Showing posts with label Etnografi. Show all posts
Showing posts with label Etnografi. Show all posts

17 July 2011

Di Aceh, Setiap Hari Ada yang Dipancung!

Heboh pemancungan seorang TKW di Arab Saudi masih menyisakan pilu bagi banyak warga Indoensia, baik yang ada di Arab Saudi atau yang berada di Indonesia. Bahkan pemerintah dibuat repot dengan masalah ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menjawab pertanyaan, tudingan, keluhan banyak masyarakat. Tapi sebatas itu, mereka tetap tidak melakukan apapun untuk menyelematkan “Ruyati” lain yang akan ikut dipancung juga.

Beda dengan di Arab yang suka memancung manusia, di Aceh yang dipancung adalah kopi. Bukan batang kopi atau biji kopi, tapi takaran minum kopi. Di warung kopi, di mana-mana seluruh Aceh anda bisa pesan yang namanya kopi pancung. Semua orang tahu. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “kupi pancong”, atau “kupi sikhan”.

Kupi pancong sama saja dengan kopi lainnya. Ia disebut “pancong” karena isinya yang tidak penuh satu gelas. Paling setengah gelas atau bahkan kurang. Rasa dan aromanya juga sama saja. Ia juga dibuat dari bubuk yang sama, diolah dengan cara yang sama dan disajikan dengan cara yang sama pula. Hanya karena isinya yang setengah, ia disebut kopi pancong.

Meskipun kupi pancong adalah hal yang lumrah dalam masyarakat, ada filosofi besar yang dikandungnya terkait dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh secara keseluruhan. Kupi pancong dipesan karena seseorang biasanya tidak bisa (atau tidak dibolehkan) minum kopi terlalu banyak karena terkait dengan masalah penyakitnya. Yang lain merasa tidak mau minum kopi terlalu banyak hingga memesan setengahnya saja. Ada juga yang tidak memiliki cukup uang sehingga ia memesan kopi pancong agar harganya lebih murah dari kopi biasa.

Namun terkadang kopi pancong juga terkait dengan sikap malas dan budaya santai dalam masyarakat Aceh. Ada ungkapan, “kupi sikhan glah, peh bereukah lua nanggroe.” (minum kopi hanya setengah gelas, tapi omongannya hingga ke laur negeri). Biasanya orang seperti ini adalah laki-laki. Sebelum pergi bekerja mereka duduk dulu di warung kopi hingga menceritakan banyak hal. Bahkan ada yang akhirnya tidak jadi pergi bekerja karena keasyikan bercerita.

Jadi bagi yang hobbi kopi, jagan sungkan-sungkan pesan kalo ke Aceh.

Bi kupi pancong saboh!


15 July 2011

Baru 32 Tahun Sudah Punya Dua Cucu

Tetangga rumoh kontrakan saya di Jogja adalah keluarga kecil dengan dua orang anak. Yang sulung perempuan dan adiknya laki-laki. Si kakak baru berusia 18 bulan dan adiknya masih 2 bulan. Bapaknya bekerja serabutan. Keluar pagi pulang petang. Si ibu tidak ada pekerjaan sama sekali. Ia nampak masih sangat muda. Bahkan, masih kekanak-kanakan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu kalau usianya kini baru 16 tahun. Ia menikah saat masih kelas dua SMP dengan kakak kelasnya di SMP yang kini jadi suaminya.

Baru 16 tahun sudah punya dua anak, itu sungguh mengejutkan.

Tapi lebih mengejutkan saya, ternyata ibunya si perempuan baru berusia 32 tahun! dan baru dua minggu yang lalu melahirkan anaknya yang keempat.


Saya jadi teringat dua pengalaman sebelumnya. Pertama di Aceh Jaya, tahun 2006 saat saya bekerja sebagai relawan di Palang Merah Inggris dalam pembangunan rumah korban sunami. Salah satu penerima manfaat kami adalah seorang ibu dengan sua orang anak. Si ibu tidak memiliki suami, bukan tidak punya, tapi suaminya sudah merantau ke Malaysia saat konflik dan tidak pernah mengirimkan berita apapun selama ia pergi. Selama itu pula si ibu harus menghidupi dua anaknya. Yang tua, saat itu sudah berumur tujuh tahun. adinya lima tahun. Mau tahu berapa usia si ibu? 19 tahun!!

Di sebuah dusun pedalaman di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah tempat saya pernah melakukan penelitian saya mendapatkan fenomena yang serupa. Selama penelitian saya tinggal di rumah kepala dusun. Anak laki-laki kadus adalah seorang kakek tiga cucu. Usia si “kakek” baru 38 tahun. Sementara istrinya, saat saya di sana masih berusia 32 tahun. Dan cucu tertuanya berusia 5 tahun. Artinya, ia berusia sekitar 27 tahun saat pertama kali menimbang cucu. Anda bisa bayangkan usia berapa ia menikah dan usia berapa ia melahirkan. Kalikan juga, usia berapa anaknya menikah hingga kini ia memiliki cucu.

Ini sungguh fenomena memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya masih menikmati masa sekolah dan masa bermain tiba-tiba harus menerima kenyataan hidup yang berat. Jangan tanya soal pendidikan. Itu jelas sama sekali tidak pernah dipikirkan lagi. Apalagi masalah kesehatan. Dukun dan tabib adalah pilihannya. Lebih menyedihkan adalah biaya hidup sehari-hati. Suaminya masih tergolong anak-anak yang jika belum menikah ia masih ditanggung oleh orang tuanya. Sekarang ia dibebani tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.

Siapa yang salah?

Tidak ada yang mau di salahkan. Namun hampir semua pihak menyumbangkan sedikit kesalahan yang berujung pada munculnya masalah ini. Pemerintah jelas tidak sukses menjelaskan amsalah KB dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat. Bukan hanya masyarakat pedesaan yang kadang jauh dari jangkauan informasi, di perkotaan sekalipun masih banyak kita temukan anak yang sudah memiliki anak.

Kedua, ini pengaruh media yang menyiarkan gaya hidup hedonis dan pergaulan dengan kecenderungan pada relasi seksual antara laki-laki dan perempuan. Saat ini, berita tentang pacaran dan pasangan berevolusi dengan sangat. Isue utama yang ditekankan adalah pasangan muda yang mengedepankan hubungan laiknya suami istri. Semakin jauh melangkah dalam relasi seksual tanpa nikah dianggap semakain modern dan semakin cinta.

Tokoh agama juga menyumbangkan masalah. Doktrin agama yang tidak dipahami dalam konteks perkembangan zaman dan perubahan budaya menyebabkan banyak perempuan yang harus menerima kenyataan nikah muda, baik karena dipaksa oleh orang tuanya, juga karena merasa ia “hanya seorang perempuan” yang tidak diizinkan oleh agama memilih hidup yang lebih baik. Bahkan tidak jarang tokoh agama pula yang mengambil kesempatan ini dengan menikahi gadis belia dan mengorbankan masa depannya.

Yang paling bertanggung jawab sesuangguhnya adalah masyarakat itu sendiri. bagaimanapun sebuah kontruksi masyarakat yang bagus dan sadar akan pendidikan dan kesehatan bisa mencegah lahirnya “nenek-nenek” muda di masa depan. Sebab “nenek muda” ini jelas bukan sebuah prestasi, malainkan sebuah masalah sosial yang semakin membuat masalah sosial lainnya bermunculan. Seperti pengangguran, gelandangan, pengemis, dan lainnya.

05 June 2010

Tsunami dan Aceh Yang Berubah

“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”

Profesor Emeritus Harold Crouch
ANU-Australia

Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.

Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?

Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.

Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.

Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.

Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.

Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.




29 May 2010

Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek

Mungkin satu-satunya kota provinsi yang tidak ada bioskop hanyalah Banda Aceh. Saya tidak terlalu yakin dengan kesimpulan ini, namun dari sedikit kota yang saya kunjungi, nampaknya di daerah lain di Indonesia bioskop bukan hanya di kota provinsi, namun juga banyak terdapat di kota-kota kabupaten. Bahkan beberapa kecamatan yang agak besar juga memiliki bioskop sendiri. Meskipun dengan banyaknya media yang bisa dipakai untuk menonton film belakangan ini, namun citra bioskop sebagai tempat menonton film sesungguhnya masih sangat terasa dalam masyarakat. Jadinya, sebuah film akan terasa berbeda rasa dan kesannya jika ditonton di rumah dengan di bioskop.

Namun demikian di Banda Aceh, sampai saat ini tidak ada sebuah bioskop yang menayangkan film secara terjadwal dengan tetap seperti di kebanyakan kota lain. Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak bermasalah. Sebab tanpa bioskop masyarakat tetap bisa mendapatkan hiburan berupa film melalui media yang lain, seperti VCD Palyer, TV, Internet dan bahkan di handphone dengan fasilitas tertentu. Jadi sebenarnya tanpa bioskoppun masyarakat tetap mendapatkan kepuasan tontonan melalui media-media tersebut. Namun bagi sebagian orang kepuasan dalam menonton hanya diperoleh jika ia menonoton di pada layar lebar dan dengan suara besar-besar. Oleh sebab itu media-media pemutar film yang ada selama ini sangat tidak memadai. Selain suaranya kecil dan sulit didengar, juga gambar yang ditampilkannya tidak sedramatis dalam bioskop.

Sebelum Tsunami

Sebenarnya Banda Aceh bukan sama sekali tidak pernah memiliki bioskop. Dulu, tahun 2000-an dan sebelumnya, ada beberapa bioskop yang beroperasi di Banda Aceh. Antara lain Sinar Indah Bioskop (SIB) di Penayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Center. Namun semua bioskop itu sekarang sudah mati dan sama sekali tidak ada aktifitas pemutaran film lagi. Bahkan gedung bioskop itu sendiri sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kepentingan yang lain.

Pun demikian, bioskop-bioskop tersebut di atas, dalam sejarahnya tidak semuanya menayangkan film-film terbaru dan “berkualitas.” Saya dan beberapa orang teman satu kos-kosan pernah pergi menonton bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam dekat Balang Padang tahun 1998. Saat itu harga tiket sekitar Rp. 750 untuk satu orang. Saya dengan semua teman-teman sama sekali belum pernah menonoton bioskop sebelumnya. Pilihan kami pada Garuda hanya karena tiketnya murah dan lebih terkenal dibandingkan bioskop “murah” yang lain.

Di dalam gedung besar itu kami duduk di kursi yang sudah sangat lusuh dan goyang-goyang. Teman saya kesakitan dan gatal-gatal setelah pulang dari sana karena digigit kutu busuk. Belum lagi suasana yang gelap dan pengap. Meskipun film belum diputar, lampu yang menerangi ruangan besar itu hanya beberapa watt saja dan tidak mampu menunjukkan celah dan jalan yang ada di dalam sana. Saya dengar dari beberapa teman, hal yang sama terjadi juga di bioskop Jelita dan SIB. Namun saya tidak pernah masuk ke dalam dua bioskop tersebut. Hanya saja dari sisi performa luar bangunannya, sepertinya tidak jauh beda dengan bioskop Garuda.

Film yang diputar juga bukan film baru yang sedang hangat dalam berita televisi atau koran. Di sana diputar film-film lama yang judulnya saja terkadang tidak diketahui. Pada sore harinya, di depan gedung bioskop memang dipasang spanduk tentang film yang akan diputar pada malam harinya. Namun kenyataannya, tidak semua film yang ditunjukkan di depan bioskop diputar di dalam bioskop. Beberapa bioskop bahkan memutar blue film di sela-sela film yang sedang diputar. Saat saya menonton bioskop tahun 1998 tersebut, saya juga mendengar teriakan dari penonton “puta asoe sigoe!” (putar “yang berisi” sekali). Kata “asoe” atau “berisi” berarti mereka meminta diputarkan blue film.

Pas 21 dan Gajah Theater

Namun tidak semua bioskop demikian adanya. Pas 21 dan Gajah Theater adalah bioskop yang memutar film terbaru dan film-film modern. Jadwal tayangnya juga tetap dan konsisten. Bahkan mereka mempublikasi film yang akan ditayangkan di koran lokal setiap hari. Kedua bioskop ini tidak jauh berbeda dengan bioskop Pas 21 yang hampir ada di berbgaia kota di Indonesia saat ini. Namun Pas 21 berakhir setelah terjadi kebakaran (dikbakar?) hebat di Pasar Aceh Shoping Center pada tahun 2001 (?). Sejak saat itu bioskop ini tidak beroperasi lagi di Banda Aceh. Gajah Theater menjadi pemain terakhir yang menutup lapaknya setelah tsunami melanda Aceh.

Kenapa bioskop di Banda Aceh gulung tikar? Menurut saya ini adalah pertanyaan menarik untuk ditelusuri. Sebab ada beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin “bisnis tidak menguntungkan” adalah jawaban dari pengusaha bioskop itu sendiri. Namun sebagai daerah yang memiliki tiga peristiwa “seksi”; Syariat Islam Konflik dan tsunami, kita tidak bisa bisa hanya melihat dari sisi bisnis semata. Di balik itu, ketiga peristiwa lain, menurut saya, pasti memiliki kontribusi yang menyebabkan bioskop di Banda Aceh ditutup oleh pengusahanya.

Konflik dan Syariat Islam


Suasana konflik di Aceh yang mulai memanas pada tahun 2008 memang menjadi salah satu penyebab utama. Setidaknya konflik menyebabkan dikuranginya jam penayangan film dimalam hari. Tahun 1997 saya masih jualan durian sampai jam satu malam di Pasar Aceh. Saat itu tidak ada masalah dengan tengah malam berada di luar ruamah. Namun setelah konflik mulai membesar di Aceh, jam malam mulai berlaku. Akibatnya bisoskop di Banda Aceh menutup pemutaran film di malam hari. Mereka hanya membukanya sore hari saja. Kondisi ini meyababkan bioskop SIB, Garuda dan Jelita Theater mati suri. Sebab sebelumnya pangsa pasar mereka ada di malam hari, terdiri dari pekerja dan mahasiswa yang hanya punya waktu malam hari untuk menonton.

Kemudian, pemberlakuan Syariat Islam juga mungkin menjadikan usaha ini menjadi tidak menarik bagi pengusaha. Sebab hampir diketahui bersama, dalam bioskop orang bukan hanya menonotn film saja, namun juga mengambil kesempatan bersepi-sepi, atau dalam bahasan Syariat Islam di Aceh, berhalwat. Sebuah pasangan yang masuk ke dalam gedung itu tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan, namun juga menjadi ajang di mana mereka bisa bermesra-mesraan, peluk cium dan meraba-raba. Kondisi ini ingin dihindari oleh pemerintah Aceh setelah penerapan syariat Islam. Oleh sebab itu ada sebuah seruan agar bioskop memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menonton. Saya memang tidak melihat hal ini dipraktekkan dengan baik di gedung bioskop. Namun setidaknya seruan ini menyebabkan pengusaha bioskop enggan membuka bioskopnya. Sebab akan sangat banyak pasangan muda yang menjadi target pasar mereka memilih tidak menonton bioskop dari pada ditangkap Wilayatul Hisbah (petugas pengawas penerapan syariat Islam) yang bertugas untuk menertipkan mereka.

Sejak konflik dan adanya penerapan syariat Islam di Aceh, operasi bioskop di Banda Aceh mulai surut. Bahkan setelah Pas 21 terbakar hanya Gajah Theater yang beroperasi. Seingat saya, tahun 2003 saya masih sempat beberapakali menonton bioskop di Gajah Theater. Di sanalah saya melihat instruksi dari pemerintah agar melakukan pemisahan penonton laki-laki dan perempuan sama sekali tidak diindahkan. Di dalam bioskop laki-laki dan perempuan tetap juga duduk bersama, seperti di berbagai bioskop kota lain di Indonesia. Namun saat itu bioskop hanya diputar sampai jam 18.30, sesaat sebelum azan maghrib. Hal ini berkaitan dengan jam malam yang diterapkan oleh pemerintahan militer yang sempat memegang kendali pemerintahan Aceh pada awal tahun 2000-an.

Bioskop Pasca Tsunami


Setelah tsunami melanda Aceh semua bioskop musnah. Gajah Theater yang bertahan sampai tsunami juga menutup usahanya hingga saat ini. Sekarang ini gedung Gajah Theater telah dipakai oleh aparat militer sebagai gudang logistik mereka. Saya tidak tahu apakah bangunan itu memang miliki militer. Sebab dari sisi lokasinya, Gajah Theater memang berada di dekat komplek militer, jadi memang memungkinkan kalau bangunan dan usaha itu memang milik mereka sebelumnya.

Apakah bioskop masih diperlukan di Banda Aceh? wallahu’a’lam. Dilihat dari sisi pengembangan kota dan kebutuhan modern masyarakat sebuah bioskop adalah keniscayaan. Apalagi belakangan ini masyarakat Aceh jelas terlihat kekurangan hiburan. Pusat-pusat hiburan dikunjungi banyak orang dan jauh melebihi kapasitasnya. Namun dilihat dari mudharatnya, terutama berkaitan dengan penerapan syariat Islam, menghadirkan bioskop mungkin perlu sebuah kajian mendalam lagi, baik dari film yang diputar, setting tempat duduk di dalam ruangan dan lain sebagainya. Saya sangat yakin, semangat Islam tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk mendapatkan hiburan.Wallahu’a’lam.

05 April 2010

Indatu Ureung Aceh

Indatu adalah sebutan orang Aceh kepada funding father mereka. Kata ini sepadan dengan kata ‘nenek monyang’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘indatu’ tidak merujuk pada seseorang atau sekelompok orang tertentu, namun merujuk pada beberapa orang yang samar yang dianggap pernah hidup pada masa lalu. Kata indatu selalu disebutkan pada beberapa kesempatan yang berkaitan dengan tercemarnya moralitas, tercoreng harga diri, dan perubahan budaya pada sistem yang dianggap tidak memiliki dasar budaya sendiri. Arti kata ‘indatu’ dipersepsikan sangat kontekstual, sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung.

Pada kasus pencemaran moralitas, maka yang dianggap indatu adalah para ulama yang pernah hidup di Aceh sejak masa lalu hingga ulama yang meninggal belum lama. Orang Aceh menempatkan ulama sebagai bagian yang integral dan tidak terpisahkan dari kehidupan sosial mereka. Mereka menempatkan ulama sebagai rujukan untuk sebuah pembenaran mengenai salah dan benar dalam suatu perbuatan. Peran demikian ini menjadikan ulama sangat sentral karena semua perbuatan dan aktifitas yang dilakukan masyarakat dikaitkan dengan keputusan dari ulama. Karenanya, ulama tetap mendapatkan penghormatan, pun mereka sudah meninggal dunia.

Pencemaran moralitas yang dianggap telah mengotori ajaran indatu dari kalangan ulama umumnya berkaitan dengan pakaian dan pergaulan. Seseorang yang melihat banyak masyarakat yang memiliki gaya pakaian tidak sesuai dengan budaya Aceh (yang umumnya dikaitkan dengan Islam) maka masyarakat tersebut dianggap sudah mencoreng wajah indatu. Mereka telah mengkhianati budaya Aceh yang lalu yang penuh dengan nilai-nilai Islam dalam berpakaian. Mengenakan pakaian ala eropa yang terbuka dan tidak mengenakan kerudung berarti telah menjadikan orang luar Aceh sebagai patron dalam berpakaian. Ini salah satu indikasi kalau masyarakat Aceh telah melupakan ajaran indatu mereka.

Harga diri orang Aceh dalam hubungannya dengan indatu berkaitan dengan kebijakan politik. Dalam hal ini indatu yang dipersepsikan adalah mereka yang membangun kerajaan Aceh Darussalam ratusan tahun yang lalu. Mereka telah membangun kerajaan Aceh Darussalam sebagai sebuah bangsa merdeka seperti halnya bangsa-bangsa lain di dunia. Banyak orang Aceh bahkan sangat yakin kalau Aceh pada masa lalu termasuk salah satu kerjaan besar yang setara dengan Dinasti Otoman di Turki bahkan dengan kerjaan Inggris di Eropa. Kebesaran kerajaan Aceh ini dikaitkan dengan kepemimpinan beberapa rajanya yang berjaya menjadikan Aceh go Internasional melalui perdagangan dan kerja sama peperangan.

Dengan persepsi di atas, maka ketertundukan kepada berbagai kebijakan pemerintah, dalam hal ini Indonesia, yang terjadi selama ini dianggap telah “melukai” hati indatu yang berjuang keras menegakkan kerajaan Aceh Darussalam di masa lalu. Apalagi ketertundukan yang dilakukan pemerintah Aceh saat ini bukan sekedar ketertundukan administratif di mana Aceh mengakui diri sebagai bagian dari Indonesia, namun juga ketertundukan politik. Ketertundukan polisitk ini ditunjukkan ketika politik dan kebijakan di Aceh sangat ditentukan oleh kebijakan politik di Jakarta. Berbagai penghargaan dengan menyebut Aceh sebagai daerah istimewa tidak berarti apa-apa. Politisi dari pemerintah pusat tetap mendominasi kebijakan politik di Aceh. Ketertundukan ini juga dianggap sebagai praktek yang telah mencoreng harga diri indatu orang Aceh masa lalu.

Aspek lain yang dianggap “mencoreng muka” indatu adalah kecenderungan masyarakat yang mengikut gaya hidup yang jauh berbeda dengan apa yang pernah ada dalam masyarakat Aceh dalam sejarah. Beberapa gaya makan, prosesi budaya –seperti pernikahan dan pesat lainnya-, juga hubungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari yang dianggap lebih bebas dari sewajarnya. Perilaku ini merupakan salah satu indikasi kalau masyarakat Aceh dianggap telah meninggalkan ajaran indatu mereka.

Kuasa Indatu

Dalam beberapa masyarakat suku di Nusantara ada keyakinan bahwa nenk monyang mereka yang sudah ada di alam akhirat dapat mempengaruhi kehidupan mereka yang masih ada di dunia. Inilah yang menyebabkan beberapa suku Dayak dan Asmat membuat kuburan batu sebagai tempat peristirahatan yang baik bagi tulang belulang nenek monyangnya. Demikian juga orang Batak Toba besaing membangun Tugu tempat menyimpanan tulang belulang nenek monyang mereka di pulau Samosir. Ini semua dilakukan agar nenek monyang tidak murka kepada mereka yang masih hidup namun lalu menurunkan bencana kepada mereka.

Dalam tataran konsep pandangan seperti tersebut di atas hampir tidak ditemukan dalam masyarakat Aceh. Hal ini disebabkan keyakinan bahwa orang yang telah meninggal dunia tidak memiliki hubungan dengan oarang yang masih hidup di dunia. Mereka telah berada di alam sana yang sama sekali tidak mampu lagi mengatur berbagai problematika kehidupan di alam dunia. Para ulama di Aceh juga selalu menjelaskan persoalan ini kepada umat Islam. Bahwa seseorang yang telah pergi meninggalkan dunia, maka hubungannya telah terputus dengan dunia ini. Ia sama sekali tidak dapat mengintervensi lagi apa-apa yang terjadi di dunia.

Pun demikian dalam beberapa kelompok masyarakat keyakinan bahwa indatu mereka dapat memberi berkah, memberi kesembuhan, memberi kedamaian dan bahkan dapat menjadi perantara untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. Hal ini terlihat dari beberapa prosesi budaya yang berkembang dalam masyarakat. Di beberapa kuburan indatu orang Aceh dilaksanakan prosesi penghormatan kepada mereka. Sekelompok masyarakat di Aceh Jaya misalnya, melaksanakan sebuah kenduri masal pada harii Raya Idul Adha setiap tahun untuk menghormati indatu mereka yang dimakamkan di sebuah bukit pinggir laut. Demikian juga dengan masyarakat Nagan Raya yang menempatkan sebuah makam indatu mereka sebagai tempat yang mulia. Mereka datang ke sana untuk berdoa dan beribadah dengan harapan ibadah mereka lebih cepat diterima Allah.

Penghormatan pada Indatu

Yang paling banyak dilakukan masyarakat Aceh adalah penghormatan pada indatu mereka dengan memberikan pelayanan pada makam dan nama besar mereka. Di Aceh ada sebuah kenduri yang dikenal dengan nama kenduri jeurat. Kenduri ini adalah salah satu prosesi yang dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menghormati mereka yang telah meninggal dunia. Dalam prosesi ini, selain membersihkan makam-makam umum, makam keluarga dan makam-makan tokoh yang mereka hormati, juga mengadakan doa bersama kepada mereka yang sudah ada di alam sana. Doa ini dikirim kepada mereka dengan memohon kepada Allah agar memberikan mereka kebahagiaan dan menjauhkan mereka dari siksa.

Penghormatan lain yang diberikan dengan membuat bangunan yang bagus di atas makam-makam tertentu. Seperti halnya di daerah lain di seluruh dunia Islam, makam ulama, raja, pahlawan, dan orang penting lainnya berbeda dengan makam masyarakat biasa. Di atas makam mereka didirikan bangunan beton yang kuat sehingga bisa bertahan puluhan tahun. Pada beberapa makam penting, seperti makam Syiah Kuala di Banda Aceh, juga disediakan mushalla tempat di mana orang bisa beribadah dan berdoa. Makam-makam seperti ini bukan hanya dikunjungi oleh orang Aceh saja, namun banyak pula yang berasal dari luar Aceh, bahkan luar negeri, seperti Malaysia.

Indatu dan Pemberontakan

Sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kepada negara Republik Indonesia selama hampir sepuluh tahun (1998- 2005) memasukkan indatu sebagai salah satu alasannya. Bagi kelompok GAM, Aceh adalah sebuah negara berdaulat sebagai negara sendiri dan bukan menjadi bagian dari negara lain seperti yang terjadi selama ini. Oleh sebab itu bergabungnya Aceh dengan Indonesia telah melangkahi perjuangan Indatu Ureung Aceh masa lalu di mana mereka telah bersusah payah berjuang mendirikan Aceh sebagai negara berdaulat. Apalagi, menurut GAM, selama bergabung dengan Indonesia Aceh dijadikan sapi perahan dengan mengambil seluruh kekayaan alam di Aceh dan membawanya ke Jakarta, sementara orang Aceh sendiri hidup menderita.

Dengan alasan meneruskan perjuangan indatu tersebut, GAM melancarkan pemberontakan pada negara Repulik Indonesia. Pemberontakan ini sering dianggap sebagai kelanjutan dari pemberontakan lain yang memang terjadi di Aceh sepanjang sejarah. Pada masa kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam sekalipun berbagai pemberontakan telah dilakukan oleh orang Aceh melawan Portugis, Inggris, Belanda, Jepang, dan lain sebagainya. Dengan demikian pemberontakan yang dilakukan kepada pemerintah Indonesia adalah salah satu “kalanjutan” dari rangkaian pemberontakan tersebut. Meskipun akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 2005 GAM mengakhiri pemberontakannya, namun pemikiran yang menempatkan indatu sebagai dasar untuk mengatakan hubungan Aceh-Indonesia bermasalah, masih ada dalam banyak jiwa orang Aceh hingga sekarang ini.

Masa Depan Indatu

Keyakinan akan peran besar indatu dalam kehidupan duniawi orang Aceh telah menjadi sebuah spirit dalam banyak hal. Meskipun tidak secara langsung, adanya keyakinan akan keberadaan indatu menyebabkan tumbuhnya semangat berbuat baik dan memperjuangkan kebenaran. Pasti tidak semua apa yang terjadi di aceh dan dilakukan dalam masyarakat Aceh didorong oleh keberadaan indatu, namun setidaknya itu menjadi faktor dominan dalam beberapa praktik budaya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi modern apakah semangat yang dilatari oleh keberadaan indatu ini akan punah? Waktu akan menjawabnya. Namun belajar dari beberapa bangsa besar jelas menunjukkan mereka tetap menempatkan pahlawan dan orang yang berjasa sebagai bukti semangat. Beberapa bangsa bahkan memahat patung besar untuk mengenang nenek monyang mereka. Di Eropa dan Amerika sekalipun, negara yang tingkat rasionalitasnya sudah maju, kebudayaan modern semakin berkembang, penghomatan pada indatu tetap mereka lakukan. Wallahu’a’lam.

tulisan ini pernah dimuat di Harian Aceh, Maret 2010

29 March 2010

Aman Guntur: Tetuwe Adat Gayo

Tahun lalu saat melakukan penelitian di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, saya berjumpa dengan seorang tokoh adat Gayo di sana. Beliau mengaku lahir pada tahu 30-an. Jadi, saat ini umurnya sudah lebih 70 tahun. Namun di usia tuanya, ia masih aktif mengepalai dua organisasi. Sebagai ketua Jaringan Komunikasi Masyarakat Adat (JKMA) wilayah Lut Tawar, yang membawahi masyarakat adat di tiga kabupaten; Aceh tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Kedua ia menajadi Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Bener Meriah. MAA adalah lembaga adat bentukan pemerintah yang ada di setiap kabupaten kota dan kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Makasar, dan beberapa kota lainnya di mana banyak orang Aceh.

Beliau dikenal dengan nama Aman Guntur. Sebenarnya nama asli beliau Jafaruddin. Namun sudah menjadi kebiasaan di sana seseorang dipanggil dengan nama anaknya yang paling tua di tambah kata ‘aman’ (orang tua dari) di depan nama tersebut. Jadi, karena Pak Jakfar nama anaknya Guntur, maka ia dikenal dengan nama Aman Guntur. Nama ini sudah melekat padanya sejak anak pertamanya lahir. Sehingga banyak orang di desa itu, terutama anak muda, tidak mengenal Jafaruddin. Yang mereka tahu adalah Aman Guntur atau Kepala Mukim, karena ia pernah menjabat sebagai Mukim sejak tahun 1969.
Aman Guntur adalah tokoh yang memperjuangkan agar adat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistim pemerintahan yang ada. Soeharto dengan UU No. 5 Tahun 1979 menyeragamkan sistim pemerintahan di Indonesia meniru model pemerintahan di Jawa. Dengan UU ini menyebabkan model pemerinatahan Mukim di Aceh, Nagari di Sumatera Barat menjadi mati layu. Akibatnya beberapa sistem budaya tidak berjalan dengan baik. Apalagi Aceh diperparah dengan konflik yang membuat orang sangat takut menentang Soeharto.

Nah, pasca keluarnya UU Otonomi Khusus dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Pada tahun 2006, Aceh mendapatkan kesempatan membangun kembali institusi adat yang sudah layu tersebut. Salah satunya adalah melalui revitalisasi peran mukim. Dan inilah yang dilakukan oleh Aman Guntur. Ia, di sepanjang usia senjanya masih sangat bersemangat untuk menghidupkan kembali adat di dataran tinggi Gayo.

Ia mengomandoi dua lembaga adat sekaligus, JKMA dan MAA. Bagi Aman Guntur kedua lembaga ini memiliki fungsi dan misi yang sama. Tujuannya sama-sama menginginkan bagaimana adat dan budaya dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan pemerintahan di Kabupaten Bener Meriah. Kedua harus sejalan dan tidak boleh ada dualisme. Jakfar menganggap pemerinatah tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan pengkajian dan mengeksplorasi berbagai aspek budaya yang hidup dalam masyarakat. Itulah yang menjadi tugasnya, mengambilnya dari kehidupan masyarakat, merumuskannya dalalu menyampaikan kepada pemerintah untuk dilaksanakan, baik dalam tubuh pemerintah itu sendiri maupun dalam aturan keseluruhan masyarakat umum.

Apalagi di Bener Meriah Meriah ada banyak suku (Gayo, Aceh dan Jawa), maka JKMA dan MAA harus menjadi fasilitator yang dapat menggabungkan seluruh suku itu untuk hidup rukun dan damai jangan ada perpecahan. Jakfar mengatakan, adat harus dapat menyelesaikan masalah yang ada dalam suku-suku tersebut. Sebab penyelesaian dengan adat jauh lebih efektif dibandingkan dengan penyelesaian di Pengadilan Negara. Untuk ini setiap masalah yang ada dalam suku tertentu harus didekati dan diselesaikan dengan pendekatan suku itu pula.

Aman Guntur juga menjelaskan kalau tidak semua undang-undang negara “laku” dalam masyarakat. Masyarakat punya undang-undang sendiri yang dapat menyelesaikan masalah mereka. Menurut Aman Guntur, 75% dari masalah yang ada dalam masyarakat dapat diselesaikan melalui adat. Hanya 20% saja yang harus ke pengadilan. Misalnya masalah sengketa di perbatasan desa. Ini tidak bida dengan pengadilan atau KUHP. Ini masalah adat yang dapat diselesaikan dengan adat. Sebab tanah dibagi secara adat.
Damai di pengadilan tidak sama dengan damai di adat. Meskipun damai sudah diputuskan, namun hatinya tidak dapat menerima sepenuhnya. Sebab yang berperkara hanya satu orang lawan satu saja, tidak dengan keluarga. Dalam penyelesaian adat damai adalah kelompok dan keluarga, sehingga damainya iklas dan dapat terjalin lama dan hilang dendam.

Dalam akhir-akhir wawancara Aman Guntur juga memberikan nasehat tentang menjaga kesehatan dan resep panjang umur. Ia mengatakan kalau resep panjang umur adalah menjaga kesehatan dan tidak larut dalam masalah yang membuat stress. Selain itu selalu memberi salam, sebab salam adalah damai. Ketika kita sudah menyampaikan salam kepada seseorang dan ia menjawab salam, maka itu berarti sudah damai dan sudah saling memaafkan.


20 March 2010

Ngopi; dari TV, LD, CD ke Wifi

Semua masyarakat di dunia memiliki budaya sendiri. Sebagian berasal dari warisan genarasi masa lalu mereka. Namun tidak sedikit yang terbangun karena perubahan zaman dan penyesuaian antara lokalitas dengan kehidupan modern yang dibawa televisi dan media lainnya. Salah satu budaya baru itu adalah apa yang belakangan marak berkembang di Aceh, budaya minum kopi.

Tidak ada yang unik sebenarnya, sebab minum kopi adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir di seluruh Indoensia kopi menjadi tanaman yang memberikan penghasilan untuk warganya. Bukan hanya sekarang, sejak masa penjajahan, bahkan masa kerajaan negara kepulauan ini sudah dikenal sebagai penghasil kopi. bahkan salah satu alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena mereka merebut pasar Kopi Dunia. Karenanya tidaklah heran pula kalau masyarakatnya juga penikmat kopi yang taat. Bahkan menjadikannya sebagai budaya.

Di Aceh, kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan sosial masyarakat. Tahun 2008 yang lalu saya melakukan penelitian di Kluet, sebuah suku kecil di Aceh Selatan. Di sana, setiap kehadiran kita di sebuah rumah masyarakat langsung dihidangkan kopi tanpa minta persetujuan dulu. Padahal saat itu saya sudah meninggalkan kopi selam tiga bulan. Namun karena saya sedang melakukan penelitian sangat tidak enak kalau menolak pemberian tersebut. Jadinya, saya ketagihan minum kopi lagi. Hal yang sama saya temukan dalam masyarakat Gayo di Kabupaten Bener Meriah. Sama halnya dengan di Kluet, setiap kita datang bertamu ke rumah seorang warga langsung disuguhkan kopi. Jadinya saya harus minum kopi minimal tiga kali sehari. Istimewanya, masyarakat Gayo adalah penghasil kopi. Bahkan kebanyakan kopi yang ada di Aceh berasal dari dataran tinggi Gayo. Kopi Gayo juga diekspor ke luar negeri. Sebuah perusahaan Belanda berdiri di sana untuk keperluan ekspor tersebut.

Budaya minum kopi bukan hanya dalam rumah tangga, tapi lebih “heboh” lagi dalam pergaulan sosial. Warung kopi tumbuh sangat banyak di Aceh. Saya yang tinggal di kota Banda Aceh menjadi saksi pertumbuhan warung kopi yang sangat pesat tersebut, terutama pasca tsunami di Aceh. Untuk menarik peminat beragam cara pula dilakukan oleh pemiliknya. Tidak hanya dalam desain dan penempatan bangunan, namun juga fasilitas hiburan.

Dulu, saat saya pertama kali merantau ke Banda Aceh, warung kopi yang ramai dikunjungi adalah warung kopi yang ada TV-nya. Saat itu TV masih menjadi barang langka, terutama TV besar. Maka warung kopi bersaing menyediakan TV memanjakan palnggannya. Semakin besar TV semakin banyak pelanggan. Kemudian, saat teknologi Laser Disk (LD) berkembang, warung kopi bersaing menyediakan LD. LD dipakai untuk memutar film. Mulai setelah maghrib sampai jam dua malam. Dan warug kopi dengan fasilitas LD penuh pengunjung. Bahkan saya dengar beberapa pemilik warung kopi menggunakan LD untuk memutar Blue Film untuk menarik peminat dari kalangan remaja, mahasiswa dan pemuda. Meskipun resikonya LD mereka disita oleh Satpol PP. Demikina halnya Saat VCD Player mulai marak di pasaran, teknologi LD-pun mati berganti CD. CD jauh lebih mudah dan murah. Apalagi saat masuk teknologi Ghina yang murahnya minta ampun, hampir semua warung kopi menyedikannya. Mereka mendapatkan film dari tempat-tempat penyewaan CD yang juga tumbuh pesat.

Sekarang ini, Wifi adalah tawaran terpopuler bagi pecandu kopi di Banda Aceh. Seperti dituis oleh Rahmat, hampir semua warung kopi yang baru tumbuh di Banda Aceh menyediakan wifi. Kalau malam-malam berjalan keliling kota Banda Aceh, pemandangan kerumunan anak muda di pinggir jalan dengan laptop bukan hal yang asing lagi. Saya tidak tahu dengan pasti mereka membuka apa dengan fasilitas tersebut. Namun seorang mahasiswa saya yang melakukan survey kecil-kecilan mengatakan umumnya mereka membuka facebook dan jejaring sosial yang lain. Mungkin ini perlu research lebih serius.

Namun demikian, beberapa warung kopi di aceh masih bertahan dengan “Keasliannya”. Mereka tidak menyediakan fasilitas apapun selain kopi. Daya tariknya adalah kelezatan kopi dan aromanya yang khas. Warung kopi seperti ini biasanya dikunjungi oleh pecandu kopi yang memang tidak berkepentingan dengan wifi. Dan inipun tumbuh subur seiring dengan meningkatnya pecandu kopi. Sebuah warung kopi yang menjadi langganan saya adalah warung kopi tradisional yang khas. Pemiliknya seorang Kepala Desa yang membangkang pada Soeharto di zaman Oede Baru. Beliau membuka warung kopi sejak tahun 1969 hingga sekarang. Karena usianya sudah sangat tua, ia hanya membuka warung kopi selama tiga jam, setelah shalat subuh di masjid hingga jam delapan pagi. Jadinya warung itu penuh setiap pagi buta meskipun tanpa fasilitas apa-apa dan lampu yang remang-remang. Yang duduk di sana umumnya orang tua. Saya mungkin yang termuda menjadi pelanggannya.

Seperti apa warung kopi Aceh di masa depan? Tuhan yang tahu. Namun satu hal yang pasti terus berkembang, ngopi bukan hanya sebagai sebuah budaya konsumsi amun juga gaya hidup. Saat ini wifi lagi marak-mraknya, maka warung kopi menyediakan wifi. Kalau ke depan ada teknologi publik lain yang lebih maju maka tidak heran juga warung kopi akan menyediakannya. Dalam waktu dekat akan ada perandingan piala dunia di Afrika Selatan. Pasti warung kopi di Aceh akan bersaing menyediakan layar lebar untuk memanjakan penontonnya.

Huuuhh…capek juga nulis. Ya sudah, ngopi dulu.

19 March 2010

Tarekat Shiddiqiyah Dalam Masyarakat Jawa Pedesaan

Oleh: Sehat Ihsan Shadiqin

ABSTRAK

Artikel ini akan menjelaskan tentang perkembangan dan pengaruh tarekat dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa pedesaan. Beberapa peneliti tarekat modern di Indonesia, seperti Bruinessen dan Howel, menyatakan bahwa tarekat mulai bergeser kepada masyarakat perkotaan yang disebut urban sufism. Dalam urban sufism sistim hubungan guru murid yang menjadi kekhasan dalam tarekat ditinggalkan sama sekali dan diganti dengan kemampuan retorika dan menghubungkan ajaran agama dengan konteks hidup masyarakat modern dengan pendekatan spiritual. Hal ini tidak sepenuhnya benar, khususnya dalam masyarakat pedesaan Jawa. Tarekat tidak terpengaruh dengan perkembangan modern dalam hal komunikasi dan telekomunikasi. Tarekat tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberagamaan mereka dan dalam relasi sosial dalam masyarakat. Saya melakukan studi lapangan di sebuah dusun pedalaman Pekalongan, Jwa Tengah ada bulan januari 2010, mengikuti berbagai kagiatan yang dilakukan oleh anggota tarekat Shiddiqiyah dan mewawancarai beberapa anggota tarekat tersebut. Dari sana saya berkesimpulan bahwa perkembangan modern dalam bidang komunikasi dan transportasi tidak serta-merta menjadikan perkembangan tarekat berubah di daerah pedesaan Jawa. Kedekatan budaya Jawa yang singkretik dengan tarekat menjadikan tarekat tetap berkembang dalam masyarakat.

Kata Kunci: shiddiqiyah, masyarakat pedesaan, wonodadi, pekalongan

Pendahuluan
Tarekat merupakan aspek kehidupan beragama yang populer dalam masyarakat pedesaan Jawa. Hal ini terjadi sejak kedatangan Islam di Jawa, di mana para sufi memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam (Dhofier, 1985:40). Sehingga tidak dapat disangkal bahwa Islam di Indonesia pada awalnya adalah Islam Tasawuf (Steenbrink 1984: 173, Shihab 2001: 274). Namun demikian pengaruh tasawuf dalam bentuk tarekat di pedesaan Jawa saat ini dianggap mulai memudar seiring dengan masuknya berbagai pengaruh teknologi komunikasi dan transportasi modern. Atau setidaknya jaringan tarekat mulai digunakan bukan hanya sebagai media religiusitas, namun juga jaringan sosial dengan kepentingan ekonomi (Bruinessen 1994a). Kondisi ini melahirkan sebuah model baru dalam perkembangan tasawuf di Indonesia yang dikenal dengan urban sufism. Howel (2001) yang mengemukakan istilah ini pertama kali mengartikan urban sufism sebagai tradisi tasawuf yang tidak terikat dengan pola tarekat yang pernah berkembang di Indonesia selama ini.

Dalam amatan saya di Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Pekalongan Jawa Tengah, indikasi yang ditunjukkan Bruinessen dan Howel di atas tidak sepenuhnya tepat, meskipun beberapa hal dapat diterima. Di sana yang terjadi justru seperti apa yang disebutkan Mufid (2006: 274) dan Beatty (2009: 151) bahwa tarekat telah mewarnai perkembangan budaya Jawa Islam. Dalam masyarakat pedesaan Jawa, tradisi tarekat masih tetap hidup sebagai bagian dari religiusitas mereka dalam beragama. Pola tarekat yang didasari pada hubungan guru-murid yang dekat dan pelafalan silsilah keguruan yang bersambung sampai pada Nabi Muhammad masih dilakukan oleh masyarakat. Demikian juga komunikasi antara warga penganut tarekat dan kerja sama sebagai sebuah komunitas masih dipertahankan. Oleh sebab itu saya berargumen bahwa perkembangan modern dalam bidang komunikasi dan transportasi tidak serta-merta menjadikan perkembangan tarekat berubah di daerah pedesaan Jawa. Kedekatan budaya Jawa dengan tarekat menjadikan tarekat tetap berkembang dalam masyarakat. Selain itu berkembangnya tradisi urban sufism di perkotaan tidak menjadikan perkembangan tarekat di pedesaan surut dan musnah.

Artikel ini saya tulis sebagai hasil observasi lapangan di dusun Wonodadi di Jawa Tengah tahun 2010. Dusun ini terletak di daerah pegunungan kecamatan Petung Kriyono. Di sana berkembang sebuah tarekat yang dikenal dengan tarekat Shiddiqiyah. Tarekat ini berasal dari Jombang Jawa Timur yang dipopulerkan oleh Syaikh Muhammad Muhtar bin Abdul Mu'thi. Sekitar tahun 1998 tarekat ini dibawa ke Wonodadi oleh seorang Guru Sekolah Dasar yang berasal dari Pekalongan. Hingga saat ini Shiddiqiyah telah diikuti oleh lebih dari 50 orang warga Wonodadi. Selama berada di lapangan saya mengikuti kegiatan tarekat serta mewawancarai anggota tarekat Shiddiqiyah yang ada di dusun tersebut. Saya menyamarkan semua nama narasumber dalam penulisan artikel ini untuk menghindari hal-hal yang tidak berkenan bagi mereka.

Tulisan ini saya bagi dalam lima bagian. Bagian pendahuluan akan menjelaskan konteks artikel ini. Saya melanjutkan dengan sedikit gambaran mengenai perkembangan tarekat dalam masyarakat Jawa. Kemudian saya akan menjelaskan masuk dan berkembangnya tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi di mana saya melakukan studi lapangan. Berikutnya saya akan menjelaskan mengenai aktifitas jamaah tarekat di sana baik untuk kalangan mereka sendiri maupun yang berhubungan dengan masyarakat secara umum. Beberapa penolakan yang terjadi dari kalangan masyarakat di mana tarekat ini dikembangkan juga akan saya bahas dalam bagian ini beserta dengan penyelesaian yang telah dilakukan. Tulisan ini saya tutup dengan kesimpulan di mana argumen pokok akan saya tegaskan kembali.

Tarekat dan Penyebarannya di Indonesia

Tarekat berasal dari kata berbahasa Arab; thariqah, yang berarti ‘jalan’, dalam hal ini jalan spiritual yang ditempuh oleh seorang penganut tasawuf untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Seorang penganut tariqah semestinya adalah seorang yang mendalami aspek spiritualitas Islam. Sebab Islam sebagai sebuah agama memiliki dia aspek ajaran, yaitu aspek esoterik dan eksoterik. Aspek esoterik adalah aspek lahiriah ajaran agama yang sering kali didasari pada logika formal dan bukti empirik. Dalam konteks ini maka ajaran agama yang dipersepsikan adalah hukum-hukum formal dan ritual-ritual tertata yang dilakukan dalam waktu yang telah ditentukan. Sementara aspek eksoterik Islam adalah dimensi batin yang didasari pada musyahadah (penyaksian) dan diperoleh dari mujahadah (usaha yang sungguh-sungguh) oleh seorang manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pada mulanya, tarekat dikembangkan oleh seorang individu yang merasa telah mencapai posisi paling dekat dengan Tuhan. Ia telah melakukan serangkaian usaha (mujahadah) yang menjadikannya menempati posisi sangat dekat dengan Tuhan. Pengalaman batin ini diceritakan kepada orang lain yang kemudian menempuh jalan yang sama dengan apa yang dilakukannya. Dari sinilah kemudian berkembang secara turun-temurun ajaran tarekat hingga saat ini. Pluralitas aliran ini disebabkan banyaknya orang yang memiliki pengalaman spiritual dan mengajarkannya kepada orang lain (Simuh, 2002:41). Sehingga banyak nama tarekat dinisbahkan kepada pendirinya. Misalnya tarekat Qadiriyah, dinisbahkan kepada Abdul Qadir al-Jailani.

Di Indonesia tarekat mulai berkembang sejak berkembangnya agama Islam. Sufi pertama yang teridentifikasi dalam sejarah tasawuf Nusantara, Hamzah Fansuri (w. + 1610) sufi asal Aceh, merupakan penganut tarekat Qadiriyah (Shadiqin, 2008: 57). Meskipun memiliki perbedaan dengan Qadiriyah yang berkembang dewasa ini (Mufid, 2006: 62) namun ini menunjukkan adanya aktifitas ketarekatan pada masa itu. Dari Aceh pada masa selanjutnya tarekat semakin berkembang. Tarekat semakin berkembang setelah Abdurrrauf As-Singkili (w. 1693) membawa pulang terekat Syattariyah ke Aceh dan Yusuf al-Maqassari mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di Sulawesi, Kaimantan dan Jawa. Ajaran tarekat semakin berkembang di Indonesia melalui murid-murid mereka yang tersebar di Nusantara. Misalnya, Abdurrauf as- Singkili memiliki murid Burhanuddin Ulakan di Sumatera Barat dan Abdul Muhyi Paminjahan di Jawa Barat. Dari sana bermunculan lagi murid yang kemudian jadi guru hingga saat sekarang ini.

Sejak masa masuk dan berkembangnya di Indonesia tarekat menjadi sebuah topik yang memicu kontroversi di kalangan ulama Islam sendiri. Bibit dari kontroversi ini memang sudah dimulai sejak kemunculan tasawuf itu sendiri pada abad pertama masehi (Shadiqin, 2009). Bahkan dalam abad pertengahan, di Aceh terjadi pembakaran terhadap buku-buku karangan Hamzah Fansuri yang dilakukan oleh Nuruddin ar-Raniry (Shadiqin, 2008: 105). Selanjutnya, dalam abad XIX kritik bukan hanya diarahkan kepada tarikat, namun juga kepada ulama sufi yang membawa tarekat tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Sayyid Usman kepada Sulaiman Zuhdi, di mana Sayyid menganggap Sulaiman telah mengajarkan hal-hal yang jauh dari kebenaran agama kepada masyarakat di mana masyarakat mempercayai kebohongan tersebut (Nasuhi, 2003: 75).

Dalam konteks pulau Jawa penyebaran tarekat dilakukan pasca berkembangnya di Aceh. Sebagian peneliti mensinyalir bahwa Wali Songo menganut tarekat Qadiriyyah (Bruinessen, 1988: 70). Namun bukti untuk hal ini hanya ada satu kalimat dalam Babat Tanah Jawi yang mengatakan Sunan Kali Jaga mengajarkan Ilmu Syekh Qadir (Mufid, 2006: 63). Dalam masa-masa selanjutnya perkembangan tarekat dilakukan melalui pesantren-pesantren di seluruh Jawa. Pada abad XIX, perkembangan tarekat sempat dodominasi oleh Naqsabandiyah yang dibawa oleh pada ulama yang pulang dari tanah suci Makkah. Hal ini terjadi karena Naqsabandiyah dianggap lebih berorientasi Syariat dbandingkan dengan tarekat lainnya. Namun saat ini berbagai tarekat, selaian Naqsabandiyah, juga berkembang pesat di Indonesia. Bahkan beberapa diantaranya adalah, apa yang disistilahkan Brunessen sebagai, tarekat lokal, yakni tarekat yang sanadnya tidak bersambung kepada Nabi Muhammad SAW.

Munculnya Tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi
Tarekat Shiddiqiyah merupakan salah satu tarekat yang berkembang di Indonesia. Tarekat ini diperkenalkan pertama kali oleh Kiai Muhammad Mukhtar Luthfi dari Jombang, Jawa Timur. Tim penulis buku Tarekat Muktabarah di Indonesia tidak memasukkan tarekat ini sebagai bagian dari tarekat yang “muktabarah” (diterima) sebab dianggap tidak memiliki silsilah yang bersambung pada Rasulullah (Mulyati, 2004). Namun tarekat ini tetap mampu bertahan hingga kini berkat kesolidan dan usaha anggotanya. Beberapa bangunan yang melambangkan kebesaran tarekat telah dibangun dari hasil usaha anggotanya, baik di Jombang maupun di beberapa daerah lain di pulau Jawa (Syakur, 2008). Namun demikian Bruinessen (1994) menganggap tarekat ini sebagai local tarekat dan tidak memiliki silsilah yang sampai pada Nabi Muhammad.

Shiddiqiyah masuk ke Wonodadi pada tahun 1997 yang dibawa oleh Bapak Guru Ambari, yang berasal dari Sragi, Pekalongan. Ia merupakan seorang guru Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan di Sekolah Dasar Wonodadi. Selain sebagai guru ia juga aktif dalam memimpin berbagai upacara keagamaan di Wonodadi. Sebagai jamaah tarekat Shiddiqiah ia memperkenalkan tarekat ini kepada masyarakat di sana. Sejak ia masuk hingga kini tetap tidak semua warga menjadi anggota tarekat. Dari 55 KK yang ada di Wonodadi hanya 23 KK yang menjadi anggota tarekat, dan itupun tidak seluruh anggota keluarga yang ada di dalam rumah tersebut. Dalam satu keluarga bisa saja beberapa anggotanya menjadi anggota tarekat, namun yang lainnya tidak. Hingga saat saya berada di lapangan, pengikut tarekat ini berjumlah 45 orang.

Menjadi Anggota Tarekat dan Alasannya
Untuk menjadi anggota tarekat maka seseorang harus mendapatkan bai’at (disumpah) di pusat pengembangan tarekat Shiddiqiyah, yaitu Jombang, Jawa Timur. Di sana ia akan mendapatkan bimbingan khusus mengenai tarekat dan penjelasan mengenai tata cara zikir, maksud dan tujuan bertarekat dan lain sebagainya. Sementara untuk penguatan pemahaman anggota tarekat yang telah terdaftar, secara periodik beberapa orang yang berasal dari Jombang atau Pekalongan datang ke Wonodadi untuk memberikan penjelasan mengenai hakikat bertarekat sambil melakukan zikir bersama (Kausaran). Sampai saat saya berada di lapangan, baru dua kali Wonodadi didatangi oleh tokoh tarekat dari Jombang untuk melaksanakan Kausaran. Selebihnya, hampir setiap tahun tokoh tarekat datang dari Kabupaten Pekalongan terutama pada tanggal 17 Ramadhan untuk melaksanakan Kausaran khusus yang disertai dengan pengajian.

Beberapa orang yang saya jumpai mengemukakan alasan yang berbeda menjadi anggota tarekat. Pada umumnya mereka mengatakan bahwa di dalam tarekat mereka merasakan telah menemukan apa yang selama ini mereka cari dalam beragama. Dari sisi spiritual, setelah masuk dalam tarekat mereka merasa melihat jalan beragama menjadi lebih baik dan sempurna. Dengan bertarekat mereka dapat memperoleh ridha Allah dalam menjalani kehidupan di dunia.

Ibu Santi yang menjadi anggota sejak dua tahun yang lalu mengatakan ia menemukan penjelasan mengenai berbagai aspek agama secara lebih mendalam dari apa yang ditemukannya selama ini. Karenanya ia rajin mengikuti kausaran setiap senin dan rabu malam yang diadakan di Wonodadi. Namun ia mengaku belum penah pergi ke Jombang untuk mengikuti pengajian di sana. Ia dibai’at di dusunnya oleh seorang khalifah yang datang dari Pekalongan. Sejak saat itulah ia menjadi anggota terekat dan mengikuti semua kegiatan yang diadakan di dusunnya.

Pak Nurman juga seorang anggota tarekat Shiddiqiyah. Ia mengenal tarekat ini sebelum tarekat masuk ke dusun mereka, tepatnya ketika ia bekerja sebagai buruh bangunan di Pekalongan tahun 1996. Di sana ia berkenalan dengan beberapa orang yang berasal dari Jawa Timur dan menganut tarekat Shiddiqiyah. Dari perkenalan inilah ia menjadi tertarik dan mejadi pengikut Siddiqiyah. Dalam pandangannya Shiddiqiyah lebih mendekatkan dirinya kepada Allah dan lebih menenangkan hati. Dengan zikir-zikir yang diberikan selama ini ia merasa lebih bisa memendam amarah dan keinginan berbuat jahat tidak ada lagi.

Seorang anggota tarekat lain yang saya wawancarai adalah Budi. Secara individu Budi mengaku menjadi seorang anggota tarekat sebagai kelanjutan dari peran bapaknya. Bapaknya yang saat ini sudah meninggal dunia adalah generasi awal yang bergabung dengan tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Bahkan beliau merupakan orang pertama yang masuk menjadi anggoat tarekat tersebut. Setelah bapaknya meninggal dunia ia mulai belajar tarekat Shiddiqiyah dan pergi ke Jombang. Di sana ia melihat jamaah yang mengikuti pengajian tidak terbatas pada orang biasa saja. Banyak pejabat dan polisi yang juga menjadi pengikut tarekat. Ini menurut Budi menjadi salah satu bukti bahwa Shiddiqiyah bukanlah ajaran terlarang dan sesat. Sebab kalau saja ia sesat maka sangat tidak mungkin ia bisa berkembang di kota seperti Jombang dan diikuti oleh masyarakat secara umum.

Identitas Jamaah Tarekat

Saat saya datang ke rumah seorang anggota tarekat, saya menemukan sebuah foto besar yang dibawahnya bertuliskan Kiai Muchtar Luthfi, Musyid Tarekat Shiddiqiyah. Saya mendekati foto itu dan menanyakan siapa beliau. Si empunya rumah menjelaskan bahwa itu adalah pimpinan pusat sekaligus pendiri tarekat Shidiiqiyah dari Jombang Jawa Timur. Di sisi foto tersebut ada foto lain, sekelompok orang berpakaian putih-putih bersorban juga putih berdiri berjejer. Di depan mereka duduk di kursi seorang yang sudah tua. Ia menjelaskan kalau itu ada fotonya bersama dengan sang Kiai saat ia pergi ke Jombang dan belajar terakat di sana. Di Wonodadi hanya ia yang pernah datang ke sana dalam waktu lama (6 bulan) sehingga sampai saat ini hanya ia yang bisa memimpin zikir kausaran yang diadakan di Wonodadi.

Dari sisi penampilan luar, antara jamaah tarekat dengan bukan jamaah tarekat hampir tidak ada bedanya. Mereka sama-sama melakukan aktifitas sehari-hari sebagaimana biasanya. Identitas ketarekatan mereka kita peroleh saat masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah jamaah umumnya ada sebuah foto Kiai Mukhtar Lutfi yang dibingkai dan digantungkan di dinding. Beberapa rumah ada foto kenangan bersama sang Kiai saat mereka pergi berkunjung ke Jombang untuk mengikuti pengajian di sana. Setiap rumah yang dipasangi foto ini menunjukkan mereka sebagai bagian dari jamaah aterakt tersebut.

Identitas lain adalah sebuah kaligrafi doa yang dibingkai digantung di pintu masuk rumah bagian dalam. Saat saya masuk ke sebuah rumah di sana saya mencoba memfoto doa yang berbingkai tersebut, namun empunya rumah melarangnya. Doa tersebut adalah identitas anggota yang sangat personal karena di dalamnya juga tercantum nomor keanggotaan rumah tersebut. Indentitas lainnya adalah sebuah kartu anggota berwarna kuning yang lengkap dengan foto dan keterangan laiknya sebuah kartu tanda penduduk. Kartu ini hanya berguna untuk pendataan anggota tarekat saja dan tidak dipakai untuk keperluan yang lain, seperti surat menyurat resmi dalam lain sebagainya.

Dalam beberapa rumah anggota tarekat juga ada sebuah logo tarekat yang dibingkai dengan rapi. Gambar logo tarekat Shiddiqiyah dasarnya berwarna kuning dengan beberapa tulisan arab di bagian atasnya. Gambar utama adalah sebuah pohon besar yang berbuah anggur yang tumbuh di antara dua warna lautan. Ini diartikan sebagai hakikat hidup anggota tarkat yang tumbuh dari “dua lautan” yakni Syariat dan Shiddiqiyah. Mereka mengibaratkan diri sebagai sebuah pohon yang berbuah manis (dalam gambar dibuat buat anggur) yang berarti jamaah tarekat mesti menjadi orang yang dapat menghasilkan sesuatu yang baik untuk masyarakat dan menghidupi masyarakat untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat kepada Tuhan. Di bagian bawah ada dua angka yang digandengkan yakni 1 (satu) dan 0 (nol). Kedua angka ini menunjukkan kesempurnaan, bahwa pada hakikatnya segala sesuatu adalah satu jua yakni Tuhan. Realitas yang ada saat ini adalah kosong belaka yang dilambangkan dengan nol. Ini adalah dasar pandang dunia jamaah shiddiqiyah yang juga biasanya menjadi dasar pandang beberapa kelompok tarekat yang lain yang hidup saat ini, baik di Indonesia maupun di bagian dunia yang lain.



Gambar 1: Logo tarekat Shiddiqiyah yang digantung di dinding rumah anggotanya sebagai identitas keanggotaan

Aktifitas dan Ajaran Tarekat Shiddiqiyah
Secara umum saya membagi dua jenis aktifitas yang dilakukan oleh jamaah tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi; privat dan publik. Aktifitas privat adalah aktifitas yang menyangkut dengan kegiatan internal jamaah yang tidak diikuti oleh masyarakat umum. Kegiatan ini umumnya berhubungan dengan zikir pribadi dan kelompok, dan khalwat (mengasingkan diri untuk berzikir dan berdoa). Sementara yang publik adalah kegiatan yang dapat diikuti oleh semua masyarakat meskipun yang mengadakannya adalah jamaah tarekat. Dalam hal ini saya mencontohkan aktifitas mengumpulkan bantuan untuk korban bencana alam, bergotong-royong membangun gedung sekolah, membangun jalan dan rumah ibadah, dan lain sebagainya.

Gubuk Zikir
Aktifitas berupa zikir dilakukan dalam sebuah gubuk yang terletak di pertengahan perkebunan warga. Suatu pagi, saat saya datang pertama kali ke lokasi penelitian, saya melewati gubuk kecil tersebut. Di bagian pintu terlutis “Gubuk Zikir Shiddiqiyah.” Bangunan itu tinggi tigaa meter, berbentuk bulat, berdiameter kurang lebih tiga meter. Di tengahnya ada seperti kamar berbentuk empat persegi. Di tiga sisinya ada jendela besar tanpa penutup. Di sisi bagain timur kamar dibuat sebuah pintu. Seluruh bangunan terbuat dari bambu dan diikat dengan tali rotan dan tali ijuk. Di bagian pinggirnya dipagari dinding setinggi 60 cm. Hanya ada empat tiang dasar yang dibuat dari semen di bawahnya. Selebihnya semuanya dari bambu dan beberapa kayu. Bangunan ini tidak dicat atau diwarnai dengan warna apapun, semuanya dibiarkan dalam warna aslinya. Di bagian dalam tengah ruangan tergantung sebuah bola lampu listrik pijar 25 watt. Selain itu ada juga beberapa lembar tikar yang dilipat. Bangunan ini adalah gubuk yang dipakai oleh Jamaah Tarekat Shiddiqiyah untuk melakukan zikir bersama.



Gambar 2: Gubuk Tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi
Dalam gubuk tersebut jamaah Shiddiqiyah kausaran, yaitu zikir rutin anggota tarekat yang dilaksanakan pada setiap rabu malam. Jamaah datang ke sana bersama-sama dengan membawa obor setelah shalat Isya di Masjid. Lokasi yang jauh dari perkampungan dan berada di tengah hutan dimaksudkan untuk menjaga ketentraman bersama. Zikir tarekat Shiddiqiyah yang panjang dan bersuara besar-besar dikhawatirkan dapat menganggu warga lain yang akan istirahat di malam hari. Ketika bersikir, pimpinan zikir duduk di tengah ruangan bersama beberapa orang “senior” lainnya. Sementara jamaah duduk di sekelilingnya dan mengikuti zikir yang dipimpin oleh pimpinan zikirnya.

Pada awal kedatangannya, kausaran direncanakan pada setiap malam Jum’at. Namun karena malam Jum’at ada Jamiahan yaitu tahlilan umum yang dilakukan bergiliran di rumah warga, maka Kausaran dipindah menjadi malam Senin dan Malam Kamis. Namun kalau lagi “malas” –saya tidak tahu apa arti kata ini- Kausaran dilaksanakan satu kali saja dalam satu minggu, yaitu Rabu malam. Dan itu dilaksanakan pada rumah salah seorang anggota jamaah secara bergiliran.

Dalam pelaksanaannya, tarekat ini jamaah membaca beberapa Surat dalam al-Qur'an, dengan urutan al-Ikhlas, al-Falaq, An-Nas, Alam Nasyrah, Inna Anzalna, al-Kautsar, Izaja’a, Al-‘Asr masing-masing tujuh kali. Kemudian dilanjutkan dengan shalawat masing-masing 30 kali atau 21 kali. Kemudian membaca tasbih (subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar) masing-masing 15 kali. Kemudian melakukan zikir (La Ilaha Illallah) sebanyak 120 kali atau 1000 kali jika mampu. Zikir ini ditutup dengan do’a dan selesai. Umumnya zikir dilaksanakan selama dua jam dan dilakukan dengan suara keras.

Pelaksanaan kausaran

Saat berada di lapangan saya mengikuti pelaksanaan Kausaran yang diadakan oleh Jamaah Tarekat Shiddiqiyah. Saat saya berada di lapangan Wonodadi sedang musim hujan. Karenanya zikir dilakukan di rumah anggotanya, bukan di gubuk zikir seperti biasanya. Saya diundang oleh pimpinan terekat yang ada di wonodadi, Pak Andi pada suatu malam setelah shalat Isya berjamaah di masjid. Malam itu kausaran dilaksanakan di rumah Pak Slamet. Rumah in terletak persis di belakang masjid. Saat saya datang, sudah ada beberapa orang di sana. Setidaknya ada 20 orang laki laki dan 10 orang permpuan. Mereka duduk melingkar di ruangan tamu. Beberapa orang duduk berlapis karena ruangan yang kecil. Beberapa anak muda memegang buah tasbih dan terus mengihitungnya. Tidak jelas zikir apa yang mereka ucapkan, namun nampaknya mereka sedang melafazkan sesuatu dalam hati.

Zikir umum dipimpin oleh Budi yang nampak masih sangat muda. Ia membaca sebuah pengumuman yang dikirim oleh pimpinan Majlis Siddiqiyah dari Pekalongan. Sekilas isi dari surat itu adalah dalam waktu dekat akan dilaksanakan pertemuan di Pekalongan sekaligus penyambut mursyid tarekat dari Jombang. Untuk keperluan ini panitia membutuhkan uang Rp. 12 juta. Kepada jamaah yang hendak membantu dapat memberikan kepada pengurus Shiddiqiyah yang ada di Wonodadi. Setelah selesai dengan pengumumannya, Budi mempersilahkan seorang jamaah senior, Pak Tahir memberikan tausiah singkat.

Pak Tahir menjelaskan mengenai hakikat Tarekat Shiddiqiah. Tujuan utama dari Shiddiqiyah adalah mendapatkan keamanan dan ketentraman dalam kehidupan. Mula-mula kehidupan pribadi, keluarga, dan kehidupan masyarakat secara lebih besar yakni kehidupan bernegara. Untuk itu mereka menekankan pentingnya kehidupan yang aman ini. Shiddiqiyah akan siap membela negara jika diperlukan. Sebab kecintaan mereka pada perdamaian dan keamaan mendorong mereka melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya. Untuk ini mereka membangun solidaritas antar jamaah dan umat Islam semuanya. Atas dasar alasan ini pula pada saat gelombang Tsunami menghancurkan Aceh tahun 2004, mereka memberikan doa 40 malam untuk keselamatan dan ketabahan bagi korban tsunami di Aceh. Hal yang sama juga mereka lakukan waktu gempa di Padang dan Yogyakarta.

Selain itu ia juga menjelaskan bahwa pada dasarnya semua aliran dalam bergama adalah sama saja, yakni sama-sama mengajak kepada kebajikan. Bahkan semua agama yang ada di dunia mengajak kepada kebajikan. Setiap orang yang baik adalah mereka yang menjalankan ajaran agama dengan baik. Jadi apapun agama dan alirannya selama ia menjalankan dengan baik dan ikhlas, maka ia telah menjadikannya sebagai dasar untuk menyabarkan kebaikan. Sebab kabajikan pada akhirnya akan dinilai oleh Allah, bukan oleh manusia.

Pak Tahir menegaskan bahwa mereka, penganut Siddiqiyah “memegang dua lautan” yaitu Syariat dan Shiddiqiyah. Syariat adalah dasar agama yang harus diikuti oleh semua orang yang telah mengaku sebagai Islam. Ini semua sama, di Aceh, di Jawa, di Sulawesi, sama saja. Selama seseorang berpagang pada syariat maka ia akan menjalankan ajaran agama dengan baik pula. Sementara tarekat adalah ajaran yang mengedepankan kedamaian dan cinta sesama. Dengan tarekat mereka ingin kehidupan yang aman dan damai bagi sesama dalam lingkungan dan alam sekitarnya.

Setelah memberikan penjelasan ini maka mulailah dilaksanakan zikir yang dipimpin oleh Budi. Zikir diawali dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab yang dilafalkan bersamaan antara Budi dan jamaah semuanya dengan suara besar. Bacaannya persis seperti apa yang telah saya jelaskan di atas, yaitu salawat, surat-surat dalam al-Qur’an dan do’a. Mereka nampak khusyuk dalam melafalkan zikir tersebut dan larut dalam bacaannya. Sejak dimulai sampai akhir mereka menghabiskan waktu selama satu jam sepuluh menit.

Setelah selesai tuan rumah menghidangkan teh kepada jamaah yang hadir. Teh yang telah dimasukkan dalam gelas dibagikan kepada jmaah satu persatu. Kemudian diberikan beberapa ember plastik yang berisi kerupuk. Kerupuk yang berjalin ini adalah kerupuk yang biasa dijual di warung. Selain itu dihidangkan nasi putih dalam beberapa piring. Nasi itu untuk dimakan bersama kerupuk yang telah disediakan sebelumnya. Menurut seorang yang duduk di sampaing saya, makanan yang dihidangkan setelah selesai zikir itu dibebankan kepada tuan rumah. Tidak ada ketetapan mengenai apa makanan dan minuman tersebut, semuanya terserah tuan rumah.

Ajaran Pokok Tarekat Shiddiqiyah
Saya mendapatkan informasi mengenai ajaran pokok tarekat Shiddiqiyah dari beberapa orang yang ada di tempat penelitian saya dan menambah beberapa informasi tersebut dengan data yang saya dapatkan dari situs internet yang dikelola oleh kantor pusat tarekat Shiddiqiyah di jombang Jawa Timur. Ada beberapa aspek ajaran tarqat yang diyakini oleh jamaah Shiddiqiyah, yaitu:

1. Bersyukur atas apa yang ada
Ajaran pertama tarekat Shiddiqiyah adalah bersyukur atas apa yang ada, apa yang diberikan Tuhan kepada manusia. Kalau saat ini seseorang masih miskin dari sisi harta benda, maka itu berarti memang Tuhan menghendakinya miskin dan menganggap ia belum pantas untuk mendapatkan kekayaan. Tuhanlah yang mengatur kehiudpan manusia. Kalau manusia menggugat apa yang ia peroleh dari pemberian Tuhan, maka ia berarti menggugat Tuhan. Mana mungkin manusia menggugat Tuhan padahal Tuhan jauh lebih tinggi dari manusia itu sendiri. Ini adalah aspek yang berat. Sebab manusia cenderung ingin mendapatkan sesuatu yang lebih banyak dari apa yang diutuhkannya bahkan ia memiliki kehendak lebih tinggi dari apa yang ia mampu lakukan.

2. Kesetiaan
Penganut tarekat juga meyakini bahwa dunia sudah “tenggelam dalam lautan api”. Hal ini terlihat dalam berbagai praktek korupsi, kolusi, dan berbagai bentuk praktek keji lainnya. Hal ini semua menunjukkan kalau manusia sudah jauh tenggelam dalam lautan tersebut. Memperbaikinya adalah dengan memperbaiki akhlak dan mempertahankan hati dari berbagai godaan duniawi. Shiddiqiyah membangun kesetiaan yaitu kesetiaan hati, kesetiaan kepada saudara kandung, kesetiaan kepada tetangga terdekat, lingkungan, dengan perangkat dusun, desa dan kesetiaan pada negara. Hal ini merupakan dasar bimbingan bagi ajaran tarekat Shiddiqiyah yaitu cinta tanah air.

Kesetiaan pada tanah air ini diwujudkan pula dalam keterbukaan dalam cara pandang. Jamaah Shiddiqiyah memandang bahwa agama pada dasarnya baik semuanya. Demikian juga dengan berbagai aliran yang ada dalam sebuah agama. Yang salah dan berdosa itu adalah orang yang ada dalam agama tersebut. Shiddiqiyah tidak melepaskan diri dai kalimat lailahaillallah, dan memasukkan kalimat ini dalam hati. Usaha ini dilakukan dengan berusaha merubah diri dan akhlak menjadi lebih terpuji. Hal ini bisa dilakukan dengan melaksanakan puasa selama 4 atau 7 hari sehingga kalimah lailahaillallah bisa masuk dalam hati. Proses ini adalah proses paling awal dalam tarekat Shiddiqiyah yang dikenal dengan Jahar. Proses ini akan semakin berlanjut dan bertingkat sampai pada tingkatan 40. Seorang narasumber saya mengatakan ia tidak tahu bagaimana rasanya sampai pada tingkat 40 itu. Bahkan di Wonodadi belum ada orang yang sampai ke tingkat itu. “Kalau di Lebakbarang sudah ada,” katanya.

3. Zikir untuk kedamaian hati
Zikir yang selalu dilakukan akan menjadikan kehiduapn sehari-hari lebih tenang dan damai. Zikir juga menjadikan hubungan antar sesama anggota tarekat dan hubungan dengan orang lain menjadi leih baik. Seseorang yang mengikuti zikir akan merasa lebih tenang dan damai dalam hatinya dan akan damai pula dalam kehidupan pribadinya sehari-hari. Zikir bisa dilakukan bersama-sama setelah selesai shalat dan melakukan kausaran pada malam yang telah disepakati bersama. Namun yang paling baik adalah zikir yang dilakukan sendiri baik setelah selesai shalat maupun saat melakukan aktifitas sehari-hari. Sebab zikir dalam hati bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa harus menyediakan waktu khusus dan tempat khusus pula.

4. Ukhwah antar Jamaah
Ajaran lain yang penting dalam Shiddiqiyah adalah kekompakan dalam membangun fasilitas bersama. Jamaah dari Wonodadi pernah datang ke Magelang untuk membantu cor pembangunan Pusat tarekat Shiddiqiyah Jami’atul Muzakkkirin. Mereka datang ke sana dengan menumpang sebuah “doplak” yaitu mobil L300 pickup. Pergi jam enam petang sampai di sana jam enam pagi. Siang harinya bekerja dan sore harinya pulang kembali ke Wonodadi dengan doplak yang sama. Ini semua dilakukan sebagai wujud solidaritas untuk pembangunan fasilitas bersama yang dapat digunakan untuk kepentingan umat Islam.

Selain itu jamaah Shiddiqiyah idealnya harus memiliki banyak santunan. Santunan bisa saja dalam bentuk uang dan materi, bisa pula dalam wujud dukungan spiritual dan semangat. Ketika terjadi gempa besar di Aceh, Padang, Yogyakarta, jamaah Shiddiqiyah di Wonodadi berdoa selama 40 hari berturut-turut untuk korban bencana alam tersebut. Doa ini bertujuan untuk meminta kepada Allah agar orang yang meninggal dunia dalam gempa tersebut bisa mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah, sementara orang yang masih selamat mendapatkan semangat dan kebaikan dalam hidupnya.

Ajaran-ajaran tarekat itu terimplikasi dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana ajaran agama yang lain. Oleh sebab itu seseorang yang melakukan korupsi dianggap tidak beragama. Sebab seseorang yang beragama tidak mungkin melakukan praktek korupsi. Dalam hatinya ada iman dan kepercayaan bahwa Allah menyaksikan apa yang dia lakukan. Kalau ia melakukan korupsi sebagai seubah perilaku tercela dan merugikan banyak orang, berarti ia telah melupakan bahwa Allah menyaksikanya. Kalau ia telah melupakan Allah, maka berarti ia tidak lagi memiliki Tuhan dan ini berarti ia tidak beragama.

Tuduhan Aliran Sesat
Sebagai sebuah kelompok baru dan berbeda dengan kebanyakan orang beragama yang lain, maka kelompok tarekat Shiddiqiyah ini pernah dituduh sebagai aliran sesat oleh sebagai warga Wonodadi yang lainnya. Meskipun secara jelas tidak diketahui siapa yang menuduhnya sesat, namun berita tentang kesesatan itu sering didengar. Demikian pula yang sering dikemukakan oleh beberapa kiai yang datang ke Wonodadi untuk memberikan ceramah dan pemahaman agama, ia menjelaskan bahwa tarekat itu tidak ada dalam Islam sehingga ia bid’ah dan tidak boleh diikuti.

Bagi jamaah Shiddiqiyah, tuduhan sesat kepada jamaah tarekat itu laksana orang masuk ke dalam rumah gelap gulita. Seorang pemilik rumah yang sudah tinggal di sana dalam waktu lama sudah tahu bagaimana dan di mana posisi apapun dalam rumah itu. Meskipun gelap ia tahu di mana pintu untuk keluar, dapur, kamar mandi dan lain sebagainya. Hal ini bebeda dengan orang yang belum pernah masuk ke rumah tersebut. Meskipun ia adalah seorang ahli bangunan dan memahami seluk-beluk sebuah rumah, ia tetap tidak bisa menguasai rumah itu. Ia tidak tahu jalan keluar dan berbagai peralatan yang ada di dalam rumah. Orang inilah yang mengatakan kalau rumah itu tidak bagus, atau tidak sesuai dan berbagai hal yang lain. Padahal ia tidak mengenal rumah yang dimaksud dan baru pertama kali masuk ke sana.

Infiltrasi Tarekat dalam aktifitas keagamaan yang lain
Seperti saya jelaskan di atas bahwa tidak semua masyarakat Wonodadi menjadi bagian dari jamaah tarekat Shiddiqiyah yang berkembang di sana. Beberapa orang diantara warga menolak kehadiran jamaah ini karena beberapa alasan. Saya menjumpai salah seorang warga yang tidak setuju dengan perkembangan tarekat yang ada di dusunnya. Nama beliau Pak Kumis yang membangun rumah di bagian paling utara dusun Wonodadi. Seperti warga lainnya, ia seorang patani dan memelihara beberapa ekor ternak sapi. Pada pagi dan sore hari ia mengambil air aren untuk di masak menjadi gula Jawa dan dijual pada pedagang yang datang ke sana setiap minggu.

Bagi Pak Kumis, keberadaan jamaah Shiddiqiyah di dusun Wonodadi dipandang sebagai sebuah agama baru yang dianut oleh masyarakat. Padahal menurutnya, agama masyarakat di sana hanyalah Islam dan tidak ada yang namanya Shiddiqiyah. Kalau ada yang lain yang masuk ke dusun tersebut maka itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sudah berkembang sebelumnya dan tidak benar. Menurutnya banyak orang yang ikut dalam jamaah Shiddiqiyah pada dasarnya mereka yang tidak paham dengan apa yang mereka ikuti. Mereka ikut-ikutan saja tanpa paham apa yang mereka kerjakan. Pak Kumis sendiri melihat apa yang dilakukan Shiddiqiyah tidak sesuai dengan Islam. Misalnya dalam ajaran Shiddiqiyah dikatakan kalau melakukan puasa empat hari maka akan langsung masuk surga. Ajaran lain, kalau mau masuk Shiddiqiyah juga harus puasa empat hari atau tujuh hari. Ini bukanlah ajaran Islam dan tidak ada ajaran Islam yang demikian, kata Pak Kumis. Pun demikian ia sendiri mendiamkan saja masalah ini. Karena baginya persoalan agama adalah pilihan masing-masing orang. Orang tersebut akan mempertanggungjawabkan pilihannya kepada Allah di akhirat kelak.

Pak Kumis dan beberapa orang lain yang menolak tarekat Shiddiqiyah yang berkembang di Wonodadi tetap juga mengikuti aktifitas keagamaan yang di dalamnya dibacakan zikir tarekat. Hal ini terlihat dalam tradisi jamiahan yang dilakukan masyarakat. Jamiahan adalah tahlilan bersama yang dilakukan setiap malam Jum’at yang diikuti oleh warga Wonodadi. Zikir ini dipimpin oleh Pak Andi yang tidak lain adalah pimpinan tarekat di dusun yang sama. Saya mendengar zikir untuk tahlilan yang digunakan oleh Pak Andi juga digunakan untuk acara Kausaran dengan beberapa perubahan dan penyesuaian. Namun demikian secara substansi, zikir yang dibacakan tidak jauh berbeda dengan zikir tarekat. Padahal jamaah yang mengikuti Jamiahan bukanlah jamaah tarekat, tetapi masyarakat umum yang ada di sana. Jadi meskipun beberapa warga menolak kehadiran tarekat di dusun mereka, namun mereka tetap mengikuti aktifitas keagamaan yang dipimpin oleh jamaah tarekat dan mengikuti pula zikir yang dilakukannya.

Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa tarekat Shiddiqiyah yang hidup dalam masyarakat Wonodadi sebagai bagian dari kehidupan keagamaan dan sosial mereka. Berbagai pengaruh modernitas yang disiarkan televisi tidak serta merta dapat menggeser peran tarekat dalam kehidupan masyarakat Jawa Pedesaan. Tarekat justru menjadi tempat di mana mereka mendapatkan ketengangan batin dan semangat untuk berusaha dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lebih jauh, dalam masyarakat Jawa pedesaan, tarekat menjadi media pemersatu dan pembina hubungan sosial diantara mereka untuk kehidupan bersama yang lebih baik.


Daftar Pustaka


Beatty, Andrew. 2009. A Shadow Falls in The Hearth of Java, London: Faber and Faber.

Bruinessen, 1989. “Tarekat Qadiriyah dan Ilmi Syeikh Abdul Qadir Jeilani di India, Kurdistan dan Indonesia,” dalam Ulumul Qur’an vol. 2 No. 2. Jakarta: LSAF.

Bruinessen, Martin van, 1994a. "Origins and development of the Sufi orders (tarekat) in Southeast Asia", Studia Islamika, Jakarta, vol. I, no.1, 1994.

Bruinessen, Martin van, 1994b. "Pesantren and kitab kuning: maintenance and continuation of a tradition of religious learning", in: Wolfgang Marschall (ed.), Texts from the islands. Oral and written traditions of Indonesia and the Malay world [Ethnologica Bernica, 4]. Berne: University of Berne, 1994.

Dhofier, Zamakhsyari, 1985. Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3S.

Hasan, Sudirman, dalam http://sudirmansetiono.blogspot.com/2009/05/origin-of-tarekat-sidiqiyya.html

Howell, Julia Day, 2001. Sufism and the Indonesian Islamic Revival, The Journal of Asian Studies 60, no. 3, August 2001.

Mufid, Ahmad Syafi’i, 2006. Tangklukan, Abangan, dan Tarekat, Jakarta: Yayasan Obor.

Mulyati, Sri. ed. 2004, Mengenal & memahami tarekat-tarekat muktabarah di Indonesia, Kencana, Jakarta.

Nasuhi, Hamid. 2003. Tasawuf dan Gerakan Tarekat di Indonesia Abad 19, dalam, Bakhtiar, Amsal, Tasawuf dan Gerakan Tarekat, Bandung: Angkasa.


Shadiqin, Sehat Ihsan. 2008. Tasawuf Aceh, Banda Aceh: Bandar Publishing.

Shadiqin, Sehat Ihsan. 2009. “Fatwa Sesat dan Pentingnya Dialog,” Harian Serambi Indonesia, 3 Desember 2009.

Shihab, Alwi. 2001, Islam Sufistik, Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia, Bandung: Mizan.

Simuh, 2002. Tasawuf dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press.
Steenbrink, Karel A. 1984. Beberapa Aspek Islam di Indonesia Abad ke -19, Jakarta: Bulan Bintang.

Syakur, Abd. 2008. Disertasi, “Gerakan Kebangsaan Kaum Tarekat: Studi Kasus Tarekat Shiddiqiyah Pusat Losari, Ploso, Jombang Tahun197-2006, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Turmudi, Endang, 2006. Struggling for the Umma Changing Leadership Roles of Kiai in Jombang, East Java, Australia: ANU E Press,.

Catatan Tambahan:
1. Artikel ini dipublikasi sebagai contoh untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah Tarekat di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
2. Artikel ini belum dipublikasi dala jurnal atau buku. untuk pengutipan boleh pakai link berikut ini:
Sehat ihsan shadiqin (2010), http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/tarekat-shiddiqiyah-dalam-masyarakat.html

27 February 2010

Catatan Lapangan Antropolog

Guru Antropologi Saya di UGM Jogja menasehati saya satu hal: Catatlah apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu rasakan." Ia mengatakan ini saat kami hendak berangkat menuju lapangan untuk sebuah training penelitian. Semula, saya tidak sepenuhnya mengerti kenapa ini perlu dilakukan. Sebab tidak semua apa yang kita lihat di lapangan itu perlu. Lagi pula untuk sebuah studi yang telah dipilih topik dan masalahnya rasanya tidak mesti harus bersusah-susah menulis hal lain yang secara langsung memang kita tidak butuhkan untuk penelitian yang sedang dilakukan. Namun sebagai murid, saya lakukan saja apa yang ia minta sambil tetap memendam pertanyaan itu dalam hati dan berniat akan menanyakan padanya kalau ada waktu yang tepat.

Dua minggu setelah itu, waktu itu tiba. Saya menumpang mobilnya saat pulang dari lapangan ke kampus. Saya duduk persis di belakangnya. Saya ajukan pertanyaan yang sudah dua minggu saya pendam. Kenapa harus mencatat semua yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan saat berada di lapangan. Ia mengatakan kalau itu memang dibutuhkan. Saya menimpali, dari catatan yang saya bikin jelas terlihat kalau ada bagian yang tidak perlu dalam penelitian saya. Saya menulis tentang selametan, lalu apa hubungannya dengan pembangkit listrik tenaga air di dusun lokasi penelitian saya? Ia mengatakan, itu mungkin memang tidak bermanfaat padamu kali ini. Namun saat kamu menulis tema lain, misalnya pengembangan wilayah, informasi ini akan menjadi catatan berharga. Lagi pula, siapa yang mengetahui mengenai pembangkit listrik tenaga air di dusun itu sepuluh tahun mendatang? Catatanmu akan menjadi bukti sejarah yang tidak terbantahkan. Ia akan menjelaskan kepadamu bagaimana kamu saat berada di sana pada tahun ini.

Saat ini, saya akui, ada banyak hal yang saya alami, saya saksikan, saya rasa, saya dapatkan bukti, lima tahun lalu. Namun hari ini saya tidak dapat berbuat banyak karena tidak ada catatan sama sekali. Mungkin saya ingat peristiwanya, namun saya tidak ingat detailnya. Mungkin saya ingat konteksnya, namun saya lupa kontennya. Padahal, lima tahun lalu, saat bekerja sebagai relawan tsunami, bekerja dengan Palang Merah Inggris, menjadi trainer dan lainnya, saya mendapatkan banyak "data" yang sangat penting. Tapi kini itu telah hilang seiring dengan perkembangan zaman. Peristiwa itu kini menjadi kisah yang kadang saya ceritakan dengan sedikit bumbu romantis. Saya benar-benar melupakan apa yang sudah saya dapatkan.

Kembali kepada Guru saya dari UGM. Ia mengatakan masih memiliki catatan lapangan mengani Kabupaten Pekalongan sejak 20 tahun yang lalu. Hampir setiap bulan dia menghabiskan satu buku untuk mencatat data-data yang diperlukan. Hingga saat ini, ia telah mengoleksi lebih dua ratus buku catatan lapangan. Catatan-catatan itu amat membantunya dalam menulis artikel. Beberapa artikel publikasi internasionalnya dibuat berdasarkan catatan lapangan tersebut. "Kalau untuk artikel jurnal kampus, tinggal ambil satu buku secara acak, sudah bisa membuat satu artikel" katanya. Catatan-catatan itu benar-benar mereka dengan detai apa yang terjadi di Pekalongan 20 tahun yang lalu.

Saya tahu ini sesuatu yang berat, meskipun saya juga tahu ini sesuatu yang perting. Hanya sebuah usaha sungguh-sungguh yang dapat meweujudkan ini semua. Keseriusan, kejelian, kewaspadaan akan membantu kita mendapatkan hal-hal sederhana yang bercerita. Dan ini semua, pada saatnya nanti akan menjadi saksi tidak terbantahkan tentang sebuah periode sejarah yang pernah berlangsung dan bagaimana kita memahaminya.

Jadi, catatlah apa yang ada di sekitarmu, suatu saat ia akan menjelaskan padamu siapa dirimu sebenarnya.


Tulisan ini saya muat juga di: www.sehatihsan.blogspot.com

15 February 2010

Cinta Anak Alam: Cerita Dari Wonodadi (4)


Anak-anak memiliki bahasa yang sama, bahasa cinta dan kasih sayang yang tulus. Di mana saja mereka terbebas dari kepentingan, prasangka dan kemunafikan. Ketulusan yang ditunjukkan anak-anak Wonodadi, sebuah dusun pedalama Jawa Tengah, selama saya berada di lapangan adalah salah satu contohnya. Mereka mengungkapkan persahabatan dengan jujur tanpa mengharapkan balasan. Mereka menunjukkan perhatian dengan tulus tanpa meminta imbalan. Mereka membantu dengan iklas dan sepenuh hati. Beberapa pengalaman berikut adalah bukti itu semua.

Suatu sore, anak-anak berkumpul di depan rumah di mana saya tinggal. Saya tidak tahu kapan, namun mereka mengatakan saya berjanji untuk main-main ke pemandian di atas gunung yang dikenal dengan Kali Sepi (saya tidak tahu kenapa namanya sepi, meskipun memang di sana sangat sepi karena di lereng gunung). Saat itu jam masih menunjukkan pukul 12 siang. Di Wonodadi, jam 12 siang sama sekali tidak terasa terik mata hari. Tanah selalu dilindungi awan dari sengatan matahari. Karenanya, meskipun tengah hari bukanlah saat yang terik kalau mau melakukan perjalanan.

Saya sebenarnya sedikit malas untuk pergi mandi sebab ini siang hari dan sedang ada pekerjaan (menulis cacatatan lapangan). Lalu saya katakan kalau saya khawatir akan terjadi hujan dan mengajak mereka mandi keesokan hari saja. Sebab biasanya siang hujan akan turun meskipun nampaknya matahari bersinar terang. Namun alasan ini kurang diterima oleh anak-anak itu. Mereka tetap mengajak saya untuk pergi ke pemandian. Saya tidak punya alasan lain. Saya meminta mereka menunggu sampai anak-anak kelas lima dan enam pulang dari sekolah mereka. Nampak mereka bersabar.
Setelah semua anak berkumpul kami pergi menunju pemandian. Hampir semua anak di dusun ini ikut bersama. Ada beberapa yang, karena masih terlalu kecil, tidak mau ikut karena karena terlalu jauh. Beberapa orang warga yang lewat menanyakan ke mana kami mau pergi dan saya jawab mau main-main bersama anak-anak dusun, dan mereka paham dengan kenyataan ini. Saya tidak mendengar ungkapan, “hati-hati ya,” dari para orang tua yang melihat anaknya dalam rombongan itu. Kemungknan bagi mereka ini sudah biasa dan mereka sudah selalu melihat anaknya naik ke sana.

Saat anak-anak sedang asik mandi, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Saya mengajak mereka naik ke darat dan segera pulang. Semuanya bergegas naik dan mengenakan pakaian. Hujan terus turun dengan sangat lebat dan mereka berpakaian cepat-cepat dan segera beranjak pulang. Kami berjalan buru-buru pulang karena hujan semakin deras. Tidak jauh dari tempat permandian kami sudah basah kuyup. Beberapa anak perempuan mengambil daun keladi besar sebagai payung. Namun angin yang kencang menerbangkan payung itu. Mereka berlari kembali. Tiba-tiba dari belakang seorang anak laki-laki menawarkan saya daun pisang yang entah diambil di mana dan bagaimana. Sebuah daun pisang kecil tentu tidak cukup melindungi dari guyuran hujan. Namun tidak mungkin juga menolak pemberian itu. Saya mengucapkan terima kasih dan mengambil daun pisang tersebut. Saya terus berjalan dalam hujan itu dengan cepat dan meminta anak-anak juga berjalan cepat.

Saat melewati anak perempuan, seorang anak perempuan mengatakan meminta maaf kepada saya karena mengajak saya ke pemandian sehingga menjadi basah. Padahal saya sebelum berangkat sudah mengatakan kalau hujan mau turun dan menawarkan pergi ke pemandian keesokan harinya. Namun mereka memaksa untuk tetap pergi lalu saya ikut pergi. Jadinya sekarang kami semua basah kuyup. Saya mengatakan tidak apa-apa dan tidak ada yang salah. Mereka mengkhawatirkan saya kemasukan angin dan sakit. Saya mengatakan tidak masalah, sebab kalau masuk angin nanti saya akan keluarkan di kelas saat mengajar. Dan mereka tertawa.

Pada suatu pagi yang lain, saya mengajak mereka jalan-jalan sebelum kelas dimulai. Kami jalan-jalan ke jembatan besar di mana turbin listrik diletakkan. Jalan menuju ke sana lebih terjal dibandingkan dengan jalan pemandian yang penah kami lewati sebelumnya. Jalan ini terbuat dari batu gunung yang dipecahkan dan disusun rapi. Kami berjalan menurun sedikit demi sedikit. Bekas hujan malam tadi menyebabkan jalanya mash dan licin. Saya harus selalu mengingatkan anak-anak agar hati-hati. Sebab dalam pandangan saya mereka terlalu ceroboh dan buru-buru. Mungkin saja ini hanya pandangan saya, sebab kenyataannya mereka memang selalu berjalan cepat pada jalan seperti itu. Turun ke jembatan memang membutuhkan energi besar. Jalan yang terjal dan licin membutuhkan kehati-hatian yang besar.

Kami hanya berfoto bersama di jembatan dan melihat-lihat sungai dengan air yang mengalir deras. Setelah berfoto bersama saya dan anak-anak mau kembali ke sekolah. Kembali ke sekolah berarti harus menempuh jalan menanjak yang terjal dan licin yang tadi kami turuni. Baru beberapa meter berjalan saya sudah merasakan kelelahan dan ini langsung nampak pada anak-anak. Saya berjalan sangat lambat dan dengan nafas tersengal-sengal. Sesekali saya menompang tangan di lutut untuk menambah tenaga. Melihat ini beberapa anak perempuan langsung memberikan bantuan dengan mendorong saya. Tiga anak perempuan meletakkan kedua tangannya di pinggul saya dan mendorong saya ke depan. Terasa lebih nyaman dan kuat. Namun hal ini tidak mungkin saya lakukan karena akan menjadikan mereka lebih capek. Bagaimanapun kami sedang menempuh jalan yang sama dengan tanjakan yang sama. Namun mereka tidak mengindahkan larangan saya dan terus mendorong. Sampai akhirnya saya harus memegang tangan kecil itu dan memindahkannya.

Kami kembali berjalan sampai ke atas. Saya sangat kelehan. Keringat keluar mengalir membasahi baju. Begitu sampai di tanah yang datar saya langsung duduk di sebuah kayu balok yang akan dijadikan papan cor. Beberapa anak-anak meminta izin pada saya untuk minum. Mereka pergi ke arah perumahan di belakang sekolah. Sekejap kemudian mereka datang kembali dengan membawa segelas air dan memberikan kepada saya. “Mas kan capek,” katanya.


06 February 2010

“Agama Itu Sama Saja, Yang Penting Akhlaknya (3)”

Judul di atas adalah ungkapan dari seorang pengikut tarekat Shiddiqiyah, warga Wonodadi di mana saya melakukan kunjungan lapangan selama dua minggu. Baginya, Islam, Kristen, Budha, Hindu dan agama lainnya, atau bahkan tidak bergama sekalipun adalah sama saja dalam menempuh hidup di dunia ini. Sama-sama manusia dan sama-sama ciptaan Allah. Kalau kemudian mereka berbeda dalam memahaminya, maka itu adalah sebuah kewajaran karena Allah sendiri menciptakan manusia itu dalam keberagaman, termasuk dalam berfikir. Jadi berbagai agama, berbagai kepercayaan, berbagai keyakinan baik dalam agama yang berbeda atau dalam satu agama tertentu sebagai sebuah hal yang wajar saja. Yang penting adalah terbangunnya rasa saling menghormati dan memupuk keberagaman itu untuk kebaikan bersama.

Pak Tahir, demikian nama bapak yang saya temui itu adalah salah seorang anggota tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Tarekat ini masuk ke sana belasan tahun yang lalu. Semula dibawa oleh seorang guru SD yang sekarang sudah pindah, lalu bermunculan tokoh lokal di Wonodadi sendiri. Menurut sejarahnya, tarekat Shiddiqiyah dikembangkan pertama kali oleh Kiai Muhammad Mukhtar Luthfi dari Jombang, Jawa Timur. Tarekat ini bertujuan mendapatkan ridha Allah dalam menjalani kehidupan di dunia. Dalam pemahaman mereka, tarekat adalah tingkatan dalam beragama setelah syariat. Seseorang tidak cukup hanya melaksanakan syariat saja, namun perlu juga melaksanakan tarekat untuk kesempurnaan beragama. Dengan tarekat seseorang akan lebih banyak amalannya dalam beribadah.

Kehadiran tarekat Shiddiqiyah awalnya ditentang oleh sebagian masyarakat Wonodadi karena dianggap sebagai agama baru. Namun saat saya berada di sana penentangan itu tidak nampak lagi. Mungkin saja mereka yang menentang tidak paham dengan apa yang dilakukan jamaah tarekat. Atau jamaah tarekat yang mampu menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan tidak lain sebagai sebuah pelaksanaan ajaran agama juga. Saya belum mendapatkan jawaban. Yang pasti, saat ini hampir setengah masyarakat Wonodadi adalah anggota jamaah Shiddiqiyah. Di pinggiran sebuah hutan tidak jauh dari perkampungan dibangun sebuah gubuk zikir yang khusus digunakan untuk berzikir bagi jamaah Tarekat Shiddiqiyah.

Tarekat Shiddiqiyah adalah sebuah tarekat yang mengusung semboyan kedamaian hidup berbangsa dan bertanah air Indonesia. Saya mengikuti dua kali kausaran, sebuah pengajian tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Dalam pengantarnya yang memakai Bahasa Jawa yang tidak sepenuhnya saya pahami, pemimpin tarekat menjelaskan bahwa doa tarekat ditujukan untuk kedamaian hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan berbangsa dan bertanah air Indonesia. Dalam pengantar itu juga dijelaskan kenapa kedamaian itu perlu. Antara lain karena dalam damai sebuah kedekatan dan silaturahim akan terbina. Silaturahim dengan manusia dan alam, serta silaturahim dengan Allah. Dalam damai pula sebuah peradaban akan tumbuh, sebuah kesejahteraan akan muncul dan keadilan akan bisa diwujudkan.

Wujud kecintaan kepada kemanusiaan jamaah tarekat Wonodadi memupuk semangat saling membantu dalam kehidupan dunia dan kehiudpan spiritual. Dalam kehiudpan duniawi, dusun kecil Wonodadi ikut memberikan sumbangan untuk berbagai musibah yang menimpa masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Menurut Pak Rahmat, sesepuh tarekat di Wonodadi, saat gempa Bantul dan Sumatera Barat, mereka menyumbangkan sejumlah uang yang disatukan dengan sumbangan jamaah Shiddiqiyah yang lain dari seluaruh Indonesia. Dalam bentuk spiritual, mereka mengadakan kausaran selama empat puluh hari pasca gampa. Dalam kausaran mereka berzikir dan berdoa agar apa yang menimpa masyarakat di daerah bencana tertasi dan mereka diberi ketabahan oleh Allah.

Dusun Wonodadi memang terpencil dari transportasi dan komunikasi. Namun masyarakat di sana memiliki pandangan luas tentang kemanusiaan. Semangat membantu, semangat menghargai, semangat memahami jauh melampaui batas-batas dusun mereka yang kecil dan sempit. Boleh saja jalan tidak ada, namun itu tidak menciutkan jalan mereka untuk membantu. Boleh saya komunikasi terbatas, namun itu didak menghalangi mereka untuk menjalin persaudaraan dengan berbagai masyarakat lain di Indonesia, meskipun memlalui doa.