Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts

18 July 2011

Pak Roosman; Mengekspor Kerajinan Tangan ke Mancanegara

Saya tidak tamat SD. Saudara saya banyak, bapak saya miskin, tidak sanggup menyekolahkan saya,” demikian pengakuan lelaki paruh baya ini. Karena itu sejak kecil ia terdidik menjadi seorang yang bekerja keras, selain untuk membantu keluarga, ia juga mau menyekolahkan adik-adiknya.

Sejak remaja ia sudah bekerja di sebuah home industri kerajinan kulit di desanya, desa Manding, Bantul, Yogyakarta. Tidak disangka, pekerjaan inilah yang mengantarkannya menjadi produser berbagai produk kerajinan kulit bertaraf Internasional yang diekspor ke mancanegara.

Namanya Pak Roosman. Saat saya datang ke tempatnya, ia besama istri dan lima karyawan sedang membuat beberapa dompet pesanan pelanggan. “Semua kerajinan kulit usaha kami dibuat manual dengan tangan, dipotong manual, dijahit juga dengan tangan, tidak pakai mesin,” kata lelaki dua putra ini.

Hal ini disebabkan permintaan pasar luar negeri yang menginginkan semua proses pembuatan kerajinan itu harus dengan tangan. “Jadi benar-benar murni kerajinan tangan,” katanya sedikit berpromosi. Dan ia konsisten dengan cara ini agar kualitas kerajinan buatannya benar-benar memiliki standar yang layak untuk pasar luar negeri.

Pak Roosman sudah punya pengalaman panjang dengan usaha kerajinan kulit. Ia memulainya dengan menjadi karyawan pada seorang warga Manding yang sekarang sudah meninggal dunia. “Beliau adalah pelopor kerajinan kulit kampung Manding” katanya. Sebagai karyawan ia bekerja di sana selama 20 tahun. Setelah majikannya meninggal dunia, ia mendirikan usaha sendiri, dan kini sudah berjalan selama 15 tahun.

Selama 15 tahun ini, ia sudah memiliki 43 karyawan. Setiap karyawan mendapatkan upah rata-rata Rp. 4 juta perminggu. Hal ini terkait dengan jumlah produksi si karyawan. Jumlah itu tidak sepenuhnya untuk dia, sebab si karyawan terkadang membawa pulang bahan-bahan yang siap dibuat lalu dikerjakan di rumah bersama pekerja lain, keluarganya atau tetangganya. Ia jua memiliki tiga sentra usaha, satu toko show room, satu show room dan produksi, dan satu tempat khusus produksi.

Bahan baku pembuatan kerajinan kulit diperolehnya dari Semarang. Baik kulit ular, sapi, domba, ikan pari, buaya, biawak dan kulit kambing. “Di Semarang ada kampung yang memproduksi kulit siap pakai. Jadi bukan saya sediakan sendiri,” katanya ketika saya tanya tentang asal kulit yang dipakai sebagai bahan dasar pembuatan tas. Demikian juga beberapa bahan lain untuk membuat tas, seperti batik, kayu, karet, dan lainnya, semua dibeli dari unit produksi yang lain.

Sekarang ini Pak Roosman memproduksi segala macam bentuk kerajinan dari kulit, seperti berbagai macam tas, dompet, sepatu/sandal, jaket kulit, kursi, tali pinggang, dan lainnya. Ia juga menerima pesanan khusus dari pelanggan. Banyak pelanggan yang datang ke sana dengan membawa foto desain bentuk yang ia inginkan dan meminta Pak Roosman membikinkannya. Pun demikian, ia juga memproduksi beberapa kerajinan dari bahan non kulit, namun ini sekedar untuk memenuhi permintaan pasar.

Hasil kerajinan kulit Pak Roosman sudah 13 tahun belakangan ini diekspor ke Korea dan Jepang. Ke Jepang ia menjual 700 buah tas per tiga bulan. Bahkan setelah gempa Maret lalu, ia mendapatkan pesanan dua kali lipat dari biasa. Sementara untuk Korea ia menjual berapapun yang ia sanggup buat, setiap enam bulan sekali. “Mereka bayar cash, tidak ada utang-utang,” kata Pak Roosman tentang mitra usahanya. Menurut Pak Roosman, pengusaha tersebut datang langsung ke Jogja dan mengunjungi tempat produksinya.

Usaha Pak Roosman bukan tanpa hambatan. Pada masa krisis modeter tahun 90-an dulu permintaan menurun dan harga bahan baku sangat mahal. Banyak teman-temannya di Desa manding yang tutup usaha. Demikian halnya saat gempa besar melanda Bantul tahun 2006. Rumahnya hancur dan semua barang didalamnya tidak bisa digunakan lagi. Namun Pak Roosman tidak berputus asa, ia tetap merintis usahanya sehingga normal kembali seperti sekarang.

Yang menarik adalah, beberapa merek terkenal dari luar negeri dibuat oleh Pak Roosman. “Masalah merek itu gampang, saya bisa bikin juga,” katannya. Ia mengaku banyak pengusaha yang datang ke tempatnya untuk memesan tas dengan merek tertentu dalam jumlah banyak. Dan Pak Roosman membuatnya. “Kalau ada yang bilang ia memakai tas made in Korea, Jepang, Italia, atau dari manapun, itu bisa jadi benar, namun bisa jadi itu made in Roosman di desa Manding,” katanya sambil tertawa.

Pak Roosman adalah potret pekerja keras, tekun, pantang menyerah, berwawasan global, dan memberdayakan. Pengusaha Indonesia harus punya visi seperti Pak Roosman, selain bekerja untuk diri sendiri, juga meberdayakan orang lain. “Hidup kita harus saling membantu,” kata Pak Roosman mengakhiri perbincangan kami.

So,

Kalau anda pergi ke pesta
Jangan lupa memakai anting
Kalau anda pergi ke Jogja
jangan lupa mampir ke Manding

16 July 2011

Mbah Mul: Dukun Spesialis Pijat Bayi yang Direkom Dokter Anak

Seorang bayi tanpa pakaian telungkup di pangkuannya. Bayi itu nampaknya masih berusia empat bulan. Dua tangannya memegang pundak si bayi sambil memijat-mijat pelan. Sedikit demi sedikit turun ke punggung dan ke pantat. Kemudian ia memegang kedua belah kaki bayi, kedua tangannya, dan kepala. Dalam waktu 10-15 menit ia mengatakan dengan senyuman: “Sudah”. Lalu sepasang suami istri mengambil bayi itu dan mengenakan pakaiannya kembali.

Dia seorang nenek tua. Perawakannya kecil, kurus, kulitnya kehitaman dan sudah berkerut. Matanya dalam dan jauh dari sinar yang berbinar. Memang, ia sudah layak dengan perawakan itu. Usianya kini sudah 95 tahun. Ia lahir awal abad yang lalu, bersamaan dengan puncak kekuasaan Belanda di Jawa. Masyarakat memanggilnya Mbah Mul. Di adalah dukun “spesialis” pijat bayi di Yogyakarta.

Saya tahu tentang Mbah Mul saat membawa anak saya berobat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Di sana saya jumpa dengan seorang polisi yang juga membawa anaknya berobat. Kami saling menceritakan anak masing-masing. Sampai ia mengatakan kalau dulu bayinya sering dibawa kepada seorang dukun “spesialis bayi” untuk dipijat. Menurut sang polisi, dengan dipijat bayi kita akan lebih sehat. Bukan hanya demam, batuk, pilek, penyakit yang lain juga akan sembuh. Saya tertarik dan menanyakan alamat Mbah Mul.

Quota pijat dengan Mbah Mul hanya 15 orang perhari. “Dulu sampai 100 orang. Sekarang karena usianya sudah sepuh, ia tidak sanggup lagi memijat banyak orang”, kata seorang orang tua pasien. Nomor antrian harus diambil jam tiga sore hari sebelumnya. Banyak yang datang sebelum jam tiga, bahkan ada yang mulai antri sejak jam satu siang. Kalau yang antri sudah ada 15 orang, maka yang datang belakangan otomatis tidak mendapatkan nomor, meskipun “loket” pengambilan nomor baru dibuka jam tiga sore.

Pada hari pertama membawa anak kepada Mbah Mul, saya berjumpa dengan beragam macam orang tua dengan keluhan yang bergam pula. Sebagian memang membawa anaknya untuk pijat biasa. Namun ternyata banyak yang membawa anak ke sana karena berbagai penyakit. Seorang bapak paruh baya mambawa putra bungsunya yang sudah berusia empat tahun namun belum bisa berjalan. “Saya sudah bawa sampai ke Singapura, tapi tidak bisa sembuh. Alhamdulillah sejat dipijat Mbah Mul, kaki anak saya sudah mulai bertenaga,” katanya. Seorang ibu muda mengaku anak perempuannya tidak bisa bicara padahal usianya sudah tiga tahun. Dan setelah dipijat Mbah Mul sekarang ia sudah mengeluarkan suara.

Tidak hanya itu, sepuluhan orang yang datang memijat anak pada hari itu memiliki kisah yang berbeda. Seorang bapak menceritakan kalau anaknya tidak bisa bicara karena kebanyakan minum obat. Sejak kecil anaknya terus sakit-sakitan dan dokter terus memberinya obat. Dokter tidak bisa mengobati anaknya untuk bisa bicara. Setelah dibawa kepada Mbah Mul, beliau mengatakan kalau si anak sudah diracuni oleh obat. Jadi Mbah Mul akan mengeluarkan sisa-sisa obat yang masih ada dalam tubuh si anak yang sudah menumpuk agar ia bisa bicara. Dan menurut orang tersebut, sekarang anaknya sudah bisa mengucapkan banyak kata.

Saya menemukan beragam kasus yang lain setelah beberapa kali memabwa anak saya kepada si Mbah. Secara pribadi saya sendiri juga merasakan anak saya lebih sehat setelah dipijat sama Mbah Mul. Antara lain tendangan kakinya sangat kuat, demikian juga genggaman jarinya. Banyak yang menyangka anak saya sudah berumur 5 atau 6 bulan. Sebab ia nampak lebih besar dari bayi seusianya. Apakah karena pijatan Mbah Mul? Wallahu’a'lam. Namun saya melihat anak saya tidur lebih nyenyak setelah dipijat, lebih ceria, lebih bertenaga. Dan sekarang saya membawanya kepada Mbah Mul setiap 10 hari atau dua minggu sekali.

Kembali kepada Mbah Mul. Apa benar dokter anak merekomendasikan Mbah Mul? Saya yakin tidak semuanya. Namun saya berjumpa dengan seorang laki-laki yang mengaku abangnya adalah dokter anak di Yogyakarta. Anaknya terserang ….mmm… saya tidak tahu namanya, seorang bayi yang terjadi pembengkakan di kepala hingga kepalanya membesar. Si bapak stress berat, sebab anak pertamanya langsung terkena penyakit berat seperti itu. Tidak ada jalan lain kecuali dilakukan bedah kepala dan dipasang semacam selang untuk menyambung urat yang putus atau menyempit di dalam kepala. Sang kakak mengatakan sebaiknya pergi ke Mbah Mul. Dan ketika sampai kepada Mbah Mul, ternyata itu bukan kasus pertama yang ditanganinya. Sebelumnya sudah ada beberapa orang yang memiliki cerita yang sama. Dan kini, si anak sudah berusia 3,5 tahun. Ia nampak sehat dan gembira. Tidak nampak ada tanda-tanda ia menderita penyakit berat semasa bayi.

Sihir? Jampi-jampi? Sama sekali bukan. Itu sebuah keterampilan yang dipraktekkan Si Mbah sejak ia Muda. Pada masa mudanya dulu, ia merupakan tukang pijat Sultan Yogya. Bahkan sepuluh tahun yang lalu, ia masih memijat orang dewasa. Terutama perempuan hamil dan menyusui. Namun karena sekarang usianya sudah sangat tua, ia hanya menerima memijat bayi. Dan sepanjang sejarah hidupnya, ia sudah memijat ribuan bayi. Dari bayi orang kaya hingga orang miskin. Ia tidak menentukan tarif. Cukup memberikan seiklasnya. Ia tidak menjual obat. Sebab pijat adalah obat satu-satunya. Secara pribadi, saya puas membawa bayi kepadanya.

Pageviews

Contributors

Search This Blog

Sehat Ihsan 2007-2015. Powered by Blogger.

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidu...