Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

24 February 2012

Haruskan IAIN Menjadi UIN?

Belakangan ini kampanye dan usaha mengubah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry semakin kencang. Pihak kampus IAIN melakukan beberapa audiensi dengan berbagai pihak di Aceh untuk mendapatkan dukungan perubahan tersebut. Selain pemerintah Aceh, pemerintah kota Banda Aceh, DPRA, Polda Acehpun sudah menyatakan dukungan untuk perubahan IAIN menjadi UIN. Dukungan ini menjadi salah satu aspek yang akan menguatkan tawaran IAIN kepada pemerintah dalam usaha perubahan ini. Tanpa mengecilkan arti usaha itu, sebuah pertanyaan yang layak diajukan adalah: sejauh mana perlunya perubahan IAIN menjadi UIN?

Alasan terdepan yang selalu dikemukakan oleh petinggi kampus dalam usaha perubahan ini adalah, "agar IAIN bisa membuka fakultas umum seperti halnya kampus tetangga, Unsyiah". Pembukaan fakultas dan prodi umum akan menjadikan IAIN ampu bersaing dengan universitas lain dalam menjaring minat studi mahasiswa. Apalagi belakangan di Aceh sudah berdiri STAIN Malikussaleh dan STAIN Cot Kala yang juga memiliki misi studi Islam yang hampir sama dengan IAIN. Nyaris, mahasiswa IAIN Ar-Raniry beberapa tahun terakhir didominasi oleh alumni SMA/MAN dari pantai Barat Selatan dan Banda Aceh-Aceh Besar.

Tujuan lainnya yang meskipun tidak terlalu populer namun ada dalam pikiran semua pihak di IAIN adalah, perubahan IAIN menjadi UIN akan memberikan jalan yang lebih mudah untuk menerapkan dan merealisasikan ide-ide tentang ilmu integrasi islam dan ilmu pengetahuan umum yang selama beberapa dasawarsa terakhir sudah sangat populer di dunia Islam. Sudah terlalu banyak "teori" integrasi yang sudah diberikan, namun masih sangat sedikit aplikasinya di lapangan. Dengan menjadi UIN maka kesempatan IAIN mengaplikasikan teori tersebut akan menjadi lebih mudah.

Arti IAIN: Sebuah Introspeksi

Meskipun sebagai dosen di IAIN Ar-Raniry, saya tidaklah terlalu ambisius untuk perubahan ini, meskipun saya bukan orang yang menolak sama sekali. Ada sebuah keraguan yang tidak bisa saya hindari ketika semangat perubahan ini didengungkan. Keraguan ini adalah menyangkut dengan pertanyaan: Apakah kita sanggup dengan perubahan tersebut?

Banyak kolega saya di IAIN menyambutnya dengan acungan kepalan tangan ke atas dan mengatakan: "Kita bisa!" Sungguh sebuah jawaban yang luar biasa. Saya yakin, kesiapan dan semangat akan membuat semuanya menjadi lebihmudah. Jika semua orang di IAIN sudah merasa perubahan ini akan menjadikan IAIN lebih baik, maka tidak tidak alasan untuk menundanya.

Namun saya ingin mengatakan, janganlah semangat perubahan menjadi UIN hanya didasarkan pada keinginan "kesempatan membuka prodi umum" dan "kesempatan integrasi ilmu keislaman dengan ilmu umum" semata tanpa melihat apa yang bisa kita lakukan selama ini. "Bisa" di sini adalah, apa yang sudah kita lakukan selama ini dengan status kampus yang "hanya" Institut.

Ada sebuah pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab. Apakah yang menyebabkan IAIN mundur karena "institut" atau karena faktor lain yang ada di dalamnya. Kedua, apakah nama "universitas Islam" akan menjamin IAIN ke depan lebih baik? Dua pertanyaan ini akan membawa kita untuk bisa melihat kembali pada diri masing-masing, lalu menilais sejauh mana perubahan nama ini perlu.

Kualitas Pribadi vs Sebuah Nama

Saya sendiri cenderung berfikir bahwa ketertinggalan kampus bukan disebabkan oleh namanya, namun ada pada sistim pengelolaan yang ada di dalamnya. "Institut" dan "Universitas" bagi saya sama saja sejauh ia bisa dikelola dengan baik dan dengan sebuah visi yang jelas. Selain itu, di dalamnya ada civitas akademika yang memiliki dedikasi dan semnagat yang tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Apapun namanya, jika ia memiliki dedikasi yang kuat dalam pengembangan ilmu, maka ia tetap akan maju dan diincar oleh siapa saja.

Selama ini, saya melihat, IAIN belumlah menjadi sentral pengembangan ilmu pengetahuan agama di Aceh. Peran IAIN masih sekedar menjalankan administrasi pendidikan ilmu agama Islam saja, belum sampai pada mengembangkan dan mensponsori pengembangan ilmu keislaman. Sebagai "administrator", selama ini IAIN menjadi media transformasi ilmu dari seorang dosen kepada mahasiswa. Dosen mendapatkan ilmu dari tempat lain dan membaginya kepada mahasiswa. Tidak ada ilmu "khas" IAIN yang dikembangkan, yang ada hanyalah pengambilan ilmu dari tempat lain dan bulat-bulat diberikan kembali kepada mahasiswa.

Mudahnya begini. Meskipun IAIN berada di Aceh, namun Aceh sama sekali tidak bisa dilihat dari IAIN. Penelitian-penelitian yang ada di IAIN masih tidak bisa menggambarkan apa yang terjadi di Aceh. Bahkan apa yang terjadi di Aceh, tidak bisa dijelaskan oleh civitasakademika IAIN. Justru ornag luar -provinsi atau negara- yang datang ke Aceh untuk melakukan penelitian dan dokumentasi mengenai Aceh. Celakanya, dokumentasi mereka kemudian menjadi rujukan bagi civitasakademika IAIN dalam melihat daerahnya sendiri.

Tentu kita tidak bisa menafikan beberapa pakar dari IAIN yang berperan dalam pengembangan agama dan pemerintahan di Aceh. Namun itu jelas bukan (setidaknya tidak 100%) bagian dari posisinya sebagai ilmuan. Sebagai ilmuan, menurut saya, civitasakademika IAIN harus menjadi "perekam peradaban" yang sedang berlangsung di Aceh, dan menempatkan perspektifnya dalam semua hal yang yang terjadi di Aceh belakangan ini. Apakah ini sudah terjadi? Saya melihatnya belum.

Hal yang paling mudah adalah dengan melihat konteks Aceh kontemporer, saat ini. Sekarang di Aceh sedang berlangsung sebuah proses pemeilihan kepala daerah. Ada banyak partai, ada banyak kekerasan, ada banyak teror, ada banyak intrik politik, dan lain sebagainya. Di sisi lain, IAIN memiliki jurusan politik Islam. Pertanyaannya, sejauh mana akademisi di jurusan politik Islam mencerdasi apa yang terjadi dalam proses demokrasi di Aceh ditinjau dari eprspektif Islam? Apakah proses ini sudah sesuai dengan prinsip politik Islam?

Seharunya, ini menjadi "laboraorium hidup" bagi IAIN untuk menerapkan apa yang berkembang di kampus. Apa yang sudah didiskusikan di kelas, bisa dilihat di pangangan dan melakukan penilaian. Hasil penelitian akan kembali didiskusikan di kampus dan diabstraksikan dalam bentuk tesis-tesis keilmuan yang akan terus berkembang secara dinamis. Semakin lama, abstraksi ini semakin kuat dan teruji. Dan pada suatu masa ia akan menjadi salah satu produk ilmu pengetahuan khas yang lahir dari IAIN.

Mungkin lain kali saya akan mencoba memberikan gambaran dan contoh dari beberapa fenomena sosial di Aceh lainnya.

Kembali ke pertanyaan semula, apakah untuk melakukan ini perlu mengubah IAIN menjadi UIN? Saya kembali menjawabnya: Tidak! Dalam status sebagai IAINpun, hal ini bisa dilakukan.

Namun pertanyaan yang paling -menurut saya- sulit untuk dijawab adalah, Apakah alumni sebuah kampus yang bergelut dengan wacana keilmuan teoritis adakan bisa mendapatkan pekerjaan setelah ia menjadi sarjana?

Mungkin ini bisa jadi sebuah pertanyaan yang lain lagi, namun sekaligus harus dijawab berbarengan dengan keinginan perubahan IAIN menjadi UIN. Memang sulit mengatakan bahwa seorang alumni IAIN bisa eksis di dunia kerja kalau kampus tidak menyesuaikan diri dengan apa yang berkembang. Seorang ahli filsafat Islam alumni Fakultas Ushuluddin misalnya. Ia lulus dengan predikat terbaik di kampus, mau jadi apa? Apa yang bisa dilakukannya? Satu dua orang bisa menjadi peneliti atau penulis, namun berapa banyak yang bisa demikian? Akhirnya mereka akan kembali ke kampung dan hidup seperti masyarakat biasa di sana. Lalu untuk apa kuliah?

Saya sendiri sungguh tidak punya jawaban untuk pertanyaan seperti ini. Jika dengan mengubah Institut menjadi Universitas mampu mengatasi problem ini, maka saya bisa maklumi kalau perubahan itu memang niscaya. Saya ikut mendoakan saja.



18 August 2010

Budaya Puasa, Apa Perlu?

Ada perbedaan yang sangat jelas antara puasa yang dianggap “ideal” dengan puasa yang dilaksanakan oleh kebanyakan kaum muslimin. Puasa ideal dipersepsikan sebagai puasa yang benar-benar menahan nafsu dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Bahkan lebih jauh puasa ideal adalah puasa yang dapat menjadi “sekolah moral” di mana lulusannya akan menjadi “insan kamil” atau manusia paripurna di kemudian hari. Singkatnya, puasa ideal adalah puasa yang benar-benar spiritual dan moral yang dianggap sebagai “puasa pra Nabi”.


Namun yang terjadi justru sebaliknya, orang melakukan puasa tidaklah sebagai representasi spiritualitas semata. Banyak orang melakukannya karena konstruksi budaya pada bulan suci ini. Jadinya, puasa dilakukan sebagai aktifitas religius dalam kerangka budaya. Makanya, banyak hal yang tidak ada pada bulan-bulan lain timbul dan marak di bulan puasa. Banyak pekerjaan yang tidak ada di bulan lain, dilakukan di bulan puasa. Termasuk makanan-makanan khas yang memang hanya ada di bulan puasa. Dan banyak orang yang berpuasa menganggap ini sebagai bagian dari aktifitas ramadhan yang tidak bisa ditinggalkan.

Apakah Budaya puasa tidak perlu? Lalu kenapa banyak orang melakukannya? Ini memangmenjadi dilema. Di satu sisi terkadang budaya puasa telah menjadi kontraproduktif dengan puasa itu sendiri. Puasa mengajak kita menahan diri, namun konstruksi budaya puasa justru mengajak kita memborong makanan sejak pagi hari. Puasa bertujuan menjaga hati, malah banyak orang memanfaatkan waktu luang berpuasa untuk melakukan perbuatan sia-sia. Belum lagi banyak orang yang menjadikan puasa sebagai kambing hitam menurunnya produktifitas kerja, pekerjaan yang tidak selesai, gerakan yang lambat, dan lain sebagainya.

Namun di balik berbagai kelemahan itu semua, terkadang budaya puasa juga memiliki mafaat. Antara lain manfaat sosial dan ekonomi. Secara sosial, buaya puasa membantuk sebuah kesempatan untuk bersilaturahim antar kelompok sosial dalam cara buka puasa bersama. Selain itu budaya puasa juga membangun hubungan tenggang rasa yang baik antar orang yang berpuasa dan tidak berpuasa (meskipun tidak semuanya). Manfaat lain yang tidak kelah pentingnya dari budaya puasa adalah banyak fikir miskin dan anak yatim yang tersantuni spanjang bulan suci ini.

Sementara secara ekonomi jelas, budaya puasa telah memberikan stimulus untuk munculnya kreatifitas pedagangan, baik di tingkat produk maupun dalam metode berdagang. Banyak orang yang menjadikan bulan puasa sebagai kesempatan mendapatkan lebih banyak rezeki dengan menyediakan “kebutuhan” orang yang berpuasa. Selain itu ada peningkatan produksi komoditas tertentu yang memungkinkan pekerja dapat penghasilan lebih banyak di bulan ini. Singakatnya, puasa bida menjadi pendorong bagi banyak orang untuk melakukan kegiatan produktif yang menghasilkan secara ekonomi.

Hanya saja, yan perlu diperhatikan adalah dimensi spiritualitas puasa harus diintegrasikan ke dalam aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan agar puasa tidak menjadi ladang yang kering bagi hati. Sebab puasa adalah persoalan hati yang memang menjadi dasar bagi sebuah aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan oleh manusia.

05 June 2010

Masuk Longgar Keluar Ketat

Kemarin baru saja ngobrol dengan seorang teman yang sedang mengeluh. Katanya ia sedang kesal, sudah tiga kali mendaftar di program pascasarjana sebuah universitas tidak juga diterima. Padahal dari sisi segalanya ia sudah siap. Biaya pendidikan, keluarga, surat izin pendidikan, semua sudah oke dan ia benar-benar siap untuk -kembali- belajar di kampus. Namun apa daya, sudah tiga tahun mendaftar di perguruan tinggi kesukaannya, namun belum juga berhasil.

Ia mengeluh sambil tetap instrospeksi diri, meyakinkan diri bahwa ia bukan orang yang pantas untuk menjadi master. Namun setelah beberapa kali ikut tes, ia berbalik arah, mengatakan pendidikan kita terlalu formal dan prosedural. Orang sudah bersedia belajar, sudah siap biaya, sudah semangat, malah tidak diberikan kesempatan untuk belajar. Apa salahnya pihak perguruan tinggi memudahkan jalur masuk? Kalau nanti tujuannya mau jadikan lulusan yang berkualitas tinggal disetel di jalur keluar. Dengan demikian semua orang punya kesempatan untuk belajar di level yang lebih tinggi, dan punya kesempatan untuk “unjuk gigi” di kelas.

Seorang teman yang lain, minggu lalu mengeluh karena universitas tempat ia mau mendapftar S2 meminta terlalu banyak dokumen. Selain iajazah, transkrip nilai, SK pegawai negeri, izin pimpinan, rekomendasi atasan, rekomendasi mantan pembimbing dan macam-macam lagi. Semua dokumen itu menjadi bahan yang harus dimasukkan dalam sebuah map untuk kepentingan pendaftaran. Ia jadi mengeluh, pertama karena memang agak sulit mengurusnya. Kedua, untuk apa dokumen-dokumen tersebut? Apa pentingnya buat program pascasarjana? Setelah diberikan mereka pasti melemparkannya ke tong sampah. Padahal, menurut teman saya, cukup dengan dokumen penting saja, ijazah. Ini yang membuktikan ia sudah selesai S1/S2. Selebihnya bisa dengan curriculvitae (CV). Apakah ia akan berbohong? dalam tahun-tahun awal keberadaannya di kampus, semua kebohongan dan kejujurannya akan terbukti.

Saya jadi teringat pengalaman seorang teman yang mendaftar beasiswa ke luar negeri. Katanya banyak universitas di luar negeri tidak perlu tes untuk masuk ke program pascasarjananya. Kita hanya perlu submit beberapa dokumen, lalu selesai. Mereka akan menilai berdasarkan dokumen tersebut lalu memanggil kita. Namun kenapa kualitas pendidikannya bagus? Karena di dalam, saat mahasiswa kuliah, seseorang benar-benar mendapatkan pendidikan yang bagus dan bermanfaat untuk pengembangan diri dan ilmunya. Kalau lembaga pendidikan mendidik orang pintar lalu lembaga tersebut terkenal, itu hal biasa. Tapi kalau ia menerima “orang bodoh” lalu mendidiknya mejadi pintar, baru istimewa.

Saya sangat berharap akan lahir sebuah kebijakan yang memudahkan seroang uantuk melanjutkan pedidikannya, terutama untuk S2 dan S3, tanpa harus tes. Dengan melihat CV seseorang sebenarnya kita telah mampu memetakan kemampuannya dalam mengikuti kuliah. Mungkin tes masih perlu untuk S1 karena sangat banyak, sementara S2 dan S3 dengan jumlah peminatnya yang tida kterklalu banyak, mungkin bisa diterima tanpa tes. Jadi masukknya longgar, keluarnya ketat.



Motor Pemicu Diskriminasi Gender!

Tahun lalu, dalam perjalanan ke sebuah kabupaten dari Banda Aceh, saya menumpang L300, angkutan umum satu-satunya menuju ke sana. Saya duduk di depan di sisi sopir. Beberapa detik sebelum berangkat, seorang perempuan yang tidak terlalu muda diantar oleh sebuah becak mendekati sopir. Perempuan itu nampak sangat tidak rapi. Rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga kusut tidak karuan. Ia datang sambil menangis.

Kepada sopir, dengan isak tangis yang tidak berhenti ia mengatakan sesuatu. Saya tidak bisa menangkap semua yang ia katakan, namun saya bisa paham kalau ia sedang dalam masalah dan memerlukan tumpangan. Sopirpun setuju, dan dia naik ke dalam mobil. Perempuan itu duduk di depan, diantara saya sebelah kirinya dan sopir di sebelah kanannyan.

Setelah setengah jam di jalan, ia mulai tenang. Saat itulah sopir mulai bertanya, apa yang terjadi. Isaknya kembali terdengar, namun tidak terlalu keras. “Suami saya membawa lari anak kami dengan istri mudanya” kata sang perempuan. Saya menjadi kaget, suami membawa lari anak? Bukankah itu anak mereka? Mungkin sang suami hanya ingin membawanya main-main.

Tidak, katanya. Suaminya sudah kawin dengan perempuan lain, orang Medan (Sumatera Utara) dan masih muda. Kemrian dia datang ke Banda Aceh mengambil anak saya yang masih berumur 1,5 tahun dan membawa pergi. Saya mau ke Langsa, rumahnya ibunya (ibu suami) di Langsa. Saya sangat takut anak itu dijual. Suami saya lelaki “kaplat” (bangsat). Ngak punya hati…huk…huk…huk…” ibu itu menangis lagi. Ia mengatakan sesuatu namun tidak jelas suaranya.

Ketika tangisnya reda kembali ia melanjutkan kisahnya. Suami saya jarang pulang ke rumah setelah saya melahirkan. Bahkan ia tidak mengirimkan saya uang biaya hidup. Pernah dia pulang, tapi bukannnya membawa kebahagiaan, tapi membaut saya sakit hati.

Setahun yang lalu saya membeli sebuah sepeda motor kredit. Dia tahu saya punya sepeda motor, makanya dia pulang. Pagi-pagi dia tiduran di rumah. Sore hari dia keluar dengan sepeda motor. Pertama saya tidak tahu ia pergi ke mana. Tapi karena kadang-kadang ia tidak pulang sampai malam, saya suruh keponakan saya memata-matainya. Ternyata ia pergi dengan perempuan lain, jalan-jalan ke Krueng Raya dan duduk berdua dipinggir pantai. Kita yang capek-capek bekerja mencari uang, dia hanya bersenang-senang dengan perempuan lain. Makanya, waktu ia pulang saya ambil sepeda motor, lalu saya jual.

Setelah tidak ada sepeda motor dia pergi lagi. Baru kemarin dia pulang, bersama seorang perempuan muda. Katanya itu istrinya dari Medan. Tadi siang dia ambil anak saya, tapi sudah sampai malam begini belum dibawa pulang juga. Saya telepon, katanya anak saya sudah dibawa bersama. Dia meu mengurus anak. Mana mungkin laki-laki bangsat itu mengurus anak. Dirinya sendiri saja tidak sanggup diurus. Saya takut anak saja dijual. Huk…huk…huk…. ibu itu menagis lagi.

Oke, cerita itu masih panjang. Tapi tidak ada kaitan langsung dengan sepeda motor.

Ada cerita lain.

Sebuah keluarga yang petani. Mereka hidup bersama sudah beberapa tahun yang lalu. Sangat sederhana. Untuk transportasi menuju ke sawah atau ladang mereka hanya naik sepeda ontel yang sudah tua. Dengan sepeda itu mereka nampak sangat mesra.

Setelah fasilitas kredit sepeda motor masuk sampai ke kampung-kampung, suami mengajak istrinya mengambil kredit untuk membeli sebuah sepeda motor. Istri setuju saja. Apalagi, ia berfikir, itu akan sangat memudahkan mereka dalam pergi ke sawah atau ke kebun. Setelah mengurus administrasi yang macam-macam, sepeda motorpun datang ke rumah.

Belakangan, setelah sepda motor ada di tangan mereka, sang istri baru tahu kalau itu membuat keluarga mereka retak. Suami asik dengan motor barunya, pergi kemana-mana tidak jelas. Katanya silaturahim ke saudara yang jauh. “Untuk apa sepeda motor kalau kita tidak mengunjungi saudara jauh” katanya ketika sang istri menanyakan. Istrinya menerima dengan berat, walaupun hatinya tidak yakin.

Suami mulai keasyikan. Ia mulai jarang pergi ke sawah dan ladang. Semuanya mulai ditangani istrinya. Setiap pagi ia mengenakan pakaian terbaik dan berpenampilan sangat rapi. Mengambil sepeda motor lalu pergi entah ke mana. Siang hari ia pulang. Kalau istri belum masak ia marah-marah. Padahal istrinya pergi ke sawah dan ke kebun untuk bekerja. Sementara ia dengan sepeda motornya entah pergi kemana. Dari sebuah kabar burung, katanya, sang suami sudah menemui dermaga baru untuk melabuhkan cinta.

Semua gara-gara sepeda motor.

Cara Mengetahui Mahasiswa Nyontek

Nyontek memang sebuah kejahatan akademik. Namun tetap saja banyak mahasiswa yang menyontek waktu ujian. Memang dosen sudah memperingatkan kalau nyontek dia tidak akan lulus, kalau nyontek dapat nilai jelek, macam-macam sangsi lah. Tapi kenyataannya nyontek laksana penyakit yang sulit dihilangkan dikalangan mahasiswa.

Tapi beberapa dosen punya kita khusus mendeteksi mahasiswa menyontek. Beberapa cara itu dilakukan dosen saya saat kuliah dulu.

Membca Koran

Ada dosen masuk kelas dengan membawa koran. Setelah membagikan soal ujian dan lembaran jawaban, ia duduk santai di depan kelas. Koran yang besar dibantangkan di depan mukanya sehingga mahasiswa tidak bisa melihatnya.

Melihat kondisi ini, kami mulai aksak-kusuk kanan kiri minta bantuan. pelan-pelan buka cataan. kopean yang sudah disediakan sejak di rumah juga mulai digunakan. sebagai mengambil dari sepatu, ada dari tali pinggang, ada di balik baju, macam-macam. bahkan ada yang menulisnya di tangan dan menutupinya dengan baju berlengan panjang.

Sang dosen seperti tetap asyik dengan bacaannya dan tidak peduli dengan apa yang kami lakukan. Kamipun semakin menggila, buka hanya melihat punya sendiri, tapi mulai berani menjenguk jawaban ujian teman.

Tiba-tiba, bapak dosen membuka korannya. Dan kami secepat kilat duduk dengan rapi dan seolah tidak terjadi apa-apa. secepat kilat pula semua catatan dimasukkan ke tempatnya yang paling aman.

Ternyata bapak dosen bukan hanya membuka koran di depannya, tapi langsung berdiri dan menuju ke meja kursi mahasiswa. Ia tahu persis di mana kopean diletakkan. Semua mahasiwa yang menyimpan catatan diambil dan dibawa ke depan.

Selidik punya selidik, ternyata koran yang dibacanya telah dilubangi di tengah dengan paku. Dari kejauhan mahasiswa tidak nampak lupang itu karena kecil-kecil. Namun karena koran sangat dekat dengannya, ia dapat melihat apa saja yang dilakukan mahasiswa. Pantas saja ia tahu di mana kopean disembunyikan.

Kacamata Hitam

Strategi yang lain adalah dengan memakai kacamata hitam. Seorang dosen duduk di depan mengenakan kacamata hitam. Mahasiswa tidak tahu ia melihat kemana. sebab mata sang dosen dibalik kacamata tidak nampak sama sekali. Ia bisa saja melihat ke luar ruangan, namun matanya melihat ke arah mahasiswa.

Beberapa teman yang nekat tidak mengerti dengan kondisi ini. Ketika bapak dosen melihat keluar, ia pikir benar-benar melihat ke luar. sehingga jurus buka kopeanpuan dimainkan. dan apa yang terjadi? beberapa saat kemudian pak dosen akan bangun dana mengambil kopean tersebut.

Akan tetapi menggunakan kacamata ini terkadang banyak masalah juga. Kadang-kadang dosen tertidur di balik akcamatanya. namun karena khawatir ia terjaga dan melihat ke arah mahasiswa, maka kami takut membuka kopean. sampai ujian selesai, ia tidak perlu mengawasi mahasiswa, kukup tidur dengan kacamata hitam saja.

Kejadian aneh

Ada kejadian aneh. seorang dosen membawa koran ke dalam ruangan dan membca dengan santai. Kami mengira ia benar-benar membaca koran karena duduk dengan sangat tenang. Tiba-tiba kami sadar kalau koran di bagian lauar yang mengarah ke kami terbalik. jadi koranya pasti terbalik dan si dosen bukan sedang memabca koran. Nah, ketika tangan si dosen jatuh ke pahanya, berarti ia tidak lagi memegang koran. Koran hanya tegak karena disandarkan di tas. Dan beliau sudah tertidur dengan pulas. Dengan sangat hati-hati kamipun memaikan aksi.

Kejadian lain katika sang dosen menggunakan kacamata hitam. Kami sangat takut karena khawatir beliau melihat dari balik kacamata. Tapi tiba-tiba kacamatanya jatuh sebelah. Tapi beliau tidak memperbaiki letaknya. Dan dengan jelas kami melihat matanya tertutup. berarti beliau tertidur. Dan kamipun mulai melakukan aksi nyontek.

hahaha… pengalaman masa-masa mahasiswa :-D

Kata Dosenku: “Nilai A Milik Tuhan”

Tiba tiba teringat masa lalu, masa-masa jadi mahasiswa. Banyak kenangan yang tercipta, yang sedih, yang gembira, yang macam-macam lah. Semua masih terasa.

Ada beberapa kenangan berkaitan dengan nilai dari dosen. Begini ceritanya:

Nilai A Milik Tuhan
Ketika masih kuliah, saya termasuk sebagai mahasiswa yang lumayan rajin, setidaknya dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Kalau ada tugas dari dosen saya benar-benar kerjakan dan selesaikan tepat waktu dan seerti yang diinginkan dosen. Demikian juga dalam kelas, saya tunjukkan keseriusan saya dalam belajar.

Pada akhir semester, semua mahasiswa mengikuti ujian. Ujian dilaksanakan secara tertulis di kelas. Dosen menulis soal di papan tulis, lalu kami menjawabnya. Saya melakukannya dengan baik dan menjawab soal dengan sempurna, sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh dosen pada masa kuliah.

Dua minggu kemudian nilai keluar. Setiap mahasiswa mendapatkan nilainya sendiri. Ketika melihat nilai yang ditempel di papan pengumuman dekat jurusan, saya terkejut melihat nilai saya B. Saya sangat tidak bisa menerima. Soalnya saya merasa hampir tidak ada “celah” untuk memberikan nilai demikian. Hampir semua aspek yang akan dinilai saya ikuti dan selesaikan dengan baik.

Saya mendatangi dosen yang mengasuh mata kuliah ini. Agak sulit juga karena beliau agak sibuk dengan kegiatan sosial di luar kampus. Namun pada saatu hari saya berhasil menemuinya. Setelah duduk memperkenalkan diri, saya menyampaikan maksud saya menjumpainya. Saya juga kemukakan alasan saya untuk mengajukan protes. Bahkan saya mengatakan kalau saya bersedia mengikuti ujian ulang, termasuk ujian lisan.

Betapa terkejutnya saya ketika beliau menjawab:
“Nilai A itu untuk Tuhan. Nilai B untuk saya. Paling tinggi nilai mahasiswa adalah C. Kalau kamu dapat B berarti kamu sudah saya kasih hadiah besar.”

Setelah mengatakan ini iapun pergi. Saya jadi speakless. Tidak tahu harus berkata apa.

Dapat A karena Nekat

Pengalaman lain ikut ujian yang sangat mengesankan dalah dapat A karena berani, bukan karena pandai. Saya mengambil mata kuliah dengan seorang dosen yang sangat –kami katakan- killer. Dalam sejarah, ia hanya pernah mengeluarkan nilai A beberapa kali. Konon katanya, rektor yang ada saat saya kuliah adalah salah seorang yang pernah diberikan nilai A. Inilah yang membuat saya sangat rajin membaca buku-buku yang telah di tetapkan.

Ketika masa ujian tiba hati kami begetar. Siap-siap “dibunuh” oleh sang dosen. Ada sebuah prinsip yang sudah tertanam dalam hati kami. Belajar atau tidak belajar niali pasti C. paling-paling dapat nilai B, dan itu sangat jarang terjadi. Mungkin kebetulan saja.

Ujian akan dilangsungkan keesokan harinya. Saya sudah membaca buku yang dianjurkan dan bahan pelajaran yang lain. Dan sudah sangat membosankan mengulangnya lagi. Karenanya, malam hari saya mengajak beberapa teman main kartu. Kebetulan saya tinggal di satu kosan bersama teman-teman satu jurusan. Saya provokasi mereka dengan mengatakan tidak ada artinya belajar. Ternyata teman terprovokasi dan kami main kartu sampai azan subuh. Setelah shalat subuh kami tidur. Dan hanya satu jam kemudian kami harus bangun dan pergi ke kampus untuk mengikiuti ujian.

Dosen matakuliah masuk kelas. Dengan wajahnya yang garang ia menantang mahasiswa. “Siapa diantara kalian yang berani ujian lisan?” Semua terkejut mendengar tantangan ini. sebab biasanya ujian dilakukan dengan tulisan. Saya tunjukkan tangan. Beliau tanya lagi, apa ada yang lain mau ujian lisan. Melihat saya tunjuk tangan, dua teman yang semalam ikut main kartu juga tunjuk tangan. Saya tunjuk tangan karena sudah baca buku sehari sebelumnya. Sementara mereka tunjuk tangan karena melihat saya tunjuk tangan. Dan akhirnya kami dipisahkan ke ruang yang lain. Sementara teman-teman diberikan soal di dalam kelas dan mengikuti ujian seperti biasa.

Sesaat kemudian Bapak dosen datang menjumpai kami. Teman-teman sudah saya jelaskan kalau saya sudah baca buku sebelumnya maka berani tunjuk tangan. Sementara mereka tidak ada bekal sama sekali. Ini membuat mereka sangat ketakutan. “Kalau aku tahu bagitu aku bakal ikut ujian saja tadi.” katanya.

Namun kami sangat terkejut ketiak Bapak Dosen bilang. Saya tahu kalian sudah membaca dan belajar di rumah. Kalau tidak mana mungkin berani tunjuk tangan. Iya kan? Teman saya yang jawab dengan penuh rasa percaya diri. “Iya Pak.” “Oke, kalau begitu kalian boleh pulang. Saya anggap sudah ikut ujian.”

Kami bersorak di dalam hati. Dan setelah jauh dari ruang dosan kami tertawa terbahak-bahak karena senang berhasil “menipu” dosen killer. Apalagi setelah ujian selesai kami bertiga dapat A atas keberanian itu.


Disangka Muallaf

Kalau ini sebenarnya pengalaman teman saya, anak medan. Namanya Rijal Pangabean. Dia kuliah jauh-jauh ke Aceh. Sebelumnya mondok di sebuah pesantren di medan. Bahsa Arabn dan inggrisnya lancar. Pengetahuan agamanya luas. Kebetulan kami ambil mata kuliah Fiqh Islam. Belajar tentang beberapa hukum dan aturan dasar beribadah dalam Islam. Sesuatu yang memang menjadi “makanan” sehari-hari saat ia di pesantren.

Saat ujian, dosen memberikan kami ujian lisan. Semula kami menolak, namun karena beliau tetap tegas dengan keputusannya, maka kami akhirnya tetap ujian lisan.

Satu-satu kami dipanggil ke depan. Setiap orang ditanya beberapa pertanyaan yang sebenarnya sangat berat. Saya diminta untuk membacakan dua rukun khutbah jum’at beserta dua menit ceramahnya. Ada teman saya yang disuruh membaca do’a-doa shalat jenazah. Sedikit agak berat.

Saat datang giliran si rizal, ia hanya diminta mengartikan kalimat basmallah. Maka dengan mudah ia bisa mengartikan. Apalagi basmallah bukan hanya diketahui artinya oleh orang Islam, ia juga memang ahli dalam bahasa Arab. Dia pun selesai. Dan ketika pengumuman nilai keluar, Rijal dapat nilai A, nilai ujiannya dapat penuh.

Usut-punya usut ternyata Bapak Dosen berfikir kalau Rijal Pangabean adalah muallaf, atau orang yang baru masuk Islam. Maknya ia memintanya menyebutkan arti basmallah saat ujian.


Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!

Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: Mahalnya Ongkos Sekolah. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)

Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.

Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.

Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.

Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.

Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.

Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.

Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.

Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.



24 May 2010

4G Made In Aceh

Kalau teknologi Eropa atau China hanya mampu membuat 3G atau 3,5G, maka Aceh selama ini telah melahirkan 4G. Dan saya kira ini akan bertambah terus dalam waktu cepat. Apalagi partisipasi masyarakat Aceh dan peran pemerintah juga besar dalam membangunnya. Jadilah 4G di Aceh sangat berkembang dan terkenal.

“G” Pertama adalah Ganja
Baru saja saya nonton TV. Sebuah berita tentang “kesuksesan” aparat kepolisian menangkap dua pemuda di Jawa Barat yang membawa ganja. Dalam keterangan yang diberikan kepada polisi, mereka mengaku hanya sebagai kurir dan bukan pemakai, apalagi pedagang. Ganja tersebut dititpkan seseorang dan harus diberikan kepada seseorang lain yang telah ditunjuk. Untuk ini mereka akan mendapatkan imbalan yang lumayan. Sampai di sini masih tidak ada masalah dengan berita tersebut. Namun sebelum mengakhiri berita dikatakan: “Menurut polisi ganja itu berasal dari Aceh.”

Memang ganja memiliki cerita sendiri dalam masyarakat Aceh. Dulu, ketika saya masih anak-anak, orang kampung menanam ganja di pinggiran sumur yang terbuat dari tanah. Namun bukan untuk dihisap sebagai rokok atau dihisap asapnya seperti saat ini. Waktu itu ganja dibuat sebagai bumbu yang menjadikan masakan lebih nikmat dan neundang, gethoo!. Atau menjelang bulan puasa, daun ini dipakai untuk menjadikan daging lebih empuk saat di makan. Namun setelah terjadi pembangunan yang masuk ke kampung-kampung, informasi sudah sampai ke sana, ganja ternyata diharamkan dan dilarang negara. Jadinya, tanaman di pinggir sumur itupun lenyap.

Tapi yang justru kebijakan ini menjadikan tanaman ganja berkembang sangat banyak di hutan-hutan seluruh Aceh. Saya memang tidak punya bukti, namun itu menjadi sebuah rahasia umum. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menanam ganja, menjualnya atau terlibat dalam kurir. Namun jangan salah, tidak semua orang Aceh melakukan itu atau menyetujuinya. Banyak orang Aceh juga menjadi korban karena peredaran salah satu jenis narkotika tersebut.

“G” kedua adalah GAM

Berita mengani GAM pernah mewarnai media masa Indonesia selama beberapa tahun. Hal ini tidak lain karena Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memiliki sekelompok pasukan yang mampu berperang melawan pasukan pemerintah. Dalam berbagai kesempatan jelas dikatakan GAM menginginkan kemerdekaan dari pemerintah Republik Indonesia. Indonesia dianggap telah berlaku tidak adil kepada masyarakat Aceh. Selain berlaku tidak adil dalam budaya, agama dan pendidikan, Indonesia dinilai tidak adil juga dalam mengelola sumber daya alam. Banyaknya hasilalam di Aceh tidak pernah dinikmati oleh orang Aceh sendiri.

Kondisi ini mendorong sekelompok masyarakat bergabung membentuk sebuah pasukan yang menamakan diri mereka dengan GAM. lebih lima tahun GAM melawan pemerintah Indonesia dan telah menyebabkan banyak cerita yang lahir. Kebanyakan ceritanya adalah cerita menyakitkan karena berhubungan dengan kematian, pemerkosaan, pelecehan seksual, pembakaran, penistaan dan lain sebagainya. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah GAM telah mewarnai perkembangan pemikiran politik di Indonesia, langsung atau tidak langsung.

Saat ini beberapa kabupaten di Aceh berada di bawah pimpinan mantan GAM. Sayangnya daerah Aceh sekarang defisit anggatran. Bukan hanya di tingkat provinsi, namun juga di kabupaten. Apakah ini karena pemerintahan GAM atau kesalahan persoanal pemimpin? wallahu’a'lam. Yang pasti beberapa daerah kabupaten di Aceh saat ini terancam bangkrut karena tidak mampu membayar gaji pegawai dan menyediakan dana untuk pembangunan.


“G” ketiga adalah Gempa


Gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 yang lalu menjadi sebuah tonggak sejarah dalam perjalanan kehidupan daerah Aceh. Betap[a tidak? Aceh yang selama konflik tertutup untuk diakses oleh mendia, dilihat oleh orang luasr dan orang asing, namun setelah Gempa aceh menjadi daerah yang sangat kosmopolit. Banyak orang dari berbagai bangsa di dunia datang untuk menyaksikan dan membantu korban tsunami di Aceh. Kesempatan ini adalah sebuah peristiwa sejarah yang tidak akan terlupakan.

Gempa dan tsunami sedemikian besar perannya dalam membentuk kehidupan masyarakat di Aceh. Salah satunya adalah perubahan budaya masyarakat, perubahan cara pandang, dan berbagai pembangunan fisik di kampung-kampung atau di daerah perkotaan. Ini juga sebagai awal bagi masyarakat Aceh untuk menciptakan dan mendidik generasi di masa yang akan datang yang lebih baik. Negara-negara yang pernah datang ke Aceh pada masa tsunami terukir pada prasasti yang dibuat di Balang Padang, Banda Aceh. Sekarang prasasti tersebut telah menjadi salah satu tempat kunjungan wisata.


“G” Keempat adalah Gaun


Masalah gaun atau pakaian perempuan juga tidak kalah pentingnya di Aceh. Salah-salah berpakaian anda tidak ada bisa mewujudkan rencana. Saya contohkan, kalau anda perempuan mau pergi ke rumah sakit di Meulaboh, Ibu Kota Aceh Barat, namun memakai celana jeans, maka dapat dipastikan anda tidak bsia menjumpai saudara anada yang sakit. Atau kalau anda mau jumpa direkturnya, anda juga tidak akan diberikan izin.

Ini terjadi karena bupati Aceh Barat menerapkan sebuah peraturan tentang keharusan masyaakat Meulaboh mengenakan rok dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bupati bahkan menyediakan belasan ribu rok untuk menggantiakn celana ketat yang dipakai oleh perempuan dan dibagikan secara gratis. Namun jika pakaian ketat anda ditemukan di tempat razia, anda harus mengiklaskan pakaian tersbeut dimusnahkan. Ngeri? Tidak juga. Sebab juka anda sudah tahu, maka kota Meulaboh adaalh kota yang mana tenteram terkendali. :-D

Itulah empat G yang telah diciptakan di Aceh. Dalam waktu dekat mungkin Aceh akan melahirkan G kelima. Entah apa namanya.

21 May 2010

Saya Pilih Deactivate Account FB Mulai Hari ini!

Sebuah usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang yang untuk membuat karikatur Nabi Muhammad di FB memunculkan beragam tanggapan dari facebooker. Bukan hanya facebooker muslim, namun banyak facebooker yang non muslim dan bahkan yang selama ini tidak meyakini satu agama tertentu. Beberapa teman saya yang non-muslim mengirimi saya pesan keprihatinan atas sebuah gerakan yang yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat namun di sisi lain menghina kelompok beragama tertentu; dalam hal ini Islam. Sementara respon dari kalangan teman-teman yang muslim bisa dilihat dari status FB mereka, atau beberapa tulisan di blog, termasuk kompasiana.

Respon dari kalangan teman-teman muslim umumnya sama, tidak setuju dengan aksi tersebut dan memandang itu sebagai sebuah penistaan pada agama. Namun dalam responnya teman-teman muslim terbagi dua, menutup account facebook dan tetap melanjutkannya. Yang melanjutkan dan tetap menggunakan acconut facebook beranggapan bahwa di dunia maya apapun bisa terjadi. Termasuk penghinaan agama dengan karikatur Nabi. Namun itu semua tidak mengharuskan kita keluar dri facebook. Sebab ada banyak hal yang dapat dimanfaatkan dari facebook. Selain silaturahim, bisnis, tegur sapa, dan tentu saja menambah jeringan dan keakraban pertemanan.

Namun bagi sebagain orang lain, memilih menutup account facebook. Alasannya sebagai bentuk protes terhadap kelompok orang yang melakukan sebuah tindakan yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral dalam kehidupan bersama. Meskipun kelompok tersebut bukan dibuat oleh pengelola facebook, namun facebook tetap dianggap bertangguang jawab karena kelalaian dan respon yang lambat atas kejadian ini. Atas dasar ini maka sebagian muslim memilih untuk menonaktifkan account-nya. Apakah usaha itu berpengaruh pada kebesaran facebook secara keseluruhan? Dapat dipastikan sama sekali tidak. Apalagi jumlah yang mendaftar lebih banyak dari yang menonaktifkan.

Saya memilih menonaktifkan account facebook saya sejak hari ini. Alasan saya sebenarnya sangat pribadi. Bahwa saya merasa tidak nyaman dengan usaha-usaha demikian yang dilakukan oleh sekelompok orang. Bagi saya, lebih baik tidak memiliki acoount facebook dari pada harus menyaksikan sekelompok orang yang -menurut saya- tidak beradab dan tidak menghargai sensitifitas pemeluk agama. Dan saya sangat yakin, ini bukanlah gerakan terakhir yang akan terjadi melalui situs jejaring sosial ini. Dengan melihat respon besar yang ada, maka ke depan akan ada gerakan-gerakan lain yang tujuannya masa saja, memacing emosi dan menghina pemeluk agama.

Bagi saya, kehidupan di dunia tidak bisa dibangun dengan kebencian dan penghinaan pada golongan yang berbeda. Setiap kelompok yang memiliki kayakinan religius memiliki nilai sakral yang tidak boleh diganggu gugat. Hal ini bukan hanya untuk Islam dan dilakukan oleh orang yang tidak senang pada Islam, namun juga -bisa jadi- dilakukan oleh sekelompok orang Islam pada kelompok lain. Dan praktik tersebut, bagi saya, sama tidak baiknya. Sebab kalau ada sekelompok orang telah merasa senang dengan menghina orang lain, itu menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam relasi kehidupan dunia ini.

Dan, dari pada saya menyaksikan gerakan seperti itu di kemudian hari, disuguhkan gambar-gambar yang melukai hati kaimanan saya, saya memilih menonaktifkan account facebook sejak hari ini. Saya sangat yakin, sisi positif facebook bisa saya dapatkan dengan media lain yang ada saat ini.

Banda Aceh 210510

19 May 2010

Maaf, Asapmu Bukan Untukku

Sedikit kesal, saat ke kantor sebuah sepeda motor mendahuli saya dari sisi kiri. Setelah mengklakson bertubi-tubi motor yang dikedendarai -nampaknya seorang- mahasiswa ini melaju dengan cepat. Ia sempat menancapkan gas pas ketika posisinya dihadapan saya. Sangat bising dan mengganggu. Apalagi asap abu-abu keluar dari kenalpot motornya. Syukur bukan langsung mengenai muka. Namun asap tebal itu mau tidak mau tetap harus saya lewati karena persis berada di depan saya. Tapi apa hendak dikata, itulah kehidupan jalan raya kita.

Kenderaan yang bersap tebal secara umum dipahami dapat mengganggu udara, menyebabkan polusi, dan pada kerangka besarnya sebagai sumbangan untuk pemanasan global. Ini benar dan saya sepakat. Namun tidak kalah pentingnya adalah asap tebal sebuah kenderaan juga mengganggu kehidupan manusia di jalan raya. Seorang yang berjalan dengan baik, mengikuti aturan lalu lintas, menikmati perjalanan, tiba-tiba harus menghirup udara pengap yang berbau yang disebabkan oleh pemilik kenderaan lain yang mengeluarkana asap.

Saya belum pernah mendengar ada orang yang celaka gara-gara amsuk dalam asap mobil/motor. Namun saya sangat yakin itu mungkin terjadi. Dalam keadaan gelap karena asap, atau dalam keadaan mata terganggu, hidupng tersumbat, maka bukanlah mustahil akan mengganggu konsentrasi pengendara motor. Dan akibatnya ia bisa saja menabrak orang lain atau ia ditabrak orang karena salah jalur. Kalau ini terjadi maka pemilik kenderaan yang berasap pasti tidak mau tahu, bahkan ia mungkin tidak peduli kalau asapnya menimbulkan petaka.

Lebih jauh lagi adalah masalah penyakit. Asap kotor yang berdebu dan berminyak akan masuk ke dalam tubuh manusia lewat pernafasannya. Dan melalui sistim pernafasan maka asap itu pula yang akan masuk ke paru-paru. Kalau hanya sekali dua kali saja mungkin sistim dalam paru-paru akan sanggup menetralisir. Namun tatkala ini terjadi setiap pagi, siang, malam setiap kita berjalan di jelasn raya, maka jantung mana yang snaggup menetralisirnya? asap-asap itu menyumbangkan sumber penyakit pada manusia.

Lain asap motor/bus lain pula asap rokok. Meski sudah diperingatkan kalau merokok merugikan kesehatan dan mengeringkan isi dompet namun merokok masih menjadi aktifitas terlancar yang dilakukan manusia. Oke, tidak masalah kalau itu adalah pilihan sendiri, pilihan dari orang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk kepunahannya sendiri, itu adalah hak semua orang. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, jangan ajak orang lain untuk menikmati penyakit dan kepunahan itu dengan menebarkan asapnya.

Jika anda merokok maka pastikan anda berada di tempat yang asapnya tidak terhirup orang lain, atau anda dapat menghisap semua asap rokok dan tidak membiarkan asap rokok anda terhisappada orang lain. Saat asap-asap yang anda keluarkan, dari mobil-motor, rokok itu terhisap pada orang lain dan menjadi penyakit baginya, maka itu juga akan menjadi dosa bagi anda sepanjang masa. Pada umat beragama dosa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penyebab kesedihan, keterasingan, depresi dan ketidakbagiaan.

Kita perlu melampuai langkah kecil yang penting untuk mewujudkan Masyarakat Tertib.

18 May 2010

Berapa Kali anda Klakson Hari Ini?

Semua kenderaan bermotor pasti ada klaksonnya, keculai sudah rusak atau dicuri maling. Dan semua pengendara pasti pernah menggunakannya. Dalam satu hari, saya yakin, tidak ada orang yang mampu menghitung berapa kali ia menggunakan klakson. Sebab klakson seolah menjadi satu-satunya alat komunikasi saat berkenderaan. Kalau jumpa teman dijalan orang pakai klakson, minta jalan juga klakson, ada orang lewat tekan klakson, ada mobil yang berhenti seenaknya tekan klakson, berkali-kali lagi. Belakangan ada juga pendemo yang menekan klakson berulang-ulang tanda gerombolan mereka melintas di jalan raya.

Tidak cukup dengan klakson standar yang telah dibuat oleh pabrik mobil atau sepeda motor, belakangan juga muncul klakson istimewa. Ada yang menamakannya dengan klakson kebo. Klakson ini dijual bebas di pasar dan boleh dibeli oleh siapa saja. Jadinya, sebuah sepeda motor kecil yang hanya muat satu orang pun menggunakan klakson besar. Suaranya berat dan keras serak. Jika diklakson persis di belakang pengendara lain dijamin pengendara tersebut akan terkejut setengah mati. Atau bahkan bisa langsung mati jika ia jantungan atau ia diserempet oleh mobil di belakangnya.

Klakson sebenarnya memiliki fungsi yang penting, terutama untuk menyatakan bahaya; persis seperti sirene ambulance atau sirene peringatan gempa. Di kota-kota besar di luar negeri hampir tidak terdengar suara klakson sebebas yang ada di Indonesia. Tidak usah jauh-jauh, di Kuala Lumpur saja, suara klakson nyaris tidak pernah terdengar. Padahal jumlah bus dan kenderaan hmpir sama sja dengan kota-kota di Indonesia. Pengendara yang tertib dan peraturan lalu-lintas yang dipatuhi membuat fungsi klakson di sana sedikit berkurang. Klakson hanya dibunyikan dalam keadaan darurat, ada orang yang melanggar lalu lintas dan mengganggu orang lain, atau situasi khusus yang mengharuskan membunyikan klakson. Selebihnya klakson dimuseumkan saja, tidak ada yang menggunakannya.

Nah, bagaimana dengan kita? realitas di lingkungan dan masyarakat kita? Sepertinya bunyi klakson menjadi ciri khas jalan raya di Indonesia. Di mana-mana di seluruh kota Indonesia, klakson bermunyi di sepanjang jalan. Kenderaan bermotor, roda dua, roda tiga, roda empat, enam, delapan, sepuluh dan bahkan lebih banyak lagi menggunakan klakson di sepanjang perjalannya. Munculnya berbagai jenis klakson tambahan membaut kita hampir tidak dapat membedakan apakah sebuah klakson berasal dari motor atau mobil, mobil kecil atau mobil besar. Orang bisa saja menggunakan sebuah klakson yang seharusnya dipakai di truck pelabubuhan yang besar pada motornya.

Tragisnya lagi, bunyi klakson tidak mengenal waktu dan tempat. Seorang yang berpapasan di jalan raya yang saling kenal menggunakan klakson untuk menyapa temannya. Ada seorang nenak tua yang sedang lewat memotong jalan raya juga ditekan klakson besar-besar memintanya berlari cepat. Meminta jalan dari kenderaan di depan juga menekan klakson. Bahkan berkali-kali, seolah yang ada di depannya tidak memiliki hak yang sama dalam menggunakan jalan raya. Apalagi kalau ada kenderaan, angkot, bus, truck atau kenderaan apapun yang ,elanggar lalu lintas, pasti diklaksn berulang-ulang dan rame-rame. Belakangan ini, ada pula tradisi klakson saat lampu hijau di perempatan menyala untuk memberitahukan pada pengendara lain kalau lampu sudah hijau. Ada-ada saja.

Padahal jujur, kalau ditanyai semua orang, suara klakson itu menjengkelkan. Bukan hanya bagi orang yang berada di kantor atau di rumah yang kebetulan ada di dekat jalan raya, namun bagi pengendara sendiri klakson sebenarnya sangat mengganggu. Hanya mereka yang sudah sangat menikmati kebisingan saja dapat menikmati klakson berlebihan. Dan mereka pula yang menekan klakson berkali-kali di sepanjang jalan. Seolah klakson besar, keras, dan berulang itu menimbulkan sebuah kesenangan dalam berkenderaan.

Klakson berlebihan ini sebanrnya bukan hanya menimbulkan kebisingan, namun juga dapat menyebabkan kecelakaan. Saya pernah lihat sebuah kenderaan yang memanting stir ke iri tiba-tiba karena ada sebuah sepeda motor yang menekaln klakson besar di belakangnya. Di sisi kiri ia disambut dengan sebuah mobil pribadi yang sedang melaju kencang. Dan tabrakan tidak dapat dihindari. Saya tidak tahu nasib pengendara yang tertabrak itu. Namun saya tahu sepeda motor yang mengklaksonnya, ia lansung pergi dan tidak peduli dengan petaka yang telah dibuatnya. Kasus lain adalah timbulnya keraguan pada pejalan kaki kalau diklakson berulang-ulang. Klakson akan mempengaruhinya mengambil kesimpulan dalam berjalan. Ini juga sebuah potensi kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi. Saya yakin semua kita punya pengalaman dengan klakson.

Untuk membangun Masyarakat Tertib, maka kurangi penggunaan klakson di jalan raya. Anda bisa beralasan bahwa klakson diperlukan untuk menegur orang yang sewenang-wenang atau mencaci-maki angkot yang berhenti seenaknya. Namun yakinlah, klakson untuk mereka tidak banyak membantu. Kesabaran dan kearifan, dengan ketenangan, anda tetap akan dapat jalan dan meneruskan perjalanan. Atau boleh saja tekan klakson, namun pastikan suaranya hanya didengar oleh orang yang anda maksudkan, bukan oleh orang lain. Sebab kasihan mereka yang tidak ada urusan dengan perjalanan anda menjadi terganggu.

Kita harus melampaui langkah kecil yang penting untuk membangun Masyarakat yang Tertib. Semoga bisa terwujud di suatu masa.

17 May 2010

Masyarakat Tertib, Kapan Ya?

Di jalan raya,
Kita berhadapan dengan suara motor dan mobil yang memekakkan telinga. Beberapa motor dengan snegaja memasang knalpot yang mengeluarkan suara besar. Suara besar yang keluar dari knalpot menjadi sebuah kebanggaan dan prestise bagi pemiliknya. Dengan bangga pula ia mengenderainya dengan capat. Apa yang ia cari? popularitas? kepuasan? Inilah sebuah keanehan hidup, mendapatkan kepuasan dengan cara mengganngu kenyamanan.

Suara kenalpot besar belum cukup, masih ada suara klakson besar. Mobil kecil memasang klakson yang lebih besar dari kenderaannya. Bahkan ada motor yang memakai klakson truck gandengan yang memekakkan telinga. Anehnya, pemiliknya tersenyum senang ketika melihat orang lain terkejut, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Ia merasa bangga dengan kelakukannya yang sangat mengganggu kenyamanan.

Masih ada yang lebih buruk. Sebuah kenderaan yang megeluarkan asap hitam pekat di belakangnya. Dengan senagat bangga ia memacu mobil/motornya dengan cepat dan menjadikan jalan di belakangnya gelap gulita. Ia merasa enjoy saja dengan keadaan tersebut dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakangnya. Terkadang ada yang ashma, ada yang jantungan, ada yang batuk dengan asap tersebut. Namun itulah keasyikan, merasa senang membuat orang susah.

Pelayanan Publik
Saat mebuat NPWP untuk saudara saya, sekelomok manusia berebutan mendapatkan nomor antrian. Pegawai pajak memberikan nomor antrian bukan berdasarkan orang yang datang, namun berdasarkan waktu. Saya yang datang jam 13.45 tidak mendapatkan nomor antrian satu, meskipun di sana hanya ada saya satu-satunya. Alasannya counter belum dibuka. Saat dibuka, sudah ada puluhan orang berada di sana. Dan mereka berebutan mendapatkan omor antrian. Saya mengundurkan diri dan tidak jadi membuat NPWP karena tidak mendapatkan nomor antrian, meskipun sudah datang duluan.

Salings serobot juga di loket bus dan kereta api. Yang mendapatkan pelayanan bagus adalah yang besar dan uat fisik dan besar suara. Berteriak, membentak, mengahrdik siapa saja. Ia segera mendapatkan apa yang ia mau. Orang yang mengikuti aturan, berdiri di garis antrian, harus berdiri saja melihat pemandangan itu. Dan tidak jarang harus menunggu berjam-jem baru mendapatkan pelayanan.

Fasilitas Umum
Apakah ada WC yang bersih di tempat umum? Mungkin di bandara internasional dan beberapa tempat lainnya. Namun banyak WC yang jorok dan kotor, menjadikan kita yang sudah keelet sekalipun harus mengurungkan niat menggunakannya. Di Mall dan pusat hiburan, juga tidak ada mushalla yang represenatif yang meengakomodir kebutuhan banyak pelanggan muslim. Di sebuah mall di Jogja, ruang shalat diletakkan di tempat parkir, remang-remang, sempit dan berbau asap. Padahal, banyak pelanggan mereka adalah muslim, membutuhkan tempat nyaman untuk beribadah.

Bukan hanya di mall dan tempat hiburan saja, di kantor pemerintahan, perusahaan dan yang sering juga terjadi di kampus-kampus, berbagai fasilitas mendasar manusia tidak tersedia dengan baik. Bahkan, lebih buruk lagi, di masjid-masid yang ada di hampir seluruh Indoensia, banyak fasilitas toilet yang kumuh dan tidak layak pakai. PAdahal untuk shalat yang sempurna jelas harus bersih dan suci.

Ketertiban Pasar

Di Banda Aceh ada pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalan. Saat ada penertiban yang dilakukan Satpol PP beberapa ktivis mengatakan pemerintah tidak punya menghargai kemanusiaan, tidak menghormati masyarakatnya. Ada benarnya. Pemerintah bertanggung jawab untuk menjadikan masyarakat mendapatkan pekerjaan. Namun masyarakat juga “bertanggung jawab” menjaga ketertiban. Tidak berjualan di badan jalan, di lorong-lorong di pasar, membuat kios kecil di depan pertokoan orang, membuat tenda di pinggir jalan, dll.

Pasar yang menjadi tempat di mana banyak orang berkunjung untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, seharunya nyaman dan menyenangkan. Sebab ini dikunjungi hampir setiap hari. Namun ulah dari sebagai orang yang tidak mau menjaga ketertiban, pasar menjadi sangat sumpek dan padat. Pergi ke pasar harus dengan nawitu yang kuat dan tidak bisa “sambilan” saja. Kita harus “bertempur” dengan hukum kesemrautan pasar.

Kapan Bisa Tertib?
Tertib adalah sunnatullah, fitrah kemanusiaan. Pada dasarnya manusia ingin tertib dan hidup teratur. Manusia mencintai kebersihan dan kenyamanan. Namun terkadang keinginan berlebihan dan mendapatkan sesuatu lebih banyak dari orang lain menjadikan mereka tida tertib dan tidak menjadi kaidah dan norma bersama. Yang muncul adalah egoisme dan kesombongan. Merasa dirinya paling benar lalu melakukan apa saja demi “kebenran” tersebut.

Kaban bisa tertib? Ini adalah persoalan budaya. Hukum, seperti apapaun dibuat, jika budaya tertib tidak ada dalam masyarakat, maka ia akan tetap semraut, seenaknya, suka-suka saya, yang penting saya sukses, dan berbagai prinsip yang lain. Budaya tertib mesti dibangun dengan pendidikan karakter dan keteladanan. Tidak mungkin mengajarkan tertib kepada anak yang yang orang tuanya saja menerobos lampu merah. Tidak mungkin mengajarkan tertib kepada murid yang gurunya saja merokok di dalam ruangan kelas. Sangat msutahil menjadikan masyarakat tertib jika pomimpinnya saja sering tidak disiplin.

Tertibkanlah dirimu sendiri lalu tunjukkan itu pada orang lain. Dan satu saat bangsa kita akan tumbuh menjadi bangsa yang tertib. Itulah kehidupan yang mulia.

11 May 2010

Kenapa Mereka Memilih Dukun?

Rumah itu tidak dapat dikatakan mewah. Namun untuk konteks perumahan masyarakat di desa, rumah itu bisa disebut lebih dari sederhana. Halamannya nampak tidak ada bunga dan tanaman. Di sisi kanan rumah ada sebuah toko kelontong yang lumayan penuh dengan barang dagangan. Sementara di sisi kirinya ada sebuah garasi yang tidak ada mobilnya. Dan, di dalam garasi itulah penuh dengan orang keluar masuk. Di depan garasi pula banyak orang duduk santai, merokok, ngobrol, bercerita macam-macam, laki-laki dan perempuan, tua muda dan anak-anak.

Ternyata di dalam garasi sedang berlangsung pengobatan.

Rumah itu adalah rumah seorang tabib yang lumayan terkenal di Aceh Besar. Saya mendengar namanya sudah dua tahun yang lalu. Dari berita mulut ke mulut, katanya, sang tabib mampu mengobati banyak penyakit. Banyak orang yang sudah sembuh berkat usahanya. Ada yang lumpuh sudah bisa berjalan kembali, ada yang sembuh total dari penyakit hernia, darah tinggi, TBC, dan berbagai penyakit lainnya. Saya kira ini sebuah pekerjaan luar biasa. Dan karenanya saya berniat mengunjunginya kalau ada waktu. Dan baru kemarin saya berkesempatan merealisasikan niat saya menyaksikan prosesi pengobatan yang beliau lakukan.

Di dalam garasi yang tidak terlalu besar itu penuh dengan orang-orang yang menunggu giliran berobat. Kebanyakan perempuan dan anak-anak. Sang tabib duduk di tengah ruangan, dikerumuni oleh orang-orang yang akan berobat. Ia memanggil satu persatu berdasarkan urutan air mineral yang sudah diantarkan oleh calon pasien pada pagi hari sebelum pengobatan. Setiap pasien yang dipanggil diminta duduk di depannya. Kemudian ditanyakan keluhan penyakitnya. Sang tabib mengambil air, merajahnya, membuka tutup botol air, mencelupkan sebuah keris, menutup kembali dan menyerahkan kepada pasien. Beberapa pesien disebutkan obat-obatan yang harus diminum atau dimakan yang tersedia di toko samping rumahnya. Namun banyak pasien yang tidak perlu obat-obatan. Cukup dengan air itu saja. Pasien mambayar biaya pengobatan seiklas hati.

Proses pengobatan yang terbuka dan sederhana ini, bagi saya sangat tidak rasional untuk menyembuhkan penyakit. Namun kenyataannya banyak orang percaya dan yakin itu bisa menyembuhkan. Saya duduk di depan garasi dan berbicang dengan beberapa orang yang sedang menunggu giliuran berobat. Seorang bapak paruh baya menyebutkan, ia menderita batuk yang menahun. Badannya sudah kurus dan kering. Ia sudah membawa kepada dokter berkali-kali, namun tidak juga sembuh. Dan sudah dua bulan belakangan, ia rajin datang ke tabib ini. Dan ia merasakan perubahan, katanya sudah lumayan berkurang.

Seorang ibu yang saya ajak bicara terlihat jelas kulit di sekujur tubuhnya terkelupas. Katanya itu sudah berlangsung lama. Ia sudah membawanya sampai ke Penang, Malaysia, namun belum juga sembuh. Bahkan dokter tidak konsisten mengatakan penyakitnya. Lain dokter lain pula “fatwa” mengenai penyakit tersebut. Jadinya, ia datang ke sang tabib. Dan, -lagi-lagi menurut si ibu- ia sudah merasa baikan. Bahkan di bagian perut sudah nampak tumbuh kulit baru. Saya tanyakan, apa yang dilakukan sang tabib? ternyata tidak ada yang spesial, sama saja dengan apa yang dilakukan pada orang lain. Ia hanya minum air putih yang telah dirajah dan memakai obat gosok.

Dari kenderaan yang ada di depan rumah sang tabib jelas yang datang ke sana bukan hanya mereka dari golongan ekonomi lemah. Banyak mobil mewah dan motor berjejer di sana. Kita juga bisa lihat dari pakaian yang dikenakan calon pasien, nampaknya mereka bukan orang yang sama sekali tidak mampu membayar biaya berobat ke rumah sakit. Namun, kata salah seorang yang saya ajak bicara, umumnya yang datang ke sana adalah mereka yang kecewa dengan apa yang diperolehnya di rumah sakit. Kecewa karena mereka tidak ada jaminan sembuh, bahkan ada yang kecewa karena penyakitnya justru tambah parah.

Saya teringat Ponari, beberapa tahun yang lalu. Dengan sebuah batu “ajaib” ia menyembuhkan banyak orang. Entah benar-benar sembuh atau tidak, orang tersebut saja yang tahu. Namun saat itu banyak orang yang datang ke tempatnya berharap ada sentuhan batu ponari ke dalam air yang mereka bawa. Dan air itu dianggap sebagai obat yang akan mengusir penyakitnya. Praktek Ponari berakhir dengan pelarangan yang dilakukan pemerintah setempat, dan pengakuan Ponari sendiri bahwa ia sudah tidak mampu mengobati lagi.

Pasti praktek seperti ini bukan hanya terjadi di Aceh, namun juga di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebuah catatan yang penting dari kasus ini yaitu keyakinan masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang masih sangat kuat. Keyakinan ini semakin kuat karena pelayanan dan tingkat kesembuhan yang sangat rendah di rumah sakit pemerintah dan biaya yang sangat mahal di rumah sakit swasta. Apalagi ada sebuah hukum tidak tertulis yang diyakini selama ini, “orang miskin dilarang sakit” yang menyebabkan praktek pengobatan ini menjadi pilihan warga.

Lagu Iwan Tidak Islami?

Lagu Iwan Kok Islami! kata seorang teman saya. Dia tidak menyebut-nyebut Islam. Ia cuma cerita anak jalanan, hutan, perang, korupsi, tikus, omar bakri, dan lain-lain. Mana Islamnya?

Ini terjadi di kantor. Saat seorang teman meminta saya memutar lagu mengiringi kami kerja. Saya tanyai dia, lagu apa yang ia sukai. Katanya ia suka lagu Islami. Lalu saya putar lagu Iwan Fals. Ia protes, katanya lagu Iwan tidak Islami. Yang ia maksud dengan lagu Islami adalah lagu-lagu qasidah Ida laila, Asnidar Darwis, dll. Atau nasyid modern yang pernah hit dan masih hit sampai sekarang dalam komunitas tertentu. Atau, paling tidak katanya, lagus Islami adalah lagu “religius” yang dinyanyikan GIGI atau Ungu, atau grup band lain yang bikin album khusus menjelang puasa.

Sebagai sebuah kebebasan memilih lagu, maka itu adalah hak semua orang. Artinya, setiap orang memiliki hak yang sama dalam memilih lagu kesukaan, penyanyi kebanggaan, materi dan syair yang ia sukai. Namun tatkala melabelkan islami atau tidak sebuah lagu, maka itu mejadi lahan yang layak untuk didiskusikan. Pertanyaan pentingnya adalah, apa perlunya lagu islami atau tidak? kedua, apakah lagu “islami” hanya yang menceritakan menganai pakaian, sikap sehari-hari, menyanyikan ayat al-Qur’an atau hadits Nabi saja? Dan itu yang kemudian kami diskusikan.

Bagi saya sendiri, tidaklah menjadi hal terlalu penting mendiskusikan apakah sebuah lagu islami atau tidak. Sebab -lagi-lagi bagi saya- lagu hanya untuk dinikmati, bukan dihayati sebagai sebuah pesan spiritual dan moral. saya lebih senang mendengar lagu karena irama dan musiknya, bukan karena substansi pesan yang disampaikan dalam syair lagunya. Ini pula yang menyebabkan musik-musik instrumen menjadi pengiring favorit saya dalam bekerja. Pun demikian saya tidak menafikan, beberapa syair lagu menarik hati dan menimbulkan kesan yang mendalam. Selain karena berkaitan dengan rasa dalam pengalaman saya sendiri, lagu tertentu juga mewakili cara pandang saya. Dan Iwan Fals, sejauh ini adalah penyanyi yang paling mewakili pandangan itu.

Kalu mau dihubungakan dengan agama, maka lagu-lagu Iwan Fals juga memiliki makna religiusitas yang mendalam. katakanlah lagunya menganai anak-anak terlantar. Bukankah dalam agama juga bicara mengani anak yatim yang terlantar. Surah al-Ma’un dalam Juz 30 jelas mencela orang yang menelantarkan anak-anak dan menyebutnya sebagai pendusta agama. Iwan juga meneriakkan menjaga alam, dan dalam al-qur’an juga banyak ayat yang berbicara mengenai keseimbangan alam. Apalagi masalah korupsi, keadilan, pemerintahan yang bersih, amanah, dan lain sebagainya.

Jadi, menikmati lagu Iwan sesungguhnya, menurut saya, adalah menikmati lagu Islami. syair-syairnya penuh dengan pesan yang perlu diimplementasi dalam kehidupan nyata untuk menjadikan kehidupan ini lebih baik, lebih adil, lebik berharga.

10 May 2010

Tidak Panik Pangkal Selamat

Kebetulan kemarin (09/05), saya dan keluarga besar Fakultas Ushuluddin IAIN Banda Aceh sedang melaksanakan acara di pinggiran sebuah pantai di Aceh Besar. Saat gempa 7,2 SR yang mengguncang Aceh kemarin persis saat saya sedang mengucapkan salam akhir shalat zuhur. Saya duduk sebentar berzikir meskipun gempa mulai mengguncang. Ada sedikit rasa khawatir kalau bangunan di mana saya shalat akan roboh. Apalagi mushalla tersebut adalah mushalla yang pernah dihantam tsunami enam tahun yang lalu. Namun kerena beberapa orang yang shalat di sana saya lihat tenang-tenang saja, hanya mengucapkan: “gempa”, dan berzikir, sayapun ikutan tenang.

Setelah shalat saya kembali ke tempat kami berkumpul, hanya sepuluh meter dari bibir pantai. Beberapa teman mengabarkan kalau info dari TV menyebutkan gempa yang terjadi barusan berpotensi terjadi tsunami. Info ini menyebabkan banyak yang panik. Bagaimana tidak? lebih setengah dari orang yang hadir dalam acara itu pernah merasakan dahsyatnya tsunami. Seorang guru besar sejarah yang kehilangan istri dan dua anaknya pada peristiwa tsunami tahun 2004 yang lalu saya lihat segera masuk mobil bersama istri dan dua anak beliau yang masih kecil-kecil (beliau menikah kembali setelah tsunami dan sudah dikaruniai dua orang anak). Saya yakin sekali kalau dalam benaknya masih menghantui peristiwa enam tahun yang lalu.

Namun Bapak Dekan Fakultas Ushuliddin mengingatkan, kalupun memilih untuk pulang maka tetap tenang dan jangan panik. Beliau sendiri memilih untuk tetap berada di pinggir pantai dan melanjutkan cara silaturahim yang sempat tertunda karena gempa. Pertimbangannya hanya satu, tanda-tanda tsunami bukan hanya gempa. Ada banyak tanda lain yang bisa kita pegang berdasarkan peristiwa enam tahun yang lalu, antara lain air laut surut, terjadi suara berdentum, keretakan tanah di pinggir pantai, burung yang terbang menjauh dari pantai dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, gempa tersebut, menurutnya tidak berpotensi tsunami, jadi tidak perlu panik. Saya dan banyak rekan yang lain percaya saja, dan ikut memeriahkan acara sampai selesai.

Sepulang dari acara tersebut saya mendengar cerita bahwa banyak orang yang menjadi korban karena melarikan diri setelah gempa terjadi. Di jalan menuju Ulee Kareeng Banda Aceh, lalu lintas sangat padat dan berdesakan. Beberapa kecelakan terjadi karena masing-masing orang hendak menyelamatkan diri dan mendahului orang lain. Seorang rekan yang bekerja di rumah sakit yang bertemu dengan saya semalam juga mengatakan mereka menangani beberapa orang yang menjadi korban karena kepanikan, umumnya kecelakaan lalu lintas. Padahal tsunami tidak terjadi.

Kepanikan ini wajar terjadi karena beberapa hal. Pertama karena masyarakat di Banda Aceh masih trauma dengan peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu. Persitiwa itu pasti tidak akan lenyap dari pikiran mereka, saya juga. Ini menyebabkan setiap peristiwa gempa yang besar mengingatkan mereka pada peristiwa itu dan terdorong untuk melarikan diri dari pinggiran pantai. Kedua, adanya beberapa penjelasan dari pemerintah tentang fungsi alaram yang mendeteksi tsunami. Kemarin alaram early warning system berbunyi sangat keras di Meulaboh Aceh Barat. Ini menyebabkan masyarakat segera mengungsikan diri takut kalau-kalau tsunami terjadi. Ketiga, kepanikan warga terjadi karena aparat keamanan ikut panik juga menyikapi masalah. Beberapa aparat nampak mengarahkan masyarakat dengan sangat panik seolah ia juga tidak sabar mau menyelamatkan diri.

Mungkin masih ada penyebab yang lain. Namun saya ingin menagaskan bahwa “panik” menyebabkan kecelakaan dan berjatuhan korban yang sebenarnya tidak perlu. Apakah ini berarti kita tidak perlu khawatir dengan potensi tsunami? Tidak juga. Namun kekhawatiran pada potensi tsunami tidak harus dengan cara panik. Ada waktu jeda antara gempa dan tsunami lebih kurang 20 menit. Untuk konteks Banda Aceh itu adalah waktu yang cukup untuk mengungsi ke daerah aman. Apalagi beberapa desa telah dibangun bangunan penyelamat dari tsunami yang hanya berjarah beberapa puluh meter dari rumah mereka.

Belajar dari beberapa gampa yang menimbulkan kepanikan di Aceh belakangan ini, sudah sepantasnya ada sebuah usaha dari pemerintah dalam mengatasinya. Oke, selama ini ada sebuah pemberitahuan dari BMG mengenai gempa yang berpotensi tsunami, namun itu saja tidak cukup. Aparat pemerintah harus juga turun ke lapangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Misalnya dengan mengatur lalu lintas, memperingatkan agar jangan panik, mengatur jalur evakuasi agar tidak bertumpuk ke satu arah saja, dan usaha lainnya. Sungguh sangat disayangkan kalau gempa yang tidak menimbulkan korban apa-apa malah membuat orang jatuh pada saat berusaha menyelamatkan diri pasca gempa. Dan itu karena panik, bukan karena gempa itu sendiri. So, Tidak Panik adalah Pangkal Selamat.

27 April 2010

Salah Angkat

Saya melakukan kesalahan fatal minggu lalu di pasar. Padahal niat saya baik, membantu orang tua yang sedang kesusahan mengangkat barang dagangannya. Namun karena tidak ada koordinasi dan klarifikasi, niat baik saya malah membuat saya malu hati. Untung saja saya tidak sempat mendengar ceramah singkat sang nenek.

Saat itu saya pergi ke pasar pagi-pagi sekali untuk berbelanja. Pasar Peunayong, Banda Aceh. Pasar ini adalah pasar tradisional di mana barang-barang kebutuhan rumah tangga dijual, khususnya kebutuhan konsumsi, seperti sayuran, ikan, buah, peralatan dapur, dan lain sebagainya. Banyak yang jualan di sana nenek-nenek yang berasal dari kampung di sekitar Banda Aceh. Usia mereka tidak tergolong muda lagi. Dari keriput di wajahnya, kelelahan dari mukanya, kita bisa prediksi pasti mereka sudah berusia di atas 60 tahun. Namun karena masalah ekonomi mungkin, mereka harus tetap melakukan aktifitas perdagangan dan mencari uang untuk ia dan keluarganya.

Namun pasar ini juga berfingsi sebagai pasar grosir, di mana barang-barang yang dijual di sana dibeli oleh pedagang yang akan menjualnya kembali secara eceran di toko, kedai atau warung mereka. Namun baik pembeli biasa, mampun pembeli untuk menjual kembali menyatu dalam hiruk pikuk pasar. Akibatnya tidak bisa dibedakan lagi.

Saya datang ke sana pagi-pagi sebelum pergi ke kantor utuk mebeli keperluan di rumah. Biasanaya di sini hanya mebeli barang yang akan dikonsumsi satu hari ini saja. Sebab pagi-pagi pertokoan tidak buka sehingga barang kebutuhan lain yang biasanya dijual ditoko tidak dapat diperoleh. Jadinya hanya beli keperluan dapur untuk hari itu saja.

Sesaat ketika hendak pulang, saya melihat seorang nenek yang sedang keleahan berdiri di dekat tumpukan barang-barangnya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan seolah mencari orang yang hendak dimintai bantuan mengangkat barang tersebut. Mobil pick up berdiri tidak jauh dari si nenek. Tidak ada orang di sana. Di bagian depan, di mana biasanya sopir duduk juga tidak ada orang. Si nenek sesekali melihat ke dalam mobil dan sesekali melihat kepada beberapa barang yang ada di depannya.

Saya dan nenek itu berpandangan beberapa detik dari seberang jalan. Seolah nenek itu meminta saya membantunya. Saya sedikit tersenyum dan segera datang kepadanya. Saya menunjukkan barang yang ada di depannya dan ia tersenyum. Saya mengambil barang itu dan mengangkat ke dalam mobil pick up yang berdiri tidak jauh darinya. Saya tidak tahu juga apa isi bungkusan yang saya angkat. Bungkusan dari kain itu memang agak besar, mungkin sedikit lebih besar dari plastik kresek hitam besar.

Saya mengangkat dengan susah payah dan meletakkan ke dalam mobil. Setelah sampai di mobil saya segera meletakkannya pada posisi yang pas. Lalu saya kembali mengambil sebuah bungkusan lainnya yang ada di depan si nenek. Saya tidak melihat kepadanya. Namun sepertinya ia berbicara kepada saya, namun suaranya tidak terdengar. Saya langsung mengambil barang itu yang ternyata lebih berat dari barang sebelumnya. Dengan susah payah saya kembali mengangkat barang itu dan membawa ke mobil. Saya harus memanggul ke bahu karena tidak sanggup menentengnya. Sangat berat memang. Mungkin 35 kg.Lumayan juga olah raga pagi, saya pikir begitu.

Setelah selesai, saya lihat pada si nenek. Saya katakan kalau saya sudah selesai membantunya mengangkat barang ke dalam mobil. Tanpa mendekatinya lagi, saya kembali ke seberang jalan dan hendak mengambil sepeda motor. Nenek itu melambai-lambaikan tangannya. Saya balas lambaian tangannya. Saya kira ia tidak bisa bicara dan hendak mengucapkan terima kasih. Saya tersenyum saja dan saya senang telah membantunya mengangkat barang yang berat itu.

Dari belakang si nenek tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan pakaian kerja di pasar, di bagian depannnya sudah kotor, hitam. Mungkin terkena getah pisang atau air kelapa. Ia mendekati si nenek dan nampaknya membicarakan sesuatu. Si nenek menunjukkan tangannya pada mobil, kemudian menunjukkan ke arah saya. Mungkin ia hendak mengatakan kalau saya sudah membantunya mengangat barangnya ke dalam mobil. Saya yang sudah siap hendah pulang hanya tersenyum, menghidupkan motor, dan siap berangkat.

Tapi sekilas saya melihat raut wajah kesal dan marah dari si laki-laki tersebut. Sepertinya ia mengucapkan sesuatu yang saya tidak tahu karena jauh dan diiringi oleh berbagai suara kenderaan di pasar. Namun saya sempat melihat ia bergegas pergi mendekati mobil dan mengambil kembali barang yang sudah saya angkat ke sana, mengangkatnya dan mebawa ke dekat si nenek. Ia mengambil kedua barang si nenek yang sudah saya masukkan ke mmobil. Bahkan ia kembali lagi ke mobil mengambil satu barang lainnya dan membawa ke dekat si nenek.

Saya baru sadar, ternyata si nenek tadi bukan hendak menaikkan barang-barangnya ke dalam mobil, namun malah sebaliknya, ia hendak membawa barang itu turun. Saya salah duga, malah membawa naik barang-barang yang sudah diturunkannya dengan susah payah. Memalukan!

Begitulah, terkadang niat baik saja tanpa pengetahuan dan pemahaman situasi mejadikan masalah lebih buruk, bukan menyelesaikannya.



"Menjual" Nama Polisi

Suatu hari, saya pulang dari kantor untuk makan siang di rumah. Siang itu matahari sangat terik di Banda Aceh. Rasanya, kalau selama ini matahari hanya satu, hari itu tetap satu. Namun satu-orang satu matahari. Begitu panasnya! Angin saja yang biasanya membawa kesejukan, hari itu tidak bisa berbuat banyak. Bahkan anginpun terasa panas. Benar-benar panas membakar. Saat itu saya pikir ini adalah hari terpanas yang pernah saya rasakan di Banda Aceh. Namun waktu saya merasakan hari lain yang juga panas, saya mengatakan hal yang sama.

Saya pulang melalui jalan yang tidak biasa saya tempuh. Dari kampus saya berbelok ke kiri. Jalan ke sana memang akan lebih jauh sampai ke rumah. Namun akan lebih teduh karena banyak pepohonana di sisi kanan dan kiri jalan. Apa lagi itu adalah daerah perkampungan, kenderaan juga tidak sepadat jalan protokol yang membuat suasana panas semakin terasa, selain panas matahari juga panas hati karena sikap sebagian pengguna jalan yang maunya enak sendiri.

Baru satu kilometer berjalan ke arah kiri saya melihat seorang ibu setengah baya yang agak kurus bersama seorang anak laki-lakinya yang juga kurus berbdiri di samping jalan. Melihat dari pakaian yang mereka kenakan saya tahu kalau mereka adalah pengemis. Apalagi saya susah beberapa kali melihat mereka. Dan, bukan maksud hendak mengingat-ingat, saya juga pernah memberikan mereka sedikit sedekah. Kenapa mereka ada di jalan ini? karena mereka juga minta sedekah ke rumah-rumah dan ke tempat-tempat di mana ada orang duduk di depan rumah.

Semula saya kira mereka hendak menyeberang jalan. Namun buat apa? sebab di sebernag jalan di mana mereka berdiri adalah tanah kosong yang tidak ada rumah sama sekali. Jadi pasti mereka menunggu becak atau angkutan dan mereka akan pergi ke suatu tempat ke mana mereka akan melanjutkan pekerjaannya. Namun dari jarah beberapa puluh meter sebelum sampai ke arah ke duanya, saya melihat anak kecil itu melambaikan tangannya. Semual saya tidak tahu apa artinya, namun ketika saya melihat ke belakang tidak ada kenderaan lain, saya tahu kalau mereka meminta saya berhenti.

Saya berhenti persis di depan mereka berdiri. Si ibu membuka pembicaraan. Ia mengatakan hendak pergi ke Darussalam (daerah kampus). Saya katakan kalau saya mau pulang ke arah yang berbeda. Ia malah mengatakan boleh juga pergi ke arah yang sama dengan saya. “Nanti turunkan kami di pasar” katanya. Memang, dari tempat di mana ia berdiri tidak jauh lagi sudah sampai ke sebuah pasar tradisional. Namun saya sedikit kaget, kenapa ia begitu cepat menggantikan tempat tujuannya. Karena saya tahu mereka pengemis, daerah operasinya bisa ke nama saja, tidak terbatas pada daerah tertentu saja, saya memerikan tumpangan.

Si anak duduk persis di belakang saya, dan si ibu duduk di belakanganya. Seorang ibu yang mengenakan rok biasanya duduk menyamping. Namun saya lihat ibu ini membuka sandalnya, menyibak sedikit roknya, lalu naik ke motor saya, duduk seperti laki-laki. “Sudah” katanya, menandakan ia sudah duduk di posisi yang tepat dan sudah boleh berangkat.

Saya membawa kenderaan pelan-pelan saja, sebab di belakang ada seorang anak dan seorang perempuan. Apalagi jalan di sana juga tidak terlalu bagus dan sempit. Saya mencoba untuk hati-hati. Sebab saya yakin betul, kalau terjadi sesuatu dengan mereka, sayalah yang akan bertanggung jawab. Apalagi mereka tidak jelas siapa orangnya, di mana rumahnya, siapa saudaranya. Seadainya mereka harus masuk ke rumah sakit pasti saya yang harus menanggung biayanya. Saya tidak mau ambil resiko.

Ketika hendak masuk ke pasar, saya membawa kenderaan lebih pelan lagi. Sambil sedikit menghadap ke belakang saya bertanya kepada si ibu, ia mau turun di mana. Ia menjawab, namun tidak jelas. Saya bertanya lagi. Ia menagatakan lewat mesjid. Mesjid masih ada sekitar 200 meter lagi. Namun itu sudah di luar pasar dan bukan ke arah saya pulang. Saya memutuskan mengantarnya, sebab tidak terlalu jauh. Sesampai di masjid saya berhenti dan mengatakan kalau mereka sudah sampai. Tapi malah si ibu diam saja dan tidak bergerak menunjukkan ia mau turun. Ia justru mengatakan kalau ia mau ke rumah sakit.

Rumah sakit berada di arah yang berseberangan dengan masjid. Dan itu berarti ke arah rumah saya, namun masih lebih jauh lagi. Saya mulai curiga dengan mereka. Sebab sudah tiga kali tidak konsisten dengan rencananya sendiri. Dan saya pernah mendengar seorang teman yang kehilangan dompet setelah membonceng seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya. Saya tidak bisa meraba dompet karena di depan ada ransel, dibelakang ada si anak yang duduk sangat dekat dengan saya. Lalu saya menghentikan kenderaan, saya tanya si ibu, sebenarnya ia mau ke mana. Si ibu menjawab dengan ragu, meskipun kemudian ia mengatakan rumah sakit. Saya sedikit mencoba tegas, mengatakan dengan suara lembut dan ramah: “Saya bawa ke kantor polisi saja ya, nanti ibu bisa minta bantu mereka.” Si ibu mejawab dengan cepat dan segera turun. “Oo.. ngak apa-apa. kami turun di sini saja”. Ia menggendong anaknya turun dari motor, lalu pergi dengan sangat cepat ke arah pasar.

Ternyada dalam kondisi seperti ini polisi bisa “dijual”. :-)



"Main Bola" dengan Telkomsel

Saya menggunakan Kartu Halo dari Telkomsel sejak tahun 2002. Tidak pernah ganti nomor kecuali Januari-Februari 2005, ketika sinyal Telkomsel di Banda Aceh terganggu karena tsunami. Namun setelah itu saya tetap menggunakan kartu tesebut dengan setia hingga sekarang. Rajin bayar tagihan meskipun kadang terlambat, tidak tergoda pada produk lain yang menawarkan berbagai kemudahan dan fasilitas, tidak juga berselingkuh dengan kartu lain. Singkatnya semua kebutuhan telekomunikasi, saya menggunakan kartu Halo Telkomsel.

Dua bulan yang lalu saya terlambat bayar karena sebuah alasan teknis. Seperti perjanjian ketika mendaftar dulu, dua minggu tidak dibayar kartu tidak bisa dipakai untuk menelpon. Dua minggu kemudian kartu tidak bisa dipakai untuk menerima panggilan. Itulah yang terjadi pada saya. Pun demikian kartu tetap aktif. Buktinya, saya bisa pakai kartu Halo untuk internetan, tidak ada masalah.

Tiga hari yang lalu saya mendatangi gerai Telkomsel di Banda Aceh untuk melakukan pembayaran dan mengaktifkan kembali kartu saya. Tidak banyak pertanyaan dari kasier, ia memanggil nomor urut saya, menyebutkan berapa yang harus saya bayar, saya kasih uang, habis perkara. Selesai. “Satu jam lagi kartu bapak akan dapat digunakan kembali. Hubungi 111 jiga masih ada masalah”, katanya ramah. “Baik” dan sayapun melanjutkan aktifitas.

Sore hari saya mencoba mengaktifkan kartu halo saya kembali. Ternyata belum bisa dipakai, untuk menelpon ataupun SMS. Padahal itu sudah lima jam. Namun karena saat itu saya masih di warung kopi, saya tidak menghubungi 111. Saya tunggu saat pulang di rumah.

Setelah shalat maghrib, saya coba hubungi 111 menanyakan status aktif kartu saya. Agak susah masuk, mungkin karena jauh dari Banda Aceh. Saya mencoba beberapa kali hingga bisa masuk. Yang terima seorang perempuan, terdengar dari suaranya. Setelah berbasa-basi sejenak, tanya ini itu, ia mengatakan kartu saya memang masih terblokir dan ia minta saya menunggu. Ia memperdengarkan lagu-lagu iklan yang dianggap dapat menghibur saya selama menuingu. Beberapa saat kemudian ia kembali dan mengatakan kartu saya sudah bisa digunakan kembali. “Tolong bapak matikan dulu, lalu hidupkan kembali. Kalau ada masalah silakan hubungi kami lagi” demikian katan. “Trerima kasih” kata saya. Saya putuskan telefon dan mematikan HP.

Ternyata bukan kartu aktif yang saya dapatkan setelah handphone saya restart, bahkan sinyalpun tidak ada lagi. Saat HP dalam keadaan blokir dan setelah melakukan pembayaran tidak ada masalah dengan signal. Namun setelah saya lapor ke 111 dan ia menjawab kartu sudah aktif, malah signal HP hilang total. HP saya rusak? Saya pakai kartu lain. Tidak ada masalah. Signalnya bagus, sama dengan HP orang lain. Lalu kenapa kartu Halo saya malah tidak ada siugnal?

Saya gunakan HP milik istri untuk menelpon 116 yang melayani kartu Simpati dan AS. Siapa tahu saya bisa keluhkan masalah kartu halo saya. Agak sulit masuknya. “Mohon tunggu sebenar, panggilan anda akan segera dihubungkan.” Namun sesat kemudian dia mengatakan: “Semua kami sedang melayani palanggan lain, tekan 1 untuk menunggu atau hubungi kami sesaat lagi.” Saya menekan satu untuk menunggu lalu diputuskan sendiri. Saya ulangi lagi dua tiga kali sampai benar-benar bisa bicara dengan operatornya.

Saya berbicara dengan seorang laki-laki dan menjelaskan keluhan saya sampai akhirnya saya harus menelponnya lagi. Seperti anak yang baru bisa bicara dia mengulang pernyataan saya berkali-kali. Ketika saya katakan, “kartu saya tidak menangkap sinyal” ia mengulangnya: “Bapak mengatakan kartu bapak tidak menangkap sinyal begitu?” “Iya” “tidak nampak ada tanda menangkap sinyal di layar” “ya” “tidak ada sinyal sama sekali, begitu?” Saya bersabar saja denganmodel pelayanan ini. Mungkin itu aturan resmi kantor mereka. Lalu ia minta saya menunggu. Sesat kemudian ia mengatakan kalau ia perlu waktu untuk memperbaikinya dan lagu-lagu telkomsel aakn diperdengarkan.

Saya mendengarkan dengan seksama lagu-lagu iklan simpati tahun 2008, iklan As tahun 2009 yang masa berlakunya sudah kadaluarsa. Diperdengarkan juga iklan kartu halo dengan berbagai kelebihannya. Dan kebanyakan dari informasi yang diberikan melalui lagu itu sudah kadaluarsa. Saya dengarkan saja dengan sabar. Apalagi kami lagi mati lampu di Banda Aceh, tidak ada yang bisa dikerjakan. Jadi ini menjadi hiburan yang menarik dari telkomsel.

Operator muncul lagi. Terima kasih Bapak sudah menunggu. Saya berharap ia mengatakan, “masalah bapak sudah kai atasi dan bapak bisa menggunakan kembali kartu halo-nya.” Ternyata tidak. Dia malah menanyakan, apakah bapak di dalam ruangan atau di luar ruangan? Saya katakan saya di dalam ruangan, dan saya menelpon anda dari dalam ruangan. Dia menyarankan saya ke luar ruangan. Saya tanya dia apa sinyal telkomsel tidak bisa masuk ke dalam kamar? Dia mengulang lagi agar saya keluar ruangan. Saya jalan saja ke luar. Apalagi tinggal buka pintu saja. Tapi teryata tidak ada perubahan. Sambilan itu ia menyaran saya menggantikan HP. Saya bilang saya sudah menggantikan berkali-kali. HP yang saya gunakan untuk kartu halo bisa berfungsi dengan baik ketika pakai As. HP yang saya pakai untuk kartu As tidak bisa berfungsi jika diakai kartu Halo. Tapi si Operator nampaknya tidak punya ilmu tentang itu. Ia kembali mengulang sarannya. “Saran saya, coba bapak keluar ruangan dan menggantikan HP-nya.” Lalu ia memutuskan hubungan telpon.

Saya mencoba menggantikan HP dan keluar ruangan, namun hasilnya sama saja, signal di kartu halo saya tidak muncul. Saya mencoba menghubungi operator kembali, berkali-kali. Namun tidak bisa lagi. Kalau sebelumnya tiga empat kali langsung tersambung, kali ini tidak tersambung lagi. Kalau sebelumnya dikatakan: “Semua operator kami sedang melayani pelnggan lain, silahkan menunggu.” Kali ini dikatakan “Semua operator kami sedang melayani pelanggan lain” lalu diputusakan. Sampai satu kali dari balik sana terdengar ucapan. “Terima kasih sudah menghubungi kami, silahkan kunjungi gerai halo terdekat untuk menyelesaikan masalah anda.” Intinya saya tidak boleh menelpon mereka lagi.

Keesokan harinya saya pergi ke gerai Halo. Saya menceritakan keluhan saya. SC meminta saya membuka HP dan mengambil kartunya. Ia memeriksa kartu saya dan mengatakan kalau kartu saya rusak dan harus diganti. Setelah mengambil data nomr telefon di dalam kartu ia membuat kartu lain. Ia mengatakan untuk mengaktifkannya setelah satu jam kemudian. Saya pamit dan kembali bekerja. Namun tiga jam kemudian, ketika saya katifkan, signalnya belum juga tampak. Sampai keesokan harinya. Saya kembali lagi ke gerai telkomsel. Melaporkan apa yang terjadi. Seorang CS mengambil hp saya dan membawa ke dalam. Selang lima menit ia keluar dan menjumpai saya. Ia mengatakan kalau tidak ada persoalan dengan kartu saya dan sudah bisa digunakan kembali, sambil memberikan HP saya kembali. Saya lihat di layat HP sudah ada tanda sinyalnya. Akhirnya…. Alhamdulillah…. HP saya bisa digunakan lagi.

Sebuah permainan bola yang sangat menarik dan melelahkan. Terima kasih Telkomsel.



Kenapa Sampah Harus Dipisahkan?

Saya membawa mahasiswa ke tempat pembungan akhir sampah-sampah di Banda Aceh untuk sebuah kunjungan lapangan matakuliah metodologi penelitian. Di sana saya meminta mereka memperhatikan apa saja yang mereka lihat. Dan kalau memungkinkan saya juga meminta mereka berdialog dengan orang-orang yang ada di sana, selama tidak mengganggu pekerjaan mereka. Dalam kunjungan awal saya ke lokasi setidaknya lebih dari lima pihak yang ada di sana, pemulung, sopir truk, sopir buldozer, mandor, penjaga lokasi dan penduduk yang tinggal di dekat sana.

Kami berkunjung pada suatu hari minggu dengan menggunakan sepeda motor. Sesampai di lokasi mahasiswa saya bebaskan untuk berekspresi, melakukan pendekatan dengan orang-orang di sana dan membina komunikasi. Beberapa mahasiswa ada yang takut-takut masuk ke dalam tumpukan sampah di mana pemulung berada. Beberapa diantaranya ada yang masuk namun dengan mengangkat tinggi-tinggi celana atau rok. Ada pula yang berani apa adanya, tanpa ragu dan enggan. Begitu memang manusia, padahal sampah itu berasal dari rumahnya juga.

Di dalam kelas keesokan harinya, mahasiswa melaporkan apa yang mereka dapatkan di lapangan pada hari kunjungan itu. Banyak hal menarik yang mereke temukan. Antara lain, ternyata diantara pemulung itu ada yang sarjana. Ia tidak mendapatkan pekerjaan lain, sementara ia harus menghidupi keluarganya, hingga ia memilih menjadi pemulung. Ada juga pemulung itu mantan tenaga kerja di luar negeri dan pernah punya gaji yang sangat banyak. Namun karena boros dan suka berjudi ia jatuh bangkrut. Ia kemudian menjadi pemulung untuk menghidupi ibunya yang sudah tua. Yang lain adalah cerita mengenai anak-anak yang tidak sekolah, ibu-ibu yang hidup bersama sampah, dan lain sebagainya.

Ada satu hal yang menarik dari apa yang mereka kerjaan di atas gunungan sampah yang setiap jam semakin meninggi, yaitu mendapatkan hal-hal yang layak jual dari apa yang sudah dibuang oleh masyarakat. Bagi kita yang mungkin tidak berada di sana, tidak pernah ke sana, tidak berfikir ada hal yang berharga dari apa yang kita buang. Mungkin sebuah botol air mineral, bisa saja kaleng minuman soda, beberapa pecah belah di dapur yang tidak layak pakai, bahan bangunan yang tidak berguna, dan masih banyak lagi. Bagi mereka banyak benda yang tidak terpakai itu justru memberikan kehidupan.

Sepanjang hari mereka mengais benda-benda “berharga” itu diantara tumpukan sampah. Terkadang mereka mendapatkannya diantara sampah dapur yang berbau basi. Atau diantara duri-duri tanaman yang dipotong pemilikinya. Tidak sedikit pula barang berharga itu diperoleh dalam bungkusan berbagai macam sampah yang disatukan dalam sebuah plastik besar. Plastik itu dihancurkan, isinya diuraikan, dan di sana mereka mengais-ngais mencari apa yang dapat dimanfaatkan.

Mungkin semua kita sepakat, seharusnya tidak ada kehidupan manusia di sana, tidak ada orang yang menggantungkan harapan pada sampah-sampah yang berbau dan dipenuhi lalat. Itu jelas sebuah pekerjaan yang tidak layak, meskipun halal. Seharusnya manusia bekerja pada tempat lebih bersih dan dengan cara yang bersih pula. Sebab di sana, bukan hanya si ibu yang akan sakit, namun ia juga akan menularkan penyakit pada anak kecilnya. Di sana bukan hanya seorang laki-laki yang akan menderita ashma atau batuk akibat kuman-kuman yang bertebaran, namun juga keluarganya di rumah yang mencuci pakaiannya, atau yang bergaul dengannya saat ia belum mebersihkan diri. Namun itu tetap terjadi, dan masih juga terjadi hingga kini.

Akan tetapi tidak semua kita bisa membantu mengeluarkan mereka dari pekerjaan tersebut. Sebab itu masalah besar. Tidak ada satu tangan manusia yang mampu melakukannya. Butuh sebuah kerja besar, kerja yang melibatkan semua pihak, semua lembaga, semua kekuasaan yang ada. Sebab itu adalah masalah manusia sepanjang hidupnya. Bukan hanya di Indonesia, di negara maju sekalipun fenomena seperti ini tetap ada. Pengemis, pemulung, gelandangan, adalah fenomena biasa di berbagai kota besar dunia.

Namun bukan juga berarti kita tidak bisa membantunya. Kita bisa! Dan itu mudah. Sesuatu yang kecil kita lakukan bisa mengubah ritme kerja mereka. Sesuatu yang ringan di tangan kita akan memudahkan seharian kerja mereka. Beberapa detik yang kita lakukan akan memotong beberapa jam kerja mereka. Apa yang harus kita lakukan? Pisahkan sampah basah-sampah kering. Pisahkan sampah plastik dengan sampah yang dapat diurai oleh tanah. Bukankah itu sesuatu yang mudah? Hanya butuh waktu sepersekian detik untuk memutuskan di mana kita akan membuang sampah. Namun yakinlah, itu akan membantu banyak saudara kita yang bergelut dengan tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.

Bagi kita hanya pilihan, tapi mereka itu adalah kehidupan.



Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...