Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

29 March 2012

Temanku Sufi Tapi Komunis

"Aku seorang sufi"
"Apa kamu seorang muslim?"
"Bukan, tapi aku suka sufi, dan aku bermujahadah dan riadhah"
Begitulah percakapan singkatku dengan teman ini. Ia orang Veneto, provinsi yang beribukota Venezia. Minggu lalu ia menyewa kamar satu apartemen denganku. Pada malam pertama ia menginap di sana kami berbincang banyak hal, termasuk masalah sufisme. Di sanalah aku tahu kalau ia menyukai sufi.

Semula aku tidak percaya. Bagaimana mungkin di kota Milan yang materialitis ini ada seorang laki-laki Italia mengaku pengagum Sufi? Bagaimana mungkin dalam budaya hidup yang nafsi-nafsi ini ada seorang pria yang menyukai spiritualitas? Lebih aneh lagi, bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan diri sufi namun ia bukan seorang Muslim? Tapi aku tidak bisa menanyakan ini padanya. Aku justru ingin tahu lebih lanjut apa yang ia pikirkan tentang sufi.

Ia bercerita bagaimana ia sampai ke jalan sufisme. "Aku sudah 38 tahun, sudah pernah menikah meskipun hanya tiga bulan. Perkenalanku dengan sufi terjadi lima tahun yang lalu. Setelah pernikahanku bubar aku mengalami goncangan yang besar. Aku menemukan seorang teman yang menunjukkan jalan sufi kepadaku. Semula aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Namun katanya, engkau tidak rugi kalau mencoba. Aku setuju, dan bergabung dengan komunitas sufi di Milan. Sejak saat itu, aku adalah seorang sufi, meskipun aku bukan seorang Muslim."

Tidak hanya bercerita, ia juga mengambli leptop. Menunjukkan kepadaku foto-foto kunjungannya ke Cyprus, "markas besar" Tarekat Naqsabandi-Haqqani. Ia juga menujukkan fotonya bersama beberapa "sohbet" dari berbagai negera. Ia mengatakan sudah tiga kali pergi ke Cyprus dan berjumpa dengan Syaikh tertinggi Naqsabandi Haqqani. Sekarangpun, di Milan, ia secara rutin setiap kamis malam mengikuti zikir tarekat di salah satu rumah jamaah Naqsabandi.

Masih belum cukup, ia menunjukkan koleksi rekaman zikir yang pernah diikutinya di berbagai negara. Italia, Cyprus, London, Paris, dan terakhir di -aku lupa nama kotanya-, di Amerika. Ia mendemonstrasikan di hadapanku beberapa surat dalam Al-Qur'an yang sudah dihafalnya. Tapi dia mengaku masih belum bisa membaca al-Qur'an dan belum bisa shalat.

"Apa kamu bisa azan?"
"Pasti!" jawabku.
"Coba!"
Aku mengumandangkan azan di dapur kami yang tidak terlalu luas itu. Meskipun bukan dengan suara keras, namun aku tetap menjaga irama azan khas Indonesia tidak hilang. Aku mendengar ia menjawab semua lafaz azanku dengan benar. Begitu selesai, ia mengatakan: "Incredible...inceredibile..." luar biasa! Ia mengatakan irama itu belum pernah didengarnya. Ia biasanya mendengar azan yang datar-datar saja, tidak mengalun. Aku melihat ia seperti hendak menangis tapi menahan tangisan itu.

Malam itu, dia juga menujnukkan sebuah mandolin khas Napoli dan memainkannya dengan sangat baik. Mandolin adalah alat musik yang sering juga dipakai oleh pengikut Naqsabandi Haqqani untuk mengiringi zikir mereka selain Rebana (aceh: rapai). Ia memainkan Mandolin dan mebaca zikir tarekat yang sudah dihafalnya dengan sangat baik. Aku sungguh terperangah dengan semua yang terjadi malam itu! Incredibile!

Sayangnya ia hanya tinggal di apartemen itu dua malam saja. Ia punya sedikit masalah dengan pemilik apartemen dan memilih untuk pindah. Tapi aku belajar satu hal. Jauh berjalan banyak dilihat. Perbedaan, keunikan, keanehan, dan pluralitas kehidupan semakin banyak tersaji. Dunia ini nampak semakin luas dan indah jika kita bisa memahami perbedaan-perbedaan ini.

12 April 2010

Minum Kopi Bersama Tuhan

Saya hanya satu diantara jutaan dan mungkin milyaran penggila kopi di dunia ini. Seperti penggila lainnya, kebanyakan penggila kopi juga hanya menghabiskan waktunya dengan gelas-gelas kopi. Pagi, siang, sore malam. Kebanyakan tidak pernah mengambil pelajaran dari apa yang dilakukannya. Semua berlalu begitu saja, seperti air mengalir. Minum kopi adalah jalan melepaskan lelah, penat, bosan, sterss, atau sekedar hobi bersama teman. Sampai seorang teman “asing” muncul dan dia menjelaskan ada apa dengan kopi.

Saat sebuah SMS masuk ke ponselmu dari seorang teman, katanya memulai, yang isinya mengajakmu minum kopi. Engkau langsung membalas: “Oke, i’m coming!” tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan, tanpa macam-macam. Engkau sudah tahu maksudnya, engkau sudah tahu tempatnya. Namun, apakah engkau melakukan hal yang sama ketika azan menggema? engkau tahu apa artinya, engkau tahu di mana tempatnya, engkau tahu harus melakukan apa ketika mendengar suara itu. Tapi engkau mengabaikan, melanjutkan kerjamu.

Engkau habiskan waktu bersama teman-temanmu bercengkrama, bercerita, bersuara, berteriak dan terbahak di warung kopi. Kau kisahkan keluh kesahmu selama hidup, kau ceritakan kerjamu, keluarga dan masalahmu padanya. Terkadang engkau menjadi klein yang sedang curhat pada sahabatmu, namun terkadang kau menjadi konselor untuk masalah temanmu. Apakah kau melakukan hal yang sama di masjid? adakah kau bicara dengan Tuhan di sana? berlama-lama bersuka-ria bersama-Nya. Mengugkapkan masalahmu, mengatakan problem hidupmu, curhat masalah keluarga dan pekerjaanmu? Padahal Dia adalah konselor yang akan menyelesaikan masalahmu, bahkan yang engkau sendiri tidak tahu masalahnya apa.

Saat kau bisa paham terhadap masalah temanmu dalam keramaian, saat kau bisa mendengar jerit temanmu dalam kegaduhan warung kopi, saat kau bisa menerawang diri untuk introspeksi melihat kenyataan hidupmu dalam keributan di sana. Kenapa kau tidak bisa lakukannya dalam kesunyian masjid? dalam ketangangan dan kenyamanan? Bukankah di sana kau akan aman dan nyaman berfikir tentang dirimu, memberi nilai pada kelakuanmu, memberi reward atas kesuksesanmu dan menjatuhkan punishment atas kealpaanmu. Bukankah di sana kau akan lebih mendapatkan makna hidup? kenapa kau tak lakukan?

Kau memakan banyak makanan yang tidak sehat untuk dirimu, tidak sesuai untuk perutmu, hanya sekedar gaya dan menurutkan selera. Kau memesan makanan yang kau sendiri tidak terlalu suka dengannya. Kau membayar untuk asap yang masuk ke kerongkonganmu menitipkan racun lalu keluar kembali meracuni orang lain di sekitarmu. Tapi kau abaikan seorang pengemis yang datang menghampirimu. Dengan hormat kau katakan: “maaf”, seolah kau tak punya pecahan seribuan, atau bahkan limaratusan dalam saku celanamu. Padahal apa artinya uang kecil itu dibandingkan sepotong kue yang tidak membuatmu kenyang? apa artinya uang seribuan dibandingan sebatang rokok yang tak menyehatkan. Tapi engkau lakukan, seolah uang seribuan terlalu banyak bagi peminta.

Ayolah kita minum kopi bersama Tuhan. Kalau kau mampu melakukannya di warung kopi, kau bisa juga melakukan hal yang sama di masjid-masjid, musahalla-mushalla, atau di rumahmu sendiri, saat semua terlelap dalam mimpinya. Datanglah pada Sahabat Sejati. Dia yang mengetahui segala. Dia yang menyelesaikan masalah-masalahmu. Dia yang memberimu ketenangan yang kau takkan mungkin dapatkan dengan berapapun uang yang kau miliki.

09 April 2010

Tasawuf di Era Syariat

MELIHAT sejarah perkembangan pemikiran Islam, para pendukung tasawuf dan para pendukung syariat pernah berseteru. Bukan hanya di Timur Tengah di mana Islam mulai berkembang dan tumbuh besar, di Aceh pada abad XVII juga pernah terjadi. Al-Hallaj dan ‘Ain al-Qudhad al-Hamdani dihukum mati di tiang gantungan. Demikian juga buku Hamzah Fansuri pernah dibakar dan murid-muridnya diusir dari Aceh dan bahkan dibunuh. Alasan perseturuan itu sama saja, sekelompok ulama menganggap ulama lain telah meninggalkan ajaran Islam yang benar, dengan kata lain mereka telah sesat.

Apakah perseturuan itu masih ada hingga kini? Agak sulit menjawabnya secara tegas. Dalam konteks Aceh, selama ini hubungan antar ulama, baik secara kelembagaan maupun secara personal nampak baik-baik saja. Beberapa “riak” yang terjadi adalah suatu hal yang lumrah dalam perkembangan peradaban manusia.

Salah satu “riak” yang terjadi saat ini adalah pandangan beberapa ulama yang menempatkan tasawuf sebagai “aliran sesat” dalam pemahaman Islam kaffah. Hal ini disebabkan beberapa ajaran dalam tasawuf dianggap menyimpang dan tidak pantas dipelajari dan diketahui umat Islam. Beberapa hal yang sering disebutkan adalah konsep mengenai fana wa bawa, ittihad, hulul, wahdatul wujud, dan lain sebagainya. Konsep ini dianggap terlalu filosofis dan tidak mudah dicerna masyarakat awam. Kesalahan dalam memahaminya, bisa menjadi awal dari kesalahan beraqidah yang akan membawa umat pada kesesatan.

Sebenarnya akar dari pemahaman tasawuf dalam dimensi filosofis seperti di atas berawal dari pemahaman-pemahaman yang dikembangkan Abu Yazid al-Bistami dan Abu Mansur al-Hallaj sejak abad kedua hijriah. Mereka, mengaku sebagai pengalaman spiritual, mengatakan bahwa manusia mampu bersatu dan melebur bersama Allah. Hal ini diperoleh setelah manusia mensucikan harinya dari berbagai pengaruh duniawi sehingga ia murni, tinggal fitrah kemanusiaan dan dimensi ilahiyah dalam dirinya, maka ia akan dapat mendaki sebuah perjalanan menuju Allah.

Pandangan seperti ini, meskipun tidak sama persis, berkembang juga di tangan Ibnu ‘Arabi dan al-Jili beberapa abad berikutnya dengan konsepnya wahdatul wujud dan Insan Kamil. Ia mengemukakan bahwa Tuhan dan manusia pada hakikatnya satu kesatuan. Yang membuat nampak berbeda adalah wajud materil saja. Ini pula yang dikembangankan Hamzah Fansuri di Aceh. Dalam syair-syairnya ia mengumpamakan Allah dan Manusia dengan lautan dan gelombang. Meskipun zahirnya keduanya berbeda, namun hakikatnya satu kesatuan juga.

Pandangan seperti inilah yang menempatkan tasawuf dianggap sebagai ajaran”sesat”. Dalam pandangan banyak ulama lain, Tuhan adalah satu entitas yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan manusia, apalagi menyatakan manusia dan Tuhan sebagai satu kesatuan. Dalam beberapa ayat-Nya jelas dikatakan manusia sebagai ciptaan dan Dia sebagai Pencipta. Berdasarkan ayat-ayat tersebut dan dalam rasio yang diterima manusia, maka tidak mungkin sama antara pencipta dengan ciptaannya.

Perdebatan yang terjadi di kalangan ilmuan Islam tersebut sebenarnya pernah dicoba “selesaikan” oleh al-Ghazali. Kita tahu al-Ghazali setelah “lelah” berkelana dalam pemikiran filsafat yang menurutnya tidak dapat memberikan pencerahan batin kepadanya, ia berteduh di bawah pohon tasawuf. Pada saat itulah ia menulis salah satu karya besarnya, Ihya Ulumuddin. Banyak ilmuan Islam mengatakan ini adalah karya besar yang memadukan tasawuf dengan fiqh Islam. Al-Ghazali dengan sangat baik memberikan pemahaman bahwa tidak ada pertentangan antara tasawuf san fiqh, yang ada adalah saling menyempurnakan. Jika keduanya dipahami dengan benar dan diamalkan dengan baik akan menjadi dasar bagi kesempurnaan iman dan Islam seseorang.

Inti dari apa yang dikembangkan al-Ghazali pada dasarnya adalah harmonisasi antar pemahaman yang cenderung fiqh dengan pemahaman yang cenderung tasawuf saja. Bagi al-Ghazali Islam adalah kesatuan dimensi zahir dan dimensi batin manusia sekaligus. Menjalankan satu aspek ajaran Islam semata menjadikan ibadah tidak sempurna. Umpamanya, melakukan shalat tanpa disertai rasa ikhlas dan khusyuk, mencari rizki tanpa tawakkal, dan menjalani ketentuan Allah tanpa disertai dengan rasa tawadhu’, maka itu semua akan ditolak.

Model tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali di atas akan memupuk kesadaran beragama yang jauh dari rasa ujub dan takabur. Seseorang akan menjalankan ajaran agama karena ia memiliki semangat dan kesadaran bahwa apa yang dijalankannya adalah sebuah kebenaran dan akan mendekatkan dirinya dengan Allah. Lebih jauh, model pengamalan agama seperti ini juga akan menghindari sikap ekstrim yang berlebihan dalam melaksanakan ajaran agama dengan merendahkan, melecehkan, dan bahkan sama sekali tidak menghormati perbedaan yang ada sebagai sebuah sunnatullah.

Kehidupan beragama di Aceh belakangan ini ada dalam sebuah dilema yang rumit. Di satu sisi pemerintah Aceh telah menyatakan diri sebagai daerah penerapan syariat Islam. Di sisi lain hampir tidak ada perbedaan signifikan antara Aceh dan luar Aceh dalam hal keadilan, kemakmuran, keterberdayaan, korupsi, manipuasi dan lain sebagainya. Satu-satunya hal yang berbeda mungkin, hanyalah perempuan Aceh lebih banyak mengenakan jilbab daripada perempuan di daerah lain di Indonesia.

Kondisi ini menunjukkan Islam yang berlangsung di Aceh belum sampai pada hakikat kesadaran beragama. Nuansa semangat dan kesadaran mengamalakan ajaran agama masih sangat jauh dari keseharian masyarakat Aceh yang dipertunjukkan lewat kekuasan dan kehidupan sosial. Syariat Islam dijadikan kebanggan semata dengan mengeluarkan beberapa qanun yang tidak prinsipil yang kemudian lebih banyak menjadi masalah daripada solusi terhadap masalah kehidupan sosial. Dalam posisi inilah diperlukan sebuah pemahaman agama yang integral dan komprehensif.

Merujuk pada model tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali seperti yang saya kemukakan di atas, maka untuk konteks pemberlakukan syariat Islam di Aceh diperlukan sebuah pemahaman yang menempatkan fiqh dan tasawuf dalam posisi setara dan bersanding. Langkah paling mudah adalah melakukan internalisasi nilai moralitas dalam pembelajaran agama dengan penyesuaian konteks kehidupan sosial masyarakat modern.

Pengajaran agama bukan hanya menekankan dimensi hukum, namun juga akhlak. Akhlak bukan hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, orang tua dan manusia, namun juga kepada alam semesta dan sistem sosial. Banyak masalah yang ada saat ini sesungghnya dimulai dari pemahaman yang timpang mengenai moralitas ini. Dan dengan sebuah pendekatan yang integral antara dimensi tasawuf dan syariat mungkin ini akan menjadi sebuah sumbangan yang baik untuk kehidupan manusia yang lebiih beradab di masa yang akan datang.

Tulisan ini telah dipublikasi oleh Haian Serambi Indonesia: Jum'at 09 April 2010

08 April 2010

Bangkai Kucing di Tengah Jalan

Saat melewati sebuah jalan raya saya melihat bangkai seekor anak kucing yang nampaknya baru saja digilas kenderaan. Darah masih merah dan basah di sekitarnya. Beberapa bagian organ perutnya sudah keluar, terburai di sekitar bangai itu. Saya tidak tahu dengan pasti apakah mobil ataukah motor yang melakukannya. Apakah ia sengaja ataukah tidak menabraknya. Faktanya kucing itu sudah mati dan, saat saya lewat ia masih ada di sana, terbaring diantara laju kenderaan.

Laki-laki, perempuan, mobil besar, mobil kecil, motor, becak, pejalan kaki hanya lewat di sisi kanan dan kiri kucing malang itu. Sebagian menghidnari menggilasnya dengan ban kenderaannya yang keras. Namun tidak banyak yang sanggup melakukan itu karena mereka tiba-tiba saja melihat bangai kucing ada di sana. tanpa ayal mereka kembali melibas si kucing malang. Saya tidak tahu pasti ebrapa kali sudah, sejak ia digilas pertama sekali, kenderaan lain melakukan hal yang sama. Saya terrus berjalan meninggalkan bangkai itu.

Sepanjang jalan saya berfikir, kenapa tidak berhenti saja walau sejenak untuk mengambil bangai kucing kecil itu. Berhenti, ambil, buang ke tong sampah. Mungkin itu hanya butuh beberapa detik. Paling lama dua menit. Apalah artinya dua menit dibandingkan waktu minum kopi dan tidur berjam-jam yang jelas manfaatnya kecil. Kalau saya turun dari kenderaan dan “menyelamatkan” bangkai kucing itu, saya tidak akan kehilangan apa-apa. Tidak ada waktu yang saya buang, tidak ada deal ibsnis yang tertinggal, tidak ada mahasiswa yang saya abaikan, tidak ada pekerjaan kantor yang saya tinggalkan. Jadi kenapa saya tidak lakukan?

Mungkin kini, saya masih tetap melanjutkan perjalanan, bangkai kucing itu sudah habis digilas. Bangkai kucing kecil berbulu merah yang saya tidak pernah liaht ketika ia hidup, pasti sudah menghilang dari jalanan. Apalah artinya bangkai kucing, dibandingkan dengan ban besar truk pembawa tanah, batu, aspal, semen di jalan raya. Sekali gilas mungkin kucing itu hilang menjadi debu. Jadi kenapa saya harus susah? kenapa saya harus sibuk? kenapa saya harus menjadikannya beban pikiran? ya sudah, lupakan saja. Tapi saya tidak enak hati, apa yang harus saya jawab kalau natidi akhirat saya ditanya Tuhan, apa yang kalu lakukan pada makhluk-Ku yang terzalimi?

Bergegas, saya kembali, belok arah. Jalan besar di kota yang dibelah dua dan menyisakan beberapa jalur untuk memotong menyebabkan saya harus tetap berjalan ke depan sampai ada tampat berbelok. Saya pacu kenderaan leih cepat dari sebelumnya. Saya ingat-ingat lokasi di mana bangkai kucing itu tergeletak tanpa daya. Saya lewati beberapa motor pasangan muda yang asik memadu cinta di atas motor di jalan raya. Saya lewati sebuah mobil sedan mengkilat yang nampaknya sedang hati-hati takut kenderaaanya tergores aspal. Saya lewati sebuah angkutan kota yang berhenti mendadak. Saya lewati semua, kecuali tukang kebut. Dia melewati saya.

Sesampai saya di lokasi di mana bangkai anak kucing malang tergeletak, saya harus memarkirkan kenderaan lalu menyeberang jalan dengan kaki. Di tengah trotoar saya berhenti, menunggu kenderaan yang tidak melambatkan lajunya. Dari sana saya sedikit bersyukur, bangkai kucing itu masih ada. Meskipun ia sudah rata dengan jalan. Saya cari plastik bekas yang banyak bertebaran di tengah trotoar. Sebuah palstik hitam tersangkut di pohon kere yang ada di sana. Syukurlah.

Dari totoar, saya lihat ke seberang. Seorang laki-laki yang nampaknya jarang mandi memanggul sebuah goni putih di belakangnya. Dan di dalamnya ada beberapa isi yang saya tidak tahu. Tangan kirinya memegang salah satu pinggir goni yang dijulurkan ke punggung melalui pundaknya. Tangan kanannya memegang sebuah besi yang ujungnya bengkok dan runcing. Sesekali ia mengais tumpukan sampah di sisi jalan. Beberapa barang yang ia anggap bermanfaat dimasukkan ke dalam goni.

Persis ketika saya hendak menyeberang karena jalan sudah aman, ia berada di dekat bangkai kucing. Serta merta matanya tertuju ke sana. Tiba-tiba ia bergumam: “Duhhh kucing cantik yang malang….” lalu dengan tangannya, tanpa perlu melapisinya dengan palstik, ia memungut bangkai kucing itu yang ternyata masih bisa dipungut dengan satu tangan. Ia mengangkatnya. Melintasi saya yang berdiri tercengang hendak melakukan hal yang sama. Lalu membuang bangkai itu ke sebuah kontainer yang tidak jauh dari sana. “Istirahatlah kau dengan tenag…” katanya.

Kertas plastik jatuh dari tangan saya. Saya terlambat beberapa detik saja dibandingkan sang pemulung. Saya perlu beberapa menit untuk mengambil keputusan menolong anak kucing yang malang, atau tidak. Sementara ia langsung melakukan begitu melihat anak kucing malang itu ada di depannya.Saya perlu banyak alasan untuk membantu. Sementara ia melakukannya tanpa beban. Saya perlu sejumlah pertimbangan untuk berbuat baik. Sementara ia malukakannya tanpa pertimbangan apa-apa.

07 April 2010

Jurus Pamungkas!

Kakek saya (alm) adalah seorang imam masjid. Saat saya beranjak remaja, beliu sudah sangat tua, mungkin 80-an tahun. Namun dalam usia demikian, seperti halnya kebanyakan orang desa- beliau masih aktif di desa, sebagai imam masjid. Sesekali beliau masih pergi ke kebun, meskipun tidak mencangkul lagi, hanya melihat-lihat tanaman atau memetib buah. Beliau meninggal dunia ketika saya masih duduk di sekolah menengah pertama.

Sebagai Imam desa, saya dengar beliau memiliki banyak ilmu. Di rumah memang beliau memiliki koleksi buku berbahasa Arab yang sangat banyak. Bahkan sampai usia tua beliau tidak rabun dan masih terbiasa membaca meskipun ditemani lampu teplok (karena waktu itu belum masuk listrik ke desa). Namun bukan ilmu ini yang saya maksud. Kata orang-orang di desa, beliau punya ilmu silat tingkat tinggi: silat harimau. Beliau satu-satunya orang yang punya jurus pamungkas karena pernah belajar sampai langkah tujuh. Beberapa pesilat lain di kampung hanya belajar sampai langkah lima. Kebanyakan cuma langkah tiga. Jadi, kata orang kampung, beliau adalah guru silat sejati, suhu, mungkin begitu bahasa kita sekarang.

Nah, mendengar kabar ini, saya yang masih beranjak remaja tertarik mau belajar ilmu silat. Apalagi waktu itu saya sering membaca serial buku silat Saur Sepuh dan Dewa Arak yang teramat terkenal saat itu. Tambahan lagi saya sering menerima ejekan teman-teman di sekolah karena tidak mampu melawan kalau diusilin. Bahkan terkadang saya memilih menghindar daripada bertengkar. Saya membayangkan, kalau punya ilmu silat, saya bisa menghajar mereka sampai kapok.

Karena itu saya mendekati kakek dan mengutarakan maksud saya. Saya katakan kalau saya mau belajar silat, bahkan kalau bisa sampai tamat. Saya mau menjadi muridnya. Mungkin bukan murid terbaik, namun saya yakin bisa menjadi murid pilihannya. Saya belajar cara-cara menyampaikan maksud belajar slat di buku serial dunia persilatan yang saya baca. Saya benar-benar mengatakan dengan sangat serius bahwa saya mau belajar silat, alasan belajar, dan kemana saya akan menggunakan ilmu yang akan saya pelajari.

Mendengar permohonan cucunya, kakek tersenyum saja sambil mengusap kepala saya. Katanya saya harus tidur bersamanya mulai nanti malam. Mendengar "syarat" ini saya kembali teringat buku-buku persilatan. Guru-guru silat selalu menawarkan syarat yang "aneh" untuk mengajarkan muridnya. Saya juga berfikir kalau itu adalah sebuah syarat yang beliau ajukan. Maknya, tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan. Sejak malam itu saya tidur dengan kakek. Seperti biasa, beliau mendongeng dan menceritakan kisah para nabi dan kisah teladan lainnya sebelum tidur. Sebagainnya saya dengar, tapi yang lebih banyak hanya mendengar kalimat pertama: "Zaman dahulu kala... ada seorang...." lalu saya terlarut dalam mimpi.

Setelah beberapa minggu, saya bertanya kepada kakek, kapan ia akan mengajari saya silat. Sebab sudah hampir dua minggu saya memenuhi syarat yang ia ajukan namun saya belum melihat ada tanda-tanda ia akan mengajarkan silat. Saya kadang kesal juga sebab selama memenuhi syarat itu saya menjadi sangat "disiplin." Shalat tepat waktu, bangun sebelum azan subuh, baca doa sebelum makan dan sebelum aktifitas yang lain. Tidak beranjak dari sajadah sebelum berzikir, dan banyak aturan lain. Sesekali ia menceritakan sebuah kisah teladan yang pernah terjadi dalam sejarah dan saya disuruh mengulang cerita itu. Ia mengoreksi di mana ada hal penting yang saya lewatkan. Namun demikian meskipun beberapa kali saya tanya kapan akan mengajarkan silat, tetap saja tidak terlihat akan mengajarkannya.

Samai satu hari, saat sedang duduk sore hari di bawah pohon mangga besar di depan rumah, beliau mengatakan. Saya tidak ingat persis ungkapannya, namun isinya kira-kra begini: Silat itu adalah cara kita mempertahankan diri dari serangan orang. Coba jawab kenapa kita diserang sama orang? banyak alasan, namun yang paling banyak karena ia tidak suka dengan sikap kita, kelakuan kita menyakitinya, berlaku zalim dan kasar, tidak sopan. Nah, Jurus pamungas untuk melawan serangan itu hanya satu: Perbaiki akhlakmu! kamu akan disegani, ditakuti, baik oleh teman ataupun lawan.Itulah Jurus pamungkas dalam kehidupan ini.

Arti Seorang Teman

Satu sore minggu lalu, katika saya pergi ke warung kopi, saya mendapatkan di sana seorang teman lama bersama temanya. Saya sebutkan saja naman teman itu, Bapak Kamal. Beliau adalah dosen di IAIN Banda Aceh. Usianya memang tidak terlalu muda lagi, mungkin sekitar 55 tahun atau lebih sedikit. Namun penampilannya yang “gaul” membuat ia nampak 15 tahun lebih muda. Sementara di sisinya duduk seorang bapak yang mungkin sudah berusia lebih dari 60 tahun. Mereka minum kopi berdua.

Saat saya tiba Pak Kamal mempersilahkan saya bergabung. Karena tidak mau mengganggu mereka, saya mengatakan mau duduk di tempat lain saja. Namun ia mengatakan tidak masalah, dan tetap bersikukuh agar saya bergabung bersama, sambil menarik sebuah kursi untuk saya. Saya kira ini tawaran serius, dan saya bergabung di meja mereka.

Saya diperkenalkan kepada temannya Pak Kamal, ternyata nama beliau Pak Helmi. Pak Helmi pernah menjadi seorang pejabat di sebuah pemerintah kabupaten di Aceh. Pejabat teras. Banyak keputusan yang lahir dari tangannya. Ia menjadi pejabat sudah lama. Namun menduduki posisi “pincak” yang “basah” hanya beberapa tahun saja.

Menurut teman saya, mereka sudah lama berteman, sejak kuliah beberapa puluh tahun yang lalu. Mereka adalah teman satu kos-kosan yang sangat kopak. Ukuran kompaknya adalah mereka punya satu periuk yang sama untuk menanak nasi. Jadi seperti sebuah keluarga, begitu. Meskipun sebenarnya kalau dilihat dari asal daerah mereka berjauhan, apalagi punya hubungan famili, pasti tidak ada sama sekali.

Mereka tidak terpisah sampai tamat kuliah dan bekerja. Meskipun bekerja di institusi yang berbeda mereka masih saling menyapa dan berkunjung. Sesekali Pak Kamal yang mengajak Pak Helmi minum kopi, atau sebaiknya. Saya kira sebagai teman yang baik dan sebagai rekan kerja yang baik memang demikian harusnya. Karena saling berkunjung tersebut mereka mulai merasa sangat dekat dan merasa sebagai anggota keluarga.

Lima tahun yang lalu, Pak Helmi menjadi pejabat di salah satu kabupaten di Aceh. Jabatannya cukup “basah” dan menentukan banyak hal, terutama yang berkaitan dengan dana, baik bantuan sosial maupun urusan proyek tertentu. Selama itu pula Pak Kamal tidak pernah menghubungi Pak Helmi, dan sebaliknya. Mereka merajut cerita masing-masing. Kesibukan kerja Pak Helmi dengan jabatan barunya membuat ia tidak pernah menghubungi Pak Kamal lagi sebagaimana biasanya. Telpon menanyakan kabar saja tidak pernah, apalagi mengajak minum kopi bersama.

Nah, saat saya duduk bersama mereka, Pak Kamal menceritakan pengalaman dia selama menjabat. Seperti biasanya, seorang mantan pejabat selalu memuji diri dan kebijakan yang ia lakukan saat duduk diposisi tersebut. Bukan hanya masalah pekerjaan yang ia ceritakan, namun juga beberapa kunjungannya ke kota lain, bahkan ke negara tetangga. Satu hal yang tidak luput diceritakan adalah beberapa orang yang menjadi temannya ketika itu. Dan ia menyesali mereka tidak bersamanya lagi sekarang karena dia tidak memiliki jabatan lagi. Lalu Pak Helmi mengatakan:

“Hanya satu nih, yang tidak mau menghubungi saya, Pak Kamal. Makanya ia tidak dapat apa-apa. Padahal waktu itu saya punya banyak cara kalau ia mau mendapatkan bantuan [uang]. Ini jangankan datang ke kantor, telpon saja tidak pernah.”

Pak Kamal diam sejenak. Namun sambil sebuah senyuman tidak lepas dari bibirnya ia mengatakan: “Dulu Bapak tidak punya teman, saya menjadi teman bapak untuk minum kopi bersama. Lalu bapak punya jabatan, bapak juga punya banyak teman yang ingin mendapatkan manfaat dari jabatan bapak, saya menghidnar saja. Nah, sekarang ketika mereka menjauhi bapak, saya datang lagi menjadi teman bapak. Dan kita minum kopi lagi seperti lima tahun yang lalu.”

***

Saat kita berfikir buruk pada seorang teman sejati, ternyata ia memiliki niat lebih mulya dari yang kita pikirkan.

06 April 2010

Ada Tuhan dalam Bola? (1)

Satu dari teman saya di kos-kosan tahun 2002 adalah alumni pesantren yang sangat taat dan alim. Ia menjalani harinya dengan bedakwah, memuji Allah; sepanjang jalan, dalam shalat, dalam makan, dalam semua aktiitas yang ia lakukan. Ia juga sangat ramah dan dermawan. Apalagi banyak nasehatnya yang sangat “berisi” dan menjadi teladan yang baik untuk menjalani kehidupan. Karenanya tanpa ragu kami mengangkatnya menjadi imam untuk mushalla kecil di kos-kosan kami. Dia yang menjadi imam dan memberikan siraman ruhani setiap shalat maghrib dan -kadang-kdang- subuh. Apa yang ia sampaikan sungguh, menentramkan hati.

Namun ada satu hal yang paling ia benci; kebiasaan kami menonton pertandingan bola kaki. Sebab lebih dari setengah teman-teman yang ada di kos-kosan adalah penggila bola. Hampir setiap akhir minggu, saat liga-liga di Eropa dilaksanakan, kami beramai-ramai menunggu dengan sabar di depan televisi. Karena di kos-kosan tidak ada TV, maka kami menontonnya di warung kopi yang agak jauh dari kos-kosan. Kami datang ke sana beberapa saat sebelum pertandingan di mulai. Kalau jam 02.00 dini hari, seperti pertandingan La Liga, maka jam 01.00 kami mulai bergerak. Sebab kalau terlambat bisa-bisa tidak kebagian kursi.

Nah, perilaku inilah yang paling dibencinya. Katanya, nonton bola membuang-buang waktu. Tidak ada manfaat apapun yang bisa dipetik di dalamnya selain capek, mengantuk pagi hari, habis uang bayar air dan makan mie. Sementara yang dilihat hanya gambar manusia seukuran telunjuk yang bergerak dalam layar televisi. Bersorak saat tercipta gol, berdesah saat gagal gol, berkeluh kesah saat tim kesayangan kalah, bergembira saat tim kesayangannya menang. “Itu konyol!” katanya dalam sebuah ceramah setelah maghrib. “Sama sekali tidak ada manfaatnya. Jak mita boh-boh sidom na cit!” katanya mengumpamakan dalam bahas Aceh.

Dasar anak kos, seusia pula dengan sang ustaz, semua tertunduk dan saling memandang saat ia cerita demikian. Namun pada malam-malam saat pertandingan akan dilaksanakan, kami kembali mendatangi warung kopi buat nonoton bola. Bahkan tidak segan kami mengajaknya juga, meskipun kami yakin ia akan menolak dan memberikan sedikit “pencerahan” agar kami segera meninggalkan kebiasaan “buruk” itu. Hal ini terjadi berbulan-bulan, hingga dilaksanakan piala dunia tahun 2002.

Tahun 2002 itu saat itu saya sudah pindah kos ke tempat lain karena melanjutkan pendidikan. Saya tidak pernah mendengar ceramahnya lagi. Apalagi “bahasannya” mengenani bola. Meskipun masih di Banda Aceh, kami sudah jarang bertemu. Di lokasi baru di mana saya tinggal, saya merajut pengalaman lain. Dan di kosan lama, dimana teman kami sang ustaz tinggal, ia merajut pengalaman lainnya. Tidak semua pengalamannya saya ketahui.

Suatu hari, masih di tahun 2002 akhir, saya berjumpa dengannya. Ia bicara tentang Inter MIlan dan Bacelona, serta menomentari perhelatan akbar para penggila bola di seluruh dunia yang baru beberapa bulan berlalu. Semula saya menduga ia mau menghujat teman-teman yang menyukai klub bola tersebut. Namun ketika mendengar lebih jauh, saya mendapatkannya mendeskripsikan dengan baik kekuatan dan kelemahan tim-tim bola tersebut. Katanya ada peluang-peluang yang diabaikan oleh pelatih, ada hal-hal yang tidak dilakukan oleh pemain. Bahkan ia menawarkan beberapa tips, kepada saya (meskipun dia tahu kalau saya bukan bagian dari manajemen Barcelona dan Inter Milan), sehingga kedua tim dapat tampil lebih bagus.

Karena heran, saya bertanya, “kenapa Teungku (ustaz) sudah suka bola?”

“Karena dalam bola ada Tuhan,” katanya.

Ia menjelaskan panjang lebar.

bersambung…..

***

Janganlah membenci sesuatu dengan berlebihan, mungkin saja engkau belum mengenalnya. Tapi ketika engkau tahu ada pelajaran di sana, engkau menjadi berubah. Alangkah malunya mereka yang dulu mengejek dan menjelekkan sesuatu tetapi kemudian berlaih memuji dan menyanjungnya.

27 March 2010

Demi Cinta Kau Kubunuh Nak!

Ada sepasang suami-istri yang tinggal tidak jauh dari kampung kami. Suaminya seorang dokter spesialis penyakit dalam yang sudah sangat terkenal di Banda Aceh. Sementara istrinya seorang bidan yang bekerja di sebuah rumah sakit umum, juga di Banda Aceh. Saat ini mereka sudah berumur separuh baya dan tinggal berdua di sebuah rumah mewah di salah satu sudut kota.

Mereka menikha tahun 1983 karena saling mencintai. Adalah seorang anak yang menjadi dambaan hati pengikat kasih selalu mereka damba. Namun setahun, dua tahun, tiga tahu, dan lima tahun berlalu belum ada juga tanda-tanda. Tidak mungkin mereka tidak tahu “caranya” sebab selain itu adalah naluri manusia, juga keduanya paramedis yang belajar menekuni seluk beluk fisiologi manusia. Dari kabar angin yang pernah saya dengar, saat itu mereka sudah sangat mendambakan seorang buah hati penyejuk mata penenang jiwa. Segala cara mereka lakukan, berobat pada dokter, dukun, para normal, dalam dan luar negeri. Dan tentu saja, berdoa. Terkahir pada tahun 1992 mereka menunanaikan ibadah haji ke Makkah.

Alhamdulillah, beberapa bulan pulang dari sana terjadi keanehan pada si istri. Ikan tawar dibilang asin, sayur asin dibilang pahit, suka yang masam-masam, suka bakso, dan berbagai keanehan yang lain. Pasti mereka lebih dahulu tahu dengan tanda-tanda itu karena mereka memang ahlinya. Dan benar saja, sembilan bulan kemudian seorang anak laki-laki sehat, tampan, lahir ke dunia. Mereka membuat namanya Syukran Peunawa. Syukran berarti terima kasih, dan penawa berarti penawar rindu, penawar harap dan penantian orang tua.

Syukran tumbuh sehat karena kedua orang tuanya memang tenaga kesehatan. Beberapa pekerja didatangkan kerumah untukmengurus anak mereka. Seentara kedua orang tuanya, meskipun cinta dan sangat sayang pada anak yang memang mereka nantikan sejak lama tetap tidak mungkin menunggunya sepanjang hari. Tapi tidak masalah, karena orang yang mereka pilih untuk mengasuhnya dapat memenuhi kebutuhan si anak. Di akhir minggu mereka berekreasi ke berbagai tempat. Bahkan tidak jarang, ketika anaknya sudah mulai masuk sekolah, masa liburan diisi dengan jalan-jalan ke luar negeri.

Si anak tumbuh sangat manja. Bahkan hampir menamatkan pendidikannya di sekolah dasar ia masih belum bisa membuka dan memakai baju sendiri. Tapi tidak masalah, bapak dan ibunya bisa menggaji orang untuk memakaikan pakaian kepada anak mereka. Pada usia SMP sifat manjanya menjadi lebih-lebih lagi. Ia meminta bapaknya membelikan sebuah sepeda motor, dan itupun bukan masalah pada orang tuanya. Pada awal-awal masuk SMA bahkan ia minta orang tunya membelikan ia mobil. Lagi-lagi bagi orang tuanya tidak masalah, karena mobil juga bukan barang terlalu mahal bagi mereka. Si anak hidup sangat bergantung pada orang tuanya, tidak kreatif, tidak berfikir tentang masa depan, bahkan tidak peduli dengan resiko.

Saat ia duduk di kelas dua SMA, ia minta orang tuanya membelikan ia sebuah sepeda motor besar yang mirip-mirip pembalap di televisi. Semula orang tunya keberatan, sebab ia sudah ada sepeda motor, dan bahkan ada sebuah mobil, Untuk apa lagi sepeda motor? Namun mereka tidak kuat menahan tatkala si anak berulah, ia pulang larut malam, tidak mau makan, tidak mau ke sekolah, tidak mau mandi. Akhirnya hati mereka luluh, sebuah sepeda motor besar yang diimpikan datang ke rumah pada hari minggu.

Si anak senang bukan main. Ia berterima kasih pada kedua orang tuanya, mencium dan memeluknya. Segera mengenakan pakaian dan hendak pergi entah kemana. Katanya ia akan menjumpai teman-temannya. Biasa, remaja yang suka menunjukkan kepada temannya apa yang baru yang dimilikinya. Dan hari ini ia akan menunjukkan pada teman-temannya sebuah sepeda motor besar yang gagah dan model terbaru yang baru dibeli orang tuanya. Orang tunya melepas dengan senyuman.

Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Pagi minggu yang cerah itu adalah akhir pertemuan dari orang tua dengan satu-satunya anak mereka. Setelah sebuah SMS masuk ke nomor ibunya mengatakan ia tidak bisa pulang makan siang, sampai sore hari tidak ada kabar berita dari si anak. Setelah maghrib seorang rekan bapaknya yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit di mana ia bekerja menelponnya. Hanya satu kalimat pendek yang terucap dari mulut temannya: “Syukran ada di sini”. Bergegas, kedua orang tuanya menuju IGD dengan hati yang tidak tenang. Sepuluh meit kemudian, ketika mereka tiba, mereka mendapatkan anaknya, Syukran, telah terbujur kaku berlumuran darah. Dokter mengatakan, Syukran diambil di sebuah jalan sepi yang sering dipakai remaja untuk balapan liar di sore hari.

***

terkadang cinta yang berlebihan justru membunuh mereka yang kita cintai

26 March 2010

Berdebat dengan Guru

Saat masih madrasah Tsanawiyah, saya sering berdebat dengan seorang guru tentang masalah agama. Sebenarnya beliau adalah seorang guru matematika, namun beliau juga belajar di sebuah pesantren yang ada di kampungnya. Belajar di pesantren sempat terputus saat beliau kuliah ke Banda Aceh. Namun setelah pulang kembali ke kampung dan menjadi guru, ia masih pergi ke pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya.

Topik pedebatan kami sebenarnya sebauh topik khilafiah dikalangan ulama Islam, yakni mengenai jumlah rakaat shalat tarawih. Beliau bersikeras bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat ditambah dengan 3 rakaat sahalat witir. Sementara saya, seperti yang diajarkan kakek saya, cukup 8 rakaat, ditambah tiga rakaat shalat witir. Beliau menyampaikan berbagai argumen untuk menguatkan pendapatnya. Bahkan mengatakan kalau mereka yang shalat 8 rakaat tidak akan diterima oleh Allah karena tidak ada dalilnya. Tidak mau kalah, saat itu saya juga mengatakan argumen saya tentang shalat 8 rakaat. Karena masih sangat kanak-kanak (14 tahun), argumen saya sangat tidak sitematis dan mudah dipatahkan. Namun saya selalu yakin dan bertahan pada pendapat saya, 8 rakaat.

Meskipun terkadang perdebatan itu sudah tidak enak didengar, namun hubungan saya sebagai murid dengan beliau sebagai guru tidak terganggu. Seorang murid, pada masa itu, harus ta'zim kepada gurunya, sebab itu akan menjadikan ilmu yang diberikan berkah. Saya sangat yakin dengan dalil itu. Oleh sebab itu, saya membantu guru-guru saya dalam beberapa hal yang saya bisa. Seperti menanam padi dan menuai padi di sawah.

Pada suatu musim panen, saya pergi ke rumah guru yang sering berdebat dengan saya. Saat itu sabtu sore. Saya mengatakan kalau besok (minggu) saya mau membantunya memotong padi. Beliau sangat senang menyambut kedatangan saya. Apalagi saat itu padinya sudah mulai menua dan harus segera dipotong. Dengan menggunakan tuai, memotong padai sangat lambat sebab dilakukan satu-satu tangkai. Jadi kalau orang yang memotongnya banyak, maka akan cepat selesainya.

Setelah shalat ashar, beberapa temannya datang ke rumah. Awalnya kami hanya membicarakan hal-hal kecil, namun sedikit demi sdikit mengarah ke perdebatan lama, masalah rakaat shalat tarawih. Tiga orang teman guru saya yang santri pesantren berhadapan dengan Sehat Ihsan, anak kecil kelas dua madrasah tsanawiyah. Awalnya perdebatan santai sambil tertawa, namun lama-lama menjadi "panas" sebab bukan hanya masalah rakaat shalat tarawaih, tapi juga keabsahan kenduri kematian, i'adah zuhur, dan beberapa hal yang lain. Dasar keras kepala dan suka berdebat, saya tidak pernah mengalah. Saya tetap saja pada keyakinan saya meskipun sudah tidak memiiki argumen lagi. Lalu guru saya mengatakan, ya sudah nanti kamu saya hadapkan dengan Abu, panggilan untuk guru pimpinan pesantrennya. Saya katakan, tidak masalah.

Malam hari, kami shalat isya di pesantren dan mengikuti pengajian umum yang diberikan oleh Abu, pimpinan pesantren guru saya. Saya diperkenalkan kepada Abu, yang ternyata seorang laki-laki gagah paruh baya. Guru saya mengatakan saya adalah seroang yang bertahan dengan beberapa argumen khilafiah yang salah. Dia menceritakan beberapa argumen saya mengenai taraweh, shalat jum'at, kenduri kematian, dan lain sebagainya. Saya melihat guru saya bercerita dengan tidak objektif. Beberapa pendapat saya dipelintir untuk menunjukkan kekeliruan saya dalam berendapat.

Setelah guru saya selesai, Abu bertanya pada saya.

"Kamu dari mana?"

"Krueng Kluet (nama desa saya)"

"Berarti kamu kenal dengan Teungku Nyakni?"

"Oooo.. itu kakek saya"

"Kakek bagaimana?"

"Yaa.. kakek saya. Bapak dari bapak saya"

"Oo... sampaikan salam saya sama beliau. Beliau adalah guru saya dan dari guru saya. Ilmunya luas. Ia sangat paham dengan agama. Beiau sangat menghormati perbedaan pendapat. Saya sudah dua kali berjumpa dengannya dibawa oleh guru saya. Saya sangat menghormatinya."

"Baik Teungku, saya akan sampaikan."

Abu kemudian minta permisi dan meninggalkan kami. Guru saya, temannya, tidak mengerti apa yang terjadi. Saya juga tidak mengerti. Tapi satu hal yang pasti, Abu menghormati perbedaan pendapat di kalangan kami. Dan "ilmu" tentang perbedaan itu ia beroleh dari kakek saya, yang juga mengajarkan saya mengenai hal yang sama.

***

terkadang pengetahuan yang terbatas menimbulkan keangkuhan dan kesombongan, sementara seorang ahli ilmu justru sadar akan kebodohan dan kelemahannya.

22 March 2010

Diimami Pasien RSJ

Kampung kami terletak di tengah kota Banda Aceh, persis di belakang Rumah Sakit Jiwa. Jalan menuju RSJ langsung melintasi kampung kami. Karena itu sering kali di jalan lewat pasien RSJ yang sudah lumayan sembuh untuk membeli rokok, beli mie, atau sekedar lewat tanpa alasan. Tidak semua yang lewat di sana bisa dinyatakan sembuh. Sebab beberapa yang saya jumpai masih suka ngobrol sendiri, berceramah, mengais tumpukan sampah mencari makanan, dan perilaku lainnya. Bahkan sering juga mereka menakut-nakuti anak-anak, meskipun tidak melakukan pelecehan seksual seperti yang kebanyakan dilakukan oleh orang yang mengaku tidak gila di berbagai daerah di Indoensia.

Kisah ini diceritakan oleh seorang bapak kepada saya, minggu lalu. Peristiwa ini sendiri terjadi tahun lalu, pas bulan puasa.

Sudah biasa masjid kami melaksanakan shalat berjamaah setiap waktu tiba. Saat matahari sudah menunjukkan waktu zuhur, seorang anak muda mengumandangkan azan menandakan shalat segera dimulai. Setelah azan, beberapa jamaah yang datang melaksanakan shalat sunat qabliah zuhur dua rakaat. Ini butuh waktu beberapa menit. Mereka melaksanakan di berbagian pojokan masjid. Sebagai di sisi dinding, ada di balik tiang, dan banyak pula di saf terdepan.

Seorang lelaki muda yang mengenakan serban berwarna putih bersih melaksanakan shalat persis di belakang tempat imam berdiri. Bajunya berwarna abu-abu mencapai lutut. Sementara celananya longgar dan hanya sampai ke mata kaki. Dengan pakaian demikian jelas, siapapun akan menduganya sebagai seorang yang terpelajar dalam agama. Sebab pakain demikian umumnya dipakai oleh orang yang baru tamat dari pesantren atau kiai atau kelompok oraganisasi islam tertentu yang banyak berkembang saat ini. Ia shalat sangat khusyuk. Bahkan muazin harus menunggu agak lama sebelum mengumandangkan iqamah karena ia belum menyelesaikan shalatya. Setelah selesai shalat ia berdoa dengan khusyuk pula, matanya sedikit terpejam dan kepala menengadah ke atas. Hingga tiba mu'azin mengumandangkan iaqamah, tanda shalat akan dimulai.

Melihat pakaian dan laku yang demikian, beberapa orang tua mempersilahkannya maju ke depan menjadi imam. Apalagi hari itu imam kampung tidak datang. Setelah melihat kiri dan kanan ia maju penuh percaya diri. Ia menghadap jamaah yang hanya satu saf dan dengan suara keras dan tegas mengatakan: Lurus, rapat dan rapikan saf, samakan tumit dengan garis hitam. Saf yang rapi adalah setengah dari pahala shalat. Lalu ia berbalik menghadap kiblat dan mengangkat takbir: Allaaaahu Akbar! Kami mengikutinya dari belakang.

Pada rakaat pertama setiap shalat sebenarnya tidak memerlukan waktu yang terlampau lama. Hanya membaca doa iftitah, al-fatihah dan sebuah surat pendek atau beberapa ayat dari al-Qur'an. Namun kali ini sudah berlangsung sedikit lama. Saya mendengar beberapa jamaah membatuk atau bedehem. Nampaknya mereka "mengingatkan imam" agar jangan terlalu lama. Tapi imam masih dalam posisinya semula. Satu...dua...empat... sudah lebih lima menit kami belum juga ruku'. Imam masih saja khusyuk dengan bacaannya. Bahkan sesekali ia terdengar berdesis melafalkan sesuatu.

Tiba-tiba, dari luar masjid terdengar suara gaduh. "Tadi dia di sini menghilangnya. Coba ke belakang masjid. Di kamar mandi. Tadi dia pakai serban putih....." entah apa lagi. Sepertinya ada banyak orang di luar sana yang sedang mencari orang tertentu.

"Nyopat lhon" (saya di sini) teriak sang imam tiba-tiba. Kami sangat kaget. Konsentrasi menjadi buyar. Apalagi tiba-tiba sang imam langsung berjalan ke luar masjid, menerobos saf di belakangnya. Ia terus berteriak. "Nyopat lhon...nyopat lhon...." Sebuah suara lain terdengar dari luar masjid. "Ooo.. ternyata kamu di sini. Cepat pulang ke Rumah Sakit. Pergi ngak permisi. Itu ada keluarga yang datang." Jamaah kamipun buyar lalu bubar. Kami tertawa cekikan bersama. Ternyata imam kami pasien rumah sakit jiwa. Kami terpaksa mengulang shalat dari pertama.

***

Jadi, jangan tertipu dengan pakaian. Kami mengangkatnya menjadi imam (pemimpin shalat) karena surban dan baju koko yang ia kenakan. Tapi pakaian tidak hanya kain tenunan yang dijahit rapi. Pakaian bisa berbentuk partai, suku, agama, daerah, kemampuan retorika. Pilihlah pemimpin karena kita benar-benar mengenalnya, bukan mengenal dia dari pakaiannya saja.

21 March 2010

Harga Sebuah Khilaf

Berapa harga yang harus dibayar buat sebuah ucapan yang tujuannya bercanda tapi membuat orang lain tersinggung?

Rp. 8,7 juta!

Kok bisa? dari mana datangnya?

Mari ikuti cerita ini.

Satu hari, saya bersama rekan-rekan yang lain sedang duduk istirahat di sebuah ruangan bersama di kantor. Satu diantara teman kami adalah bapak (katakanlah namanya Pak Budi) yang sudah berumur lebih dari 60 tahun. Beliau sedikit berbeda dengan normalnya kita. Kakinya pendek, sangat pendek. Badan beliau juga lebih pendek dari bisa. Sehingga kalau ditotalkan mungkin panjangnya hanya 90 cm. Namun beliau memiliki semangat hidup yang tinggi. Bahkan dua minggu yang lalu beliau baru saja menamatkan pendidikan master dalam bidang ilmu agama Islam.

Sepuluh tahun yang lalu beliau diserang penyakit pengeroposan tulang. Ini membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal lagi, seperti biasanya, dalam waktu lama. Beliau berusaha berobat ke mana-mana, bahkan ke luar negeri, namun tidak juga kunjung sembuh. Sampai suatu hari beliau bertemu dengan sebuah perusahaan Jepang yang menawarkan berbagai alat terapi kesehatan. Ternyata alat-alat terapi tersebut sangat sesuai untuknya. Hingga sejak beberapa tahun yang lalu beliau sudah bisa beraktifitas kembali. Tidak sembuh total memang, selain dari sisi usia beliau sudah tua, ada persoalan dengan fisiknya juga. Sekarang ia juga menjadi agen untuk alat terapi tersebut. Setiap ada kesempatan ia pasti menawarkan produk-produknya pada kami. Saya pernah membeli dua pasang kaos kaki untuk nenek saya yang rematik.

Saat saya dan rekan-rekan duduk santai tersebut, datang seorang rekan yang lebih senior (sebut saja namanya Pak Ahmad). Beliau bergabung dengan kami untuk sekedar melepaskan lelah dan bercanda. Pak Ahmad mendekati Pak Budi dan menyakan kabar serta basa basi yang lain. Setelah menjawab semua pertanyan itu, Pak Budi mulai melancarkan jurus pemasaran produk terapi kesehatan miliknya. Ia tahu Pak Ahmad sudah tua, bahkan lebih tua darinya. Ada kemungkinan Pak Ahmad mebutuhkan berbagai alat terapi kesehatan seperti dirinya juga. Ia menawarkan dari kaos kaki, celana dalam, gelang, kalung, bantal, baju, topi, obat-obatan dan lain sebagainya. Semuanya berfungsi untuk menjaga kesehatan. Alat ini akan melancarkan perdaran darah…. bla..bla. bla.. Pak Ahmad tidak berminat membeli ini semua. Ia menanyakan kepada Pak Budi:

“apakah semua ini sudah terbukti khasiatnya?”

“ia, banyak orang dari berbagai negara sudah sembuh dengan semua alat ini, di Jepang, di Singapura, di Malaysia, bahkan di Jakarta banyak orang pakai alat terapi ini”

“Kalau alat ini bagus kenapa bapak tidak pakai untuk diri sendiri saja supaya bapak bisa sembuh dan badan bapak lebih tinggi?”

Pak Budi terdiam. Dia mungkin sangat tersinggung sebab perkataan tadi adalah untuk dirinya sendiri. Ia memang bertubuh pendek dan sakit-sakitan. Sementara Pak Ahmad melihat perubahan di wajah Pak Budi. Ia meliaht air mukanya yang tiba-tiba berubah total. Ada kesedihan pada wajah tua itu saat mendengar pertanyaannya yang terakhir. Saya dan teman-teman yang lain juga menyaksikan perubahan pada muka Pak Budi. Bahkan beliau langsung mengambil HP dan menelpon anaknya karena ia mau diantar pulang. Saya yakin ia tersinggung. Dan setelah ia pulang, Pak Ahmad nampak sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Tidak lama kemudian, kami bubar karena sudah siang.

Beberapa hari setelah itu, saya berjumpa dengan Pak Ahmad di depan pintu yang sedang mengangkut beberapa kotak ke dalam mobilnya. Saya tanyakan kotak apa yang sedang diangkutnya? Sambil saya lihat ke dalam ruangan. Di sana ada Pak Budi yang sedang menghitung uang. Saya ngomong ke Pak Budi.

“Wah…banyak laku hari ini pak?”

“Iya, Pak Ahmad yang belanja. Delapan Juta Tujuh ratus.” Pak Budi menjawab dengan sengat senang dan bahagia. Ai mukanya nampak ceria karena pada pagi itu dagangannya laku dalam jumlah besar.

Pak Ahmad setengah berbisik mengatakan pada saya, “Belanja minta maaf”.

Saya hanya tersenyum. Akibat salah ucap yang menyinggung perasaan orang lain, ia harus belanja barang yang ia tidak perlukan dalam jumlah besar.

Jadi, Jagalah lidah!

19 March 2010

Sufi dan Seks

Kenapa banyak kiai poligami? Saya tidak tahu dengan pasti sampai seorang teman menceritakan sebuah kisah.

Katanya, seorang kiai adalah orang yang sangat rajin beribadah. Ia menghabiskan hidupnya dalam jalan Tuhan. Sementara menikah, dan melakukan hubungan seksual adalah bagian dari ibadah. Sang kiai pasti dengan senang hati akan melakukannya, selalu! Apalagi saat melakukan hubungan seksual yang bernilai ibadah tersebut ada momentum di mana ia mungkin bisa sangat dekat kepada Tuhan. Setidaknya, ia akan menemukan beberapa biji tasbih. Ia juga akan menemukan puncak-puncak pendakian menuju Tuhan. Apalagi di sana juga ia akan mendapatkan lorong-lorong gelap yang sunyi, di mana ia bisa mengulang-ulang zikirnya dan melafalnya dengan cepat. Perjalan itu akan berakhir pada ekstase, saat ia melepaskan segala-galanya kecuali dia sendiri.

Cerita ini dianalogikan sebagai sebuah pendakian spiritual oleh sang teman yang sedang berusaha menjadi sufi. Katanya, seorang sufi yang bermujahadah menuju Tuhan dan seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual hampir sama. Sang lelaki akan mendapatkan kepuasan setelah ia berlama-lama bermain di taman birahi. Saat organsme ia akan terputus dengan dunia di sekitarnya. “Apakah orang organsme sadar dengan apa yang ada di sekelilingnya? pasti tidak” katanya. Demikian halnya dengan seorang yang ekstase di jalan Tuhan. Ia akan penuhi jiwanya dengan Tuhan. Ia akan isi batinnya dengan Tuhan. Apa yang dilihatnya adalah Tuhan. Apa yang dirasakannya adalah kehadiran Tuhan. Pada saat demikian ia akan terlepas dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya sebab ia telah menyatu dengan Tuhan. Mmmm… menaik… menarik, ujar saya.

Saya jadi teringat dengan beberapa buku Paulo Coelho. Dalam beberapa novelnya menggambarkan bagaimana cinta dan hubungan seksual yang dilakukan manusia bukan hanya sebagai cara memuaskan nafsu birahi, namun juga jalan menuju pada Tuhan. Seingat saya ada satu bagian dalam Davinci Code, novel bestseller karya Dan Brown yang juga menceritakan hal yang sama. Pada satu waktu Sophie melihat kakeknya, Suniere melakukan hubungan seksual yang kemudian diidentifikasi sebagai sebuah upacara spiritual. Penggambaran ini adalah dua diantara beberapa penjelasan lain yang menghubungkan antara seks dengan pendakian spiritual yang dilakukan manusia.

Tentu sangat berbeda antara apa yang diceritakan Paulo Coelho dan Dan Brown dengan cerita teman saya di atas. Ia hanya menjadikan hubungan seksual sebagai media pemahaman tentang bagaimana seorang sufi menemukan Tuhan. Sementara dalam novel-novel tersebut justru menjadikan hubungan seksual sebagai media menemukan Tuhan. Meskipun itu bukan hal yang tidak mungkin, namun itu bukan konteks yang ingin saya kemukakan di sini.

Jadi, kembali kepada cerita teman saya, salah satu cara mengerti jalan sufisme, pahamilah jalan hubungan seksual. Dan untuk mengerti bagaimana hubungan seksual maka lakukanlah! bagi yang sudah menikah tentunya.

18 March 2010

Sulitnya Meminta Maaf

Minggu yang lalu saya dikirimi sebuah SMS oleh seorang staf akademik salah satu fakultas di kampus. Isinya ia memberitahu saya ada sebuah mata kuliah yang harus saya asuh di fakultas tersebut. Dengan jelas, dalam SMS tersebut, dituliskan saya masuk jam ke V, ruang dua hari kamis. Saya katakan Oke saja. Tapi minggu lalu sya tidak bisa masuk karena masih berada di luar kota. Insyaallah minggu depan (minggu ini maksudnya) saya akan masuk.

Hari ini, jam 16.20, seperti jadwal biasa saya datang ke kampus. Masuk ke ruangan seperti yang tertulis di SMS. Tidak ada mahasiswa di sana. Mungin mereka sedang shalat ashar, batinku. Lima menit, sepuluh, lima belas menit berlalu. Saya mencoba keluar ruangan, tidak ada siapapun di sana. Sekelompok mahasiswa duduk di depan ruang agak jauh. Saya tanyakan mereka masuk mata kuliah apa. Ternyata bukan mata kuliah yang saya asuh.

Lalu saya menelpon nomor yang dulu mengirimi saya SMS. Saya tanyakan, apakah benar saya masuk jam Ke V ruang 2 hari ini? Tidak ada jawaban. Saya tekan nomornya dan saya telpon, tidak diangkat. Sekali lagi saya ulang, tidak juga. Saya mencoba sampai empat kali, hasilnya sama saja.

Saya pergi ke bagian akademik Fakultas tersebut yang berada agak jauh dari ruang kuliah. Petugas piket baru saja menggunci ruangan dan siap-siap mau pulang. Saya minta ia kembali dan mengambil absen yang biasanya diantar ke kantor saya. Dia mendapatkannya, dan betapa saya sedikit kesal, di sana tertulis saya masuk jam ke III.

Sebuah SMS masuk ke hp saya, seorang yang tadi saya hubungi. Ia mengatakan benar saya masuk hari ini, tapi jam ke III. Saya balas, kenapa dulu di SMS katanya jam ke V? Ia menjawab, “tidak, saya beritahu kalau Bapak masuk jam ke V.” Saya diam saja dan tidak membalas lagi. Saya ambil tas lalu pulang. Saya baca suart alfatihah dan saya hadiahkan pahala untuknya. Mudah-mudahan ia mendapatkan keampuan dari Allah atas khilafnya.

Hanya saja saya berfikir; kanapa ia tidak meminta maaf saja? apakah itu sesuatu yang sulit? Apakah ia begitu yakin dengan SMS-nya yang padahal masih tersimpan di HP saya? Padahal satu kata maafnya mungkin menjadikan hati saya tidak larut dalam kesal menyalahkannya. Dan ia tidak akan “kecil” karena mengakui kesalahannya. Sebab -kata para sufi- maaf adalah pintu bagi persahabatan, dan jalan bagi ketaqwaan.

Maaf sobat, saya ambil kisah ini untuk i’tibar bagi saya sendiri.

27 February 2010

Ambivalensi Pengamat

Alkisah, Lukmanul Hakim ingin mengajarkan anaknya tentang opini manusia tentang orang lain. Ia dan anaknya melkukan perjalanan ke luar kota dengan membawa seekor onta dewasa. Berdua dengan anaknya ia naik ke punggung onta dan meletakkan barang di bagian belakang mereka. Sepanjang jalan orang-orang mengatakan: betapa zalimnya mereka. Seekor onta dinaiki berdua dan ditambah barang di belakangnya. Apakah mereka tidak berfikir onta itu akan sakit dan menderita?

Lukman tahu apa yang dikatakan orang. Ia turun dan hanya membiarkan anaknya yang duduk di punggung onta. Ia sendiri memegang tali onta dan berjalan di depan. Orang-orang mengatakan, betapa anak itu durhaka. Ia membiarkan bapaknya menarik onta sementara ia sendiri duduk tenang di atasnya. Ia sungguh tidak menghargai orang tuanya yang sudah lemah. Kenapa ia melakukan ini semua? sungguh ini anak yang tidak tahu membalas budi.

Lukman ganti posisi. Ia yang duduk di atas dan anaknya yang menarik onta. Orang tetap berkata, betapa orang tua yang tidak bertanggung jawab. Ia membiarkan anaknya menarik onta semntara ia sendiri duduk enak di atasnya. Sebagai seorang orang tua seharusnya ia yang menarik onta untuk anaknya, bukan justru mempekerjakan anak untuk kepentingannya. Dia telah melanggar Hak Azazi Anak.

LUkman turun dan berjalan berdua dengan anaknya sambil menarik onta. Onta berjalan tanpa beban karena mereka dan barang-barangnya telah diturunkan. Orang-orang berkata, betapa bodohnya mereka. Mereka memiliki onta tapi tidak dimanfaatkan. Hari pans terik bagini pasti akan lebih mudah jika mereka naik onta. Perjalanan akan lebih cepat sampai ke tujuan. Lalu untuk apa onta kalau tidak dipergunakan?
Lalu Lukman berkata pada anaknya: Nak, inilah Ambivalensi Pengamat.

Manusia memang penuh ambivalensi. Ketika jalan rusak dan berlubang mereka ramai-ramai protes agar pemerintah segera membangun jalan. Namun ketika jalan telah dibangun, sudah mulus dan keras, ramai-ramai pula membuat polisi tidur di depan rumahnya. Berkenderaan menjadi sangat tidak nyaman, perut sakit bergetar. Kenderaan menjadi cepat. Tidak hati-hati (misalnya tidak tahu di sana ada polisi tidur) bisa celaka. Ketika musim kemarau ramai-ramai minta hujan segera turun agar kekeringan bisa segera pulih. Tapi begitu hujan ramai-ramai susah karena takut benjir melanda kampung mereka. Begitulah manusia.

Opini yang lahir dari sikap ambivalen ini kerap diarahkan pada kita. Orang memandang kita dengan kesalahan yang menumpuk.Kenapa ia begini padahal ia begitu. Maunya ia begini saja. Dia sangat tidak layak mendaatkan itu. Ia dapat karena ia memiliki hubungan dengan bapak pulan. Celakanya banyak diantara kita terpengaruh. Jadilah kita hidup untuk memuaskan opini orang yang punya mulut besar itu, bahkan dengan berkorban dan menyakiti diri sendiri. Apakah kita harus hidup di bawah opini yang menuh dengan kecurigaan dan kecemburuan itu?

Tuhan menciptakan kita dengan potensi kemampuan untuk memilih, maka pergunakanlah potensi itu dengan baik.

Wallahu’a'lam.



Tulisan ini saya publikasikan juga di: http://sehatihsan.blogspot.com/

24 February 2010

Sesendok Air di Kolam Madu

Alkisah, seorang raja di zaman dahulu meminta rakyatnya mengumpulkan madu. Sebagai raja yang bijak dan dituruti maka semua orang sepakat saja dengan apa yang diperintahkan raja. Apalagi madu merupakan penghasilan terbesar di negeri itu. Demi mensukseskan perhelatan tersebut raja menyiapkan sebuah kolam besar yang agak jauh dari kerajaan, dekat hutan belantara. Kolam itu akan ditinggalkan sendiri tanpa pengawalan. Pada sebuah malam yang telah ditentukan setiap keluarga harus membawa sesendok madu dan mengisinya ke dalam kolam.

Seorang laki-laki paruh baya dengan dua anak dan seorang Istri berfikir berbeda menanggapi perintah ini. “Untuk apa saya memberikan raja sesendok madu. Ia memiliki madu yang banyak. Lagi pula apalah untungnya aku membawa madu ke sana, yang ada maduku berkurang. Aku akan membawa sesendok air saja. Kolammnya jauh di hutan, tidak ada pengawalan, malampun gelap gulita. Siapa yang tahu kalau aku memasukkan sesendok air? Apalagi dalam sebuah kolam madu maka sesendok air pasti tidak akan berwujud apa-apa.” Demikian pikirnya. Dan demikian pula yang dilakukannya pada malam yang telah ditentukan.

Keesokan hari, setelah malam pengumpulan madu itu selesai, betapa terkejut masyarakat yang menyaksikannya. Sementara sang raja tersenyum saja penuh makna. Mereka semua menyaksikan, kolam yang disedikan untuk menampung madu, bukan madu yang terkumpul tapi sebuah kolam yang penuh air. Banyak masyarakat malu dan takut pada kenyataan ini. Bagaimana tidak? mereka telah mendapatkan layanan yang baik dari rajanya, namun saat diminta menyumbangkan madu yang diperoleh adalah sekolam air. Raja menanyakan beberapa warganya, kenapa ini bisa terjadi. Ternyata, semua orang berfikir seperti bapak paruh baya dengan dua orang anak. “Apalah artinya sesendok air dalam sebuah kolam madu.” Saat ini menjadi pikiran semua orang, maka yang terjadi adalah kolam air, bukan kolam madu.

Berbagai ketimpangan da masalah sosial yang ada dalam masyarakat kita saat ini berawal dari cara pandang yang sama dengan bapak di atas. Tadi pagi, saat berangkat ke kantor saya melihat sebuah sedan warna hitam dengan plat polisi berwarna merah bertulisan putih tiba-tiba membuka kaca mobilnya dan melemparkan sebuah botol air meneral yang sudah kosong ke jalan raya. Di tempat lain, seorang temanku, dosen, melemparkan putung rokoknya dari dalam ruang kantor ke pintu depan. Putung rokok itu jatuh persis di depan pintu. Seorang penjual nasi pagi saya lihat membuang air comberannya di tengah jalan besar agar langsung digilas roda dan kering. Seorang yang lain dengan pengalaman lain pula. Dan semua kita pasti pernah punya pengalamana yang sama. Atau bahkan kita sendiri adalah orang yang melakukan itu, sadar atau tidak.

Ketika ini semua menadi kebiasaan umum, maka lahirlah lautan sampah di mana-mana. Lahirlah lautan abu rokok seluas lantai. Lahirlah air comberan yang baunya menyengat di jalan raya. Lahirlah berbagai lautan dosa yang awalnya adalah dosa kecil yang kita anggap kecil dan tidak berpengaruh. Padahal dosa-dosa inilah yang kemudian membesar dan menjadi masalah yang harus kita selesaikan dengan uang banyak, tenaga berat dan waktu yang panjang. Padahal semua berawal dari pengabaian kita pada sebuah kesadaran kecil untuk mentaati aturan dan menjaga agar dosa-dosa kecil itu tidak kita lakukan. Padahal andai saja banyak orang yang menghindari dosa kecil, maka dosa sosial yang besar tidak adakan pernah ada. Namun kalau kita berfikir “apakah artinya sesendok air di dalam kolam madu” akan kolam kesalahan sosial akan bertumpuk di mana-mana.

Jadi, mulailah dari diri sendiri.

06 February 2010

“Agama Itu Sama Saja, Yang Penting Akhlaknya (3)”

Judul di atas adalah ungkapan dari seorang pengikut tarekat Shiddiqiyah, warga Wonodadi di mana saya melakukan kunjungan lapangan selama dua minggu. Baginya, Islam, Kristen, Budha, Hindu dan agama lainnya, atau bahkan tidak bergama sekalipun adalah sama saja dalam menempuh hidup di dunia ini. Sama-sama manusia dan sama-sama ciptaan Allah. Kalau kemudian mereka berbeda dalam memahaminya, maka itu adalah sebuah kewajaran karena Allah sendiri menciptakan manusia itu dalam keberagaman, termasuk dalam berfikir. Jadi berbagai agama, berbagai kepercayaan, berbagai keyakinan baik dalam agama yang berbeda atau dalam satu agama tertentu sebagai sebuah hal yang wajar saja. Yang penting adalah terbangunnya rasa saling menghormati dan memupuk keberagaman itu untuk kebaikan bersama.

Pak Tahir, demikian nama bapak yang saya temui itu adalah salah seorang anggota tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Tarekat ini masuk ke sana belasan tahun yang lalu. Semula dibawa oleh seorang guru SD yang sekarang sudah pindah, lalu bermunculan tokoh lokal di Wonodadi sendiri. Menurut sejarahnya, tarekat Shiddiqiyah dikembangkan pertama kali oleh Kiai Muhammad Mukhtar Luthfi dari Jombang, Jawa Timur. Tarekat ini bertujuan mendapatkan ridha Allah dalam menjalani kehidupan di dunia. Dalam pemahaman mereka, tarekat adalah tingkatan dalam beragama setelah syariat. Seseorang tidak cukup hanya melaksanakan syariat saja, namun perlu juga melaksanakan tarekat untuk kesempurnaan beragama. Dengan tarekat seseorang akan lebih banyak amalannya dalam beribadah.

Kehadiran tarekat Shiddiqiyah awalnya ditentang oleh sebagian masyarakat Wonodadi karena dianggap sebagai agama baru. Namun saat saya berada di sana penentangan itu tidak nampak lagi. Mungkin saja mereka yang menentang tidak paham dengan apa yang dilakukan jamaah tarekat. Atau jamaah tarekat yang mampu menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan tidak lain sebagai sebuah pelaksanaan ajaran agama juga. Saya belum mendapatkan jawaban. Yang pasti, saat ini hampir setengah masyarakat Wonodadi adalah anggota jamaah Shiddiqiyah. Di pinggiran sebuah hutan tidak jauh dari perkampungan dibangun sebuah gubuk zikir yang khusus digunakan untuk berzikir bagi jamaah Tarekat Shiddiqiyah.

Tarekat Shiddiqiyah adalah sebuah tarekat yang mengusung semboyan kedamaian hidup berbangsa dan bertanah air Indonesia. Saya mengikuti dua kali kausaran, sebuah pengajian tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Dalam pengantarnya yang memakai Bahasa Jawa yang tidak sepenuhnya saya pahami, pemimpin tarekat menjelaskan bahwa doa tarekat ditujukan untuk kedamaian hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan berbangsa dan bertanah air Indonesia. Dalam pengantar itu juga dijelaskan kenapa kedamaian itu perlu. Antara lain karena dalam damai sebuah kedekatan dan silaturahim akan terbina. Silaturahim dengan manusia dan alam, serta silaturahim dengan Allah. Dalam damai pula sebuah peradaban akan tumbuh, sebuah kesejahteraan akan muncul dan keadilan akan bisa diwujudkan.

Wujud kecintaan kepada kemanusiaan jamaah tarekat Wonodadi memupuk semangat saling membantu dalam kehidupan dunia dan kehiudpan spiritual. Dalam kehiudpan duniawi, dusun kecil Wonodadi ikut memberikan sumbangan untuk berbagai musibah yang menimpa masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Menurut Pak Rahmat, sesepuh tarekat di Wonodadi, saat gempa Bantul dan Sumatera Barat, mereka menyumbangkan sejumlah uang yang disatukan dengan sumbangan jamaah Shiddiqiyah yang lain dari seluaruh Indonesia. Dalam bentuk spiritual, mereka mengadakan kausaran selama empat puluh hari pasca gampa. Dalam kausaran mereka berzikir dan berdoa agar apa yang menimpa masyarakat di daerah bencana tertasi dan mereka diberi ketabahan oleh Allah.

Dusun Wonodadi memang terpencil dari transportasi dan komunikasi. Namun masyarakat di sana memiliki pandangan luas tentang kemanusiaan. Semangat membantu, semangat menghargai, semangat memahami jauh melampaui batas-batas dusun mereka yang kecil dan sempit. Boleh saja jalan tidak ada, namun itu tidak menciutkan jalan mereka untuk membantu. Boleh saya komunikasi terbatas, namun itu didak menghalangi mereka untuk menjalin persaudaraan dengan berbagai masyarakat lain di Indonesia, meskipun memlalui doa.


02 January 2010

Memulai Tahun Baru ala Sufi

Seorang sufi tidak dapat dilepaskan dari “pendakian” menuju hakikat atau yang sering disebut dengan maqamat (stasion spiritual). Maqam adalah “tangga-tangga” yang harus dilalui sang salik (sufi) dalam rangka menggapai hakikat tertinggi yang diidamkannya. Para sufi menyebutkan istilah yang berbeda untuk hakikat tertinggi tersebut. Ada yang menyebutnya dengan fana wa baqa, hulul, ittihad, mahabbah, ma’rifah, mukasyafah dan lain sebagainya. Perbedaan ini terjadi karena berbedanya perasaan yang mereka alami ketika mencapai wujud akhir yang dimaksud.

Meskipun para sufi berbeda dalam capaian akhir yang mereka inginkan, namun dalam memuli langkah awal mereka nyaris sama. Langkah awal yang selalu digunakan oleh sufi dalam memulai pendakian itu adalah taubat. Taubat berarti sebuah pengakuan akan kelemahan, kekurangan, kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Al-Ghazali meberikan tidak “syarat” bagi taubat yang sempurna, mengakui kesalahan, bertekat tidak melakukannya lagi di masa depan, dan mengisi kesalahan dengan perbuatn yang lebih baik. Dengan tiga “syarat” ini maka seorang salik telah dapat memulai perjalanannya menuju hakikat tertinggi yang diidamkan.


Dalam konteks kehidupan kita saat ini, wujud akhir adalah cita-cita besar atau keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu sebagai yang terbaik dalam kehidupan. Cita-cita tertinggi ini menjadi sebuah tekat yang selalu terbayang dan dirindukan. Bahkan ia menjadi pewarna dalam setiap aktifitas kehidupan manusia, menjadi penyemangat, motivasi dan pendorong untuk selalu bersemangat dan terus berusaha mendapatkannya. Sehingga sering dikatakan, hidup tanpa cita-cita adalah hidup tanpa tujuan. Tanpa tujuan yang jelas maka sebuah perjalanan tidak akan pernah sampai ke mana-mana.

Pun demikian jangan lupakan cita-cita spiritual yang menjadi dasar bagi semua agama, yakni pengabdian kepada Tuhan dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam praktiknya, pengabdian ini dimaknai berbeda oleh setiap agama. Namun mereka semua meyakini bahwa berbuat baik kepada sesama manusia dan alam semesta merupakan sebuah perilaku yang dicintai Tuhan, dan sebaliknya, berbuat jahat kepada sesama manusia dan alam semesta adalah perilaku yang dibenci oleh Tuhan dan Ia melarangnya. Oleh sebab itu seorang yang berbuat baik akan menjadi dekat dengan Tuhan, dan seorang yang berbuat jahat akan semakin jauh dari-Nya.

Meneladani para sufi dalam memulai tahun baru adalah dengan mengakui berbagai kelemahan dan kesalahan di masa lalu. Pengakuan ini akan menjadi ruang yang akan diisi untuk mendapatkan kesuksesan di masa yang akan datang. Isilah ruang itu dengan kabaikan dan usaha terus menerus sehingga apa yang diharapkan dapat dicapai. Ketika anda menginginkan sesuatu dan berusaha mendapatkannya maka Tuhan dan alam semesta akan bahu-membahu membantumu mendapatkannya. Insyallah.



29 December 2009

Politik Bakar Buku

Hulagu Khan, siapa yang tidak kenal? Panglima besar pasukan Mongol yang mengakhiri salah satu episode kekuasaan Islam di Baghdad pada tahun 1258 setelah berkuasa lebih dari 500 tahun. Saat itu pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Muktasim Billah (1242-1258) dari Dinasti Abbasiyah. Dalam penyerangannya, selain membunuh para penguasa dan menghancurkan peradaban, ia juga membakar ribuan kitab karangan ulama yang ada diperpustakaan Baitul Hikmah. Perpustakaan ini adalah sebuah pusat penerjemahan dan penelitian para cendikiawan Muslim terbesar yang dirintis sejak masa Harun al-Rasyid dan berkembang pesat pada masa al-Makmun. Di sana dilakukan alih bahasa dan penafsiran terhadap filsafat Yunani dan juga digunakan sebagai laboratorium bagi ilmuan Islam dalam melahirkan berbagai teori ilmu pengetahuan. Namun kebesaran perpustakaan ini musnah di tangan Hulaghu Khan, hanya dalam waktu beberapa hari saja. Konon air sungai Eufrat yang membelah Baghdad menjadi hitam terkena polusi abu kertas jutaan buku yang terbakar.

Melompat ke Aceh dalam abad ke 17, di mana Nuruddin Ar-Raniry memfatwakan pemusnahan terhadap buku-buku karangan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani pada masa kekuasaan Iskandar Tsani (1637-1641) karena dituduh sesat. Ajaran yang dibawa oleh Hamzah dianggap mengandung pemikiran wahdatul wujud yang pernah dikembangkan oleh Ibnu Arabi dan al-Jili. Wahdatul wujud adalah sebuah paham di mana manusia dianggap sebagai titisan Tuhan (wujud bayangan). Oleh sebab itu pada dasarnya manusia tidak memiliki keberadaan esensial, yang ada adalah keberadaan semu. Dalam pemahaman seperti ini wahdatul wujud dipandang menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya, dan itu adalah perilaku syirik, dan sesat.

Belakangan, di Aceh peristiwa ini hampir saja terulang. Sekelompok ulama di Aceh menyatakan sebuah ajaran yang dibawa oleh ulama lain sebagai ajaran sesat. Mereka berargumen di dalam buku kecil yang diedarkan tertulis mengenai ajaran-ajaran Abdul Karim Al-Jili yang bernah “bermasalah” di masa lalu. Ulama tersebut meminta masyarakat mengumpulkan buku yang telah terlanjur beredar dalam masyarakat untuk dimusnahkan karena dikhawatirkan meracuni pemikiran umat Islam, merusak aqidah dan menimbulkan kesalahfahaman di kalangan umat.

Bagaimana dengan buku Gurita Cikeas dan beberapa buku yang dilarang oleh Mahkamah Agung sebelumnya? Jelas alasan terpenting yang dikemukakan adalah apa yang disampaikan dalam buku-buku yang dilarang bertentangan dengan pemahaman umum yang berkembang dan atau dikembangkan pemerintah. Memberikan perspektif yang berbeda atas pandangan umum itu bisa jadi sebagai sebuah gerakan anti pemerintah yang bermuara pada penyatuan visi menggulingkan kekuasaan. Sehingga untuk kepentingan proteksi kemungkinan ini pemerintah melakukan langkah awal dengan pelarangan peredaran buku dimaksud. Padahal pelarangan justru menjadikan buku itu semakin dicari dan menjadi semakin diyakini kebenarannya. Sekali titah pelarang dikeluarkan maka seribu kali klarifikasi yang disampaikan tidak akan mempan menghilangkan anggapan bahwa buku itu berisi kebenaran.

Padahal kalau si buku dibiarkan bereda luas dan bebas di masyarakat akan ada penghakiman publik pada isi buku. Masyarakat akan membaca sendiri dan menilai apakah buku itu memang menyampaikan kebenaran atau ia hanya rekayasa si penulis untuk mencari popularitas, atau memancing di air keruh. Atau seperti banyak yang menyarankan silakan jawab buku dengan buku yang lain. Kalau saya tidak salah respon seperti ini pernah dilontarkan oleh Prabowo (atau Wiranto?) kepada Mantan Presiden B.J. Habibie yang menyinggung namanya dalam Detik-Detik Yang Menentukan. Saat itu Prabowo (atau Wiranto?) mengatakan “Saya akan membuat buku untuk mengklarifikasi hal itu.

Jadi bukan dengan melarang dan membakar, tapi dengan menulis buku lain. Dari sini iklim menulis dan mulai bersinar dan ilmu pengetahuan akan menerangi bumi Indonesia.

20 December 2009

Tasawuf Gaul

Tiba-tiba saya ingat cerita seorang teman yang dulu kuliah di UIN Jakarta tahun 1998, beberapa bulan setalah Sueharto lengser. Dalam sambutan pelepasan jenazah Prof. Harun Nasution, Pjs. Rektor UIN Jakarta, saya lupa nama beliau, mengatakan: “Pak Harun ini Sufi, tapi beliau Shalat.” kalimat pendek ini menimbulkan dua pertanyaan: pertama, memang kalau sufi tidak shalat? kedua, apakah seseorang yang melakukan shalat tidak bisa jadi sufi?

Dalam belantara wacana pemikiran keislaman, tasawuf sering kali diposisikan sebagai ajaran yang meninggalkan berbagai ajaran islam “biasa” dan melakukan hal-hal yang tidak biasa. Hal yang tidak biasa adalah menunjukkan perilaku yang bagi normalnya ajaran agama adalah sesat dan tidak sesuai dengan kaidah kesilaman. Oleh sebab itu sering kali para sufi dianggap sebagai pembawa aliran sesat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. Dalam sejarah kita bisa lihat bagaimana sufi dan fuqaha salaling klaim kebenaran dan tidak mau melakukan dialog untuk kebaikan kehidupan beragama. Pandangan demikian tentu saja kurang bijak, sebab selain bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri yang menempatkan kebebasan berfikir di atas segalanya, tasawuf dan para sufi juga sama sekali bukan orang yang meninggalkan ajaran Islam syariat.

Kalau kita lihat asal kata dan asal munculnya, sufi adalah mereka yang dengan semangat yang kuat ingin menjadikan hidup dan segala aktifitasnya sebagai cara menunju Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semua yang ia lakukan, selama ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran agama dan kebaikan universal, maka itu bisa dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah yang dilakukan para sufi. Setiap gerah dan pemikiran yang ada padanya, setiap potensi yang ia miliki, setiap masalah yang ia terima, setiap apapun yang terjadi padanya, maka itu adalah sarana menunju kepada Tuhan. Ia menghadirkan Tuhan dalam pekerjaaan, dalam pemikiran, dalam wacana, dalam aktifitas yang ia lakukan.

Untuk konteks modern saat ini maka sufi bisa hadir dalam diri setiap orang selama ia melakukan sesuatu dengan landasan keinginan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya sangat yakin sufi bisa berwujud dalam seorang pekerja kantoran, pedagang, penguasa, pengajar, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan semua orang. Hanya sata yang mereka butuhkan yaitu kesadaran dan keinginan mempersembahkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhan dan kehidupan manusia. Sebab kehidupan manusia yang baik juga sebagai sebuah amanah dari Tuhan. Dalam konteks ini maka sufi pasti shalat dan orang yang rajin shalat pasti bisa jadi sufi. Sufi pasti berbuat untuk kebaikan sosial dan masyarakat dalam bentuk apapun dan bagaimanapu, dan mereka yang berbuat untuk kebajiakan pasti bisa jadi sufi. Dan mereka inilah yang saya namakan dengan Sufi Gaul.

04 December 2009

Fatwa Sesat dan Pentingnya Dialog

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara telah menfatwakan “haram” atas sebuah buku yang dikarang oleh Abuya Syeikh H. Amran Wali (Serambi, 26/11/09). Buku tersebut berjudul agak panjang; “Sekelumit Penjelasan Tentang Ajaran Tauhid-Tasawuf Abuya Syeikh H. Amran Waly dan Penjelasan Beberapa Ucapan Abdul Karim al-Jili dalam Kitabnya Al-Insanul-Kamil fi Ma’rifatil-Awakhir wal-Awa’il”. MPU Aceh Utara menganggap isi buku yang hanya sebanyak delapan halaman tersebut memberikan informasi yang dapat menyesatkan aqidah umat Islam di Aceh. Tgk. Ibrahim Bardan (Abu Panton) yang memimpin sidang MPU Aceh Utara juga meminta kepada masyarakat kalau menemukan buku itu agar diberikan kepada MPU untuk dimusnahkan karena dikhawtirkan akan dibaca oleh anak muda yang belum memahami aqidah Islam dengan baik sehingga bisa menyesatkan kehidpa mereka di masa depan.

Membaca berita ini saya teringat sebuah peristiwa di Aceh tiga abad yang lalu pada masa Kesultanan Aceh di bawah pimpinan Iskandar Tsani. Saat itu, Syaikhul Islam, Nuruddin ar-Raniry memfatwakan “haram” bagi sekelompok umat Islam pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Pasee (dikenal pula dengan Syamsuddin as-Sumatrani). Mereka dianggap penganut wahdatul wujud, sebuah ajaran yang dianggap mempersamakan antara Allah sebagai pencipta dengan manusia sebagai ciptaan-Nya. Dengan paham ini maka seorang penganut wahdatul wujud dianggap sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Mereka kemudian difatwakan; “kafir dan halal darahnya.” Bahkan buku-buku karangan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani dikumpulkan di depan masjid raya lalu dibakar. Hal ini dilakukan dengan tujuan ajaran yang dibawa kedua ulama -yang kemudian diagung-agungkan hingga saat ini- tersebut tidak menyesatkan umat Islam dari ajaran Islam yang benar.

Sejarah tuduhan sesat
Tuduhan “sesat” kepada sekelompok ulama dan umat Islam oleh umat Islam lain sebenarnya bukan hanya terjadi di Aceh saja, tetapi telah menghiasi sejarah perkembangan Islam sejak awal munculnya tasawuf, khususnya tasawuf falsafi yang mencoba menguraikan relasi insan dan Tuhan dengan pendekatan filsafat. Korban pertama kasus ini adalah Abu Mansur al-Hallaj, seorang sufi Persia. Ia dituduh oleh ulama lain telah menyebarkan faham sesat dengan ungkapannya: “ana al-haq” yang diterjemahkan dengan “saya adalah Tuhan.” Dengan ajaran ini maka al-Hallaj dianggap telah menyamakan dirinya dengan Allah. Padahal manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sama sekali berbeda dengan Allah itu sendiri. Menyamakan diri (manusia) dengan Allah jelas “aliran sesat” yang menyimpang dari Islam. Akibat ungkapannya tersebut al-Hallaj harus menjalani hukuman berat dengan dipotong bagian-bagian tubuhnya, lalu digantung dan dibakar.

Beberapa abat kemudian peristiwa yang sama muncul lagi. Kali ini yang menjadi korban adalah ‘Ain al-Qudhat al-Hamazani. Saat dijatuhi hukuman “sesat” dan harus menjalani hukuman mati ia masih berumur 33 tahun. Ia dituduh sesat karena ajaran “teomonisme” yang dikembangkannya. “Teomonisme” adalah ajaran yang menganggap segala sesuatu adalah kesatuan al-Haqq. Ini berbeda dengan “monoteisme” yang dianut pada ulama lain yang menganggap Tuhan itu Esa dan tidak ada yang sebanding dengan Dia. Di antara ungkapan yang dikatakan ‘Ain al-Qudhat adalah: “Tidak ada wujud lain kecuali wujud al-Haqq (Tuhan), maka wujud segala bukan di luar wujud al-Haqq, tapi ia (segala sesuatu itu) adalah dia (al-Haqq) juga.” Ungkapan ini dianggap mengindikasikan adanya kesatuan wujud antara manusia dengan Tuhan sehingga dapat membawa kepada kemusyrikan. Dan akibat “ajaran” ini ‘Ain Al-Qudhat al-Hamzani menjalani hukuman mati pada tahun 1131.

Kematian ‘Ain al-Qudhat bukan yang terakhir. Setelah itu masih ada lagi ulama yang difatwakan “sesat” karena ajaran yang dikembangkannya, seperti Syuhrawardi al-Maqtul, Ibnu ‘Arabi dan Al-Jili. Bahkan Imam al-Ghazali pernah menfatwakan “sesat” pada semua filusuf karena ajaran yang mereka kembangkan telah jauh melenceng dari ajaran Islam yang sebenarnya. Fatwa-fatwa sesat ini bukan tanpa implikasi, sebagian dari mereka yang dituduh sesat harus mendekam di dalam penjara, sebagian lain dibunuh dan yang lainnya mendapatkan pencitraan yang buruk sepanjang hidupnya bahkan hingga saat ini.

Kepentingan politik

Kalau kita menganalisa dengan memasukkan tidak hanya ilmu agama namun juga politik, sebenarnya apa yang terjadi pada ulama-ulama yang terbunuh dalam sejarah Islam tersebut tidak hanya karena ajarannya, namun juga karena persoalan politik. Di balik berbagai peristiwa pemunuhan dan penghukuman kepada para ulama ada kepentingan penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Misalnya al-Hallaj, ia dianggap sebagai anggota Qaramithah, sebuah gerakan politik Syiah yang sedang berusah menggalang kekuatan untuk menjatuhkan kekuasaan khalifah yang korup. Gerakan ini semakin besar setelah al-Hallaj melakukan kunjungan ke berbagai daerah Asia Timur. Sepulang dari kunjungan inilah al-Hallaj mulai disorot dengan tuduhan membawa aliran sesat yang kemudanberakhir di tiang gantungan.

Hal yang sama juga terjadi di balik kematian ‘Ain al-Qudhat. Ia dianggap terlalu dekat dengan seorang bendahara kerajaann yang saat itu memiliki potensi untuk menggantikan Sultan, baik secara resmi atau dengan sebuah kudeta. Hal ini tidak disenangi oleh Sultan. Dengan prinsip “teman dari musuhku adalah musuhku juga” maka ‘Ain al-Qudhat menjadi korbannnya. Setelah diasingkan selama beberapa tahun, ia dipenjara dan dijatuhi hukuman mati.

Dalam konteks sejarah Aceh, sebagaimana saya singguh di atas, ketika Nuruddin Ar-Raniry memfatwakan “sesat” kepada murid Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani tidak dapat dilepaskan dari peristiwa politik juga. Pada masa kejayaan Aceh di bawah Iskandar Muda, tokoh ajaran wahdatul wujud sangat dekat dengan penguasa (Iskandar Muda). Hal ini dikhawatirkan akan terjadi pada sultan-sultan yang lain yang membuat apa yang diinginkan ar-Raniry tidak tercapai. Untuk ini perlu upaya yang dapat menghalangi perkembangan ajaran tersebut. Salah satu yang ditempuh Ar-Raniry adalah melobi penguasa (Iskandar Tsani) dengan mengatakan faham wahdatul wujud sebagai aliran sesat.

Apa yang saya sebutkan di atas adalah sebuah dugaan akademik semata. Dengan dokumen yang lain dan kajian yang lebih intens mungkin saja apa yang saya sebutkan itu keliru besar. Namun demikian, sebenarnya, yang ingin saya tegaskan adalah apa yang terjadi di Aceh sebagaimana saya singgung di awal tulisan ini adalah sebuah “pengulangan” peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah Islam sejak dahulu kala. Ia tidak berdiri sendiri dan menjadi peristiwa “unik” sendiri. Di belakangnya sudah ada serangkaian peristiwa yang mirip dan dengan gejala yang hampir sama pula.

Perlu dialog
Sebagai orang beriman dan berilmu maka sudah seharusnya kita mengambil ‘itibar dari segenap peristiwa masa lalu tersebut untuk kebaikan kita bersama. Kerena itu saya sangat setuju dengan apa yang ditawarkan oleh Abu Panton agar pemerintah memfasilitasi sebuah dialog antara Abuya Amran Waly dengan ulama lain di Aceh dan bahkan dengan masyarakat umum. Hal ini diperlukan agar apa yang beliau ajarkan tidak disalahpahmi oleh masyarakat. Bahkan kalau tidak difasilitasi oleh pemerintah sekalipun, saya -mungkin juga umat Islam di Aceh lainnya- berharap agar para ulama dapat duduk bersama dengan hati terbuka dan niat baik agar berbagai masalah keagamaan dapat diselesaikan dengan baik pula.

Sebagai ulama tentu saja kerendahan hati, tawadhu’, sikap terbuka, lapang dada yang mereka tunjukkan akan menjadi teladan bagi umat Islam yang lain, baik di Aceh atau dunia Islam lainnya. Sebab saya sangat yakin baik Abu Panton dan para ulama di MPU Aceh Utara, maupun Abuya Amran Waly, keduanya pasti menginginkan terwujudnya kehidupan beragama yang lebih baik dalam masyarakat Aceh dengan pemahaman tauhid yang benar. Dialog atas keraguan umat Islam di Aceh menjadi penting agar membawa kedamaian dan ketenangan hati. Insyaallah.

Artikel ini dimuat juga di:
http://www.serambinews.com/news/fatwa-sesat-dan-pentingnya-dialog

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...