Showing posts with label tips menulis. Show all posts
Showing posts with label tips menulis. Show all posts

16 September 2014

Autoetnografi: Dari Pengalaman ke Teks

Apa yang paling mudah ditulis? Jawabnya sudah pasti: pengalaman pribadi, sesuatu yang pernah dilakukan, dialami, dan itu sangat berkesan. Berbeda dengan pengetahuan yang sering kali terlupakan, pengalaman seperti terpatri di dalam ingatan seseorang. Semakin berkesan sebuah pengalaman, maka semakin kuat ia melekat dalam ingatan. Memang terkadang ia mengalami degradsai, atau bahkan penambahan dalam beberapa aspek detail, namun substansi sebuah pengalaman tetap tidak akan pernah hilang. 

Sayangnya, seringkali pengalaman personal ini diposisikan sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bisa dipakai sebagai data dalam penelitian. Penelitian yang -selalu dianggap- sangat objektif, berusaha seminimal mungkin menggunakan intervensi pribadi sipeneliti dalam laporannya. Peneliti -dianggap- harus independen, harus tidak memihak, dan harus menyajikan data apa adanya seperti yang ia temukan di lapangan. Ia harus memihak pada data, pada temuan-temuan faktual yang ada tenpam emanipulasinya. Hanya dengan cara seperti itu sebuah masalah dapat dilihat lebih terang dan intervensi atas masalah tersebut bisa dilakukan dengan objektif pula.

Anggapan demikian ada benarnya, namun dalam beberapa model penelitian sebenarnya tidak tepat. Seorang peneliti sosial adalah seorang yang mencoba mendalami pengalaman, cara pandang, proses perjalanan hidup seseorang untuk diangkat menjadi sebuah bahan analisis akademik. Pengalaman orang tersebut akan dijadikan bahan untuk dilihat berbagai aspek yang melatarbelakanginya, aspek yang mempengaruhi, hubungan antara satu orang dengan orang lain, faktor pembentuk, dan lain sebagainya sesuai dengan tujuan, metoda, atau teori yang digunakan. Dengan dasar ini, kenapa seseorang tidak bisa menggunakan pengalamannya sendiri sebagai basis sebuah penelitian sosial? Bukankah ia sangat memahami pengalamnnya? Ia mengerti, dan bahkan sangat mengerti, apa yang pernah ia alami? 

Autoetnografi 
Dalam konteks inilah sebuah penelitian autoetnografi dapat digunakan. Autoetnografi adalah penelitian sosial yang sangat dekat dengan antropologi. Sebelumnya hanya dikenal etnografi, yakni sebuah penelitian yang mencoba mendeskripsikan sistem hidup yang berlangsung dalam seubuah masyarakat. Pada awalnya, etnografi digunakan oleh sarjana Barat untuk mendeskripsikan kebudayaan dan kehidupan bangsa di Timur. Beberapa karya besar dalam antropologi sesungguhnya dilakukan melalui sebuah proses etnografi. Mereka tinggal dan hidup dengan sebuah suku bangsa, dan melihat semua proses yang berlangsung dalam suku bangsa tersebut. Inilah yang kemudian dijadikan bahan dalam membuat teori sosial mereka. Dalam autoetnografi, maka “suku bangsa” yang dilihat itu adalah diri sendiri. 

Ada banyak pengalaman yang dilalui oleh seseorang selama ia hidup. Ia pernah melalui masa kecil, masa bermain, masa sekolah. Ia pernah mengalami bagaimana berinteraksi dengan orang lain pertama kali, bagaimana menjalani hidup saat sekolah, saat remaja, dan bahkan beberapa waktu sebelum ia menulis. Ia pernah memutuskan sesuatu baik untuk dirinya atau untuk orang lain, ia pernah mendapatkan tanggung jawab dan menajalninya. Singkatnya, seorang orang yang masih hidup pernah melalui sebuah proses hidup yang banyak diantara pengalaman itu masih diingat dan direkam dalam pikirannya. Inilah yang dijadikan bahan dalam sebuah penelitian Autoetnografi. 

Bagaimana Menulis Autoetnografi? 

Langkah Pertama, dan paling penting, seorang peneliti harus mencatat pengalamannya sendiri dalam berhadapan dengan orang lain, keterpengaruhannya pada sesuatu, alasannya memilih atau tidak memilih sesuatu, dan hal lain yang memiliki relevansi dengan penelitian. Catatan ini harus sedetail mungkin, persis seperti sebuah narasi cerita. Aspek-aspek di luar yang dialami juga dicatat unutk menunjukkan cerita itu hidup dan dialami secara alami. Sebenarnya semua cerita bisa dipakai untuk sebuah penelitian etnografi. Namun dalam artikel pendek, misalnya makalah untuk jurnal, maka pengalaman yang diangkat hanya yang relevan dengan apa yang hendak dibahas saja, dan disesuaikan dengan pendekatan keilmuan yang dipakai dalam menulis. 

Kedua, Pengalaman yang ada dikalsifikasikan dalam tema tertentu yang hendak ditulis dalam artikel. Semua pengalaman akan membantuk sebuah tema dan tema ini akan menjadi “sub judul” dalam sebuah artikel. Letakkan pengalaman itu di bawah sub judul yang hendak ditulis. Sebuah sub judul bisa saja memiliki satu pengalaman saja, atau bisa beberapa pengalaman kalau ia memiliki relevansi dan unsur tambahan yang penting untuk menjelaskan sebuah sub judul. 

Ketiga, menjelaskan pengalaman dalam konteks sosial di mana pengalaman itu dilakukan atau terjadi. Misalnya, pengalaman “dipukul oleh orang tua”, dibahas dalam konteks bagaimana masyarakat sekitar melakukan atau tidak melakukan hal yang sama. Atau bagaimana sebuah kekerasan pada anak dalam bentuk yang lain terjadi di lingkungan itu. Jika terkait dengan pengalaman “desa yang hijau” bisa dijelaskan konteks bagaimana “hijau” itu terjadi, dimanfaatkan, dan dipersepsikan oleh masyarakat sekitar. Intinya, pengalaman personal harus dijelaskan dalam konteks yang lebih luas di sekitarnya, bukan berdiri di arena kosong dan hampa. 

Keempat, menempatkan pengelaman itu dalam konteks teoritis yang lebih luas lagi. Dalam fase ini maka apa dan siapa menjadi tidak penting lagi, yang utama adalah pola pengalaman itu sendiri. Kita belajar dari pola-pola itu dan menganalisanya dengan teori yang ada. Dalam kontek ini kita bisa mendukung sebuah teori, menjelaskan teori, memperbaiki atau bahkan memabantah teori yang sudah ada sebelumnya. Dalam kontek ini juga pengalaman personal itu akan dianalisis dengan jalan yang lebih serius yang melibatkan beragam analisis sejenis dalam kontek masyarakat yang berbeda yang pernah ditulis oleh para ahli. 

Memulai Autoetnografi 

Kembali pada paragraf awal tulisan ini, bahwa hal yang paling mudah kita tulis adalah pengalaman sendiri, sebab itu sangat kita ingat dan membekas dalam pikiran kita. Oleh sebab itu, saat merasa “tidak ada ide” untuk menulis, maka tulislah pengalaman sendiri dan jelaskan konteks pengalaman itu terjadi. Tidak harus menjadi sebuha makalah ilmiah, menulis autoetnografi bisa saja hanya dimulai dalam catatan kecil dan ringkas seperti di dalam blog ini. Dalam konteks ini kita belajar merangkai kata dan menyusun logika-logika yang nantinya dalam makalah ilmiah juga akan dipakai meskipun dengan analisis yang lebih dalam dalam kompleks. 

Banda Aceh, 16 September 2014.

25 June 2011

Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?

Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant. Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.

Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.

Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.

Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.

Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.

Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.

Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.

04 August 2008

NostalGILA Menulis

Aku buat beberapa link tulisan masalaluku di serambi indonesia. Sebuah pembelajaran yang tidak akan mungkin kulupakan. Dulu, aku menulis banyak, yan terkadang akusendiri tidak tahu artinya apa, masalahnya bagaimana. niatku hanya menulis dan menulis. dan kini, aku mengenang kembali.
heheh
nostalGila Menulis

1. Islam Mazhab al-Yateh
2. Dekonstruksi Sejara dan Sastra Aceh
3. Tasawuf, Pisau Bedah Problema Sosial
4. Nasib Islam Pasca Kuningan
5. Membela Islam
6. Ideologi Abu Waki
7. Pemimpin Yang Melayani
8. Tasawuf Dan Formalilasi Syariat
9. Hamzah Fansuri Sudahlah Karam
10. Berkorban Demi Siapa?
11. Pecinta Bola dan Kaum Sufi






Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...