Showing posts with label Catatan Ringan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Ringan. Show all posts

15 August 2013

Setelah Lebaran lalu apa?

Sudah sangat lama tidak menulis di sini. Seorang teman pada malam terakhir bulan ramadan yang lalu mengatakan kalau ia baru saja membaca catatan - catatanku di sini. Aku jadi sadar kalau catatan itu sudah sangat lama tidak kuisi. Aku mengatakan kepadanya kalau setelah lebaran ini aku akan mulai menulis lagi, apa saja yang mungkin kutuliskan. Sebab sesungguhnya menulis adalah bagian yang tidak mungkin terpisahkan dari hidupku. Meskipun total di blog ini, namun menulis sampai saat ini tetap menjadi rutinitasku.

Setelah lebaran lalu apa? Yang pasti aku mencoba menulis lagi. Dias hari setelah lebaran seorang teman menelponku. Ia adalah teman lama yang sudah tidak pernah komunikasi lagi dalam belasan tahun terakhir. Aku tidak tahu dari mana ia mendapatkan nomor handphone dan memutuskan menghubungi. Namun ini adalah berkah lembaran yang kusyukuri.

Bersambung...

20 October 2012

Antara Hujan dan Kematian

Meskipun tidak menyeluruh dan juga tidak lebat, hujan hari ini cukup membuat beberapa hari yang gerah di Banda Aceh jadi sedikit terobati. Hujan seperti ini sepertinya tidak sampai membuat risau penjual es-krim keliling, tapi cukup untuk menyiram tanaman petani sayuran. Sukses menghapus sedikit debu tapi tidak sampai membuat banjir di jalan. Ini namanya hujan rahmat.

Hujan yang "tiba-tiba" seperti ini menyisakan sebuah renungan menarik. Sangat banyak pengendara sepeda motor yang harus berteduh di emperan toko, di bawah pohon, di mana saja yang membuat mereka terhindar dari basah hujan. Atau, ada banyak orang yang "nekat" melaju dalam hujan meskipun resikonya adalah basah kuyup. Mungkin ada satu kepentingan yang tidak mungkin ditunda. Hanya secuil orang yang berdiri, mengenakan mantel, dan baru kemudian melanjutkan perjalanan.  

Pemandangan seperti ini sangat berbeda jika kita siap dengan mantel di kenderaan. Kapan saja hujan turun, kitabisa segera berhenti di pinggir jalan, mengenakan mantel, lalu melanjutkan perjalanan. Di dalam sepeda motor harus terdapat "mantel abadi" yang tidak pernah dipindahkan. Jadinya, hujan yang datang tiba-tiba sekalipun tidak menghalangi kita untuk melanjutkan perjalanan dan mencapai tujuan dengan "selamat" tanpa kebasahan. Kita tetap siap atas apa yang datangnya tiba-tiba. 

Sebenarnya hujan tersebut tidak sepenuhnya tiba-tiba. Ia merupakan peristiwa alam yang normal. Bahkan sering kali sebelum hujan turun, alam menunjukkan tanda-tandanya; langit mendung, angin sedikit kencang, dan atau ada rintik kecil. Namun sering kali kita acuh dengan tanda-tanda itu. Meskipun kita tahu tanda alam itu adalah akan turun hujan, namun kita tetap tidak peduli. Kita baru "peduli" saat hujan benar-benar datang dan membuat badan kita basah. Dalam hati kita mengatakan: andai aku punya mantel.... 

 Mungkin, beginilah gambaran bagaimana sikap kita menghadapi kematian. "Kematian" adalah suatu hal yang alamiah dan pasti akan terjadi pada semua manusia. Seperti halnya hujan, ia bisa datang tiba-tiba, kapan dia mau. Sebagian memberi kita tanda; tua dan sakit. Namun ada banyak kematian yang datang tanpa tanda. Satu hal yang pasti, ia adalah sesuatu yang alami dan akan dialami oleh semua manusia tanpa kecuali. Seperti halnya mantel di dalam sepeda motor, kita juga sering luput dengan persiapan menghadapi kematian. 

Meskipun kita tahu kalau kematian itu bisa datang kapan saja, meskipun kita sadar ia akan dialami oleh semua orang, meskipun kita paham kalau kematian adalah sebuah perjalanan yang perlu persiapan, kita tetap lalai. Bahkan ada banyak orang yang tetap lalai dengan persiapan itu padahal "tanda-tanda" sudah diberikan oleh Tuhan. Kita baru sadar ketika ruh hendak meninggalkan badan. Ohh... andai aku punya persiapan. Tapi semuanya sudah terlambat. Kita tetap menempuh perjalanan jauh itu tanpa persiapan; nekat!

08 April 2012

Inspirasi "Pantang Menyerah" dari Anak

Kini anakku sudah setahun. Saat aku pergi ke Italia, dia masih tujuh bulan. Sudah lima bulan lebih kami tidak bertemu. Jangan tanya bagaimana rasanya rindu.

Satu bulan yang lalu, lewat telpon ia sudah bisa memanggiku, “ayah…ayah…”. Itu kali pertama aku mendengar ia menyebut nama panggilan itu kepadaku. Aku yakin, beberapa hari ke depan ia pasti sudah punya kata baru: “ayah… wo… ayah… wo… ” (ayah, cepat pulang). Sungguh aku takkan sanggup mendengar kata itu.

Sekarang ia mulai bisa berjalan, meskipun belum lancar. Ia bisa berjalan pelan dan sudah lebih sepuluh langkah. Ia masih terus jatuh dan jatuh. Namun ia tidak pernah jera dengan jatuh. Anakku, seperti anak lainnya, dan seperti aku pada masa anak-anak, adalah orang yang menempatkan jatuh sebagai anak tangga menuju keberhasilan.

Kemarin istriku bercerita, kalau anak kami melihat iklan di televisi di mana ada anak-anak yang bergoyang, maka ia ikut bergoyang. Padahal kakinya belum terlalu kuat untuk begoyang. Hanya dua tiga kali bergerak saja, ia sudah jatuh. Namun, saat ia melihat iklan itu lagi dan melihat anak dalam televisi itu begoyang, ia kembali bergoyang.

Ia sudah lupa bahwa ia pernah jatuh karena meniru anak di dalam televisi. Sebab ia tahu semakin lama ia semakin dekat dengan kemampuan bergoyang, tanpa jatuh. Bandingkan beberapa minggu sebelumnya, bahkan ia belum bisa berdiri.

Anakku, anakmu, anak semua manusia, adalah mereka yang tidak mau peduli dengan kata “jatuh”. Jatuh adalah sebuah masalah, namun sukses adalah masalah lain. Jatuh adalah pasti, namun sukses adalah pilihan.

Semua orang akan jatuh dalam perjalanannya menggapai cita. Namun sebagian larut dalam jatuh dan tidak mau bangun dan mencoba lagi. Sebagain yang lain menjadikan jatuh agar ia semakin kuat meggapai impiannya.

Aku belajar banyak dari anakku.



23 March 2012

Menjadi Pemimpin Bukan Satu-Satunya Cara Membangun

Pembicaraan mengenai kepala daerah sedang hangat-hangatnya kini. Apalagi di Jakarta dan Aceh, dua daerah yang akan melaksanakan Pilkada. Seminar, diskusi hingga depat kusir bisa disaksiakan di mana-mana. Bukan hanya depat dengan kepala, terkadang berdebat melibatkan tangan, melakukan kekerasan dan bahkan pembunuhan. Di Aceh, beragam kekerasan sudah terjadi selama kampanye pemilihan kepala daerah ini. Dari pembunuhan, pembakaran rumah, pembakaran mobil, dan jangan tanya teror melalui SMS dan bahkan secara langsung. Jangan katakan di mana Polisi, sebab polisi memang tidak pernah hadir dalam situasi masyarakat menjadi korban. Semua ini dilakukan hanya karena satu alasan, menjadikan calon kepala daerah pilihannya menjadi pemenang dalam pertarungan pemilihan nantinya. Untuk apa ini semua?

Persepsi Pemimpin adalah Segalanya

Sah-sah saja mengatakan bahwa kepala daerah adalah orang yang menentukan maju-mundurnya sebuah daerah, pun sebuah negara. Sebab di tangannya ada "palu" yang bisa menentukan apakah suatu hal bisa dilaksanakan atau tidak. Jika kepala daerahnya bagus, memiliki komintmen yang bagus, maka semua akan bagus. Sebaliknya, jika kepala daerahnya korup, memiliki komitmen yang buruk dalam pembangunan maka semua akan buruk pula. Apakah ini benar?

Benar atau tidak benar, kenyataannya "paham" inilah yang berkembang di kalangan politisi dan juga masyarakat bawah. Oleh sebab itu, semua muara diskusi yang menjawab pertanyaan "bagaimana membangun suatu daerah" berujung pada "menyampaikan hasil diskusi kepada stakeholder". Rasanya para peserta mereka hasil diskusi mereka tidak akan terlaksana jika tidak diketahui oleh pemimpin. Hanya pemimpin yang bisa melaksanakan apa yang mereka mau. Seolah hanya pemimpin pula yang bisa mewujudkan apa saja yang telah mereka diskusikan.

Pandangan Orang kampus
Hal yang sama juga terjadi di kampus. Rektor, dekan, bahkan ketua jurusan dianggap sebagai posisi yang menentukan perkembangan dan pembangunan kampus. Hanya dengan duduk di salah satu posisi itu saja pembangunan kampus akan bisa diakukan, pengembangan ilmu pengetahuan bisa diwujudkan, atau kampus akan maju jika pemimpinnya juga bagus. Karenanya semua diskusi mengenai bagaimana memajukan kampus selalu berakhir pada bagaimana mempengaruhi pemimpin untuk bisa melaksanakan apa yang dihaslkan dari diskusi tersebut. Bukan hanya dengan menyampaikan langsung, masyarakat kampus biasa juga menyampaikannya melalui tulisan di media.

Persepsi Melahirkan Aksi

Tidak bisa diragukan lagi, persepsi yang demikian melahirkan aksi nyata berupa rebutan menjadi pemimpin. Saat ini bukanlah rahasia lagi kalau banyak orang ingin duduk di kursi empuk kepemimpinan suatu organisasi dan sebuah daerah. Bahkan, jauh hari sebelum pemimpin yang ada saat ini habis masa jabatannya, diskusi mengenai itu sudah dilakukan. Menggalang kekuatan dengan membangun kelomok-kelompok pendukung, membangun jaringan-jaringan, terus dilakukan oleh banyak kelompok. Tidak jarang hal ini dilakukan dengan cara memfitnah, menjelek-jelekkan, bahkan meruntuhkan martabat sesama manusia. Hal ini tidak saja dilakukan oleh orang yang hendak menjadi pemimpin, juga oleh orang yang ingin mempertahankan kepemimpinannya.

Celakanya, orang yang dipimpin juga terlarut dengan apa yang terjadi. Banyak dari mereka ikut menjadi martir untuk kemenangan seorang kepala daerah, untuk menjadi "pejuang" demi membela seorang kandidat yang dianggapnya benar, atau yang membayarnya untuk mengatakan demikian.

Di sisi lain para kritikus juga datang. Kritikus ini datang dari segala kalangan. Ada dari kampus, anak muda, pedagang, praktisi, orang yang tidak jelas pekerjaanya, semua masyarakat. Merasa merasa eksis hanya jika bisa mengkritik pemimpin. Bahkan semakin eksis jika mampu menunjukkan kata-kata pedas, kata-kata pahit dan seram. Semakin pahit kata yang ditunjukkannya ia merasa semakin eksis. Hanya apa yang dia pikirkan saja sebagai yang benar, meskipun pikiranya kadang hanya berasal dari bacaan sebuah berita di koran.

Membangun Tidak Harus memimpin

Saya sangat yakin bahwa ada banyak orang yang berfikir kalau membangun, apapun, tidak harus dengan menjadi pemimpin. Prestasi tertinggi yang dicapai manusia dalam hidupnya bukan dengan menjadi orang nomor satu di sebuah negara, atau nomor satu di sebuah daerah, organisasi, kampus, dan lain sebagainya. Saya salah seorang yang berfikir seperti ini.

Saya sangat tidak pecaya bahwa perubahan akan dilakukan oleh pemimpin. Sama sekali bukan.
Saya tidak yakin bembangunan hanya bisa dilakukan oleh presisden, kepala daerah, rektor, bos, direktur, apalagi seorang lurah. Sama sekali bukan.
Saya sangat tidak percaya kalau seorang tukang tambal ban di pinggir jalan tidak bisa mengubah wajah kota. Justru sebaliknya!
Saya tidak akan pernah setuju mengatakan seorang pemimpinlah yang bisa menentukan segala arah langkah sebuah organisasi, besar dan kecil.

Sebalik dari semua itu saya yakin bahwa semua orang yang ada dalam sebuah negara, sebuah provinsi, sebuah kampus, memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah wajah organisasi dan lembaga dengan tanpa harus menjadi pemimpin, bahkan tidak perlu terkait dengan pemimpin "resmi". Saya sangat-sangat percaya bahwa semua orang punya kemampuan yang luar biasa untuk membangun sebuah negara tanpa harus jadi presiden, membangun daerah tanpa harus jadi gubernur, membangun kampus tanpa harus menjadi rektor, dan lain sebagainya.

Caranya, dengan melakukan hal terbaik yang kita bisa, dalam posisi kita sendiri. Seornag penulis bisa mengubah Indonesia dengan berusaha menulis sesuatu yang baik, yang bermanfaat, yang mengispirasi. Seorang akandemisi bisa melahirkan karya-karya yang berbobot memalui penelitian yang serius. Seorang warga negara biasa, bisa mengubah indonesia dengan memberikan hal yang terbaik yang bisa dilakukannya. KAtakanlah seroang juru parkir. Ia akan mengubah sebagain wajah negara saat ia bisa bertindak dengan baik dalam melaksanakan pekerjaannya. Semua orang akan memberikan kontribusi yang baik bagi perubahan dan pembanguna jika ia mampu mengubah moralnya.

Bagi saya perubahan moral, cara berfikir dan bertindak, tidak lah sepenuhnya tergantung pada pemimpin. Ada banyak orang besar yang pernah hidup di dunia ini tanpa menjadi pemimpin formal, pun di bawah pemipin yang baik.Ada banyak toko perubah di dunia yang menjadi besar tanpa duduk sebagai orang nomor satu di pemerintahan atau organisasi. Ada ribuan orang sukses di dunia ini berasal dari sebua organisasi dengan pemerintahan yang busuk. Hanya karena ia sendiri, secara pribadi, melakukan hal yang terbaik, ia keluar dari sistim buruk itu dan mengubah lingkungannya meskipun ia tidak memimpin.

Kesimpulannya: Cara lain membangun adalah memastikan secara personal anda melakukan yang terbaik dalam hidup anda sendiri dan tidak menyalahkan orang lain atas hal yang belum anda peroleh.

09 February 2012

Ibu Muda dan Surat Dikti

Ibu itu masih muda, mungkin tiga tahun lebih muda dari istri saya. Tapi anaknya dua tahun lebih tua dari anak kami. Saat saya tinggal di Jogja tahun lalu, hampir setiap awal bulan kami berjumpa. Saya dan istri, dia bersama anak laki-lakinya, sama-sama pergi ke Mbah Mul, tukang urut kebugaran bayi di Yogyakarta. Karena sering jumpa, kami sering bercerita, termasuk tentang pekerjaan suaminya.

“Masnya kok mau ya, kuliah dengan biaya sendiri jauh-jauh dari Aceh. Suamiku dikasih beasiswa ke Mesir tapi malah lebih suka kerja di sini.”

“Suami mbak kerjanya apa?”

“Itu… bantuin mahasiswa bikin tugas akhir. Katanya, mendingan kerja dari pada sekolah. Kalo sekolah ga bakal bisa beli mobil dan bikin rumah seperti sekarang.”

“Masa sih bantuin bikin tugas akhir mahasiswa bisa buat rumah dan beli mobil?”

“Bisa dong mas. Masku sudah punya banyak skripsi, tesis dan disertasi di komputernya, semua jurusan. Dia juga ada penelitian kerja sama dengan pegawai pusat penelitian universitas di Jogja. Jadi gampang bikin karya akhir. Kalo skripsi paling dua tiga hari udah siap. Kalau disertasi bisa sebulan.”

“Trus dapat berapa untuk satu karya akhir?”

“Itu rahasia”

“Emangnya banyak ya, mahasiswa yang minta dibikini karya akhir begitu?”

“Bukan hanya mahasiswa, dosen juga banyak.Untuk jurna buat naik pangkat. Apalagi pejabat-pejabat yang mau cepat selesai kuliah. Dia mau bayar mahal lho, yang penting cepat selesai.”

***

Melalui surat Nomor: 152/E/T/2012 tertanggal 27 January 2012, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Indonesia mengeluarkan kebijakan baru terkait dengan kelulusan sarjana di Universitas. Semua lulusan berbagai strata harus mempublikasikan tulisannya di jurnal ilmiah. Hal ini dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan publikasi ilmiah di Indonesia yang kalah jauh dari Malaysia. Sebuah niat yang perlu kita apresiasi.

Namun sayup-sayup saya teringat percakapan kami setahun yang lalu di Yogyakarta. Suami-suami lain mungkin akan berfikir untuk melakukan hal yang sama dengan suami si mbak itu. Tidaklah terlalu sulit membuat skripsi, tesis bahkan disertasi, apalagi bagi mereka yang sudah berkali-kali membuatnya. Kopas sana kopas sini, selesai. Bahkan kini sudah ada “jasa konsultasi dan pengolahan data akademik” di internet yang bisa membuat skripsi dalam beberapa hari saja.

Bagaimana dengan karya ilmiah di jurnal? Mereka bisa membuat dengan jurnalnya sekalian. Sangat gampang!!

Begitulah Indonesia.

25 June 2011

Inilah Alasan Kenapa Saya Tidak Memberi Sedekah kepada Pengemis Cilik!

Hampir di semua kota di Indonesia, pengemis menjadi salah satu peandangan yang tidak bisa dihindari. Di perempatan jalan yang ada lampu merah, di kafe-cafe, di pasar dan tempat lainnya. Dan dari sekian banyak pengemis itu masih berumur di bawah sepuluh tahun. Bahkan sepertinya ada yang masih berusia lima tahun ke bawah. Beberapa bayi bahkan digunakan oleh orang tuanya untuk mendapatkan rasa iba dari masyarakat lantas memberikan bantuan, sedekah kepada mereka.

Rasa iba terkadang menjadi alasan bagi kita untuk menjulurkan tangan memberikan bantuan kepada mereka. Tidak tega juga melihat muka sedih memelas mereka. Meskipun kita terkadang terfikir kalau itu hanya pura-pura, namun terkadang tetap tidak tega. Oke kalau benar itu pura-pura, bagaimana kalau ia benar? Apa yang akan ditanyakan Tuhan kelak ketika kita melihat hamba-Nya yang kelaparan tapi kita tidak membantu. Mungkin itu alasan sehingga mereka merogoh kocek memberikan bantuan.

Saya salah seorang yang berfikir demikian dua tahun yang lalu. Saya merasa iba dengan kehidupan mereka. Dengan hanya memberikan Rp. 500 atau Rp. 1000,- rasanya tidak akan mengurangi apa yang ada di kantong saya. Bahkan tidak terlalu berat kalau memberikan Rp. 500 beberapa kali dalam sehari. Namun itu dulu. Sejak tahun 2008 awal saya sudah memutuskan untuk tidak meberikan sedekah kepada pengemis cilik di pinggir sajalan atau yang datang ke rumah-rumah.

Inilah alasan saya!

Satu hari saya sedang shalat zuhur di sebuah masjid di kota saya. Saat itu pas bulan puasa. Di masjid itu sering berkumpul pengemis, tua muda dan anak-anak. Biasanya mereka berkumpul di gerbang depan, di mana jamaah keluar masuk menuju masjid/pulang. Di sana mereka menengadahkan tangan, atau meletakkan kemasan air mineral gelasan di depannya. Jamaah yang merasa mau membantu memasukkan uang ke dalamnya.

Seorang anak yang saya taksir berumur tujuh tahun berada di dalam masjid. Setelah shalat saya mendekatinya. Saya berniat akan mebelinya satu stelan baju untuk si anak untuk menyambut hari raya yang segera akan tiba. Saya melihatnya sedang menghitung uang recehan yang baru dikeluarkan dari tas kecil yang selalu dibawanya. Di sisi kanannya ada setumpuk uang seribuan yang sudah disusun rapi. Di depannya ada uang pecahan koin yang masih berhamburan belum dikelompok-kelompokkan.

Saya mendekatinya dan bertanya:

"Udah dapat berapa dek?"

"Yang ini Rp. 350.000," katanya sambil menunjukkan uang seribuan plus beberapa uang pecahan besar di sisinya. "Yang ini belum dihitung" katanya sambil menunjukkan uang receh di depannya.

"Wah.... dapat banyak hari ini?"

"Ngak bang. Biasanya, siang begini sudah Rp. 500 ribu. Sekarang mungkin Rp. 400 ribu saja."

Wah... si anak ini luar biasa. Rp. 500 ribu hanya sepagi. Bagimana kalau sepanjang hari.

"Memang biasanya sehari dapat berapa," saya coba tanya sama si anak.

"Ngak tentu bang. kalau puasa begini bisa sampai Rp. 1 juta."

"Kalau ngak puasa?"

"Sehari Rp.300 bang" jawabnya polos.

"Oooo... kamu sudah ada baju baru untuk lebaran?"

"Sudah"

"Berapa lembar?"

"Sembilan"

Saya tidak punya pertanyaan lagi. Niat membantu mebelikan selembar baju baru untuk si anak langsung hilang. Apalah artinya selembar baju baru untuk anak 7 tahunan di tengah sembilan baju baru yang sudah ia miliki plus penghasilan satu jutaan sehari.

Sejak saat itu saya tidak pernah memberikan uang lagi kepada pengamis cilik. Apalagi saya punya pengalaman memata-matai seorang perempuan paruh baya yang nampak sehat menggendong anaknya meminta sedekah, dari ia memulai aksinya di perempatan jalan sampai ia pulang kembali ke rumahnya. Nanti akan saya ceritakan...

Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?

Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant. Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.

Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.

Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.

Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.

Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.

Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.

Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.

Ekspresi "Puas" Gadis Jepang

Seminggu belakangan ini aku menonton sebuah stasion televisi nasional yang meyiarkan acara pertandingan ala Jepang. Awalnya aku tidak sengaja menontonya saat minum kopi sore di sebuah warung. Ternyata menarik juga, pertandingan itu dikemas secara menyenangkan dan penuh tantangan. Beberapa yang aku ingat antara lain adalah pertandingan memancing ikan tuna di lautan, pertandingan membikin kue mirip makanan tertentu, pertandingan membuat eskrim, dan tadi sore pertandingan membauat masakan untuk merayakan sesuatu.

Menurutku, ide pertandingan itu sangat menarik. Sederhana, tapi menyenangakan dan mendidik. Secara pribadi, dalam salah satu sesi, aku belajar cara membuat telor dadar yang variatif. Sudah kucoba, rasanya lezat! sangat lezat.

Tulisan ini bukan hendak menceritakan tentang masakan itu. Tapi bagaimana orang Jepang mengekspresikan kegembiraan atau kesedihannya. Dari beberapa kali menonton itu aku simpulkan beberapa sikap orang jepang dalam mengekspresikan kepuasannya:

Tidak suka bicara banyak
Saat pembawa acara menanyakan kesuksesan atau kegagalannya, orang Jepang hanya menjawab satu atau dua kata; "iya, aku sedih", lalu ia meninggalkan pembawa acara. Atau kalau ia memenangkan perlombaan, paling hanya mengatakan: "Aku senang sekali". Tidak ada percakapan panjang lebar, tidak ada salah teknis, salah wasit, salah peralatan, dll. Ekspresi kekalahan atau kemenangan sama saja, singat dan tidak berlebihan.
Tidak suka jingkrak-jingkrak
Untuk merayakan kemenangannya, orang Jepang tidak melompat-lompat kegirangan, tidak berjingkrak-jingkrak kesetanan, cukup bertepuk tangan saja sambil membungkuk mengucapkan terima kasih kepada semua orang. Kalaupun berteriak senang, itu dilakukan sekali atau dua kali saja, tidak berlebih-lebihan.
Tidak ada peluk cium pada teman
Kalau pertandingan menggunakan tim, orang Jepang tidak cipika-cipiki saat mengekspresikan kemenangannya. Tidak ada peluk-pelukan sambil berteriak. Tidak ada juga lompat-lompat. Masing-masing anggota kelompok mengatakan terima kasih, lalu selesai.
Menghargai karya seseorang
Semua juri saat menilai masaan selalu mengatakan, "Wah... makanan ini lezat sekali, dia sangat pandai membuatnya". Walaupun kemudian nilai yang diberikan tidak banyak, tapi pujian itu membaut yang berkarya menjadi tersanjung dan merasa dihargai.


Aku teringat, beberapa bulan yang lalu di sebuah stasion televisi lainnya yang menyiarkan lomba masak ala Indonesia. Saat mencicipi hasil masakan pesarta, jurinya mengatakan, "Wah... masakan ini kurang garam, ikannya kurang matang" dll.

Saat pemenang diumumkan, pesarta yang menang berteriak kesetanan merayakan kemenangannya. Ia berteriak berjingkrak sambil memeluk teman-temannya.

Saat pembawa acara meminta tanggapannya atas kemenangan yang baru diperolah, peserta ini menceritakan perasaannya, kenapa ia bisa memang, prediksi-prediksi sebelumnya, kenapa orang lain bisa kalah, dll. Sangat banyak. Pembawa acara terpaksa mengatakan kalau ia sudah mengerti.

Begitulah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

20 March 2010

Ngopi; dari TV, LD, CD ke Wifi

Semua masyarakat di dunia memiliki budaya sendiri. Sebagian berasal dari warisan genarasi masa lalu mereka. Namun tidak sedikit yang terbangun karena perubahan zaman dan penyesuaian antara lokalitas dengan kehidupan modern yang dibawa televisi dan media lainnya. Salah satu budaya baru itu adalah apa yang belakangan marak berkembang di Aceh, budaya minum kopi.

Tidak ada yang unik sebenarnya, sebab minum kopi adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir di seluruh Indoensia kopi menjadi tanaman yang memberikan penghasilan untuk warganya. Bukan hanya sekarang, sejak masa penjajahan, bahkan masa kerajaan negara kepulauan ini sudah dikenal sebagai penghasil kopi. bahkan salah satu alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena mereka merebut pasar Kopi Dunia. Karenanya tidaklah heran pula kalau masyarakatnya juga penikmat kopi yang taat. Bahkan menjadikannya sebagai budaya.

Di Aceh, kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan sosial masyarakat. Tahun 2008 yang lalu saya melakukan penelitian di Kluet, sebuah suku kecil di Aceh Selatan. Di sana, setiap kehadiran kita di sebuah rumah masyarakat langsung dihidangkan kopi tanpa minta persetujuan dulu. Padahal saat itu saya sudah meninggalkan kopi selam tiga bulan. Namun karena saya sedang melakukan penelitian sangat tidak enak kalau menolak pemberian tersebut. Jadinya, saya ketagihan minum kopi lagi. Hal yang sama saya temukan dalam masyarakat Gayo di Kabupaten Bener Meriah. Sama halnya dengan di Kluet, setiap kita datang bertamu ke rumah seorang warga langsung disuguhkan kopi. Jadinya saya harus minum kopi minimal tiga kali sehari. Istimewanya, masyarakat Gayo adalah penghasil kopi. Bahkan kebanyakan kopi yang ada di Aceh berasal dari dataran tinggi Gayo. Kopi Gayo juga diekspor ke luar negeri. Sebuah perusahaan Belanda berdiri di sana untuk keperluan ekspor tersebut.

Budaya minum kopi bukan hanya dalam rumah tangga, tapi lebih “heboh” lagi dalam pergaulan sosial. Warung kopi tumbuh sangat banyak di Aceh. Saya yang tinggal di kota Banda Aceh menjadi saksi pertumbuhan warung kopi yang sangat pesat tersebut, terutama pasca tsunami di Aceh. Untuk menarik peminat beragam cara pula dilakukan oleh pemiliknya. Tidak hanya dalam desain dan penempatan bangunan, namun juga fasilitas hiburan.

Dulu, saat saya pertama kali merantau ke Banda Aceh, warung kopi yang ramai dikunjungi adalah warung kopi yang ada TV-nya. Saat itu TV masih menjadi barang langka, terutama TV besar. Maka warung kopi bersaing menyediakan TV memanjakan palnggannya. Semakin besar TV semakin banyak pelanggan. Kemudian, saat teknologi Laser Disk (LD) berkembang, warung kopi bersaing menyediakan LD. LD dipakai untuk memutar film. Mulai setelah maghrib sampai jam dua malam. Dan warug kopi dengan fasilitas LD penuh pengunjung. Bahkan saya dengar beberapa pemilik warung kopi menggunakan LD untuk memutar Blue Film untuk menarik peminat dari kalangan remaja, mahasiswa dan pemuda. Meskipun resikonya LD mereka disita oleh Satpol PP. Demikina halnya Saat VCD Player mulai marak di pasaran, teknologi LD-pun mati berganti CD. CD jauh lebih mudah dan murah. Apalagi saat masuk teknologi Ghina yang murahnya minta ampun, hampir semua warung kopi menyedikannya. Mereka mendapatkan film dari tempat-tempat penyewaan CD yang juga tumbuh pesat.

Sekarang ini, Wifi adalah tawaran terpopuler bagi pecandu kopi di Banda Aceh. Seperti dituis oleh Rahmat, hampir semua warung kopi yang baru tumbuh di Banda Aceh menyediakan wifi. Kalau malam-malam berjalan keliling kota Banda Aceh, pemandangan kerumunan anak muda di pinggir jalan dengan laptop bukan hal yang asing lagi. Saya tidak tahu dengan pasti mereka membuka apa dengan fasilitas tersebut. Namun seorang mahasiswa saya yang melakukan survey kecil-kecilan mengatakan umumnya mereka membuka facebook dan jejaring sosial yang lain. Mungkin ini perlu research lebih serius.

Namun demikian, beberapa warung kopi di aceh masih bertahan dengan “Keasliannya”. Mereka tidak menyediakan fasilitas apapun selain kopi. Daya tariknya adalah kelezatan kopi dan aromanya yang khas. Warung kopi seperti ini biasanya dikunjungi oleh pecandu kopi yang memang tidak berkepentingan dengan wifi. Dan inipun tumbuh subur seiring dengan meningkatnya pecandu kopi. Sebuah warung kopi yang menjadi langganan saya adalah warung kopi tradisional yang khas. Pemiliknya seorang Kepala Desa yang membangkang pada Soeharto di zaman Oede Baru. Beliau membuka warung kopi sejak tahun 1969 hingga sekarang. Karena usianya sudah sangat tua, ia hanya membuka warung kopi selama tiga jam, setelah shalat subuh di masjid hingga jam delapan pagi. Jadinya warung itu penuh setiap pagi buta meskipun tanpa fasilitas apa-apa dan lampu yang remang-remang. Yang duduk di sana umumnya orang tua. Saya mungkin yang termuda menjadi pelanggannya.

Seperti apa warung kopi Aceh di masa depan? Tuhan yang tahu. Namun satu hal yang pasti terus berkembang, ngopi bukan hanya sebagai sebuah budaya konsumsi amun juga gaya hidup. Saat ini wifi lagi marak-mraknya, maka warung kopi menyediakan wifi. Kalau ke depan ada teknologi publik lain yang lebih maju maka tidak heran juga warung kopi akan menyediakannya. Dalam waktu dekat akan ada perandingan piala dunia di Afrika Selatan. Pasti warung kopi di Aceh akan bersaing menyediakan layar lebar untuk memanjakan penontonnya.

Huuuhh…capek juga nulis. Ya sudah, ngopi dulu.

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...