Showing posts with label Muhibbah. Show all posts
Showing posts with label Muhibbah. Show all posts

21 September 2014

10 Tempat Wisata di Banda Aceh

Ada banyak tempat menarik di Aceh yang selama ini belum terekpose dan belum menjadi tempat wisata yang populer, terutama yang ada di daerah kabupaten. Misalnya, danau Laut Tawar di kota Takengon Aceh Tengah, Pulau Banyak di Singkil, Pantai-pantai di sepanjang jalan menuju Barat-Selatan Aceh, dan banyak lainnya. Selain karena masalah lokasi yang sangat jauh dengan Banda Aceh, lokasi tesebut juga tidak memiliki fasilitas yang memadai sebagai sebuah tempat wisata. Apalagi pemerintah Aceh hingga saat ini masih belum memandang lokasi wisata sebagai tempat yang dapat menghasilakn PAD dalam jumlah besar, sehingga mereka masih belum terlalu serius menggarapnya. Namun demikian beberapa diantaranya, terutama yang ada di sekitar Banda Aceh sudah memiliki jalan akses yang mudah dan memiliki fasiltas yang baik untuk wisatawan. Kalau memiliki waktu beberapa hari di Banda Aceh, inilah lokasi yang mudah dikunjungi:

  1. Masjid Raya Baiturrahaman
Masjid Baiturrahman adalah icon provinsi Aceh. Dalam masyarakat Aceh terkenal sebuah pomeo: "Belum sampai di Banda Aceh kalau belum shalat dan berfoto di depan Mesjid Raya Baiturrahaman." Makanya di rumah-rumah orang Aceh yang pernah pergi ke Banda Aceh selalu terdapat sebuah foto mereka di depan Mesjid Raya Baiturrahman, sebab itu sebagai "bukti" bahwa mereka sudah pernah pergi ke mesjid ini. Mesjid Raya Baiturraham memiliki sejarah yang sangat panjang. Mesjid ini berdiri pada masa kerajaan Aceh Darussalam, sekitar abad XV. Pada awal abad XVIII Belanda menyerang Aceh. Para Pejuang Aceh menjadikan mesjid Raya sebagai benteng pertahanan. Serangan ini gagal total. Panglima perang mereka Jenderal Kohler tewas di depan Mesjid Raya. Hingga sekarang kuburan itu diabadikan di depan Mesjid sebagai "pelajaran" bagi manusia, bahwa tindakan merusak mesjid akan berakibat seperti Jenderal Kohler tersebut. Pada serangan kedua, Belanda berahasil menguasai Mesjid Raya dan membakarnya. Beberapa tahun kemudian mereka mendirikan mesjid yang baru sebagai pengganti mesjid lama. Hal ini juga sebagai politik Belanda untuk "mendekatkan diri dengan orang Aceh" selama mereka berada di sana. Mendirikan mesjid untuk menunjukkan mereka sangat peduli dengan agama orang Aceh. Sejak saat itulah mesjid ini ditambah dan direhab beberapa kali hingga nampak seperti sekarang ini. Kalau mau merasa "Menjadi orang Aceh" maka shalat dan berdoalah di Mesjid Raya Baiturrahman jika kamu pergi ke Banda Aceh. 

2. Masjid Baiturrahim Ulee Lheu
Masjid yang penuh sejarah ini berada tidak jauh dari Banda Aceh ke arah Barat. Posisinya persisi di jalan menuju pelabuhan Ulhe Lheu (Pelabuhan menuju pulau Sabang). Masjid ini menjadi saksi bisu bagaimana tsunami dahsyat terjadi di Aceh tahun 2004 yang lalu. Ia tetap kokoh berdiri dan hanya mengalami kerusakan sedikit saja meskipun duterpa air deras. Padahal bangunan yang ada di sekitarnya hancur luluh tidak tersisa. Ulee Lhee adalah salah satud aerah yang sangat parah karena musibah itu. Setelah melakukan beberapa renovasi, masjid ini sudah tampak seperti sedia kala dan menjadi tempat wisata baru di Banda Aceh. banyak wisatawan datang ke sana untuk merasakan bagaimana dahsyatnya tsunami pada masa itu dan berdoa. 

3. Makam Massal Tsunami Banyak jenazah korban tsunami tahun 2004 tidak bisa diidentifikasi dengan jelas sementara semakin bertambah hari maka semakin jenazah akan semakin membusuk. Pemerintah mengambil kebijakan memakamkan mereka sejaca massal. Beberapa lokasi dipilih untuk menjadi makam masal tersebut. Salah satunya berada tidak jauh dari masjid Ulee Lheu di atas. Berkunjunglah ke makam ini untuk mengetahui bagaimana dahsyatnya tsunami tahun 2004 itu. 

4. Museum Tsunami Saya belum pernah pergi ke museum ini. Tapi saya dengar ini lokasi yang menarik. 

5. Pantai Lhoknga dan Beberapa Pantai yang lain Pantai Lhoknga adalah salah satu pantai yang sangat indah di Indonesia. Fahmi Idris, penyanyi dangdut era 90'an menjadikan Lhoknga sebagai salah satu judulnya (lihat You Tube). 

6. Makam Syiah Kuala Syiah Kuala adalah salah satu ulama yang sangat terkenal di Aceh. Ia diabadikan sebagai nama Universitas Terbesar di Aceh: Universitas Syiah Kuala. 

7. Warung Kopi Ini lokasi paforit saya. Saya menghabiskan banyak waktu di warung kopi, dan merindukannya kalau sedang berada di luar kota Banda Aceh. Saya pernah berkunjung di beberapa kota di Indonesia, namun belum menemukan tempat di mana saya bisa seperti di warung kopi yang ada di Aceh. Tentang porubahan warung kopi di Aceh dari waktu ke waktu bisa baca di sini: 

8. Kapal Apung 9. Arena PKA 

10. Tsunami Tour

21 October 2010

Berburu Buku di Taman Pintar

Satu tempat yang sama sekali tidak boleh dilewati kalau ke Jogja adalah Taman Pintar. Taman pintar sering juga disebut dengan Shoping. Letaknya tidak jauh dari Malioboro. Bisa jalan kaki kalau tidak terlalu lelah. Meskipun namanya Shoping, yang hanya suka Shopping tidak perlu ke Taman Pintar. Ini khusus buat mereka yang suka berburu buku murah. Anda tidak akan mendapatkan baju, sepatu, leptopn, HP terbaru, apalagi lipstik dan pakaian underwear. tidak ada. Yang ada adalah buku tentang itu semua. Taman Pintar adalah Mall buku.

Di Taman Pintar anda bisa dapatkan -mungkin- segala jenis buku yang pernah diterbitkan di republik ini. Sebab di sana ada puluhan toko buku yang ruangannya penuh dengan buku-buku. Dari buku ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, agama, mistik, hingga buku terlarang juga ada di sana. Selain itu di Taman Pintar juga ada berbagai majalah bekas yang masih layak pakai dan nampak baru. Dan tidak ketinggalan, di sana juga ada kumpulan makalah dari berbagai kampus, ada catatan kuliah, ada kliping koran, ada pula buku impor dari berbagai negara. Beberapa toko juga menyediakan buku lama terbutan tahun 80an dan bahkan 60an.

Bagaimana dengan harga? Nah…. ini menariknya Taman Pintar. Anda akan mendapakan potongan harga yang lumayan besar. Pastikan kantong anda cukup untuk memmbawa sekota buku kalau ke sana. Sebab saya menjamin tidak akan ada buku yang tidak jadi beli dengan alasan kemahalan. Setiap buku yang memikat mata dan hati, pasti bisa anda peroleh dengan harga yang pantas. Apalagi bisa tawar-menawar yang lumayan ekstrim. Saya pernah dapat buku sejarah Aceh yang harganya Rp. 70.000,- tapi saya bawa pulang dengan harga Rp. 25.000,- Buku baru, masih sangat baru. Demikian juga buku lain, sesuaikan saja. Anda bisa tawar sekenanya. Tapi tetap punya rasa kemanusiaan lho, hargai orang bekerja.

Dari pengalaman saya, belanja di Taman Pintar perlu punya sedikit skil. Beberapa buku terkadang ditawarkan agak mahal karena kita nampak terlalu berminat. Atau penjualnya tidak mau menurunkan harga karena kita menunjukkan ekspresi kalau kita sangat butuh. Jadi biasa saja. Anggap anda tidak terlalu membutuhkan buku itu walaupun sebenarnya, kalau buku itu tidak ada anda akan menyesal seumur hidup. Rahasia yang lain, jangan pernah biarkan penjual buku mencarikan buku yang anda cari ke toko lain. Terkadang kalau buku yang dicari tidak ada, ia bisa menawarkan untuk mencarinya ke toko lain. Nah, anda bisa katakan itu tidak perlu. Anda sendiri yang akan mencarinya. Sebab kalau ia yang cari maka tawar-menawarnya akan terbatas.

Oke, Selamat berburu!

27 April 2010

"Menjual" Nama Polisi

Suatu hari, saya pulang dari kantor untuk makan siang di rumah. Siang itu matahari sangat terik di Banda Aceh. Rasanya, kalau selama ini matahari hanya satu, hari itu tetap satu. Namun satu-orang satu matahari. Begitu panasnya! Angin saja yang biasanya membawa kesejukan, hari itu tidak bisa berbuat banyak. Bahkan anginpun terasa panas. Benar-benar panas membakar. Saat itu saya pikir ini adalah hari terpanas yang pernah saya rasakan di Banda Aceh. Namun waktu saya merasakan hari lain yang juga panas, saya mengatakan hal yang sama.

Saya pulang melalui jalan yang tidak biasa saya tempuh. Dari kampus saya berbelok ke kiri. Jalan ke sana memang akan lebih jauh sampai ke rumah. Namun akan lebih teduh karena banyak pepohonana di sisi kanan dan kiri jalan. Apa lagi itu adalah daerah perkampungan, kenderaan juga tidak sepadat jalan protokol yang membuat suasana panas semakin terasa, selain panas matahari juga panas hati karena sikap sebagian pengguna jalan yang maunya enak sendiri.

Baru satu kilometer berjalan ke arah kiri saya melihat seorang ibu setengah baya yang agak kurus bersama seorang anak laki-lakinya yang juga kurus berbdiri di samping jalan. Melihat dari pakaian yang mereka kenakan saya tahu kalau mereka adalah pengemis. Apalagi saya susah beberapa kali melihat mereka. Dan, bukan maksud hendak mengingat-ingat, saya juga pernah memberikan mereka sedikit sedekah. Kenapa mereka ada di jalan ini? karena mereka juga minta sedekah ke rumah-rumah dan ke tempat-tempat di mana ada orang duduk di depan rumah.

Semula saya kira mereka hendak menyeberang jalan. Namun buat apa? sebab di sebernag jalan di mana mereka berdiri adalah tanah kosong yang tidak ada rumah sama sekali. Jadi pasti mereka menunggu becak atau angkutan dan mereka akan pergi ke suatu tempat ke mana mereka akan melanjutkan pekerjaannya. Namun dari jarah beberapa puluh meter sebelum sampai ke arah ke duanya, saya melihat anak kecil itu melambaikan tangannya. Semual saya tidak tahu apa artinya, namun ketika saya melihat ke belakang tidak ada kenderaan lain, saya tahu kalau mereka meminta saya berhenti.

Saya berhenti persis di depan mereka berdiri. Si ibu membuka pembicaraan. Ia mengatakan hendak pergi ke Darussalam (daerah kampus). Saya katakan kalau saya mau pulang ke arah yang berbeda. Ia malah mengatakan boleh juga pergi ke arah yang sama dengan saya. “Nanti turunkan kami di pasar” katanya. Memang, dari tempat di mana ia berdiri tidak jauh lagi sudah sampai ke sebuah pasar tradisional. Namun saya sedikit kaget, kenapa ia begitu cepat menggantikan tempat tujuannya. Karena saya tahu mereka pengemis, daerah operasinya bisa ke nama saja, tidak terbatas pada daerah tertentu saja, saya memerikan tumpangan.

Si anak duduk persis di belakang saya, dan si ibu duduk di belakanganya. Seorang ibu yang mengenakan rok biasanya duduk menyamping. Namun saya lihat ibu ini membuka sandalnya, menyibak sedikit roknya, lalu naik ke motor saya, duduk seperti laki-laki. “Sudah” katanya, menandakan ia sudah duduk di posisi yang tepat dan sudah boleh berangkat.

Saya membawa kenderaan pelan-pelan saja, sebab di belakang ada seorang anak dan seorang perempuan. Apalagi jalan di sana juga tidak terlalu bagus dan sempit. Saya mencoba untuk hati-hati. Sebab saya yakin betul, kalau terjadi sesuatu dengan mereka, sayalah yang akan bertanggung jawab. Apalagi mereka tidak jelas siapa orangnya, di mana rumahnya, siapa saudaranya. Seadainya mereka harus masuk ke rumah sakit pasti saya yang harus menanggung biayanya. Saya tidak mau ambil resiko.

Ketika hendak masuk ke pasar, saya membawa kenderaan lebih pelan lagi. Sambil sedikit menghadap ke belakang saya bertanya kepada si ibu, ia mau turun di mana. Ia menjawab, namun tidak jelas. Saya bertanya lagi. Ia menagatakan lewat mesjid. Mesjid masih ada sekitar 200 meter lagi. Namun itu sudah di luar pasar dan bukan ke arah saya pulang. Saya memutuskan mengantarnya, sebab tidak terlalu jauh. Sesampai di masjid saya berhenti dan mengatakan kalau mereka sudah sampai. Tapi malah si ibu diam saja dan tidak bergerak menunjukkan ia mau turun. Ia justru mengatakan kalau ia mau ke rumah sakit.

Rumah sakit berada di arah yang berseberangan dengan masjid. Dan itu berarti ke arah rumah saya, namun masih lebih jauh lagi. Saya mulai curiga dengan mereka. Sebab sudah tiga kali tidak konsisten dengan rencananya sendiri. Dan saya pernah mendengar seorang teman yang kehilangan dompet setelah membonceng seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya. Saya tidak bisa meraba dompet karena di depan ada ransel, dibelakang ada si anak yang duduk sangat dekat dengan saya. Lalu saya menghentikan kenderaan, saya tanya si ibu, sebenarnya ia mau ke mana. Si ibu menjawab dengan ragu, meskipun kemudian ia mengatakan rumah sakit. Saya sedikit mencoba tegas, mengatakan dengan suara lembut dan ramah: “Saya bawa ke kantor polisi saja ya, nanti ibu bisa minta bantu mereka.” Si ibu mejawab dengan cepat dan segera turun. “Oo.. ngak apa-apa. kami turun di sini saja”. Ia menggendong anaknya turun dari motor, lalu pergi dengan sangat cepat ke arah pasar.

Ternyada dalam kondisi seperti ini polisi bisa “dijual”. :-)



26 March 2010

Tawa Sebagai Bahasa

Namanya Muhyat. Namun karena usianya sudah lebih 100 tahun, orang memanggilnya Mbah Muhyat. Ia adalah seorang lelaki sepuh di dusun Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah. Hampir semua persoalan adat dan supranatural warga dusun bertanya kepadanya. Sebab selain memiliki pengalaman yang panjang, ia juga seorang yang menguasai berbagai ilmu Jawa Kuno, semacam mujorabat dan astrologi. Ia juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita warga, seperti demam dan sakit-sakitan yang lain. Di tengah belantara di mana rumah sakit sangat jauh dan transportasi yang sulit, berobat dengan ramuan dan rajahan adalah pilihan yang paling logis. Dan Mbah Muhyat adalah “dokter” bagi 55 KK yang menetap di tengah hutan Pinus Kabupaten Pekalongan tersebut.

Satu hari, ketika saya berada di sana, saya duduk berbincang dengan beberapa warga. Pada jam 10.00 pagi warga yang saya ajak berbincang mulai meninggalkan saya karena harus kembali bekerja. Pada saat itulah seorang perempuan yang sudah sangat tua datang di depan saya. Ia berbicara dalam bahasa Jawa yang sama sekali tidak saya pahami. Bukan karena dialeknya asing atau kecepatan biacaranya, namun saya memang tidak paham sama sekali bahasa Jawa, selain ngeh, monggo, dan mutur nuwun. Saya mengatakan kepadanya kalau saya tidak bisa berbahasa Jawa, namun bukannya mendengar saya, ia malah terus berbicara dan kadang tertawa. Demi menghormatinya, saya juga tersenyum dan kembali mengatakan kalau saya dari Aceh dan tidak bisa bahasa Jawa.
Saya bangun dan hendak meninggalkannya. Namun ia menunjukkan ujung gang di mana dia tadi keluar. Ia terus berjalan ke ujung gang tersebut. Ketika saya melihat ke belakang, ia masih berada di sana dan tersenyum. Hati kecil saya mengatakan kalau nenek tua itu mengajak saya ke rumahnya. Saya mengikuti kata hati dan berjalan menuju gang itu. Benar saja, ketika saya menuju gang, ia mulai berjalan lagi hingga sampai ke sebuah rumah. Saya lihat ia membuka pintu lebar-lebar.

Sesampai di rumahnya saya ucapkan salam dan dijawab oleh seorang laki-laki yang jauh lebh tua dari si nenek. Ruang di mana saya masuk adalah sebuah ruang kecil. Di sana ada sebuah meja dengan dua kursi panjang di sisinya, sebuah ranjang dan sebuah kursi rotan di bagian kaki. Si nenek duduk di kursi rotan. Sementara si kakek menjumpai saya dan langsung berbicara bahasa Jawa. Saya kembali katakan kalau saya tidak bisa bahasa Jawa karena saya dari Aceh.

“Ooo…Aceh…Aceh…” kata si kakek sambil melihat pada istrinya dilanjutkan dengan beberapa potong kalimat dalam bahasa Jawa. Mereka berdua tertawa. Dan melihat mereka tertawa saya juga tertawa. Kami tertawa serempak untuk alasan yang berbeda.

Si kakek menunjuk istrinya kepada saya sambil memegang telinga lalu menggoyang-goyangkan telapak tangannya yang lain ke arah saya. Saya pahami kalau si nenek tidak bisa mendengar lagi. Itu mungkin yang menyebabkan tadi beliau tidak mempedulikan saya ketika saya berbicara. Si kakek juga kerap setengah “berteriak” ketika bicara pada istrinya. Saya katakan -dengan bahasa Indonesia- tidak masalah, saya juga tidak bisa bahasa Jawa. Si kakek menjawab lagi dalam bahasa Jawa lalu kemudian tertawa. Saya juga ikut tertawa. Kami terus berbicara saling menjawab namun saling tidak mengerti dengan apa yang kami ucapkan. Yang selalu kami lakukan adalah tertawa di akhir setiap kalimat. Tertawa lepas seolah kami saling mengerti dan sudah akrab bertahun-tahun.

Mbah Muhyat mengambil sebuah buku dan menunjukkan kepada saya. Buku yang sudah lapuk dimakan usia. Buku tulisan tangan dalam huruf wanacaraka yag seperti cacing kepanasan. Ia membaca buku itu dengan irama khas Jawa. Katanya, itu nembang dari Kitab Pertimah. Ia terus membacanya, dan saya menyimak dan menikmati alunan suara tuanya yang mulai serak. Setelah ia menutup bukunya, ia kembali mengatakan beberapa kalimat lalu tertawa. Saya juga tertawa.

Saya mengambil dan membuka-buka buku itu. Di sampulnya tertulis 1921. Saya tidak tahu pasti apa arti tahun itu. Saya tunjukkan padanya, tahun tersebut, lalu ia mengatakan sesuatu, lalu kembali tertawa. Saya tidak bisa menangkap maksudnya. Kemungkinan kalau bukan tahun pembelian buku, bisa saja tahun awal ia mulai menulis. Di beberapa halaman yang lain saya menemukan beberapa model perhitungan bulan jawa dan penunjuk arah mata angin. Ia kembali menjelaskan apa maksud gambar-gambar itu, lalu tertawa. Saya juga ikut tertawa.

Tidak terasa saya sudah menghabiskan waktu dua jam disana. Sebuah kopi dengan pemanis gula aren dan sepiring kipang yang diberikan sudah hampir habis. Saya masih tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Namun sepanjang dua jam itu kami tertawa bersama-sama. Saya tidak tahu apa katanya, dan saya yakin sekali kalau dia juga tidak tahu apa yang saya katakan. Namun tawa dan gerak yang kami lakukan menjadi alat komunikasi yang mengakrabkan pertemanan kami.

Setelah minta permisi dan pulang, saya berfikir, bagaimana mungkin kami bisa sangat akrab, berbicara selama dua jam padahal tidak saling mengerti bahasa yang kami pakai? Entahlah, tapi itu terjadi.

Tertawa adalah bahasa universal



24 March 2010

Penumpang vs Polisi 1-1

Tahun 2001, saat masih mahasiswa, saya dengan seorang teman, Ardi, menghadiri sebuah undangan pertemuan junalis kampus di Jember, Jawa Timur. Sebagai sesama jurnalis kampus kami diundang bersama teman yang lain untuk mempresentasikan perkembangan media kampus kami kepada teman-teman lain di Indonesia. Demikian juga dari berbagai kampus lainnya. Kebetulan saya dan Ardi yang punya waktu dan bersedia mengambil resiko perjalanan. Sekedar kilas balik informasi, tahun 2001 adalah waktu di mana perjalanan Aceh-Medan Seumatera Utara adalah perjalanan hidup mati. Banyak yang selamat di jalan, namun banyak juga yang selamat jalan untuk selamanya. Jangan tanya kenapa, itu kisah pilu negeri kami masa lalu.

Kami menumpang bus kelas ekonomi dari Banda Aceh menuju Jakarta. Sebab saya hanya mengantongi uang Rp. 500 ribu, demikian juga teman saya. Saya mendapatkan uang bantuan dari Kantor Gubernus Aceh yang saat itu di bawah pimpinan Abdullah Puteh. Saya menandatangani kuitansi Rp. 1.200 000, dan hanya mebawa pulang Rp. 500 ribu. Yah... maklum saja. Ongkos bus ke Jakarta saat itu Rp. 210 ribu. Tapi kami nekat saja, dengan doa dan tawakkal kami yakin jalan kami akan lancar.

Cerita ini bermula saat kami tiba diperbatasan Aceh dengan Sumatera Utara. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sekelompok Polisi berseragam lengkap, di depan kantor mereka yang remang-remang meminta bus dihentikan dan semua penumpang diturunkan. Tidak ada yang aneh, sebab ini adalah pemeriksanan yang kesekian kalinya sepanjang perjalanan kami yang sudah tujuh jam. Beberapa anggota polisi naik ke dalam bus dan mulai memeriksa KTP penumpang dan barang-barang yang dimasukkan dalam Bus. Beberapa yang lain menunggu di bawah mengelilingi bus, dan melihat-lihat barang di dalam bagasi.

Tiba-tiba... srreekkk..., terdengar sebuah suara sesuatu meluncur di lantai bus. Dua polisi yang ada di dalam bus melihat ke bawah tempat duduk penumpang. Tiba-tiba mereka menemukan sebuah bungkusan seukuran bantal kursi di ruang tamu. Bungkusan itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak dan diikat dengan sangat rapi. Buru-buru seorang polisi mengambilnya dan lalu membawa turun. Hanya berselang menit, sebuah suara dari bawah mubil berteriak, "turun.... turun... semua penumpang turun...." Suara itu sangat keras dan ganas, lebish keras dari suara Sueharto di FIlm PKI.

Di bawah, kami dibariskan. Sebelum ditanyai apa-apa setiap laki-laki mendapatkan "salaman" pembukaan. Alhamdulillah saya hanya dapat dua hok kanan di perut dan satu tendangan di pantat. Teman saya, saya tahunya belakangan, mendapatkan beberapa pukulan di perut dan dua di pipi. Namun ada yang lebih dahsyat lagi, seorang laki-laki yang duduk persis di belakang kami. Dia dipukul, ditampar, ditendang, uang dalam dompetnya diambil, sebuah rantai emas di lehernya dirampas. Setiap pukulan dilakukan untuk sebuah jawaban dari pertanyaan: "Siapa pemilik ganja itu?" ternyata bungkusan tersebut berisi ganja 3,5 kg.

Setelah tidk sukses di pinggir jalan, semua penumpang dibawa ke dalam kompleks kantor polisi. KAmi dipanggil dua-dua orang ke dalam ruangan ntuk diselidiki. Sementara yang lain menunggu di halaman sambil dag-dig-dug membayangkan nasib. Kami menunggu tanpa bicara. Alhamdulillah... setelah dua ham menunggu polisi mengatakan pemilik ganja sudah ditemukan. Seorang ibu dengan seorang anak lima tahun yang ikut bersamanya. Namun kami tetap belum boleh melanjutkan perjalanan. Saya tidak tahu kenapa.

Seorang polisi muda setengah mabok, bermata merah, menghampiri kami. Ia nampak lebih ramah dan sepertinya mau diajak ngobrol. Saya ingat kalau dia tadi termasuk salah seorang yang memukul kami. Di depan kami yang duduk di halaman berbatu kerikil ia mulai bercerita tentang susahnya untuk menjadi polisi. "Kita harus lewat beberapa tas fisik yang berat. Jadi polisi itu harus kuat fisik dan mental, kalau ngak ngak bisa." Lalau dia menyebutkan beberapa jenis tes yang dilakukan sebelum akhirnya ia terpilih menjadi seorang polisi. Diantaranya push up dengan dua jari, bergerak kedepan dengan kekuatan siku, sit-up, jalan jongkok, dan beberapa tes lainnya. Dan model tes ini pula katanya yang dipakai waktu latihan.

Tiba-tiba seorang penumpang bersuara, setengah bertanya. "Mana mungkin push up dengan dua jari bang?" Polisi terkejut, saya juga. Beraninya teman ini bertanya. Tiba-tiba polisi setengah mabok itu menjawab. "Iya, bisa donk. Nih, coba lihat" katanya, sambil melakukan push up dengan dua jari beberapa kali. "Ooo... kalu itu memang mudah, tapi kalau jalan dengan siku kan tidak mungkin?" orang tadi bertanya lagi. "Kenapa ngak mungkin? lihat ni" kata polisi itu lagi sambil berjalan dengan siku keliling halaman. Saat kembali tiba di hadapan kami saya lihat siku polisi itu berdarah. Namun si penumpang ini tidak peduli, dia tersu bertanya dan polisi itu menjawab dan melakukannya. Sampai kami diminta aik bus kembali. Saat itu sudah jam tiga pagi.

Setelah bus berjalan, sopir bilang: "Apa yang kalian lakukan sama polisi tadi?" hahaha... kami tertawa hampir serempak. "Mantap..... satu sama" kata sopir.

***

Saat engkau terlena dengan pujian dan sanjungan,pelan-pelan engkau membunuh dirimu sendiri.


28 February 2010

Pasir Putih Yang Eksotis

Ini cerita perjalanan akhir Minggu. Kali ini saya mencoba jalan-jelan ke salah satu pantai wisata di Aceh Besar, Pasir Putih. Pantai ini terletak sekitar 30 km dari Kota Banda Aceh. Hanya perlu waktu 40 menit menuju ke sana. Jalan yang bagus dan luas menjadikan perjalanan sangat lancar. Hanya perlu sdikit hati-hati karena ada beberapa anak muda yang belum sadar betapa berharganya hidup suka kebut-kebutan. Sepanjang jalan perjalanan ke sana disuguhi pemandangan pantai dan perumahan masyarakat. Untuk menuju ke sana, kita juga melewati beberapa pantai lain yang banyak dikunjung warga, seperti Ujong Batee dan Ladong (mungkin suatu saat akan saya ceritakan).

Sesampai di pelabuhan Krueng Raya, ada beberapa tanjakan terjal perbukitan. Bukit ini dinamakan dengan Bukit Sueharto. Saya tidak tahu persis kenapa dinamakan demikian. Setelah mendaki tanjakan pertama, di sebelah kanan ada jalan masuk. Di ujung jalan ada sebuah benteng peninggalan masa lalu yag dikenal dengan Benteng Inong Balee. Benteng ini terbuat dari batu yang disusun tinggi dan menghadap lautan. Konon, dulunya dipakai oleh Laksanaman Malahayati untuk mempertahankan Kerajaan Aceh Darussalam dari serangan bangsa asing. “Inong Belee” berarti perempuan janda. Menurut sebuah cerita, Laksamana Malahayati (seorang perempuan dan janda) memimpin sebuah pasukan tempur yang terdiri dari perempuan janda dalam kerjaan Aceh Darussalam. Inilah yang menyebabkan benteng ini disebut benteng Inong Balee. Dari puncak bukit ini juga kita dapat saksikan hiruk pikuk pelabukan Krueng Raya.

Lanjutkan perjalanan beberapa menit. Untuk sampai ke Pasir Putih anda perlu masuk ke sebelah kiri sekitar 500 meter dan membayar tiket Rp. 4000,-. Ujung jalan akan langsung berbatasan dengan lautan Samuera Hindia yang maha luas. Seperti namanya, pasir di pantai ini memang putih adanya. Pepohonan tumbuh di pinggir pantai. Di ujung sebelah Barat banyak pohon tumbuh di dalam lautan. Ini mejadi pemandangan yang sangat indah. Beberapa orang duduk di atas pohon sambil memancing. Saya tidak tahu ikan apa yang banyak di sini. Namun dari salah seorang yang saya lihat mendapatkan ikan, ada seekor ikan warna warni khas ikan laut yang biasa dimasukkan dalam aquarium.

Menyenangkan bermain di pinggir pantai. Pasir yang lebut dan gelombang yang kecil menjadikan pantai ini sangat aman bagi anak-anak untuk mandi. Hanya saja perlu sedikit hati-hati karena di beberapa bagian ada karang batu yang tajam dan bisa melukai. Untuk mandi sangat aman mengunjungi sebelah Timur. Di sana lebih aman dari batu karang. Ada juga masyarakat yang menyediakan ban mobil yang bisa dipakai untuk pelampung. Hanya saja, di bagian timur sangat sedikit pepohonan sehingga terasa sangat panas dan susah mencari tempat berteduh dari sengatan matahari.

Sayangnya, hampir di sepanjang pantai banyak warga sekitar yang membuat gubuk-gubuk untuk berjualan. Kebanyakan mereka membuang sampah dagangan; kelapa muda, botol, plastik, kertas bungkusan, di lautan. Dan pasti saja lautan tidak menerima kotoran itu lalu mengembalikannya ke pantai. Sampah-sampah ini menjadikan pasir yang putih dan indah menjadi tertutup dengan sampah. Apalagi banyak masyarakat yang melepaskan sapinya di sana, sehingga di berbagai tempat ditemui banyak kotoran sapi. Ini menjadikan pandangan tidak nyaman.

Yang juga sedikit kurang menyenangkan adalah, gubuk jualan warga terlalu banyak. Kita hampir tidak punya tempat selain punya mereka. Padahal jika kita membawa keluarga, semua perbekalan makanan sudah tersedia. Namun kita tidak tahu harus menggelar tikar di mana, membakar ikan di mana, makan di mana kecuali di gubuk yang sudah disediakan warga. Dan ini tentu perlu biaya tambahan. Hanya ada beberapa lokasi di bagian Barat yang bisa dipakai untuk itu. Namun perlu tanaga ekstra karena tidak ada jalan yang bisa dilalui oleh kenderaan.

Tapi, bagaimanapun, pemandangan lautnya, pohonnya, pasirnya yang lembut, tetap menjadikan kunjungan ini menyenangkan. Apalagi pergi dengan orang-orang yang kita cintai. Saya sarankan anda (khususnya yang ada di Banda Aceh), untuk mencoba!


Catatan: beberapa foto lain mengenai Pasir Putih, lihat di
http://sehatihsan.blogspot.com/2009/11/pasir-putih-krueng-raya.html

Tulisan ini saya posting juga di www.sehatihsan.blogspot.com

26 February 2010

Maulid di Aceh

Dulu, saat masih kecil, satu hari saya meminta kakek menyembelih seekor ayam. Sudah lama rasanya tidak merasakan masakan ayam yang lezat. Sebagai cucu laki-laki yang paling rajin pergi sekolah, saya memang mendapatkan hak istimewa untuk urusan minta-meminta ini. Kakekpun memberi hak memilih langsung ayam di dalam kandangnya. Hanya ada satu pesan: “Nyan bek kacok yang agam mirah, manok molod” artinya kira-kira: Jangan ambil ayam jantan yang merah, itu dipersiapkan untuk maulid.

Aceh seperti halnya daerah lain di Indonesia memiliki tradisi melaksanakan maulid yang khas. Pada hari pertama, seperti hari ini, tradisi maulid belum nampak. Acara-acara maulid yang telah membudaya baru dimulai pertengahan bulan ini dan dua bulan kemudian. Hampir semua kampung di Aceh melaksanakannya. Pun demikian, setiap daerah di Aceh memiliki kekhasan sendiri yang berbeda dengan daerah yang lain. Bahkan terkadang antara satu kampung dengan kampung lain juga memiliki cara yang berbeda merayakan maulid.

Kembali ke persoalan ayam tadi. Hampir semua keluarga di kampung-kampung mempersiapkan ayam khusus buat merayakan maulid. Sejak setelah lebaran puasa, beberapa ekor ayam jantan mulai diberikan pakan khusus agar tumbuh besar dan dagingnya padat. Di kapung-kampung, masyarakat tidak suka memakan ayam potong. Katanya, ayam potong kotor dan dagingnya hambar. Karenanya ayam kampung dipelihara secara khusus untuk kebutuhan maulid. Apa yang terjadi? Saat perayaan maulid dilakukan, sajian berupa ayam menjadi sajian umum. Segala jenis masakan ayam ada, tinggal pilih.

Perayaan maulid sendiri dilakukan di masjid. Di kampung saya, Aceh Selatan, memiliki kekhasan sendiri dibandingkan dengan Aceh Besar dan Banda Aceh. Di sana, kami merayakan maulid sejak sore hari setelah Ashar sampai malam hari setelah Isya. Sore hari maulid dilakukan dengan membaca dalae (zikir maulid) oleh kelompok zikir dari kampung tetangga yang khusus diundang. Biasanya kami mengundang empat kampung terdekat dengand kampung kami. Setelah mereka membacakan zikirnya, mereka akan dihidangkan makanan yang telah disipakan.

Acara untuk masyarakat kampung kami sendiri dilakukan pada malam hari. Setelah Isya maulid mulai dimulai. Semua laki-laki di kampung, anak-anak sampai orang dewasa berdiri berjejer membentuk shaf melingkar dan berlapis. Di salah satu sisinya beberapa teungku (ulama) berdiri memegang kitab dalae yang akan dibacakan. Kitab tersebut dibaca dengan berirama khas syair. Setiap syair dibacakan, jamaah mengulangnya kembali. Banyak syair dibacakan dalam bahasa Aceh. Jamaah mengulang syair ini disertai dengan gerakan-gerakan tertentu. Kadang membungkuk ke depan-belakang, kiri kanan, menggeleng kepala, bahkan meloncat-loncat dalam barisan sambil mengelilingi seluruh bagian Masjid. Bagian ini biasanya dilakukan pada sesi terakhir dari zikir maulid. Sebab banyak orang yang kemudian pingsan karena kelelahan. Tapi masyarakat menyebut dengan: katroeh, atau sudah sampai. Maksudnya, dari zikir yang dilakukan, ia sudah sampai kepada Tuhan, fana dalam bahasa Sufi.

Hari ini proses itu sudah mulai dibicarakan. Saya yakin awal bulan depan berbagai kampung di Aceh mulai melakukan kauri molod. Hidangan-hidangan besar akan nampak di setiap masjid kampung. Undangan-undangan makan akan datang setiap minggu. “Perbaikan gizi” begitu kami istilahkan ketika masih kosan sebagai mahasiswa. Bahkan, untuk besok saya sudah mengantongi dua undangan. Ada yang mau ikut?

Saya yakin sekali, ini adalah cara masyarakat mengingat Nabi mereka. Pasti mereka melakukannya karena cinta. Rasio-rasio kadang sulit memahami kenapa mereka menghabiskan uang besar untuk “pesta” sesaat. Namun cinta terkadang memang gila. Apalagi cinta pada Rasulullah. Saya mengucapkan Selamat hari maulid Nabi Muhammad Saw. Jadikan pesan universalnya sebagai teladan dalam meniti hidup di dunia.



18 February 2010

Polisi Sebagai Pengyom Masyarakat?

Tahun lalu, saat satu malam saya pulang dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh, di mana saya melakukan penelitian, saya mendapat pengalaman baru berhubungan dengan Polisi. Di kecamatan Pintu Rime Gayo, tepatnya di perbatassan masuk ke Kabupaten Bireun, kami di stop oleh sepasukan Polisi. Seorang yang pendek dan gendut, berkumis, memakai sebo bertulisakan polisi menanyakan nama semua penumpang sambil mengarahkan senter ke muka mereka. Si Pendek menanyakan nama saya sambil mengarahkan senter ke muka saya. Saya menyebutkan nama dengan mengangkat lengan menutup mata yang silau karena senter. Namun si Pendek sepertinya kurang mendengar suara saya dan menanyakan kembali. Saya menyebutkan untuk keduakalinya tanpa mengangkat lengan karena senternya tidak lagi mengarah ke muka saya. si Pendek nampaknya maklum lalu menanyakan kepada penumpang lain dengan cara yang sama sampai selesai, dan kami diizinkan melanjutkan perjalnanan.

Menurut Sopir yang diminta turun dari mobil saat pemeriksaan, mereka sedang mencari tiga orang pembawa ganja. Malam sebelumnya mereka sudah menangkap dua orang. Sekarang tinggal satu orang lagi, perempuan. Namun mereka menanyakan semua karena tidak tertutup kemungkinan ada yang baru. Sopir bilang operasi begini memang sering dilakukan polisi untuk menangkap pembawa ganja. Namun sering juga sopir atau penumpang yang tidak bersalah menjadi korban. Sopir juga bisa menjadi korban kalau ada penumpang pemilik ganja turun tiba-tiba sebelum pemeriksaan setelah dapat informasi dari temannya dan ia meninggalkan barangnya di mobil. Pada kondisi seperti itu maka sopir menjadi penanggung jawab barang yang ada di dalam mobilnya. Sopir mobil yang saya tumpangi mengaku kalau ada temanya sesama sopir yang sudah menjadi korban kejadian seperti ini.

Menurut sopir, penumpang juga bisa mejadi korban. Kalau tidak hati-hati ia bisa dijebak oleh polisi. Saat memerikasa dompet penumpang, polisi memasukkan ganja ke dalamnya dompetnya lalu menuduh pemilik dompet membawa ganja. Karenanya, bang sopir menyarankan, kalau ada pemeriksaan polisi minta lihat dulu tangannya baru kemudian berikan dompet. Atau katakan tidak memakai dompet, tanyakan dia surat apa yang diperlukan, KTP? SIM? Atau surat apa. Itu saja berikan. Dompet tinggalkan di dalam tas.

Di Jeunieb, Bireun, kami dihentikan lagi oleh sekelompok orang yang memakai baju seragam seperti polisi dan bertuliskan POLISI di bagian dada kanannya. Mereka menggunakan senjata, sepatu, topi dan semua atribut kepolisian seperti yang sering kita lihat. Mereka ada lima orang, laki-laki semuanya. Kami dihentikan di jalan lempang yang agak sepi penduduk, hanya diterangi lampu jalan dari sebelah kanan. Saya terjaga saat seorang anggota komplotan yang nampak masih muda tersebut meminta sopir turun dari mobil dan mengeluarkan suart-surat kelengkapannya. Sopir turun dengan buru-buru dan setengah ketakutan sambil berusaha membuka pintu mobilnya yang sedikit macet. Si Polisi mengambil surat itu dan memeriksa ke bagian belakang mobil sampai ke sisi kiri yang agak gelap. Di sisi kiri persis di dekat saya duduk, pintu samping kiri. Saya mendengar anggota kelompok itu berkata: “berapa kamu kasih?” Sopir menjawab: “dua puluh pak”. Ia berkata lagi: “dua puluh ngak mau aku, seratus.” Saya mencoba mengerling ke tempat mereka melakukan transaksi. Sopir mengeluarkan sejumlah uang yang saya tidak tahu berapa, namun melihat itu anggota kelompok ini mengembalikan surat-surat mobil yang tadi dimintanya.

Sopir hendak masuk kembali ke mobil dari jalan depan saat seorang anggota yang nampak lebih senior, tegap dengan perut sedikit buncit, datang dari arah kanan menyeberang jalan menuju mobil. Ia berkata: “Periksa yang ini, yang ini. Apa sudah ada yang periksa?” Ia berpapasan dengan sopir yang hendak naik ke mobil. Sopir mengatakan: “Beres pak.” Namun nampaknya ia kurang mendengar apa yang dikatakan sopir. Ia membuntuti sopir sampai ke pintu mobil. Ia berkata dengan suara yang agak keras membentak: “Apa kau bilang barusan?” Sopir jawab: “Sudah beres Pak.” Ia berkata lagi dengan suara yang lebih tinggi: “Bukan, apa yang kau barusan bilang untuk aku?” Sopir mengulangi: “Sudah beres pak, sudah diperiksa sama anggota Bapak.” Ia nampak mengerti namun masih marah. Ia mengatakan: “Kau jangan macam-macam ya, awas kalau macam-majam sama aku.” Sopir menutup pintu mobil dan melanjutkan perjalanan.

Saat mobil mulai jalan sopir mulai berserapah, “kau makan itu uang haram, kau kasih untuk anak istri kau, mudah-mudahan jadi penyakit selama hidup dan jadi api neraka di akirat.” Dan tanpa saya minta sopir mulai bercerita: “Memang sering begini bang, mereka minta uang gila-gilaan. Masa dia minta cepek, apalagi yang awak dapat, haa? Repas lima ratus, isi minyak duaratus, kasih toke cepek limpul, kalau dia minta seratus kan tinggal limpul sama kita. Gimana mau kerja kalau gaji limpul. Kalau dua puluh dia minta masih wajar kalau memang kita salah. Tapi ini seratus, kan gila!” Aku lihat sopir bercerita penuh emosi. “Kalau begini ngak semnagat awak bekerja,” lanjutnya.

Ia mengakui kalau mobilnya ber-plat hitam (pribadi) dan BK (Sumatera Utara). Namun ia mengatakan itu tidak masalah. Tidak ada sweeping setelah konflik. Tidak ada razia malam hari kecuali di depan pos polisi, itupun sekedar pemeriksaan (saya tidak mengeti bagaimana membedakan razia dengan pemeriksaan). Ia juga mengatakan, kalau memang kita salah karena mengangkut sewa dengan plat hitam, kita masih punya alasan. Bukan kami angkut sewa, ini mobil pribadi tapi disewa oleh beberapa orang dan meminta diantar ke tempatnya yang berbeda. “Kan benar begitu bang?” Ia meminta persetujuan saya. Saya terpaksa menjawab “iya” meskipun belum tentu sepakat dengan apa yang ia jelaskan. Ia mengatakan kalau itu memang polisi liar yang sedang mencari uang. Pura-pura saja mengamankan lalu-lintas, padahal mereka mau cari uang untuk diri sendiri.

Kami berhenti di sebuah rumah makan setengah jam berjalan. Setelah makan minum dan hendak melanjutkan perjalanan, ia menelpon temannya yang berangkat dari arah Banda Aceh menuju Takengon menanyakan apakah ada sweeping di jalan. Temannya menjawab tidak. Ia menceritakan tentang kejadian di Jeunib dan mengatakan kalau ia terpaksa memberikan uang. Temannya tanya berapa ia berikan dan ia menatakan Rp. 50 ribu.

Aslinya, tulisan ini ada di: www.sehatihsan.blogspot.com

Sebuah Kenangan di Tanah Gayo

Saya ingin menulis sesuatu tentang Gayo. Tapi ada sebuah pepatah yang saya percaya pasti benar: Foto bercerita lebihd ari seribu kata." Saya postingkan saja beberapa foto di sini. Mudah-mudahan ia bisa bercerita sendiri;


Pada tikungan hendak memasuki Kota Takengon, Ibu Kota Aceh Tengah kita akan disuguhi sebuah tulisan Visit Tanoh Gayo 2008. Saya pergi ke sana pada tahun 2009, tulisan itu masih belum diganti. Ada sebuah gerbang yang sedang dibangun untuk menyambut kedatangan tamu, namun saya belum sempat mengambil fotonya.



Dari salah satu bagian sebelum masuk ke Kota Takengon kita bisa saksikan bentangan Danau Laut Tawar dan jalan berliku menuju ke sana. Saya mengambil foto ini dari sebuah warung kopi yang menghadap ke Danau. Satu saat saya ingin menum kopi di sana sambil menatap indahnya Danau LAut Tawar.


Jalan masuk ke KOta Takengon yang masih dalam perbaikan dan perluasan. Kota Takengon adalah ibu kota Aceh Tengah. Terletak persis di dekat Danau Laut Tawar nan eksotik.


Salah satu pasar tradisonal di Takengon. Di sini kita bisa dapatkan berbagai oleh-oleh khas Gayo. Mau ikan depik? Nah, di pasar ini bisa diperoleh. Tapi kalau mau yang segar dan masih mentah silahkan tangkap sendiri di dalam danau. Heheh


Kalau Capek, bisa istirakat di cafe-cafe yang ada di KOta Takengon sambil makan mie goreng Spesial Khat Takengon dan jus melon.


Atu minum segelas kopi Gayo yang Sruuuppp.... maknyuusss.


Mari kita berjalan mengelilingi Danau Laut Tawar. Tidak ada kenderaan umum yang khusus disediakan untuk wisatawan. Kalau anda mau melakukannya, maka carilah teman atau kenalan, atau siapa saja yang bisa anda ajak untuk melakukan ini. Kebetulsan saya punya teman di sana, saya memakai motornya untuk mengelilingi danau.


Satu sisi Danau yang teramat indah untuk dilewati. Duduk di atas tempat pemancingan milik masyarakat sambil menunggu ikan-ikan memakan umpan.


Sisi lain dari Danau Laut Tawar dengan pemandangan masyarakat yang sedang mencari ikan. Ada ikan Depik yang menjadi trade mark Danu LAut TAwar. Sayangnya populasi ikan ini semakin berkurang. Mungkin karean terlalu banyak orang yang suka, sehinga banyak pula yang diambil oleh nelayan.


Sebuah Gua yang ada di pinggir Danau Laut Tawar yang penh misteri. Saya tidak pernah masuk ke dalamnya.


Sebuah bangunan yang dibuat oleh TNI di Bintang, daerah sebelah Timur Danau LAut Tawar. Di dekat tugu ini sering juga dilaksanakan pacuan kuda tradisional. Beberapa warung kopi menghadap Danau sangat cocok untuk istirahat dan bersantai sejenak.


Kopi adalah tanaman yang banayk tumbuh di Tanoh Gayo. KArenanya di mana-mana kita bisa dapatkan segelas kopi yang nikmat.


Beberapa hiasan yang terbuat dari akar kopi. Hiasan kerajinan tangan ini agak sulit diperoleh, biasanya hanya ada di rumah penduduk dan tidak di jual di pasar.


Seorang anak dengan pakaian adat Gayo.

Aslinya, foto-foto ini ada di: www.sehatihsan.blogspot.com

15 February 2010

Cinta Anak Alam: Cerita Dari Wonodadi (4)


Anak-anak memiliki bahasa yang sama, bahasa cinta dan kasih sayang yang tulus. Di mana saja mereka terbebas dari kepentingan, prasangka dan kemunafikan. Ketulusan yang ditunjukkan anak-anak Wonodadi, sebuah dusun pedalama Jawa Tengah, selama saya berada di lapangan adalah salah satu contohnya. Mereka mengungkapkan persahabatan dengan jujur tanpa mengharapkan balasan. Mereka menunjukkan perhatian dengan tulus tanpa meminta imbalan. Mereka membantu dengan iklas dan sepenuh hati. Beberapa pengalaman berikut adalah bukti itu semua.

Suatu sore, anak-anak berkumpul di depan rumah di mana saya tinggal. Saya tidak tahu kapan, namun mereka mengatakan saya berjanji untuk main-main ke pemandian di atas gunung yang dikenal dengan Kali Sepi (saya tidak tahu kenapa namanya sepi, meskipun memang di sana sangat sepi karena di lereng gunung). Saat itu jam masih menunjukkan pukul 12 siang. Di Wonodadi, jam 12 siang sama sekali tidak terasa terik mata hari. Tanah selalu dilindungi awan dari sengatan matahari. Karenanya, meskipun tengah hari bukanlah saat yang terik kalau mau melakukan perjalanan.

Saya sebenarnya sedikit malas untuk pergi mandi sebab ini siang hari dan sedang ada pekerjaan (menulis cacatatan lapangan). Lalu saya katakan kalau saya khawatir akan terjadi hujan dan mengajak mereka mandi keesokan hari saja. Sebab biasanya siang hujan akan turun meskipun nampaknya matahari bersinar terang. Namun alasan ini kurang diterima oleh anak-anak itu. Mereka tetap mengajak saya untuk pergi ke pemandian. Saya tidak punya alasan lain. Saya meminta mereka menunggu sampai anak-anak kelas lima dan enam pulang dari sekolah mereka. Nampak mereka bersabar.
Setelah semua anak berkumpul kami pergi menunju pemandian. Hampir semua anak di dusun ini ikut bersama. Ada beberapa yang, karena masih terlalu kecil, tidak mau ikut karena karena terlalu jauh. Beberapa orang warga yang lewat menanyakan ke mana kami mau pergi dan saya jawab mau main-main bersama anak-anak dusun, dan mereka paham dengan kenyataan ini. Saya tidak mendengar ungkapan, “hati-hati ya,” dari para orang tua yang melihat anaknya dalam rombongan itu. Kemungknan bagi mereka ini sudah biasa dan mereka sudah selalu melihat anaknya naik ke sana.

Saat anak-anak sedang asik mandi, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Saya mengajak mereka naik ke darat dan segera pulang. Semuanya bergegas naik dan mengenakan pakaian. Hujan terus turun dengan sangat lebat dan mereka berpakaian cepat-cepat dan segera beranjak pulang. Kami berjalan buru-buru pulang karena hujan semakin deras. Tidak jauh dari tempat permandian kami sudah basah kuyup. Beberapa anak perempuan mengambil daun keladi besar sebagai payung. Namun angin yang kencang menerbangkan payung itu. Mereka berlari kembali. Tiba-tiba dari belakang seorang anak laki-laki menawarkan saya daun pisang yang entah diambil di mana dan bagaimana. Sebuah daun pisang kecil tentu tidak cukup melindungi dari guyuran hujan. Namun tidak mungkin juga menolak pemberian itu. Saya mengucapkan terima kasih dan mengambil daun pisang tersebut. Saya terus berjalan dalam hujan itu dengan cepat dan meminta anak-anak juga berjalan cepat.

Saat melewati anak perempuan, seorang anak perempuan mengatakan meminta maaf kepada saya karena mengajak saya ke pemandian sehingga menjadi basah. Padahal saya sebelum berangkat sudah mengatakan kalau hujan mau turun dan menawarkan pergi ke pemandian keesokan harinya. Namun mereka memaksa untuk tetap pergi lalu saya ikut pergi. Jadinya sekarang kami semua basah kuyup. Saya mengatakan tidak apa-apa dan tidak ada yang salah. Mereka mengkhawatirkan saya kemasukan angin dan sakit. Saya mengatakan tidak masalah, sebab kalau masuk angin nanti saya akan keluarkan di kelas saat mengajar. Dan mereka tertawa.

Pada suatu pagi yang lain, saya mengajak mereka jalan-jalan sebelum kelas dimulai. Kami jalan-jalan ke jembatan besar di mana turbin listrik diletakkan. Jalan menuju ke sana lebih terjal dibandingkan dengan jalan pemandian yang penah kami lewati sebelumnya. Jalan ini terbuat dari batu gunung yang dipecahkan dan disusun rapi. Kami berjalan menurun sedikit demi sedikit. Bekas hujan malam tadi menyebabkan jalanya mash dan licin. Saya harus selalu mengingatkan anak-anak agar hati-hati. Sebab dalam pandangan saya mereka terlalu ceroboh dan buru-buru. Mungkin saja ini hanya pandangan saya, sebab kenyataannya mereka memang selalu berjalan cepat pada jalan seperti itu. Turun ke jembatan memang membutuhkan energi besar. Jalan yang terjal dan licin membutuhkan kehati-hatian yang besar.

Kami hanya berfoto bersama di jembatan dan melihat-lihat sungai dengan air yang mengalir deras. Setelah berfoto bersama saya dan anak-anak mau kembali ke sekolah. Kembali ke sekolah berarti harus menempuh jalan menanjak yang terjal dan licin yang tadi kami turuni. Baru beberapa meter berjalan saya sudah merasakan kelelahan dan ini langsung nampak pada anak-anak. Saya berjalan sangat lambat dan dengan nafas tersengal-sengal. Sesekali saya menompang tangan di lutut untuk menambah tenaga. Melihat ini beberapa anak perempuan langsung memberikan bantuan dengan mendorong saya. Tiga anak perempuan meletakkan kedua tangannya di pinggul saya dan mendorong saya ke depan. Terasa lebih nyaman dan kuat. Namun hal ini tidak mungkin saya lakukan karena akan menjadikan mereka lebih capek. Bagaimanapun kami sedang menempuh jalan yang sama dengan tanjakan yang sama. Namun mereka tidak mengindahkan larangan saya dan terus mendorong. Sampai akhirnya saya harus memegang tangan kecil itu dan memindahkannya.

Kami kembali berjalan sampai ke atas. Saya sangat kelehan. Keringat keluar mengalir membasahi baju. Begitu sampai di tanah yang datar saya langsung duduk di sebuah kayu balok yang akan dijadikan papan cor. Beberapa anak-anak meminta izin pada saya untuk minum. Mereka pergi ke arah perumahan di belakang sekolah. Sekejap kemudian mereka datang kembali dengan membawa segelas air dan memberikan kepada saya. “Mas kan capek,” katanya.


11 February 2010

Lut Kucak: Danau Yang Terlupakan

Pertengahan tahun 2009 yang lalu, dalam sebuah kunjungan lapangan untuk penelitian saya di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, saya mengunjungi sebuah danau yang masyarakat di sana menyebutnya dengan Lut Kucak. Danau ini berada di puncak gunung sebelah Utara Bener Meriah. Lut berarti laut atau danau. Orang Gayo menyebutkan Lut Tawar untuk Danau Laut Tawar yang ada di Takengon. Dan danau ini mereka sebut dengan Lut Kucak. Saya tidak tahu apa arti Kucak.
Untuk mencapai Lut Kucak kami harus naik sepeda motor khusus yang telah dimodifikasi. Dari Simpang Tiga, ibu kota Bener Meriah, hanya menempuh jalan lebih kuran 5 km. setelah itu kami menempuh sebuah jalan made in rakyat yang kecil, menanjak dan terus menanjak. Di sisi kanan jalan adalah gunung yang nampak mejulang. Sementara di sisi kiri adalah perkebunan rakyat yang menanam berbagai macam komoditas perrtanian, seperti kol, wortel, kentang dan lainnya. Saya heran juga bagaimana mereka bertani di lereng itu, bagaimana mereka mengangkut hasil panen, bagaimana mereka bekerja di lereng yang sangat terjal. Namun ini adalah nyata, kenyataan yang tak terbantahkan. Perkebunan rakyat menghiasi semua lereng gunung menunju Lut.
Dalam perjalanan itu kami mengalami musibah. Ban belakang sepeda motor kami bocor sebelum sampai ke Lut. Kami jadi ragu apakah akan melanjutkan atau tidak. Sebab menurut Fakhruddin, posisi kami masih setengah dari jalan menuju Lut. Setelah melalui beberapa pertimbagan, antara lain pasti ini kesemptan langka bisa menuju ke sana, maka kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Namun kami terpaksa berjalan kaki untuk menapai tujuan itu. Sepeda motor kami tinggalkan di pinggir jalan.

Perjalanan mencapai Lut ternyata masih sangat jauh. Apalagi jalan menanjak dan sangat terjal. Saya meminta berhenti berkali-kali untuk menarik nafas dan istirahat. Sekali, karena sangat capek kami berbaring di jalan yang agak rindang. Fakhruddin mengambil daun pisang hutan (Aceh: pisang bue) sebagai alas tidur. Ia mengatakan kalau daun pisang itu punya nilai mistik tersendiri. Saya diam saja dan mencoba menikmati. Ternyata ia benar, daun pisang itu terasa sangat tebal. Padahal saya tidur di atas bebatuan kecil yang tidak rata, namun dengan daun pisang itu, semua terasa berbeda. Runcingan batu yang ada justru terasa datar dan lembut. Saya merentangkan tangan dan kaki. Melepaskan segala penat. Melemaskan semua organ. Mengangkat sedikit baju sampai ke dada agar udara segar masuk ke kulit. Hasilnya sungguh ajaib. Sebuah kesegaran baru meresap dalam tubuh. Namun saya sudah sangat haus. Saya mengandalkan jurus pasrah dan berdoa dalam hati semoga ada bantuan tak-terduga yang dikirimkan Allah untuk kami yang sedang menderita ini.

Kami berdua melanjutkan perjalanan ke puncak yang memang tidak terlalu jauh lagi. Namun saya berhenti dua kali lagi. Duduk sebentar melepaskan lelah lalu jalan lagi. Dan, dalam di ujung perjalanan, hawa segar mulai terasa. Ada udara dingin yang meiup. Saya bayangkan itu adalah udara dari lut yang ada di balik gunung ini. Saya membayangkan lut yang luas dan hijau yangm membentang lebar membentuk kolam besar. Di atasnya berlayar beberapa nelayan dengan pancing di tanggannya. Atau di sekitarnya banyak pemanjing yang berjejer yang mencoba mengadu nasip ada kebutuhan ikan akan makanan.

Saat teman saya mengatakan: ini danaunya, saya sempat terkejut dan sedikit kecewa. Saya mendapatkan danau ini bukan seperti danau yang saya bayangkan, namun lebih seperti rawa-rawa di sawah. Memang letaknya dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi dan hutan belantara yang masih hijau. Bahkan di bagian Baratnya adalah gunung merapi yang masih diam namun punya potensi batuk-batuk mengeluarkan isinya. Namun ini memang agak sulit dikatakan sebagai sebuah danau. Pada masa lalu mungkin saja, namun sekarang ini adalah sebuah kubangan besar yang keruh coklat dikelilingi oleh lembah yang ditumbuhi rumput. Beberapa orang memancing di pinggirnya.

Di puncak gunung yang menghadap ke sana ada perkebunan masyarakat. Seperti banyak daerah di lereng gunung dalam perjalanan ke sana, perkebunan ini sangat jauh dari dataran. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mereka dapat membawa turun hasil penennya. Oke, jika itu hanya sata atau dua kilogram. Namun dengan luas lahan yang –saya perkirakan- setengah hektar ini, mungkin akan menghasilakan puluhan kilogram sayuran. Bagaimana mungkin mereka mengangkut ke bawah? Etahlah. Terkadang kebutuhan akan uang dapat menciptakan berbagai keanehan dalam kehidupan yang sulit dipahami.
Sayangnya pembukaan lahan untuk perkembunan ini mengorbankan banyak pepohonan.

Puncak gunung ini sudah gundul, sudah tidak berpohon lagi. Hanya ada beberapa bagin yang masih dipenuhi pepohonan dan ditutupi hutan lebat. Namun itu juga nampaknya hanya menunggu waktu untuk dikorbankan. Tidak lama lagi, saya yakin, semuanya juga akan gundul. Betapa sayangnya mereka, hanya kaena kepentingan ekonomi sesaat, hutan ditebang dan malapetaka mengancam banyak orang yang berada di lereng sana. Ada banyak perkampungan di bawah sana yang terancam dengan berbagai tindakan tidak sadar dari sebagain anggota masyarakat.

Beberapa orang memancing di pinggiran danau. Saya tidak tahu apakah di sini ada ikan khasnya atau tidak. Namun mereka nampak tetap bersemangat memancing di bawah teriknya matahari siang. Menurut teman saya ikan di sini ikan kecil-kecil. Sedikit lebih besar dari ikan depik yang khas di danau laut tawar. Saya tidak tahu bentuknya dan bagimana rasanya. Saya juga tidak melihat ada orang yang mendapatkan ikan atau membawa pulang hasil pancingannya.

Air danau keruh terlihat keruh dan tidak segar. Mungkin dedaunan pohon yang jatuh kesana menjadikan airnya kotor, coklat kehitam-hitaman. Saat berjalan di pinggirnya terasa seperti berada di atas pelampung. Menurut teman saya di bawah tanah yang kami injak ada air danau. Tanah itu menutupi bagian atas danau saja, sementara di abgian bawahnya tetap masih ada air. Dan air itulah yang mengalir ke sungai-sungai masyarakat yang ada di perkampunagn di bawahnya. Sehingga jika terus digunduli hutan di sekitarnya, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi longsor dan air yang ada di danau ini tumpah ke perkampungan.

Banyak pohon besar di samping danau. Bahkan kami makan di bawah sebuah pohon besar yang nampak tidak pernah disinggahi manusia. Di bawahnya terasa sangat dingin dan nyaman. Dari pohon yang kami singgahi nampak kalau danau Lut Kucak ini semakin mengecil. Dulu, kata teman saya, saat ia masih kecil, danau ini terasa lebih lebar. Dengan turunnya tanah di badan gunung yang telah digunduli, danau sedikit demi sedikit semakin tertutup dan mengecil. Bahkan tidak tertutup kemungkinan danau ini akan tertutup dengan tanah di bgian atasnya dan menghilang dari pandangan mata.
Andai pemerintah Bener Meriah peduli dengan kondisi danau ini, saya yakin ia akan menjadi objek wisata yang menarik. Dari puncak gunung di mana danau itu berada kita bisa saksikan pemendangan luas kabupaten Bener Meriah dan puncak gunung merapi di bagian Baratnya. Di sekitar danau juga ada sumber air panas yang bisa dijadikan obejk wisaya tambahan. Apalagi di sana juga ada kuburan Belanda yang bisa menjadi objek wisata sejarah. Danau Laut Kucak bisa menjadi sebuah paket wisata yang menarik. Hanya perlu pengelolaan dan pembuatan jalan yang lebih baik untuk menuju ke sana.

06 February 2010

“Agama Itu Sama Saja, Yang Penting Akhlaknya (3)”

Judul di atas adalah ungkapan dari seorang pengikut tarekat Shiddiqiyah, warga Wonodadi di mana saya melakukan kunjungan lapangan selama dua minggu. Baginya, Islam, Kristen, Budha, Hindu dan agama lainnya, atau bahkan tidak bergama sekalipun adalah sama saja dalam menempuh hidup di dunia ini. Sama-sama manusia dan sama-sama ciptaan Allah. Kalau kemudian mereka berbeda dalam memahaminya, maka itu adalah sebuah kewajaran karena Allah sendiri menciptakan manusia itu dalam keberagaman, termasuk dalam berfikir. Jadi berbagai agama, berbagai kepercayaan, berbagai keyakinan baik dalam agama yang berbeda atau dalam satu agama tertentu sebagai sebuah hal yang wajar saja. Yang penting adalah terbangunnya rasa saling menghormati dan memupuk keberagaman itu untuk kebaikan bersama.

Pak Tahir, demikian nama bapak yang saya temui itu adalah salah seorang anggota tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Tarekat ini masuk ke sana belasan tahun yang lalu. Semula dibawa oleh seorang guru SD yang sekarang sudah pindah, lalu bermunculan tokoh lokal di Wonodadi sendiri. Menurut sejarahnya, tarekat Shiddiqiyah dikembangkan pertama kali oleh Kiai Muhammad Mukhtar Luthfi dari Jombang, Jawa Timur. Tarekat ini bertujuan mendapatkan ridha Allah dalam menjalani kehidupan di dunia. Dalam pemahaman mereka, tarekat adalah tingkatan dalam beragama setelah syariat. Seseorang tidak cukup hanya melaksanakan syariat saja, namun perlu juga melaksanakan tarekat untuk kesempurnaan beragama. Dengan tarekat seseorang akan lebih banyak amalannya dalam beribadah.

Kehadiran tarekat Shiddiqiyah awalnya ditentang oleh sebagian masyarakat Wonodadi karena dianggap sebagai agama baru. Namun saat saya berada di sana penentangan itu tidak nampak lagi. Mungkin saja mereka yang menentang tidak paham dengan apa yang dilakukan jamaah tarekat. Atau jamaah tarekat yang mampu menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan tidak lain sebagai sebuah pelaksanaan ajaran agama juga. Saya belum mendapatkan jawaban. Yang pasti, saat ini hampir setengah masyarakat Wonodadi adalah anggota jamaah Shiddiqiyah. Di pinggiran sebuah hutan tidak jauh dari perkampungan dibangun sebuah gubuk zikir yang khusus digunakan untuk berzikir bagi jamaah Tarekat Shiddiqiyah.

Tarekat Shiddiqiyah adalah sebuah tarekat yang mengusung semboyan kedamaian hidup berbangsa dan bertanah air Indonesia. Saya mengikuti dua kali kausaran, sebuah pengajian tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Dalam pengantarnya yang memakai Bahasa Jawa yang tidak sepenuhnya saya pahami, pemimpin tarekat menjelaskan bahwa doa tarekat ditujukan untuk kedamaian hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan berbangsa dan bertanah air Indonesia. Dalam pengantar itu juga dijelaskan kenapa kedamaian itu perlu. Antara lain karena dalam damai sebuah kedekatan dan silaturahim akan terbina. Silaturahim dengan manusia dan alam, serta silaturahim dengan Allah. Dalam damai pula sebuah peradaban akan tumbuh, sebuah kesejahteraan akan muncul dan keadilan akan bisa diwujudkan.

Wujud kecintaan kepada kemanusiaan jamaah tarekat Wonodadi memupuk semangat saling membantu dalam kehidupan dunia dan kehiudpan spiritual. Dalam kehiudpan duniawi, dusun kecil Wonodadi ikut memberikan sumbangan untuk berbagai musibah yang menimpa masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Menurut Pak Rahmat, sesepuh tarekat di Wonodadi, saat gempa Bantul dan Sumatera Barat, mereka menyumbangkan sejumlah uang yang disatukan dengan sumbangan jamaah Shiddiqiyah yang lain dari seluaruh Indonesia. Dalam bentuk spiritual, mereka mengadakan kausaran selama empat puluh hari pasca gampa. Dalam kausaran mereka berzikir dan berdoa agar apa yang menimpa masyarakat di daerah bencana tertasi dan mereka diberi ketabahan oleh Allah.

Dusun Wonodadi memang terpencil dari transportasi dan komunikasi. Namun masyarakat di sana memiliki pandangan luas tentang kemanusiaan. Semangat membantu, semangat menghargai, semangat memahami jauh melampaui batas-batas dusun mereka yang kecil dan sempit. Boleh saja jalan tidak ada, namun itu tidak menciutkan jalan mereka untuk membantu. Boleh saya komunikasi terbatas, namun itu didak menghalangi mereka untuk menjalin persaudaraan dengan berbagai masyarakat lain di Indonesia, meskipun memlalui doa.


05 February 2010

Kenapa Orang Jawa Tidak Mau Memberontak?

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya: Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa. Kali ini saya ingin berbagai cerita tentang pandangan masyarakat Wonodadi mengenai pemerintah dan berbagai “kezaliman” yang dilakukan pemerintah kepada mereka. Sebenarnya saya ingin menjawab pertanyaan yang sempat saya ajukan pada diri saya sendiri sebelum saya pergi dan tinggal di sebuah rumah pedalaman Jawa selama dua minggu: kenapa masyarakat Jawa tidak memberontak pada NKRI? Namun setelah tinggal di sana saya tetap tidak bisa menjawabnya. Selain karena saya hanya tinggal selama dua minggu, keterbatasan komunikasi karena faktor bahasa membuat saya tidak dapat maksimal mengeksplorasi pandangan hidup mereka. Beberapa kejadian yang saya alami di sana sedikit mengarah ke jawaban pertanyaan saya. Namun saya tidak berani menyimpulkan apapun.

Suatu hari di Wonodadi saya pergi dengan Pak Nurdin yang hendak mencari rumput untuk pakan kambing peliharaannya. Untuk mencari rumput, kami perlu mendaki sebuah gunung yang becek namun tidak terlalu terjal. Di sana ditanam rumput gajah untuk pakan sapi dan hidup secara liar rambatan untuk makanan kambing. Di sela-sela mencari rambatan saya berdiskusi dengan Pak Nurdin mengenai kehidupan mereka. Dari diskusi itu antara lain Pak Nurdin mengatakan kalau dusunnya sekarang semakin sulit. Masyarakat semakin banyak, sementara tanah tidak bertambah. Hutan yang ada di sekeliling dusun juga milik Perhutani. Kalau ada tanaman di sana, misalnya kopi, harus membayar pajak kepada Perhutani setiap tahun. Katanya uang keamanan. Masyarakat diperbolehkan mengambil getah Pinus milik perhutani. Namun mereka harus membawa ke tempat penampungan di kecamatan. Dan itu dengan berjalan kaki menelusuri jalan pegunungan yang sangat susah. Padahal per kilogram Perhutani hanya membayar Rp. 2.000,- Harga ini menurut Pak Nurdin sangat tidak sesuai dengan kerja keras yang mereka lakukan dalam mendapatkan getah Pinus.

Saya bertanya, kalau Bapak merasa tidak adil, kenapa bapak tidak sampaikan kepada mereka? Pak Nurdin mengatakan: “Susah Mas, kalau disampaikan nanti malah ngak dapat apa-apa lagi. Lagian, meskipun harga getah murah dan susah membawanya, kita kan tetap bisa menanam kopi dan mendapatkan hasil kopi setiap tahun. Apalagi kalau nanam kopi di kebun Perhutani kopinya aman dan tidak diganggu. Paling ada orang-orang nakal yang mengambil sedikit. Kita biarkan saja.”

Di hari yang lain saya pergi ke Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan. Kajen adalah kota kecil yang nampaknya tidak ada geliat pembangunan. Saya mencari-cari batik pekalongan di Kajen, tapi tidak menemukan. Menurut info dari seorang warga yang saya tanyai, Batik Pekalongan banyak dijual di Pekalongan Kota. Saat naik angkot, saya duduk di depan dan berbincang-bincang dengan sopir angkot. Antara lain saya menanyakan mengenai pembangunan yang dilakukan oleh bupati mereka yang perempuan. Katanya, bupati sekarang hanya fokus dalam mambangun rumah ibadah. Dalam beberapa tahun terkahir kepemimpinannya, beberapa masjid besar dibangun, dan banyak sumbangan untuk masjid-masjid kecil. Ia tidak membangun jalan dan sarana publik yang lain.

Saya katakan pada Sopir, kalau itu suatu hal yang bagus, siapa tahu dari situ akan lahir kader-kader terbaik Pekalongan yang dapat membangun kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Bang Sopir mengatakan, “kalau niatnya begitu tidak masalah. Tapi ini kan dia (bupati) mau menutup aib setelah kasus perselingkuhannya dengan wakil bupati terbongkar dan diketahui masyarakat banyak.” Kalau anda tahu mereka berslingkuh kenapa di didemo atau digugat sama-sama ke pengadilan? Kenapa dewan diam saja? Jangan-jangan itu main-mainan lawan politik mereka saja? Sopir nampak serius dan mengatakan. Benar lho mereka selingkuh. Tapi kan tidak ada yang berani melapor dan menggugat. Kalau mahasiswa berani mendemo SBY, karena mereka tidak dapat apa-apa dari SBY. Tapi mahasiswa takut demo sama bupati, nanti mereka tidak mendapat bantuan lagi.

Saat duduk di pangkalan ojek menunggu doplak yang akan membawa saya pulang ke Wonodadi, saya berbincang dengan tukang ojek mengenai pembangunan di bawah pemerintahan bupati Pekalongan sekarang ini. Jawabannya sedikit berbeda dengan Sopir Angkot. Katanya bupati hanya fokus membangun pasar. Di mana-mana pasar dibangun, diperluas dan dilengkapi dengan fasilitas yang bagus. Tapi bupati tidak membangun jalan. Di mana-mana jalan rusak dan tidak diperbaiki. Saya mengatakan kalau pasar itu kebutuhan banyak orang dan memang diperlukan dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Namun Bang Ojek mengatakan itu semua dilakukan untuk menutupi berita perselingkuhannya dengan wakil bupati. Saya sedikit komentar: kalau masyarakat tahu bupatinya selingkuh dan memiliki bukti, kenapa diam saja? Bang Ojek menjawab: “Wah… di sini susah mas. Orang kalau sudah bisa hidup, dapat makan seadanya, sudah cukup. Tidak mau ribut-ribut. Mahasiswa saja yang biasanya suka demo juga diam saja, apalagi masyarakat seperti saya ini, bagusan nrimo saja. Kan kata orang-orang tua dulu, nrimo itu pangkal kebahagiaan.”

03 February 2010

Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa (1)

Dua minggu terakhir bulan Januari 2010 yang mengkuti pelatihan penelitian etnografi dengan taman-teman dari Jurusan Antropologi UGM Jogjakarta. Pelatihan ini langsung menempatkan mahasiswa di lapangan selama dua minggu. Kali ini, lapangan yang dipilih adalah dua kecamatan di Kab. Pekalongan Jawa Tengah, yaitu Kec. Lebakbarang dan Kec. Petungkroyono. Kedua kecamatan ini berada dalam hutan dan memiliki jalan akases yang agak sulit ke kota. Tingkat kesulitannya berbeda-beda. Sebagian besar dusun di Kec. Lebak Barang jauh lebih mudah diakses sarana transportasi dibandingkan dengan kebanyakan dusun di Petungkriyono. Saya sendiri dikirim ke dusun Wonodadi, Kec. Petungkriyono bersama dengan seorang mahasiswa Antropologi UGM semester lima.

Perjalanan Panjang dan Melelahkan

Perjalanan ke Wonodadi kami mulai dari Jogja dengan bus selama enam jam. Kami berhenti di Simpang Durian Kec. Karanganyar, Pekalongan. Dari sana kami naik “doplak”, sebutan masyarakat di sana untuk minibus pickup, menuju lokasi. Perjalanan dengan doplak menghabiskan waktu tiga jam melewati perkampungan dan perkebunan. Setelah satu jam perjalanan mulai mendaki gunung dengan jurang di sebelah kanan dan tebing curam di sebelah kiri. Beberapa kali kami terasa sampai ke puncak gunung yang diselimuti kabut dan samar-samar melihat tumpukan-tumpuan pemukiman di lereng gunung yang lain. Tumpukan pemukiman itu adalah dusun-dusun yang dihuni oleh masyarakat. Di sekitarnya terlihat hutan belantara yang hijau.

Ketika jalan sudah berakhir dan tidak bisa ditempuh lagi dengan doplak, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 2 km. Perjalanan ini harus menempuh sebuah turunan curam dan tanjakan terjal. Turunan ini basah dan becek karena terus diguyur hujan. Di sisi kiri saya terlihat persawahan masyarakat yang bertingkat dan membentang luas sampai ke lembah. Sementara di sisi kanan beberapa buah air terjun kecil menghiasi jalan. Air tersebut mengalir di sisi jalan bahkan banyak yang masuk ke area jalan hingga jalan menjadi sangat basah. Belakangan saya ketahui jalan itu adalah jalan yang dibuat sendiri oleh masyarakat secara kerja sama. Mereka butuh waktu empat tahun untuk menyelesaikan jalan 2 km tersebut. Saya membutuhkan istirahat tiga kali sebelum sampai ke dusun. Olah raga yang kurang dan tidak terbiasa mungkin menjadi penyebabnya. Seorang laki-laki yang melihat saya kelelahan saat mendaki jalan yang menuju ke dusun menawarkan bantuannya. Ia mengangkat tas pakaian saya dan membawa kami ke rumah kepala Dusun Wonodadi.

Wonodadi, Dusun Yang Baru Merdeka

Dusun Wonodadi adalah sebuah dusun di Desa Songowedi Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Dusun ini dipimpin oleh seorang laki-laki paruh baya yang dipilih oleh masyarakat. Namun karena ia tidak memiliki ijazah SMP, sebagai persyaratan untuk menjadi kepala dusun, maka secara administratif pemerintahan SK kepala dusun dibuat atas nama anak laki-lakinya. Di dusun ini jarang sekali ada orang yang berusia paruh baya memiliki ijazah. Bahkan banyak masyarakatnya tidak tamat SD. Dua bulan yang lalu ada program dari UGM Jogja melaksanakan sekolah buta aksara dan banyak warga yang mengaku ikut program itu. Sayangnya setelah program itu berakhir, berakhir pula kegiatan baca tulis dalam masyarakat.

Ini semua terjadi karena Wonodadi baru saja merdeka dari isolasi kehidupan. Dibuatnya jalan oleh masyarakat empat tahun yang lalu mengawali terbukanya akses ke Wonodadi. Program PNPM membantu membuat jalan setapak yang menanjak dari Wonodadi ke kelurahan. Pemerintah membantu membuat sebuah jembatan yang kokoh sehingga pada “musim terang”, istilah masyarakat untuk musim kemarau, mobil tertentu bisa masuk ke Wonodadi. Sebuah turbin pembangkit listrik tenaga air diletakkan di dekat jembatan. Turbin inilah yang menjadikan kehidupan malam masyaraat Wonodadi lebih terang. Dan itu baru terjadi setahun terakhir. Jembatan dan turbin listrik adalah awal “kemerdekaan” masyarakat. Saat ini mereka sudah bisa menenton televisi dan membuat rumah dari semen. Sebuah masjid beton yang nampak kokoh berdiri di tengah dusun.

Hidup dari Alam


Setiap pagi laki-laki dan perempuan berjalan ke arah Selatan Dusun. Di sanalah gunung di mana masyarakat mencari rizki untuk kehidupan mereka. Sebuah gunung yang berhutan lebat seolah sebuah supermarket yang menyedikan berbagai keperluan hidup masyarakat. Di sana tumbuh ratusan pohon aren, kopi, dan cengkeh. Aren diambil oleh masyarakat setiap hari yang kemudian diolah menjadi gula jawa. Sementara kopi dan cengkeh hanya dipanen sekali dalam setahun ketika sampai musimnya. Di lereng-lereng gunung masyarakat menanam padi sepanjang tahun. Sampai saat saya berada di sana mereka belum pernah merasakan musim kering dan gagal penen karena ketersediaan air yang cukup. Semua padi disimpan dan dikonsumsi sendiri. Menjual padi sebuah hal yang tabu bagi masyarakat. Itu hanya dilakukan kalau mereka benar-benar tidak memiliki sesuatu yang lain untuk dimakan.

Masyarakat sangat tergantung dengan hasil yang diberikan alam. Aren, kopi dan cengkeh adalah tanaman yang tidak perlu perawatan dan pemupukan. Ia tumbuh sendiri dengan subur. Masyarakat hanya mebersihkan di bagian bawahnya sesekali. Beberapa warga yang saya temui bahkan tidak mengetahui siapa yang menanam kopi dan cengkeh di kebunnya. Sejak ia lahir kopi dan cengkeh itu sudah ada di sana dan dia hanya mengambilnya. Ia juga tidak pernah bertanya pada Bapaknya, apakah ia pernah menanam tanaman tersebut. Kenyataannya saat ini pohon-pohon itulah yang menghidupi mereka.
Satu-satunya sumber ekonomi yang terencana adalah peternakan sapi. Hampir semua masyarakat memelihara sapi di kebunnya. Sapi-sapi itu dikurung saja dan tidak dilepaskan. Saban hari mereka mencari rumput untuk makanan sapi. Rumput makanan sapi dicarikan oleh perempuan dan laki-laki. Perempuan yang menggendong seikat besar rumput makanan sapi di punggungnya adalah hal yang biasa dan lumarah saja di Wonodadi. Ini dilakukan di lereng-lereng terjal dan tanjakan atau turunan.

Bersambung....



02 February 2010

Pejabat Kehutanan yang Tinggal di Kota

Dalam sebuah perjalanan Jogjakarta-Jakarta, di sisi saya duduk seorang bapak dengan baju jas hitam. Rambut dan sepatunya sama-sama disemir hitam mengkilat dan nampak licin. Mungkin ini salah satu trik agar lalat tidak hinggap. Sebab jika ia berani hinggap pasti akan terpeleset dan jatuh, sebab sangat licin. Perutnya nampak agak besar hingga pahanya seolah memangku perut tersebut. Ia duduk di kursi A, tepat di pinggir jendela. Sementara saya di B, persis di sebelah kanannya. Bangku yang kecil di pesawat membuat lengan kiri saya dan lengan kanannya beradu pada sebuah sandaran tangan kursi pesawat. Kami saling menatap dan tersenyum.
Saya memberanikan diri menyapa, menanyakan tujuan perjalanannya. Ternyata ia mau pergi ke Medan, namun akan singgah sebentar di Jakarta untuk sebuah urusan. Ia bukan orang Medan, tapi Jawa Timur, hanya saja ia bekerja di Medan. Saya memberanikan diri bertanya lebih jauh, apakah ia bekerja swasta atau pemerintah. Ternyata dia adalah pejabat di Departemen Kehutanan. Dia baru dua bulan ditugaskan di Medan. Sebelumnya ia bekerja di Jakarta di kantor Menteri Kehutanan. Ia juga sedikit menjelaskan tentang keluarganya. Penjelasannya yang panjang lebar dan lengkap membuat saya tidak canggung untuk bercakap-cakap lebih banyak tentang diri dan pandangannya mengenai berbagai masalah kehutanan di Indonesia.

Saya mulai dengan mengatakan kalau saya baru pulang dari Jawa Tengah, tepatnya di Kab. Pekalongan. Sudah dua minggu belakangan saya tinggal di sebuah rumah penduduk di pedalaman Jawa Tengah. Rumah tersebut berada di dalam hutan. Butuh waktu 4 jam naik L300 pickup untuk sampai di sana, plus 2 jam jalan kaki dengan mendaki dan menuruni gunung yang terjal dan becek. Di sana, dalam hutan di mana saya tinggal, banyak dusun-dusun yang berada di berbagai lokasi di puncak dan lereng gunung. Bahkan hapir seluruh desa yang ada di kecamatan itu berada di pedalaman hutan pinus milik Perhutani. Pertanyaan saya, bagaimana status hutan itu? Sebab kalau di Aceh banyak masyarakat yang diusir oleh pemerintah dari kampung mereka karena dianggap tinggal di hutan lindung. Meskipun masyarakat di sana jauh lebih duluan ada dibandingkan dengan status hutan tersebut.

Si Bapak mengatakan kalau saat ini seluruh hutan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur di dikelola oleh PT. Perhutani. Merekalah yang memonopoli sumberdaya hutan yang ada di Jawa. Di Pekalongan, Perhutani menanam pohon pinus. Jadinya, hutan di sana kebanyakan adalah hutan pinus. Nah, menurut si Bapak, penduduk yang ada di sana adalah illegal. Mereka tidak berhak menempati daerah hutan pinus yang dikelola oleh Perhutani. Sebab seluruh hutan Perhutani adalah daerah terlarang untuk domisili penduduk.

Saya berusaha membela penduduk. Saya katakan opini saya kalau penduduk di sana tinggal secara sah dan legal. Buktinya mereka memiliki pemerintahan yang sah dan beberapa fasilitas yang diberikan pemerintah, seperti sebuah jembatan dan sebuah turbin pembangkit listrik tenaga air. Apalagi mereka sudah ada di sana jauh sebelum Indonesia merdeka. Buktinya, ada beberapa kuburan tua di bagian uatra dusun. Ini menunjukkan mereka adalah penduduk sah di sana. Perhutanilah yang mencaplok tanah mereka. Bahkan belakangan lahan pertanian mereka menjadi sempit karena banyak lahan diklaim sebagai milik perhutani. Lebih sedih lagi mereka harus membayar pajak kepada Perhutani karena menanam kopi di lahan Perhutani.

Si Bapak mengemukakan argumennya. Asal muasal penduduk Jawa pedalaman adalah orang pelarian dari kejaran Belanda atau mereka yang memiliki kesalahan dengan pemerintahan yang sah. Mereka tetap di sana hingga sekarang dan tidak mau kembali ke daerah asalnya. Si Bapak juga menyalahkan pemerintah yang mensupport pembangunan ke daerah pedalaman dengan bantuan listrik dan pembangunan jalan. Di satu sisi, katanya, pemerintah ingin membangun hutan lindung, di sisi lain mereka memberikan fasilitas kepada mereka yang ada di pedalaman. Padahal jika pemerintah serius mau membangun bangsa ini, pemerintah harus mengehentikan pembangunan di daerah terpencil sehingga penduduk di sana benar-benar kesulitan lalu mereka melakukan migrasi ke daerah legal di pinggiran jalan negara atau ke kota.

Kita harus jeli melihat, lanjut Si Bapak, bahwa legalitas tinggal di sana bukan hanya dari struktur pemerintahan dan bangunan tua. Sebab itu memang perilaku masyarakat kita, mau tinggal di daerah yang mudah karena kebutuhan hidup mereka disediakan oleh alam. Di sana mereka berkembang sangat cepat karena keluarga tidak ber KB. Akibatnya lahirlah generasi pengangguran, anak jalanan, palacuran, TKW illegal, dan pelaku tindak kriminal. Ini semua karena pemerintah masih toleririr dengan kehidupan masyarakat pedalaman tersebut. Padahal kalau memang mau membangun bangsa, pemerintah harus bersikap tegas melarang mereka tinggal di sana atau jangan subsidi dan bangun fasilitas publik untuk mereka. Mereka pasti akan mulai sadar.

Saya tertunduk, tercengang, kesal dengan ungkapan Si Bapak. Terbayang lagi wajah polos masyarakat pedalaman di mana saya tinggal selama dua minggu. Terbayang semangat kerja mereka, kekompakan mereka, keramahan dan ketulusan mereka, penerimaan mereka pada orang asing yang dianggap sebagai anggota keluarga yang baru pulang dari rantau. Saya terbayang lagi anak-anak yang cerdas dan kreatif, anak muda yang tidak sekolah karena sekolah mahal dan sangat jauh, pasangan muda yang telah memiliki tiga anak yang lucu. Apakah mereka orang Indonesia? Apakah mereka merasakan kalau kita sudah merdeka? Dan, Bapak di samping saya mengatakan mereka warga illegal! Entahlah.



01 February 2010

Seorang Bapak di Dalam Pesawat Terbang

Kemarin, dalam perjalan saya dari Jakarta ke Medan dengan Lion Air, saya duduk tidak jauh dari seorang bapak paruh baya. Saya duduk agak di belakang di seat sebelah kanan dalam. Dari tempat duduk saya jelas nampak si bapak, perilaku dan tindak-tanduknya selama penerbangan. Si Bapak itu nampak rapi dengan jas coklat dan sepatu hitamnya yang mengkilat. Dalam saku kemeja yang ia kenakan tersangkut sebuah pulpen berwarna emas yang memantulkan cahaya lampu dalam pesawat. Dari penampilannya, saya sangat yakin dengan pasti ini bukan pengalaman pertama si Bapak melakukan perjalanan dengan pesawat. Namun dari beberapa tingkahnya, saya ingin belajar untuk ketertiban hidup yang singkat ini.

Saya masuk lebih dahulu dalam pesawat saat kami berangkat dari Jakarta. Saya telah duduk di kursi ketika si Bapak datang sambil menelpon entah siapa. Ia datang dengan sebuah koper besar yang akan dimasukkan ke dalam kabin pesawat. Sesampai di dekat saya ia memperlihatkan tiketnya kepada seorang laki-laki muda yang dipanggilnya Zul. “Coba lihat di mana saya duduk,” katanya. Kumisnya yang terpangkas rapi ternyata tidak menjamin ia mampu melihat tiket sendiri untuk memastikan tempat duduknya. Setelah Zul menunjukkan tempat duduknya, ia meminta Zul mengangkat koper besar itu untuk dimasukkan dalam kabin pesawat. Zul menurut saja. Ia mengangkat koper dan berusaha memasukkan ke dalam kabin. Sayangnya kabin di sekitar ia duduk telah penuh. Ia harus mengatur kembali barang kabin penumpang lain baru kemudian memaksa koper besar itu masuk ke dalam kabin pesawat. Itu semua dilakuan oleh Zul. Si Bapak telah duduk dengan manis sambil membersihkan kacamatanya.

Sesaat sebelum berangkat pramugari memperagakan cara memakai pakaian untuk keselamatan penerbangan. Pramugari yang cantik, berkulit putih, dengan rok yang terbelah sapai ke paha berdiri tidak jauh di depan si Bapak. Si Bapak memperhatikan dengan antusias peragaan itu, dari pertama hingga si pramugari selesai dengan atraksinya. Ini memang sudah seharusnya agar dalam kondisi darurat di udara kita bisa selamat dan bisa sampai ke tujuan dengan selamat pula. Namun si Bapak harus sedikit ditegur oleh pramugasi karena tidak mengindahkan aba-aba untuk menegakkan sandaran kursi sebelum pesawat lepaslandas. Sejak duduk ia sudah menurunkan sandaran kursinya hingga orang yang duduk di belakang sulit masuk ke kursi bagian dalam.

Saat pesawat sudah mulai terbang si Bapak beberapa kali berbicara dengan pramugari. Pertama ia menanyakan di mana kamar kecil. Pramugari mengatakan ada satu kamar kecil di bagian depan dan dua di bagian belakang. Setelah si pramugari lewat, si Bapak tetap duduk dan tidak beranjak ke kamar kecil. Kedua ia menanyakan apakah pesawat yang ditumpanginya berhenti di Medan atau langsung ke Banda Aceh. Pramugari mengatakan pesawat akan transit di Medan dan penumpang yang akan ke Banda Aceh harus naik pesawat lain. Ketiga, si Bapak melihat-lihat produk yang ditawarkan pramugari saat sesi penjualan produk Lion Air. Ia melihat-lihat sebuah topi, mencobanya, menanyakan harga, namun tidak jadi membeli. Mungkin terlalau mahal. Beberapa kali yang lain saya tidak tahu ia berbicara apa lagi. Saya tertidur.

Sesaat kami akan mendarat di Polonia, si Bapak tertidur pulas dengan sandaran yang direbahkan maksimal. Ia tidak mendengar intuksi untuk menegakkan sandaran kursi karena pesawat akan mendarat. Seorang pramugari membangunkannya dengan menepuk pundaknya beberapa kali. Lalu membantu si Bapak menegakkan sandaran kursinya. Saat baru mendarat di Bandara Polonia Medan, si Bapak langsung menelpon Istrinya untuk mengatakan kalau ia transit sebentar di Polonia sebelum melanjutkan ke Banda Aceh ketika pesawat sedang berjalan ke tempat parkirnya. Ia berdiri sebelum pesawat benar-benar berhenti dan mencoba membuka kabin di mana tadi diletakkan kopernya. Ia memanggi Zul untuk mengambil koper tersebut. Zul bangun dengan tergesa dan membantu si Bapak mengambil kopernya. Setelah ia mendapatkan koper, ia mulai bergerak ke depan saat orang-orang mulai berdiri karena pesawat sudah berhenti. Ia berada persis di dekat pintu di muka bangku terdepan, siap turun dari pintu depan. Sebuah suara dari pramugari terdengar: “Bapak dan Ibu kami persilahkan anda turun dari pintu belakang.”

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...