menyesatkan aqidah umat Islam di Aceh. Tgk. Ibrahim Bardan (Abu Panton) yang memimpin sidang MPU Aceh Utara juga meminta kepada masyarakat kalau menemukan buku itu agar diberikan kepada MPU untuk dimusnahkan karena dikhawtirkan akan dibaca oleh anak muda yang belum memahami aqidah Islam dengan baik sehingga bisa menyesatkan kehidpa mereka di masa depan.

Membaca berita ini saya teringat sebuah peristiwa di Aceh tiga abad yang lalu pada masa Kesultanan Aceh di bawah pimpinan Iskandar Tsani. Saat itu, Syaikhul Islam, Nuruddin ar-Raniry memfatwakan “haram” bagi sekelompok umat Islam pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Pasee (dikenal pula dengan Syamsuddin as-Sumatrani). Mereka dianggap penganut wahdatul wujud, sebuah ajaran yang dianggap mempersamakan antara Allah sebagai pencipta dengan manusia sebagai ciptaan-Nya. Dengan paham ini maka seorang penganut wahdatul wujud dianggap sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Mereka kemudian difatwakan; “kafir dan halal darahnya.” Bahkan buku-buku karangan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani dikumpulkan di depan masjid raya lalu dibakar. Hal ini dilakukan dengan tujuan ajaran yang dibawa kedua ulama -yang kemudian diagung-agungkan hingga saat ini- tersebut tidak menyesatkan umat Islam dari ajaran Islam yang benar.

Sejarah tuduhan sesat
Tuduhan “sesat” kepada sekelompok ulama dan umat Islam oleh umat Islam lain sebenarnya bukan hanya terjadi di Aceh saja, tetapi telah menghiasi sejarah perkembangan Islam sejak awal munculnya tasawuf, khususnya tasawuf falsafi yang mencoba menguraikan relasi insan dan Tuhan dengan pendekatan filsafat. Korban pertama kasus ini adalah Abu Mansur al-Hallaj, seorang sufi Persia. Ia dituduh oleh ulama lain telah menyebarkan faham sesat dengan ungkapannya: “ana al-haq” yang diterjemahkan dengan “saya adalah Tuhan.” Dengan ajaran ini maka al-Hallaj dianggap telah menyamakan dirinya dengan Allah. Padahal manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sama sekali berbeda dengan Allah itu sendiri. Menyamakan diri (manusia) dengan Allah jelas “aliran sesat” yang menyimpang dari Islam. Akibat ungkapannya tersebut al-Hallaj harus menjalani hukuman berat dengan dipotong bagian-bagian tubuhnya, lalu digantung dan dibakar.

Beberapa abat kemudian peristiwa yang sama muncul lagi. Kali ini yang menjadi korban adalah ‘Ain al-Qudhat al-Hamazani. Saat dijatuhi hukuman “sesat” dan harus menjalani hukuman mati ia masih berumur 33 tahun. Ia dituduh sesat karena ajaran “teomonisme” yang dikembangkannya. “Teomonisme” adalah ajaran yang menganggap segala sesuatu adalah kesatuan al-Haqq. Ini berbeda dengan “monoteisme” yang dianut pada ulama lain yang menganggap Tuhan itu Esa dan tidak ada yang sebanding dengan Dia. Di antara ungkapan yang dikatakan ‘Ain al-Qudhat adalah: “Tidak ada wujud lain kecuali wujud al-Haqq (Tuhan), maka wujud segala bukan di luar wujud al-Haqq, tapi ia (segala sesuatu itu) adalah dia (al-Haqq) juga.” Ungkapan ini dianggap mengindikasikan adanya kesatuan wujud antara manusia dengan Tuhan sehingga dapat membawa kepada kemusyrikan. Dan akibat “ajaran” ini ‘Ain Al-Qudhat al-Hamzani menjalani hukuman mati pada tahun 1131.

Kematian ‘Ain al-Qudhat bukan yang terakhir. Setelah itu masih ada lagi ulama yang difatwakan “sesat” karena ajaran yang dikembangkannya, seperti Syuhrawardi al-Maqtul, Ibnu ‘Arabi dan Al-Jili. Bahkan Imam al-Ghazali pernah menfatwakan “sesat” pada semua filusuf karena ajaran yang mereka kembangkan telah jauh melenceng dari ajaran Islam yang sebenarnya. Fatwa-fatwa sesat ini bukan tanpa implikasi, sebagian dari mereka yang dituduh sesat harus mendekam di dalam penjara, sebagian lain dibunuh dan yang lainnya mendapatkan pencitraan yang buruk sepanjang hidupnya bahkan hingga saat ini.

Kepentingan politik

Kalau kita menganalisa dengan memasukkan tidak hanya ilmu agama namun juga politik, sebenarnya apa yang terjadi pada ulama-ulama yang terbunuh dalam sejarah Islam tersebut tidak hanya karena ajarannya, namun juga karena persoalan politik. Di balik berbagai peristiwa pemunuhan dan penghukuman kepada para ulama ada kepentingan penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Misalnya al-Hallaj, ia dianggap sebagai anggota Qaramithah, sebuah gerakan politik Syiah yang sedang berusah menggalang kekuatan untuk menjatuhkan kekuasaan khalifah yang korup. Gerakan ini semakin besar setelah al-Hallaj melakukan kunjungan ke berbagai daerah Asia Timur. Sepulang dari kunjungan inilah al-Hallaj mulai disorot dengan tuduhan membawa aliran sesat yang kemudanberakhir di tiang gantungan.

Hal yang sama juga terjadi di balik kematian ‘Ain al-Qudhat. Ia dianggap terlalu dekat dengan seorang bendahara kerajaann yang saat itu memiliki potensi untuk menggantikan Sultan, baik secara resmi atau dengan sebuah kudeta. Hal ini tidak disenangi oleh Sultan. Dengan prinsip “teman dari musuhku adalah musuhku juga” maka ‘Ain al-Qudhat menjadi korbannnya. Setelah diasingkan selama beberapa tahun, ia dipenjara dan dijatuhi hukuman mati.

Dalam konteks sejarah Aceh, sebagaimana saya singguh di atas, ketika Nuruddin Ar-Raniry memfatwakan “sesat” kepada murid Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani tidak dapat dilepaskan dari peristiwa politik juga. Pada masa kejayaan Aceh di bawah Iskandar Muda, tokoh ajaran wahdatul wujud sangat dekat dengan penguasa (Iskandar Muda). Hal ini dikhawatirkan akan terjadi pada sultan-sultan yang lain yang membuat apa yang diinginkan ar-Raniry tidak tercapai. Untuk ini perlu upaya yang dapat menghalangi perkembangan ajaran tersebut. Salah satu yang ditempuh Ar-Raniry adalah melobi penguasa (Iskandar Tsani) dengan mengatakan faham wahdatul wujud sebagai aliran sesat.

Apa yang saya sebutkan di atas adalah sebuah dugaan akademik semata. Dengan dokumen yang lain dan kajian yang lebih intens mungkin saja apa yang saya sebutkan itu keliru besar. Namun demikian, sebenarnya, yang ingin saya tegaskan adalah apa yang terjadi di Aceh sebagaimana saya singgung di awal tulisan ini adalah sebuah “pengulangan” peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah Islam sejak dahulu kala. Ia tidak berdiri sendiri dan menjadi peristiwa “unik” sendiri. Di belakangnya sudah ada serangkaian peristiwa yang mirip dan dengan gejala yang hampir sama pula.

Perlu dialog
Sebagai orang beriman dan berilmu maka sudah seharusnya kita mengambil ‘itibar dari segenap peristiwa masa lalu tersebut untuk kebaikan kita bersama. Kerena itu saya sangat setuju dengan apa yang ditawarkan oleh Abu Panton agar pemerintah memfasilitasi sebuah dialog antara Abuya Amran Waly dengan ulama lain di Aceh dan bahkan dengan masyarakat umum. Hal ini diperlukan agar apa yang beliau ajarkan tidak disalahpahmi oleh masyarakat. Bahkan kalau tidak difasilitasi oleh pemerintah sekalipun, saya -mungkin juga umat Islam di Aceh lainnya- berharap agar para ulama dapat duduk bersama dengan hati terbuka dan niat baik agar berbagai masalah keagamaan dapat diselesaikan dengan baik pula.

Sebagai ulama tentu saja kerendahan hati, tawadhu’, sikap terbuka, lapang dada yang mereka tunjukkan akan menjadi teladan bagi umat Islam yang lain, baik di Aceh atau dunia Islam lainnya. Sebab saya sangat yakin baik Abu Panton dan para ulama di MPU Aceh Utara, maupun Abuya Amran Waly, keduanya pasti menginginkan terwujudnya kehidupan beragama yang lebih baik dalam masyarakat Aceh dengan pemahaman tauhid yang benar. Dialog atas keraguan umat Islam di Aceh menjadi penting agar membawa kedamaian dan ketenangan hati. Insyaallah.

Artikel ini dimuat juga di:
http://www.serambinews.com/news/fatwa-sesat-dan-pentingnya-dialog

02 December 2009

Internasional Conference in Jogja: Refleksi

Selama dua hari ini 1-2 Desember, saya mengikuti Internationnal Conference tentang Indonsia di Jogjakarta. Ini adalah conferensi Internasional pertama yang saya ikuti sebagai presenter. Sebelumnya saya pernah ikut beberapa kali, namun hanya sebagai pesarta, itupun menjadi pendengar yang baik. Kali ini saya mejadi bagian dari para akademisi yang mempresentasikan hasil penelitiannya. Sangat menyenangkan karena saya bertemu dengan banyak orang yang memilikiminat yang sama, bukan pada subjek kajian, namun pada semangat belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun saya juga malu, banyak hal yang saya merasa sangat kurang dibandingkan dengan banyak orang yang hadir di sini. Saya menulis ini sebagai sebuah bentuk refleksi untuk pengembangan diri saya di masa depan. Alhamdulillah kalau ini juga bermanfaat untuk teman-teman.

Konferensi ini diikuti oleh peneliti muda dari berbagai belahan dunia yang sedang melakukan penelitian tentang Indonesia dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya Ilmu Sosial. Dari informasi panitia saya mendengar, dari 200 presenter yang mempresentasikan makalahnya, 50 diantaranya adalah orang asing. Namun bukan ini yang menyebabkan forum ini mejadi bermakna, tapi kajian yang dihasilkan oleh peneliti-peneliti muda dari berbagai tempat di dunia menunjukkan sebuah perkembangan sangat berarti dalam dunia akademik Indonesia.

Secara singkat saya bisa sebutkan konferensi ini ....
Bersambung....

17 November 2009

Menakar Dosen Lewat Jurnal


Dua minggu ini saya menghabiskan waktu mengedit tulisan teman-teman dosen yang akan dipublikasikan dalam sebuah Jurlan Ilmiah di IAIN Ar-Raniry. Pekerjaan mengedit memang sedikit membosankan. Namun jika tulisan yang telah diserahkan tidak banyak "masalah," maka mengedit justru menjadi pekerjaan menyenangkan. Seorang editor akan berguru pada tulisan yang sedang dieditnya. Namun jika tulisan yang masuk ke meja editor masih amburadur dan centang prenang, maka bekerja sebagai editor menjadi sangat membosankan dan menjemukan.

Saya tidak yakin sepenuhnya, namun dari beberapa diskusi yang saya lakukan dengan teman-teman di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, mereka mengalami hal yang sama. Sebagai editor mereka harus memperbaiki sendiri tulisan yang masuk ke meja redaksi jurnal. Bukan hanya memperbaiki salah ketik atau tata bahasa, mereka juga harus mengedit substansi, rujukan, bahkan beberapa diantaranya harus membuat satu atau dua paragraf penghubung dalam tulisan yang diberikan.

Kalau tulisannya jelek kenapa diterima? Kenapa tidak dikembalikan kepada penulis? Di sinilah masalah utamanya. Saat ini hampir semua fakultas di sebuah perguruan tinggi memiliki jurnal ilmiah. Belum lagi beberapa lembaga yang ada di perguuan tinggi tersebut juga mengeluarkan jurnal. Jadinya, sebuah perguruan tinggi memiliki jurnal ilmiah berkala yang sangat banyak dibandingkan dengan potensi menulis civitas akademikanya. Di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh saja tidak kurang dari 10 buah jurnal terbit setiap tahun. Kalau terbitnya dua edisi pertahun dengan kapasitas tulisan 9 - 12 buah, maka diperlukan lebih kurang 250 artikel ilmiah setiap tahun. Jumlah ini sebenarnya bukanlah jumlah yang besar dibandingkan dengan jumlah dosen dan karyawan yang ada. Namun melihat semangat dan dedikasi untuk kepentingan publikasi ilmiah yang sangat rendah, maka 250 adalah jumlah yang tinggi.

Kondisi ini menjadikan beberapa jurnal ilmiah di kampus laksana kerakap tumbuh di atas batu. Semangat untuk menghidupkan menggebu-gebu, namun input artikel yang dapat dimuat sangat kurang. Pengurus sering menghubungi lalu menawarkan kepada teman-teman dosen untuk memberikan sebuah tulisan agar dapat dimuat di Jurnal mereka. Dalam kondisi seperti ini maka tidak ada yang namanya seleksi dan kompetisi agar dapat dimuat tulisan di Jurnal, yang ada hanyalah keinginan dan kesempatan untuk menulis. Kalau tulisan sudah ada, dijamin tulisan itu akan langsung dimua.

Kondisi seperti inilah yang kemudian membuat tugas seorang editor bertambah berat. Sebab kebanyakan tulisan yang masuk adalah artikel yang dibuat buru-buru, tidak fokus, dan hanya mengubar kata tanpa memperhatikan kaedah ilmiah untuk membuat artikel akademik yang berkualitas. Seorang editor yang ikut bertanggung jawab untuk mensukseskan agar sebuah jurnal tetap terbit tepat waktu harus mati-matian memperbaiki dan mengedit kembali tulisan sehingga jurnal tersebut layak muat dan dipublikasikan. Si penulis sendiri seolah mempasrahkan tulisannya kepada editor dan hanya menunggu publikasi tulisan tersebut untuk kepentingan mengurus pangkat.

Namun terkadang sedih juga menyaksikan beberapa artikel yang masuk. Beberapa kesalahan seharusnya tidak terjadi jika penulisnya memang serius ingin menulis. Saya contohkan; tidak ada abstrak. Ini kan bukan sebuah masalah jika si dosen sadar bahwa di manapun di dunia ini, sebuah artikel ilmiah yang akan diterbitkan di Jurnal harus ada abstrak. Demikian juga dengan referensi, banyak tulisan yang membuat daftar referensi sekedar pajangan buku di halaman terakhir tulisannya padahal buku-buku tersebut sama sekali tidak disinggung di dalam artikel. Lagi-lagi ini bukan masalah kalau si dosen jeli. Anak kecil saja sebenarnya tahu kalau tidak dikutip di dalam tulisan maka ia tidak masuk ke dalam daftar pustaka.

Saya menulis ini bukan hanya karena saya sedikit kesal dengan pekerjaan seperti ini, namun lebih jauh ini adalah potret kebanyakan dosen di Indonesia. Dalam setiap pertemuan yang meilbatkan dosen-dosen seluruh Indoensia kerap mereka memberikan surat yang isinya adalah meminta tulisan untuk dimuat di jurnal mereka. Banyak jurnal yang tidak terbit teratur karena tidak ada tulisan yang masuk. Bahkan beberapa jurnal "mati suri" karena sama sekali tidak ada tulisan yang hendak dipublikasikan. Ini adalah potret semangat menulis dan melakukan penelitian di kalangan dosen yang sangat rendah. Banyak dosen di perguruan tinggi lebih suka dengan pekerjaan yang segera menghasilkan uang.

Sepertinya pemerintah harus tanggap dengan kondisi ini. Program sertifikasi dosen harus lebih diperketat dengan mensyaratkan adanya artikel ilmiah yang berkualitas. Selama ini program sertifikasi dosen lebih banyak menilai hal-hal yang sifatnya administratif belaka, dengan melihat sertifikat seminar atau pelatihan. Padahal, semua tahu, di Indonesia, jangankan selembar sertifikat seminar, uang saja dipalsukan. Kalau hal ini terus berlangsung, maka sampai kapanpun kualitas pendidikan di Indonesia tidak akan meningkat. Dan perguruan tinggi di Indonesia tidak akan pernah masuk menjadi 100 besar perguruan tinggi ternama di Dunia, bahkan mungkin Asia. Lalu kapan Indonesia akan maju? tapek teh....

Catatan:

Kalau dalam tulisan di atas masih ada keselahan ketik dan kualitas bahasa Indonesia yang buruk, maka itu adalah potret editor di Indonesia. Memang sangat mudah menyalahkan orang lain. :-)

Tulisan ini juga dimuat di www.sehatihsan.blogspot.com

10 November 2009

Manuskrip Aceh, So Peuhireun?


Beberapa hari yang lalu (9/10/09) Saya membawa mahasiswa kelas Metodologi Penelitian saya di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh ke Museum Aceh. Saya ingin menunjukkan kepada mereka (sambil saya juga mau belajar lebih banyak) bahwa banyak "masalah penelitian" di Aceh yang belum tersentuh sehingga mereka tidak perlu mengeluh untuk membuat proposal skripsi dengan alasan tidak ada masalah. Salah satu masalah tersebut adalah masalah pernaskahan atau manuskrip Aceh. Secara umum yang dimaksud dengan manuskrip adalah tulisan tangan yang telah berumur lebih dari 50 tahun. Biasanya manuskrip berkaitan dengan ilmu-ilmu tertentu yang hidup dan berkembang pada masa lalu.

Saya sengaja membawa mahasiswa ke sana karena saya tahu Museum Aceh belakangan ini sedang menjalankan program digitalisasi naskah lama dengan bantuan dari pemerintah Jerman. Oleh sebab itu sambil saya juga belajar saya ingin memperkenalkan kepada mashasiswa bahwa Aceh memiliki banyak naskah kuno yang belum tersentuh oleh tangan peneliti Aceh sendiri. Yang datang ke Aceh untuk melakukan penelitian terhadap manuskrip itu justru orang luar Aceh dan dari berbagai negara di dunia. Ini sungguh riskan, di tengah keinginan masyarakat Aceh untuk kembali laiknya kejayaan masa lalu orang Aceh sendiri tidak tahu kejayaan seperti apa yang pernah diraih sejarahnya. Yang ada hanyalah cerita lama yang romantis yang digunakan politisi untuk meninabobokan masyarakat. Saya berharap kunjungan ini menjadi stimulus awal bagi para mahasiswa calon peneliti di masa yang akan datang.

Di Museum kami mendapatkan penjelasan yang sangat banyak dari Bapak Salman dan Bapak Abidin Nurdin, serta beberapa petugas Museum yang sedang bekerja. Mereka adalah orang yang secara langsung terlibat dalam program digitalisasi tersebut. Program ini direncanakan berlangsung sampai akhir desember 2009 ini. Namun menurut pengakuan mereka, dari 1500 manuskrip yang seharusnya dibuat digitalnya, sampai saat ini baru selesai tiga perempatnya. Hal ini tidak lain disebabkan terbatasnya tenaga yang dapat melakukan digitalisasi dan partisipasi masyarakat yang juga rendah dengan usaha ini.

Ada beberapa hal yang menarik dari cerita Salman dan Abidin.Diantaranya adalah perhatian yang rendah dari masyarakat mengenai naskah klasik di Aceh. Selama ini naskah yang ada dalam masyarakat diperjual-belikan dengan bebas. Masyarakat tidak tahu kalau naskah itu adalah barang berharga yang bukan hanya memiliki nilai ekonomi, namun juga nilai sejarah. Mereka yang tidak tahu menjual naskah tua yang ada di rumahnya kepada agen yang selama ini memang bergerilya di kampung-kampung mencari naskah lama tersebut. Padahal kalau mereka tahu, naskah itu dapat menggambarkan kondisi masyarakt kita dalam sejarah masa lalu.

Kondisi ini diperburuk dengan perhatian yang mminim dari pemerintah mengenai naskah klasik ini. Pemerintah tidak menjadikan upaya penyelamatan naskah sebagai salah satu program penting. Padahal mereka selalu mendengungkan bahwa kemajuan Aceh masa lalu layak menjadi acuan bagi kemajuan Aceh masa kini. Tanpa menyelamatkan naskah, mustahil kita tahu bagimana kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Aceh masa lalu.

Saat ini ada 1500 naskah yang sedang dibuat digitalnya atas bantuan pemerintah Jerman. Sebuah harga scaner khusus untuk digitalisasi naskah berharga Rp. 400 juta. Scaner ini mampu menrekam secara detail tulisan-tulisan yang ada di kertas lapuk tersebut. Dengan melakukan scan terhadap naskah, maka content naskah akan dapat diselamatkan dalam waktu yang lama. Museum Aceh mempublish hasil scaning itu di website khusus untuk manuskrip.Hal ini dimaksudkan agar ilmuan internasional dapat mengakses dan tertarik untuk melakukan penelitian mengenai naskah lama Aceh tersebut.

Tentu saja, tanggung jawab mengungkap berbagai misteri di balik naskah lama itu ada di tangan kita, terutama orang Aceh sendiri. Ada banyak hal yang dapat diungkap dari naskah-naskah itu. Banyak ulama yang belum kita kenal padahal ia memiliki karya. Selama ini kita hanya mengenal ualama Aceh dalam sejarah Aceh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Ar-Raniry dan Abdurrauf. Padahal masih banyak ulama lain yang tidak kalah cerdas dan berpengaruh yang hidup pada masa itu dan memiliki sejumlah karya. Hanya dengan sebuah penelitian kita akan mengungkapkan hal itu.

saya sangat berharap, dari 20-an orang mahasiswa yang saya bawa ke sana, salah satunya tertarik dengan penelitian manuskrip klasik itu. Sampai saat ini belum ada orang Aceh yang ahli dalam hal ini. Beberapa tema yang pernah mengikuti pelatihan penelitian naskah juga tidak mendalaminya secara serius. Ini memang ilmu "kering" jika dibandingkan dengan ekonomi, teknik, kedokteran, dll. Namun kalu kita menjadi "the best" dalam bidang itu saya yakin dari sisi kepuasan intelektual dan materi tetap akan kita peroleh.