Showing posts with label makalah. Show all posts
Showing posts with label makalah. Show all posts

16 September 2014

Autoetnografi: Dari Pengalaman ke Teks

Apa yang paling mudah ditulis? Jawabnya sudah pasti: pengalaman pribadi, sesuatu yang pernah dilakukan, dialami, dan itu sangat berkesan. Berbeda dengan pengetahuan yang sering kali terlupakan, pengalaman seperti terpatri di dalam ingatan seseorang. Semakin berkesan sebuah pengalaman, maka semakin kuat ia melekat dalam ingatan. Memang terkadang ia mengalami degradsai, atau bahkan penambahan dalam beberapa aspek detail, namun substansi sebuah pengalaman tetap tidak akan pernah hilang. 

Sayangnya, seringkali pengalaman personal ini diposisikan sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bisa dipakai sebagai data dalam penelitian. Penelitian yang -selalu dianggap- sangat objektif, berusaha seminimal mungkin menggunakan intervensi pribadi sipeneliti dalam laporannya. Peneliti -dianggap- harus independen, harus tidak memihak, dan harus menyajikan data apa adanya seperti yang ia temukan di lapangan. Ia harus memihak pada data, pada temuan-temuan faktual yang ada tenpam emanipulasinya. Hanya dengan cara seperti itu sebuah masalah dapat dilihat lebih terang dan intervensi atas masalah tersebut bisa dilakukan dengan objektif pula.

Anggapan demikian ada benarnya, namun dalam beberapa model penelitian sebenarnya tidak tepat. Seorang peneliti sosial adalah seorang yang mencoba mendalami pengalaman, cara pandang, proses perjalanan hidup seseorang untuk diangkat menjadi sebuah bahan analisis akademik. Pengalaman orang tersebut akan dijadikan bahan untuk dilihat berbagai aspek yang melatarbelakanginya, aspek yang mempengaruhi, hubungan antara satu orang dengan orang lain, faktor pembentuk, dan lain sebagainya sesuai dengan tujuan, metoda, atau teori yang digunakan. Dengan dasar ini, kenapa seseorang tidak bisa menggunakan pengalamannya sendiri sebagai basis sebuah penelitian sosial? Bukankah ia sangat memahami pengalamnnya? Ia mengerti, dan bahkan sangat mengerti, apa yang pernah ia alami? 

Autoetnografi 
Dalam konteks inilah sebuah penelitian autoetnografi dapat digunakan. Autoetnografi adalah penelitian sosial yang sangat dekat dengan antropologi. Sebelumnya hanya dikenal etnografi, yakni sebuah penelitian yang mencoba mendeskripsikan sistem hidup yang berlangsung dalam seubuah masyarakat. Pada awalnya, etnografi digunakan oleh sarjana Barat untuk mendeskripsikan kebudayaan dan kehidupan bangsa di Timur. Beberapa karya besar dalam antropologi sesungguhnya dilakukan melalui sebuah proses etnografi. Mereka tinggal dan hidup dengan sebuah suku bangsa, dan melihat semua proses yang berlangsung dalam suku bangsa tersebut. Inilah yang kemudian dijadikan bahan dalam membuat teori sosial mereka. Dalam autoetnografi, maka “suku bangsa” yang dilihat itu adalah diri sendiri. 

Ada banyak pengalaman yang dilalui oleh seseorang selama ia hidup. Ia pernah melalui masa kecil, masa bermain, masa sekolah. Ia pernah mengalami bagaimana berinteraksi dengan orang lain pertama kali, bagaimana menjalani hidup saat sekolah, saat remaja, dan bahkan beberapa waktu sebelum ia menulis. Ia pernah memutuskan sesuatu baik untuk dirinya atau untuk orang lain, ia pernah mendapatkan tanggung jawab dan menajalninya. Singkatnya, seorang orang yang masih hidup pernah melalui sebuah proses hidup yang banyak diantara pengalaman itu masih diingat dan direkam dalam pikirannya. Inilah yang dijadikan bahan dalam sebuah penelitian Autoetnografi. 

Bagaimana Menulis Autoetnografi? 

Langkah Pertama, dan paling penting, seorang peneliti harus mencatat pengalamannya sendiri dalam berhadapan dengan orang lain, keterpengaruhannya pada sesuatu, alasannya memilih atau tidak memilih sesuatu, dan hal lain yang memiliki relevansi dengan penelitian. Catatan ini harus sedetail mungkin, persis seperti sebuah narasi cerita. Aspek-aspek di luar yang dialami juga dicatat unutk menunjukkan cerita itu hidup dan dialami secara alami. Sebenarnya semua cerita bisa dipakai untuk sebuah penelitian etnografi. Namun dalam artikel pendek, misalnya makalah untuk jurnal, maka pengalaman yang diangkat hanya yang relevan dengan apa yang hendak dibahas saja, dan disesuaikan dengan pendekatan keilmuan yang dipakai dalam menulis. 

Kedua, Pengalaman yang ada dikalsifikasikan dalam tema tertentu yang hendak ditulis dalam artikel. Semua pengalaman akan membantuk sebuah tema dan tema ini akan menjadi “sub judul” dalam sebuah artikel. Letakkan pengalaman itu di bawah sub judul yang hendak ditulis. Sebuah sub judul bisa saja memiliki satu pengalaman saja, atau bisa beberapa pengalaman kalau ia memiliki relevansi dan unsur tambahan yang penting untuk menjelaskan sebuah sub judul. 

Ketiga, menjelaskan pengalaman dalam konteks sosial di mana pengalaman itu dilakukan atau terjadi. Misalnya, pengalaman “dipukul oleh orang tua”, dibahas dalam konteks bagaimana masyarakat sekitar melakukan atau tidak melakukan hal yang sama. Atau bagaimana sebuah kekerasan pada anak dalam bentuk yang lain terjadi di lingkungan itu. Jika terkait dengan pengalaman “desa yang hijau” bisa dijelaskan konteks bagaimana “hijau” itu terjadi, dimanfaatkan, dan dipersepsikan oleh masyarakat sekitar. Intinya, pengalaman personal harus dijelaskan dalam konteks yang lebih luas di sekitarnya, bukan berdiri di arena kosong dan hampa. 

Keempat, menempatkan pengelaman itu dalam konteks teoritis yang lebih luas lagi. Dalam fase ini maka apa dan siapa menjadi tidak penting lagi, yang utama adalah pola pengalaman itu sendiri. Kita belajar dari pola-pola itu dan menganalisanya dengan teori yang ada. Dalam kontek ini kita bisa mendukung sebuah teori, menjelaskan teori, memperbaiki atau bahkan memabantah teori yang sudah ada sebelumnya. Dalam kontek ini juga pengalaman personal itu akan dianalisis dengan jalan yang lebih serius yang melibatkan beragam analisis sejenis dalam kontek masyarakat yang berbeda yang pernah ditulis oleh para ahli. 

Memulai Autoetnografi 

Kembali pada paragraf awal tulisan ini, bahwa hal yang paling mudah kita tulis adalah pengalaman sendiri, sebab itu sangat kita ingat dan membekas dalam pikiran kita. Oleh sebab itu, saat merasa “tidak ada ide” untuk menulis, maka tulislah pengalaman sendiri dan jelaskan konteks pengalaman itu terjadi. Tidak harus menjadi sebuha makalah ilmiah, menulis autoetnografi bisa saja hanya dimulai dalam catatan kecil dan ringkas seperti di dalam blog ini. Dalam konteks ini kita belajar merangkai kata dan menyusun logika-logika yang nantinya dalam makalah ilmiah juga akan dipakai meskipun dengan analisis yang lebih dalam dalam kompleks. 

Banda Aceh, 16 September 2014.

19 March 2010

Tarekat Shiddiqiyah Dalam Masyarakat Jawa Pedesaan

Oleh: Sehat Ihsan Shadiqin

ABSTRAK

Artikel ini akan menjelaskan tentang perkembangan dan pengaruh tarekat dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa pedesaan. Beberapa peneliti tarekat modern di Indonesia, seperti Bruinessen dan Howel, menyatakan bahwa tarekat mulai bergeser kepada masyarakat perkotaan yang disebut urban sufism. Dalam urban sufism sistim hubungan guru murid yang menjadi kekhasan dalam tarekat ditinggalkan sama sekali dan diganti dengan kemampuan retorika dan menghubungkan ajaran agama dengan konteks hidup masyarakat modern dengan pendekatan spiritual. Hal ini tidak sepenuhnya benar, khususnya dalam masyarakat pedesaan Jawa. Tarekat tidak terpengaruh dengan perkembangan modern dalam hal komunikasi dan telekomunikasi. Tarekat tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberagamaan mereka dan dalam relasi sosial dalam masyarakat. Saya melakukan studi lapangan di sebuah dusun pedalaman Pekalongan, Jwa Tengah ada bulan januari 2010, mengikuti berbagai kagiatan yang dilakukan oleh anggota tarekat Shiddiqiyah dan mewawancarai beberapa anggota tarekat tersebut. Dari sana saya berkesimpulan bahwa perkembangan modern dalam bidang komunikasi dan transportasi tidak serta-merta menjadikan perkembangan tarekat berubah di daerah pedesaan Jawa. Kedekatan budaya Jawa yang singkretik dengan tarekat menjadikan tarekat tetap berkembang dalam masyarakat.

Kata Kunci: shiddiqiyah, masyarakat pedesaan, wonodadi, pekalongan

Pendahuluan
Tarekat merupakan aspek kehidupan beragama yang populer dalam masyarakat pedesaan Jawa. Hal ini terjadi sejak kedatangan Islam di Jawa, di mana para sufi memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam (Dhofier, 1985:40). Sehingga tidak dapat disangkal bahwa Islam di Indonesia pada awalnya adalah Islam Tasawuf (Steenbrink 1984: 173, Shihab 2001: 274). Namun demikian pengaruh tasawuf dalam bentuk tarekat di pedesaan Jawa saat ini dianggap mulai memudar seiring dengan masuknya berbagai pengaruh teknologi komunikasi dan transportasi modern. Atau setidaknya jaringan tarekat mulai digunakan bukan hanya sebagai media religiusitas, namun juga jaringan sosial dengan kepentingan ekonomi (Bruinessen 1994a). Kondisi ini melahirkan sebuah model baru dalam perkembangan tasawuf di Indonesia yang dikenal dengan urban sufism. Howel (2001) yang mengemukakan istilah ini pertama kali mengartikan urban sufism sebagai tradisi tasawuf yang tidak terikat dengan pola tarekat yang pernah berkembang di Indonesia selama ini.

Dalam amatan saya di Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Pekalongan Jawa Tengah, indikasi yang ditunjukkan Bruinessen dan Howel di atas tidak sepenuhnya tepat, meskipun beberapa hal dapat diterima. Di sana yang terjadi justru seperti apa yang disebutkan Mufid (2006: 274) dan Beatty (2009: 151) bahwa tarekat telah mewarnai perkembangan budaya Jawa Islam. Dalam masyarakat pedesaan Jawa, tradisi tarekat masih tetap hidup sebagai bagian dari religiusitas mereka dalam beragama. Pola tarekat yang didasari pada hubungan guru-murid yang dekat dan pelafalan silsilah keguruan yang bersambung sampai pada Nabi Muhammad masih dilakukan oleh masyarakat. Demikian juga komunikasi antara warga penganut tarekat dan kerja sama sebagai sebuah komunitas masih dipertahankan. Oleh sebab itu saya berargumen bahwa perkembangan modern dalam bidang komunikasi dan transportasi tidak serta-merta menjadikan perkembangan tarekat berubah di daerah pedesaan Jawa. Kedekatan budaya Jawa dengan tarekat menjadikan tarekat tetap berkembang dalam masyarakat. Selain itu berkembangnya tradisi urban sufism di perkotaan tidak menjadikan perkembangan tarekat di pedesaan surut dan musnah.

Artikel ini saya tulis sebagai hasil observasi lapangan di dusun Wonodadi di Jawa Tengah tahun 2010. Dusun ini terletak di daerah pegunungan kecamatan Petung Kriyono. Di sana berkembang sebuah tarekat yang dikenal dengan tarekat Shiddiqiyah. Tarekat ini berasal dari Jombang Jawa Timur yang dipopulerkan oleh Syaikh Muhammad Muhtar bin Abdul Mu'thi. Sekitar tahun 1998 tarekat ini dibawa ke Wonodadi oleh seorang Guru Sekolah Dasar yang berasal dari Pekalongan. Hingga saat ini Shiddiqiyah telah diikuti oleh lebih dari 50 orang warga Wonodadi. Selama berada di lapangan saya mengikuti kegiatan tarekat serta mewawancarai anggota tarekat Shiddiqiyah yang ada di dusun tersebut. Saya menyamarkan semua nama narasumber dalam penulisan artikel ini untuk menghindari hal-hal yang tidak berkenan bagi mereka.

Tulisan ini saya bagi dalam lima bagian. Bagian pendahuluan akan menjelaskan konteks artikel ini. Saya melanjutkan dengan sedikit gambaran mengenai perkembangan tarekat dalam masyarakat Jawa. Kemudian saya akan menjelaskan masuk dan berkembangnya tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi di mana saya melakukan studi lapangan. Berikutnya saya akan menjelaskan mengenai aktifitas jamaah tarekat di sana baik untuk kalangan mereka sendiri maupun yang berhubungan dengan masyarakat secara umum. Beberapa penolakan yang terjadi dari kalangan masyarakat di mana tarekat ini dikembangkan juga akan saya bahas dalam bagian ini beserta dengan penyelesaian yang telah dilakukan. Tulisan ini saya tutup dengan kesimpulan di mana argumen pokok akan saya tegaskan kembali.

Tarekat dan Penyebarannya di Indonesia

Tarekat berasal dari kata berbahasa Arab; thariqah, yang berarti ‘jalan’, dalam hal ini jalan spiritual yang ditempuh oleh seorang penganut tasawuf untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Seorang penganut tariqah semestinya adalah seorang yang mendalami aspek spiritualitas Islam. Sebab Islam sebagai sebuah agama memiliki dia aspek ajaran, yaitu aspek esoterik dan eksoterik. Aspek esoterik adalah aspek lahiriah ajaran agama yang sering kali didasari pada logika formal dan bukti empirik. Dalam konteks ini maka ajaran agama yang dipersepsikan adalah hukum-hukum formal dan ritual-ritual tertata yang dilakukan dalam waktu yang telah ditentukan. Sementara aspek eksoterik Islam adalah dimensi batin yang didasari pada musyahadah (penyaksian) dan diperoleh dari mujahadah (usaha yang sungguh-sungguh) oleh seorang manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pada mulanya, tarekat dikembangkan oleh seorang individu yang merasa telah mencapai posisi paling dekat dengan Tuhan. Ia telah melakukan serangkaian usaha (mujahadah) yang menjadikannya menempati posisi sangat dekat dengan Tuhan. Pengalaman batin ini diceritakan kepada orang lain yang kemudian menempuh jalan yang sama dengan apa yang dilakukannya. Dari sinilah kemudian berkembang secara turun-temurun ajaran tarekat hingga saat ini. Pluralitas aliran ini disebabkan banyaknya orang yang memiliki pengalaman spiritual dan mengajarkannya kepada orang lain (Simuh, 2002:41). Sehingga banyak nama tarekat dinisbahkan kepada pendirinya. Misalnya tarekat Qadiriyah, dinisbahkan kepada Abdul Qadir al-Jailani.

Di Indonesia tarekat mulai berkembang sejak berkembangnya agama Islam. Sufi pertama yang teridentifikasi dalam sejarah tasawuf Nusantara, Hamzah Fansuri (w. + 1610) sufi asal Aceh, merupakan penganut tarekat Qadiriyah (Shadiqin, 2008: 57). Meskipun memiliki perbedaan dengan Qadiriyah yang berkembang dewasa ini (Mufid, 2006: 62) namun ini menunjukkan adanya aktifitas ketarekatan pada masa itu. Dari Aceh pada masa selanjutnya tarekat semakin berkembang. Tarekat semakin berkembang setelah Abdurrrauf As-Singkili (w. 1693) membawa pulang terekat Syattariyah ke Aceh dan Yusuf al-Maqassari mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di Sulawesi, Kaimantan dan Jawa. Ajaran tarekat semakin berkembang di Indonesia melalui murid-murid mereka yang tersebar di Nusantara. Misalnya, Abdurrauf as- Singkili memiliki murid Burhanuddin Ulakan di Sumatera Barat dan Abdul Muhyi Paminjahan di Jawa Barat. Dari sana bermunculan lagi murid yang kemudian jadi guru hingga saat sekarang ini.

Sejak masa masuk dan berkembangnya di Indonesia tarekat menjadi sebuah topik yang memicu kontroversi di kalangan ulama Islam sendiri. Bibit dari kontroversi ini memang sudah dimulai sejak kemunculan tasawuf itu sendiri pada abad pertama masehi (Shadiqin, 2009). Bahkan dalam abad pertengahan, di Aceh terjadi pembakaran terhadap buku-buku karangan Hamzah Fansuri yang dilakukan oleh Nuruddin ar-Raniry (Shadiqin, 2008: 105). Selanjutnya, dalam abad XIX kritik bukan hanya diarahkan kepada tarikat, namun juga kepada ulama sufi yang membawa tarekat tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Sayyid Usman kepada Sulaiman Zuhdi, di mana Sayyid menganggap Sulaiman telah mengajarkan hal-hal yang jauh dari kebenaran agama kepada masyarakat di mana masyarakat mempercayai kebohongan tersebut (Nasuhi, 2003: 75).

Dalam konteks pulau Jawa penyebaran tarekat dilakukan pasca berkembangnya di Aceh. Sebagian peneliti mensinyalir bahwa Wali Songo menganut tarekat Qadiriyyah (Bruinessen, 1988: 70). Namun bukti untuk hal ini hanya ada satu kalimat dalam Babat Tanah Jawi yang mengatakan Sunan Kali Jaga mengajarkan Ilmu Syekh Qadir (Mufid, 2006: 63). Dalam masa-masa selanjutnya perkembangan tarekat dilakukan melalui pesantren-pesantren di seluruh Jawa. Pada abad XIX, perkembangan tarekat sempat dodominasi oleh Naqsabandiyah yang dibawa oleh pada ulama yang pulang dari tanah suci Makkah. Hal ini terjadi karena Naqsabandiyah dianggap lebih berorientasi Syariat dbandingkan dengan tarekat lainnya. Namun saat ini berbagai tarekat, selaian Naqsabandiyah, juga berkembang pesat di Indonesia. Bahkan beberapa diantaranya adalah, apa yang disistilahkan Brunessen sebagai, tarekat lokal, yakni tarekat yang sanadnya tidak bersambung kepada Nabi Muhammad SAW.

Munculnya Tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi
Tarekat Shiddiqiyah merupakan salah satu tarekat yang berkembang di Indonesia. Tarekat ini diperkenalkan pertama kali oleh Kiai Muhammad Mukhtar Luthfi dari Jombang, Jawa Timur. Tim penulis buku Tarekat Muktabarah di Indonesia tidak memasukkan tarekat ini sebagai bagian dari tarekat yang “muktabarah” (diterima) sebab dianggap tidak memiliki silsilah yang bersambung pada Rasulullah (Mulyati, 2004). Namun tarekat ini tetap mampu bertahan hingga kini berkat kesolidan dan usaha anggotanya. Beberapa bangunan yang melambangkan kebesaran tarekat telah dibangun dari hasil usaha anggotanya, baik di Jombang maupun di beberapa daerah lain di pulau Jawa (Syakur, 2008). Namun demikian Bruinessen (1994) menganggap tarekat ini sebagai local tarekat dan tidak memiliki silsilah yang sampai pada Nabi Muhammad.

Shiddiqiyah masuk ke Wonodadi pada tahun 1997 yang dibawa oleh Bapak Guru Ambari, yang berasal dari Sragi, Pekalongan. Ia merupakan seorang guru Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan di Sekolah Dasar Wonodadi. Selain sebagai guru ia juga aktif dalam memimpin berbagai upacara keagamaan di Wonodadi. Sebagai jamaah tarekat Shiddiqiah ia memperkenalkan tarekat ini kepada masyarakat di sana. Sejak ia masuk hingga kini tetap tidak semua warga menjadi anggota tarekat. Dari 55 KK yang ada di Wonodadi hanya 23 KK yang menjadi anggota tarekat, dan itupun tidak seluruh anggota keluarga yang ada di dalam rumah tersebut. Dalam satu keluarga bisa saja beberapa anggotanya menjadi anggota tarekat, namun yang lainnya tidak. Hingga saat saya berada di lapangan, pengikut tarekat ini berjumlah 45 orang.

Menjadi Anggota Tarekat dan Alasannya
Untuk menjadi anggota tarekat maka seseorang harus mendapatkan bai’at (disumpah) di pusat pengembangan tarekat Shiddiqiyah, yaitu Jombang, Jawa Timur. Di sana ia akan mendapatkan bimbingan khusus mengenai tarekat dan penjelasan mengenai tata cara zikir, maksud dan tujuan bertarekat dan lain sebagainya. Sementara untuk penguatan pemahaman anggota tarekat yang telah terdaftar, secara periodik beberapa orang yang berasal dari Jombang atau Pekalongan datang ke Wonodadi untuk memberikan penjelasan mengenai hakikat bertarekat sambil melakukan zikir bersama (Kausaran). Sampai saat saya berada di lapangan, baru dua kali Wonodadi didatangi oleh tokoh tarekat dari Jombang untuk melaksanakan Kausaran. Selebihnya, hampir setiap tahun tokoh tarekat datang dari Kabupaten Pekalongan terutama pada tanggal 17 Ramadhan untuk melaksanakan Kausaran khusus yang disertai dengan pengajian.

Beberapa orang yang saya jumpai mengemukakan alasan yang berbeda menjadi anggota tarekat. Pada umumnya mereka mengatakan bahwa di dalam tarekat mereka merasakan telah menemukan apa yang selama ini mereka cari dalam beragama. Dari sisi spiritual, setelah masuk dalam tarekat mereka merasa melihat jalan beragama menjadi lebih baik dan sempurna. Dengan bertarekat mereka dapat memperoleh ridha Allah dalam menjalani kehidupan di dunia.

Ibu Santi yang menjadi anggota sejak dua tahun yang lalu mengatakan ia menemukan penjelasan mengenai berbagai aspek agama secara lebih mendalam dari apa yang ditemukannya selama ini. Karenanya ia rajin mengikuti kausaran setiap senin dan rabu malam yang diadakan di Wonodadi. Namun ia mengaku belum penah pergi ke Jombang untuk mengikuti pengajian di sana. Ia dibai’at di dusunnya oleh seorang khalifah yang datang dari Pekalongan. Sejak saat itulah ia menjadi anggota terekat dan mengikuti semua kegiatan yang diadakan di dusunnya.

Pak Nurman juga seorang anggota tarekat Shiddiqiyah. Ia mengenal tarekat ini sebelum tarekat masuk ke dusun mereka, tepatnya ketika ia bekerja sebagai buruh bangunan di Pekalongan tahun 1996. Di sana ia berkenalan dengan beberapa orang yang berasal dari Jawa Timur dan menganut tarekat Shiddiqiyah. Dari perkenalan inilah ia menjadi tertarik dan mejadi pengikut Siddiqiyah. Dalam pandangannya Shiddiqiyah lebih mendekatkan dirinya kepada Allah dan lebih menenangkan hati. Dengan zikir-zikir yang diberikan selama ini ia merasa lebih bisa memendam amarah dan keinginan berbuat jahat tidak ada lagi.

Seorang anggota tarekat lain yang saya wawancarai adalah Budi. Secara individu Budi mengaku menjadi seorang anggota tarekat sebagai kelanjutan dari peran bapaknya. Bapaknya yang saat ini sudah meninggal dunia adalah generasi awal yang bergabung dengan tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Bahkan beliau merupakan orang pertama yang masuk menjadi anggoat tarekat tersebut. Setelah bapaknya meninggal dunia ia mulai belajar tarekat Shiddiqiyah dan pergi ke Jombang. Di sana ia melihat jamaah yang mengikuti pengajian tidak terbatas pada orang biasa saja. Banyak pejabat dan polisi yang juga menjadi pengikut tarekat. Ini menurut Budi menjadi salah satu bukti bahwa Shiddiqiyah bukanlah ajaran terlarang dan sesat. Sebab kalau saja ia sesat maka sangat tidak mungkin ia bisa berkembang di kota seperti Jombang dan diikuti oleh masyarakat secara umum.

Identitas Jamaah Tarekat

Saat saya datang ke rumah seorang anggota tarekat, saya menemukan sebuah foto besar yang dibawahnya bertuliskan Kiai Muchtar Luthfi, Musyid Tarekat Shiddiqiyah. Saya mendekati foto itu dan menanyakan siapa beliau. Si empunya rumah menjelaskan bahwa itu adalah pimpinan pusat sekaligus pendiri tarekat Shidiiqiyah dari Jombang Jawa Timur. Di sisi foto tersebut ada foto lain, sekelompok orang berpakaian putih-putih bersorban juga putih berdiri berjejer. Di depan mereka duduk di kursi seorang yang sudah tua. Ia menjelaskan kalau itu ada fotonya bersama dengan sang Kiai saat ia pergi ke Jombang dan belajar terakat di sana. Di Wonodadi hanya ia yang pernah datang ke sana dalam waktu lama (6 bulan) sehingga sampai saat ini hanya ia yang bisa memimpin zikir kausaran yang diadakan di Wonodadi.

Dari sisi penampilan luar, antara jamaah tarekat dengan bukan jamaah tarekat hampir tidak ada bedanya. Mereka sama-sama melakukan aktifitas sehari-hari sebagaimana biasanya. Identitas ketarekatan mereka kita peroleh saat masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah jamaah umumnya ada sebuah foto Kiai Mukhtar Lutfi yang dibingkai dan digantungkan di dinding. Beberapa rumah ada foto kenangan bersama sang Kiai saat mereka pergi berkunjung ke Jombang untuk mengikuti pengajian di sana. Setiap rumah yang dipasangi foto ini menunjukkan mereka sebagai bagian dari jamaah aterakt tersebut.

Identitas lain adalah sebuah kaligrafi doa yang dibingkai digantung di pintu masuk rumah bagian dalam. Saat saya masuk ke sebuah rumah di sana saya mencoba memfoto doa yang berbingkai tersebut, namun empunya rumah melarangnya. Doa tersebut adalah identitas anggota yang sangat personal karena di dalamnya juga tercantum nomor keanggotaan rumah tersebut. Indentitas lainnya adalah sebuah kartu anggota berwarna kuning yang lengkap dengan foto dan keterangan laiknya sebuah kartu tanda penduduk. Kartu ini hanya berguna untuk pendataan anggota tarekat saja dan tidak dipakai untuk keperluan yang lain, seperti surat menyurat resmi dalam lain sebagainya.

Dalam beberapa rumah anggota tarekat juga ada sebuah logo tarekat yang dibingkai dengan rapi. Gambar logo tarekat Shiddiqiyah dasarnya berwarna kuning dengan beberapa tulisan arab di bagian atasnya. Gambar utama adalah sebuah pohon besar yang berbuah anggur yang tumbuh di antara dua warna lautan. Ini diartikan sebagai hakikat hidup anggota tarkat yang tumbuh dari “dua lautan” yakni Syariat dan Shiddiqiyah. Mereka mengibaratkan diri sebagai sebuah pohon yang berbuah manis (dalam gambar dibuat buat anggur) yang berarti jamaah tarekat mesti menjadi orang yang dapat menghasilkan sesuatu yang baik untuk masyarakat dan menghidupi masyarakat untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat kepada Tuhan. Di bagian bawah ada dua angka yang digandengkan yakni 1 (satu) dan 0 (nol). Kedua angka ini menunjukkan kesempurnaan, bahwa pada hakikatnya segala sesuatu adalah satu jua yakni Tuhan. Realitas yang ada saat ini adalah kosong belaka yang dilambangkan dengan nol. Ini adalah dasar pandang dunia jamaah shiddiqiyah yang juga biasanya menjadi dasar pandang beberapa kelompok tarekat yang lain yang hidup saat ini, baik di Indonesia maupun di bagian dunia yang lain.



Gambar 1: Logo tarekat Shiddiqiyah yang digantung di dinding rumah anggotanya sebagai identitas keanggotaan

Aktifitas dan Ajaran Tarekat Shiddiqiyah
Secara umum saya membagi dua jenis aktifitas yang dilakukan oleh jamaah tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi; privat dan publik. Aktifitas privat adalah aktifitas yang menyangkut dengan kegiatan internal jamaah yang tidak diikuti oleh masyarakat umum. Kegiatan ini umumnya berhubungan dengan zikir pribadi dan kelompok, dan khalwat (mengasingkan diri untuk berzikir dan berdoa). Sementara yang publik adalah kegiatan yang dapat diikuti oleh semua masyarakat meskipun yang mengadakannya adalah jamaah tarekat. Dalam hal ini saya mencontohkan aktifitas mengumpulkan bantuan untuk korban bencana alam, bergotong-royong membangun gedung sekolah, membangun jalan dan rumah ibadah, dan lain sebagainya.

Gubuk Zikir
Aktifitas berupa zikir dilakukan dalam sebuah gubuk yang terletak di pertengahan perkebunan warga. Suatu pagi, saat saya datang pertama kali ke lokasi penelitian, saya melewati gubuk kecil tersebut. Di bagian pintu terlutis “Gubuk Zikir Shiddiqiyah.” Bangunan itu tinggi tigaa meter, berbentuk bulat, berdiameter kurang lebih tiga meter. Di tengahnya ada seperti kamar berbentuk empat persegi. Di tiga sisinya ada jendela besar tanpa penutup. Di sisi bagain timur kamar dibuat sebuah pintu. Seluruh bangunan terbuat dari bambu dan diikat dengan tali rotan dan tali ijuk. Di bagian pinggirnya dipagari dinding setinggi 60 cm. Hanya ada empat tiang dasar yang dibuat dari semen di bawahnya. Selebihnya semuanya dari bambu dan beberapa kayu. Bangunan ini tidak dicat atau diwarnai dengan warna apapun, semuanya dibiarkan dalam warna aslinya. Di bagian dalam tengah ruangan tergantung sebuah bola lampu listrik pijar 25 watt. Selain itu ada juga beberapa lembar tikar yang dilipat. Bangunan ini adalah gubuk yang dipakai oleh Jamaah Tarekat Shiddiqiyah untuk melakukan zikir bersama.



Gambar 2: Gubuk Tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi
Dalam gubuk tersebut jamaah Shiddiqiyah kausaran, yaitu zikir rutin anggota tarekat yang dilaksanakan pada setiap rabu malam. Jamaah datang ke sana bersama-sama dengan membawa obor setelah shalat Isya di Masjid. Lokasi yang jauh dari perkampungan dan berada di tengah hutan dimaksudkan untuk menjaga ketentraman bersama. Zikir tarekat Shiddiqiyah yang panjang dan bersuara besar-besar dikhawatirkan dapat menganggu warga lain yang akan istirahat di malam hari. Ketika bersikir, pimpinan zikir duduk di tengah ruangan bersama beberapa orang “senior” lainnya. Sementara jamaah duduk di sekelilingnya dan mengikuti zikir yang dipimpin oleh pimpinan zikirnya.

Pada awal kedatangannya, kausaran direncanakan pada setiap malam Jum’at. Namun karena malam Jum’at ada Jamiahan yaitu tahlilan umum yang dilakukan bergiliran di rumah warga, maka Kausaran dipindah menjadi malam Senin dan Malam Kamis. Namun kalau lagi “malas” –saya tidak tahu apa arti kata ini- Kausaran dilaksanakan satu kali saja dalam satu minggu, yaitu Rabu malam. Dan itu dilaksanakan pada rumah salah seorang anggota jamaah secara bergiliran.

Dalam pelaksanaannya, tarekat ini jamaah membaca beberapa Surat dalam al-Qur'an, dengan urutan al-Ikhlas, al-Falaq, An-Nas, Alam Nasyrah, Inna Anzalna, al-Kautsar, Izaja’a, Al-‘Asr masing-masing tujuh kali. Kemudian dilanjutkan dengan shalawat masing-masing 30 kali atau 21 kali. Kemudian membaca tasbih (subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar) masing-masing 15 kali. Kemudian melakukan zikir (La Ilaha Illallah) sebanyak 120 kali atau 1000 kali jika mampu. Zikir ini ditutup dengan do’a dan selesai. Umumnya zikir dilaksanakan selama dua jam dan dilakukan dengan suara keras.

Pelaksanaan kausaran

Saat berada di lapangan saya mengikuti pelaksanaan Kausaran yang diadakan oleh Jamaah Tarekat Shiddiqiyah. Saat saya berada di lapangan Wonodadi sedang musim hujan. Karenanya zikir dilakukan di rumah anggotanya, bukan di gubuk zikir seperti biasanya. Saya diundang oleh pimpinan terekat yang ada di wonodadi, Pak Andi pada suatu malam setelah shalat Isya berjamaah di masjid. Malam itu kausaran dilaksanakan di rumah Pak Slamet. Rumah in terletak persis di belakang masjid. Saat saya datang, sudah ada beberapa orang di sana. Setidaknya ada 20 orang laki laki dan 10 orang permpuan. Mereka duduk melingkar di ruangan tamu. Beberapa orang duduk berlapis karena ruangan yang kecil. Beberapa anak muda memegang buah tasbih dan terus mengihitungnya. Tidak jelas zikir apa yang mereka ucapkan, namun nampaknya mereka sedang melafazkan sesuatu dalam hati.

Zikir umum dipimpin oleh Budi yang nampak masih sangat muda. Ia membaca sebuah pengumuman yang dikirim oleh pimpinan Majlis Siddiqiyah dari Pekalongan. Sekilas isi dari surat itu adalah dalam waktu dekat akan dilaksanakan pertemuan di Pekalongan sekaligus penyambut mursyid tarekat dari Jombang. Untuk keperluan ini panitia membutuhkan uang Rp. 12 juta. Kepada jamaah yang hendak membantu dapat memberikan kepada pengurus Shiddiqiyah yang ada di Wonodadi. Setelah selesai dengan pengumumannya, Budi mempersilahkan seorang jamaah senior, Pak Tahir memberikan tausiah singkat.

Pak Tahir menjelaskan mengenai hakikat Tarekat Shiddiqiah. Tujuan utama dari Shiddiqiyah adalah mendapatkan keamanan dan ketentraman dalam kehidupan. Mula-mula kehidupan pribadi, keluarga, dan kehidupan masyarakat secara lebih besar yakni kehidupan bernegara. Untuk itu mereka menekankan pentingnya kehidupan yang aman ini. Shiddiqiyah akan siap membela negara jika diperlukan. Sebab kecintaan mereka pada perdamaian dan keamaan mendorong mereka melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya. Untuk ini mereka membangun solidaritas antar jamaah dan umat Islam semuanya. Atas dasar alasan ini pula pada saat gelombang Tsunami menghancurkan Aceh tahun 2004, mereka memberikan doa 40 malam untuk keselamatan dan ketabahan bagi korban tsunami di Aceh. Hal yang sama juga mereka lakukan waktu gempa di Padang dan Yogyakarta.

Selain itu ia juga menjelaskan bahwa pada dasarnya semua aliran dalam bergama adalah sama saja, yakni sama-sama mengajak kepada kebajikan. Bahkan semua agama yang ada di dunia mengajak kepada kebajikan. Setiap orang yang baik adalah mereka yang menjalankan ajaran agama dengan baik. Jadi apapun agama dan alirannya selama ia menjalankan dengan baik dan ikhlas, maka ia telah menjadikannya sebagai dasar untuk menyabarkan kebaikan. Sebab kabajikan pada akhirnya akan dinilai oleh Allah, bukan oleh manusia.

Pak Tahir menegaskan bahwa mereka, penganut Siddiqiyah “memegang dua lautan” yaitu Syariat dan Shiddiqiyah. Syariat adalah dasar agama yang harus diikuti oleh semua orang yang telah mengaku sebagai Islam. Ini semua sama, di Aceh, di Jawa, di Sulawesi, sama saja. Selama seseorang berpagang pada syariat maka ia akan menjalankan ajaran agama dengan baik pula. Sementara tarekat adalah ajaran yang mengedepankan kedamaian dan cinta sesama. Dengan tarekat mereka ingin kehidupan yang aman dan damai bagi sesama dalam lingkungan dan alam sekitarnya.

Setelah memberikan penjelasan ini maka mulailah dilaksanakan zikir yang dipimpin oleh Budi. Zikir diawali dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab yang dilafalkan bersamaan antara Budi dan jamaah semuanya dengan suara besar. Bacaannya persis seperti apa yang telah saya jelaskan di atas, yaitu salawat, surat-surat dalam al-Qur’an dan do’a. Mereka nampak khusyuk dalam melafalkan zikir tersebut dan larut dalam bacaannya. Sejak dimulai sampai akhir mereka menghabiskan waktu selama satu jam sepuluh menit.

Setelah selesai tuan rumah menghidangkan teh kepada jamaah yang hadir. Teh yang telah dimasukkan dalam gelas dibagikan kepada jmaah satu persatu. Kemudian diberikan beberapa ember plastik yang berisi kerupuk. Kerupuk yang berjalin ini adalah kerupuk yang biasa dijual di warung. Selain itu dihidangkan nasi putih dalam beberapa piring. Nasi itu untuk dimakan bersama kerupuk yang telah disediakan sebelumnya. Menurut seorang yang duduk di sampaing saya, makanan yang dihidangkan setelah selesai zikir itu dibebankan kepada tuan rumah. Tidak ada ketetapan mengenai apa makanan dan minuman tersebut, semuanya terserah tuan rumah.

Ajaran Pokok Tarekat Shiddiqiyah
Saya mendapatkan informasi mengenai ajaran pokok tarekat Shiddiqiyah dari beberapa orang yang ada di tempat penelitian saya dan menambah beberapa informasi tersebut dengan data yang saya dapatkan dari situs internet yang dikelola oleh kantor pusat tarekat Shiddiqiyah di jombang Jawa Timur. Ada beberapa aspek ajaran tarqat yang diyakini oleh jamaah Shiddiqiyah, yaitu:

1. Bersyukur atas apa yang ada
Ajaran pertama tarekat Shiddiqiyah adalah bersyukur atas apa yang ada, apa yang diberikan Tuhan kepada manusia. Kalau saat ini seseorang masih miskin dari sisi harta benda, maka itu berarti memang Tuhan menghendakinya miskin dan menganggap ia belum pantas untuk mendapatkan kekayaan. Tuhanlah yang mengatur kehiudpan manusia. Kalau manusia menggugat apa yang ia peroleh dari pemberian Tuhan, maka ia berarti menggugat Tuhan. Mana mungkin manusia menggugat Tuhan padahal Tuhan jauh lebih tinggi dari manusia itu sendiri. Ini adalah aspek yang berat. Sebab manusia cenderung ingin mendapatkan sesuatu yang lebih banyak dari apa yang diutuhkannya bahkan ia memiliki kehendak lebih tinggi dari apa yang ia mampu lakukan.

2. Kesetiaan
Penganut tarekat juga meyakini bahwa dunia sudah “tenggelam dalam lautan api”. Hal ini terlihat dalam berbagai praktek korupsi, kolusi, dan berbagai bentuk praktek keji lainnya. Hal ini semua menunjukkan kalau manusia sudah jauh tenggelam dalam lautan tersebut. Memperbaikinya adalah dengan memperbaiki akhlak dan mempertahankan hati dari berbagai godaan duniawi. Shiddiqiyah membangun kesetiaan yaitu kesetiaan hati, kesetiaan kepada saudara kandung, kesetiaan kepada tetangga terdekat, lingkungan, dengan perangkat dusun, desa dan kesetiaan pada negara. Hal ini merupakan dasar bimbingan bagi ajaran tarekat Shiddiqiyah yaitu cinta tanah air.

Kesetiaan pada tanah air ini diwujudkan pula dalam keterbukaan dalam cara pandang. Jamaah Shiddiqiyah memandang bahwa agama pada dasarnya baik semuanya. Demikian juga dengan berbagai aliran yang ada dalam sebuah agama. Yang salah dan berdosa itu adalah orang yang ada dalam agama tersebut. Shiddiqiyah tidak melepaskan diri dai kalimat lailahaillallah, dan memasukkan kalimat ini dalam hati. Usaha ini dilakukan dengan berusaha merubah diri dan akhlak menjadi lebih terpuji. Hal ini bisa dilakukan dengan melaksanakan puasa selama 4 atau 7 hari sehingga kalimah lailahaillallah bisa masuk dalam hati. Proses ini adalah proses paling awal dalam tarekat Shiddiqiyah yang dikenal dengan Jahar. Proses ini akan semakin berlanjut dan bertingkat sampai pada tingkatan 40. Seorang narasumber saya mengatakan ia tidak tahu bagaimana rasanya sampai pada tingkat 40 itu. Bahkan di Wonodadi belum ada orang yang sampai ke tingkat itu. “Kalau di Lebakbarang sudah ada,” katanya.

3. Zikir untuk kedamaian hati
Zikir yang selalu dilakukan akan menjadikan kehiduapn sehari-hari lebih tenang dan damai. Zikir juga menjadikan hubungan antar sesama anggota tarekat dan hubungan dengan orang lain menjadi leih baik. Seseorang yang mengikuti zikir akan merasa lebih tenang dan damai dalam hatinya dan akan damai pula dalam kehidupan pribadinya sehari-hari. Zikir bisa dilakukan bersama-sama setelah selesai shalat dan melakukan kausaran pada malam yang telah disepakati bersama. Namun yang paling baik adalah zikir yang dilakukan sendiri baik setelah selesai shalat maupun saat melakukan aktifitas sehari-hari. Sebab zikir dalam hati bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa harus menyediakan waktu khusus dan tempat khusus pula.

4. Ukhwah antar Jamaah
Ajaran lain yang penting dalam Shiddiqiyah adalah kekompakan dalam membangun fasilitas bersama. Jamaah dari Wonodadi pernah datang ke Magelang untuk membantu cor pembangunan Pusat tarekat Shiddiqiyah Jami’atul Muzakkkirin. Mereka datang ke sana dengan menumpang sebuah “doplak” yaitu mobil L300 pickup. Pergi jam enam petang sampai di sana jam enam pagi. Siang harinya bekerja dan sore harinya pulang kembali ke Wonodadi dengan doplak yang sama. Ini semua dilakukan sebagai wujud solidaritas untuk pembangunan fasilitas bersama yang dapat digunakan untuk kepentingan umat Islam.

Selain itu jamaah Shiddiqiyah idealnya harus memiliki banyak santunan. Santunan bisa saja dalam bentuk uang dan materi, bisa pula dalam wujud dukungan spiritual dan semangat. Ketika terjadi gempa besar di Aceh, Padang, Yogyakarta, jamaah Shiddiqiyah di Wonodadi berdoa selama 40 hari berturut-turut untuk korban bencana alam tersebut. Doa ini bertujuan untuk meminta kepada Allah agar orang yang meninggal dunia dalam gempa tersebut bisa mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah, sementara orang yang masih selamat mendapatkan semangat dan kebaikan dalam hidupnya.

Ajaran-ajaran tarekat itu terimplikasi dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana ajaran agama yang lain. Oleh sebab itu seseorang yang melakukan korupsi dianggap tidak beragama. Sebab seseorang yang beragama tidak mungkin melakukan praktek korupsi. Dalam hatinya ada iman dan kepercayaan bahwa Allah menyaksikan apa yang dia lakukan. Kalau ia melakukan korupsi sebagai seubah perilaku tercela dan merugikan banyak orang, berarti ia telah melupakan bahwa Allah menyaksikanya. Kalau ia telah melupakan Allah, maka berarti ia tidak lagi memiliki Tuhan dan ini berarti ia tidak beragama.

Tuduhan Aliran Sesat
Sebagai sebuah kelompok baru dan berbeda dengan kebanyakan orang beragama yang lain, maka kelompok tarekat Shiddiqiyah ini pernah dituduh sebagai aliran sesat oleh sebagai warga Wonodadi yang lainnya. Meskipun secara jelas tidak diketahui siapa yang menuduhnya sesat, namun berita tentang kesesatan itu sering didengar. Demikian pula yang sering dikemukakan oleh beberapa kiai yang datang ke Wonodadi untuk memberikan ceramah dan pemahaman agama, ia menjelaskan bahwa tarekat itu tidak ada dalam Islam sehingga ia bid’ah dan tidak boleh diikuti.

Bagi jamaah Shiddiqiyah, tuduhan sesat kepada jamaah tarekat itu laksana orang masuk ke dalam rumah gelap gulita. Seorang pemilik rumah yang sudah tinggal di sana dalam waktu lama sudah tahu bagaimana dan di mana posisi apapun dalam rumah itu. Meskipun gelap ia tahu di mana pintu untuk keluar, dapur, kamar mandi dan lain sebagainya. Hal ini bebeda dengan orang yang belum pernah masuk ke rumah tersebut. Meskipun ia adalah seorang ahli bangunan dan memahami seluk-beluk sebuah rumah, ia tetap tidak bisa menguasai rumah itu. Ia tidak tahu jalan keluar dan berbagai peralatan yang ada di dalam rumah. Orang inilah yang mengatakan kalau rumah itu tidak bagus, atau tidak sesuai dan berbagai hal yang lain. Padahal ia tidak mengenal rumah yang dimaksud dan baru pertama kali masuk ke sana.

Infiltrasi Tarekat dalam aktifitas keagamaan yang lain
Seperti saya jelaskan di atas bahwa tidak semua masyarakat Wonodadi menjadi bagian dari jamaah tarekat Shiddiqiyah yang berkembang di sana. Beberapa orang diantara warga menolak kehadiran jamaah ini karena beberapa alasan. Saya menjumpai salah seorang warga yang tidak setuju dengan perkembangan tarekat yang ada di dusunnya. Nama beliau Pak Kumis yang membangun rumah di bagian paling utara dusun Wonodadi. Seperti warga lainnya, ia seorang patani dan memelihara beberapa ekor ternak sapi. Pada pagi dan sore hari ia mengambil air aren untuk di masak menjadi gula Jawa dan dijual pada pedagang yang datang ke sana setiap minggu.

Bagi Pak Kumis, keberadaan jamaah Shiddiqiyah di dusun Wonodadi dipandang sebagai sebuah agama baru yang dianut oleh masyarakat. Padahal menurutnya, agama masyarakat di sana hanyalah Islam dan tidak ada yang namanya Shiddiqiyah. Kalau ada yang lain yang masuk ke dusun tersebut maka itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sudah berkembang sebelumnya dan tidak benar. Menurutnya banyak orang yang ikut dalam jamaah Shiddiqiyah pada dasarnya mereka yang tidak paham dengan apa yang mereka ikuti. Mereka ikut-ikutan saja tanpa paham apa yang mereka kerjakan. Pak Kumis sendiri melihat apa yang dilakukan Shiddiqiyah tidak sesuai dengan Islam. Misalnya dalam ajaran Shiddiqiyah dikatakan kalau melakukan puasa empat hari maka akan langsung masuk surga. Ajaran lain, kalau mau masuk Shiddiqiyah juga harus puasa empat hari atau tujuh hari. Ini bukanlah ajaran Islam dan tidak ada ajaran Islam yang demikian, kata Pak Kumis. Pun demikian ia sendiri mendiamkan saja masalah ini. Karena baginya persoalan agama adalah pilihan masing-masing orang. Orang tersebut akan mempertanggungjawabkan pilihannya kepada Allah di akhirat kelak.

Pak Kumis dan beberapa orang lain yang menolak tarekat Shiddiqiyah yang berkembang di Wonodadi tetap juga mengikuti aktifitas keagamaan yang di dalamnya dibacakan zikir tarekat. Hal ini terlihat dalam tradisi jamiahan yang dilakukan masyarakat. Jamiahan adalah tahlilan bersama yang dilakukan setiap malam Jum’at yang diikuti oleh warga Wonodadi. Zikir ini dipimpin oleh Pak Andi yang tidak lain adalah pimpinan tarekat di dusun yang sama. Saya mendengar zikir untuk tahlilan yang digunakan oleh Pak Andi juga digunakan untuk acara Kausaran dengan beberapa perubahan dan penyesuaian. Namun demikian secara substansi, zikir yang dibacakan tidak jauh berbeda dengan zikir tarekat. Padahal jamaah yang mengikuti Jamiahan bukanlah jamaah tarekat, tetapi masyarakat umum yang ada di sana. Jadi meskipun beberapa warga menolak kehadiran tarekat di dusun mereka, namun mereka tetap mengikuti aktifitas keagamaan yang dipimpin oleh jamaah tarekat dan mengikuti pula zikir yang dilakukannya.

Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa tarekat Shiddiqiyah yang hidup dalam masyarakat Wonodadi sebagai bagian dari kehidupan keagamaan dan sosial mereka. Berbagai pengaruh modernitas yang disiarkan televisi tidak serta merta dapat menggeser peran tarekat dalam kehidupan masyarakat Jawa Pedesaan. Tarekat justru menjadi tempat di mana mereka mendapatkan ketengangan batin dan semangat untuk berusaha dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lebih jauh, dalam masyarakat Jawa pedesaan, tarekat menjadi media pemersatu dan pembina hubungan sosial diantara mereka untuk kehidupan bersama yang lebih baik.


Daftar Pustaka


Beatty, Andrew. 2009. A Shadow Falls in The Hearth of Java, London: Faber and Faber.

Bruinessen, 1989. “Tarekat Qadiriyah dan Ilmi Syeikh Abdul Qadir Jeilani di India, Kurdistan dan Indonesia,” dalam Ulumul Qur’an vol. 2 No. 2. Jakarta: LSAF.

Bruinessen, Martin van, 1994a. "Origins and development of the Sufi orders (tarekat) in Southeast Asia", Studia Islamika, Jakarta, vol. I, no.1, 1994.

Bruinessen, Martin van, 1994b. "Pesantren and kitab kuning: maintenance and continuation of a tradition of religious learning", in: Wolfgang Marschall (ed.), Texts from the islands. Oral and written traditions of Indonesia and the Malay world [Ethnologica Bernica, 4]. Berne: University of Berne, 1994.

Dhofier, Zamakhsyari, 1985. Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3S.

Hasan, Sudirman, dalam http://sudirmansetiono.blogspot.com/2009/05/origin-of-tarekat-sidiqiyya.html

Howell, Julia Day, 2001. Sufism and the Indonesian Islamic Revival, The Journal of Asian Studies 60, no. 3, August 2001.

Mufid, Ahmad Syafi’i, 2006. Tangklukan, Abangan, dan Tarekat, Jakarta: Yayasan Obor.

Mulyati, Sri. ed. 2004, Mengenal & memahami tarekat-tarekat muktabarah di Indonesia, Kencana, Jakarta.

Nasuhi, Hamid. 2003. Tasawuf dan Gerakan Tarekat di Indonesia Abad 19, dalam, Bakhtiar, Amsal, Tasawuf dan Gerakan Tarekat, Bandung: Angkasa.


Shadiqin, Sehat Ihsan. 2008. Tasawuf Aceh, Banda Aceh: Bandar Publishing.

Shadiqin, Sehat Ihsan. 2009. “Fatwa Sesat dan Pentingnya Dialog,” Harian Serambi Indonesia, 3 Desember 2009.

Shihab, Alwi. 2001, Islam Sufistik, Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia, Bandung: Mizan.

Simuh, 2002. Tasawuf dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press.
Steenbrink, Karel A. 1984. Beberapa Aspek Islam di Indonesia Abad ke -19, Jakarta: Bulan Bintang.

Syakur, Abd. 2008. Disertasi, “Gerakan Kebangsaan Kaum Tarekat: Studi Kasus Tarekat Shiddiqiyah Pusat Losari, Ploso, Jombang Tahun197-2006, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Turmudi, Endang, 2006. Struggling for the Umma Changing Leadership Roles of Kiai in Jombang, East Java, Australia: ANU E Press,.

Catatan Tambahan:
1. Artikel ini dipublikasi sebagai contoh untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah Tarekat di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
2. Artikel ini belum dipublikasi dala jurnal atau buku. untuk pengutipan boleh pakai link berikut ini:
Sehat ihsan shadiqin (2010), http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/tarekat-shiddiqiyah-dalam-masyarakat.html

05 March 2010

Senandung Cinta Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri lebih dikenal dengan pemikiran sufistik panteistik. Para peneliti menganggap ajaran Hamzah tersebut sangat dipengaruhi oleh pandangan wahdatul wujud Ibnu ‘Arabi. Pandangan Hamzah mengenai kesatuan alam-Tuhan terlihat dalam berbagai karya prosa dan sya’ir yang dikemukakannya. Namun demikian, sesungguhnya Hamzah, di dalam berbagai prosa dan sya’irnya juga mengemukakan pandangan cinta. Hamzah Fansuri dalam berbagai sya’irnya rasa cinta kepada Tuhan diuangkapkan bukan hanya dalam tataran bentuk, namun ia juga mengemukakan bagaimana seorang manusia bisa mendapatkan Cinta-Nya. Pandangan Cinta Hamzah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mewarisi pemikiran Ibnu ‘Arabi dalam bidang wujud Tuhan, namun ia juga memiliki pengetahuan dalam bidang tasawuf cinta dari sufi lainnya, seperti Rumi, Attar, Ain al-Qudhdat dan lainnya. Dari kajian saya, pemikiran mahabbah (cinta) yang dikemukakan Hamzah merupakan sebuah bangunan yang berdampingan dengan pemahamannya tentang Tuhan. Karenanya Tuhan dan Cinta tidak bisa dipisahkan.

Download makalah lengkap di sini

Atau kunjungi http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/senandung-cinta-hamzah-fansuri.html

04 March 2010

Mengajak Guru Menulis di Jurnal

Dua hari yang lalu, sekelompok guru Agama Islam SMP Banda Aceh mengundang saya untuk berdiskusi menganai penulisan makalah ilmiah. Saya tidak yakin benar kalau saya mampu mengemban permintaan tersebut. Namun berbekal pengalaman menulis beberapa kali plus beberapa pelatihan yang saya ikuti, saya memenuhi undangan tersebut. Apalagi saya merasa juga harus memulai berlatih berbicara di dapan orang lain, tidak hanya menulis. Almarhum HAMKA yang menjadi tokoh kebanggaan saya menginspirasi saya, bagaimana seseorang yang mampu menulis juga harus mampu berbicara tentang tulisannya.

Pertemuan itupun dimulai. Ada dua pluhan guru yang hadir. Menurut ketua kelompok, sebenarnya kelompok mereka ada 60 orang. Namun yang hadir memang sangat variatif. Terkadang banyak, namun sering pula sangat sedikit. 20 orang yang hadiri pada hari itu semuanya guru perempuan. Seorang guru laki-laki yang datang hanya bembantu memasang proyektor, lalu menghilang entah kemana. Jadi selama dua jam saya berdiskusi dengan ibu-ibu mengenai tema yang kami pilih: Bagaimana Menulis Makalah Ilmiah?

Mengawali diskusi, saya meminta mereka untuk mengemukakan unek-uneknya tentang menulis dan kenapa mereka berfikir mau belajar menulis makalah ilmiah. Beberapa orang guru memberikan pandangan, atau lebih tepat curhat mengenai penulisan. Dari bicang-bincang tersebut ternyata mereka mau menulis untuk memuluskan usaha naik pangkat. Katanya, kalau mau dapat IVa maka harus ada satu makalah ilmiah. Kalau mau IVb harus ada dua makalah ilmiah. Semula yang saya pikirkan makalah ilmiah adalah artikel akademik seperti yang sering dipublikasi dalam jurnal ilmiah di kampus. Ternyata dugaan saya salah, yang mereka maksudkan adalah sebuah laporan penelitian tindakan kelas yang dibagi dalam beberapa bab seperti umumnya tugas akhir mahasiswa.

Saya sedikit bersedih ketika ada beberapa guru yang mengatakan: “Bapak berikan contohnya saja lalu jelaskan apa yang harus kami tulis. Nanti kami bisa contoh tulisan yang sudah ada saja. Banyak kok tulisan di mana-mana, tinggal pindahkan saja lalu masukkan nilainya.” Semula saya bingung dengan kalimat ini, namun setelah mendapatkan penjelasan saya maklum, ternyata mereka mau saya memberikan sebuah format yang lengkap: bab satu isinya apa, bab dua apa, bab tiga apa dan seterusnya. Berdasarkan format ini mereka tinggal mengisi nilai yang mereka dapatkan dalam ujian di kelas, dan sebuah “laporan ilmiah” selesai.

Saya sungguh sangat tidak mau ini terjadi. Bagi saya itu adalah sebuah bentuk plagiat yang sangat tercela. Karenanya, sebelum menjelaskan mengenai bagaimana membuat makalah ilmiah, saja meengajak mereka untuk merenungi kembali kenapa harus menulis dan apa yang harus kita tulis. Karena mereka guru agama, maka saya mendekatinya dengan dasar-dasar agama. Saya tegaskan bahwa agama sangat melarang praktek plagiat dengan mengatakan karya orang lain sebagai karya kita. Saya juga menegaskan kalau niat menulis hanya untuk naik pangkat, maka sampai kiamat ibu-ibu tidak akan bisa menulis. Namun menulislah untuk agama dan ridha Allah, ibu-ibu akan mendapat pahala dari apa yang ibu lakukan, akan diberikan kemudahan dalam memahami “ilmu menulis” dan pasti kalau sudah bisa menulis bisa naik pangkat seperti apa yang mereka inginkan.

Saya lalu mengajak mereka untuk membuka diri bahwa menulis karya ilmiah bukan hanya laporan penelitian tindakan kelas semata. Laporan penelitian tindakan kelas juga bukan satu versi saja. Ia bisa dilakukan dengan banyak cara dan metode. Ia bisa dibuat dalam beragam jenis penulisan yang sesuai dan mudah untuk kita. Model laporan berbagi bab hanyalah salah satu diantaranya. Namun kita bisa membuatnya dalam makalah ilmiah yang akan dipublikasi dalam jurnal di kampus. Bahkan untuk yang satu ini nilainya jauh lebih banyak.

Singkat cerita, saya mulai mempresentasikan bahan yang sudah saya sediakan tentang beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membuat tulisan yang dapat dipublikasi di jurnal ilmiah. Saya menghabiskan waktu lebih satu jam untuk presentasi ini diselingi dengan tanya jawab dan diskusi beberapa masalah teknis.Yang membuat saya senang adalah ketika pada bagian akhir seorang ibu mengatakan: “Wah… kalau begini lebih menarik lagi dan lebih menantang. Ngak bisa sekali pertemuan ini. Kalau Bapak mau bulan depan kami undang lagi. BUlan ini kami mulai dengan ecari topik tulisan yang pas dan memulai membuat pendahuluan. Bulan depan bapak harus periksa dan koreksi tulisan kami. Kalau bapak berani usul maka bapak harus berani pikul.” Guru-guru lain setuju. Dan kami akan berjumpa lagi bulan depan.

Saya senang ibu-ibu mulai semangat. Semoga harapan mereka terwujud.


Note;
Tulisan ini saya muat juga di blog saya: www.sehatihsan.blogspot.com dan www.kompasiana.com/sehatihsan
di kompasiana tulisan ini menjadi headline


Gambar di awal tulisan hanyalah ilustrasi. Saya ambil di sini: http://gemasastrin.files.wordpress.com/2007/07/st_nulis.jpg

13 February 2010

A Shadow Falls: Antropologi Bergaya Novel

Ketika saya pulang dari Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah di mana saya melakukan penelitian, saya menumpang mobil Bapak P, konsultan penelitian saya dari Jurusan Antropologi UGM Yogyakarta. Saya duduk persis di bangku belakang Bapak P yang bertindak sebagai sopir. Di sana ada sebuah kotak plastik yang berisi sebuah kamera besar dengan dua lensanya, beberapa baterai dan senter. Dalam kotak plastik itu juga ada sebuah buku tebal, sekitar 5 cm, yang berwarna kuning, begambar ilustrasi masjid, dan backgroundnya tulisan hanacoroko yang saya tidak tahu bacaannya. Saya mengambil buku itu dan yang pertama saya baca adalah pengarangnya; Andrew Beatty. Saya katakan pada Bapak P, apalah penulis buku ini adalah penulis Varieties of Javanese Religion? Ternyata benar. Ia menulis buku yang setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Variasi Agama Di Jawa.

Saya mendiskusikan buku itu dengan Bapak P. Dengan bahasa Inggis saya yang teramat sangat terbatas, saya mencoba sedikit memahami apa yang ditulis oleh Beatty dalam buku itu. Saat membuka halaman secara acak saya mendapatkan ia sedang bercerita tentang kunjungannya di lapangan dan mengungkapkan apa yang diceritakan masyarakat kepadanya. Saya pikir ini adalah sebagian saja dari bukunya yang tebal tersebut. Ternyata ketika saya membuka beberapa halaman yang lain, saya menjadi heran, di sana tertera cerita-cerita yang lain yang sama sekali tidak mirip dengan “buku ilmiah” yang selama ini saya kenal. Ini membuat saya bertanya pada Bapak P, apakah itu “dibenarkan” dalam Antropologi. Ternyata, model penulisan begitu adalah sebuah model baru yang dikembangkan dalam Antropologi khususnya dalam studi etnografi.

Beatty, menurut Bapak P adalah seorang antropolog yang “kemungkinan ia akan menjadi antropolog keas dunia.” Ia menggabungkan gaya bercerita yang biasanya dipakai oleh novelis dalam menyusun ceritanya dengan data-data lapangan yang diperoleh selama ini tinggal di lokasi penelitian. Saya membaca buku-buku antropolog lain yang menulis mengenai Indonesia semacam Clifford Geerzt, Minako Sakai, Mark Woodward, Leena Avonius dan John R. Bowen yang menulis mengenai masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Di sana saya memang menemukan gaya menulis bercerita dengan deskripsi yang sangat akrobatik tentang penglaman penulisnya di lapangan. Namun –sejauh yang saya pahami- mereka menjadikan cerita itu hanya sebagai “jalan masuk” saja untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tema yang mereka pilih. Selanjutnya mereka melakukan analisis dan pendalaman yang hampir sama dengan tulisan ilmiah sosial lainnya. Namun yang dilakukan Beatty adalah, ia terus bercerita dari paragraf pertama hingga terakhir. Bahkan ia tidak pernah menyebut-nyebut referensi atau membandingkannya dengan studi lain yang pernah ada. Ketika saya melihat di bagian akhir buku, tidak ada juga tercantum daftar referensi yang ia gunakan dalam menulis bukunya.

Di Banda Aceh, saya memiliki seorang teman Jerman, mahasiswa Antropologi dari Leiden University, Mr. D, yang sedang melakukan penelitian disertasinya di Aceh. Satu hari kami minum kopi di Solong, Ulee Kareng. Saya menceritakan pengalaman saya melakukan studi etnografi di Jawa. Kami mendiskusikan beberapa metodologi dalam mengumpulkan data lapangan, membuat catatan lapangan dan mengorganisir data. Kami juga mendiskusikan beberapa hal yang lain. Namun yang menarik adalah ketika ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Sambil mengatakan “Saya membawa buku menarik yang sebaiknya Sehat baca” ia mengeuarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Baru sedikit nampak warna kuning buku itu saya langsung katakan “Andrew Beatty”. Ia sedikit terkejut mendengarnya karena saya tahu tentang buku itu. Padahal untuk konteks Aceh, buku-buku baru terbitan luar negeri tentu tidak mudah dijumpai. Saya menjelaskan kalau saya pernah melihat buku tersebut di Yogyakarta. Kemudian kami mendiskusikan buku itu. Lagi-lagi, seperti Bapak P, teman bule ini mengatakan itu adalah buku yang menarik dan “bacaan wajib” bagi antropolog (atau yang merasa diri antropolog, seperti saya. heheh). Ia juga menjelaskan bagaimana Beatty “memasukkan” referensi dan teori-teori sosial dalam tulisannya.Memang nampak ia tidak mengutip tulisan orang lain dengan menulis nama orang tersebut, namun ia memiliki gambaran teoritis yang kaya sehingga dialog-dialog yang terbangun dalam buku itu juga menjadi sangat kaya dan sarat pengetahuan. “Inilah yang membedakannya dengan sebuah novel biasa,” kata Mr. D.

Di hari yang lain, saya minum kopi bersama teman bule Amerika, Mr. J, seorang mahasiswa antropologi asal Amerika yang sedang melakukan penelitian disertasinya sekaligus bekerja di Aceh. Ternyata ia juga menyebut-yebut tetang buku itu dan mengaku telah membacanya. Ia mengatakan buku itu adalah buku yang bagus yang harus dibaca untuk belajar model baru penulisan antropologi. Namun ia sedikit memberikan kritik pada Andrew Beatty, si penulis buku. Beatty, menurut Mr. J tidak mengakomodir pendapat-pendapat dari masyarakat yang ada di pemerintahan negara, politisi dan masyarakat modernis mengenai pemikiran keagamaan mereka. Bahkan Beatty nampaknya memberikan nilai negatif pada mereka dan menganggap aparatur pemerintah dan modernis “mengganggu” perkembangan Islam “yang benar” yang berkembang dalam masyarakat Pedesaan Jawa.

Sayangnya, saya hanya mendengar para antropolog kenalan saya mengatakan kalau buku itu bagus, baik, layak dibaca, memberikan gaya penulisan baru antropologi, dan lainnya. Saya sendiri tidak memiliki bukunya, dan belum membaca kecuali sesaat di dalam mobil Bapak P dan sesaat di warung kopi bersama Mr. D. Hal ini karena buku tersebut diterbitkan di London oleh Faber and Faber dan juga masih sangat baru, terbitan tahun 2009, dan pasti mahal untuk ukuran Rupiah. Padahal, jujur saya akui, gaya penulis buku yang dilakukan oleh Andrew Beatty adalah gaya yang “gw banget!” Saya ingin belajar dari apa yang telah dipraktekkan oleh Beatty, gaya menulis, sistematika, pemilihan subjek, dan lainnya. Sebuah laporan antropologi bergaya novel! Saya yakin, kalau demikian gaya menulisnya, bukan hanya antropolog dan akademisi sosial yang berkepentingan saja yang akan membaca buku “ilmiah” namun juga masyarakat umum yang lain akan menyukainya. Bahkan satu saat, saya membayangkan semua buku ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan ringan saja sehingga semua orang yang memiliki latar belakang ilmu yang berbeda dapat menikmati dan belajar darinya.

09 February 2010

Antropologi Visual: Hidup adalah Sebuah Film

Pada sebuah Senin 13 Juli 2009, di kantor ARTI Banda Aceh kami menonton sebuah film dokumenter yang berjudul “Playing Between The Elephant.” Film ini dibuat oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan pendidikan S3nya di Amerika dalam ilmu Antropologi Visual. Saya baru mendengar jenis ilmu ini. Selama ini saya hanya tahu antropologi, namun tidak mengetahui secara detail mengenai ilmunya. Maklum, saya bukan antropolog, saya hanya mencoba-coba masuk ke ranah ilmu ini lalu tertarik. Mungkin juga karena penelitian yang saya lakukan (tepatnya yang mendapatkan dana) hanya penelitian yang berkaitan dengan bidang ilmu ini. Guru-guru penelitian saya juga kebanyakan dari jenis ilmu ini. Akirnya, saya jatuh cinta pada antropologi meskipun saya tidak paham dasar-dasar teori antropologi.

Kembali ke film. Film itu dibuat selama setahun setengah di sebuah desa di Pidie, Aceh, yang terkena dampak tsunami tahun 2004. Selain tsunami, penduduk desa ini juga tergolong dalam masyarakat yang sederhana, bukan hanya dalam struktur sosial, namun juga dalam ekonomi dan lokasi desanya. Dari film itu nampak desa mereka dipisahkan oleh sebuah sungai besar yang dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung yang sangat riskan kalau dilalui oleh mobil dengan muatan berat. Ketertinggalan juga nampak dari model rumah penduduk yang ada di sana. Rumah yang sangat sederhana, sebuah petakan yang tinggi di sepinggang yang kemungkinan tanpa kamar. Sayangnya dalam film tidak menshot kondisi di dalam rumah.

Film ini bercerita mengenai proses pembangunan rumah yang dilakukan oleh UN-Habitat sejak perencanaan awal hingga kahir dan keterlibatan masyarakat di dalamnya. Sang sutradara dengan cerdas mengambil setiap kejadian yang ada dalam masyarakat di sana selama setahun. Hasil itu kemudian diramu menjadi sebuah film yang SUNGGUH!!! sangat hidup. Bahkan mirip dengan sebuah film yang dibuat dengan sebuah narasi yang direncanakan. Padahal jelas, ini adalah film dokumenter yang semuanya tidak diseting dan tidak diatur oleh seorang sutradara sebelum film dibuat. Ia hanya menshoting berbagai kejadian dalam masyarakat lalu kemudian dirangkai menjadi sebuah film. Bagai saya si mahasiswa telah melakukan sebuah pekerjaan luar biasa. Ia masuk ke dalam sebuah masyarakat tanpa sebuah perencanaan film yang bagaimana akan dibuat nantinya. Ia mengaku hanya ada bayangan awal bahwa akan ada sebuah rekonstruksi rumah dalam masyarakat tersebut. Namun sedikitpun ia tidak membayangkan kalau hasilnya adalah seperti yang dia buat dalam sebuah film tersebut.

Bagi saya, meskipun ini adalah sebuah hasil antropologi visual, namun kalau saya pelajari dari “balik layarnya” ini adalah sebuah pelajaran mengenai antropologi. Ada beberapa catatan yang saya ambil dari cerita si mahasiswa dalam proses pembuatan dan pemutaran film ini. Pertama, ia adalah “orang asing” yang masuk ke dalam sebuah masyarakat. Saya yakin pasti ada cara-caranya masuk ke dalam masyarakat tersebut. Bagaimana ia menyampaikan maksudnya, bagaimana ia menjelaskan kepada masyarakat bahwa ia akan membuat sebuah film. Bagaimana ia dengan rajin setaip hari datang ke sana, ke dalam kampung itu dan kemudian mendapatan engle yang luar biasa menarik sehingga dapat dirangkai menjadi sebuah film. Bagaimana ia bisa mendapatkan masyarakat yang -dalam kamera- nampak tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Masyarakat dalam berbagai kesempatan tetap saja berjalan sebagaimana adanya, nampak seperti tidak dibuat-buat -dan memang saya yakin begitu adanya. Hanya beberapa sisi dari Pak Keuchik saja yang nampaknya diseting oleh sutradara. Namun kebanyakan dari aksi masyarakat berjalan sangat alamiah dan seperi umumnya yang ada dalam masyarakat.

Kedua, bagaimana dia bisa mendapatkan titik-titik yang menarik dalam masyarakat yang sedang berjalan, lalu ia menjadikan titik itu sebagai rangkaian cerita yang mengalir dan bersambung. Padahal apa yang ia lakukan adalah sebuah proses yang sangat lama dan terus berubah dalam amsyarakat. Namun nampak jelas kemudian bagaimana ia mampu menghubungkan titik yang ia peroleh tersebut menjadi sebuah rangakian cerita yang sangat menggugah. Saya lihat tidak ada masyarakat yang nampaknya keberatan dengan apa yang dilakukan sang sutradara terhadap mereka. Mereka tetap saja melakukan segala seuatu sebagaimana adanya, kebiasaan mereka sendiri di kampungnya.

Ketiga, bagaimana ia meutuskan untuk mengamil sebuah alur cerita yang kemudian menjadi sebuah film. Dari informasi si mahasiswa, ia memiliki 200 jam hasil shotuingan di lapangan. Dari 200 jam ini kemudian ia hanya mengambil 2 jam saja untuk sebuah film. Bagaimana caranya memilih? Bagaimana ia menentukan sesuatu yang perlu dan sesuatu yang tidak perlu dari datanya padahal ia sudah mendapatkan data tersebut? Bagaimana ia dengan “teganya” membuang data yang sudah diperoleh dengan suah-payah hanya untuk mempertahankan 2 jam film yang ia perlukan. Ini butuh kejelian dan kemampuan dalam memahami secara mendapam apa yang ada di lapangan dan apa yang kita butuhkan untuk penelitian.

Saya yakin apa yang dilakukan orang ini adalah sebuah usaha besar yang melelahkan dan sangat sulit untuk dibuat pada awalnya. Namun setelah ia menjadi film dan ditonton, sungguh ini adalah sebuah karya yang ajaib dan menentukan sebuah cerita yang sangat khas Aceh pada masa awal tsunami. Saya tahu ini sebab saya juga pernah menjadi petugas lapangan di Teunom. Apa yang ada dalam film ini adalah apa yang saya lihat di teunom dulu. Banyak orang yang marah-marah, yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Banyak orang yang tidak mengerti dengan program yang mereka ikut atau sok tidak mengerti. Banyak orang yang melakukan hal-hal yang pada dasarnya tidak mungkin dan tidak perlu.

Saya sangat yakin sebagai sebuah karya antropologi, apa yang dilakukan oleh sutradara film ini juga sebuah pelajaran pada seorang antropolog atau seorang yang sedang melakukan penelitan sosial. Langkah yang ia jalankan oleh orang tersebut juga langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti sosial yang lain. Apa yang kemudian dikaryakan sebagai hasil dari kerja lapangan yang panjang dalam masyarakat tersebut juga sebagai sebuah hasil yang seharusnya diperoleh oleh seorang yang sedang melakukan penelitian lapangan di desa.

Saya belajar bagaimana sebuah karya antropologi yang sifatnya etnografi memang terkadang jauh dari apa yang sebelumnya direncanakan oleh seorang peneliti. Apa yung diperoleh di lapangan sungguh sangat tidak terduga dan tidak dapat dipredisksi. Makanya diperlukan sebuah pencatatan yang mendatail dari apa yang ada di lapangan dan sedikit komentar yang sifatnya general. Ini akan sangat membantu seorang peneliti dalam membuat sebuah karya ilmiah setelah ia kembali ke kantornya di mana ia memulai menulis.

30 December 2009

“Gurita Prita”

Belakangan ini banyak cerita menganai Gurita; Gurita Cikeas, Gurita Kalla, dan Gurita Cendana. Kata Gurita dipakai untuk menunjukkan bagaimana sebuah pusat memiliki jaringan pada berbagai aspek lain yang dikendaikan dari kekuasan pusat tersebut. Gurita cikeas jelas, seperti digambarkan George Junus Aditjondro dalam Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century (terlepas benar atau tidak) untuk menegaskan bagaimana SBY memiliki banyak tangan dalam menyalurkan kekayaan yang diperolehnya. Demikian halnya dengan Gurita Kalla (kalau ada), juga untuk mengatakan bagaimana Kalla memiliki jaringan yang luas dalam usaha dan bisnis yang memungkinkannya memanfaatkan jabatan untuk memajukan usaha jaringan tersebut. Saya tidak mengatakan SBY dan Kalla benar-benar memiliki jaringan itu, namun hanya menegaskan bahwa kata “gurita” belakangan ini selalu disebutkan untuk menggambarkan hal itu.

Model Gurita Cikeas terbentuk karena kekuasaan yang ada pada seseorang yang dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga dan kelompoknya. Hal ini lumrah saja terjadi pada sebuah pemerintahan yang kuat dan didukung oleh kelompok yang solit. Pada masa kekuasaan Soeharto gurita semacam ini tumbuh lebih lebas dan subur. Sudah bukan rahasia lagi Soeharto, anak, cucu dan keluarga besarnya memiliki perusahaan, perkebunan, pabrik dan berbagai macam usaha lain di seluruh Indonesia, sampai ke pelosok sekalipun. Hal ini tentu saja bisa dilakukan dengan kekuataan pemerintahan, dukungan partai mayoritas dan dukungan angkatan bersenjata. Apakah Cikeas sudah memiliki ini? Saya belum yakin, meskipun tidak mau mengatakan tidak ada sama sekali.

Namun demikian, selain gurita sebagaimana saya jelaskan di atas ada satau gurita lain yang tidak kalah besarnya, dan itu adalah “Gurita Prita”. Berbeda dengan Gurita Cikeas, Gurita Kalla, Gurita Cendana, dan gurita lainnya, Gurita Prita terbentuk pada kesatuan misi pembentuknya. Prita bukanlah orang yang memiliki jaringan kuat dan memiliki kekuasaan untuk mengatur “tangan-tangan” guritanya. Ia malah menjadi fokus di mana tangan-tangan yang ada di berbagai belahan tanah air bersatu. Yang bergerak untuk menjulurkan dan memanjangkan tangan bukan dari Prita-nya sebagai titik fokus, namun tangan-tangan gurita tumbuh sendiri dan menuju pada prita. Dan tangan ini dinamakan solidaritas.

Tumbuhnya solidaritas untuk prita karena masyarakat menyadari pentingnya membela dan mendukung pihak yang dizalimi oleh kekuasaan. Dalam hal ini prita menjadi sebuah simbol ketertindasan yang dilakukan oleh kekuasan tersebut. Masyarakat yang selalu mendambakan kehidupan yang adil dan bebas dari kesewenangan penguasa bersatu dalam usaha membebaskan prita dari segala tuntutan. Kemarin (29/12/09), ketika Majels Hakim Pengadilan Negeri Tanggerang memvonis bebas untuk Prita, masyarakat menyambut kebebasan itu sebagai kemenangan bersama masyarakat pencari keadilan.

Kalau Gurita kekuasan harus dimusnahkan dan dibasmi, maka Gurita Prita seyogyanya tidak berhenti sampai di sini. Sebab Gurita Prita terbangun berdasarkan solidaritas masyarakat luas yang ingin menjadikan negeri ini sebagai payung bagi keadilan dan kehidupan yang baik. Gurita Prita harus terus diberikan semangat dan gizi berupa pencerahan dan pengetahuan sehingga ia bisa mejalar pada kelompok yang lebih luas. Saat Gurita ini berkuasa, maka gurita-gurita yang dibangun dan dilahirkan oleh penguasa akan ketakutan dan tidak mau menunjukkan kekuasaannya. Dan itu adalah hari kemenangan rakyat pencari keadilan. Semoga.


29 December 2009

Politik Bakar Buku

Hulagu Khan, siapa yang tidak kenal? Panglima besar pasukan Mongol yang mengakhiri salah satu episode kekuasaan Islam di Baghdad pada tahun 1258 setelah berkuasa lebih dari 500 tahun. Saat itu pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Muktasim Billah (1242-1258) dari Dinasti Abbasiyah. Dalam penyerangannya, selain membunuh para penguasa dan menghancurkan peradaban, ia juga membakar ribuan kitab karangan ulama yang ada diperpustakaan Baitul Hikmah. Perpustakaan ini adalah sebuah pusat penerjemahan dan penelitian para cendikiawan Muslim terbesar yang dirintis sejak masa Harun al-Rasyid dan berkembang pesat pada masa al-Makmun. Di sana dilakukan alih bahasa dan penafsiran terhadap filsafat Yunani dan juga digunakan sebagai laboratorium bagi ilmuan Islam dalam melahirkan berbagai teori ilmu pengetahuan. Namun kebesaran perpustakaan ini musnah di tangan Hulaghu Khan, hanya dalam waktu beberapa hari saja. Konon air sungai Eufrat yang membelah Baghdad menjadi hitam terkena polusi abu kertas jutaan buku yang terbakar.

Melompat ke Aceh dalam abad ke 17, di mana Nuruddin Ar-Raniry memfatwakan pemusnahan terhadap buku-buku karangan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani pada masa kekuasaan Iskandar Tsani (1637-1641) karena dituduh sesat. Ajaran yang dibawa oleh Hamzah dianggap mengandung pemikiran wahdatul wujud yang pernah dikembangkan oleh Ibnu Arabi dan al-Jili. Wahdatul wujud adalah sebuah paham di mana manusia dianggap sebagai titisan Tuhan (wujud bayangan). Oleh sebab itu pada dasarnya manusia tidak memiliki keberadaan esensial, yang ada adalah keberadaan semu. Dalam pemahaman seperti ini wahdatul wujud dipandang menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya, dan itu adalah perilaku syirik, dan sesat.

Belakangan, di Aceh peristiwa ini hampir saja terulang. Sekelompok ulama di Aceh menyatakan sebuah ajaran yang dibawa oleh ulama lain sebagai ajaran sesat. Mereka berargumen di dalam buku kecil yang diedarkan tertulis mengenai ajaran-ajaran Abdul Karim Al-Jili yang bernah “bermasalah” di masa lalu. Ulama tersebut meminta masyarakat mengumpulkan buku yang telah terlanjur beredar dalam masyarakat untuk dimusnahkan karena dikhawatirkan meracuni pemikiran umat Islam, merusak aqidah dan menimbulkan kesalahfahaman di kalangan umat.

Bagaimana dengan buku Gurita Cikeas dan beberapa buku yang dilarang oleh Mahkamah Agung sebelumnya? Jelas alasan terpenting yang dikemukakan adalah apa yang disampaikan dalam buku-buku yang dilarang bertentangan dengan pemahaman umum yang berkembang dan atau dikembangkan pemerintah. Memberikan perspektif yang berbeda atas pandangan umum itu bisa jadi sebagai sebuah gerakan anti pemerintah yang bermuara pada penyatuan visi menggulingkan kekuasaan. Sehingga untuk kepentingan proteksi kemungkinan ini pemerintah melakukan langkah awal dengan pelarangan peredaran buku dimaksud. Padahal pelarangan justru menjadikan buku itu semakin dicari dan menjadi semakin diyakini kebenarannya. Sekali titah pelarang dikeluarkan maka seribu kali klarifikasi yang disampaikan tidak akan mempan menghilangkan anggapan bahwa buku itu berisi kebenaran.

Padahal kalau si buku dibiarkan bereda luas dan bebas di masyarakat akan ada penghakiman publik pada isi buku. Masyarakat akan membaca sendiri dan menilai apakah buku itu memang menyampaikan kebenaran atau ia hanya rekayasa si penulis untuk mencari popularitas, atau memancing di air keruh. Atau seperti banyak yang menyarankan silakan jawab buku dengan buku yang lain. Kalau saya tidak salah respon seperti ini pernah dilontarkan oleh Prabowo (atau Wiranto?) kepada Mantan Presiden B.J. Habibie yang menyinggung namanya dalam Detik-Detik Yang Menentukan. Saat itu Prabowo (atau Wiranto?) mengatakan “Saya akan membuat buku untuk mengklarifikasi hal itu.

Jadi bukan dengan melarang dan membakar, tapi dengan menulis buku lain. Dari sini iklim menulis dan mulai bersinar dan ilmu pengetahuan akan menerangi bumi Indonesia.

25 December 2009

Menulis Itu Sebagian Dari Iman

Kalau dalam sebuah hadits disebutkan kebersihan adalah sebagian dari iman, maka saya yakin pula kalau menulis juga sebagian dari iman. Sebab menulis menyebabkan orang tahu kalau ada hadits yang mengatakan demikian. Andai menulis tidak ada, atau andai apa yang dikatakan Nabi tidak tertulis, mungkin ucapannya kini hilang ditelan zaman. Menulislah yang menyelamatkannya, maka menulis itu sebagai dari iman.
Almarhum Hamka, orator, ulama dan sastrawan Indonesia yang terkenal mengatakan, “tulisalah apa yang baik orang lakukan atau lakukanlah apa yang baik orang tuliskan.” Hal inilah yang akan menjadikan seseorang tercatat dalam buku stambuk dunia. Sebab seorang penulis atau seorang yang melakukan hal-hal yang perlu ditulis akan hidup lebih lama dari ajalnya. Sementara mereka yang tidak menulis atau melakukan hal-hal yang layak ditulis akan mati sebelum ajalnya tiba.

“Saya hanya menulis apa yang saya benar-benar lakukan,” kata Paulo Coelho, penulis novel best seller sepanjang zaman, The Alchemist. Sebab tanpa melakukan, maka tulisan bukanlah keluar dari hati namun hanya sebuah kamuflase semata. Pembaca mungkin saja tertipu dengan olah kata dan diksi puitis dalam sebuah tulisan sehingga mempengaruhinya masuk dalam alam tulisan itu. Namun tulisan yang tidak sesuai dengan kepribadian penulisnya tidak akan menadapatkan nilai di sisi yang Maha Menulis, Dia yang menulis segala apa yang terjadi pada ciptaan-Nya. Sementara seorang penulis yang menulis sekaligus melakukan apa yang ditulisnya akan mendapatkan nilai double, dari manusia yang mendapatkan manfaat dari tulisannya dan dari Tuhan yang Maha Menulis. Bahkan jika ia menulis tentang kebenaran yang mendapatkan cacian dan ejekan dari manusia lain, Tuhan tetap memihak padanya. Dalam koteks inilah Bunda Taresha pernah mengatakan bahwa teruslah berbuat baik meskipun orang memandang perbuatanmu hina dan tercela. Sebab pada akhirnya perbuatan baik itu bukanlah antara engkau dengan mereka, namun antara engkau dengan Dia di Sana.

Teruslah menulis sebab itu akan membuat catatan amal baik kita menjadi lebih banyak. Menulis membantu para malaikat yang bertugas mencatat amalan kebajikan dalam menilai perbuatan kita. Mereka terbantu karena tulisan kita adalah bukti tidak terbantahkan dihadapan Tuhan atas apa yang telah kita lakukan di dunia. Tulisan yang kita buat sekarang akan merekam siapa saja yang membacanya dan siapa saja yang mengambil manfaat darinya. Suatu saat kelak, ketika hari pembalasan tiba, ia akan menjadi saksi di hadapan Tuhan bahwa apa yang kita lakukan telah meberikan manfaat yang besar untuk banyak manusia. Ia akan menceritakan siapa yang membacanya dan siapa yang mengambil manfaat darinya kepada Tuhan. Dan berdasarkan laporan itu Tuhan akan menganugerahkan satya lencana Surga bagi penulisnya. Amin…


16 December 2009

Tidak Semua Hadits Harus Diamalkan

Tadi pagi beberapa dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh melaksanakan diskusi bulanan mengenai Hadits Syar'i dan NonSyar'i serta bagaimana menerapkannya dalam konteks kehidupan sosial. Saya secara pribadi sangat senang dengan diskusi ini karena diikuti oleh banyak dosen (25 orang), padahal ini adalah forum "tidak resmi" dan tidak ada amplopnya setelah diskusi berakhir dan dilakukan di ruang kuliah. Ditengah perubahan sosial dan cara pandangan mengenai diskusi, workshop, seminar yang terjadi di Aceh pasca tsunami, di mana orang berfikir setiap melakukan pertemuan ada amplopnya, maka forum yang saya ikuti tadi pagi memberikan harapan baru untuk kebangkita sebuah kelompok-kelompok ilmiah di kampus dan di Aceh umumnya. Saya tidak mengatakan ini adalah satu-satunya furum yang demikian, tapi masih ada yang lainnya. Mungkin satau saat perlu sebuah komunikasi intensif untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban di Aceh dan dunia Islam.
Kembali kepada furum diskusi tadi. Tema yang diangkat oleh panitia dari Sear-fiqh sebenarnya hal yang biasa diperbincangkan di kalangan teman-teman di Jurusan Tafsir Hadits. Namun tatkala ini dikemukakan dalam forum heterogen, maka wacana menjadi lain dan penuh dinamika. Sebab tidak semua orang dalam forum itu memiliki pengetahuan yang dalam mengenai ilmu hadits. Sehingga ketika apa yang disebutkan berbeda dengan apa yang dipahami saat ini menimbulkan sebuah diskusi menarik dan mendalam yang sangat rugi kalau dilewatkan. Di sini saya akan berbagi sedikit saja, sejauh yang saya masih ingat dan melekat daam kepala. Maaf kalau apa yang saya sampaikan ini adalah hal yang biasa bagi teman-teman. Saya sendiri meletakkan sebagai hidangan istimewa di pertengahan minggu ini.

Syahdan, selama ini ternyata banyak dasar amalan yang dilakukan oleh umat Islam dalam menjalankan aktifitas kehidupannya didasari pada hadits, bukan Al-Qur'an. Bahkan ada kecenderungan umat Islam akan sangat marah dan terbakar emosinya kalau ada hadits yang disalah artikan atau ditafsirkan berbeda dengan apa yang dipahaminya. Klaim-kalim keluar dari Islam, munafiq, syirik, kafir, sesat dan lain sebagainya sering kita dengar karena seseorang tidak menafsirkan hadits seperti yang "biasa" dipahami. Namun klaim seperti itu tidak terlalu "heboh" kalau ada penafsiran yang berbeda dengan mayoritas ulama terhadap ayat al-Qur'an. Biasa jadi hal ini dibsebakan karena ayat al-Qur'an lebih filosofis dan hadits lebih praktis sehingga orang lebih mudah memahami hadits ketimbang al-Qur'an. Namun di sisi lain ini adalah sebuah kemunduran sebab hadits sesungguhnya sangat terkait dengan kondisi alam dan lingkungan di mana Rasulullah hidup dan terkait dengan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW.

Nah, inilah yang menjadi tema diskusi kami. Dua pemakalah muda yang memaparkan makalahnya, Dr. Tanthowi (Alumnus UIN Jogja)dan Dr. Tarmizi (Alumnus UIN Jakarta) mengatakan bahwa dalam hadits Nabi ada sisi-sisi non tasyri'iyyah, yakni tidak dietetapkan sebayang Syar'i. Dalam posisi demikian maka tidak ada kewajian kepada umat Islam untuk mengikutinya. Setiap orang, setiap bangsa, setiap kelompok umat memiliki adat kebiasaan yang sama sekali dengan masa dan kebiasaan di Mana Nabi hidup. Sehingga sangatlah mustahil untuk membawa semua apa yang dilakukan dan berlaku pada masa Nabi dalam konteks kehidupan kita saat ini. Dalam hal ini berlaku juga aspek kemanusiaan Nabi. Ada hal yang dianjurkan Nabi bukan sebagai sebuah wahyu yang datang dari Allah, namun hanyalah aspek kehidupan kemanusiaannya saja. Misalnya makanan tertentu, obat-obatan, cara dan warna berpakaian, cara makan, dll hanyalah budaya Nabi sebagai orang Arab dan Nabi sebagai manusia. Maka dalam hal ini umat Islam tidak serta merta harus mengikutinya dan menempatkan hal ini sebagai sesuatu yang wajib.

Masalah lain adalah banyaknya hadits yang jelas, sahih, namun menjadi sangat sulit jika diterapkan dalam konteks masyarakat yang selalu berubah seperti sekarang ini. Diperlukan sebuah penyelarasan antara apa yang pada masa kehidupan Nabi menjadi sebuatu yang lumrah dengan kehidupan saat ini yang sangat berbeda dengan 14 abat yang lalu. Di sinilah diperlukan sebuah kearifan, tawadhu', wara' agar apa yang dipilih terbut bukan karena nafsu semata namun benar-benar sebuah keinginan pengabdian kepada Allah. Dalam hal ini diperlukan sebuah kontemplasi atas apa yang terjadi hari ini dalam masyarakat dan bagaimana menyikapinya. Sebab kalau tidak maka ajaran Islam menjadi suatu kesempurnaan yang hadir di ruang hampa. Dia bagus dalam pengakuan namun sama sekali tidak dapat diterapkan.

Yang menjadi masaalh adalah batasan atau kriteria. Bagaimana suatu hadits dianggap mengandung nilai syar'i atau tidak sehingga dapat dilakukan. Contoh kecil adalah, apakah minum dengan tangan kanan adalah sesuatu yang syar'i atau tidak. Kalau hadits ini dipahami sebagai "ajaran" dari Tuhan, maka ia menjadi wajib (kalau perlu ada qanunnnya, heheh). Namun kalau ini dipandang sebagai kebiasaan orang Arab saja, maka tidaklah berdosa dan tidak pula bermasalah orang minum dengan tangan kiri jika masyarakatnya memang biasa demikian. Ada banya hadits yang sejenis. Lalu bagaimana kita memilahnya? bagaimana kita mengkategorikannya? bagaimana kita bisa sampai pada kesimpulan ini adalah hadits kemanusiaan dan kebudayaan saja bukan hadits syar'i?

Saya sangat ingin tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan ini. Sayangnya diskusi akan dilanjutkan bulan depan waktu sudah siang. Dua pemakalah lain akan membahas ini tahun depan.

Tulisan ini juga dimuat di blog saya: www.sehatihsan.blogspot.com dan www.kompasiana.com/sehatihsan

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...