Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Penelitian. Show all posts

17 April 2015

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia ini yang hidup tanpa masalah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, manusia selalu berhadapan dengan berbagai persoalan. Bahkan, saat tidur pun terkadang masalah masih menghampiri. Namun, justru dengan adanya masalah, manusia bisa bertahan hidup. Mereka yang kuat adalah mereka yang mampu mengatasi masalah yang menimpa dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk menghadapi masalah berikutnya.

Namun demikian, “masalah penelitian” sering kali tidak mudah ditemukan oleh semua orang. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang sudah lama belajar di perguruan tinggi, rajin membaca, aktif berdiskusi, dan tergolong “pintar” sekalipun tetap kesulitan menemukan masalah penelitian. Hal ini membuat mereka kesulitan menyelesaikan tugas akhir, seperti skripsi, tesis, atau disertasi.

Berdasarkan pengalaman saya, ada lima trik agar kita bisa menemukan masalah dalam penelitian:

16 September 2014

Autoetnografi: Dari Pengalaman ke Teks

Apa yang paling mudah ditulis? Jawabnya sudah pasti: pengalaman pribadi, sesuatu yang pernah dilakukan, dialami, dan itu sangat berkesan. Berbeda dengan pengetahuan yang sering kali terlupakan, pengalaman seperti terpatri di dalam ingatan seseorang. Semakin berkesan sebuah pengalaman, maka semakin kuat ia melekat dalam ingatan. Memang terkadang ia mengalami degradsai, atau bahkan penambahan dalam beberapa aspek detail, namun substansi sebuah pengalaman tetap tidak akan pernah hilang. 

Sayangnya, seringkali pengalaman personal ini diposisikan sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bisa dipakai sebagai data dalam penelitian. Penelitian yang -selalu dianggap- sangat objektif, berusaha seminimal mungkin menggunakan intervensi pribadi sipeneliti dalam laporannya. Peneliti -dianggap- harus independen, harus tidak memihak, dan harus menyajikan data apa adanya seperti yang ia temukan di lapangan. Ia harus memihak pada data, pada temuan-temuan faktual yang ada tenpam emanipulasinya. Hanya dengan cara seperti itu sebuah masalah dapat dilihat lebih terang dan intervensi atas masalah tersebut bisa dilakukan dengan objektif pula. 

27 February 2012

Wajib Jurnal? Jurnal yang Bagaimana?

Meskipun sudah sedikit mereda, diskusi mengenai wajib menulis di jurnal yang digagas oleh Dikti masih menarik dibahas. Hal ini tidak terlepas dari efek berantai kebijakan ini. Dari semangat menulis, kualitas tulisan hingga kemungkinan menampung tulisan mahasiswa. Jadi baaimanapun keputusan Dikti akan berimplikasi pada banyak sistem di perguruan tinggi di Indonesia.

Paling umum ada dua -katakanlah- kubu yang terbentuk akibat keputusan tersebut. Mereka sama-sama berpijak pada satu keinginan yang mulia yaitu memajukan dunia akademik Indonesia. Hanya saja kelompok yang pro dengan surat Dikti merasa cara "pemaksaan" ala Dikti ini sudah pas karena mau tidak mau orang akan berfikir keras untuk menulis agar ia bisa lulus di sebuah jenjang pendidikan. Sementara kelompok kedua berfikir itu tidak logis sebab kita belum siap dengan fasilias dan sistim pengelolaan jurnal. Kebijakan mendadak seperti ini bukannya akan meningkatkan iklim akademik di perguruan tinggi, malah menjadi pendorong lahirnya tulisan asal-asalan.

Seorang teman saya pengurus sebuah jurnal bersyukur dengan munculnya surat Dikti ini. Ia berharap pemaksaan ala Dikti ini akan meningkatkan jumlah tulisan ilmiah yang akan masuk ke jurnal yang dikelolanya. Selama ini katana, ia sangat sulit mendapatkan tulisan sehingga jurnalnya sering terbit terlambat. Jangankan tulisan yang berbobot, tulisan dengan kualitas biasa saja hampir tidak mencukupi untuk sekali terbit

Dengan adanya surat dikti maka mau-tidak mau mahasiswa akan menulis dan mencari jurnal untuk memuat tulisan mereka. Dalam kondisi seperti ini pengelola jurnal mungkin akan kebanjiran tulisan. Bahkan kalau mau pasang tarif sekalipun akan tetap mendapatkan tulisan (sesuatu yang sulit untuk konteks penerbitan jurnal selama ini).

Menulis itu mudah?

Ada sebuah kecenderungan belakangan ini tentang dunia menulis di Indonesia. Beberapa orang menjadi(kan dirinya) sebagai motivator menulis. Prinsip mereka sama saja: menulis itu mudah. Mereka mengkampanyekan prinsip bahwa cara menulis adalah dengan mulai menulis. Beberapa diantaranya lebih spesifik lagi, misalnya bagaimana menulis di koran, menulis novel, menulis buku dalam seminggu, dan lain sebagainya.

Bahkan setelah keluarnya surat Dikti saya membaca beberapa artikel yang mengatakan menulis di jurnal itu mudah dan juga menyenangkan. Jadi tidak ada alasan untuk takut dengan peraturan tersebut. Sealiknya malah surat Dikti bisa menjadi pendorong bagi kita untuk terus berkarya. Perlu dicatat, yang menulis artikel tersebut adalah seorang editor penerbitan, bukan seorang akademisi di kampus.

Apa yang salah? Tidak ada! Semua orang punya hak mengemukakan pendapatnya, termasuk mengenai menulis. Bahkan siapa saja berhak mengemukakan pandangannya mengenai cara menulis, termasuk "cara menulis mudah di jurnal ilmiah". Hanya saja, apakah apa yang dikatakan tersebut bisa sesuai dengan kenyataan di lapangan? Mungkin aspek ini bisa menjadi celah kita berdiskusi.

Menulis vs Menulis di Jurnal

Saya sendiri memandang, ada perbedaan antara "menulis" dengan "menulis di jurnal. Saya membuat tulisan ini dengan meggunakan handphone sambil duduk berjemur (karena ini adalah hari kedua matahari bersinar terang) di balkon apartemen saya di Milan dan menikmati kopi espresso. Dengan ini, saya sudah "menulis". Apakah dengan cara yang sama saya bisa menulis sebuah artikel untuk jurnal ilmiah? Saya sendiri menjawab, tidak akan!

Menulis di jurnal adalah sebuah proses yang serius dan -sedikit- kerja keras. Tidak bisa instan atau tiba-tiba siap. Menulis jurnal adalah seuah abstraksi dari pandangan seorang penulis terhadap realitas dengan menggunakan kacamata keilmuan. Tulisan akan jadi "ilmiah" jika ia terkoneksi dengan teori tertentu dalam sebuah bidang ilmu. Sekali lagi, menurut saya, maaf, ini bukan hal mudah.

Oleh sebab itu tulisan di jurnal tidak bisa dibuat asal-asalan dan sambil lalu. Ambil sana copot sini kopas sana sini, plum! Jadilah sebuah tulisan. Apakah itu bisa disebut karya ilmiah? Kalau "iya" maka benar anggapan menulis di jurnal itu mudah. Namun bagi saya, tulisan di jurnal harus dimulai dengan mengidentifikas masalah, mengemukakan literatur atau debat singkat teoritis mengenai tulisan dimaksud, lalu kita menawarkan sesuatu yang berbeda atau cara berbeda dalam hal yang sama.

Tidak hanya di situ, tulisan di jurnal juga wajib mendapatkan pembacaan dan koreksi dari satu atau berapa orang lain yang dianggap paham dengan bidang ilmu yang dibahas dalam sebuah tulisan. Tidak bisa seperti saya menulis di blog ini, membuka template buat postingan baru, menulis, lalu tekan publish, selesai. Publikasi di jurnal membutuhkan sebuah proses yang jauh lebih lama dan panjang.

Kejar kuantitas atau tingkatkan kualitas

Andai tujuan publukasi di jurnal seperti yang ada dalam surat Dikti (untuk mengejar kuantitas publikasi yang jauh tertinggal dari Malaysia) maka cara Dikti memaksa publikasi kepada mahasiswa sudah sangat tepat. Mulai bulan agustus 2012 kita akan lihat lahirnya tulisan-tulisan "ilmiah" yang dipublikasikan melalui berbagai jurnal, termasuk "jurnal online".

Namun sebaliknya kalau tujuannya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui publikasi ilmiah maka ada banyak jalan lain yang harus dilakukan dan pemaksaan tidak termasuk diantaranya. Jalan itu antaa lain adalah meningkatkan kesadaran ilmiah di kalangan akademisi kampus, ya mahasiswa ya dosen. Tanpa kesadaran akademik, mampu memproduksi jutaan  jurnal sekalipun SDM bukannya akan semakin baik tapi semakin hancur karena lahirnya tulisan asal-asalan dan jurnal hasil plagiasi.

Di sinilah, menurut saya, peran dosen di peguruan tinggi. Dosen seharusnya menjadi sebuah panutan bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Jika seorang dosen mengajarkan mahasiswa tentang menulis, maka ia harus bisa mencontohkan tulisannya sendiri. Bukan berarti tidak boleh mengambil contoh tulisan lain (yang dengan jujur diakui lebih baik) tapi menunjukkan tulisan sendiri akan melahirkan sebuah motivasi berbeda pada masiswa karena si dosen tidak "omdo" alias omong doang. Dengan mencontohkan tulisan sendiri si dosen juga bisa bercerita bagaimana tulisan itu diproses dari awal hingga selesai dan dipublikasi. Dengan cara ini publukasi di jurnal akan banyak dan juga bagus. Semoga.

25 June 2011

Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?

Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant. Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.

Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.

Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.

Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.

Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.

Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.

Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.

05 June 2010

Kenapa Membaca Biografi?

Semua orang akan menjalani hidup seperti adanya. Semua orang punya jalannya sendiri. Anda tidak mungkin berjalan di rel orang lain meskipun mereka dengan rel itu telah sampai pada tujuannya. Tuhan Maha Kaya dan Dia menciptakan semua manusia sebuah rel.

Lalu kenapa perlu membaca biografi orang lain? Pertanyaan ini muncul suatu ketika saat kami mulai mendiskusikan beberapa tokoh sufi terkemuka pada awal-awal kebangkitan Islam. Kalau para sufi sukses itu adalah jalannya sendiri yang sama sekali tidak ada kesamaan dengan jalan sufi lainnya. Dan mereka membentuk jalannya sendiri tanpa mencontoh jalan spiritual yang dibangun oleh orang lain. Lalu untuk apa kita tahu hidupnya? Bukankah kita juga memiliki jalan spiritual sendiri?

Biografi adalah penjelasan dari sebuah potret kehidupan yang pernah dijalani oleh seseorang dalam mendapatkan suatu tujuan. Selama ini biografi identik dengan kehidupan orang sukses dan mendapatkan posisi “terhormat” dalam kehidupan masyarakat. Sebab kesukksesan dalah keinginan semua orang. Sehingga mereka cenderung ingin mengetahui apa dan bagaimana seorang telah melakukan sesuatu sehingga ia menjadi sukses.

Ada seribu alasan untuk mengatakan kenapa sebuah biografi itu perlu. Diantaranya adalah membaca biografi akan membuka mata kita pada jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup. Tidak ada masalah yang sama di dunia ini, yang ada hanyalah kemiripan. Terkadang kita stres tidak mendapatkan jalan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Nah, dengan membaca biografi mungkin kita mendapatakn alternatif pemecahan dan solusi berdasarkan pengalaman orang lain.

Kedua, membaca biografi akan memberikan kita penjelasan lebih beragam mengenai kehidupan. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, punya pemikiran yang berbeda pada satu hal yang sama. Dengan membaca biografi kita akan tahu kalau di sana ada banyak cara orang menafsirkan suatu hal dan suatau persoalan. Dan ini bisa menjadi sebuah pengayaan wawasan kita dan menjadi suatu masukan untuk menyempurnakan konstruksi pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Ketiga, membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.

Ada yang mau mendambahkan?

Kesimpulan: Membaca biografi memperkaya jiwa :-D

menulis biografi apalagi, meperkaya jiwa, dan memperkaya diri (baca: mendapatkan komisi hasil penjualan, heheheh)




23 February 2010

Menjadikan Artikel Akademik Layak Publish Internasional

Saya berfikir beberapa kali untuk judul tulisan ini. Mudah-mudahan tulisan di atas mengena dengan isi yang akan saya bahas. Ini adalah sebuah pengalaman pribadi yang menurut saya dapat menjadi pelajaran juga bagi banyak orang. Satu waktu, pertengahan tahun lalu, saya jumpa dengan seorang peneliti senior dari Sumatera Utara. Beliau lulusan Australian National University dan sudah melakukan beberapa penelitian berkaitan dengan perkebunan dan lahan di berbagai daerah di Indonesia. Sekarang ia menjadi team leader untuk penelitian perubahan iklim dan kemiskinan di Aceh. Orangnya biasa saja, penampilannya juga sederhana, tidak terlalu istimewa menurut saya.

Sebentar saja berkenalan dengannya langsung terasa akrab. Kami mulai banyak bercerita tentang kegiatan masing-masing. Ternyata pengalaman penelitiannya bukan hanya di Indonesia, namun di mancanegara. Ia sudah menulis beberapa buku. Yang paling mengagumkan saya adalah, ia sudah menghasilkan 86 buah artikel ilmiah yang dipublikasikan di dalam jurnal dalam negeri dan luar negeri. Ia menunjukkan kepada saya jurnal dari Cina, Jepang, Malaysia, Australia, Amerika dan beberapa Jurnal ilmiah lainnya. Duh, ini adalah gambaran ideal saya di masa depan, saya membatin. Jujur, saya berharap dapat menjadi orang yang memberi kontribusi akademik bagi dunia internasional di satu masa. Apa yang saya pikirkan tentang hidup semoga dapat bermanfaat untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Saya mengatakan kalau saya akan belajar banyak dari beliau dan mulai berkonsultasi mengenai apa yang selama ini saya lakukan dan saya keluhkan di lapangan dalam penelitian yang saya lakukan. Dan, sebagai seorang senior, dan saya yakin ia memiliki apasitas itu, ia mulai memberikan beberapa saran untuk kebaikan penelitian saya. Peratama, saya mengeluhkan tetang rasionalisasi dalam menyususn sub-bab dalam sebuah artikel hasil penelitan ilmiah. Saya mendapatkan banyak data di lapangan, namun saya kesulitan menyusunnya menjadi sebuha artikel yang runtut dan logik. Ia menjelaskan kalau itu memang agak sulit bagi penelitian grounded yang tidak memiliki fokus yang kongkrit. Namun itu sedikit mudah bagi seorang peneliti yang sudah terlebih dahulu memiliki fokus dan menyusun sebuah rencana yang matang sebelum ke lapangan. Sebab ia hanya mencari data yang kemudian ia jadikan basis untuk apa yang ia sudah rancang. Memang kekurangan metode ini banyak, diantaranya kita berusaha “memperkosa data” memaksa data masuk ke dalam kerangka pikir yang sedang telah kita buat sebelumnya. Kalau penelitian etnografi yang sifatnya grounded, seperti yang sedang saya lakukan, maka yang diperlukan adalah mencari data sebanyaknya, lalu mengklasifikasikan data dan dari situ kemudian kita melahirkan sub bab. Sub bab inilah yang akan menyusun artikel kita. Perkuat dengan teori yang sudah ada sehingga ada hubungannya dengan dunia akademik yang lebih luas.

Kedua, saya mengeluhkan mengenai data lapangan yang terkadang tidak tahu harus dimasukkan ke mana. Ada bagian yang data lapangannya kuat, namun banyak pula yang tidak didukung oleh data lapangan yang ril dan kuat. Ini menjadikan tulisan terasa tidak mendalam dan tidak menjawab semua masalah yang sedang dibahas. Ia menyarankan saya memakai sebuah program komputer yang dapat meberikan masukan untuk merancang penlisan yang berbasis data. Ia memilikinya dan ia berjanji akan memberikan kepada saya masternya dan akan mengajarkan saya pemakaiannya. Mmmm... ini adalah rizki yang datang tiba-tiba. Dan saya berjanji akan belajar banyak dengan apa yang ia berikan.

Ia juga menjelaskan beberapa trik mencari dana penelitian. Katanya, Indonesia ini adalah ladang bagi penelitian. Dari sini lahir berbagai teori mengenai masyarakat dunia, terutama Asia dan negara berkembang. Teori itulah yang kemudian digunakan untuk pembangunan. Karena itu banyak lembaga yang mau dan bersedia memberikan banyak uang untuk melakukan penelitian di Indonesia, apa saja. “Yang penting kita memiliki pengalaman penelitian yang baik dan hasil karya kita akan dibaca. Makanya kalau peneltian itu ajngan main-main,” katanya. Sebab itu akan menjadi sebuah pencitraan diri kita. Orang akan melihat kita dari apa yang kita tulis. Mungkin kita tidak pandai ceramah, tidak bisa khutbah,, namun kalau kita bisa menulis dengan baik maka kita bisa tunjukkan apa yang telah kita tulis dan orang akan tahu apa yang kita sampaikan.

Yang paling menyenangkan ia menjelaskan mengani karakter tulisan akademik yang sangat disukai oleh jurnal-jurnal internasional, ringkas, padat dan tidak bertele. Sebuah paragraf itu hanya memuat satu atau dua ide. Kalimat berikutnya adalah supporting idea. Semua paragraf yang ada dalam sebuah sub bab adalah supporting terhadap mainidea yang ada dalam awal pargaraf sub bab itu. Dan semua sub bab adalah supporting idea dalam sebuah tulisan. Kompilasi dari ini semua kita sebuat dengan artikel akademik. Dan model inilah yang diterima oleh jurnal-jurnal Internasional. Lalu ia berharap (entah berdoa) semoga saya menjadi seorang penulis yang dapat mempublikasi karya di level Internasional. Amin.... kabulkanlah ya Allah.


Tulisan ini juga dimuat di Blog Pribadi saya: http://www.sehatihsan.blogspot.com/

13 February 2010

A Shadow Falls: Antropologi Bergaya Novel

Ketika saya pulang dari Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah di mana saya melakukan penelitian, saya menumpang mobil Bapak P, konsultan penelitian saya dari Jurusan Antropologi UGM Yogyakarta. Saya duduk persis di bangku belakang Bapak P yang bertindak sebagai sopir. Di sana ada sebuah kotak plastik yang berisi sebuah kamera besar dengan dua lensanya, beberapa baterai dan senter. Dalam kotak plastik itu juga ada sebuah buku tebal, sekitar 5 cm, yang berwarna kuning, begambar ilustrasi masjid, dan backgroundnya tulisan hanacoroko yang saya tidak tahu bacaannya. Saya mengambil buku itu dan yang pertama saya baca adalah pengarangnya; Andrew Beatty. Saya katakan pada Bapak P, apalah penulis buku ini adalah penulis Varieties of Javanese Religion? Ternyata benar. Ia menulis buku yang setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Variasi Agama Di Jawa.

Saya mendiskusikan buku itu dengan Bapak P. Dengan bahasa Inggis saya yang teramat sangat terbatas, saya mencoba sedikit memahami apa yang ditulis oleh Beatty dalam buku itu. Saat membuka halaman secara acak saya mendapatkan ia sedang bercerita tentang kunjungannya di lapangan dan mengungkapkan apa yang diceritakan masyarakat kepadanya. Saya pikir ini adalah sebagian saja dari bukunya yang tebal tersebut. Ternyata ketika saya membuka beberapa halaman yang lain, saya menjadi heran, di sana tertera cerita-cerita yang lain yang sama sekali tidak mirip dengan “buku ilmiah” yang selama ini saya kenal. Ini membuat saya bertanya pada Bapak P, apakah itu “dibenarkan” dalam Antropologi. Ternyata, model penulisan begitu adalah sebuah model baru yang dikembangkan dalam Antropologi khususnya dalam studi etnografi.

Beatty, menurut Bapak P adalah seorang antropolog yang “kemungkinan ia akan menjadi antropolog keas dunia.” Ia menggabungkan gaya bercerita yang biasanya dipakai oleh novelis dalam menyusun ceritanya dengan data-data lapangan yang diperoleh selama ini tinggal di lokasi penelitian. Saya membaca buku-buku antropolog lain yang menulis mengenai Indonesia semacam Clifford Geerzt, Minako Sakai, Mark Woodward, Leena Avonius dan John R. Bowen yang menulis mengenai masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Di sana saya memang menemukan gaya menulis bercerita dengan deskripsi yang sangat akrobatik tentang penglaman penulisnya di lapangan. Namun –sejauh yang saya pahami- mereka menjadikan cerita itu hanya sebagai “jalan masuk” saja untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tema yang mereka pilih. Selanjutnya mereka melakukan analisis dan pendalaman yang hampir sama dengan tulisan ilmiah sosial lainnya. Namun yang dilakukan Beatty adalah, ia terus bercerita dari paragraf pertama hingga terakhir. Bahkan ia tidak pernah menyebut-nyebut referensi atau membandingkannya dengan studi lain yang pernah ada. Ketika saya melihat di bagian akhir buku, tidak ada juga tercantum daftar referensi yang ia gunakan dalam menulis bukunya.

Di Banda Aceh, saya memiliki seorang teman Jerman, mahasiswa Antropologi dari Leiden University, Mr. D, yang sedang melakukan penelitian disertasinya di Aceh. Satu hari kami minum kopi di Solong, Ulee Kareng. Saya menceritakan pengalaman saya melakukan studi etnografi di Jawa. Kami mendiskusikan beberapa metodologi dalam mengumpulkan data lapangan, membuat catatan lapangan dan mengorganisir data. Kami juga mendiskusikan beberapa hal yang lain. Namun yang menarik adalah ketika ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Sambil mengatakan “Saya membawa buku menarik yang sebaiknya Sehat baca” ia mengeuarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Baru sedikit nampak warna kuning buku itu saya langsung katakan “Andrew Beatty”. Ia sedikit terkejut mendengarnya karena saya tahu tentang buku itu. Padahal untuk konteks Aceh, buku-buku baru terbitan luar negeri tentu tidak mudah dijumpai. Saya menjelaskan kalau saya pernah melihat buku tersebut di Yogyakarta. Kemudian kami mendiskusikan buku itu. Lagi-lagi, seperti Bapak P, teman bule ini mengatakan itu adalah buku yang menarik dan “bacaan wajib” bagi antropolog (atau yang merasa diri antropolog, seperti saya. heheh). Ia juga menjelaskan bagaimana Beatty “memasukkan” referensi dan teori-teori sosial dalam tulisannya.Memang nampak ia tidak mengutip tulisan orang lain dengan menulis nama orang tersebut, namun ia memiliki gambaran teoritis yang kaya sehingga dialog-dialog yang terbangun dalam buku itu juga menjadi sangat kaya dan sarat pengetahuan. “Inilah yang membedakannya dengan sebuah novel biasa,” kata Mr. D.

Di hari yang lain, saya minum kopi bersama teman bule Amerika, Mr. J, seorang mahasiswa antropologi asal Amerika yang sedang melakukan penelitian disertasinya sekaligus bekerja di Aceh. Ternyata ia juga menyebut-yebut tetang buku itu dan mengaku telah membacanya. Ia mengatakan buku itu adalah buku yang bagus yang harus dibaca untuk belajar model baru penulisan antropologi. Namun ia sedikit memberikan kritik pada Andrew Beatty, si penulis buku. Beatty, menurut Mr. J tidak mengakomodir pendapat-pendapat dari masyarakat yang ada di pemerintahan negara, politisi dan masyarakat modernis mengenai pemikiran keagamaan mereka. Bahkan Beatty nampaknya memberikan nilai negatif pada mereka dan menganggap aparatur pemerintah dan modernis “mengganggu” perkembangan Islam “yang benar” yang berkembang dalam masyarakat Pedesaan Jawa.

Sayangnya, saya hanya mendengar para antropolog kenalan saya mengatakan kalau buku itu bagus, baik, layak dibaca, memberikan gaya penulisan baru antropologi, dan lainnya. Saya sendiri tidak memiliki bukunya, dan belum membaca kecuali sesaat di dalam mobil Bapak P dan sesaat di warung kopi bersama Mr. D. Hal ini karena buku tersebut diterbitkan di London oleh Faber and Faber dan juga masih sangat baru, terbitan tahun 2009, dan pasti mahal untuk ukuran Rupiah. Padahal, jujur saya akui, gaya penulis buku yang dilakukan oleh Andrew Beatty adalah gaya yang “gw banget!” Saya ingin belajar dari apa yang telah dipraktekkan oleh Beatty, gaya menulis, sistematika, pemilihan subjek, dan lainnya. Sebuah laporan antropologi bergaya novel! Saya yakin, kalau demikian gaya menulisnya, bukan hanya antropolog dan akademisi sosial yang berkepentingan saja yang akan membaca buku “ilmiah” namun juga masyarakat umum yang lain akan menyukainya. Bahkan satu saat, saya membayangkan semua buku ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan ringan saja sehingga semua orang yang memiliki latar belakang ilmu yang berbeda dapat menikmati dan belajar darinya.

09 February 2010

Antropologi Visual: Hidup adalah Sebuah Film

Pada sebuah Senin 13 Juli 2009, di kantor ARTI Banda Aceh kami menonton sebuah film dokumenter yang berjudul “Playing Between The Elephant.” Film ini dibuat oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan pendidikan S3nya di Amerika dalam ilmu Antropologi Visual. Saya baru mendengar jenis ilmu ini. Selama ini saya hanya tahu antropologi, namun tidak mengetahui secara detail mengenai ilmunya. Maklum, saya bukan antropolog, saya hanya mencoba-coba masuk ke ranah ilmu ini lalu tertarik. Mungkin juga karena penelitian yang saya lakukan (tepatnya yang mendapatkan dana) hanya penelitian yang berkaitan dengan bidang ilmu ini. Guru-guru penelitian saya juga kebanyakan dari jenis ilmu ini. Akirnya, saya jatuh cinta pada antropologi meskipun saya tidak paham dasar-dasar teori antropologi.

Kembali ke film. Film itu dibuat selama setahun setengah di sebuah desa di Pidie, Aceh, yang terkena dampak tsunami tahun 2004. Selain tsunami, penduduk desa ini juga tergolong dalam masyarakat yang sederhana, bukan hanya dalam struktur sosial, namun juga dalam ekonomi dan lokasi desanya. Dari film itu nampak desa mereka dipisahkan oleh sebuah sungai besar yang dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung yang sangat riskan kalau dilalui oleh mobil dengan muatan berat. Ketertinggalan juga nampak dari model rumah penduduk yang ada di sana. Rumah yang sangat sederhana, sebuah petakan yang tinggi di sepinggang yang kemungkinan tanpa kamar. Sayangnya dalam film tidak menshot kondisi di dalam rumah.

Film ini bercerita mengenai proses pembangunan rumah yang dilakukan oleh UN-Habitat sejak perencanaan awal hingga kahir dan keterlibatan masyarakat di dalamnya. Sang sutradara dengan cerdas mengambil setiap kejadian yang ada dalam masyarakat di sana selama setahun. Hasil itu kemudian diramu menjadi sebuah film yang SUNGGUH!!! sangat hidup. Bahkan mirip dengan sebuah film yang dibuat dengan sebuah narasi yang direncanakan. Padahal jelas, ini adalah film dokumenter yang semuanya tidak diseting dan tidak diatur oleh seorang sutradara sebelum film dibuat. Ia hanya menshoting berbagai kejadian dalam masyarakat lalu kemudian dirangkai menjadi sebuah film. Bagai saya si mahasiswa telah melakukan sebuah pekerjaan luar biasa. Ia masuk ke dalam sebuah masyarakat tanpa sebuah perencanaan film yang bagaimana akan dibuat nantinya. Ia mengaku hanya ada bayangan awal bahwa akan ada sebuah rekonstruksi rumah dalam masyarakat tersebut. Namun sedikitpun ia tidak membayangkan kalau hasilnya adalah seperti yang dia buat dalam sebuah film tersebut.

Bagi saya, meskipun ini adalah sebuah hasil antropologi visual, namun kalau saya pelajari dari “balik layarnya” ini adalah sebuah pelajaran mengenai antropologi. Ada beberapa catatan yang saya ambil dari cerita si mahasiswa dalam proses pembuatan dan pemutaran film ini. Pertama, ia adalah “orang asing” yang masuk ke dalam sebuah masyarakat. Saya yakin pasti ada cara-caranya masuk ke dalam masyarakat tersebut. Bagaimana ia menyampaikan maksudnya, bagaimana ia menjelaskan kepada masyarakat bahwa ia akan membuat sebuah film. Bagaimana ia dengan rajin setaip hari datang ke sana, ke dalam kampung itu dan kemudian mendapatan engle yang luar biasa menarik sehingga dapat dirangkai menjadi sebuah film. Bagaimana ia bisa mendapatkan masyarakat yang -dalam kamera- nampak tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Masyarakat dalam berbagai kesempatan tetap saja berjalan sebagaimana adanya, nampak seperti tidak dibuat-buat -dan memang saya yakin begitu adanya. Hanya beberapa sisi dari Pak Keuchik saja yang nampaknya diseting oleh sutradara. Namun kebanyakan dari aksi masyarakat berjalan sangat alamiah dan seperi umumnya yang ada dalam masyarakat.

Kedua, bagaimana dia bisa mendapatkan titik-titik yang menarik dalam masyarakat yang sedang berjalan, lalu ia menjadikan titik itu sebagai rangkaian cerita yang mengalir dan bersambung. Padahal apa yang ia lakukan adalah sebuah proses yang sangat lama dan terus berubah dalam amsyarakat. Namun nampak jelas kemudian bagaimana ia mampu menghubungkan titik yang ia peroleh tersebut menjadi sebuah rangakian cerita yang sangat menggugah. Saya lihat tidak ada masyarakat yang nampaknya keberatan dengan apa yang dilakukan sang sutradara terhadap mereka. Mereka tetap saja melakukan segala seuatu sebagaimana adanya, kebiasaan mereka sendiri di kampungnya.

Ketiga, bagaimana ia meutuskan untuk mengamil sebuah alur cerita yang kemudian menjadi sebuah film. Dari informasi si mahasiswa, ia memiliki 200 jam hasil shotuingan di lapangan. Dari 200 jam ini kemudian ia hanya mengambil 2 jam saja untuk sebuah film. Bagaimana caranya memilih? Bagaimana ia menentukan sesuatu yang perlu dan sesuatu yang tidak perlu dari datanya padahal ia sudah mendapatkan data tersebut? Bagaimana ia dengan “teganya” membuang data yang sudah diperoleh dengan suah-payah hanya untuk mempertahankan 2 jam film yang ia perlukan. Ini butuh kejelian dan kemampuan dalam memahami secara mendapam apa yang ada di lapangan dan apa yang kita butuhkan untuk penelitian.

Saya yakin apa yang dilakukan orang ini adalah sebuah usaha besar yang melelahkan dan sangat sulit untuk dibuat pada awalnya. Namun setelah ia menjadi film dan ditonton, sungguh ini adalah sebuah karya yang ajaib dan menentukan sebuah cerita yang sangat khas Aceh pada masa awal tsunami. Saya tahu ini sebab saya juga pernah menjadi petugas lapangan di Teunom. Apa yang ada dalam film ini adalah apa yang saya lihat di teunom dulu. Banyak orang yang marah-marah, yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Banyak orang yang tidak mengerti dengan program yang mereka ikut atau sok tidak mengerti. Banyak orang yang melakukan hal-hal yang pada dasarnya tidak mungkin dan tidak perlu.

Saya sangat yakin sebagai sebuah karya antropologi, apa yang dilakukan oleh sutradara film ini juga sebuah pelajaran pada seorang antropolog atau seorang yang sedang melakukan penelitan sosial. Langkah yang ia jalankan oleh orang tersebut juga langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti sosial yang lain. Apa yang kemudian dikaryakan sebagai hasil dari kerja lapangan yang panjang dalam masyarakat tersebut juga sebagai sebuah hasil yang seharusnya diperoleh oleh seorang yang sedang melakukan penelitian lapangan di desa.

Saya belajar bagaimana sebuah karya antropologi yang sifatnya etnografi memang terkadang jauh dari apa yang sebelumnya direncanakan oleh seorang peneliti. Apa yung diperoleh di lapangan sungguh sangat tidak terduga dan tidak dapat dipredisksi. Makanya diperlukan sebuah pencatatan yang mendatail dari apa yang ada di lapangan dan sedikit komentar yang sifatnya general. Ini akan sangat membantu seorang peneliti dalam membuat sebuah karya ilmiah setelah ia kembali ke kantornya di mana ia memulai menulis.

03 February 2010

Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa (1)

Dua minggu terakhir bulan Januari 2010 yang mengkuti pelatihan penelitian etnografi dengan taman-teman dari Jurusan Antropologi UGM Jogjakarta. Pelatihan ini langsung menempatkan mahasiswa di lapangan selama dua minggu. Kali ini, lapangan yang dipilih adalah dua kecamatan di Kab. Pekalongan Jawa Tengah, yaitu Kec. Lebakbarang dan Kec. Petungkroyono. Kedua kecamatan ini berada dalam hutan dan memiliki jalan akases yang agak sulit ke kota. Tingkat kesulitannya berbeda-beda. Sebagian besar dusun di Kec. Lebak Barang jauh lebih mudah diakses sarana transportasi dibandingkan dengan kebanyakan dusun di Petungkriyono. Saya sendiri dikirim ke dusun Wonodadi, Kec. Petungkriyono bersama dengan seorang mahasiswa Antropologi UGM semester lima.

Perjalanan Panjang dan Melelahkan

Perjalanan ke Wonodadi kami mulai dari Jogja dengan bus selama enam jam. Kami berhenti di Simpang Durian Kec. Karanganyar, Pekalongan. Dari sana kami naik “doplak”, sebutan masyarakat di sana untuk minibus pickup, menuju lokasi. Perjalanan dengan doplak menghabiskan waktu tiga jam melewati perkampungan dan perkebunan. Setelah satu jam perjalanan mulai mendaki gunung dengan jurang di sebelah kanan dan tebing curam di sebelah kiri. Beberapa kali kami terasa sampai ke puncak gunung yang diselimuti kabut dan samar-samar melihat tumpukan-tumpuan pemukiman di lereng gunung yang lain. Tumpukan pemukiman itu adalah dusun-dusun yang dihuni oleh masyarakat. Di sekitarnya terlihat hutan belantara yang hijau.

Ketika jalan sudah berakhir dan tidak bisa ditempuh lagi dengan doplak, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 2 km. Perjalanan ini harus menempuh sebuah turunan curam dan tanjakan terjal. Turunan ini basah dan becek karena terus diguyur hujan. Di sisi kiri saya terlihat persawahan masyarakat yang bertingkat dan membentang luas sampai ke lembah. Sementara di sisi kanan beberapa buah air terjun kecil menghiasi jalan. Air tersebut mengalir di sisi jalan bahkan banyak yang masuk ke area jalan hingga jalan menjadi sangat basah. Belakangan saya ketahui jalan itu adalah jalan yang dibuat sendiri oleh masyarakat secara kerja sama. Mereka butuh waktu empat tahun untuk menyelesaikan jalan 2 km tersebut. Saya membutuhkan istirahat tiga kali sebelum sampai ke dusun. Olah raga yang kurang dan tidak terbiasa mungkin menjadi penyebabnya. Seorang laki-laki yang melihat saya kelelahan saat mendaki jalan yang menuju ke dusun menawarkan bantuannya. Ia mengangkat tas pakaian saya dan membawa kami ke rumah kepala Dusun Wonodadi.

Wonodadi, Dusun Yang Baru Merdeka

Dusun Wonodadi adalah sebuah dusun di Desa Songowedi Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Dusun ini dipimpin oleh seorang laki-laki paruh baya yang dipilih oleh masyarakat. Namun karena ia tidak memiliki ijazah SMP, sebagai persyaratan untuk menjadi kepala dusun, maka secara administratif pemerintahan SK kepala dusun dibuat atas nama anak laki-lakinya. Di dusun ini jarang sekali ada orang yang berusia paruh baya memiliki ijazah. Bahkan banyak masyarakatnya tidak tamat SD. Dua bulan yang lalu ada program dari UGM Jogja melaksanakan sekolah buta aksara dan banyak warga yang mengaku ikut program itu. Sayangnya setelah program itu berakhir, berakhir pula kegiatan baca tulis dalam masyarakat.

Ini semua terjadi karena Wonodadi baru saja merdeka dari isolasi kehidupan. Dibuatnya jalan oleh masyarakat empat tahun yang lalu mengawali terbukanya akses ke Wonodadi. Program PNPM membantu membuat jalan setapak yang menanjak dari Wonodadi ke kelurahan. Pemerintah membantu membuat sebuah jembatan yang kokoh sehingga pada “musim terang”, istilah masyarakat untuk musim kemarau, mobil tertentu bisa masuk ke Wonodadi. Sebuah turbin pembangkit listrik tenaga air diletakkan di dekat jembatan. Turbin inilah yang menjadikan kehidupan malam masyaraat Wonodadi lebih terang. Dan itu baru terjadi setahun terakhir. Jembatan dan turbin listrik adalah awal “kemerdekaan” masyarakat. Saat ini mereka sudah bisa menenton televisi dan membuat rumah dari semen. Sebuah masjid beton yang nampak kokoh berdiri di tengah dusun.

Hidup dari Alam


Setiap pagi laki-laki dan perempuan berjalan ke arah Selatan Dusun. Di sanalah gunung di mana masyarakat mencari rizki untuk kehidupan mereka. Sebuah gunung yang berhutan lebat seolah sebuah supermarket yang menyedikan berbagai keperluan hidup masyarakat. Di sana tumbuh ratusan pohon aren, kopi, dan cengkeh. Aren diambil oleh masyarakat setiap hari yang kemudian diolah menjadi gula jawa. Sementara kopi dan cengkeh hanya dipanen sekali dalam setahun ketika sampai musimnya. Di lereng-lereng gunung masyarakat menanam padi sepanjang tahun. Sampai saat saya berada di sana mereka belum pernah merasakan musim kering dan gagal penen karena ketersediaan air yang cukup. Semua padi disimpan dan dikonsumsi sendiri. Menjual padi sebuah hal yang tabu bagi masyarakat. Itu hanya dilakukan kalau mereka benar-benar tidak memiliki sesuatu yang lain untuk dimakan.

Masyarakat sangat tergantung dengan hasil yang diberikan alam. Aren, kopi dan cengkeh adalah tanaman yang tidak perlu perawatan dan pemupukan. Ia tumbuh sendiri dengan subur. Masyarakat hanya mebersihkan di bagian bawahnya sesekali. Beberapa warga yang saya temui bahkan tidak mengetahui siapa yang menanam kopi dan cengkeh di kebunnya. Sejak ia lahir kopi dan cengkeh itu sudah ada di sana dan dia hanya mengambilnya. Ia juga tidak pernah bertanya pada Bapaknya, apakah ia pernah menanam tanaman tersebut. Kenyataannya saat ini pohon-pohon itulah yang menghidupi mereka.
Satu-satunya sumber ekonomi yang terencana adalah peternakan sapi. Hampir semua masyarakat memelihara sapi di kebunnya. Sapi-sapi itu dikurung saja dan tidak dilepaskan. Saban hari mereka mencari rumput untuk makanan sapi. Rumput makanan sapi dicarikan oleh perempuan dan laki-laki. Perempuan yang menggendong seikat besar rumput makanan sapi di punggungnya adalah hal yang biasa dan lumarah saja di Wonodadi. Ini dilakukan di lereng-lereng terjal dan tanjakan atau turunan.

Bersambung....



15 January 2010

Etnografi: Mendesain Metode Pembelajaran

(Selasa, 140110) Pagi ini kami pergi menuju Fakultas Ilmu Budaya UGM untuk menemui panitia pelaksana. Saya menjumpai Mas Sarwo dan Mbak Lala. Keduanya adalah panitia yang akan menghandel program ini di UGM. Kami menjumpainya di perpusatakaan antropologi UGM. Perpustakaan ini terletak di bagian paling Selatan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Saya tidak masuk ke dalam perpustakaan. Namun nampaknya perpustakaan kecil saja, sebab bangunannya juga kecil dan rendah. Mas Jarwo menyalami kami dan memperkenalkan kami kepada Mbak Lala dan beberapa mahasiswa yang lain yang terlibat dalam program ini. Mbak Lala-lah yang menjelaskan program ini kepada kami secara lengkap. Sayangnya kami belum berjumpa dengan Mas Pujo Sumedi.

Dari informasi yang kami dapatkan ternyata program ini dilakukan untuk mahasiswa antropologi UGM secara rutin setiap tahun. Bahkan mereka memiliki daerah “praktek” yang tetap, di mana mereka mengirimkan mahasiswanya ke sana setiap tahun. Bahkan beberapa kali mereka juga mengirimkan mahasiswanya ke daerah lain di Indonesia untuk sebuah praktek penelitian etnografi. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk diikuti oleh mahasiswa yang lain, bahkan ada beberapa mahasiswa yang ikut adalah mahasiswa Pascasarjana yang belajar dengan Bapak Pujo Sumedi. Kami, dari Aceh adalah bagian dari acara ini dan bergabung dengan peserta yang lain di UGM. Panitia telah menyusun perencaan yang matang untuk acara ini. diantaranya, kami dari Aceh akan membayar Rp. 100.000,- sebagai peserta. Namun uang ini akan “dikembalikan” kepada peserta –bahkan ditambah Rp. 200.000 lagi- untuk diberikan kepada “ibu kos” saat berada di lapangan nanti. Sementara biaya transportasi akan ditanggung sendiri oleh pantia UGM.

Dalam misi kunjungan etnografi kali ini, panitia UGM memilih sebuah tema besar “Di bawah bayang-bayang cahaya kota.” Tema ini dipiliha berdasarkan gambaran umum lokasi penelitian. Menurut survey awal terlihat desa-desa yang ada di sana adalah desa transisi kepada perubahan yang ada di kota. Dengan jalan yang sudah bagus, aliran listrik yang lancar dan adanya singnal untuk handphone, maka semua perubahan yang ada di kota juga akan terjadi di desa. Mereka mengkonsumsi berita televisi sebagaimana yang dikonsumsi masyaraat kota. Demikia juga mereka mengkonsumsi suguhan iklan dan terpengaruh olehnya seperti halnya masyarakat kota. Sehingga berbagai pola hidup desa mereka merujuk pada pola hidup masyarakat kota. Di sisi lain mereka tetap tidak bsia melepaskan kehidupann pedesaan yang serba terbatas, seperti penghasilan, fasilitas kebersihan, sistim kehiudpan bersama dan lain sebagainya. Fenomena ini duterjemahkan ke dalam sub-sub kecil lain yang dapat dipilih oleh peserta. Ada sepuluh sub tema kecil, diantaranya, pemerintahan desa, konsumsi, kecantikan, agraria, dan pola kerja.

Esok malam, 15/01, semua peserta akan dikirim ke dua desa di Jawa Tengah. Desa yang dipiliha adalah Desa Lebak Barang dan Petung Proyono di Kecamatan Pekalongan. Daerah ini akan ditempuh selama enam jam perjalanan bus dari Jogjakarta. Panitia telah menyediakan bus wisata sebagai sarana transportasi yang akan membawakan semua peserta ke sana. Di sana akan dikumpulkan di kantor Koramil untuk makan pagi. Kemudian akan melanjutkan perjalanan ke dusun masing-masing dengan mobil pick up, satu-satunya sarana transportasi umum yang tersedia di wilayah kerja. Bagi saya ini bukan hanya sebagai sebuah cara belajar etnografi semata, namun juga sebuah perencanaan petualangan yang menantang.

Ada sebuah penggambaran umum yang diberikan oleh Mbak Lala tentang lokasi lapangan yang akan kami kunjungi. Lokasi ini adalah daerah perkampungan Jawa di mana banyak masyarakatnya yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Secara geografis daerah tujuan ini adalah dataran tinggi yang dingin sehingga kami dipesan untuk membawa baju hangat dan pakaian secukupnya. Sebab ada kemungkinan di sana akan terjadi musim hujan. Bahkan saat di daerah lain musim kering di sana sering terjadi musim hujan. Banyak masyarakat yang pergi ke sawah dan ladang dengan menggunakan baju hujan. Desa-desa tujuan kebanyakan juga masih sangat sederhana dalam fasilitas publik, seperti toilet dan tempat mandi. Beberapa desa masih menggunakan pemandian umum di mana semua orang satu dusun mandi di sana.

Entah bagimana gambar sebenarnya dari lokasi itu, saya tidak tahu. Mudah-mudahan saya sampai ke sana dengan selamat dan dapat belajar menulis dan menceritakan kepada dunia tentang apa yang terjadi dalam salah satu bagian buminya.


12 January 2010

Belajar Etnografi ke Jogjakarta

Saya mendapatkan kesempatan yang langka. Kursus penelitian etnografi bersama teman-teman di Antropologi UGM Jogjakarta selama dua minggu (14-29/01/10), di bawah bimbingan “mbah” antropolog UGM. Menurut rancangannya, kursus ini bukan belajar di kelas mendengarkan kisah-kisah seru para antropolog di lapangan. Akan tetapi peserta langsung diturunkan ke lapangan, di sejumlah desa pedalaman Jawa. Di sana setiap peserta akan belajar sendiri dari kehidupan yang ada dalam masyarakat desa. Ini dilakukan dengan pengamatan, keterlibatan dalam aktifitas mereka dan melakukan wawancara dengan siapa saja yang dijumpai di sana, lalu mencatat dan mendeskripsikan.

Sebagai orang Aceh yang juga berasal dari pedalaman, bagi saya ini akan menjadi pengalaman menarik. Melihat dan membandingkan dua kehidupan sosial yang berada jauh dari ibukota. Sebab selama ini semua isue politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya diambil berdasarkan kehidupan masyarakat perkotaan semata. Ada memang ungkapan ekonomi rakyat, pembangunan masyarakat pedesaan, namun rakyat yang diuntungkan selalu rakyat kelas super seperti Anggodo Cs. Hasilnya, masyarakat pedesaan yang ada di pedalaman tetap hidup seperti alur takdir mereka tanpa ada kebijakan politik yang mengubahkanya. Mereka tetap saja sebagai komoditas yang dijual untuk isue pembangunan tapi menjadi korban dalam pembangunan itu sendiri.

Penahanan terhadap Lanjar (Kompas, 11/01) yang dituduh menyebakan kematian istrinya sendiri adalah contoh dari realitas ini. Seorang yang sama sekali buta hukum tiba-tiba harus menjadi pesakitan di depan meja hijau pengadilan. Belum lagi kesedihannya hilang, ia sendiri malah harus berhadapan dengan aparat hukum yang pongah. Sementara orang yang benar-benar menyebabkan kematian istrinya, menggilas dengan mobil yang bisa disaksikan mata dan memiliki bukti fisik malah dibebaskan dengan alasan tidak sengaja dan sudah berusaha menghindari kecelakaan. Pengemudi mobil bebas karena ia anggota polisi. Di negeri ini, polisi dan koruptor sering kali bernasib sama, bebas dari jeratan hukum.

Terlepas dari masalah itu, misi saya kali ini akan menjadi ajang menjawab sebuah pertanyaan lama yang pernah saya ajukan pada diri sendiri, yang hampir saja saya lupa; kenapa orang Jawa tidak memberontak kepada NKRI dan menuntut merdeka? Melihat potensi alam kemungkinan Jawa dan Aceh dan beberapa daerah lain di nusantara hampir seragam. Melihat keadilan kepada masyarakat yang diberikan oleh pemerintah, mungkin juga tidak jauh berbeda, masyarakat pedalaman adalah korban dan tumbal kebijakan pemerintah yang zalim, di Jawa atau di daerah lain di Indonesia Namun, tidak seperti masyarakat Aceh yang langsung memanggul senjata membela diri, masyarakat Jawa nampaknya lebih bisa menerima kenyataan ini dan menyatakan diri sebagai masyarakat pendukung setia negera. Mudah-mudahan jawaban pertanyaan ini bisa menjadi sebuah refleksi bagi saya dalam memahami masalah sosial dari perspektif yang lebih luas dan plural ke depan.

Saya juga berharap mendapatkan sebuah pemahaman yang “berbeda” dari kunjungan ke pedalaman Jogja dua minggu ke depan. Apalagi masyarakat Jawa selama ini selalu menjadi objek kajian menarik bagi antropolog. Kenapa orang Jawa begitu unik? Kenapa kehidupan mereka begitu berwarna? Apa yang ada di balik semuanya? Singkresisme-kah seperti yang dipersepsikan oleh Cliffort Geertz atau Islam mistik seperti dikatakan Woodward. Atau ada sesuatu yang lain? Mudah-mudahan kunjungan dua minggu ke depan dapat meberikan sedikit titik terang menjawab masalah ini. Wallahu’a’lam.

27 December 2009

Sebuah Kenangan bersama ARTI

Desember 2009 ini secara resmi berakhir aktifitas Aceh Research Institute (ARTI) di Aceh. Berakhirnya peran lembaga ini menjadi sebuah ending yang mengharukan bagi banyak orang yang pernah terlibat di sana. Selama tiga tahun terakhir ARTI telah melakukan peran penting sebagai mesin produksi lahirnya peneliti-peneliti muda Ilmu Sosial dan Humaniora di Aceh. Meskipun kantornya ada di Banda Aceh, namun ARTI menjangkau berbagai perguruan tinggi lain, seperti Universitas Malikussaleh dan STAIN Malikusaleh di Lhokseumawe, Universitas Gajah Puteh Aceh Tengah dan Universitas Teuku Umar Aceh Barat. Di sana peneliti Aceh masa depan dikaderkan dengan bimbingan dan arahan intensif dari peneliti senior lokal, nasional dan internasional.

Saya adalah satu di antara orang yang mendapatkan kesempatan masuk ke dalam mesin produksi peneliti ARTI. Meskipun saat ini belum lahir sebagai seorang peneliti handal, namun saya sudah melihat jalan itu dan tahu arahnya. Bola ada di kaki saya, apakah saya akan membawa diri ke sana atau tidak itu adalah pilihan, usaha, nasib, dan doa; saya sendiri yang menentukan. Namun ARTI telah melakukan tugasnya dengan baik, membuka mata pada realitas yang lebih besar, menunjukkan bahwa Aceh adalah ladangnya penelitian sosial, mengatakan bahwa di sana, di mana-mana orang begitu bersemangat bicara ilmu pengetahuan, dan petunjuk-petunjuk lain yang diberikan.
Apa yang dilakukan ARTI bagi saya merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Dengan sistem pelatihan yang berbeda dengan apa yang saya peroleh sebelumnya, dengan keseriusan, ketegasan, kedisiplinan yang diterapkan, dengan fasilitas dan pendampingan yang disediakan, saya dengan jujur mengatakan bahwa ARTI telah melakukan yang terbaik untuk saya bahkan jauh di atas apa yang saya bisa bayangkan. Saya yakin ini pula yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.

Saat saya ikut kelas ARTI level Pertama, saya berjumpa dengan Prof. David Reeve, penulis biografi terkenal. Salah seorang tokoh Indonesia yang ditulis dengan begitu apik adalah Ong Hok Ham, orang Tionghoa yang lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri. David memperkenalkan dasar-dasar penelitian dengan begitu renyah. Sebelumnya saya membayangkan sebuah penelitian begitu rumit. Beberapa kali belajar metodologi penelitian saya disuguhkan dengan berbagai teori dan pengertian yang tidak pernah saya ketahui maksudnya secara pasti hingga sekarang. Namun hal ini menjadi berbeda di tangan David. Penelitian adalah berusaha menulis apa yang kamu ingin tulis. Bagaimana caranya, itu terserah kamu. Kamulah yang tahu bagaimana melakukan pekerjaanmu sendiri. Orang boleh mengatakan apa saja, namun yang harus memutuskan adalah kamu sendiri, sebab kamu yang tahu akan menulis apa, tentang apa, lokasinya di mana, orangnya seperti apa, dan lain sebagainya. Saya terkesan dan terkesima, ternyata peneliti itu adalah saya sendiri dan sayalah yang menentukan langkahnya.

Ketika saya dipanggil untuk masuk ke level kedua saya berjumpa dengan Arskal Salim, Adlin Sila, dan Eka Srimulyani. Para peneliti muda yang pengalaman pelitiannya sudah mendunia. Arskal Salim adalah dosen UIN Jakarta yang melakukan penelitian di Aceh dalam beberapa topik. Ia memiliki berpengalaman yang kaya dalam penyusun proposal penelitian yang berhubungan dengan funding internasional yang sering membiayai penelitian. Dan darinyalah kami menuntut “Ilmu Proposal”, tentang bagaimana membuat proposal yang baik. Sebab, kata Arskal, tidak ada proposal yang benar atau proposal salah. Sebuah proposal –selama dibuat dengan serius- telah melewati tahapan pemikiran dan kontemplasi yang panjang. Oleh sebab itu yang diperlukan adalah bagiamana menjadikannya lebih baik. Dan proposal yang baik adalah proposal yang jelas masalahnya apa, tujannya untuk apa, dan bagaimana anda akan melakukan penelitian. Kalau tiga hal ini sudah jelas maka yang lain akan menyusul pula, hanya perlu ketekunan dan keseriusan saja.

Kemudian, yang tidak mungkin saya lupakan adalah pelatihan tahap ketiga. Dalam tahapan ini peserta dibimbing oleh tiga pembimbing sekaligus; lokal, nasional dan internasional. Saya teringat ketika ibu Laura Yoder, direktur ARTI tahun 2008 mengirimi saya SMS yang isinya kira-kira: Selamat, anda berhak mengikuti pelatihan tahap ketiga. Ini adalah awal dari sebuah pengalaman yang tidak pernah akan saya lupakan. Saya ditawarkan memilih sendiri siapa yang akan menjadi pembimbing saya untuk penelitian yang saya ajukan: “Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet.” Saya memilih orang yang saya sudah kenal dalam dunia akademik meskipun belum kenal secara fisik. Pembimbing lokal saya memilih Bapak Aslam Nur, dosen Antropologi Agama di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Untuk Nasional saya memilih Prof. Irwan Abdullah, Direktur (sekarang mantan) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. Dan untuk pembimbing internasional saya memilih (atas saran dari Laura) Prof. Anthony Reid, sejarawan yang telah menulis beberapa buku dan jumlah artikel ilmiah yang tidak terkira mengenai sejarah Aceh. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Seorang anak kampung yang baru bisa berbicara bahasa Indonesia dalam usia 17 tahun, berjumpa dengan orang-orang besar adalah anugerah yang tiadatara. Dan di bawah bimbingan merekalah saya belajar melakukan penelitian.

Saya ingin cerita sedikit tentang dua orang pembimbing saya, Anthony Reid dan irwan Abdullah. Bagi saya Toni adalah sebuah kebun ilmu yang sangat luas. Wawasan dan pengetahuannya terbentang tak bertepi. Setidaknya begitulah yang saya lihat dalam konsultasi pertama kali bersamanya. Saya bagaikan sebuah gelas yang kecil dan ia adalah ember besar penuh air ilmu. Tatkala air di dalamnya dituangkan, sangat banyak yang tercecer dan terbuang karena keterbatasan tempat penampungan yang saya miliki. Saya hanya menangkap sedikit sekali dari ilmunya. Meskipun, dengan keterbatasan komunikasi karena kendala bahasa, saya tahu ia telah berusaha menyesuaikan memberikan pengetahuan sesuai dengan tingkat atau kadar keilmuan saya.

Dalam konsultasi pertama yang saya laksanakan dengan Anthony saya mendapatkan banyak pengetahuan. Yang paling berkesan adalah, cara pandangannya mengenai sebuah masalah kecil dalam konteks yang besar. Semula saya berfikir, apalah artinya penelitian mengenai kenduri kematian dalam masyaraat Kluet. Ini hanyalah masalah kecil dan tidak menyelesaikan apa-apa dan tidak menjelaskan banyak hal. Namun tatkala Toni sedikit demi sedikit mebawa saya ke cakrawala ilmu yang berkembang di dunia, saya mulai sadar bahwa apa yang saya lakukan dalam membahas kenduri dalam masyraklat Kluet bukan sekecil yang saya bayangkan. Ia berada di antara semaraknya kajian keilmuan dalam bidang yang sama yang telah dilakukan banyak orang lain. Saya bukanlah satu-satunya orang yang mengerjakan dan tertarik dengan bidang ini.

Prof. Irwan Abdullah saya umpamakan dengan sebuah kebun pengetahuan serba ada. Meskipun ia memperkenalkan diri sebagai antropolog, namun dalam diskusi bersamanya ia ternyata menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan metodologi ilmu-ilmu. Pertemuan pertama saya bersamanya tatkala ia datang ke Banda Aceh untuk sebuah urusan. Ia menelpon saya dan mengajak saya minum kopi pagi di warung kopi Cek Yuke jalan Tepi Kali. Bagi saya ini sungguh menyenangkan. Kapan lagi bisa duduk dengan Profesor Antropologi UGM? Saya akan memanfaatkan waktu untuk maksimal menggali ilmu darinya. Dan apa yang saya pikirkan benar terwujud. Dalam diskusi bersamanya, keran ilmunya mulai dibuka dan sedikit demi sedikit airnya mengalir. Awalnya saya katakan, saya kesulitan dalam menentukan sistematika sebuah tulisan. Lalu ia mulai mendiskusikan tulisan saya dan membuat coretan yang sampai sekarang masih saya simpan sebagai kenangan dan yang paling penting itu adalah model untuk tulisan apapun juga. Darinya saya juga belajar semangat menulis. “Coba kamu pikirkan, apakah saya, sebagai seorang direktur sekolah pascasarjana UGM, memiliki waktu untuk menulis dan melakukan penelitian?” Saya bayangkan, sebagai seorang dosen muda dan baru saja saya sering tidak cukup waktu, bagaimana lagi dengan seorang Prof. Irwan? Ternyata saya salah. Ia mengatakan tulisanya terbit hampir setiap bulan di berbagai jurnal ilmiah. Ia juga menulis sendiri makalah seminar, modul mengajar dan materi pelatihan. Kapan itu dilakukan? “Kitalah yang menetukan waktu untuk menulis, bukan waktu yang mengatur kita.” Lalu ia menjelaskan beberapa tips yang dapat digunakan. Misalnya memulai dengan membuat kerangka, mengisi ide pokok, pengembangkan paragraf, dan seterusnya. Saat mendengar penjelasanya, rasanya keesokan hari saya bisa menulis lima artikel akademik. Tapi ternyata, saya masih saja belum bisa selancar yang saya bayangkan.

Memang saya akui saya tidak dapat melakukan penelitian tahap tiga dengan maksimal, terutama dalam bagian akhir penelitian sampai penulisan hasilnya. Pertama karena kesibukan pembimbing nasional dan internasional saya. Prof. Irwan Abdullah adalah direktur Sekolah Pascasarjana yang tidak mungkin datang ke Aceh dan menemani saya di lapangan, jauh di pedalaman Kluet Timur Aceh Selatan. Demikian juga Anthony Reid yang tinggal di Singapura. Saya berjumpa dengan mereka beberapa kali saja, selebihnya berkomunikasi dengan e-mail. Sebagai orang yang masih sangat awam dengan penelitian seperti ini, maka saya masih sangat kesulitan dalam mewujudkan banyak saran dari pembimbing saya tersebut. Namun masalah paling berat adalah ketika pada 10 Agustus 2008 bapak saya tercinta meninggal dunia. Beliau adalah orang Kluet, beliau mengetahui banyak adat budaya Kluet. Beliau menjadi teman diskusi saya selama di lapangan, bahkan tidak jarang diskusi sampai pagi. Setelah beliau meninggal dunia, sangat berat bagi saya untuk membaca catatan lapangan dan hasil wawancara saya di lapangan. Sebab penelitian saya juga mengani kenduri kematian. Sehingga membuka file-file penelitian itu saya langsung terbayang wajahnya, tawanya, semangatnya, kasih sayang dan cintanya. Dan saya butuh waktu berbulan-bulan untuk memisahkan saya sebagai seorang peneliti dengan saya sebagai anak yang memiliki kedekatan emosional dengan orang tua. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan artikel penelitian saya meskipun paling terlambat dibandingkan teman-teman yang lain.
Dan yang sangat-sangat tidak mungkin terlupakan adalah bimbingan, pencerahan, kuliah, diskusi yang dilakukan dalam sela-sela program pelatihan yang dilaksanakan.

Saya ingat sekali bagaimana Ibu Melly dan Eve selalu mengirimi SMS bahwa akan ada seorang ahli datang ke ARTI dan dia bersedia memberikan kuliah dan bimbingan. Di waktu lain ada SMS yang isinya ada pemaparan hasil penelitian sementara dari seorang mahasiswa internasional yang sedang melakukan penelitian di Aceh. Pernah juga seorang ahli dalam bidang tertentu datang ke ARTI dan kami berkumpul untuk mendiskusikan berbagai temuan sementara di lapangan dan mencari pemecahannya bersama.
Hal di atas masih ditambah dengan berbagai pelatihan lain yang saya ikuti di kampus dan di luar kampus. Di IAIN Ar-Raniry saya megikuti sebuah pelatihan metodologi penelitian bagi dosen. Saya juga mengikuti pelatihan metodologi penelitian bencana alam di Yogayakarta. Pada pertengahan 2009 saya mengikuti metode penulisan makalah ilmiah di USU Medan. Di ARTI sendiri diadakan pelatihan penulisan artikel untuk buku kompilasi. Semua menerpa saya untuk dapat maju dan berusaha menggapai yang terbaik.

Apa yang saya dapatkan dari ini semua? Tidak terhingga dan tidak terkira, mungkin ini jawaban saya. Saya merasa “lebih nyambung” saat mendiskusikan penelitian dengan siapapun di bandingkan dulu. Harus saya akui saya kewalahan dalam teori-teori dan istilah yang rumit, terutama dalam penelitian angka-angka. Namun alhamdulillah saya sedikit diberikan kemudahan oleh Allah dalam membahas penelitian-penelitin sosial lapangan. Saya merasa lebih percaya diri dalam menceritakan dan membincangkan penelitian kepada orang lain. Saya lebih mudah membagi pengetahuan mengenai penelitian dengan teman dan mahasiswa. Saya lebih mudah dan terbimbing dalam menulis, walaupun masih jauh dari sempurna. Dan banyak hal lain. Yang sangat penting adalah saya memiliki semangat yang menggelora untuk terus belajar menulis, melakukan penelitian, mendiskusikan ilmu pengetahuan dalan lain sebagainya. Saya tahu bahwa di balik semua ini salah satunya ada ARTI.

Saat ini saya sedang menyelesaikan peneltian saya mengenai Adat Gayo bersama Internasional Center foa Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Awal Desember 2009 saya mempresentasikan sebuah hasil penelitian saya di International Posgraduate Conference di Yogyakarta. Di kampus saya mengasuh mata kuliah Metodologi penelitian. Beberapa teman mulai menjadikan saya sebagai salah seorang teman disksui dalam membuat penelitian. Bagi saya ini adalah rahmat keilmuan yang Allah berikan melalui serangkaian pelatihan bersama ARTI.

Hanya karena penguasan bahasa Inggris yang sangat buruk sehingga saya masih merasa ada yang mengganjal dalam diri saya ketika mau mengembangkan diri lebih baik lagi. Dan persoalan bahasa ini pula yang membuat saya masih terus menunda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya masih berusaha untuk meningkatkan kemampuan meskipun terasa sangat berat. Hanya ada satu keyakinan bahwa ini bukan “hil yang mustahal” untuk diwujudkan.Saya masih mengimpkan suatu saat saya dapatmelanjutkan pendidikan di tempat yang pebih maju dan memiliki iklim akademik yang menyenangkan.

Akhirnya saya ingin mengatakan terima kasih Arti, Pak Michael, Ibu Barbara, Ibu Laura, Pak Harold, Eve, Ibu Melly, Ibu Eka, David, Arskal, Adlin, Kamaruzzaman, Irwan Abdullah, Anthony Reid, Aslam Nur, dan semua teman-teman pelatihan ARTI Level I, II dan III. Mudah-mudahan apa yang telah saya peroleh dari ARTI menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat untuk kehidupan umat manusia.


09 December 2009

Peluncuran Buku itu Perayaan

Ada satu hal menarik dari peluncuran buku "Perempuan Dalam Masyarakat Aceh: Memahami Beberapa Persoalan Kekinian" yang dilaksanakan Aceh Research Training Institute (ARTI) tadi pagi. Peluncuran adalah perayaan atas sebuah usaha yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan buku tersebut. Ini sedikit berbeda dengan kebiasaan peluncuran yang saya ikuti selama ini di mana peluncuran sekaligus sebagai forum diskusi dan perdebatan. Perbedaan sedikit ini bermakna besar. Sebagai sebuah perayaan maka peluncuran adalah ajang di mana semua orang yang hadir di sana bergembira atas terwujudnya sebuah buku. Sebaliknya, jika peluncuran adalah sebuah ajang diskusi maka forum akan menjadi tempat di mana penulis mendapatkan kritikan atas karyanya pada hari pertama hasil karya itu dipublikasi.

Bagi saya ini menarik karena menyangkut dengan penghargaan terhadap kerja keras. Selama ini peluncuran buku disertai dengan kritik 7C yang diajukan kepada penulisnya; cover, content, color, construc, comment, (apalagi? saya lupa). Padahal hari itu adaalh hari pertama secara resmi buku itu beredar. Uniknya lagi orang yang mengkritik belum membaca buku itu secara keseluruhan. Umumnya mereka baru mendapatkan pada hari ketika acara itu dilakukan. Namun dengan "semena-mena" mereka menyatakan buku itu belum sempurna dan masih perlu diperbaiki.

Apakah ada karya yang sempurna? semua karya adaalh sebuah proses. Kesempurnaan adaalh milik Tuhan. Sebuah karya lahir dari sebuah kerja keras yang dilakukan penulisnya berbulan-bulan dengan pengorbanan yang tidak sedikit, uang, waktu, perasaan, keluarga dan lainnya. Sangat menyedihkan melihat mereka, sipenulis, tertunduk lesu pada hari pertama hasil kerja kerasnya dipublikasikan.

Ke depan saya pikir model peluncuran ini layak dicontoh. Semua orang yang hadir dalam peluncuran buku akan memberikan pujian kepada penulisnya dan mengungkapkan kebanggaannya atas keluarnya karya itu. Sebuah pujian yang tulus dan iklas akan memberikan motivasi kepada sipenulis untuk terus berkarya dan berusaha mewujudkan karya yang lainnya. Sebaliknya sebuah kritikan, meskipun itu dibalut dengan kritikan positif yang membangun, tetap saja menyisakan duka kepada penulis bahwa apa yang dilakukannya belum layak publish. Padahal belum tentu orang yang mengkritiknya telah melakukan usaha yang sama dengan apa yang dilakukan si penulis.Meunan kira-kira.

08 December 2009

Info Hot!!! Konferensi Aceh dan Nasional

Saya mendapatkan dua buah konferensi menarik yang akan diadakan oleh dua lembaga berbeda pada tahun 2010 mendatang. Satu diadakan oleh Malaysian Aceh Student Association (MASA)-UPM, bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia (UPM) dan yang satu lagi oleh Universitas Paramadina. Kedua konferensi ini terbuka untuk umum. Untuk konferensi Aceh tidak dipungut biaya, hanya mendaftarkan makalah saja dan panitia akan menyeleksi makalah mana yang akan diikutkan dalam konferensi. Sementara konferensi di Jakarta oleg Paramadina dipungut biaya Rp. 600.000,- dan biaya transportasi ditanggung sendiri oleh pemakalah. Ini adalah dua kesempatan yang menerik bagi intelektual muda di aceh.


Aceh Development International Conference
Konferensi ini akan dilaksanakan oleh Malaysian Aceh Student Association (MASA)-UPM, bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia (UPM. Ada tiga tujuan yang ingin dicapai:
1. Mempertemukan berbagai fihak yang tertarik untuk melakukan penyelidikan dan kajian tentang perubahan di kawasan terkena musibah Tsunami khasnya Aceh.
2. Memberikan sarana untuk membentangkan hasil kajian dan penyelidikan yang pada saatnya akan disampaikan kepada fihak pemerintahan Aceh.
3. Menjadikan forum silaturrahmi bagi pemikir pemikir untuk bertukar pengalaman dan mencadangkan kegiatan kegiatan bermanfaat dimasa yang akan datang.


Untuk itu panitia mengundang semua pihak untuk memberikan bantuan dan sumbangan pemikiran menurut kepakaran masing-masing. Hasil kajian masyarakat akademik tentang Aceh di Malaysia perlu dikumpul dan "diterbitkan". Beberapa bidang kepakaran yang akan dikaji didalam konferensi ini antara lain berkaitan dengan:

1. Konsep Pembangunan Beracuankan Ajaran Islam
2. Perancangan Bandar dan Kampung
3. Pembangunan Pendidikan, Budaya dan Adat
4. Perancangan Sistem Pengangkutan dan Fasilitas Am
5. Perancangan Sistem Perumahan, Office dan Pelayanan Masyarakat
6. Pembangunan Sistem Pentadbiran, Birokrasi dan Hubungan Antara Bangsa
7. Pembangunan Infrastruktur, Telekomunikasi danTeknologi Termaju
8. Bidang Pertaniandan Teknologi Makanan
9. Bidang Penternakan, Kesihatan Haiwan dan Perubatan Veteriner
10. Bidang Perikanan, Kelautandan Pesisir
11. Bidang Pelancongan (Wisata) dan Promosi Daerah
12. Bidang Teknologi Maklumatdan Komputerisasi
13. Bidang Teknik, Kajian Alam Sekitar, Industridan Automotive
14. Bidang Kewirausahaan, EkonomidanPerbankan
15. Bidang Wanita, KeluargadanAnak.
16. Bidang Kesihatan, FarmasidanPsikologi

Waktu pelaksanaan adaalh sebagai berikut:

04 December 2009 : 1st Announcement
01 Februari 2009 : Final of abstract submission
01 Mac 2009 : Final of full paper submission
05 Mac 2009 : Notification of full paper acceptance
20 Mac 2009 : Last date for registration
26 - 28 Mac 2009 : Conference

Untuk lebh lengkap silakan kunjungi web resmi panitia


Konferensi Nasional "Menuju Pembangunan Berkelanjutan Indonesia: Pemberdayaan Kompetensi Lintas Studi" - 16 Juni 2010


Dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-14, Universitas Paramadina menyelenggarakan Konferensi Nasional "Menuju Pembangunan Berkelanjutan Indonesia: Pemberdayaan Kompetensi Lintas Studi"

Waktu Pelaksanaan:
Hari/Tanggal : Rabu, 16 Juni 2010
Pukul : 08.00-21.00 WIB
Tempat : Auditorium Nurcholish Madjid
Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav 97
Mampang, Jakarta 12790

Peserta:
Akademisi, peneliti, mahasiswa dan praktisi dari multidisplin

Biaya Pemakalah:
Rp. 500.000,-/makalah/1 penulis
Rp. 650.000,-/makalah/>1 penulis
Makalah tambahan untuk penulis yang sama Rp. 100.000,-/makalah/peserta

Biaya Non Pemakalah:
Umum: Rp. 200.000/orang
Mhs S1/S2/S3: Rp. 100.000/orang

(Biaya termasuk proceeding (CD dan hardcopy), seminar kits, coffeebreak, makan siang dan gala dinner)

Batas Waktu:
Batas waktu penyerahan makalah lengkap 31 Maret 2010
Pengumuman makalah terseleksi 20 April 2010
Batas registrasi dan pembayaran 31 Mei 2010

Topik-Topik Makalah:

Teknik Informatika
• Network Technology (TI 1)
• IT Good Governance : Quality Assurance, IT Audit (TI 2)
• Knowledge Management (TI 3)
• Mobile Technology (TI 4)
• Multimedia Application (TI 5)

Komunikasi
• Budaya dan Media Baru (IK 1)
• Media Baru: Implikasi Teoritis dan Metodologis (IK 2)
• Hukum dan Etika Media Baru (IK 3)
• Media Baru dan Masa Depan Media Lama (IK 4)

Psikologi
• Psikologi Positif dan Kepemimpinan (PS 1)
• Kearifan Lokal dan Antikorupsi (PS 2)
• Perbedaan Individual dalam Kewirausahaan (individu,
interpersonal, sosial) (PS 3)
• Etika dalam Modernisasi (PS 4)

Manajemen
• Green Business (MJ 1)
• Good Governance (MJ 2)
• Leadership (MJ 3)
• Entrepreneurial Orientation (MJ 4)

Hubungan Internasional
• Kepemimpinan Indonesia dalam ASEAN (HI 1)
• Peran Sektor Swasta dalam Pembangunan Negara-Negara ASEAN (HI 2)
• Pluralisme dan Demokrasi dalam Kehidupan Berbangsa di Negara-
Negara Anggota ASEAN (HI 3)
• Islam dan Peradaban: Politik Identitas Negara-Negara Asia
Tenggara (HI 4)

Falsafah dan Agama
• Islam, budaya dan kearifan-lokal di Indonesia (FA 1)
• Islam, nasionalisme & gerakan-gerakan transnasional (FA 2)
• Islam, terorisme & strategi penanggulangan (FA 3)
• Islam, etos kerja & pembangunan(FA 4)

Desain Produk Industri
• Eko-Design (DP 1)
• Desain dan Ekonomi Kreatif (DP 2)
• Kebijakan Strategis Desain (DP 3)
• HaKi Desain Industri (DP 4)

Desain Komunikasi Visual
• Strategi Brand UKM (DKV 1)
• Etika Visual Desain (DKV 2)
• Ekonomi Kreatif (DKV 3)
• Enterpreneurship dalam Pendidikan Desain (DKV 4)
• HaKi Desain Komunikasi Visual (DKV 5)

Format penulisan :
- Semua penulisan merupakan hasil pemikiran orisinil, yang belum
dipresentasikan atau dipublikasikan.
- Makalah ditulis dalam Bahasa Indonesia.
- Abstrak dalam Bahasa Indonesia dan Inggris tidak lebih dari 200
kata
- Penulisan makalah, jenis font: Times New Roman, ukuran font 12,
1 spasi dan tidak lebih dari 15 lembar (termasuk daftar pustaka
dan lampiran). Margin atas dan kanan 3 serta margin bawah dan
kiri 4

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi sekretariat panitia:

Dewi Kurniaty/ Putri Yuriko

Universitas Paramadina
Jl Gatot Subroto Kav 97 Mampang 12790
Telp : 021-79181188 ext. 152
email: konferensinas2010@paramadina.ac.id


02 December 2009

Internasional Conference in Jogja: Refleksi

Selama dua hari ini 1-2 Desember, saya mengikuti Internationnal Conference tentang Indonsia di Jogjakarta. Ini adalah conferensi Internasional pertama yang saya ikuti sebagai presenter. Sebelumnya saya pernah ikut beberapa kali, namun hanya sebagai pesarta, itupun menjadi pendengar yang baik. Kali ini saya mejadi bagian dari para akademisi yang mempresentasikan hasil penelitiannya. Sangat menyenangkan karena saya bertemu dengan banyak orang yang memilikiminat yang sama, bukan pada subjek kajian, namun pada semangat belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun saya juga malu, banyak hal yang saya merasa sangat kurang dibandingkan dengan banyak orang yang hadir di sini. Saya menulis ini sebagai sebuah bentuk refleksi untuk pengembangan diri saya di masa depan. Alhamdulillah kalau ini juga bermanfaat untuk teman-teman.

Konferensi ini diikuti oleh peneliti muda dari berbagai belahan dunia yang sedang melakukan penelitian tentang Indonesia dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya Ilmu Sosial. Dari informasi panitia saya mendengar, dari 200 presenter yang mempresentasikan makalahnya, 50 diantaranya adalah orang asing. Namun bukan ini yang menyebabkan forum ini mejadi bermakna, tapi kajian yang dihasilkan oleh peneliti-peneliti muda dari berbagai tempat di dunia menunjukkan sebuah perkembangan sangat berarti dalam dunia akademik Indonesia.

Secara singkat saya bisa sebutkan konferensi ini ....
Bersambung....

10 November 2009

Manuskrip Aceh, So Peuhireun?


Beberapa hari yang lalu (9/10/09) Saya membawa mahasiswa kelas Metodologi Penelitian saya di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh ke Museum Aceh. Saya ingin menunjukkan kepada mereka (sambil saya juga mau belajar lebih banyak) bahwa banyak "masalah penelitian" di Aceh yang belum tersentuh sehingga mereka tidak perlu mengeluh untuk membuat proposal skripsi dengan alasan tidak ada masalah. Salah satu masalah tersebut adalah masalah pernaskahan atau manuskrip Aceh. Secara umum yang dimaksud dengan manuskrip adalah tulisan tangan yang telah berumur lebih dari 50 tahun. Biasanya manuskrip berkaitan dengan ilmu-ilmu tertentu yang hidup dan berkembang pada masa lalu.

Saya sengaja membawa mahasiswa ke sana karena saya tahu Museum Aceh belakangan ini sedang menjalankan program digitalisasi naskah lama dengan bantuan dari pemerintah Jerman. Oleh sebab itu sambil saya juga belajar saya ingin memperkenalkan kepada mashasiswa bahwa Aceh memiliki banyak naskah kuno yang belum tersentuh oleh tangan peneliti Aceh sendiri. Yang datang ke Aceh untuk melakukan penelitian terhadap manuskrip itu justru orang luar Aceh dan dari berbagai negara di dunia. Ini sungguh riskan, di tengah keinginan masyarakat Aceh untuk kembali laiknya kejayaan masa lalu orang Aceh sendiri tidak tahu kejayaan seperti apa yang pernah diraih sejarahnya. Yang ada hanyalah cerita lama yang romantis yang digunakan politisi untuk meninabobokan masyarakat. Saya berharap kunjungan ini menjadi stimulus awal bagi para mahasiswa calon peneliti di masa yang akan datang.

Di Museum kami mendapatkan penjelasan yang sangat banyak dari Bapak Salman dan Bapak Abidin Nurdin, serta beberapa petugas Museum yang sedang bekerja. Mereka adalah orang yang secara langsung terlibat dalam program digitalisasi tersebut. Program ini direncanakan berlangsung sampai akhir desember 2009 ini. Namun menurut pengakuan mereka, dari 1500 manuskrip yang seharusnya dibuat digitalnya, sampai saat ini baru selesai tiga perempatnya. Hal ini tidak lain disebabkan terbatasnya tenaga yang dapat melakukan digitalisasi dan partisipasi masyarakat yang juga rendah dengan usaha ini.

Ada beberapa hal yang menarik dari cerita Salman dan Abidin.Diantaranya adalah perhatian yang rendah dari masyarakat mengenai naskah klasik di Aceh. Selama ini naskah yang ada dalam masyarakat diperjual-belikan dengan bebas. Masyarakat tidak tahu kalau naskah itu adalah barang berharga yang bukan hanya memiliki nilai ekonomi, namun juga nilai sejarah. Mereka yang tidak tahu menjual naskah tua yang ada di rumahnya kepada agen yang selama ini memang bergerilya di kampung-kampung mencari naskah lama tersebut. Padahal kalau mereka tahu, naskah itu dapat menggambarkan kondisi masyarakt kita dalam sejarah masa lalu.

Kondisi ini diperburuk dengan perhatian yang mminim dari pemerintah mengenai naskah klasik ini. Pemerintah tidak menjadikan upaya penyelamatan naskah sebagai salah satu program penting. Padahal mereka selalu mendengungkan bahwa kemajuan Aceh masa lalu layak menjadi acuan bagi kemajuan Aceh masa kini. Tanpa menyelamatkan naskah, mustahil kita tahu bagimana kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Aceh masa lalu.

Saat ini ada 1500 naskah yang sedang dibuat digitalnya atas bantuan pemerintah Jerman. Sebuah harga scaner khusus untuk digitalisasi naskah berharga Rp. 400 juta. Scaner ini mampu menrekam secara detail tulisan-tulisan yang ada di kertas lapuk tersebut. Dengan melakukan scan terhadap naskah, maka content naskah akan dapat diselamatkan dalam waktu yang lama. Museum Aceh mempublish hasil scaning itu di website khusus untuk manuskrip.Hal ini dimaksudkan agar ilmuan internasional dapat mengakses dan tertarik untuk melakukan penelitian mengenai naskah lama Aceh tersebut.

Tentu saja, tanggung jawab mengungkap berbagai misteri di balik naskah lama itu ada di tangan kita, terutama orang Aceh sendiri. Ada banyak hal yang dapat diungkap dari naskah-naskah itu. Banyak ulama yang belum kita kenal padahal ia memiliki karya. Selama ini kita hanya mengenal ualama Aceh dalam sejarah Aceh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Ar-Raniry dan Abdurrauf. Padahal masih banyak ulama lain yang tidak kalah cerdas dan berpengaruh yang hidup pada masa itu dan memiliki sejumlah karya. Hanya dengan sebuah penelitian kita akan mengungkapkan hal itu.

saya sangat berharap, dari 20-an orang mahasiswa yang saya bawa ke sana, salah satunya tertarik dengan penelitian manuskrip klasik itu. Sampai saat ini belum ada orang Aceh yang ahli dalam hal ini. Beberapa tema yang pernah mengikuti pelatihan penelitian naskah juga tidak mendalaminya secara serius. Ini memang ilmu "kering" jika dibandingkan dengan ekonomi, teknik, kedokteran, dll. Namun kalu kita menjadi "the best" dalam bidang itu saya yakin dari sisi kepuasan intelektual dan materi tetap akan kita peroleh.

03 November 2008

SECANGKIR KOPI “KOK BISA?”

Bimbingan dengan Prof. Irwan Abdullah
Warong Kopi Cek Yuke, Banda Aceh, Minggu, 2 Oktober 2008. Jam. 07.00 s/d 09.00.

Ceudara, kemarin saya jumpa dengan Prof. Irawan Abdullah, pembimbing penelitian saya. Beliau adalah direktur Pasca Sarjana UGM dan guru besar dalam bidang Antropologi di UGM. Sudah lama saya mencari kesempatan untuk bertemu dan berkonsultasi mengenai penelitian yang sedang saya lakukan. sayangnya saya tidak mendapatkan kesempatan. Padahal saya merasa sangat perlu berkonsultasi dengannya. Sebab saya tahu kalau dia adalah salah satu prof yang memang ahli dalma menulis dan menyusun sistematika penulisan.

Nah, setelah beberapa kali gagal, kemarin di tengah kesibukannya, beliau mengajak saya sarapan pagi di Warung Kopi Cek Yuke pingir Krueng Aceh Banda Aceh. mulai jam 07.00 pagi. Hush…. Padahal hari minggu yang lain aku baru melihat mata hari dua atau tiga jam kemudian. Heheh.


Sangat menarik karena beliau membimbing saya samabil menulis dibuku saya. So, tidak perlu rekaman dan cukup mendengar, sebab beliau yang menulis. Pelan dan sistematis. Nah… menurut saya ilu seperti ini penting juga bagi rekan-rekan. Soalnya banyak diantara kita yang kesulitan menyusun laporan dan membuat sistematika tulisan. Apalagi tulisan untuk jurnal Internasional. Makanya saya coba tulisa ulang dan share di sini. Ini semua tidak sama persis dengan apa yang disampaikan Prof. Irwan. Namun arahnya kira-kira ya begini. Semoga bermanfaat.

Dasar Penelitian
Awal dari penelitian sosial itu sebenarnya ada dua hal, fenomena dan realitas. Fenomena adalah sesuatu yang terjadi dalam masyarakat, yang dilakukan berulang-ulang, dikerjakan terus menerus, sama di berbagai tempat dan waktu. Misalnya kenduri yang dilaksanakan dalam berbagai peristiwa, kesempatan, kehidupan sosial masyarakat Aceh. Dari fenomena ini diperoleh fakta-fakta. Sebagai contoh, fakta mengenai kenduri yang dilakukan pada masa tertentu, tahapan kenduri, benda upacara yang digunakan dan lain sebagainya. Kedua, Realitas. Upacara saja bukanlah sebuah realitas. Realitas justru berada di balik upacara tersebut, yakni apa yang dikandung di balik apa yang nampak. Reaitas inilah yang harus ditemukan melaui sebuah penelitian. Penelitian dnegan metode tertentu pada hakikatnya adalah keinginan mengungkapkan realitas di balik fenomena yang ada dan terlihat.

Selama ini banyak penelitian yang telah dilakukan namun tidak dipublikasikan lewat tulisan. Ini tentu saja tidak bagus bahkan sisa-sia. Sebuah penelitan akan bermakna jika ia ditulis dan dipublikasikan. Dengan demikian manfaatnya akan diperoleh oleh banyak orang yang membacanya.

Untuk menjadikan penelitian mudah ditulis, melahirkan karya tulis ilmiah, maka penelitian harus didasari pada kegelisahan intelektual. Kegelisahan ini akan menimbulkan masalah dan melahirkan pertanyaan penelitian. Saya misalkan, saya mau meneliti “minum kopi di Ulhe Kareng.” Ini bukanlah sebuah masalah sebab di sana tidak terkandung “kegelisahan yang menuntut adanya jawaban. Pernyataan ini akan menjadi masalah jika ditanyakan: “Kenapa orang Aceh sangat suka minum kopi? Apakah mereka minumkopi karena mau menikmati rasa kopi? Atau karena tempatnya? Atau justru karena “ending” dari minum kopi itu sendiri? Misal, dengan minum kopi seseorang akan memiliki teman baru, rekan kerja baru, patner bisnis, negosiasi proyek, dan lain sebagainya. “Kegelisahan” ini kemudian menimbulkan pertanyaan “kok bisa?”

Jadi kunci dari mendapatkan masalah penelitian adalah pertanyaan: “KOK BISA YA?” Kok bisa kenduri yang butuh banyak uang dipertahankan dalam masyarakat? Padahal saat ini sedang terjadi krisis BBM, harga bahan sangat mahal, transportasi susah. Sementara itu pendapatan masyarakat sendiri kecil, komoditas pertanian yang dihasilkan di lahan-lahan mereka dihargai rendah, pemeasran juga sulit. Belum lagi musibah konflik, tsunami yang melanda masyarakat bertahuan-tahun menjadikan kehidupan ekonomi mereka sangat sulit.

Kalau pertanyaan “KOK BISA” sudah dapat dibuat reasoneble, maka saya kira sudah mudah menyusun masalah penelitian dan membuat tulisan sebagai bahan publikasinya.

Merumusan Masalah Penelitian
Rumusan sebuah penelitan bisa dilakukan dengan pernyataan yang disusul dengan pertanyaan. Selama ini pertanyaan penelitian dapat diklasifikasi menurut kata tanya-nya. Pertanyaan dengan “Apa” biasanya pertanyaan yang digunakan untuk strata satu di kampus. Pertanyaan ini hanya untuk mendeskripsikan fenomena dan tidak terlalu mendalam. Kemudian pertayaan “Bagaimana” biasanya digunakan untuk penelitian strata dua. Dalam pertanyaan ini terkandung keinginan untuk mencari proses yang lebih mendalam dari sebuah fenomena. Sementara pertanyaan “Kenapa” dipakai untuk penelitian-penelitian doktoral. Pertanyaan ini akan mencoba menelusuri makna yang lebih mendalam dari persitiwa sehingga sampai pada analisis dan membangun sebuah teori baru.

Namun ini tidak ketat. Setiap starta boleh saja mengambil kata tanya tertentu dan menggunakannya untuk penelitian. Program doktoral sekalipun bisa menggunakan kata tanya “apa”, misalnya untuk kasus sesuatu yang belum diinfomrmasikan sama sekali, sebuah fenomena, kejadian, konsep yang belum dikenal di dunia akademik. Ia merasa apa yang hendak ditulis adalah sebuah hal yang eprlu diinformasikan kepada masyarakat secara luas. Namun penelitian seperti ini tentu saja memiliki nilai lebih rendah dari sebuah penelitian akademik murni. Ini akan banyak dimanfaatkan untuk dokumentasi yang akan bermanfaat untuk pengambilan kebijakan lainnya.

Dalam konteks penelitian “Kenduri Kematian dalam Budaya Kluet” mungkin kita bisa rumuskan msaalah penelitiannya dengan: “Mengapa kenduri kematian dalam masyarakat Kluet dapat bertahan di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi dalam masyarakat?” Jadi dari masalah ini kita dapat menekankan masalah pada: perubahan-perubahan masyarakat yang terjadi dalam berbagai aspek tetap berlangsung dan dilaksanakan oleh masyarakat dengan segala simbol yang mendukungnya masih dipertahankan (menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kluet)


Dengan menulis masalah penelitian dengan baik, maka kita akan merumuskan pertanyaan penelitian dengan baik pula. Kalau kita sanggup merumuskan masalah dengan tiga pertanyaan enelitian, maka itu artinya telah selesai setengah dari penelitian. Sebab dengan perumusan masalah penelitian dan merumuskan pertanyaan dengan baik, maka kita akan dituntun untuk sedikit demi sedikit menulis penelitian berdasarkan data yang diperoleh.

Jadi dalam kasus “Kenduri Kematian Dalam mAsyarakat Kluet” ini maka pertanyaan yang dapat dibaut adalah:

  1. Bagaimana upacara / kenduri kematian yang berlangsung dalam masyarakat Kluet?
  2. Apa makna upacara kenduri tersebut bagi kehidupan masyarakat Kluet?
  3. Bagaimana startegi masyarakat Kluet dalam mempertahankan eksistensi kenduri kematian tersbut?
Penelitian pada umunya hanya memiliki diga dimesi, Faktor, Proses dan Impac. Kalau seorang peneliti mengatakan penelitiannya ingin mengkaji sebab-sebab, latar belakang, maka itu berarti penelitiannya dalam tataran faktor. Jika seorang peneliti mengatakan melakukan penelitian aktifitas sosial dalam masyarakat, maka itu adalah penelitian proses. Dan jika yang diteliti adalah kegiunaan dan pengaruh, maka itu adalah impac. Masing-masaing dimensi ini akan melahirkan teori yang berbeda. Penelitian dalma dimensi faktor didasari pada teori sebab akibat. Penelitian dalam dimensi Proses akan menggunakan teori fungsi, struktural fungsional, dan sebagainya. Penelitian dalam dimesni impac akan menggunakan teori struktural, simbol dan sebagainya. dalam dimensi terakhir ini bisa menjawab pertanyaan “apa makna?”

Pertaanyaan peneltian harus diturunkan dari rumusan masalah penelitian. Kalau ia berbeda dari masalah maka itu anamanya anak Haram! Dengan melakukan ini akan memudahkan kita membuat struktur dalam penulisan laporan nantinya.


Masalah

  Pertanyaan 1                 Pertanyaan 2                Pertanyaan 3

Supaya sebuah pertanyaannya penelitian itu kuat, maka setiap pertanyaan penelitian harus dicari landasan teoritisnya. Landasan teori akan sangat berfungsi dalam analisis data dalam peneulisan nantinya. Tanpa analisis maka penelitian kita tidak ubahnya dengan reportase jurnalistik yang dilakukan wartawan. Reportase, selain tidak mendalam juga tidak sesui dengan kaidah akademik yang berkembang selama ini.

Jadi dalam penelitian di atas, maka kita bisa tawarkan beberapa teori berikut:

  1. Untuk pertanyaan pertama (tentang bagaimana kenduri kematian dilaksanakn dalam masyarakat Kluet) dapat dipakai Teori kontruksi dan teori proses.
  2. Untuk pertanyaan nomor dua, yakni pertanyaan pemaknaan, dapat dunakan Teori Simbol yang dikemukakan oleh Gertz, Sorotsky, Loiy, Vanball, dan Raimon.
  3. Untuk pertanyaan strataegi masyarakat dalam mempertahankan budaya kenduri dapat dipakai Teori reproduksi sosial, yaitu Kontruksi dan reproduksi kebudyaan. (Untuk terori ini silakan merujuk buku pak Irwan Abdullah Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan).
Apakah kita tidak dibenarkan menggunakan satu teosi saja dalam analisis hasil penelitian? Boleh saja. Namun sebelum menggunakan sebuah teori, pastikan penelitian yang kita lakukan sama persis dengan sebuah studi yang telah dilakukan orang lain. Hanya saja kita menggunakannya di tempat dan komunitas yang berbeda. Jadi kalau sudah pernah ada yang melakukan penenlitian masalah kenduri kematian dalam sebuah masyarakat adat tertentu, maka itu bisa digunakan sebagai landasan teori untuk keseluruhan pertanyaan penelitian yang akan dijawab tanpa menggunkaan beberapa teosi sebagaimana dijelaskan tadi.

Di mana teori berfungsi?
Teori dalam penelitian tidak dibuat dalam sub khusus, namun ia inklut dalam pembahasan terutama dalam analisis data. Yang kita sebut dengan hasil pnelitian adalah dari Pendahulan sampai penutup. Semuanya hasil penelitian. Kalau teori, gambaran lokasi dan hasil penelitian ditulis dalam bentuk terpisah, maka orang hanya akan membaca hasil saja dan meninggalkan yang lainnya. Yang diperlukan adalah hasil penelitian yang mengalir dan semua bagian dirasakan perlu/penting.

Demikian halnya ketika kita memasukkan teori ke dalam analisis data. Misalkan kita mendapatkan sebuah teori yang dibagi dalam beberapa bagian. Maka kita tidak mesti membuatnya dalam bentuk numerik (a., b., dst) namun ia masuk dalam pembahasan secara umum dan menyeluruh.
Khusus untuk artikel peneliatan kenduri kematain dalam Kluet bisa dirancang seperti berikut ini:

  1. Pendahuluan (dalam 2 halaman)
  2. Kluet Sebuah Suku Yang Sedang Berubah (dalam 3 halaman)Dalam bagian ini dijelaskan berbagai kondisi sosial dan daerah Kluet (lokasi penelitian) dan sifat yang sedang berlaku pada daerah tersebut saat ini. berdasarkan seting lokasi inilah kemudian ditentukan judul untuk bagian kedua ini. Bagian ini sanagt diperlukan untuk sebuah jurnal internasional. Sebab banyak orang yang tidak mengetahui di mana Kluet? Ada apa di sana? Kenapa kok penulis tertarik menulis mengani Kluet?
  3. Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet. Bagian ini berasal dari Pertanyaan pertama dalam pertanyaan penelitian yang telah dibuat sebelumnya. Berdasarkan pertanyaan yang ada, maka dalam bagian ini mensyaraktkan kita menceritakan proses kenduri kematian dalam masyarakt Kluet. Penjelasan ini akan dibagi dalam beberapa bagian. Berdasarkan teori…… maka penjelasan akan dilakukan dalam bagian berikut:
    a. Prosesi: Menjelasakan dari awal sampai akir
    b. Aktor: Menyebutkan siapa saja yang berperan
    c. Pastisipasi: Menjelasakan keikutsertaan masyarakat dalam prosesi itu
    d. Motif/Alasan: Menggali alasan masyarakat melaksanakan kenduri. Misalnya karena manusia hidup di dunia dan akirat, maka ketika seseiorang menigal dunia, maka ia pelru dimuliakan dengan dihantar bersama.
    e. Emosi Publik atas upacara: Menjelasakan dampak dari proses kendiri yang telah dilakukan.
  4. Makna Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet (teori makna, 4 hal
    a. Rasa/psikologi (hana mangat)
    b. Fungsi (income dari paerkir, tenda, dll
    c. Guna (Gara2 perkawinan sudah ada reuni, ketika memberikan uang pada sahabat, bukan uangnya, tapi meneguhkan persahabatan) 
  5. Strategi Pelestarian Kenduri Kematian Dalam Komunitas Kluet (4 hal)
  6. Antara Tradisi dan Modernisasi (berasal dari masalah) 3
    Bagian ini diambil dari masalah penelitian. (Saya berharap bagian ini diberikan poin-poinnya oleh Prof. Irwan. Namun katanya, kalau bagian ini diberikan itu namanya penelitian dia bukan penelitian saya. heheh. Sebab inti dari sebuah penelitian ada di sini).
  7. Penutup (concluding remarks) 1 hal

Berapa halaman idealnya tulisan untuk jurnal internasional?
Kalau tulisan / artikel dibuat dalam satu spasi, maka untuk tulisan di sebuah jurnal Internasional kita perlu sebanyak 21- 30 halaman. Jumlah ini seolah terlalu besar dan berat. Namun ini bisa disiasati dengan merancang kerangka tulisan yang lebih sederhana dan menysuusn sistemati sehingga memudahkan dalam proses penulisan. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
  1. Dari sub bab yang telah dirancang, coba berikan perkiraan halaman sehingga jumlah keseluruhan bisa mencapai jumlah halaman yang diinginkan. Misal: Subbab Antara Tradisi dan Modernisasi, akan ditulis dalam tiga halaman. Subab lain akan ditulis dalam empat atau lima halaman, dst.
  2. Kemudian setiap subbab bagilah (secara imaginer) dalam jumlah halaman yang diinginkan. Misalanya subbab “Makna Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet” telah dirancang dalam 4 halaman. Maka sub bab ini dibagi dalam empat anak sub bab (lagi-lagi secara imaginer) dan satu anak subabab akan ditulis dalam satu halaman.
  3. Setelah pembagian ini, maka anda hanya memfokuskan diri menulis satu halaman saja. Satu halaman biasanya ada tiga paragraf atau 45 baris. Jadi satu alienia terdiri dari lebih kurang lima belas baris.
  4. Jadi fokus kita akirnya adalah pada paragraf. Untuk menyelesaikan sebuah paragraf, maka bagilah sebuah paragraf dalam beberapa kelompok berikut:
    a. Mulai dengan definisi.
        Hubungan sosial, menyangkut ketetanggaan, bukan hanya proses upacara tapi juga
        sejarah.
    b. Format/bentuk/tipe
        Ada hubungan sosial karna darah, perkawinan, tetangga, persaudaraan
    c. Mekanisme / Proses Hubungan
        Tolong2 untuk membina hubungan sosial, Ada peristiwa2, Berfungsi ketika terjaid krisis
    d. Faktor; Kondisi yang menyebabkan terjadi.berlangsung
    e. Akibat/danmpak mislanya apa akibat dari hubungan sosial.
  5. Kalau kelompok di atas kita bisa kita masukkan satu-satu dalam kalimat, maka akan membuatuhkan lima kalimat. Dan lima kalimat sudah cukup untuk membangun sebuah paragraf.
Makanya jangan berfikirlah satu artikel, satu halaman! Jadi menulis itu bukan 30 halaman, tapi hanya satu paragraf. So gampang!!