06 May 2026

Belajar tentang masa lalu di bukit Lamreh. Membaca pesan-pesan sufistik abad XIV di makam tua Lamuri
_______
"Kita akan naik gunung dan masuk hutan, apa kalian siap?"
"Siap Pak!"
"Tapi di sana banyak monyet dan mungkin babi hutan."
"Ngak apa-apa pak, kami siap!"
Saya ngak menyangka tawaran iseng saya kepada mahasiswa untuk mengunjungi situs makam kerajaan Lamuri (Abad XIV-XV) disambut begitu semangat. Saya yakin bukan karena "Lamuri-nya", tetapi karena belajar di luar ruang kelas.
Syahdan, kamipun berangkat ke sana hari ini, Rabu, 6 Mei 2026, 10 sepeda motor, dua mobil.
Kesan pertama, tidak terkesan.

17 April 2015

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia ini yang hidup tanpa masalah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, manusia selalu berhadapan dengan berbagai persoalan. Bahkan, saat tidur pun terkadang masalah masih menghampiri. Namun, justru dengan adanya masalah, manusia bisa bertahan hidup. Mereka yang kuat adalah mereka yang mampu mengatasi masalah yang menimpa dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk menghadapi masalah berikutnya.

Namun demikian, “masalah penelitian” sering kali tidak mudah ditemukan oleh semua orang. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang sudah lama belajar di perguruan tinggi, rajin membaca, aktif berdiskusi, dan tergolong “pintar” sekalipun tetap kesulitan menemukan masalah penelitian. Hal ini membuat mereka kesulitan menyelesaikan tugas akhir, seperti skripsi, tesis, atau disertasi.

Berdasarkan pengalaman saya, ada lima trik agar kita bisa menemukan masalah dalam penelitian:

16 September 2014

Autoetnografi: Dari Pengalaman ke Teks

Apa yang paling mudah ditulis? Jawabnya sudah pasti: pengalaman pribadi, sesuatu yang pernah dilakukan, dialami, dan itu sangat berkesan. Berbeda dengan pengetahuan yang sering kali terlupakan, pengalaman seperti terpatri di dalam ingatan seseorang. Semakin berkesan sebuah pengalaman, maka semakin kuat ia melekat dalam ingatan. Memang terkadang ia mengalami degradsai, atau bahkan penambahan dalam beberapa aspek detail, namun substansi sebuah pengalaman tetap tidak akan pernah hilang. 

Sayangnya, seringkali pengalaman personal ini diposisikan sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bisa dipakai sebagai data dalam penelitian. Penelitian yang -selalu dianggap- sangat objektif, berusaha seminimal mungkin menggunakan intervensi pribadi sipeneliti dalam laporannya. Peneliti -dianggap- harus independen, harus tidak memihak, dan harus menyajikan data apa adanya seperti yang ia temukan di lapangan. Ia harus memihak pada data, pada temuan-temuan faktual yang ada tenpam emanipulasinya. Hanya dengan cara seperti itu sebuah masalah dapat dilihat lebih terang dan intervensi atas masalah tersebut bisa dilakukan dengan objektif pula. 

29 March 2012

Temanku Sufi Tapi Komunis

"Aku seorang sufi"
"Apa kamu seorang muslim?"
"Bukan, tapi aku suka sufi, dan aku bermujahadah dan riadhah"
Begitulah percakapan singkatku dengan teman ini. Ia orang Veneto, provinsi yang beribukota Venezia. Minggu lalu ia menyewa kamar satu apartemen denganku. Pada malam pertama ia menginap di sana kami berbincang banyak hal, termasuk masalah sufisme. Di sanalah aku tahu kalau ia menyukai sufi.

Semula aku tidak percaya. Bagaimana mungkin di kota Milan yang materialitis ini ada seorang laki-laki Italia mengaku pengagum Sufi? Bagaimana mungkin dalam budaya hidup yang nafsi-nafsi ini ada seorang pria yang menyukai spiritualitas? Lebih aneh lagi, bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan diri sufi namun ia bukan seorang Muslim? Tapi aku tidak bisa menanyakan ini padanya. Aku justru ingin tahu lebih lanjut apa yang ia pikirkan tentang sufi.

28 March 2012

Berkunjung ke Museum Castello Sforzesco

Salah satu objek wisata paling banyak dikunjungi di Milan adalah Museum. Seperti di bebrbagai negara Eropa lainnya, Museum bukanlah sebuah "gudang" untuk menyimpan benda-benda unik, namun etalasa ilmu bagi manusia. Dari museum orang banyak mengenal seperti apa masa lalu mereka, seperti apa masa kini. Tidak heran kalau "berkunjung ke museum" sering menjadi liburan akhir pekan bagi keluarga di Eropa. Jangan bandingkan dengan museum di negeri kita.

Hari minggu lalu aku berkunjung ke museum di Castello Sforzesco. Hari itu semua museum pemerintah di Milan gratis. Jika masuk pada hari yang lain, harus bayar. Aku tidak tahu berapa, namun biasanya museum tidak kurang dari lima euro. Hari ini, mumpung gratis, aku ingin memanfaatkannya. Sudah lama aku ingin melihat isi dalam museum itu dan ini adalah kesempatan yang paling bagus. Aku bisa masuk ke semua museum (14 buah museum) dan menikmati semua pameran mereka. Di pintu masuk aku diberikan selembar tiket gratis. Tiket ini perlu untuk masuk ke berbagai museum yang ada di dalam Castello ini. Aku memegang tiket itu dan memulai tour museum gratis ini.

26 March 2012

Stramilano; Benvenuto Primavera!!

Selamat datang musim semi! kira-kira itulah ungkapan yang tersirat dalam even Stramilano yang diadakan di Milan setiap tahun. Untuk tahun ini Stramilano diadakan kemarin, 25 Maret 2012.

Dari sejarahnya, Stramilano adalah pesta masyarakat Milan merayakan berakhirnya musim dingin dan menyambut kedatangan musim semi.Tradisi ini terus dipelihara hingga sekarang. Pasti sudah banyak yang berubah seiring dengan perubahan zaman. Namun pada intinya mereka tetap memelihara sejarah dan budaya nenek monyang mereka agar erus hidup dan lestari.

Mulai tanggal 21 Maret yang lalu, musim memang sudah berganti. Udara dingin menusuk tulang yang terjadi selama hampir lima bulan, kini sudah mulai berlalu. Bahkan seminggu terakhir, kita bisa keluar rumah tanpa mengenakan jaket. Udara lumayan panas, 20 derajat. Terasa sangat panas karena baru saja selesai masa-masa dingin membeku dalam musim dingin.

Ini saatnya berpesta. Musim semi sudah tiba!

Stramilano adalah pesta menyambut musim semi. Ada tiga hal penting terkait dengan acara ini:
Pertama, maraton masal.
Maraton diikuti oleh atlet dan oleh keluarga. Untuk atlet jarak maratonnya 10 KM. "Atlet" di sini bukanlah atlet profesional dalam dunia oleh raga, namun masyarakat biasa yang juga merasa sanggup untuk mengikutinya. Tahun lalu saya dengar maraton menempuh jarah 20 km. Saya tidak tahu kenapa tahun ini dikurangi setengahnya. Maraton masal ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Milan, tapi juga oleh orang asing. Sangat banyak turis yang datang ke Milan untuk mengikuti maraton masal ini.

Maraton juga diikuti oleh keluarga. Khusun untuk keluarga, maraton menempuh jarak lima KM. Dimulai dari Piazza Duomo, diakhiri di Castello Sforzesco. Ada ribuan keluarga yang tumpah ruah ke lokasi acara saat maraton akan dimulai. Mereka membawa seluruh keluarganya, anak-anak dan bahkan anjing peliharaan. Anak-anak yang belum bisa berjalan diletakkan dalam kereta bayi. Mereka semua mengenakan pakaian khusus yang sudah disediakan panitia dan menenteng sebiji balon. Sehingga dari jauh terlihat sebuah gerakan balon yang berwarna merah. Tidak lupa, dalam maraton masal ini juga diikuti oleh difable, bahkan mereka diberikan tempat paling depan. Setengah perjalanan panitia menyediakan air dan makanan kecil untuk seluruh peserta.
Kedua, Musium dan kolam renang publik gratis.
Kalau hari biasa, untuk masuk ke museum dan kolam renang harus membei tiket. Namun dalam acara Stramilano semuanya gratis. Hanya saja, yang gratis adalah museum dan kolam renang yang dikelola oleh pemerintah. Jangan salah, di Milan kualitas dna fasilitas milik pemerintah juga sama dengan punya swasta. Bagi pendatang seperti saya, ini adalah kesempatan yang langka untuk mengunjungi museum-museum di Milan. Sayangnya waktu teralu pendek, saya tidak mungkin mengunjungi museum yang jumlahnya lebih 100 buah di Milan.

Ketiga, tidak ada mobil dalam kota
Sejam jam delapan apgi hingga jam enam petang, tidak ada kenderaan bermotor di jalan raya. Yang ada hanya kenderaan publik, termasuk taksi. Jadi jalan-jalan di Milan sepanjang hari kemarin sepi dari kenderaan. Namun karena transportasi publiknya yang bagus, semua mobilisasi bisa dilakukan dengan baik. Tidak ada istilah penumpukan orang yang tidak mendapatkan kenderaan. Semua bisa melakukan perjalanan ke seluruh kota dengan mudah, seperti hari yang lain. Setelah acara maraton di pagi hari, sore hari jalan-jalan dipenuhi dengan sepeda. Masyarakat Milan menikmati Stramilano sebagai hari bersepeda.

***

Ada hal penting yang menurut saya penting dalam acara Stramilano kemarin. Yaitu, bagaimana masyarakat Milan yang notabenenya adalah masyarakat kosmo masih menjaga budaya nenek menyang mereka. Bukan hanya kali ini, ada banyak momen di mana mereka membuat even yang terkait dengan budaya lama. Katakan saja acara "Carnevale ambrosiano" yang diadakan bulan Februari. Itu juga sebuah perhelatan besar yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas "penjagaan kota" yang dilakukan oleh Dewa Ambrosio. Dalam kontek perkembangan modern, mereka masih melakukan ini. Hasilnya apa? Ada ratusan ribu turis yang datang hanya untuk melihat perayaan ini.

Syukurnya ada banyak kota di Indonesia melakukan perayaan khas seperti ini. Semoga ke depan semakin baik.

28 February 2012

Carnevale Ambrosiono: Pesta Rakyat di Milano

Secara tidak sengaja sabtu lalu saya datang ke Duomo. Saya terkejut saat melihat ada banyak orang di sana. "Banyak orang" sebenarnya biasa, namun hari sabtu yang lalu orang-orang mengenakan pakaian yang khas, pakaian tradisional, pakai topeng, pakaian super hero, mengecat muka dan lainnya. Anak-anak, remaja dan orang dewasa. Cina, India, Arab, Amerika Latin, Eropa, Afrika, sama saja. Semua berbaur jadi satu. Ada apa ini? Saya jadi penasaran.

Di depan Duomo saya melihat sebuah panggung bertuliskan: Carnevale Ambrosiano. Ternyata hari ini ada carnava ambrosiano. Saya tidak tahu pasti apa itu carnaval ambrosiano. Namun dari ngobrol dengan beberapa orang di sana disebutkan, karnaval ini adalah perta memperingati kedatangan dewa Abrojo atau Ambrosiano, seorang dewa yang melindungi kota Milan. Namun saat ini, pesta ini menjadi ajang bagi warga kota untuk saling berbagi dan membina silaturahim antar suku bangsa yang hidup di Milan.

Ada banyak hal yang menarik dari carnaval ini, diantaranya: pakaian yang dikenakan oleh peserta. Seperti karnaval agustusan di Indonesia, peserta carnaval ini juga mengenakan pakaian yang beraneka ragam. Namun karena yang mengikuti acara berasal dari suku bangsa yang berbeda jadi pakaiannya juga sangat beragam, sesuai dengan pakaian adat suku bangsa tersebut. Milan adalah kota kosmopolit. di sana hidup banyak orang dari berbagai bangsa dan berbagai suku di dunia. Kosmopolit dalam pakaian ini nampak jelas dalam acara carnaval kali ini.

Menarik juga melihat keterlibatan anak-anak. Dalam acara ini anak-anak benar-benar mendapatkan tempat bermain dan bertemu dengan sesama mereka. Semua anak-anak berada di bawah pengawasan orang tua mereka. Jadi tidak ada anak yang berkeliaran, atau menangis karena kehilangan orang tuanya. Kemanapun mereka pegi, orang tua mereka mengikuti. Bahkan orang tua mereka membantu si anak untuk bisa terus bermain.

Menarik juga melihat kekhasan permainannya. Pada acara carneval ini permaian yang utama adalah kertas warna-warni yang di potong kecil-kecil (ada banyak orang yang menjual kertas ini dalam bungkusan plastik), dan spray salju. Kertas-kertas ini menjadi permaian utama bagi anak-anak. mereka melemparkan kertas ke udara dan menunggu jatuh ke mukanya lagi. Atau mereka melemparkan kertas kepada teman-teman kecilnya, baik yang mereka kenal atau bertemu saat berjalan. Tidak ada yang marah, yang ada hanya aksi saling melemparkan kertas.



Spray salju juga dipakai untuk aksi saling semrot. Mungkin aksinya hampir sama dengan anak SMA yang baru lulus ujian akhir. Hanya saja, dalam carnaval ini aksinya "lebih gila" karena saling berbalas semprot. Namun tidak ada yang marah karena mereka nampaknya menikmati acara semprot-semprotan itu. Yang paling banyak melakukannya memang anak-anak dan remaja, namun banyak orang tua juga melakukan hal yang sama. Jadinya super heboh. Coba lihat rekaman yang saya upload di youtube berikut ini:

Tidak hanya pada siang hari, acara ini berlangsung hingga malam hari. Ada dua even menarik pada malam hari. pertama carbevale di populi, atau pesta rakyat. Dalam hal ini berbagai suku bangsa yang ada di Milan menunjukkan tarian dan nyanyian khas negara mereka. Namun karena hubungan masa lalu Italia lebih banyak dengan negara-negara di Amerika Latin, yang mendominasi pementasan ini juga dari Amarika Latin. Arab yang lumayan banyak di Milan juga menempatkan diri dalam pementasan ini. Sementara Cina dan Filipina yang ada di Milan nampaknya belum sampai pada taraf bisa tampil dalam acara ini. Jangan tanya Indonesia!

Ini salah satu pementasan dari Cuba:

 
 


Dan ini sebuah shalawat dari Arab/Mesir:

 

Acara malam ditutup dengan sebuah pementasan drama. Ada yang menarik dari pementasan ini, yaitu, pesertanya semua berjalan di atas kaki tambahan sehingga mereka menjadi sangat tinggi-tinggi. Dari semula hingga pementasan berakhir, semua berjalan di atas kaki tambahan itu. Jadi bukan hanya menarik penampilan drmanya, namun juga seolah kita sedang menonton sebuah akrobat. Saya terkesima dengan penampilan drama ini. Saya merekam sejak pertama hingga akhir yang seluruhnya hampir satu jam. Namun sayang sekali tidak bisa diupload ke youtube karena terlalu panjang. Berikut salah satu bagian dalam pementasan itu:







27 February 2012

Wajib Jurnal? Jurnal yang Bagaimana?

Meskipun sudah sedikit mereda, diskusi mengenai wajib menulis di jurnal yang digagas oleh Dikti masih menarik dibahas. Hal ini tidak terlepas dari efek berantai kebijakan ini. Dari semangat menulis, kualitas tulisan hingga kemungkinan menampung tulisan mahasiswa. Jadi baaimanapun keputusan Dikti akan berimplikasi pada banyak sistem di perguruan tinggi di Indonesia.

Paling umum ada dua -katakanlah- kubu yang terbentuk akibat keputusan tersebut. Mereka sama-sama berpijak pada satu keinginan yang mulia yaitu memajukan dunia akademik Indonesia. Hanya saja kelompok yang pro dengan surat Dikti merasa cara "pemaksaan" ala Dikti ini sudah pas karena mau tidak mau orang akan berfikir keras untuk menulis agar ia bisa lulus di sebuah jenjang pendidikan. Sementara kelompok kedua berfikir itu tidak logis sebab kita belum siap dengan fasilias dan sistim pengelolaan jurnal. Kebijakan mendadak seperti ini bukannya akan meningkatkan iklim akademik di perguruan tinggi, malah menjadi pendorong lahirnya tulisan asal-asalan.

Seorang teman saya pengurus sebuah jurnal bersyukur dengan munculnya surat Dikti ini. Ia berharap pemaksaan ala Dikti ini akan meningkatkan jumlah tulisan ilmiah yang akan masuk ke jurnal yang dikelolanya. Selama ini katana, ia sangat sulit mendapatkan tulisan sehingga jurnalnya sering terbit terlambat. Jangankan tulisan yang berbobot, tulisan dengan kualitas biasa saja hampir tidak mencukupi untuk sekali terbit

Dengan adanya surat dikti maka mau-tidak mau mahasiswa akan menulis dan mencari jurnal untuk memuat tulisan mereka. Dalam kondisi seperti ini pengelola jurnal mungkin akan kebanjiran tulisan. Bahkan kalau mau pasang tarif sekalipun akan tetap mendapatkan tulisan (sesuatu yang sulit untuk konteks penerbitan jurnal selama ini).

Menulis itu mudah?

Ada sebuah kecenderungan belakangan ini tentang dunia menulis di Indonesia. Beberapa orang menjadi(kan dirinya) sebagai motivator menulis. Prinsip mereka sama saja: menulis itu mudah. Mereka mengkampanyekan prinsip bahwa cara menulis adalah dengan mulai menulis. Beberapa diantaranya lebih spesifik lagi, misalnya bagaimana menulis di koran, menulis novel, menulis buku dalam seminggu, dan lain sebagainya.

Bahkan setelah keluarnya surat Dikti saya membaca beberapa artikel yang mengatakan menulis di jurnal itu mudah dan juga menyenangkan. Jadi tidak ada alasan untuk takut dengan peraturan tersebut. Sealiknya malah surat Dikti bisa menjadi pendorong bagi kita untuk terus berkarya. Perlu dicatat, yang menulis artikel tersebut adalah seorang editor penerbitan, bukan seorang akademisi di kampus.

Apa yang salah? Tidak ada! Semua orang punya hak mengemukakan pendapatnya, termasuk mengenai menulis. Bahkan siapa saja berhak mengemukakan pandangannya mengenai cara menulis, termasuk "cara menulis mudah di jurnal ilmiah". Hanya saja, apakah apa yang dikatakan tersebut bisa sesuai dengan kenyataan di lapangan? Mungkin aspek ini bisa menjadi celah kita berdiskusi.

Menulis vs Menulis di Jurnal

Saya sendiri memandang, ada perbedaan antara "menulis" dengan "menulis di jurnal. Saya membuat tulisan ini dengan meggunakan handphone sambil duduk berjemur (karena ini adalah hari kedua matahari bersinar terang) di balkon apartemen saya di Milan dan menikmati kopi espresso. Dengan ini, saya sudah "menulis". Apakah dengan cara yang sama saya bisa menulis sebuah artikel untuk jurnal ilmiah? Saya sendiri menjawab, tidak akan!

Menulis di jurnal adalah sebuah proses yang serius dan -sedikit- kerja keras. Tidak bisa instan atau tiba-tiba siap. Menulis jurnal adalah seuah abstraksi dari pandangan seorang penulis terhadap realitas dengan menggunakan kacamata keilmuan. Tulisan akan jadi "ilmiah" jika ia terkoneksi dengan teori tertentu dalam sebuah bidang ilmu. Sekali lagi, menurut saya, maaf, ini bukan hal mudah.

Oleh sebab itu tulisan di jurnal tidak bisa dibuat asal-asalan dan sambil lalu. Ambil sana copot sini kopas sana sini, plum! Jadilah sebuah tulisan. Apakah itu bisa disebut karya ilmiah? Kalau "iya" maka benar anggapan menulis di jurnal itu mudah. Namun bagi saya, tulisan di jurnal harus dimulai dengan mengidentifikas masalah, mengemukakan literatur atau debat singkat teoritis mengenai tulisan dimaksud, lalu kita menawarkan sesuatu yang berbeda atau cara berbeda dalam hal yang sama.

Tidak hanya di situ, tulisan di jurnal juga wajib mendapatkan pembacaan dan koreksi dari satu atau berapa orang lain yang dianggap paham dengan bidang ilmu yang dibahas dalam sebuah tulisan. Tidak bisa seperti saya menulis di blog ini, membuka template buat postingan baru, menulis, lalu tekan publish, selesai. Publikasi di jurnal membutuhkan sebuah proses yang jauh lebih lama dan panjang.

Kejar kuantitas atau tingkatkan kualitas

Andai tujuan publukasi di jurnal seperti yang ada dalam surat Dikti (untuk mengejar kuantitas publikasi yang jauh tertinggal dari Malaysia) maka cara Dikti memaksa publikasi kepada mahasiswa sudah sangat tepat. Mulai bulan agustus 2012 kita akan lihat lahirnya tulisan-tulisan "ilmiah" yang dipublikasikan melalui berbagai jurnal, termasuk "jurnal online".

Namun sebaliknya kalau tujuannya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui publikasi ilmiah maka ada banyak jalan lain yang harus dilakukan dan pemaksaan tidak termasuk diantaranya. Jalan itu antaa lain adalah meningkatkan kesadaran ilmiah di kalangan akademisi kampus, ya mahasiswa ya dosen. Tanpa kesadaran akademik, mampu memproduksi jutaan  jurnal sekalipun SDM bukannya akan semakin baik tapi semakin hancur karena lahirnya tulisan asal-asalan dan jurnal hasil plagiasi.

Di sinilah, menurut saya, peran dosen di peguruan tinggi. Dosen seharusnya menjadi sebuah panutan bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Jika seorang dosen mengajarkan mahasiswa tentang menulis, maka ia harus bisa mencontohkan tulisannya sendiri. Bukan berarti tidak boleh mengambil contoh tulisan lain (yang dengan jujur diakui lebih baik) tapi menunjukkan tulisan sendiri akan melahirkan sebuah motivasi berbeda pada masiswa karena si dosen tidak "omdo" alias omong doang. Dengan mencontohkan tulisan sendiri si dosen juga bisa bercerita bagaimana tulisan itu diproses dari awal hingga selesai dan dipublikasi. Dengan cara ini publukasi di jurnal akan banyak dan juga bagus. Semoga.

24 February 2012

Haruskan IAIN Menjadi UIN?

Belakangan ini kampanye dan usaha mengubah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry semakin kencang. Pihak kampus IAIN melakukan beberapa audiensi dengan berbagai pihak di Aceh untuk mendapatkan dukungan perubahan tersebut. Selain pemerintah Aceh, pemerintah kota Banda Aceh, DPRA, Polda Acehpun sudah menyatakan dukungan untuk perubahan IAIN menjadi UIN. Dukungan ini menjadi salah satu aspek yang akan menguatkan tawaran IAIN kepada pemerintah dalam usaha perubahan ini. Tanpa mengecilkan arti usaha itu, sebuah pertanyaan yang layak diajukan adalah: sejauh mana perlunya perubahan IAIN menjadi UIN?

Alasan terdepan yang selalu dikemukakan oleh petinggi kampus dalam usaha perubahan ini adalah, "agar IAIN bisa membuka fakultas umum seperti halnya kampus tetangga, Unsyiah". Pembukaan fakultas dan prodi umum akan menjadikan IAIN ampu bersaing dengan universitas lain dalam menjaring minat studi mahasiswa. Apalagi belakangan di Aceh sudah berdiri STAIN Malikussaleh dan STAIN Cot Kala yang juga memiliki misi studi Islam yang hampir sama dengan IAIN. Nyaris, mahasiswa IAIN Ar-Raniry beberapa tahun terakhir didominasi oleh alumni SMA/MAN dari pantai Barat Selatan dan Banda Aceh-Aceh Besar.

Tujuan lainnya yang meskipun tidak terlalu populer namun ada dalam pikiran semua pihak di IAIN adalah, perubahan IAIN menjadi UIN akan memberikan jalan yang lebih mudah untuk menerapkan dan merealisasikan ide-ide tentang ilmu integrasi islam dan ilmu pengetahuan umum yang selama beberapa dasawarsa terakhir sudah sangat populer di dunia Islam. Sudah terlalu banyak "teori" integrasi yang sudah diberikan, namun masih sangat sedikit aplikasinya di lapangan. Dengan menjadi UIN maka kesempatan IAIN mengaplikasikan teori tersebut akan menjadi lebih mudah.

Arti IAIN: Sebuah Introspeksi

Meskipun sebagai dosen di IAIN Ar-Raniry, saya tidaklah terlalu ambisius untuk perubahan ini, meskipun saya bukan orang yang menolak sama sekali. Ada sebuah keraguan yang tidak bisa saya hindari ketika semangat perubahan ini didengungkan. Keraguan ini adalah menyangkut dengan pertanyaan: Apakah kita sanggup dengan perubahan tersebut?

Banyak kolega saya di IAIN menyambutnya dengan acungan kepalan tangan ke atas dan mengatakan: "Kita bisa!" Sungguh sebuah jawaban yang luar biasa. Saya yakin, kesiapan dan semangat akan membuat semuanya menjadi lebihmudah. Jika semua orang di IAIN sudah merasa perubahan ini akan menjadikan IAIN lebih baik, maka tidak tidak alasan untuk menundanya.

Namun saya ingin mengatakan, janganlah semangat perubahan menjadi UIN hanya didasarkan pada keinginan "kesempatan membuka prodi umum" dan "kesempatan integrasi ilmu keislaman dengan ilmu umum" semata tanpa melihat apa yang bisa kita lakukan selama ini. "Bisa" di sini adalah, apa yang sudah kita lakukan selama ini dengan status kampus yang "hanya" Institut.

Ada sebuah pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab. Apakah yang menyebabkan IAIN mundur karena "institut" atau karena faktor lain yang ada di dalamnya. Kedua, apakah nama "universitas Islam" akan menjamin IAIN ke depan lebih baik? Dua pertanyaan ini akan membawa kita untuk bisa melihat kembali pada diri masing-masing, lalu menilais sejauh mana perubahan nama ini perlu.

Kualitas Pribadi vs Sebuah Nama

Saya sendiri cenderung berfikir bahwa ketertinggalan kampus bukan disebabkan oleh namanya, namun ada pada sistim pengelolaan yang ada di dalamnya. "Institut" dan "Universitas" bagi saya sama saja sejauh ia bisa dikelola dengan baik dan dengan sebuah visi yang jelas. Selain itu, di dalamnya ada civitas akademika yang memiliki dedikasi dan semnagat yang tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Apapun namanya, jika ia memiliki dedikasi yang kuat dalam pengembangan ilmu, maka ia tetap akan maju dan diincar oleh siapa saja.

Selama ini, saya melihat, IAIN belumlah menjadi sentral pengembangan ilmu pengetahuan agama di Aceh. Peran IAIN masih sekedar menjalankan administrasi pendidikan ilmu agama Islam saja, belum sampai pada mengembangkan dan mensponsori pengembangan ilmu keislaman. Sebagai "administrator", selama ini IAIN menjadi media transformasi ilmu dari seorang dosen kepada mahasiswa. Dosen mendapatkan ilmu dari tempat lain dan membaginya kepada mahasiswa. Tidak ada ilmu "khas" IAIN yang dikembangkan, yang ada hanyalah pengambilan ilmu dari tempat lain dan bulat-bulat diberikan kembali kepada mahasiswa.

Mudahnya begini. Meskipun IAIN berada di Aceh, namun Aceh sama sekali tidak bisa dilihat dari IAIN. Penelitian-penelitian yang ada di IAIN masih tidak bisa menggambarkan apa yang terjadi di Aceh. Bahkan apa yang terjadi di Aceh, tidak bisa dijelaskan oleh civitasakademika IAIN. Justru ornag luar -provinsi atau negara- yang datang ke Aceh untuk melakukan penelitian dan dokumentasi mengenai Aceh. Celakanya, dokumentasi mereka kemudian menjadi rujukan bagi civitasakademika IAIN dalam melihat daerahnya sendiri.

Tentu kita tidak bisa menafikan beberapa pakar dari IAIN yang berperan dalam pengembangan agama dan pemerintahan di Aceh. Namun itu jelas bukan (setidaknya tidak 100%) bagian dari posisinya sebagai ilmuan. Sebagai ilmuan, menurut saya, civitasakademika IAIN harus menjadi "perekam peradaban" yang sedang berlangsung di Aceh, dan menempatkan perspektifnya dalam semua hal yang yang terjadi di Aceh belakangan ini. Apakah ini sudah terjadi? Saya melihatnya belum.

Hal yang paling mudah adalah dengan melihat konteks Aceh kontemporer, saat ini. Sekarang di Aceh sedang berlangsung sebuah proses pemeilihan kepala daerah. Ada banyak partai, ada banyak kekerasan, ada banyak teror, ada banyak intrik politik, dan lain sebagainya. Di sisi lain, IAIN memiliki jurusan politik Islam. Pertanyaannya, sejauh mana akademisi di jurusan politik Islam mencerdasi apa yang terjadi dalam proses demokrasi di Aceh ditinjau dari eprspektif Islam? Apakah proses ini sudah sesuai dengan prinsip politik Islam?

Seharunya, ini menjadi "laboraorium hidup" bagi IAIN untuk menerapkan apa yang berkembang di kampus. Apa yang sudah didiskusikan di kelas, bisa dilihat di pangangan dan melakukan penilaian. Hasil penelitian akan kembali didiskusikan di kampus dan diabstraksikan dalam bentuk tesis-tesis keilmuan yang akan terus berkembang secara dinamis. Semakin lama, abstraksi ini semakin kuat dan teruji. Dan pada suatu masa ia akan menjadi salah satu produk ilmu pengetahuan khas yang lahir dari IAIN.

Mungkin lain kali saya akan mencoba memberikan gambaran dan contoh dari beberapa fenomena sosial di Aceh lainnya.

Kembali ke pertanyaan semula, apakah untuk melakukan ini perlu mengubah IAIN menjadi UIN? Saya kembali menjawabnya: Tidak! Dalam status sebagai IAINpun, hal ini bisa dilakukan.

Namun pertanyaan yang paling -menurut saya- sulit untuk dijawab adalah, Apakah alumni sebuah kampus yang bergelut dengan wacana keilmuan teoritis adakan bisa mendapatkan pekerjaan setelah ia menjadi sarjana?

Mungkin ini bisa jadi sebuah pertanyaan yang lain lagi, namun sekaligus harus dijawab berbarengan dengan keinginan perubahan IAIN menjadi UIN. Memang sulit mengatakan bahwa seorang alumni IAIN bisa eksis di dunia kerja kalau kampus tidak menyesuaikan diri dengan apa yang berkembang. Seorang ahli filsafat Islam alumni Fakultas Ushuluddin misalnya. Ia lulus dengan predikat terbaik di kampus, mau jadi apa? Apa yang bisa dilakukannya? Satu dua orang bisa menjadi peneliti atau penulis, namun berapa banyak yang bisa demikian? Akhirnya mereka akan kembali ke kampung dan hidup seperti masyarakat biasa di sana. Lalu untuk apa kuliah?

Saya sendiri sungguh tidak punya jawaban untuk pertanyaan seperti ini. Jika dengan mengubah Institut menjadi Universitas mampu mengatasi problem ini, maka saya bisa maklumi kalau perubahan itu memang niscaya. Saya ikut mendoakan saja.



12 December 2011

Kreasi -sesat- Pasta

Salah satu tantangan yg tidah kalah besar dalam mengarungi hidup di negeri orang adalah makanan. meskipun pada awal kedatanganku di milan tidak masalah, namun lama kelamaan rindu masakan istri di Aceh akhirnya datang juga. Terbayang kuah leumak, asam keu eung, asam udeung, dll. Tapi apa boleh buat? andai SMS bisa juga dipakai untuk mengirim masakan, mungkin masalah ini tidak akan muncul.

Sebenarnya saya bisa memasak beberapa masakan Aceh. Hanya saja di sini hampir tidak ada bumbu yg bisa dipakai buat memasak makanan sperti di kampung, seperti buah belimbing, asam sunti, asam kuyuen, dll.

Jadi terpaksa berfikir bagaimana menyesuikan masakan italia dengan masakan aceh. Salah satu cara negosiasinya adalah memasak pasta italia dengan cara Aceh. hasilnya seperti gambar di atas. rasanya juga maknyus... seperti mie Aceh.
Published with Blogger-droid v2.0.1

17 July 2011

Di Aceh, Setiap Hari Ada yang Dipancung!

Heboh pemancungan seorang TKW di Arab Saudi masih menyisakan pilu bagi banyak warga Indoensia, baik yang ada di Arab Saudi atau yang berada di Indonesia. Bahkan pemerintah dibuat repot dengan masalah ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menjawab pertanyaan, tudingan, keluhan banyak masyarakat. Tapi sebatas itu, mereka tetap tidak melakukan apapun untuk menyelematkan “Ruyati” lain yang akan ikut dipancung juga.

Beda dengan di Arab yang suka memancung manusia, di Aceh yang dipancung adalah kopi. Bukan batang kopi atau biji kopi, tapi takaran minum kopi. Di warung kopi, di mana-mana seluruh Aceh anda bisa pesan yang namanya kopi pancung. Semua orang tahu. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “kupi pancong”, atau “kupi sikhan”.

Kupi pancong sama saja dengan kopi lainnya. Ia disebut “pancong” karena isinya yang tidak penuh satu gelas. Paling setengah gelas atau bahkan kurang. Rasa dan aromanya juga sama saja. Ia juga dibuat dari bubuk yang sama, diolah dengan cara yang sama dan disajikan dengan cara yang sama pula. Hanya karena isinya yang setengah, ia disebut kopi pancong.

Meskipun kupi pancong adalah hal yang lumrah dalam masyarakat, ada filosofi besar yang dikandungnya terkait dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh secara keseluruhan. Kupi pancong dipesan karena seseorang biasanya tidak bisa (atau tidak dibolehkan) minum kopi terlalu banyak karena terkait dengan masalah penyakitnya. Yang lain merasa tidak mau minum kopi terlalu banyak hingga memesan setengahnya saja. Ada juga yang tidak memiliki cukup uang sehingga ia memesan kopi pancong agar harganya lebih murah dari kopi biasa.

Namun terkadang kopi pancong juga terkait dengan sikap malas dan budaya santai dalam masyarakat Aceh. Ada ungkapan, “kupi sikhan glah, peh bereukah lua nanggroe.” (minum kopi hanya setengah gelas, tapi omongannya hingga ke laur negeri). Biasanya orang seperti ini adalah laki-laki. Sebelum pergi bekerja mereka duduk dulu di warung kopi hingga menceritakan banyak hal. Bahkan ada yang akhirnya tidak jadi pergi bekerja karena keasyikan bercerita.

Jadi bagi yang hobbi kopi, jagan sungkan-sungkan pesan kalo ke Aceh.

Bi kupi pancong saboh!


15 July 2011

Baru 32 Tahun Sudah Punya Dua Cucu

Tetangga rumoh kontrakan saya di Jogja adalah keluarga kecil dengan dua orang anak. Yang sulung perempuan dan adiknya laki-laki. Si kakak baru berusia 18 bulan dan adiknya masih 2 bulan. Bapaknya bekerja serabutan. Keluar pagi pulang petang. Si ibu tidak ada pekerjaan sama sekali. Ia nampak masih sangat muda. Bahkan, masih kekanak-kanakan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu kalau usianya kini baru 16 tahun. Ia menikah saat masih kelas dua SMP dengan kakak kelasnya di SMP yang kini jadi suaminya.

Baru 16 tahun sudah punya dua anak, itu sungguh mengejutkan.

Tapi lebih mengejutkan saya, ternyata ibunya si perempuan baru berusia 32 tahun! dan baru dua minggu yang lalu melahirkan anaknya yang keempat.


Saya jadi teringat dua pengalaman sebelumnya. Pertama di Aceh Jaya, tahun 2006 saat saya bekerja sebagai relawan di Palang Merah Inggris dalam pembangunan rumah korban sunami. Salah satu penerima manfaat kami adalah seorang ibu dengan sua orang anak. Si ibu tidak memiliki suami, bukan tidak punya, tapi suaminya sudah merantau ke Malaysia saat konflik dan tidak pernah mengirimkan berita apapun selama ia pergi. Selama itu pula si ibu harus menghidupi dua anaknya. Yang tua, saat itu sudah berumur tujuh tahun. adinya lima tahun. Mau tahu berapa usia si ibu? 19 tahun!!

Di sebuah dusun pedalaman di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah tempat saya pernah melakukan penelitian saya mendapatkan fenomena yang serupa. Selama penelitian saya tinggal di rumah kepala dusun. Anak laki-laki kadus adalah seorang kakek tiga cucu. Usia si “kakek” baru 38 tahun. Sementara istrinya, saat saya di sana masih berusia 32 tahun. Dan cucu tertuanya berusia 5 tahun. Artinya, ia berusia sekitar 27 tahun saat pertama kali menimbang cucu. Anda bisa bayangkan usia berapa ia menikah dan usia berapa ia melahirkan. Kalikan juga, usia berapa anaknya menikah hingga kini ia memiliki cucu.

Ini sungguh fenomena memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya masih menikmati masa sekolah dan masa bermain tiba-tiba harus menerima kenyataan hidup yang berat. Jangan tanya soal pendidikan. Itu jelas sama sekali tidak pernah dipikirkan lagi. Apalagi masalah kesehatan. Dukun dan tabib adalah pilihannya. Lebih menyedihkan adalah biaya hidup sehari-hati. Suaminya masih tergolong anak-anak yang jika belum menikah ia masih ditanggung oleh orang tuanya. Sekarang ia dibebani tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.

Siapa yang salah?

Tidak ada yang mau di salahkan. Namun hampir semua pihak menyumbangkan sedikit kesalahan yang berujung pada munculnya masalah ini. Pemerintah jelas tidak sukses menjelaskan amsalah KB dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat. Bukan hanya masyarakat pedesaan yang kadang jauh dari jangkauan informasi, di perkotaan sekalipun masih banyak kita temukan anak yang sudah memiliki anak.

Kedua, ini pengaruh media yang menyiarkan gaya hidup hedonis dan pergaulan dengan kecenderungan pada relasi seksual antara laki-laki dan perempuan. Saat ini, berita tentang pacaran dan pasangan berevolusi dengan sangat. Isue utama yang ditekankan adalah pasangan muda yang mengedepankan hubungan laiknya suami istri. Semakin jauh melangkah dalam relasi seksual tanpa nikah dianggap semakain modern dan semakin cinta.

Tokoh agama juga menyumbangkan masalah. Doktrin agama yang tidak dipahami dalam konteks perkembangan zaman dan perubahan budaya menyebabkan banyak perempuan yang harus menerima kenyataan nikah muda, baik karena dipaksa oleh orang tuanya, juga karena merasa ia “hanya seorang perempuan” yang tidak diizinkan oleh agama memilih hidup yang lebih baik. Bahkan tidak jarang tokoh agama pula yang mengambil kesempatan ini dengan menikahi gadis belia dan mengorbankan masa depannya.

Yang paling bertanggung jawab sesuangguhnya adalah masyarakat itu sendiri. bagaimanapun sebuah kontruksi masyarakat yang bagus dan sadar akan pendidikan dan kesehatan bisa mencegah lahirnya “nenek-nenek” muda di masa depan. Sebab “nenek muda” ini jelas bukan sebuah prestasi, malainkan sebuah masalah sosial yang semakin membuat masalah sosial lainnya bermunculan. Seperti pengangguran, gelandangan, pengemis, dan lainnya.

02 July 2011

Budaya Ngopi; antara Aceh dan Milan

Siapa yang tidak kenal kopi? Mau tidak mau, suka tidak suka, saya kira semua orang di dunia ini mengenalnya. Bedanya, sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman akrab, sebagian yang lain teman biasa, dan tidak jarang pula menjadi musuh bebuyutan karena dianggap (atau bahkan memang) mendatangkan penyakit baginya. Namun, bagaimanapun, kopi tetap dikenal.

Di Indonesia, kopi menjadi minuman paforit banyak suku. Apalagi tanaman kopi bisa hidup di banyak tempat dengan “mudah”. Sehingga kita sering dengar istilah “petani kopi” yang berarti sekelompok orang yang bekerja untuk menanam kopi, menjaga, memanen dan mengolahnya. Kondisi ini pula yang selanjutnya memunculkan personal-personal yang sangat menyukai kopi.

Salah satu suku bangsa yang “gila” kopi adalah orang Aceh. Bagi yang pernah datang ke Aceh tahu bagaimana kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat keseharian. Di Banda Aceh misalnya, anda tidak perlu capek-capek bikin kopi sendiri. Berbagai jenis kopi, aroma kopi, ada di warung kopi dengan harga terjangkau. Lebih mudah lagi, warung kopi itu ada di mana-mana, sangat mudah mencarinya. Dari yang paling kecil hingga yang besar. Dari pinggiran hingga pusat kota. Tersebar merata.

Di Milan (dan Italia pada umumnya), minum kopi juga menjadi sebuah budaya yang tidak teprisahkan dari kultur masyarakatnya. Sama seperti di Aceh warung kopi dengan mudah bisa diperoleh di Milan. Di mana-mada ada Bar atau cafe yang menyedikan kopi. Kopi menjadi minuman paforit juga di kantin kampus, di terminal, di stasion kereta api, dan lainnya. Singkatnya, kopi adalah minuman yang sangat populer di Milan (juga Italia).

Seperti kata pepatah “beda padang beda ilalang, beda lubuk beda ikannya”, antara Aceh dan Milan memiliki budaya minum kopi yang berbeda. Beberapa perbedaannya adalah sebagai berikut:

Pertama, kebanyakan orang Aceh mengkonsumsi kopi dalam gelas sedang yang diisi dengan kopi encer ditambah gula. Meskipun ada beberapa orang yang suka minum kopi pahit, namun itu bukanlah fenomena umum di kota-kota. Anak muda dan lelaki paruh baya biasanya memesan kopi manis. Bahkan sangat manis hingga rasa pahit kopi jadi hilang. Sedangkan di Milan, orang sangat suka minum espresso, kopi pahit yang kental yang diisi dalam gelas kecil, sebesar jempol kaki. Itupun tidak penuh, mungkin hanya setengah. Beberapa orang memang menambahkan gula ke dalamnya, namun yang lebih umum, orang Milan meminum kopi itu apa adanya. Pahitnya menusuk jantung dan kepala. Tapi sedapnya menyebar ke seluruh tubuh.

Kedua,
Orang Aceh memiliki warung kopi yang banyak, besar dan rame. Kalau anda masuk ke warung kopi, anda akan mendengar suara “gemuruh” seperti di pasar. Semua orang berbicara, tertawa, bercerita, berdiskusi, seperti menjerit. Kalau mau minum kopi dengan tenang dan senyap memang bukan warung kopi tempatnya. Kecuali pada waktu tidak banyak orang, atau di warung kopi yang tidak populer. Nah, ini sangat berbeda dengan di Milan. Banyak warung kopi tidak menyediakan tempat duduk. Kalau mau ngopi, anda masuk ke dalam, memesan kopi yang anda inginkan, dan minum sambil berdiri. Kadang ada satu set meja kursi, namun itu jarang dipakai. Orang lebih suka minum kopi sambil berdiri, bahkan kalau mereka berdua atau bertiga.

Ketiga, di Aceh, kopi diolah secara tradisional. Di warung kopi Banda Aceh dan Aceh Besar, sebelum kopi dituangkan ke dalam gelas, kopi disaring dengan kain khusus sehingga tidak ada serbuk kopi yang masuk ke dalam gelas. Di beberapa kabupaten lain, kopi dihidangkan bersama bubuk kopi yang masih kasar sehingga setelah selesai diminum di dalam gelas akan tersisa ampasnya. Orang Aceh mengatakan kopi pertama dengan “kupi sareng” dan kopi kedua dengan “kupi tubroek”. Di Milan, pada umumnya kopi disajikan dengan menggunakan mesin modern. Bubuk kopi hanya dimasukkan dalam sebuah alat pengolahan. Ketika ada yang memesan, penjual akan mengeluarkan perasan kopi dari alat tersebut. Ini membuat kopi yang keluar adalah ekstrak kopi yang sangat kental dan rasanya juga sangat nikmat. Sebab ia adalah “uap kopi” yang memiliki aroma menusuk hidung.

Keempat, Di Aceh pada umumnya hanya ada kopi hitam saja dan tidak banyak pilihan olahan. Selain kopi hitam, paling kita bisa memesan kopi susu, kopi sanger (kopi+susu+gula), kopi kocok, dan kopi telor. Namun kopi hitam sangat pupuler dan yang lainnya hanya insidentil dan disukai oleh orang tertentu saja. Di Milan, ada banyak olahan kopi dan sangat variatif. Dua kopi yang sangat terkenal adalah espresso dan capucino. Kalau espresso adalah kopi hitam pekat, capucino adalah kopi campur susu yang lumayan “terang”. Dua-duanya populer dan dua-duanya memiliki kenikmatan tersendiri yang masyaallah.

Kelima, Di Aceh kopi pada umumnya ditanam sendiri oleh orang Aceh. Memang, kebanyakan berasal dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua kabupaten di dataran tinggi Aceh yang memiliki kebun kopi yang maha luas. Ada juga kopi yang di datangkan dari Sumatera Utara, hasil produksi dari dataran tinggi Berastagi. Namun masyarakat Aceh pada umumnya memiliki kebun kopi untuk kebutuhan sendiri mereka, terutama masyarakat pedesaan Aceh. Lantas dari mana kopi yang ada di Milan? Seorang teman yang saya temui mengatakan kalau kopi di Milan diimpor dari luar. Di Italia sendiri tidak banyak tumbuh kopi, mereka mendatangkannya dari negara lain. Salah satu negara pemasok kopi ke Milan adalah Belanda.

Belanda? saya jadi ingat sebuah perusahan kopi asal Belanda yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Mereka menampung kopi masyarakat dan mengirimkannya langsung ke Belanda. Apakah perusahaan ini yang memasok kopi ke Milan? Boleh jadi. Kalu benar, berarti saya sudah minum kopi Aceh di Milan. Hehehehe

Btw, bagaimana budaya minum kopi di tempat anda? Saya yakin pasti menarik!

28 June 2011

Sehari Bersama Keluarga Italia

Saya beruntung, dalam sebuah kunjungan ke Milan beberapa waktu yang lalu, saya bisa tinggal dengan sebuah keluarga asli Italia. Awalnya, saya diperkenalkan oleh seorang teman kepada seorang perempuan yang menurut saya hampir sebaya saya juga, namanya Amalia. Ia tinggal di Pavia, sebuah kota yang tidak jauh dari Milan. Ia mengundang saya ke kotanya untuk melihat kota lama peninggalan Romawi kuno. Dan pada satu hari minggu, saya memenuhi undangannya mengunjungi Pavia. Hanya 30 menit dari Milan dengan kereta api.

Sebelum mampir ke rumahnya, saya diajak makan siang di sebuah desa pinggiran, tidak jauh dari Pavia. Perjalan ke sana butuh waktu 30 menit. Namun karena ini perjalanan pertama saya ke Eropa, saya merasa semua indah. Pohon-pohon yang masih kering, lahan gandum yang siap tanam, dan pegunungan di kejauhan yang nampak ditutup salju. Sungguh memikat hati. Apalagi Amalia selalu menjelaskan tentang semua tempat yang kami lewati.

Rumah yang kami tuju adalah sebuah bangunan kecil namun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ia ada di tengah ladang gandum yang maha luas. Rumah itu nampak seperti tidak terurus. Di depannya tumbuh rumput hijau yang memanjang dan tidak dirapikan. Ada sampah dedauanan di mana-mana. Bebeberapa pohon yang tumbuh di depan rumah juga seperti tidak dirapikan. Namun kondisi ini menunjukkan sebuah suasana pedesaan yang sangat khas.

Si empunya rumah adalah keluarga muda yang punya tiga orang anak, dua perempuan dan yang bungsu laki-laki, masih balita. Clara, sanga istri mengaku tidak kuliah. Setelah tamat SMU ia menikah dan mengurus anaknya. Karenanya, ia bekerja sebagai desainer sekaligus penjahit di rumahnya. Semula saya kurang yakin, sebab dalam benak saya, kalau ia desainer dan penjahit, pasti ia butuh tenaga kerja. Sementara itu tidak terlihat di rumahnya. Setelah saya tanya, ternyata ia mendesain sendiri dan menjahit sendiri baju yang akan dijual. Ia mengaku memilih jenis kain yang bagus, membuatnya dengan bagus pula sehingga bisa dijual mahal. Baju hasil desainnya dijual di pusat kota Milan.

Si suami, Fabio, adalah laki-laki muda yang tinggi. Ia mengaku seorang petani. Ia pernah bekerja di Inggris 9 bulan sebagai pelayan restoran. Karenanya ia bisa bahasa Inggris, meskipun sudah tidak lancar lagi karena sudah lama. Namun kemampuan bahasa ini membuat saya merasa nyaman berada di sana. Apalagi selama ada saya, mereka tidak bicara bahasa Italia, melainkan bahasa Inggris.

Fabio ahli masak. Dialah yang memasak makan siang untuk kami. Ia mengatakan kalau ia memasak sesuatu yang berbeda kepada saya. Katanya” “Amalia bilang kalau kamu seornag muslim. Kami hanya tahu kalau muslim tidak boleh makan babi. Saya masak pasta dengan labu untuk kamu. Saya masakkan dalam panci masak air, supaya tidak ada bekas babi.” Sungguh saya terharu. Grazie Fabio. Mereka menghargai keimanan saya dengan caranya sendiri.

Namun ada yang mengesakan saya. Anak perempuan Clara yang berusia tujuh tahun digigit anjing saat ia sedang bermain hingga berdarah. Ia tidak menjerit, tidak menangis. Ia datang kepada ibunya dan mengatakan kalau ia digigit anjing. Karena Clara sedang membereskan piring di meja, ia meminta kakaknya membersihkan luka si adik dengnan tissue. Setelah darah dibersihkan, mereka kembali bermain, termasuk anjing yang barusan menggigitnya.

Menjelang sore kami kembali ke Pavia, menuju rumah Amalia. Saya diperkenalkan dengan suami Amalia. Ia mengaku pernah pergi ke Bali lima tahun yang lalu. Dan masih bisa mengucapkan “Apa Kabar” denga nada dan intonasi khas Italia. Ia seorang punk, namun juga seorang professor sejarah Eropa Klasik yang mengajar di sebuah Universitas di Bologna.

bersambung…..

25 June 2011

Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?

Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant. Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.

Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.

Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.

Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.

Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.

Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.

Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.

02 December 2010

Konflik Aceh dan Kebijakan Jakarta


Michelle Ann Miller, seorang ilmuan politik dan penerima beasiswa Post-doktoral dari the Asia Research Institute, National University of Singapore telah mempublikasi riset yang luar biasa dan studi yang lengkap tentang gerakan separatis di Aceh dan bagaimana pemerintah pusat Indonesia menanggapi dan meyikapi masalah di Aceh. Tulisan ini, bagaimanapun adalah sebuah paparan yang sangat lenggkap tentang apa yang bisa dipelajari dari berbagai strategi penyelesaian konflik di Aceh.

Apa yang paling menarik dari buku ini adalah, kemampuan Miller untuk merekan perkembangan konflik Aceh berdasarkan pemerintahan presiden pasca Soeharto jatuh. Ia menunjukkan bagaimana setipa pemimpin Indonesia memiliki kebijakan yang berbeda dalam melihat dan menyelesaikan masalah Aceh. Terkadang bahkan bertentangan.

Download bukunya Di Sini!

Catatan: Kalau anda berkenan mohon berbagi kesan dan pengetahuan setelah membaca buku ini di kolom komentar. Terima kasih

05 June 2010

Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!

Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: Mahalnya Ongkos Sekolah. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)

Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.

Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.

Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.

Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.

Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.

Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.

Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.

Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.



Tsunami dan Aceh Yang Berubah

“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”

Profesor Emeritus Harold Crouch
ANU-Australia

Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.

Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?

Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.

Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.

Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.

Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.

Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.




Kenapa Membaca Biografi?

Semua orang akan menjalani hidup seperti adanya. Semua orang punya jalannya sendiri. Anda tidak mungkin berjalan di rel orang lain meskipun mereka dengan rel itu telah sampai pada tujuannya. Tuhan Maha Kaya dan Dia menciptakan semua manusia sebuah rel.

Lalu kenapa perlu membaca biografi orang lain? Pertanyaan ini muncul suatu ketika saat kami mulai mendiskusikan beberapa tokoh sufi terkemuka pada awal-awal kebangkitan Islam. Kalau para sufi sukses itu adalah jalannya sendiri yang sama sekali tidak ada kesamaan dengan jalan sufi lainnya. Dan mereka membentuk jalannya sendiri tanpa mencontoh jalan spiritual yang dibangun oleh orang lain. Lalu untuk apa kita tahu hidupnya? Bukankah kita juga memiliki jalan spiritual sendiri?

Biografi adalah penjelasan dari sebuah potret kehidupan yang pernah dijalani oleh seseorang dalam mendapatkan suatu tujuan. Selama ini biografi identik dengan kehidupan orang sukses dan mendapatkan posisi “terhormat” dalam kehidupan masyarakat. Sebab kesukksesan dalah keinginan semua orang. Sehingga mereka cenderung ingin mengetahui apa dan bagaimana seorang telah melakukan sesuatu sehingga ia menjadi sukses.

Ada seribu alasan untuk mengatakan kenapa sebuah biografi itu perlu. Diantaranya adalah membaca biografi akan membuka mata kita pada jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup. Tidak ada masalah yang sama di dunia ini, yang ada hanyalah kemiripan. Terkadang kita stres tidak mendapatkan jalan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Nah, dengan membaca biografi mungkin kita mendapatakn alternatif pemecahan dan solusi berdasarkan pengalaman orang lain.

Kedua, membaca biografi akan memberikan kita penjelasan lebih beragam mengenai kehidupan. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, punya pemikiran yang berbeda pada satu hal yang sama. Dengan membaca biografi kita akan tahu kalau di sana ada banyak cara orang menafsirkan suatu hal dan suatau persoalan. Dan ini bisa menjadi sebuah pengayaan wawasan kita dan menjadi suatu masukan untuk menyempurnakan konstruksi pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Ketiga, membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.

Ada yang mau mendambahkan?

Kesimpulan: Membaca biografi memperkaya jiwa :-D

menulis biografi apalagi, meperkaya jiwa, dan memperkaya diri (baca: mendapatkan komisi hasil penjualan, heheheh)




29 May 2010

Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek

Mungkin satu-satunya kota provinsi yang tidak ada bioskop hanyalah Banda Aceh. Saya tidak terlalu yakin dengan kesimpulan ini, namun dari sedikit kota yang saya kunjungi, nampaknya di daerah lain di Indonesia bioskop bukan hanya di kota provinsi, namun juga banyak terdapat di kota-kota kabupaten. Bahkan beberapa kecamatan yang agak besar juga memiliki bioskop sendiri. Meskipun dengan banyaknya media yang bisa dipakai untuk menonton film belakangan ini, namun citra bioskop sebagai tempat menonton film sesungguhnya masih sangat terasa dalam masyarakat. Jadinya, sebuah film akan terasa berbeda rasa dan kesannya jika ditonton di rumah dengan di bioskop.

Namun demikian di Banda Aceh, sampai saat ini tidak ada sebuah bioskop yang menayangkan film secara terjadwal dengan tetap seperti di kebanyakan kota lain. Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak bermasalah. Sebab tanpa bioskop masyarakat tetap bisa mendapatkan hiburan berupa film melalui media yang lain, seperti VCD Palyer, TV, Internet dan bahkan di handphone dengan fasilitas tertentu. Jadi sebenarnya tanpa bioskoppun masyarakat tetap mendapatkan kepuasan tontonan melalui media-media tersebut. Namun bagi sebagian orang kepuasan dalam menonton hanya diperoleh jika ia menonoton di pada layar lebar dan dengan suara besar-besar. Oleh sebab itu media-media pemutar film yang ada selama ini sangat tidak memadai. Selain suaranya kecil dan sulit didengar, juga gambar yang ditampilkannya tidak sedramatis dalam bioskop.

Sebelum Tsunami

Sebenarnya Banda Aceh bukan sama sekali tidak pernah memiliki bioskop. Dulu, tahun 2000-an dan sebelumnya, ada beberapa bioskop yang beroperasi di Banda Aceh. Antara lain Sinar Indah Bioskop (SIB) di Penayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Center. Namun semua bioskop itu sekarang sudah mati dan sama sekali tidak ada aktifitas pemutaran film lagi. Bahkan gedung bioskop itu sendiri sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kepentingan yang lain.

Pun demikian, bioskop-bioskop tersebut di atas, dalam sejarahnya tidak semuanya menayangkan film-film terbaru dan “berkualitas.” Saya dan beberapa orang teman satu kos-kosan pernah pergi menonton bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam dekat Balang Padang tahun 1998. Saat itu harga tiket sekitar Rp. 750 untuk satu orang. Saya dengan semua teman-teman sama sekali belum pernah menonoton bioskop sebelumnya. Pilihan kami pada Garuda hanya karena tiketnya murah dan lebih terkenal dibandingkan bioskop “murah” yang lain.

Di dalam gedung besar itu kami duduk di kursi yang sudah sangat lusuh dan goyang-goyang. Teman saya kesakitan dan gatal-gatal setelah pulang dari sana karena digigit kutu busuk. Belum lagi suasana yang gelap dan pengap. Meskipun film belum diputar, lampu yang menerangi ruangan besar itu hanya beberapa watt saja dan tidak mampu menunjukkan celah dan jalan yang ada di dalam sana. Saya dengar dari beberapa teman, hal yang sama terjadi juga di bioskop Jelita dan SIB. Namun saya tidak pernah masuk ke dalam dua bioskop tersebut. Hanya saja dari sisi performa luar bangunannya, sepertinya tidak jauh beda dengan bioskop Garuda.

Film yang diputar juga bukan film baru yang sedang hangat dalam berita televisi atau koran. Di sana diputar film-film lama yang judulnya saja terkadang tidak diketahui. Pada sore harinya, di depan gedung bioskop memang dipasang spanduk tentang film yang akan diputar pada malam harinya. Namun kenyataannya, tidak semua film yang ditunjukkan di depan bioskop diputar di dalam bioskop. Beberapa bioskop bahkan memutar blue film di sela-sela film yang sedang diputar. Saat saya menonton bioskop tahun 1998 tersebut, saya juga mendengar teriakan dari penonton “puta asoe sigoe!” (putar “yang berisi” sekali). Kata “asoe” atau “berisi” berarti mereka meminta diputarkan blue film.

Pas 21 dan Gajah Theater

Namun tidak semua bioskop demikian adanya. Pas 21 dan Gajah Theater adalah bioskop yang memutar film terbaru dan film-film modern. Jadwal tayangnya juga tetap dan konsisten. Bahkan mereka mempublikasi film yang akan ditayangkan di koran lokal setiap hari. Kedua bioskop ini tidak jauh berbeda dengan bioskop Pas 21 yang hampir ada di berbgaia kota di Indonesia saat ini. Namun Pas 21 berakhir setelah terjadi kebakaran (dikbakar?) hebat di Pasar Aceh Shoping Center pada tahun 2001 (?). Sejak saat itu bioskop ini tidak beroperasi lagi di Banda Aceh. Gajah Theater menjadi pemain terakhir yang menutup lapaknya setelah tsunami melanda Aceh.

Kenapa bioskop di Banda Aceh gulung tikar? Menurut saya ini adalah pertanyaan menarik untuk ditelusuri. Sebab ada beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin “bisnis tidak menguntungkan” adalah jawaban dari pengusaha bioskop itu sendiri. Namun sebagai daerah yang memiliki tiga peristiwa “seksi”; Syariat Islam Konflik dan tsunami, kita tidak bisa bisa hanya melihat dari sisi bisnis semata. Di balik itu, ketiga peristiwa lain, menurut saya, pasti memiliki kontribusi yang menyebabkan bioskop di Banda Aceh ditutup oleh pengusahanya.

Konflik dan Syariat Islam


Suasana konflik di Aceh yang mulai memanas pada tahun 2008 memang menjadi salah satu penyebab utama. Setidaknya konflik menyebabkan dikuranginya jam penayangan film dimalam hari. Tahun 1997 saya masih jualan durian sampai jam satu malam di Pasar Aceh. Saat itu tidak ada masalah dengan tengah malam berada di luar ruamah. Namun setelah konflik mulai membesar di Aceh, jam malam mulai berlaku. Akibatnya bisoskop di Banda Aceh menutup pemutaran film di malam hari. Mereka hanya membukanya sore hari saja. Kondisi ini meyababkan bioskop SIB, Garuda dan Jelita Theater mati suri. Sebab sebelumnya pangsa pasar mereka ada di malam hari, terdiri dari pekerja dan mahasiswa yang hanya punya waktu malam hari untuk menonton.

Kemudian, pemberlakuan Syariat Islam juga mungkin menjadikan usaha ini menjadi tidak menarik bagi pengusaha. Sebab hampir diketahui bersama, dalam bioskop orang bukan hanya menonotn film saja, namun juga mengambil kesempatan bersepi-sepi, atau dalam bahasan Syariat Islam di Aceh, berhalwat. Sebuah pasangan yang masuk ke dalam gedung itu tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan, namun juga menjadi ajang di mana mereka bisa bermesra-mesraan, peluk cium dan meraba-raba. Kondisi ini ingin dihindari oleh pemerintah Aceh setelah penerapan syariat Islam. Oleh sebab itu ada sebuah seruan agar bioskop memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menonton. Saya memang tidak melihat hal ini dipraktekkan dengan baik di gedung bioskop. Namun setidaknya seruan ini menyebabkan pengusaha bioskop enggan membuka bioskopnya. Sebab akan sangat banyak pasangan muda yang menjadi target pasar mereka memilih tidak menonton bioskop dari pada ditangkap Wilayatul Hisbah (petugas pengawas penerapan syariat Islam) yang bertugas untuk menertipkan mereka.

Sejak konflik dan adanya penerapan syariat Islam di Aceh, operasi bioskop di Banda Aceh mulai surut. Bahkan setelah Pas 21 terbakar hanya Gajah Theater yang beroperasi. Seingat saya, tahun 2003 saya masih sempat beberapakali menonton bioskop di Gajah Theater. Di sanalah saya melihat instruksi dari pemerintah agar melakukan pemisahan penonton laki-laki dan perempuan sama sekali tidak diindahkan. Di dalam bioskop laki-laki dan perempuan tetap juga duduk bersama, seperti di berbagai bioskop kota lain di Indonesia. Namun saat itu bioskop hanya diputar sampai jam 18.30, sesaat sebelum azan maghrib. Hal ini berkaitan dengan jam malam yang diterapkan oleh pemerintahan militer yang sempat memegang kendali pemerintahan Aceh pada awal tahun 2000-an.

Bioskop Pasca Tsunami


Setelah tsunami melanda Aceh semua bioskop musnah. Gajah Theater yang bertahan sampai tsunami juga menutup usahanya hingga saat ini. Sekarang ini gedung Gajah Theater telah dipakai oleh aparat militer sebagai gudang logistik mereka. Saya tidak tahu apakah bangunan itu memang miliki militer. Sebab dari sisi lokasinya, Gajah Theater memang berada di dekat komplek militer, jadi memang memungkinkan kalau bangunan dan usaha itu memang milik mereka sebelumnya.

Apakah bioskop masih diperlukan di Banda Aceh? wallahu’a’lam. Dilihat dari sisi pengembangan kota dan kebutuhan modern masyarakat sebuah bioskop adalah keniscayaan. Apalagi belakangan ini masyarakat Aceh jelas terlihat kekurangan hiburan. Pusat-pusat hiburan dikunjungi banyak orang dan jauh melebihi kapasitasnya. Namun dilihat dari mudharatnya, terutama berkaitan dengan penerapan syariat Islam, menghadirkan bioskop mungkin perlu sebuah kajian mendalam lagi, baik dari film yang diputar, setting tempat duduk di dalam ruangan dan lain sebagainya. Saya sangat yakin, semangat Islam tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk mendapatkan hiburan.Wallahu’a’lam.