Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

25 June 2011

Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?

Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant. Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.

Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.

Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.

Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.

Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.

Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.

Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.

05 June 2010

Masuk Longgar Keluar Ketat

Kemarin baru saja ngobrol dengan seorang teman yang sedang mengeluh. Katanya ia sedang kesal, sudah tiga kali mendaftar di program pascasarjana sebuah universitas tidak juga diterima. Padahal dari sisi segalanya ia sudah siap. Biaya pendidikan, keluarga, surat izin pendidikan, semua sudah oke dan ia benar-benar siap untuk -kembali- belajar di kampus. Namun apa daya, sudah tiga tahun mendaftar di perguruan tinggi kesukaannya, namun belum juga berhasil.

Ia mengeluh sambil tetap instrospeksi diri, meyakinkan diri bahwa ia bukan orang yang pantas untuk menjadi master. Namun setelah beberapa kali ikut tes, ia berbalik arah, mengatakan pendidikan kita terlalu formal dan prosedural. Orang sudah bersedia belajar, sudah siap biaya, sudah semangat, malah tidak diberikan kesempatan untuk belajar. Apa salahnya pihak perguruan tinggi memudahkan jalur masuk? Kalau nanti tujuannya mau jadikan lulusan yang berkualitas tinggal disetel di jalur keluar. Dengan demikian semua orang punya kesempatan untuk belajar di level yang lebih tinggi, dan punya kesempatan untuk “unjuk gigi” di kelas.

Seorang teman yang lain, minggu lalu mengeluh karena universitas tempat ia mau mendapftar S2 meminta terlalu banyak dokumen. Selain iajazah, transkrip nilai, SK pegawai negeri, izin pimpinan, rekomendasi atasan, rekomendasi mantan pembimbing dan macam-macam lagi. Semua dokumen itu menjadi bahan yang harus dimasukkan dalam sebuah map untuk kepentingan pendaftaran. Ia jadi mengeluh, pertama karena memang agak sulit mengurusnya. Kedua, untuk apa dokumen-dokumen tersebut? Apa pentingnya buat program pascasarjana? Setelah diberikan mereka pasti melemparkannya ke tong sampah. Padahal, menurut teman saya, cukup dengan dokumen penting saja, ijazah. Ini yang membuktikan ia sudah selesai S1/S2. Selebihnya bisa dengan curriculvitae (CV). Apakah ia akan berbohong? dalam tahun-tahun awal keberadaannya di kampus, semua kebohongan dan kejujurannya akan terbukti.

Saya jadi teringat pengalaman seorang teman yang mendaftar beasiswa ke luar negeri. Katanya banyak universitas di luar negeri tidak perlu tes untuk masuk ke program pascasarjananya. Kita hanya perlu submit beberapa dokumen, lalu selesai. Mereka akan menilai berdasarkan dokumen tersebut lalu memanggil kita. Namun kenapa kualitas pendidikannya bagus? Karena di dalam, saat mahasiswa kuliah, seseorang benar-benar mendapatkan pendidikan yang bagus dan bermanfaat untuk pengembangan diri dan ilmunya. Kalau lembaga pendidikan mendidik orang pintar lalu lembaga tersebut terkenal, itu hal biasa. Tapi kalau ia menerima “orang bodoh” lalu mendidiknya mejadi pintar, baru istimewa.

Saya sangat berharap akan lahir sebuah kebijakan yang memudahkan seroang uantuk melanjutkan pedidikannya, terutama untuk S2 dan S3, tanpa harus tes. Dengan melihat CV seseorang sebenarnya kita telah mampu memetakan kemampuannya dalam mengikuti kuliah. Mungkin tes masih perlu untuk S1 karena sangat banyak, sementara S2 dan S3 dengan jumlah peminatnya yang tida kterklalu banyak, mungkin bisa diterima tanpa tes. Jadi masukknya longgar, keluarnya ketat.



Cara Mengetahui Mahasiswa Nyontek

Nyontek memang sebuah kejahatan akademik. Namun tetap saja banyak mahasiswa yang menyontek waktu ujian. Memang dosen sudah memperingatkan kalau nyontek dia tidak akan lulus, kalau nyontek dapat nilai jelek, macam-macam sangsi lah. Tapi kenyataannya nyontek laksana penyakit yang sulit dihilangkan dikalangan mahasiswa.

Tapi beberapa dosen punya kita khusus mendeteksi mahasiswa menyontek. Beberapa cara itu dilakukan dosen saya saat kuliah dulu.

Membca Koran

Ada dosen masuk kelas dengan membawa koran. Setelah membagikan soal ujian dan lembaran jawaban, ia duduk santai di depan kelas. Koran yang besar dibantangkan di depan mukanya sehingga mahasiswa tidak bisa melihatnya.

Melihat kondisi ini, kami mulai aksak-kusuk kanan kiri minta bantuan. pelan-pelan buka cataan. kopean yang sudah disediakan sejak di rumah juga mulai digunakan. sebagai mengambil dari sepatu, ada dari tali pinggang, ada di balik baju, macam-macam. bahkan ada yang menulisnya di tangan dan menutupinya dengan baju berlengan panjang.

Sang dosen seperti tetap asyik dengan bacaannya dan tidak peduli dengan apa yang kami lakukan. Kamipun semakin menggila, buka hanya melihat punya sendiri, tapi mulai berani menjenguk jawaban ujian teman.

Tiba-tiba, bapak dosen membuka korannya. Dan kami secepat kilat duduk dengan rapi dan seolah tidak terjadi apa-apa. secepat kilat pula semua catatan dimasukkan ke tempatnya yang paling aman.

Ternyata bapak dosen bukan hanya membuka koran di depannya, tapi langsung berdiri dan menuju ke meja kursi mahasiswa. Ia tahu persis di mana kopean diletakkan. Semua mahasiwa yang menyimpan catatan diambil dan dibawa ke depan.

Selidik punya selidik, ternyata koran yang dibacanya telah dilubangi di tengah dengan paku. Dari kejauhan mahasiswa tidak nampak lupang itu karena kecil-kecil. Namun karena koran sangat dekat dengannya, ia dapat melihat apa saja yang dilakukan mahasiswa. Pantas saja ia tahu di mana kopean disembunyikan.

Kacamata Hitam

Strategi yang lain adalah dengan memakai kacamata hitam. Seorang dosen duduk di depan mengenakan kacamata hitam. Mahasiswa tidak tahu ia melihat kemana. sebab mata sang dosen dibalik kacamata tidak nampak sama sekali. Ia bisa saja melihat ke luar ruangan, namun matanya melihat ke arah mahasiswa.

Beberapa teman yang nekat tidak mengerti dengan kondisi ini. Ketika bapak dosen melihat keluar, ia pikir benar-benar melihat ke luar. sehingga jurus buka kopeanpuan dimainkan. dan apa yang terjadi? beberapa saat kemudian pak dosen akan bangun dana mengambil kopean tersebut.

Akan tetapi menggunakan kacamata ini terkadang banyak masalah juga. Kadang-kadang dosen tertidur di balik akcamatanya. namun karena khawatir ia terjaga dan melihat ke arah mahasiswa, maka kami takut membuka kopean. sampai ujian selesai, ia tidak perlu mengawasi mahasiswa, kukup tidur dengan kacamata hitam saja.

Kejadian aneh

Ada kejadian aneh. seorang dosen membawa koran ke dalam ruangan dan membca dengan santai. Kami mengira ia benar-benar membaca koran karena duduk dengan sangat tenang. Tiba-tiba kami sadar kalau koran di bagian lauar yang mengarah ke kami terbalik. jadi koranya pasti terbalik dan si dosen bukan sedang memabca koran. Nah, ketika tangan si dosen jatuh ke pahanya, berarti ia tidak lagi memegang koran. Koran hanya tegak karena disandarkan di tas. Dan beliau sudah tertidur dengan pulas. Dengan sangat hati-hati kamipun memaikan aksi.

Kejadian lain katika sang dosen menggunakan kacamata hitam. Kami sangat takut karena khawatir beliau melihat dari balik kacamata. Tapi tiba-tiba kacamatanya jatuh sebelah. Tapi beliau tidak memperbaiki letaknya. Dan dengan jelas kami melihat matanya tertutup. berarti beliau tertidur. Dan kamipun mulai melakukan aksi nyontek.

hahaha… pengalaman masa-masa mahasiswa :-D

Kata Dosenku: “Nilai A Milik Tuhan”

Tiba tiba teringat masa lalu, masa-masa jadi mahasiswa. Banyak kenangan yang tercipta, yang sedih, yang gembira, yang macam-macam lah. Semua masih terasa.

Ada beberapa kenangan berkaitan dengan nilai dari dosen. Begini ceritanya:

Nilai A Milik Tuhan
Ketika masih kuliah, saya termasuk sebagai mahasiswa yang lumayan rajin, setidaknya dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Kalau ada tugas dari dosen saya benar-benar kerjakan dan selesaikan tepat waktu dan seerti yang diinginkan dosen. Demikian juga dalam kelas, saya tunjukkan keseriusan saya dalam belajar.

Pada akhir semester, semua mahasiswa mengikuti ujian. Ujian dilaksanakan secara tertulis di kelas. Dosen menulis soal di papan tulis, lalu kami menjawabnya. Saya melakukannya dengan baik dan menjawab soal dengan sempurna, sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh dosen pada masa kuliah.

Dua minggu kemudian nilai keluar. Setiap mahasiswa mendapatkan nilainya sendiri. Ketika melihat nilai yang ditempel di papan pengumuman dekat jurusan, saya terkejut melihat nilai saya B. Saya sangat tidak bisa menerima. Soalnya saya merasa hampir tidak ada “celah” untuk memberikan nilai demikian. Hampir semua aspek yang akan dinilai saya ikuti dan selesaikan dengan baik.

Saya mendatangi dosen yang mengasuh mata kuliah ini. Agak sulit juga karena beliau agak sibuk dengan kegiatan sosial di luar kampus. Namun pada saatu hari saya berhasil menemuinya. Setelah duduk memperkenalkan diri, saya menyampaikan maksud saya menjumpainya. Saya juga kemukakan alasan saya untuk mengajukan protes. Bahkan saya mengatakan kalau saya bersedia mengikuti ujian ulang, termasuk ujian lisan.

Betapa terkejutnya saya ketika beliau menjawab:
“Nilai A itu untuk Tuhan. Nilai B untuk saya. Paling tinggi nilai mahasiswa adalah C. Kalau kamu dapat B berarti kamu sudah saya kasih hadiah besar.”

Setelah mengatakan ini iapun pergi. Saya jadi speakless. Tidak tahu harus berkata apa.

Dapat A karena Nekat

Pengalaman lain ikut ujian yang sangat mengesankan dalah dapat A karena berani, bukan karena pandai. Saya mengambil mata kuliah dengan seorang dosen yang sangat –kami katakan- killer. Dalam sejarah, ia hanya pernah mengeluarkan nilai A beberapa kali. Konon katanya, rektor yang ada saat saya kuliah adalah salah seorang yang pernah diberikan nilai A. Inilah yang membuat saya sangat rajin membaca buku-buku yang telah di tetapkan.

Ketika masa ujian tiba hati kami begetar. Siap-siap “dibunuh” oleh sang dosen. Ada sebuah prinsip yang sudah tertanam dalam hati kami. Belajar atau tidak belajar niali pasti C. paling-paling dapat nilai B, dan itu sangat jarang terjadi. Mungkin kebetulan saja.

Ujian akan dilangsungkan keesokan harinya. Saya sudah membaca buku yang dianjurkan dan bahan pelajaran yang lain. Dan sudah sangat membosankan mengulangnya lagi. Karenanya, malam hari saya mengajak beberapa teman main kartu. Kebetulan saya tinggal di satu kosan bersama teman-teman satu jurusan. Saya provokasi mereka dengan mengatakan tidak ada artinya belajar. Ternyata teman terprovokasi dan kami main kartu sampai azan subuh. Setelah shalat subuh kami tidur. Dan hanya satu jam kemudian kami harus bangun dan pergi ke kampus untuk mengikiuti ujian.

Dosen matakuliah masuk kelas. Dengan wajahnya yang garang ia menantang mahasiswa. “Siapa diantara kalian yang berani ujian lisan?” Semua terkejut mendengar tantangan ini. sebab biasanya ujian dilakukan dengan tulisan. Saya tunjukkan tangan. Beliau tanya lagi, apa ada yang lain mau ujian lisan. Melihat saya tunjuk tangan, dua teman yang semalam ikut main kartu juga tunjuk tangan. Saya tunjuk tangan karena sudah baca buku sehari sebelumnya. Sementara mereka tunjuk tangan karena melihat saya tunjuk tangan. Dan akhirnya kami dipisahkan ke ruang yang lain. Sementara teman-teman diberikan soal di dalam kelas dan mengikuti ujian seperti biasa.

Sesaat kemudian Bapak dosen datang menjumpai kami. Teman-teman sudah saya jelaskan kalau saya sudah baca buku sebelumnya maka berani tunjuk tangan. Sementara mereka tidak ada bekal sama sekali. Ini membuat mereka sangat ketakutan. “Kalau aku tahu bagitu aku bakal ikut ujian saja tadi.” katanya.

Namun kami sangat terkejut ketiak Bapak Dosen bilang. Saya tahu kalian sudah membaca dan belajar di rumah. Kalau tidak mana mungkin berani tunjuk tangan. Iya kan? Teman saya yang jawab dengan penuh rasa percaya diri. “Iya Pak.” “Oke, kalau begitu kalian boleh pulang. Saya anggap sudah ikut ujian.”

Kami bersorak di dalam hati. Dan setelah jauh dari ruang dosan kami tertawa terbahak-bahak karena senang berhasil “menipu” dosen killer. Apalagi setelah ujian selesai kami bertiga dapat A atas keberanian itu.


Disangka Muallaf

Kalau ini sebenarnya pengalaman teman saya, anak medan. Namanya Rijal Pangabean. Dia kuliah jauh-jauh ke Aceh. Sebelumnya mondok di sebuah pesantren di medan. Bahsa Arabn dan inggrisnya lancar. Pengetahuan agamanya luas. Kebetulan kami ambil mata kuliah Fiqh Islam. Belajar tentang beberapa hukum dan aturan dasar beribadah dalam Islam. Sesuatu yang memang menjadi “makanan” sehari-hari saat ia di pesantren.

Saat ujian, dosen memberikan kami ujian lisan. Semula kami menolak, namun karena beliau tetap tegas dengan keputusannya, maka kami akhirnya tetap ujian lisan.

Satu-satu kami dipanggil ke depan. Setiap orang ditanya beberapa pertanyaan yang sebenarnya sangat berat. Saya diminta untuk membacakan dua rukun khutbah jum’at beserta dua menit ceramahnya. Ada teman saya yang disuruh membaca do’a-doa shalat jenazah. Sedikit agak berat.

Saat datang giliran si rizal, ia hanya diminta mengartikan kalimat basmallah. Maka dengan mudah ia bisa mengartikan. Apalagi basmallah bukan hanya diketahui artinya oleh orang Islam, ia juga memang ahli dalam bahasa Arab. Dia pun selesai. Dan ketika pengumuman nilai keluar, Rijal dapat nilai A, nilai ujiannya dapat penuh.

Usut-punya usut ternyata Bapak Dosen berfikir kalau Rijal Pangabean adalah muallaf, atau orang yang baru masuk Islam. Maknya ia memintanya menyebutkan arti basmallah saat ujian.


Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!

Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: Mahalnya Ongkos Sekolah. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)

Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.

Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.

Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.

Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.

Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.

Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.

Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.

Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.



Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...