Showing posts with label Kuliah di Milan. Show all posts
Showing posts with label Kuliah di Milan. Show all posts

26 March 2012

Stramilano; Benvenuto Primavera!!

Selamat datang musim semi! kira-kira itulah ungkapan yang tersirat dalam even Stramilano yang diadakan di Milan setiap tahun. Untuk tahun ini Stramilano diadakan kemarin, 25 Maret 2012.

Dari sejarahnya, Stramilano adalah pesta masyarakat Milan merayakan berakhirnya musim dingin dan menyambut kedatangan musim semi.Tradisi ini terus dipelihara hingga sekarang. Pasti sudah banyak yang berubah seiring dengan perubahan zaman. Namun pada intinya mereka tetap memelihara sejarah dan budaya nenek monyang mereka agar erus hidup dan lestari.

Mulai tanggal 21 Maret yang lalu, musim memang sudah berganti. Udara dingin menusuk tulang yang terjadi selama hampir lima bulan, kini sudah mulai berlalu. Bahkan seminggu terakhir, kita bisa keluar rumah tanpa mengenakan jaket. Udara lumayan panas, 20 derajat. Terasa sangat panas karena baru saja selesai masa-masa dingin membeku dalam musim dingin.

Ini saatnya berpesta. Musim semi sudah tiba!

Stramilano adalah pesta menyambut musim semi. Ada tiga hal penting terkait dengan acara ini:
Pertama, maraton masal.
Maraton diikuti oleh atlet dan oleh keluarga. Untuk atlet jarak maratonnya 10 KM. "Atlet" di sini bukanlah atlet profesional dalam dunia oleh raga, namun masyarakat biasa yang juga merasa sanggup untuk mengikutinya. Tahun lalu saya dengar maraton menempuh jarah 20 km. Saya tidak tahu kenapa tahun ini dikurangi setengahnya. Maraton masal ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Milan, tapi juga oleh orang asing. Sangat banyak turis yang datang ke Milan untuk mengikuti maraton masal ini.

Maraton juga diikuti oleh keluarga. Khusun untuk keluarga, maraton menempuh jarak lima KM. Dimulai dari Piazza Duomo, diakhiri di Castello Sforzesco. Ada ribuan keluarga yang tumpah ruah ke lokasi acara saat maraton akan dimulai. Mereka membawa seluruh keluarganya, anak-anak dan bahkan anjing peliharaan. Anak-anak yang belum bisa berjalan diletakkan dalam kereta bayi. Mereka semua mengenakan pakaian khusus yang sudah disediakan panitia dan menenteng sebiji balon. Sehingga dari jauh terlihat sebuah gerakan balon yang berwarna merah. Tidak lupa, dalam maraton masal ini juga diikuti oleh difable, bahkan mereka diberikan tempat paling depan. Setengah perjalanan panitia menyediakan air dan makanan kecil untuk seluruh peserta.
Kedua, Musium dan kolam renang publik gratis.
Kalau hari biasa, untuk masuk ke museum dan kolam renang harus membei tiket. Namun dalam acara Stramilano semuanya gratis. Hanya saja, yang gratis adalah museum dan kolam renang yang dikelola oleh pemerintah. Jangan salah, di Milan kualitas dna fasilitas milik pemerintah juga sama dengan punya swasta. Bagi pendatang seperti saya, ini adalah kesempatan yang langka untuk mengunjungi museum-museum di Milan. Sayangnya waktu teralu pendek, saya tidak mungkin mengunjungi museum yang jumlahnya lebih 100 buah di Milan.

Ketiga, tidak ada mobil dalam kota
Sejam jam delapan apgi hingga jam enam petang, tidak ada kenderaan bermotor di jalan raya. Yang ada hanya kenderaan publik, termasuk taksi. Jadi jalan-jalan di Milan sepanjang hari kemarin sepi dari kenderaan. Namun karena transportasi publiknya yang bagus, semua mobilisasi bisa dilakukan dengan baik. Tidak ada istilah penumpukan orang yang tidak mendapatkan kenderaan. Semua bisa melakukan perjalanan ke seluruh kota dengan mudah, seperti hari yang lain. Setelah acara maraton di pagi hari, sore hari jalan-jalan dipenuhi dengan sepeda. Masyarakat Milan menikmati Stramilano sebagai hari bersepeda.

***

Ada hal penting yang menurut saya penting dalam acara Stramilano kemarin. Yaitu, bagaimana masyarakat Milan yang notabenenya adalah masyarakat kosmo masih menjaga budaya nenek menyang mereka. Bukan hanya kali ini, ada banyak momen di mana mereka membuat even yang terkait dengan budaya lama. Katakan saja acara "Carnevale ambrosiano" yang diadakan bulan Februari. Itu juga sebuah perhelatan besar yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas "penjagaan kota" yang dilakukan oleh Dewa Ambrosio. Dalam kontek perkembangan modern, mereka masih melakukan ini. Hasilnya apa? Ada ratusan ribu turis yang datang hanya untuk melihat perayaan ini.

Syukurnya ada banyak kota di Indonesia melakukan perayaan khas seperti ini. Semoga ke depan semakin baik.

16 March 2012

Jalan Menuju Milan

Ini postingan ke sekian kali di sini. Sebelumnya sudah ada beberapa tulisan mengenai ini tapi masih terasa kurang pas buat sebuah momen yang akan kujalani insyaallah beberapa tahun ke depan: Belajar di Milan! Sungguh, ini perjalanan dan pengalaman baru yang takkan pernah kulupakan. Aku tidak bisa katakan ini pengalaman terbesar, sebab ukuran besar sebuah pengalaman selalu relatif. Tidak ada yang besar dan kecil, yang ada hanyalah bagaimana kita mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Dan aku akan mencoba belajar dari pengalaman ini.

Kenapa ke Milan?

Aku juga menanyakan hal yang sama. Kenapa harus belajar ke Milan? Apalagi yang akan kupelajari adalah antropologi. Entah kalau belajar mode, fasion, desain, dll. Tapi ini antro, ilmu yang tidak cocok dengan style Milan yang selama ini dikenal sebagai kota mode yang glamour. Sementara antro identik dengan ilmu masyarakat tertinggal, suku-suku terasing, masalah-masalah rill di level komunitas perkampungan. Suatu yang aneh. Menurutku dan menurut banyak teman-teman.

Tapi ini sudah terjadi. Sekarang alhamdulillah perjalanan sudah dimulai, dan pengalaman akan harus terus kucatat. Aneh atau tidak, salah atau benar, tepat atau keliru, proses ini akan saya jalani, insyaallah dengan sepenuh hati dan tekat besar untuk sukses. Mudah-mudahan Allah memudakan segala perjalanan ini, amin...

Tapi sedikit aku ceritakan di sini, kenapa aku bisa "terdampar" di Milan.

Ceritanya panjang. Tidak cukup halaman blog ini untuk merekamnya. Kalau dibuat sintron mungkin perlu 100-an episode. Apalagi sintron yang selalu mengulur-ngulur waktu, tidak padat, asal-asalan, tidak mendidik, mungkin butuh 200 episode. Hahahah. kenapa malah bicara sinetron?

Oke, kembali ke laptop. Kenapa bisa terdampar di Milan?
Ceritanya, aku harus akui sepenuh hati, secara jujur dan apa adanya. Dari lubuk hati terdalam, aku ingin kuliah ke luar negeri. Bukan di dalam negeri tidak bagus, tidak berkualitas, tidak mengajarkan hal yang kucari, bukan itu alasannya. Keinginan ini murni untuk pendidikan dan jalan-jalan. Bagiku, belajar di luar negeri bukan hanya sebuah usaha mendapatkan pengetahuan, namun juga sebuah pendidikan sepanjang jalan. Perjalanan jauh, kata pepatah, mengajarkan banyak hal: jauh berjalan banyak dilihat. Banyak dilihat banyak tahu. banyak tahu, banyak ilmu. banyak ilmu makin maju. Kira-kira begitu.

Lalu kenapa ke Milan?
Keinginan untuk belajar di luar negeri ini sangat kuat, lebih kuat dari keinginan apapun yang pernah saya miliki. Setiap hari, setiap malam, setiap ada kesempatan, saya sering membayangkan sebuah perjalanan yang luar biasa, perjalanan ke luar negeri. Terkadang ini memalukan, sebab bagi orang-orang seperti saya, berasal dari pedalaman, keluarga kecil pedesaan, tidak berprestasi di sekolah, lulus di kampus dengan IPK alakadarnya, perjalanan ke luar negeri sebenarnya adalah sebuah hayalan sulit, dan mimpi di siang bolong. Tapi saya jujur mengakui, bahwa itu bisa menjadi nyata.

Sayang seribu sayang, persyaratan penting untuk pergi ke luar negeri tidak saya miliki: Kemampuan berbahasa Inggris! Sebab semua pintu beasiswa menuju ke sana dibubuhi sebuah syarat itu, TOEFL 550! Jumlah yang berat bagiku. Meskipun aku sudah belajar bahasa inggirs sejak MTs, tapi jumlah TOEFL seperti itu tidak pernah bisa kugapai.

Aku sedikit mengeluh dengan kenyataan ini. Sebab ada beberapa teman yang memiliki nilan TOEFL bagus, namun ia tidak memiliki pengalaman penelitian, pengalaman berorganisasi, pengalaman memfasilitasi masyarakat, dan pengalaman sosial lainnya. Hanya karena nilai bahasanya bagus, ia lantas bisa kuliah di luar negeri di jurusan apapun yang ia sukai. Bahkan di jurusan yang sebelumnya tidak terkait sama sekali dengan pendidikannya. Ukurannya hanya satu, kemampuan berbahasa Inggris.

Lantas, aku yang merasa selama ini punya sedikit pengalaman bermasyarakat lebih banyak dari sebagian teman, kenapa tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sana? Hanya karena bahasa Inggris? Itu suatu alasan yang sungguh sangat menyakitkan! Sebab bahasa adalah sebuah keterampilan yang perlu di asah. Seharusnya, tes masuk beasiswa ke luar negeri bukan hanya bahasa Inggris, tapi juga pengalaman penelitian, penglaman menulis, memfasilitasi masyarakat, dll. Lalu kalau sudah lewat, baru bahasa Inggrisnya dilatih sampai bisa.

Oke, lalu kenapa ke Milan?
Lalu saya sedikit marah. Saya katakan hal ini kepada banyak orang, termasuk sedikit kenalan dari luar negeri. Saya kataan juga kalau saya mau belajar ke sana. Beberapa teman merespon positif, beberapa yang lain menganggap saya salah alamat. Ada juga yang menyarankan saya agar terus belajar bahasa inggris. Saya merasa malu sendiri sambil diam-diam terus belajar, walaupun tidak serius. Tentang usia? saya merasa masih terlalu muda di usia 30 tahun saat itu.

Saya sangat terbantu berkenalan dengan banyak orang saat saya bergabung bersama Aceh Research Training Institute (ARTI) dan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) selama dua tahun. Di sana saya berkenalan dengan banyak orang yang selama ini hanya saya dengar namanya, atau saya baca bukunya. Sebut saja beberapa diantaranya: Anthony Reid, Harold Crouch, Leena Avonius, Michael dan Barbara Leigh, Laura Yoder, David Cauvel, David Reeve, Minako Sakai, Edward Aspinal, Harry van Klinken dan Silvia Vignato. Dari Indonesia saya bersyukur bisa akrab dengan Eka Srimulyani, Moch. Nur IChwan, Arskal Salim, Adlin Sila, Irwan Abdullah, Pujo Sumedi, Argo Dwikromo, M. Amin Abdullah dan sejumlah guru besar di IAIN Ar-Raniry, di mana saya bekerja.

Dari mereka saya belajar banyak hal, bukan hanya ilmu penelitian, tapi juga tentang semangat, tanggung jawab, koitmen, idealisme, dan terutama, cinta. Dari mereka juga saya banyak tahu tentang belajar di Luar negeri. Dan itu semakin membuat semangat saya belajar ke sana menjadi membara. Rasanya, saya ingin besok sudah berangkat, sesuatu ayng tidak mungkin terjadi.

Kesempatan terbaik yang saya manfaatkan dengan baik pula datang dari jalinan pertemanan ini. Adalah Ibu Silvia Vignato yang menawarkan saya mengikuti seleksi di kampusnya, di Universita degli Studi di Milano-Bicocca. Sebuah kampus yang baru berusia 15 tahun di Milan, Italia. Hati siapa yang tidak tertarik? saat saya begitu berharap bahkan terbawa mimpi untuk belajar di luar negeri, saya malah ditawarkan belajar ke sana tanpa menanyakan apakah saya bisa bahasa Inggris atau tidak, berapa nilai TOEFL saja, berapa banyak karya saya, berapa kali saya ikut konferensi internasional, dll. Sungguh, ini adalah durian runtuh!

Tidak perlu jeda waktu. Saya langsung mengatakan kalau saya bersedia. Apalagi belajar antropologi, ilmu yang belakangan membuat saya penasaran dan ingin mendalaminya. Bahkan saya sudah ikut pelatihan antropologi etnografi di sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah di bawah bimbingan Bapak Pujo Sumedi. Dan kini saya ditawarkan belajar antropologi di program Ph.D di sebuah universitas di Milan. Alhamdulillah ya Allah, sungguh sebuah rezeki yang tidak terduga.

Namun tawaran itu hanyalah sebuah tahap awal yang belum menjamin apa-apa. Saya harus melewati serangkaian proses administrasi untuk memastikan saya bisa berangkat ke sana. Antara lain, mengikuti seleksi administrasi yang dilakukan oleh pihak universitas. Untuk itu saya harus menerjemahkan semua dokumen ke dalam bahasa Italia, termasuk ijazah, transkrip nilai, dan beberapa dokumen lain. Ini membawa saya berkenalan dengan beberapa rekan di Instituto Italiano di Cultura (IIC) di Jakarta. Syukur alhamdulillah, beberapa rekan di sana sangat membantu saya dan memudahkan saya mengurus semua keperluan untuk pendaftaran itu.Terima kasih saya yang sebesar-besarnya untuk Laila, staf di IIC Jakarta.

Setelah saya mendaftar dan dinyatakan lewat, masalah timbul lagi. Dari mana biaya studi di sana? Jelas, IAIN ar-Raniry, tempat saya bekerja tidak punya uang untuk menyekolahkan saya. Apalagi bisa sendiri. Ini bukan pergi ke Indrapuri di mana kalau kita kelarapan bisa minta makan sama warga. Ini ke Milan, negeri entah berantah yang selama ini hanya saya dengar dan saya kenal karena ada klub bola; AC Milan dan Inter Milan. Pasti butuh dana banyak.

Dalam kegalauan seperti ini, Ibu Leena dan Ibu Silvia membantu saya. "Kita akan coba meminta Komisi Beasiswa Aceh (KBA) membantu studi kamu di Milan". "Kita", jadi bukan saya sendiri yang akan mengurusnya, mereka akan membantu. Saya juga melaporkan masalah ini kepada bapak Luthfi Aunie, PR II IAIN Ar-Raniry. Beliau mengatakan akan emmbantu saya mendapatkan beasiswa. Dan benar saja, mereka menghubungi KBA dan merekomendasikan saya untuk mendapatkan beasiswa S3 di Milan. Biasanya, untuk mendapatkan beasiswa S3, seseorang harus mengikuti proses seleksi dan pergi ke negara yang sudah ditetapkan oleh KBA sendiri. Namun dalam kasus saya, saya sungguh bersyukur mendapatkan sedikit pengecualian. Hal ini semakin mudah saat rektor IAIN Ar-Raniry dan jajarannya memperkuat argumen Leena dan Silvia dengan menyatakan kalau di IAIN masih sangat dibutuhkan dosen antropologi agama. Alhamdulillah, KBA mendanai saya.

Dan sekarang sebagian dari mimpi saya sudah terwujud. Alhamdulillah saya kini sudah di MIlan, mulai belajar, mulai mencari pengalaman baru, mulai menjajaki wacana baru, dan mulai mengisi diri dengan semangat baru. Semoga allah mudahkan semua urusan saya dselama di sini, dan memudahkan saya mendapatkan dan menerima ilmu pengetahuan. Amin

05 March 2012

Ketika Milanese Meneriakkan “Boikot Israel, Bebaskan Palestina!”


Sabtu (03/03), saat sedang jalan-jalan di pusat kota Milan, saya melihat ada banyak polisi anti huru hara yang berdiri di beberapa ruas jalan. Perasaan saya tidak ada yang aneh dengan suasana kota sore itu, semua berjalan seperti biasa. Karena merasa tidak ada masalah, saya lanjutkan aksi jalan-jalan cuci mata. Tapi beberapa menit saya meninggalkan rombongan polisi yang nampaknya sedang berjaga-jaga itu, saya terkejut dengan suara dentengan lonceng yang sahut-menyahut dari arah saya datang. Saya balik lagi ke belakang, ternyata ada ratusan orang sedang menggelar demonstrasi!

Saya mencoba kembali ke jalan semula dan mendahului rombongan pendemo supaya bisa mebaca poster dan spanduk yang mereka bawa. Belum sempat saya dahului, mereka sudah berhenti di depan katedral Duomo, bangunan peninggalan abad pertengahan yang kini menjadi simbol kota Milan. Di sana mereka menggelar orasi bergantian, dan membentangkan spanduk yang berisi berbagai macam aspirasi. Mereka juga membawa beberapa foto, beberapa bendera negara asing (negara non-Italia), dan beberapa simbol negara tertentu.

Saya tidak tahu pasti dari kelompok mana pendemo ini. Namun dari cat di muka beberapa demonstran, bendera, dan tulisan di mobil yang dihiasi dengan tulisan “no tav”, nampaknya ini kelompok mayarakat pendukung ide sosialis di Milan. Sebelum ini, saya pernah melihat juga, mereka melakukan demo kepada pemerintah Italia menuntut pembukaan lowongan kerja yang lebih banyak dan meninkatkan standar upah. Kelompok ini memiliki hubungan dekat dengan Partai Komunis Italia yang belakangan sedang berkampanye anti liberalisme dan pasar bebas.

Isue paling penting yang diteriakan dalam demonstrasi ini adalah pembebasan Palestina dan beberapa negara lain yang saat ini berada di bawah “penjajahan” Amerika dan Israel. Menurut demonstran, hak untuk mengatur sebuah negara dengan batas teritorial tertentu ada pada manusia yang didup dalam teritorial tersebut, tidak ada urusan dengan bangsa lain. Peran Amerika dan Israel selama ini dianggap oleh demonstran telah menjadi dasar ketidakamanan dunia. Ketakutan akan perang dan kekacauan bukan lagi disebabkan oleh terorisme kelompok tertentu, namun oleh berbagai statemen dan kebijakan politik luar negeri Amerika dan Israel di media masa.

Oleh sebab itu, demi keamanan dunia dan menghargai hak rakyat pemilik suatu negara, sudah saatnya negera-negara yang berada dalam penjajahan Amerika dan Israel diberikan hak untuk merdeka segera. Beberapa negara yang mereka teriakkan dalam demonstrasi kemarin adalah: Palestina, Suriah, Kolombia, dan Kuba. Namun penekanan paling penting nampaknya pada Palestina. Spanduk yang meneriakkan kemerdekaan Palestina jauh lebih banyak dibandingkan dengan spanduk lain yang dibawa oleh demonstran. Bahkan, teriakan “Boicott Israel, Palestina libera” menggema di sepanjang demonstrasi ini dilakukan.

Bagi saya ini menarik sebab banyak orang yang saya kenal menempatkan isu Palestina sebagai isue keagamaan bukan kemanusiaan. Karena yang dikedepankan isue perebutan masjid bersejarah yang berdiri di sana. Oleh sebab itu sering kali dukungan buat pembebasan Palestina hanya diikuti oleh kalangan dari agama tertentu saja. Buruknya lagi, di Indonesia, pendukung pembebasan Palestina adalah masyarakat dari partai politik tertentu sehingga kerap dilihat sebagai kepentingan politik pula. Jadinya, dukungan pada pembebasan Palestina di Indonesia sangat kecil dan tidak kuat. Padahal, dalam posisinya sebagai negara besar, seharusnya Indonesia bisa memainkan peran yang lebih besar dalam membantu Palestina merdeka.

Andai alasannya “kemanusiaan”, seperti yang diteriakkan dalam demonstrasi di Milan ini, mungkin dukungan dari masyarakat Indonesia akan berbeda. Sebab demi kehidupan semua manusia, maka sudah seharusnya semua orang peduli dengan nasib Palestina, bukan hanya agama tertentu saja apalagi partai politik tertentu saja. Di Palestina hidup manusia dengan berbagai agama, Islam, Kristen dan Yahudi. Semua mereka terancam dan hidup tidak nyaman di negara mereka sendiri. Semua mereka pasti tidak menginginkan perang dan menginginkan negara yang merdeka. Adanya beberapa “perselingkuhan” yang dilakukan pejabat Palestina dengan kepentingan asing di sana tidak menjadi dalil untuk mengatakan Palestina tidak bisa mendapat dukungan untuk menjadi sebuah negara merdeka. Bagaimanapun mereka punya sejarah, dan mereka adalah pimilik sah tanah Palestina. Bangsa asing wajib minggir dari sana dan pulang mengurus rumah tangga mereka sendiri.

02 March 2012

Yang Lucu, Menggelikan dan Memalukan, dalam Belajar Bahasa Italia

Ada banyak orang belajar bahasa adalah satu hal yang mudah. Sebentar saja belajar ia sudah bisa. Namun saya tidak termasuk dalam golongan itu. Sudah beberapa bulan belajar bahasa Italia saya masih belum bisa dikatakan mampu berbahasa Italia. Namun, selama proses belajar setidaknya saya dapat banyak pengalaman yang, menurut saya memalukan atau menggelikan kalau dikenang. Berikut beberapa peristiwa itu.

Salah satu kata yang paling penting ketika memulai belajar bahasa adalah kata tanya, atau kata yang dipakai untuk bertanya. Karena hidup di sebuah kota yang baru, maka kata tanya yang sangat penting adalah: "Di mana" dalam bahasa Italia disebut dengan "dove". Pada awalnya saya sering lupa dengan kata ini sehingga kesulitan saat menanyakan suatu tempat kalau lagi di jalan. Memang saya tetap bisa mendapatkan tujuan saya dengan menunjukkna tempat tujuan itu dalam pata kepada orang yang saya jumpai, atau beruntung kalau ia bisa bahasa Inggris. Namun cara ini sangat tidak sederhana. Akhirnya saya dapat sebuah cara mengingatnya!!!!

Saya berasal dari Suku Kluet, sebuah suku kecil di Aceh. Dalam bahasa Kluet untuk bertanya "dimana" menggunakan kata "dapah". Sekilas sepertinya kata "dove" dan "dapah" hampir mirip. Atau lebih tepatnya saya paksa dimirip-miripkan. Namun cara ini sukses. Ketika saya hendak bertanya dengan "dimana" maka saya ingat bahasa Kluet dulu, lalu saya mengubahnya dalam bahasa Italia. Itu awalnya saja, pada akhirnya kata ini tidak perlu lagi dihubungkan kepada bahasa Kluet.

Untuk mengingat sebuah kata terkadang saya menghubungkannya dengan hal-hal yang sama sekali tidak ada hubunganya, namun saya tetap menghubung-hubungkan sehingga mudah mengingat. Misalnya, saat saya pertama kali mengingat kata "muda" dalam bahasa Italia yang disebut dengan "giovane". Saya teringat, entah ingatan saya benar atau tidak, dulu ada seorang penyanyi cilik yang namanya "geovane". Jadi kalau mau menyebutkan "muda" dalam bahasa Italia, saya ingat nama penyanyi muda di Indonesia itu. Atau saat saya menghapal kata "kiri" yang dalam bahasa Italia disebut "sinistra". Saya menghubungkan sikap "sinis" dalam bahasa Indonesia yang bisa diartikan sikap yang negatif dan negatif itu adalah "kiri". Sangat tidak berhubungan, namun itu telah membantu saya menghafal kata-kata itu.

Pengalaman lain sedikit memalukan karena saya merasa "sudah tahu" atau "sok tahu" mengenai arti sebuah kata karena kemiripannya dengan bahasa Inggris. Misalnya kata "questo". Saya merasa kata itu sama dengan "question" dalam bahasa Inggris. Jadi kalau membaca sesuatu dan menemukan kata itu, saya tidak lagi melihatnya di kamus. Tapi saya terus bingung karena artinya tetap tidak nyambung meskipun kata lain saya sudah dapatkan. Ternyata, kata "questo" berarti "ini", sama sekali jauh berbeda dengan "question" dalam bahasa Inggris. Meskipun ada banyak kata lain yang memang serupa antara bahasa Italia dan Inggris, namun ada banyak kata yang memang "menipu" sehingga tidak bisa sepenuhnya dipercaya meskipun mirip.

Memang, belajar bahasa bukan hanya proses mengubah arti kata, namun juga menempatkan kata itu dalam budaya penggunaannya dalam masyarakat tersebut. Hal ini terkadang membuat saya sedikit bingung. Misalnya kata "perche'" (baca: perkhe') yang dalam bahasa Italia berarti "Kenapa" (untuk bertanya) dan juga berarti "karena" untuk menjawab atau memberikan alasan. Atau sedikit perbedaan yang memiliki arti sangat-sangat berbeda: misalnya huruf "e". Kalau ia hanya "e" biasa saja, maka artinya "dan". Tapi begitu ia mendapat tanda koma di atas "è" maka menjadi kata karja ganti untuk orang ketiga tunggal. Pada awalnya ini sangat membingungkan dan menyusahkan.

Kalau yang memalukan, itu sangat banyak. Kemarin malam bapak kos saya datang ke rumah. Sudah seminggu ini saya jarang di rumah pada pagi hari karena banyak kegiatan di kampus. Saat jumpa, kami bicara banyak hal. Bapak kos saya bilang kalau pagi harinya ia sudah membersihkan lantai dapur, kamar mandi dan bahkan membuang sampah yang sudah banyak. Saya mengatakan "grazie signore" (terima kasih tuan) karena merasa ia sudah berbuat baik untuk saya. Nampaknya ia tersinggung karena buru-buru pulang. Ketika teman saya orang Italia pulang, saya ceritakan pengalaman ini. Dia tertawa keras. Sebab seharunya saya mengatakan "mi dispiace signore" atau "saya mohon maaf tuan" karena tidak membersihkan lantai dan membuang sampah. Wah.. salah kata ternyata. Pantas si bapak kos buru-buru pulang!

Yah... tapi semuanya ada proses. Saya selalu berprinsip bahwa Kita hanya wajib belajar, hasilnya akhirnya Allah yang tahu.

01 March 2012

Presentasi Kandidat Ph.D yang Merekam Dunia

Tiga hari yang lalu saya mengikuti presentasi teman-teman mahasiswa Ph.D Antropologi di Universitas Milano-Bicocca, Milan. Semua mahasiwa Ph.D (mulai tahun kedua) wajib melaporkan perkembangan hasil penelitiannya selama setahun terakhir di hadapan para dosen dan mahasiswa yang lain. Laporan ini sebagai cara untuk menunjukkan bahwa mereka punya perkembangan dalam studinya dan juga sekaligus agar teman-teman yang lain bisa memberikan saran atas apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Seperti biasanya di Eropa, meskipun ini sebuah forum resmi, namun tidak teralu kaku. Para professor enjoy saja duduk berbaur bersama mahasiswa. Tidak ada juga pembukaan resmi oleh pejabat kampus. Saat pembukaan, Dekan program Ph.D yang duduk di kursi paling belakang berdiri dari kursinya dan mengatakan; "ayo kita mulai, silakan!" Acarapun dimulai.

Hari pertama menampilkan lima orang mahasiswa Ph.D yang hampir selesai. Penelitian mereka sudah mencapai babak akhir dan tahun ini adalah tahun terakhir mereka di kampus. Karena itu, presentasi masing-masing mahasiswa agak lama. Satu orang menghabiskan waktu satu jam, termasuk tanya jawab. Hari kedua presentasi dilakukan oleh lima orang, mereka baru sekali ke lapangan dan sudah mulai menulis laporannya. Sementara hari ketiga presentasi oleh enam orang. Mereka juga sudah pergi ke lapangan untuk penelitian pendahuluan, sudah menyiapkan proposal dan merencanakan penelitian lanjutan.

Apa yang menarik dari presentasi ini adalah, penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswi ini (yang umumnya berusia 25 tahunan) bukan di Milan atau Italia. Dari belasan yang presentasi hanya dua orang saja yang penelitiannya di Italia. Selebihnya, mereka melakukan penelitian di mana-mana di seluruh dunia. Di Afrika dan Timur Tengah, mereka melakukan penelitian antara lain di Mesir, Yordania, Yaman, Kamerun. Di Asia mereka melakukan penelitian di Thailand, Jepang dan Cina. Di Amerika Latin ada di Brazil. Ada juga yang di Eropa seperti di Spanyol dan Rusia. Bukan hanya di negara-negara "dunia ketiga" mereka juga melakukannya di negara maju seperti Amerika Serikat.

Mahasiswa muda ini menguasai bahasa negara di mana mereka melakukan penelitian. Saya merasa cemburu ketika melihat mahasiswa yang melakukan penelitian di Timur Tengah sangat fasih bicara bahasa Arab. Saya sendiri yang belajar bahasa Arab sejak sebelum sekolah masih belum bisa hingga sekarang. Atau mereka yang sangat fasih bahasa Jeang, Cina dan Thailand. Padahal saya jadi tetanga negara-negara itu namun sama sekali tidak pahamam apa yang mereka tulis dan apa yang mereka bicarakan.

Coba kita lihat jauh ke depan. Denganc ara seperti ini apa yang akan terjadi di masa yang akan datang? Tidak lain adalah: rekaman peradaban sebuah bangsa. Bangsa-bangsa yang tidak merekam sendiri peradabannya dengan jujur, di masa depan akan harus pergi ke negara lain untuk mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Sebab bangsa lain mengirimakn begitu banyak mahasiswa ke negara mereka sekarang ini untuk belajar. Mereka belajar sambil merekam apa saja yang ada di negara tersebut dalam bentuk penelitian. Penelitian ini pastiu akan terdokumentasikan dengan baik dan akan bertahan dalam waktu yang lama.

Untuk kasus Aceh misalnya, kita harus mengakui Belanda-lah yang sudah merekam Aceh pada abad 19 dan bahkan 20. Saat ini, jika ingin mengetahui Aceh di masa lalu maka tidak ada pilihan kecuali harus pergi ke Belanda. Di sana tersimpan ratusan buku tentang Aceh, baik yang ditulis oleh orang Aceh sendiri atau yang ditulis oleh orang Belanda mengenai Aceh. Saat menulis dulu, mungkin mereka hanya mengungkapkan pengalaman kunjungannya saja, namun kini ia menjadi bukti otentik dari sebuah sejarah perjalanan hidup sebuah bangsa.

Sayang sekali, kesadaran merekam peradaban ini tidak terlalu tumbuh di dunia akademik kita. Penelitian dosen (pengalaman saya cuma di IAIN) sering kali tidak mencoba mengangkat apa yang ada dalam masyarakat, namun malah menunjukkan apa yang baik kepada mereka berdasarkan konsep yang dibangun oleh ulama ratusan tahun yang lalu dan dalam masyarakat yang berbeda. Bukan tidak bagus, namun menurut saya itu tidak akan menjadi sebuahc atatan sejarah yang akan berguna. Apalagi karya Ilmiah bukanlah sebuah analisis kebijakan yang akan menjadi dasar kongkrit dalam menyusun undang-undang. Jadinya, sebuah karya yang demikian akan dismpan di perpustakaan, lalu dibaca oleh para tikus.

Celakanya, peneliti asing datang ke Aceh sepanajng tahun untuk melakukan penelitian. Hasilnya pasti mereka bawa ke negara mereka sendiri. Sementara orang Aceh sendiri tidak melakukannya. Katanya tidak ada dana. Tapi saya tahu sekali kalau banyak peneliti asing yang datang ke Aceh juga dengan dana yang sangat minim. Lantas kenapa kita tidak melakukannya? Karena integitas akademiki di Aceh memang belum sebagus di negara asing. Kita masih belum sadar akan pentingnya mendokumentasikan semua hal yang terkait dengan perkembangan bangsa sendiri. Di masa depan kita mengagungkan sejarah yang penuh mistik dan kebohongan. Persis seperti cerita kesultanan Aceh yang berkembang saat ini, penuh mistis, irrasional dan terlalu banyak hayalan.


28 February 2012

Carnevale Ambrosiono: Pesta Rakyat di Milano

Secara tidak sengaja sabtu lalu saya datang ke Duomo. Saya terkejut saat melihat ada banyak orang di sana. "Banyak orang" sebenarnya biasa, namun hari sabtu yang lalu orang-orang mengenakan pakaian yang khas, pakaian tradisional, pakai topeng, pakaian super hero, mengecat muka dan lainnya. Anak-anak, remaja dan orang dewasa. Cina, India, Arab, Amerika Latin, Eropa, Afrika, sama saja. Semua berbaur jadi satu. Ada apa ini? Saya jadi penasaran.

Di depan Duomo saya melihat sebuah panggung bertuliskan: Carnevale Ambrosiano. Ternyata hari ini ada carnava ambrosiano. Saya tidak tahu pasti apa itu carnaval ambrosiano. Namun dari ngobrol dengan beberapa orang di sana disebutkan, karnaval ini adalah perta memperingati kedatangan dewa Abrojo atau Ambrosiano, seorang dewa yang melindungi kota Milan. Namun saat ini, pesta ini menjadi ajang bagi warga kota untuk saling berbagi dan membina silaturahim antar suku bangsa yang hidup di Milan.

Ada banyak hal yang menarik dari carnaval ini, diantaranya: pakaian yang dikenakan oleh peserta. Seperti karnaval agustusan di Indonesia, peserta carnaval ini juga mengenakan pakaian yang beraneka ragam. Namun karena yang mengikuti acara berasal dari suku bangsa yang berbeda jadi pakaiannya juga sangat beragam, sesuai dengan pakaian adat suku bangsa tersebut. Milan adalah kota kosmopolit. di sana hidup banyak orang dari berbagai bangsa dan berbagai suku di dunia. Kosmopolit dalam pakaian ini nampak jelas dalam acara carnaval kali ini.

Menarik juga melihat keterlibatan anak-anak. Dalam acara ini anak-anak benar-benar mendapatkan tempat bermain dan bertemu dengan sesama mereka. Semua anak-anak berada di bawah pengawasan orang tua mereka. Jadi tidak ada anak yang berkeliaran, atau menangis karena kehilangan orang tuanya. Kemanapun mereka pegi, orang tua mereka mengikuti. Bahkan orang tua mereka membantu si anak untuk bisa terus bermain.

Menarik juga melihat kekhasan permainannya. Pada acara carneval ini permaian yang utama adalah kertas warna-warni yang di potong kecil-kecil (ada banyak orang yang menjual kertas ini dalam bungkusan plastik), dan spray salju. Kertas-kertas ini menjadi permaian utama bagi anak-anak. mereka melemparkan kertas ke udara dan menunggu jatuh ke mukanya lagi. Atau mereka melemparkan kertas kepada teman-teman kecilnya, baik yang mereka kenal atau bertemu saat berjalan. Tidak ada yang marah, yang ada hanya aksi saling melemparkan kertas.



Spray salju juga dipakai untuk aksi saling semrot. Mungkin aksinya hampir sama dengan anak SMA yang baru lulus ujian akhir. Hanya saja, dalam carnaval ini aksinya "lebih gila" karena saling berbalas semprot. Namun tidak ada yang marah karena mereka nampaknya menikmati acara semprot-semprotan itu. Yang paling banyak melakukannya memang anak-anak dan remaja, namun banyak orang tua juga melakukan hal yang sama. Jadinya super heboh. Coba lihat rekaman yang saya upload di youtube berikut ini:

Tidak hanya pada siang hari, acara ini berlangsung hingga malam hari. Ada dua even menarik pada malam hari. pertama carbevale di populi, atau pesta rakyat. Dalam hal ini berbagai suku bangsa yang ada di Milan menunjukkan tarian dan nyanyian khas negara mereka. Namun karena hubungan masa lalu Italia lebih banyak dengan negara-negara di Amerika Latin, yang mendominasi pementasan ini juga dari Amarika Latin. Arab yang lumayan banyak di Milan juga menempatkan diri dalam pementasan ini. Sementara Cina dan Filipina yang ada di Milan nampaknya belum sampai pada taraf bisa tampil dalam acara ini. Jangan tanya Indonesia!

Ini salah satu pementasan dari Cuba:

 
 


Dan ini sebuah shalawat dari Arab/Mesir:

 

Acara malam ditutup dengan sebuah pementasan drama. Ada yang menarik dari pementasan ini, yaitu, pesertanya semua berjalan di atas kaki tambahan sehingga mereka menjadi sangat tinggi-tinggi. Dari semula hingga pementasan berakhir, semua berjalan di atas kaki tambahan itu. Jadi bukan hanya menarik penampilan drmanya, namun juga seolah kita sedang menonton sebuah akrobat. Saya terkesima dengan penampilan drama ini. Saya merekam sejak pertama hingga akhir yang seluruhnya hampir satu jam. Namun sayang sekali tidak bisa diupload ke youtube karena terlalu panjang. Berikut salah satu bagian dalam pementasan itu:







26 January 2012

Sidang Disertasi di Negeri Materialis

Saya datang jam dua, sesuai undangan. Saat saya buka aula seminari tidak ada orang di sana. Tidak ada juga tanda-tanda kalau di sana akan diadakan sebuah perhelatan penting. Ruangan itu besarnya “hanya” lima kali empat meter saja. Di salah satu sudutnya ada seperangkat televisi. Di sisi kanan pintu masuk ada sebuah lemari arsip. Di tengah ruangan ada sebuah meja agak panjang dengan beberapa kursi di sekelilingnya. Di dua sisi dinding berderet kursi. Karena tidak ada orang, saya pergi ke sekretariat mahasiswa Ph.D. Namun ternyata di sana juga tidak ada orang. Tapi saya sangat yakin kalau saya tidak salah dengar berita minggu lalu.

Orang yang menyampaikan berita itu adalah –katakan saja namanya Julia, kakak leting saya di kampus. Ia mengatakan kalau hari ini jam dua lewat ia akan mengikuti sidang disertasi. Dalam tradisi kampus di manapun, sidang disertasi adalah babak terakhir dari proses pendidikan doktoral di universitas. Setelah selesai presentasi di hadapan dewan penguji, habis sudah “kontrak” menjadi mahasiswa, sebab itu berarti sudah selesai semua proses, sudah berhak menyandang gelar Ph.D sesuai dengan bidang ilmunya.

Setengah jam saya di ruangan mahasiswa doktor, tiba-tiba pintu terbuka. Saya lihat Leonardo masuk. Saya kenal betul dia, anak delapan tahunan, putra tertua Julia. Berikutnya masuk Julia dan anak bungsunya yang belum genap dua tahun, disusul adik Julia, orang tuanya, mertuanya, dan seorang teman. Setelah berbasa-basi sebentar, kami menuju ruang sidang. Semula saya menduga ada ruang lain yang akan digunakan, bukan aula seminari yang tadi saya lihat. Tapi dugaan saya keliru, ruang itulah yang dipakai untuk sidang.

Kami masuk semua, termasuk anak-anak Julia. Sesaat kemudian datang tiga orang penguji dan duduk di salah satu sisi meja. Julia duduk di sisi meja yang lainnya, mereka berhadapan. Mereka basa-basi dengan sangat ramah sebentar sehingga tidak terlihat Julia tertekan menghadapi “sidang”. Jangan bayangkan Julia dan penguji mengenakan baju toga besar dan berat dengan berbagai pernak-pernik keemasan di depanya, sama sekali tidak. Baik Julia maupun pengujinya, mengenakan baju biasa. Penguji yang laki-laki mengenakan celana kain dan baju krim. Seorang penguji perempuan mengenakan jeans, bajo kaos dengan luaran sweater. Seorang penguji perempuan yang lain juga mengenakan pakain sehari-hari. Julia sendiri mengenakan baju kaos dengan sweater (karena musim dingin), dan mengenakan celana pendek.

Pembimbing Julia duduk di barisan tamu, barisan di mana saya duduk, persis di belakang Julia. Ia hanya punya hak mendengar saja, tidak ada hak bicara kecuali kalau diminta. Sidang dimulai dengan mempersilahkan Julia menjelaskan isi disertasinya. Lumayan lama, mungkin 20 menit. Penjelasan tanpa teks dan tanpa melihat disertasi (Julia sendiri tidak membawa disertasi dalam sidang). Kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Sidang ini bukanlah “menguji” mahasiswa, tapi memberikan saran supaya disertasinya lebih baik. Saran termasuk referensi tambahan, cara analisis, prospek ke depan terkait dengan bidang tulisan si mahasiswa, termasuk kemungkinan penerbitan karya itu menjadi buku. Kalau saya lihat, suasananya adalah suasana “ngobrol serius di warung kopi,” bukan seperti sebuah sidang akhir di Universitas.

Setelah dua jam, sidang selesai. Kami dipersilahkan keluar sebentar. Di luar kami mengucapkan selamat kepada Julia karena ia bisa menyampaikan isi tulisannya dengan lancar dan bisa mejawab beberapa pertanyaan penguji juga dengan lancar. Hanya beberapa menit, kami dipersilahkan masuk kembali dan sidang dilanjutkan. Julia dan ketiga penguji berdiri berhadapan. Penguji mengatakan kalau sidang sudah selesai, dan Julia lulus dengan predikat tertentu. Selesai, para penguji duduk kembali dan menandatangani semua dokumen administrasi, termasuk dokumen yang mengatakan bahwa sidang sudah selesai. Artinya, setelah sidang itu, Julia tidak perlu lagi berhadapan dengan penguji untuk meminta tanda tangan mereka. Kami keluar dan kembali ke ruang Ph.D, semua, termasuk tiga orang penguji.

Di sana, kami minum-minum, sampagne, teh, coca-cola, makan gorengan dan beberapa potong roti. Tidak ada perbedaan strata makanan antara mahasiswa, tamu dan tiga orang professor yang barusan menguji disertasi. Seperti halnya tamu, mereka juga menuangkan air sendiri ke dalam gelas plastik sekali pakai yang disiapkan Julia, mengambil sendiri maknan di atas meja, makan sambil berdiri dan bercerita dengan rekan yang lain. Di sana ada ibu kandung Julia, juga bapak dan ibu mertuanya, profesor pembimbing dan tiga orang proffesor yang barusan menguji tadi. Selebihnya adalah keluarga dekat Julai dan beberapa temannya. Suasana sangat santai.

Di sela-sela pesta kecil itu pikiran saya terbang ke kampus kecil Darussalam-Banda Aceh di mana saya mengajar. Saya melihat wajah kerut mahasiswa S1 yang kesusahan menyedikan buah-buahan mahal atau makan siang nasi kotak untuk dosen pengujinya. Saya melihat wajah sangar dosen yang merasa paling paham atas hasil kerja mahasiswa S1 yang padahal saat kuliah ia sendiri jarang masuk mengajar mereka. Saya melihat pembimbing yang berlepas tangan atas mahasiswa bimbingannya yang sedang “diserang” oleh penguji dan merasa seolah semua kata yang tercetak dalam skripsi itu adalah hasil kerja si mahasiswa dan si mahasiswa bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil kerja itu. Saya melihat semua mereka berada di ruang khusus dengan spanduk khusus dan pakaian khusus yang terkadang membuat mereka kepanasan dan sulit bernafas. Itu suasana S1. Bagaimana kalau S3?

Yah… begitulah. Kita mengatakan pemilik qanaah, tapi kita berlaku boros. Sebaliknya kita mengatakan orang materialistis, padahal ternyata dalam banyak hal mereka mempraktekkan hidup sederhana.



13 January 2012

Yang Unik di Awal Tahun

Kalau ada pepatah mengatakan gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, itu ada benarnya. Gara-gara salah pencet sekali kacab balau tampilan semua blog. Inilah yang terjadi pada blog ini. Kisanya, saya mendownload sebuah APP Picasa di hp dan melakukan registrasi. Setelah selesai, saya lihat banyak foto masuk ke hp. Saya merasa sangat terganggu karena maksud semula mendaftar ke Picasa hanya untuk mberbagi foto baru yang saya peroleh. Karena merasa terganggu saya menghapusnya. Saya tidak menyangka kalau semua foto saya di blog terkait dengan Picasa. Sehingga begitu foto saya hapus, semua foto di blog juga terhapus. Kalau anda menemukan foto yang berwarna hitam dengan tanda seru di tengahnya, itu adalah foto yang terhapus karena kejadian ini.
Tapi tidak menarik bciara kegagapan teknologi. Saya yakin semua orang pernah melakukannya. Jauh lebih menarik bicara yang aneh-aneh di tahun yang belum berumur sebulan ini.

Keanehan pertama tentu saja kasus sandal jepit yang berakhir di pengadilan. Seorang remaja dituduh mencuri sandal jepit, diajukan ke pengadilan, divonis bersaah. Betapa lucu negeri ini. Hampir tidak ada manusia normal akan percaya dengan kejadian ini. Ini jauh lebih aneh dibandingkan dengan -kalau ada- seekor kucing yang bertanduk. Sungguh saya tidak percaya kalau kejadian ini benar-benar terjadi di dunia.

Keanehan kedua hiruk pikuk pilkada di Aceh. Ada pihak yang dulu merasa sangat kuat dan mengatakan tidak mau ikut pilkada kalau usulan mereka tidak dikabulkan. Lalu saat mereka tidak dipedulikan mereka ngambek dan meminta dibuka ruang untuk ikut meskipun batasnya sudah selesai. Anehnya, pemerintah yang seharusnya setia pada undang-undang malah mendukung kelompok ini dan meminta penyelenggara menunda pilkada. Lebih aneh lagi pemerintah pusat yang meminta penundaan pilkada ini adalah kementerian dalam negeri yang notabenenya adalah pembina politik di daerah. Seolah mereka baru kemarin mendengar kabar ada kisruh pilkada di Aceh.

Keanehan ketiga tidak lain tentu saja kekanak-kanakan anggota DPR-RI. Mungkin akan sangat baik kalau dari gedung terhormat itu ada sebuah chanel televisi yang menyiarkan segala kejadian di sana secara langsung. Untuk menjaga "kehormatan" anggota dewan, pelakunya bisa disamarkan dengan diubah bentuk jadi manusia kartun. Ceritanya sudah sangat menghibur, dialognya lucu dan kekanak-kanakan. Sudah cukup syarat untuk menjadi aktor di televisi. Anak-anak pasti akan tertawa terbahak-bahak menyaksikan tingkah polah anggota dewan di gedung itu.

Keanehan keempat adalah kenapa aku menulis mengenai keanehan malam ini? Ini sungguh aneh. Ya sudahlah, sekarang sudah jam setengah enam malam. Udara sangat dingin. Aku harus pulang ke rumah.

12 December 2011

Kreasi -sesat- Pasta

Salah satu tantangan yg tidah kalah besar dalam mengarungi hidup di negeri orang adalah makanan. meskipun pada awal kedatanganku di milan tidak masalah, namun lama kelamaan rindu masakan istri di Aceh akhirnya datang juga. Terbayang kuah leumak, asam keu eung, asam udeung, dll. Tapi apa boleh buat? andai SMS bisa juga dipakai untuk mengirim masakan, mungkin masalah ini tidak akan muncul.

Sebenarnya saya bisa memasak beberapa masakan Aceh. Hanya saja di sini hampir tidak ada bumbu yg bisa dipakai buat memasak makanan sperti di kampung, seperti buah belimbing, asam sunti, asam kuyuen, dll.

Jadi terpaksa berfikir bagaimana menyesuikan masakan italia dengan masakan aceh. Salah satu cara negosiasinya adalah memasak pasta italia dengan cara Aceh. hasilnya seperti gambar di atas. rasanya juga maknyus... seperti mie Aceh.


Published with Blogger-droid v2.0.1

28 June 2011

Sehari Bersama Keluarga Italia

Saya beruntung, dalam sebuah kunjungan ke Milan beberapa waktu yang lalu, saya bisa tinggal dengan sebuah keluarga asli Italia. Awalnya, saya diperkenalkan oleh seorang teman kepada seorang perempuan yang menurut saya hampir sebaya saya juga, namanya Amalia. Ia tinggal di Pavia, sebuah kota yang tidak jauh dari Milan. Ia mengundang saya ke kotanya untuk melihat kota lama peninggalan Romawi kuno. Dan pada satu hari minggu, saya memenuhi undangannya mengunjungi Pavia. Hanya 30 menit dari Milan dengan kereta api.

Sebelum mampir ke rumahnya, saya diajak makan siang di sebuah desa pinggiran, tidak jauh dari Pavia. Perjalan ke sana butuh waktu 30 menit. Namun karena ini perjalanan pertama saya ke Eropa, saya merasa semua indah. Pohon-pohon yang masih kering, lahan gandum yang siap tanam, dan pegunungan di kejauhan yang nampak ditutup salju. Sungguh memikat hati. Apalagi Amalia selalu menjelaskan tentang semua tempat yang kami lewati.

Rumah yang kami tuju adalah sebuah bangunan kecil namun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ia ada di tengah ladang gandum yang maha luas. Rumah itu nampak seperti tidak terurus. Di depannya tumbuh rumput hijau yang memanjang dan tidak dirapikan. Ada sampah dedauanan di mana-mana. Bebeberapa pohon yang tumbuh di depan rumah juga seperti tidak dirapikan. Namun kondisi ini menunjukkan sebuah suasana pedesaan yang sangat khas.

Si empunya rumah adalah keluarga muda yang punya tiga orang anak, dua perempuan dan yang bungsu laki-laki, masih balita. Clara, sanga istri mengaku tidak kuliah. Setelah tamat SMU ia menikah dan mengurus anaknya. Karenanya, ia bekerja sebagai desainer sekaligus penjahit di rumahnya. Semula saya kurang yakin, sebab dalam benak saya, kalau ia desainer dan penjahit, pasti ia butuh tenaga kerja. Sementara itu tidak terlihat di rumahnya. Setelah saya tanya, ternyata ia mendesain sendiri dan menjahit sendiri baju yang akan dijual. Ia mengaku memilih jenis kain yang bagus, membuatnya dengan bagus pula sehingga bisa dijual mahal. Baju hasil desainnya dijual di pusat kota Milan.

Si suami, Fabio, adalah laki-laki muda yang tinggi. Ia mengaku seorang petani. Ia pernah bekerja di Inggris 9 bulan sebagai pelayan restoran. Karenanya ia bisa bahasa Inggris, meskipun sudah tidak lancar lagi karena sudah lama. Namun kemampuan bahasa ini membuat saya merasa nyaman berada di sana. Apalagi selama ada saya, mereka tidak bicara bahasa Italia, melainkan bahasa Inggris.

Fabio ahli masak. Dialah yang memasak makan siang untuk kami. Ia mengatakan kalau ia memasak sesuatu yang berbeda kepada saya. Katanya” “Amalia bilang kalau kamu seornag muslim. Kami hanya tahu kalau muslim tidak boleh makan babi. Saya masak pasta dengan labu untuk kamu. Saya masakkan dalam panci masak air, supaya tidak ada bekas babi.” Sungguh saya terharu. Grazie Fabio. Mereka menghargai keimanan saya dengan caranya sendiri.

Namun ada yang mengesakan saya. Anak perempuan Clara yang berusia tujuh tahun digigit anjing saat ia sedang bermain hingga berdarah. Ia tidak menjerit, tidak menangis. Ia datang kepada ibunya dan mengatakan kalau ia digigit anjing. Karena Clara sedang membereskan piring di meja, ia meminta kakaknya membersihkan luka si adik dengnan tissue. Setelah darah dibersihkan, mereka kembali bermain, termasuk anjing yang barusan menggigitnya.

Menjelang sore kami kembali ke Pavia, menuju rumah Amalia. Saya diperkenalkan dengan suami Amalia. Ia mengaku pernah pergi ke Bali lima tahun yang lalu. Dan masih bisa mengucapkan “Apa Kabar” denga nada dan intonasi khas Italia. Ia seorang punk, namun juga seorang professor sejarah Eropa Klasik yang mengajar di sebuah Universitas di Bologna.

bersambung…..

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...