Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

05 June 2010

Tsunami dan Aceh Yang Berubah

“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”

Profesor Emeritus Harold Crouch
ANU-Australia

Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.

Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?

Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.

Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.

Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.

Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.

Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.




13 February 2010

A Shadow Falls: Antropologi Bergaya Novel

Ketika saya pulang dari Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah di mana saya melakukan penelitian, saya menumpang mobil Bapak P, konsultan penelitian saya dari Jurusan Antropologi UGM Yogyakarta. Saya duduk persis di bangku belakang Bapak P yang bertindak sebagai sopir. Di sana ada sebuah kotak plastik yang berisi sebuah kamera besar dengan dua lensanya, beberapa baterai dan senter. Dalam kotak plastik itu juga ada sebuah buku tebal, sekitar 5 cm, yang berwarna kuning, begambar ilustrasi masjid, dan backgroundnya tulisan hanacoroko yang saya tidak tahu bacaannya. Saya mengambil buku itu dan yang pertama saya baca adalah pengarangnya; Andrew Beatty. Saya katakan pada Bapak P, apalah penulis buku ini adalah penulis Varieties of Javanese Religion? Ternyata benar. Ia menulis buku yang setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Variasi Agama Di Jawa.

Saya mendiskusikan buku itu dengan Bapak P. Dengan bahasa Inggis saya yang teramat sangat terbatas, saya mencoba sedikit memahami apa yang ditulis oleh Beatty dalam buku itu. Saat membuka halaman secara acak saya mendapatkan ia sedang bercerita tentang kunjungannya di lapangan dan mengungkapkan apa yang diceritakan masyarakat kepadanya. Saya pikir ini adalah sebagian saja dari bukunya yang tebal tersebut. Ternyata ketika saya membuka beberapa halaman yang lain, saya menjadi heran, di sana tertera cerita-cerita yang lain yang sama sekali tidak mirip dengan “buku ilmiah” yang selama ini saya kenal. Ini membuat saya bertanya pada Bapak P, apakah itu “dibenarkan” dalam Antropologi. Ternyata, model penulisan begitu adalah sebuah model baru yang dikembangkan dalam Antropologi khususnya dalam studi etnografi.

Beatty, menurut Bapak P adalah seorang antropolog yang “kemungkinan ia akan menjadi antropolog keas dunia.” Ia menggabungkan gaya bercerita yang biasanya dipakai oleh novelis dalam menyusun ceritanya dengan data-data lapangan yang diperoleh selama ini tinggal di lokasi penelitian. Saya membaca buku-buku antropolog lain yang menulis mengenai Indonesia semacam Clifford Geerzt, Minako Sakai, Mark Woodward, Leena Avonius dan John R. Bowen yang menulis mengenai masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Di sana saya memang menemukan gaya menulis bercerita dengan deskripsi yang sangat akrobatik tentang penglaman penulisnya di lapangan. Namun –sejauh yang saya pahami- mereka menjadikan cerita itu hanya sebagai “jalan masuk” saja untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tema yang mereka pilih. Selanjutnya mereka melakukan analisis dan pendalaman yang hampir sama dengan tulisan ilmiah sosial lainnya. Namun yang dilakukan Beatty adalah, ia terus bercerita dari paragraf pertama hingga terakhir. Bahkan ia tidak pernah menyebut-nyebut referensi atau membandingkannya dengan studi lain yang pernah ada. Ketika saya melihat di bagian akhir buku, tidak ada juga tercantum daftar referensi yang ia gunakan dalam menulis bukunya.

Di Banda Aceh, saya memiliki seorang teman Jerman, mahasiswa Antropologi dari Leiden University, Mr. D, yang sedang melakukan penelitian disertasinya di Aceh. Satu hari kami minum kopi di Solong, Ulee Kareng. Saya menceritakan pengalaman saya melakukan studi etnografi di Jawa. Kami mendiskusikan beberapa metodologi dalam mengumpulkan data lapangan, membuat catatan lapangan dan mengorganisir data. Kami juga mendiskusikan beberapa hal yang lain. Namun yang menarik adalah ketika ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Sambil mengatakan “Saya membawa buku menarik yang sebaiknya Sehat baca” ia mengeuarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Baru sedikit nampak warna kuning buku itu saya langsung katakan “Andrew Beatty”. Ia sedikit terkejut mendengarnya karena saya tahu tentang buku itu. Padahal untuk konteks Aceh, buku-buku baru terbitan luar negeri tentu tidak mudah dijumpai. Saya menjelaskan kalau saya pernah melihat buku tersebut di Yogyakarta. Kemudian kami mendiskusikan buku itu. Lagi-lagi, seperti Bapak P, teman bule ini mengatakan itu adalah buku yang menarik dan “bacaan wajib” bagi antropolog (atau yang merasa diri antropolog, seperti saya. heheh). Ia juga menjelaskan bagaimana Beatty “memasukkan” referensi dan teori-teori sosial dalam tulisannya.Memang nampak ia tidak mengutip tulisan orang lain dengan menulis nama orang tersebut, namun ia memiliki gambaran teoritis yang kaya sehingga dialog-dialog yang terbangun dalam buku itu juga menjadi sangat kaya dan sarat pengetahuan. “Inilah yang membedakannya dengan sebuah novel biasa,” kata Mr. D.

Di hari yang lain, saya minum kopi bersama teman bule Amerika, Mr. J, seorang mahasiswa antropologi asal Amerika yang sedang melakukan penelitian disertasinya sekaligus bekerja di Aceh. Ternyata ia juga menyebut-yebut tetang buku itu dan mengaku telah membacanya. Ia mengatakan buku itu adalah buku yang bagus yang harus dibaca untuk belajar model baru penulisan antropologi. Namun ia sedikit memberikan kritik pada Andrew Beatty, si penulis buku. Beatty, menurut Mr. J tidak mengakomodir pendapat-pendapat dari masyarakat yang ada di pemerintahan negara, politisi dan masyarakat modernis mengenai pemikiran keagamaan mereka. Bahkan Beatty nampaknya memberikan nilai negatif pada mereka dan menganggap aparatur pemerintah dan modernis “mengganggu” perkembangan Islam “yang benar” yang berkembang dalam masyarakat Pedesaan Jawa.

Sayangnya, saya hanya mendengar para antropolog kenalan saya mengatakan kalau buku itu bagus, baik, layak dibaca, memberikan gaya penulisan baru antropologi, dan lainnya. Saya sendiri tidak memiliki bukunya, dan belum membaca kecuali sesaat di dalam mobil Bapak P dan sesaat di warung kopi bersama Mr. D. Hal ini karena buku tersebut diterbitkan di London oleh Faber and Faber dan juga masih sangat baru, terbitan tahun 2009, dan pasti mahal untuk ukuran Rupiah. Padahal, jujur saya akui, gaya penulis buku yang dilakukan oleh Andrew Beatty adalah gaya yang “gw banget!” Saya ingin belajar dari apa yang telah dipraktekkan oleh Beatty, gaya menulis, sistematika, pemilihan subjek, dan lainnya. Sebuah laporan antropologi bergaya novel! Saya yakin, kalau demikian gaya menulisnya, bukan hanya antropolog dan akademisi sosial yang berkepentingan saja yang akan membaca buku “ilmiah” namun juga masyarakat umum yang lain akan menyukainya. Bahkan satu saat, saya membayangkan semua buku ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan ringan saja sehingga semua orang yang memiliki latar belakang ilmu yang berbeda dapat menikmati dan belajar darinya.

09 December 2009

Peluncuran Buku itu Perayaan

Ada satu hal menarik dari peluncuran buku "Perempuan Dalam Masyarakat Aceh: Memahami Beberapa Persoalan Kekinian" yang dilaksanakan Aceh Research Training Institute (ARTI) tadi pagi. Peluncuran adalah perayaan atas sebuah usaha yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan buku tersebut. Ini sedikit berbeda dengan kebiasaan peluncuran yang saya ikuti selama ini di mana peluncuran sekaligus sebagai forum diskusi dan perdebatan. Perbedaan sedikit ini bermakna besar. Sebagai sebuah perayaan maka peluncuran adalah ajang di mana semua orang yang hadir di sana bergembira atas terwujudnya sebuah buku. Sebaliknya, jika peluncuran adalah sebuah ajang diskusi maka forum akan menjadi tempat di mana penulis mendapatkan kritikan atas karyanya pada hari pertama hasil karya itu dipublikasi.

Bagi saya ini menarik karena menyangkut dengan penghargaan terhadap kerja keras. Selama ini peluncuran buku disertai dengan kritik 7C yang diajukan kepada penulisnya; cover, content, color, construc, comment, (apalagi? saya lupa). Padahal hari itu adaalh hari pertama secara resmi buku itu beredar. Uniknya lagi orang yang mengkritik belum membaca buku itu secara keseluruhan. Umumnya mereka baru mendapatkan pada hari ketika acara itu dilakukan. Namun dengan "semena-mena" mereka menyatakan buku itu belum sempurna dan masih perlu diperbaiki.

Apakah ada karya yang sempurna? semua karya adaalh sebuah proses. Kesempurnaan adaalh milik Tuhan. Sebuah karya lahir dari sebuah kerja keras yang dilakukan penulisnya berbulan-bulan dengan pengorbanan yang tidak sedikit, uang, waktu, perasaan, keluarga dan lainnya. Sangat menyedihkan melihat mereka, sipenulis, tertunduk lesu pada hari pertama hasil kerja kerasnya dipublikasikan.

Ke depan saya pikir model peluncuran ini layak dicontoh. Semua orang yang hadir dalam peluncuran buku akan memberikan pujian kepada penulisnya dan mengungkapkan kebanggaannya atas keluarnya karya itu. Sebuah pujian yang tulus dan iklas akan memberikan motivasi kepada sipenulis untuk terus berkarya dan berusaha mewujudkan karya yang lainnya. Sebaliknya sebuah kritikan, meskipun itu dibalut dengan kritikan positif yang membangun, tetap saja menyisakan duka kepada penulis bahwa apa yang dilakukannya belum layak publish. Padahal belum tentu orang yang mengkritiknya telah melakukan usaha yang sama dengan apa yang dilakukan si penulis.Meunan kira-kira.

08 December 2009

Paulo Coelho si Penyihir Sesat

Bagaimana menemukan keberanian untuk senantiasa jujur pada diri sendiri--bahkan pada saat kita tak yakin akan diri kita? Itulah pertanyaan utama dalam karya penulis bestseller Paulo Coelho, Sang Penyihir dari Portobello. Seperti halnya Sang Alkemis, karya Coelho yang telah diterjemahkan kedalam 64 bahasa di dunia, kisah Sang Penyihir dari Portobello ini memiliki kekuatan untuk mengubah sudut pandang para pembacanya mengenai cinta, gairah, suka cita, dan pengorbanan. Ini pula yang menjadikan saya tertarik untuk membaca buku yang satu ini. Dengan keterbatasan dalam bahasa Inggris, saya membaca edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Gramedia.


Di buku Sang Penyihir dari Portobello ini Coelho menamakan tokoh utamanya dengan Athena. Athena memiliki daya spiritual yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Athena lahir dari rahim seorang Gipsi di Rumania. Saat berumur kurang dari 3 bulan ia diadopsi oleh sebuah keluarga kaya asal Beirut yang sudah lama tidak memiliki anak. Ia dibawa pulang ke negeri di Timur Tengah tersebut dan diberi nama Sherine Khalil. Namun atas saran seorang familinya yang sepertinya tahu bahwa nama berbau Arab akan membawa masalah kelak kemudian hari, mereka memanggil gadis ciliknya dengan sebuah nama yang cenderung netral; "Athena"; merujuk pada dewi kebijaksanaan, kecerdasan, dan peperangan bagi orang Yunani.

Dari kecil Athena ’berbeda’ dari gadis lainnya. Ia punya kecendrungan religius yang kuat, mengatakan dirinya dikelilingi sekumpulan teman tak terlihat, dan meramalkan perpecahan panjang di Beirut. Ramalan itu menjadi kenyataan, lalu dia bersama keluarga pun migrasi ke Inggris, menikah di usia muda, bercerai dan menjadi single mother dari satu putra hasil pernikahannya.

Fokus cerita yang dipaparkan Coelho adalah tentang Athena yang terus mencari ’ruang kosong di dalam diri’ sampai ia menemukan sebuah cara mendapatkan ketenangan yakni dengan tarian. Tarian yang dilakukan dengan gerakan tertentu diiringi dengan musik tertentu membawanya pada kondisi trans. Trans adalah situasi di mana ia menemukan dirinya sendiri dalam kebahagiaan dan kekuatan untuk mempengaruhi orang lain.

”......Menarilah dengan hanya diiringi suara perkusi; ulangi prosesnya setiap hari; ketahuilah bahwa, pada momen tertentu, matamu akan terpejam secara amat alami, dan kau akan mulai melihat cahaya yang datang dari dalam, cahaya yang menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dan membangun kekuatanmu yang tersembunyi,” demikian kata Pavel Podbielski, pemilik apartemen di mana ia tinggal. Pria imigran Polandia ini membuat Athena paham untuk pertama kalinya bahwa menari bisa membawanya pada kepuasan spiritual.

Namun pencarian ’ruang kosong dalam diri’ belum berhenti ketika Athena memahami jalan cahaya (Vertex) yang berasal dari tradisi Siberia. Ia memboyong Viorel, sang anak, pergi ke Dubai dan sukses menjadi agen properti. Akan tetapi, keberhasilan secara materi tak pula membawa kebahagiaan. Di kota ini Athena sempat belajar kaligrafi. Dalam kaligrafi ia juga menemukan jalan menuju ketenangan. Sebab setiap gerak dalam kaligrafi mengikuti gerak kosmos yang berpengaruh pada ketenangan. Namun ini juga tidak memuaskannya, hingga akhirnya ia memutuskan menelusuri jejak ibu kandung ke Rumania, yang justru mempertemukan dirinya dengan Edda yang akhirnya menjadi guru spiritualnya.

Athena selanjutnya menularkan ajaran spiritualnya ke penduduk London, dalam bentuk kebijaksanaan universal Hagia Sofia, dan pada akhirnya menimbulkan reaksi pro dan kontra. Ada pengikutnya, dengan tujuan bermacam-macam. Menemukan kebahagiaan, atau sekadar ingin tahu dan minta diramal. Sebaliknya kelompok penghujat menjulukinya sebagai Sang Penyihir dari Portobello.

Hingga suatu hari ditemukan mayat wanita yang identitasnya dikenali sebagai Athena.

Kisah tentang Athena bergulir paska kematiannya, dari penuturan orang ketiga. Heron Ryan, jurnalis yang jatuh cinta pada Athena sejak pertemuan di Rumania. Guru spiritual Athena, Deidre O’Neill atau lebih dikenal dengan nama ”Edda”. Ibu angkat Samira R. Khalil, Andrea McCain (aktris), Sejarawan Antoine Locadour, pemilik apartemen tempat Athena pernah menyewa kamar, dan mantan suami Athena. Masih adapula tokoh-tokoh lain yang sempat bersinggungan dengan wanita yang meninggal sebelum berusia 30 tahun itu.

Darah Gipsi mengalir dalam tubuh Athena yang membuatnya menikmati bunyi-bunyian dan tarian. Ditinjau dari ilmu antropologi kita juga memahami tradisi lama menghormati Dewa, Yang Maha Agung, atau Maha Besar dalam bentuk tarian pemujaan. Misalkan Whirling Dervishes dalam aliran Sufisme. Atau dalam buku ini menyebutkan tentang tari jalan cahaya atau Vertex dari kaum Siberia yang diajarkan oleh Podbielski.

Athena menemukan kedamaian dalam Tuhan yang feminin. Tuhan dalam bentuk ”Dewi” atau ”Ibu” dalam pencarian ibu kandungnya. ”Dewi” yang memberikan sisi wanita yang melindungi kita di saat bahaya, menemani saat kita menjalankan kegiatan sehari-hari dengan penuh cinta dan sukacita. Sekali lagi kita diingatkan akan cinta, sebuah kisah perjalanan menemukan kedamaian spiritual dan pengorbanan atas nama cinta.

Sumber: Ruang Resensi (dengan sedikit perubahan)

29 July 2008

Tasawuf Aceh: Debat Tuhan dalam Sejarah Aceh


Katanya, pemberlakuan syariat Islam di Aceh saat ini didasari pada kenyataan masa lalu di mana Aceh memiliki kekayaan dalam pemikiran agama dan budaya. Islam telah menjadi bagian dari budaya dan kehidupan sosial masyarakat Aceh sejak lama. sehingga timbul sebuah ungkapan di Aceh, "agama ngen adat lage zat ngen sifet." Ini berarti agama dan adat sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat sejak dalam lama dalam sejarah Aceh. Orang aceh, karenanya, percaya sekali kalau menerapkan Syariat Islam dalam kehidupan sosial bukan hanya tanggung jawab religius, namun juga tanggung jawab historis, yakni mengembalikan kejayaan Aceh masa lalu di Bumi sermabi Makkah. Kejayaan Aceh masa lalu disebabkan oleh ketaatan masyarakat pada agama dan kesabaran mereka dalam menjalankan ajaran agama mereka.

Apakah ini benar? apakah Islam memang menjadi dasar historis dan sosial di Aceh masa lalu? tegasnya, apakah syariat islam yang ada di aceh saat ini memang memiliki dasar dalam sejarah Islam di Aceh?

Pertanyaan tersebutlah yang hendak dijawab oleh buku ini. Penulis mencoba menelusuri sejarah keberadaan islam di Aceh dan perkembangannya, sejak Islam masuk sampai dunia kontemporer. namun ia mencoba membatasinya dalam hal perkembangan tasawuf dan pemikiran para sufi. kerenanya ini dapat pula disebutkan sebagai "Sejarah Perkembangan Pemikiran TAsawuf di Aceh.

Pemilihan tasawuf sebagai objek penulisannya bukan tanpa alasn. Kalau kita lihat perkembangan islam di Aceh, maka tidak bsia dipisahkan dari perkembangan tasawuf. Tasawuf mewarnai corak islam yang masuk ke aceh. Sufi adalah pembawanya. masyarakat yang memiliki kepercayaan mistik sebagaimana diajarkan tasaeuf membudaya dalam hampir seluruh masyarakat aceh. pun sekarang ini. oleh sebab itu dapat dikatakan kalau islam di aceh adalah islam sufistik.

itu dulu. ketika islam pertama kali masuk dan berkembang di sini. namun saat ini, setelah perkembangan masyarakat memiliki hubungan yang sangat mudah dengan masyarakat lain, dan bahkan bangsa lain, maka hal ini tidak lagi dapat menjadi pegangan. Bahkan belakangan, di Aceh modern, tasawuf tidak lagi mendapatkan tempat sebagai tradisi perkembangan islam dan pemikiran keagamaan di Aceh. Para ulama dan cendikiawan di Aceh cenderung menempatkan moralitas-moralitas formal yang diatur secara rigid dalam undang-undang (qanun). karenanya, Islam menjadi teralienasi dari habitatnya yang bersifat ruh dan spiritual.

Bagian yang sangat penting dalam studi ini adalah dimensi perdebatan tentang Tuhan yang dilakukan para sufi masa lalu di Aceh, khususnya pada dua mazhab besara tasawuf, Wahdatul Wujud dan Wahdatus Syuhud. golongan pertama diwakili oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. kedua tokoh ini mengembangkan pemikiran yang mendiskusikan hubungan Tuhan dengan ciptaannya. Mereka menganggap Tuhan termanifestasi dalam setiap ciptaaannya. karenanya segala sesuatu selain Tuhan adalah wujud Tuhan yang dinampakkan.

pandangan ini ditentang oleh Nuruddin Arraniry. ia tidak sepakat dengan pemikiran ini. Tuhan tidak mungkin terwujud dalam alam ciptaannya. sebab Tuhan adalah zatyang maha yang mustahil berwujud. karenanay Ar-Raniry menganggap pernyataan Hamzah sudah kelar dari rel ajaran islam yang benar. dan kerenanya hamzah dan pengikutnya dianggap sesat.

Secara garis besar dalam buku inipenulis membahas beberapa judul berikut:

Pengantar Penerbit
Pengantar Penulis Daftar Isi
Pengantar: Prof. Dr. Ahmad Daudy, M.A
Prolog; Menelusuri Jejak Tasawuf di Aceh
Perkembangan Awal Islam di Aceh
Peran Sufi dalam Islamisasi di Nusantara
Hamzah Fansuri; Mendayung Perahu Menggapai ‘Arsy
Syamsuddin as-Sumatrani; Pelanjut Risalah Hamzah Fansuri
Nuruddin ar-Raniry; Membendung Birahi Salik Menuju Tuhan
Abdurrauf as-Singkili; Mendamaikan Dua Mazhab
Mistisisme Modern di Aceh; Dari Tasawuf ke Tarekat
Epilog
Daftar Pustaka
Indeks
Penulis

Segera dapatkan di toko buku langganan anda!!!!!!!
hehehe.... kok jadi promosi.

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...