"Aku seorang sufi"
"Apa kamu seorang muslim?"
"Bukan, tapi aku suka sufi, dan aku bermujahadah dan riadhah"
Begitulah percakapan singkatku dengan teman ini. Ia orang Veneto, provinsi yang beribukota Venezia. Minggu lalu ia menyewa kamar satu apartemen denganku. Pada malam pertama ia menginap di sana kami berbincang banyak hal, termasuk masalah sufisme. Di sanalah aku tahu kalau ia menyukai sufi.
Semula aku tidak percaya. Bagaimana mungkin di kota Milan yang materialitis ini ada seorang laki-laki Italia mengaku pengagum Sufi? Bagaimana mungkin dalam budaya hidup yang nafsi-nafsi ini ada seorang pria yang menyukai spiritualitas? Lebih aneh lagi, bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan diri sufi namun ia bukan seorang Muslim? Tapi aku tidak bisa menanyakan ini padanya. Aku justru ingin tahu lebih lanjut apa yang ia pikirkan tentang sufi.
29 March 2012
28 March 2012
Berkunjung ke Museum Castello Sforzesco
Salah satu objek wisata paling banyak dikunjungi di Milan adalah Museum. Seperti di bebrbagai negara Eropa lainnya, Museum bukanlah sebuah "gudang" untuk menyimpan benda-benda unik, namun etalasa ilmu bagi manusia. Dari museum orang banyak mengenal seperti apa masa lalu mereka, seperti apa masa kini. Tidak heran kalau "berkunjung ke museum" sering menjadi liburan akhir pekan bagi keluarga di Eropa. Jangan bandingkan dengan museum di negeri kita.
Hari minggu lalu aku berkunjung ke museum di Castello Sforzesco. Hari itu semua museum pemerintah di Milan gratis. Jika masuk pada hari yang lain, harus bayar. Aku tidak tahu berapa, namun biasanya museum tidak kurang dari lima euro. Hari ini, mumpung gratis, aku ingin memanfaatkannya. Sudah lama aku ingin melihat isi dalam museum itu dan ini adalah kesempatan yang paling bagus. Aku bisa masuk ke semua museum (14 buah museum) dan menikmati semua pameran mereka. Di pintu masuk aku diberikan selembar tiket gratis. Tiket ini perlu untuk masuk ke berbagai museum yang ada di dalam Castello ini. Aku memegang tiket itu dan memulai tour museum gratis ini.
Hari minggu lalu aku berkunjung ke museum di Castello Sforzesco. Hari itu semua museum pemerintah di Milan gratis. Jika masuk pada hari yang lain, harus bayar. Aku tidak tahu berapa, namun biasanya museum tidak kurang dari lima euro. Hari ini, mumpung gratis, aku ingin memanfaatkannya. Sudah lama aku ingin melihat isi dalam museum itu dan ini adalah kesempatan yang paling bagus. Aku bisa masuk ke semua museum (14 buah museum) dan menikmati semua pameran mereka. Di pintu masuk aku diberikan selembar tiket gratis. Tiket ini perlu untuk masuk ke berbagai museum yang ada di dalam Castello ini. Aku memegang tiket itu dan memulai tour museum gratis ini.
26 March 2012
Stramilano; Benvenuto Primavera!!
Selamat datang musim semi! kira-kira itulah ungkapan yang tersirat dalam even Stramilano yang diadakan di Milan setiap tahun. Untuk tahun ini Stramilano diadakan kemarin, 25 Maret 2012.
Dari sejarahnya, Stramilano adalah pesta masyarakat Milan merayakan berakhirnya musim dingin dan menyambut kedatangan musim semi.Tradisi ini terus dipelihara hingga sekarang. Pasti sudah banyak yang berubah seiring dengan perubahan zaman. Namun pada intinya mereka tetap memelihara sejarah dan budaya nenek monyang mereka agar erus hidup dan lestari.
Mulai tanggal 21 Maret yang lalu, musim memang sudah berganti. Udara dingin menusuk tulang yang terjadi selama hampir lima bulan, kini sudah mulai berlalu. Bahkan seminggu terakhir, kita bisa keluar rumah tanpa mengenakan jaket. Udara lumayan panas, 20 derajat. Terasa sangat panas karena baru saja selesai masa-masa dingin membeku dalam musim dingin.
Ini saatnya berpesta. Musim semi sudah tiba!
Stramilano adalah pesta menyambut musim semi. Ada tiga hal penting terkait dengan acara ini:
Pertama, maraton masal.
Maraton diikuti oleh atlet dan oleh keluarga. Untuk atlet jarak maratonnya 10 KM. "Atlet" di sini bukanlah atlet profesional dalam dunia oleh raga, namun masyarakat biasa yang juga merasa sanggup untuk mengikutinya. Tahun lalu saya dengar maraton menempuh jarah 20 km. Saya tidak tahu kenapa tahun ini dikurangi setengahnya. Maraton masal ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Milan, tapi juga oleh orang asing. Sangat banyak turis yang datang ke Milan untuk mengikuti maraton masal ini.
Maraton juga diikuti oleh keluarga. Khusun untuk keluarga, maraton menempuh jarak lima KM. Dimulai dari Piazza Duomo, diakhiri di Castello Sforzesco. Ada ribuan keluarga yang tumpah ruah ke lokasi acara saat maraton akan dimulai. Mereka membawa seluruh keluarganya, anak-anak dan bahkan anjing peliharaan. Anak-anak yang belum bisa berjalan diletakkan dalam kereta bayi. Mereka semua mengenakan pakaian khusus yang sudah disediakan panitia dan menenteng sebiji balon. Sehingga dari jauh terlihat sebuah gerakan balon yang berwarna merah. Tidak lupa, dalam maraton masal ini juga diikuti oleh difable, bahkan mereka diberikan tempat paling depan. Setengah perjalanan panitia menyediakan air dan makanan kecil untuk seluruh peserta.
Kedua, Musium dan kolam renang publik gratis.
Kalau hari biasa, untuk masuk ke museum dan kolam renang harus membei tiket. Namun dalam acara Stramilano semuanya gratis. Hanya saja, yang gratis adalah museum dan kolam renang yang dikelola oleh pemerintah. Jangan salah, di Milan kualitas dna fasilitas milik pemerintah juga sama dengan punya swasta. Bagi pendatang seperti saya, ini adalah kesempatan yang langka untuk mengunjungi museum-museum di Milan. Sayangnya waktu teralu pendek, saya tidak mungkin mengunjungi museum yang jumlahnya lebih 100 buah di Milan.
Ketiga, tidak ada mobil dalam kota
Sejam jam delapan apgi hingga jam enam petang, tidak ada kenderaan bermotor di jalan raya. Yang ada hanya kenderaan publik, termasuk taksi. Jadi jalan-jalan di Milan sepanjang hari kemarin sepi dari kenderaan. Namun karena transportasi publiknya yang bagus, semua mobilisasi bisa dilakukan dengan baik. Tidak ada istilah penumpukan orang yang tidak mendapatkan kenderaan. Semua bisa melakukan perjalanan ke seluruh kota dengan mudah, seperti hari yang lain. Setelah acara maraton di pagi hari, sore hari jalan-jalan dipenuhi dengan sepeda. Masyarakat Milan menikmati Stramilano sebagai hari bersepeda.
***
Ada hal penting yang menurut saya penting dalam acara Stramilano kemarin. Yaitu, bagaimana masyarakat Milan yang notabenenya adalah masyarakat kosmo masih menjaga budaya nenek menyang mereka. Bukan hanya kali ini, ada banyak momen di mana mereka membuat even yang terkait dengan budaya lama. Katakan saja acara "Carnevale ambrosiano" yang diadakan bulan Februari. Itu juga sebuah perhelatan besar yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas "penjagaan kota" yang dilakukan oleh Dewa Ambrosio. Dalam kontek perkembangan modern, mereka masih melakukan ini. Hasilnya apa? Ada ratusan ribu turis yang datang hanya untuk melihat perayaan ini.
Syukurnya ada banyak kota di Indonesia melakukan perayaan khas seperti ini. Semoga ke depan semakin baik.
Dari sejarahnya, Stramilano adalah pesta masyarakat Milan merayakan berakhirnya musim dingin dan menyambut kedatangan musim semi.Tradisi ini terus dipelihara hingga sekarang. Pasti sudah banyak yang berubah seiring dengan perubahan zaman. Namun pada intinya mereka tetap memelihara sejarah dan budaya nenek monyang mereka agar erus hidup dan lestari.
Mulai tanggal 21 Maret yang lalu, musim memang sudah berganti. Udara dingin menusuk tulang yang terjadi selama hampir lima bulan, kini sudah mulai berlalu. Bahkan seminggu terakhir, kita bisa keluar rumah tanpa mengenakan jaket. Udara lumayan panas, 20 derajat. Terasa sangat panas karena baru saja selesai masa-masa dingin membeku dalam musim dingin.
Ini saatnya berpesta. Musim semi sudah tiba!
Stramilano adalah pesta menyambut musim semi. Ada tiga hal penting terkait dengan acara ini:
Pertama, maraton masal.
Maraton diikuti oleh atlet dan oleh keluarga. Untuk atlet jarak maratonnya 10 KM. "Atlet" di sini bukanlah atlet profesional dalam dunia oleh raga, namun masyarakat biasa yang juga merasa sanggup untuk mengikutinya. Tahun lalu saya dengar maraton menempuh jarah 20 km. Saya tidak tahu kenapa tahun ini dikurangi setengahnya. Maraton masal ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Milan, tapi juga oleh orang asing. Sangat banyak turis yang datang ke Milan untuk mengikuti maraton masal ini.
Maraton juga diikuti oleh keluarga. Khusun untuk keluarga, maraton menempuh jarak lima KM. Dimulai dari Piazza Duomo, diakhiri di Castello Sforzesco. Ada ribuan keluarga yang tumpah ruah ke lokasi acara saat maraton akan dimulai. Mereka membawa seluruh keluarganya, anak-anak dan bahkan anjing peliharaan. Anak-anak yang belum bisa berjalan diletakkan dalam kereta bayi. Mereka semua mengenakan pakaian khusus yang sudah disediakan panitia dan menenteng sebiji balon. Sehingga dari jauh terlihat sebuah gerakan balon yang berwarna merah. Tidak lupa, dalam maraton masal ini juga diikuti oleh difable, bahkan mereka diberikan tempat paling depan. Setengah perjalanan panitia menyediakan air dan makanan kecil untuk seluruh peserta.
Kedua, Musium dan kolam renang publik gratis.
Kalau hari biasa, untuk masuk ke museum dan kolam renang harus membei tiket. Namun dalam acara Stramilano semuanya gratis. Hanya saja, yang gratis adalah museum dan kolam renang yang dikelola oleh pemerintah. Jangan salah, di Milan kualitas dna fasilitas milik pemerintah juga sama dengan punya swasta. Bagi pendatang seperti saya, ini adalah kesempatan yang langka untuk mengunjungi museum-museum di Milan. Sayangnya waktu teralu pendek, saya tidak mungkin mengunjungi museum yang jumlahnya lebih 100 buah di Milan.
Ketiga, tidak ada mobil dalam kota
Sejam jam delapan apgi hingga jam enam petang, tidak ada kenderaan bermotor di jalan raya. Yang ada hanya kenderaan publik, termasuk taksi. Jadi jalan-jalan di Milan sepanjang hari kemarin sepi dari kenderaan. Namun karena transportasi publiknya yang bagus, semua mobilisasi bisa dilakukan dengan baik. Tidak ada istilah penumpukan orang yang tidak mendapatkan kenderaan. Semua bisa melakukan perjalanan ke seluruh kota dengan mudah, seperti hari yang lain. Setelah acara maraton di pagi hari, sore hari jalan-jalan dipenuhi dengan sepeda. Masyarakat Milan menikmati Stramilano sebagai hari bersepeda.
***
Ada hal penting yang menurut saya penting dalam acara Stramilano kemarin. Yaitu, bagaimana masyarakat Milan yang notabenenya adalah masyarakat kosmo masih menjaga budaya nenek menyang mereka. Bukan hanya kali ini, ada banyak momen di mana mereka membuat even yang terkait dengan budaya lama. Katakan saja acara "Carnevale ambrosiano" yang diadakan bulan Februari. Itu juga sebuah perhelatan besar yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas "penjagaan kota" yang dilakukan oleh Dewa Ambrosio. Dalam kontek perkembangan modern, mereka masih melakukan ini. Hasilnya apa? Ada ratusan ribu turis yang datang hanya untuk melihat perayaan ini.
Syukurnya ada banyak kota di Indonesia melakukan perayaan khas seperti ini. Semoga ke depan semakin baik.
28 February 2012
Carnevale Ambrosiono: Pesta Rakyat di Milano
Secara tidak sengaja sabtu lalu saya datang ke Duomo. Saya terkejut saat melihat ada banyak orang di sana. "Banyak orang" sebenarnya biasa, namun hari sabtu yang lalu orang-orang mengenakan pakaian yang khas, pakaian tradisional, pakai topeng, pakaian super hero, mengecat muka dan lainnya. Anak-anak, remaja dan orang dewasa. Cina, India, Arab, Amerika Latin, Eropa, Afrika, sama saja. Semua berbaur jadi satu. Ada apa ini? Saya jadi penasaran.
Di depan Duomo saya melihat sebuah panggung bertuliskan: Carnevale Ambrosiano. Ternyata hari ini ada carnava ambrosiano. Saya tidak tahu pasti apa itu carnaval ambrosiano. Namun dari ngobrol dengan beberapa orang di sana disebutkan, karnaval ini adalah perta memperingati kedatangan dewa Abrojo atau Ambrosiano, seorang dewa yang melindungi kota Milan. Namun saat ini, pesta ini menjadi ajang bagi warga kota untuk saling berbagi dan membina silaturahim antar suku bangsa yang hidup di Milan.
Ada banyak hal yang menarik dari carnaval ini, diantaranya: pakaian yang dikenakan oleh peserta. Seperti karnaval agustusan di Indonesia, peserta carnaval ini juga mengenakan pakaian yang beraneka ragam. Namun karena yang mengikuti acara berasal dari suku bangsa yang berbeda jadi pakaiannya juga sangat beragam, sesuai dengan pakaian adat suku bangsa tersebut. Milan adalah kota kosmopolit. di sana hidup banyak orang dari berbagai bangsa dan berbagai suku di dunia. Kosmopolit dalam pakaian ini nampak jelas dalam acara carnaval kali ini.
Menarik juga melihat keterlibatan anak-anak. Dalam acara ini anak-anak benar-benar mendapatkan tempat bermain dan bertemu dengan sesama mereka. Semua anak-anak berada di bawah pengawasan orang tua mereka. Jadi tidak ada anak yang berkeliaran, atau menangis karena kehilangan orang tuanya. Kemanapun mereka pegi, orang tua mereka mengikuti. Bahkan orang tua mereka membantu si anak untuk bisa terus bermain.
Menarik juga melihat kekhasan permainannya. Pada acara carneval ini permaian yang utama adalah kertas warna-warni yang di potong kecil-kecil (ada banyak orang yang menjual kertas ini dalam bungkusan plastik), dan spray salju. Kertas-kertas ini menjadi permaian utama bagi anak-anak. mereka melemparkan kertas ke udara dan menunggu jatuh ke mukanya lagi. Atau mereka melemparkan kertas kepada teman-teman kecilnya, baik yang mereka kenal atau bertemu saat berjalan. Tidak ada yang marah, yang ada hanya aksi saling melemparkan kertas.
Spray salju juga dipakai untuk aksi saling semrot. Mungkin aksinya hampir sama dengan anak SMA yang baru lulus ujian akhir. Hanya saja, dalam carnaval ini aksinya "lebih gila" karena saling berbalas semprot. Namun tidak ada yang marah karena mereka nampaknya menikmati acara semprot-semprotan itu. Yang paling banyak melakukannya memang anak-anak dan remaja, namun banyak orang tua juga melakukan hal yang sama. Jadinya super heboh. Coba lihat rekaman yang saya upload di youtube berikut ini:
Tidak hanya pada siang hari, acara ini berlangsung hingga malam hari. Ada dua even menarik pada malam hari. pertama carbevale di populi, atau pesta rakyat. Dalam hal ini berbagai suku bangsa yang ada di Milan menunjukkan tarian dan nyanyian khas negara mereka. Namun karena hubungan masa lalu Italia lebih banyak dengan negara-negara di Amerika Latin, yang mendominasi pementasan ini juga dari Amarika Latin. Arab yang lumayan banyak di Milan juga menempatkan diri dalam pementasan ini. Sementara Cina dan Filipina yang ada di Milan nampaknya belum sampai pada taraf bisa tampil dalam acara ini. Jangan tanya Indonesia!
Ini salah satu pementasan dari Cuba:
Di depan Duomo saya melihat sebuah panggung bertuliskan: Carnevale Ambrosiano. Ternyata hari ini ada carnava ambrosiano. Saya tidak tahu pasti apa itu carnaval ambrosiano. Namun dari ngobrol dengan beberapa orang di sana disebutkan, karnaval ini adalah perta memperingati kedatangan dewa Abrojo atau Ambrosiano, seorang dewa yang melindungi kota Milan. Namun saat ini, pesta ini menjadi ajang bagi warga kota untuk saling berbagi dan membina silaturahim antar suku bangsa yang hidup di Milan.
Ada banyak hal yang menarik dari carnaval ini, diantaranya: pakaian yang dikenakan oleh peserta. Seperti karnaval agustusan di Indonesia, peserta carnaval ini juga mengenakan pakaian yang beraneka ragam. Namun karena yang mengikuti acara berasal dari suku bangsa yang berbeda jadi pakaiannya juga sangat beragam, sesuai dengan pakaian adat suku bangsa tersebut. Milan adalah kota kosmopolit. di sana hidup banyak orang dari berbagai bangsa dan berbagai suku di dunia. Kosmopolit dalam pakaian ini nampak jelas dalam acara carnaval kali ini.
Menarik juga melihat keterlibatan anak-anak. Dalam acara ini anak-anak benar-benar mendapatkan tempat bermain dan bertemu dengan sesama mereka. Semua anak-anak berada di bawah pengawasan orang tua mereka. Jadi tidak ada anak yang berkeliaran, atau menangis karena kehilangan orang tuanya. Kemanapun mereka pegi, orang tua mereka mengikuti. Bahkan orang tua mereka membantu si anak untuk bisa terus bermain.
Menarik juga melihat kekhasan permainannya. Pada acara carneval ini permaian yang utama adalah kertas warna-warni yang di potong kecil-kecil (ada banyak orang yang menjual kertas ini dalam bungkusan plastik), dan spray salju. Kertas-kertas ini menjadi permaian utama bagi anak-anak. mereka melemparkan kertas ke udara dan menunggu jatuh ke mukanya lagi. Atau mereka melemparkan kertas kepada teman-teman kecilnya, baik yang mereka kenal atau bertemu saat berjalan. Tidak ada yang marah, yang ada hanya aksi saling melemparkan kertas.
Spray salju juga dipakai untuk aksi saling semrot. Mungkin aksinya hampir sama dengan anak SMA yang baru lulus ujian akhir. Hanya saja, dalam carnaval ini aksinya "lebih gila" karena saling berbalas semprot. Namun tidak ada yang marah karena mereka nampaknya menikmati acara semprot-semprotan itu. Yang paling banyak melakukannya memang anak-anak dan remaja, namun banyak orang tua juga melakukan hal yang sama. Jadinya super heboh. Coba lihat rekaman yang saya upload di youtube berikut ini:
Tidak hanya pada siang hari, acara ini berlangsung hingga malam hari. Ada dua even menarik pada malam hari. pertama carbevale di populi, atau pesta rakyat. Dalam hal ini berbagai suku bangsa yang ada di Milan menunjukkan tarian dan nyanyian khas negara mereka. Namun karena hubungan masa lalu Italia lebih banyak dengan negara-negara di Amerika Latin, yang mendominasi pementasan ini juga dari Amarika Latin. Arab yang lumayan banyak di Milan juga menempatkan diri dalam pementasan ini. Sementara Cina dan Filipina yang ada di Milan nampaknya belum sampai pada taraf bisa tampil dalam acara ini. Jangan tanya Indonesia!
Ini salah satu pementasan dari Cuba:
Dan ini sebuah shalawat dari Arab/Mesir:
Acara malam ditutup dengan sebuah pementasan drama. Ada yang menarik dari pementasan ini, yaitu, pesertanya semua berjalan di atas kaki tambahan sehingga mereka menjadi sangat tinggi-tinggi. Dari semula hingga pementasan berakhir, semua berjalan di atas kaki tambahan itu. Jadi bukan hanya menarik penampilan drmanya, namun juga seolah kita sedang menonton sebuah akrobat. Saya terkesima dengan penampilan drama ini. Saya merekam sejak pertama hingga akhir yang seluruhnya hampir satu jam. Namun sayang sekali tidak bisa diupload ke youtube karena terlalu panjang. Berikut salah satu bagian dalam pementasan itu:
27 February 2012
Wajib Jurnal? Jurnal yang Bagaimana?
Meskipun sudah sedikit mereda, diskusi mengenai wajib menulis di jurnal yang digagas oleh Dikti masih menarik dibahas. Hal ini tidak terlepas dari efek berantai kebijakan ini. Dari semangat menulis, kualitas tulisan hingga kemungkinan menampung tulisan mahasiswa. Jadi baaimanapun keputusan Dikti akan berimplikasi pada banyak sistem di perguruan tinggi di Indonesia.
Paling umum ada dua -katakanlah- kubu yang terbentuk akibat keputusan tersebut. Mereka sama-sama berpijak pada satu keinginan yang mulia yaitu memajukan dunia akademik Indonesia. Hanya saja kelompok yang pro dengan surat Dikti merasa cara "pemaksaan" ala Dikti ini sudah pas karena mau tidak mau orang akan berfikir keras untuk menulis agar ia bisa lulus di sebuah jenjang pendidikan. Sementara kelompok kedua berfikir itu tidak logis sebab kita belum siap dengan fasilias dan sistim pengelolaan jurnal. Kebijakan mendadak seperti ini bukannya akan meningkatkan iklim akademik di perguruan tinggi, malah menjadi pendorong lahirnya tulisan asal-asalan.
Seorang teman saya pengurus sebuah jurnal bersyukur dengan munculnya surat Dikti ini. Ia berharap pemaksaan ala Dikti ini akan meningkatkan jumlah tulisan ilmiah yang akan masuk ke jurnal yang dikelolanya. Selama ini katana, ia sangat sulit mendapatkan tulisan sehingga jurnalnya sering terbit terlambat. Jangankan tulisan yang berbobot, tulisan dengan kualitas biasa saja hampir tidak mencukupi untuk sekali terbit
Dengan adanya surat dikti maka mau-tidak mau mahasiswa akan menulis dan mencari jurnal untuk memuat tulisan mereka. Dalam kondisi seperti ini pengelola jurnal mungkin akan kebanjiran tulisan. Bahkan kalau mau pasang tarif sekalipun akan tetap mendapatkan tulisan (sesuatu yang sulit untuk konteks penerbitan jurnal selama ini).
Menulis itu mudah?
Ada sebuah kecenderungan belakangan ini tentang dunia menulis di Indonesia. Beberapa orang menjadi(kan dirinya) sebagai motivator menulis. Prinsip mereka sama saja: menulis itu mudah. Mereka mengkampanyekan prinsip bahwa cara menulis adalah dengan mulai menulis. Beberapa diantaranya lebih spesifik lagi, misalnya bagaimana menulis di koran, menulis novel, menulis buku dalam seminggu, dan lain sebagainya.
Bahkan setelah keluarnya surat Dikti saya membaca beberapa artikel yang mengatakan menulis di jurnal itu mudah dan juga menyenangkan. Jadi tidak ada alasan untuk takut dengan peraturan tersebut. Sealiknya malah surat Dikti bisa menjadi pendorong bagi kita untuk terus berkarya. Perlu dicatat, yang menulis artikel tersebut adalah seorang editor penerbitan, bukan seorang akademisi di kampus.
Apa yang salah? Tidak ada! Semua orang punya hak mengemukakan pendapatnya, termasuk mengenai menulis. Bahkan siapa saja berhak mengemukakan pandangannya mengenai cara menulis, termasuk "cara menulis mudah di jurnal ilmiah". Hanya saja, apakah apa yang dikatakan tersebut bisa sesuai dengan kenyataan di lapangan? Mungkin aspek ini bisa menjadi celah kita berdiskusi.
Menulis vs Menulis di Jurnal
Saya sendiri memandang, ada perbedaan antara "menulis" dengan "menulis di jurnal. Saya membuat tulisan ini dengan meggunakan handphone sambil duduk berjemur (karena ini adalah hari kedua matahari bersinar terang) di balkon apartemen saya di Milan dan menikmati kopi espresso. Dengan ini, saya sudah "menulis". Apakah dengan cara yang sama saya bisa menulis sebuah artikel untuk jurnal ilmiah? Saya sendiri menjawab, tidak akan!
Menulis di jurnal adalah sebuah proses yang serius dan -sedikit- kerja keras. Tidak bisa instan atau tiba-tiba siap. Menulis jurnal adalah seuah abstraksi dari pandangan seorang penulis terhadap realitas dengan menggunakan kacamata keilmuan. Tulisan akan jadi "ilmiah" jika ia terkoneksi dengan teori tertentu dalam sebuah bidang ilmu. Sekali lagi, menurut saya, maaf, ini bukan hal mudah.
Oleh sebab itu tulisan di jurnal tidak bisa dibuat asal-asalan dan sambil lalu. Ambil sana copot sini kopas sana sini, plum! Jadilah sebuah tulisan. Apakah itu bisa disebut karya ilmiah? Kalau "iya" maka benar anggapan menulis di jurnal itu mudah. Namun bagi saya, tulisan di jurnal harus dimulai dengan mengidentifikas masalah, mengemukakan literatur atau debat singkat teoritis mengenai tulisan dimaksud, lalu kita menawarkan sesuatu yang berbeda atau cara berbeda dalam hal yang sama.
Tidak hanya di situ, tulisan di jurnal juga wajib mendapatkan pembacaan dan koreksi dari satu atau berapa orang lain yang dianggap paham dengan bidang ilmu yang dibahas dalam sebuah tulisan. Tidak bisa seperti saya menulis di blog ini, membuka template buat postingan baru, menulis, lalu tekan publish, selesai. Publikasi di jurnal membutuhkan sebuah proses yang jauh lebih lama dan panjang.
Kejar kuantitas atau tingkatkan kualitas
Andai tujuan publukasi di jurnal seperti yang ada dalam surat Dikti (untuk mengejar kuantitas publikasi yang jauh tertinggal dari Malaysia) maka cara Dikti memaksa publikasi kepada mahasiswa sudah sangat tepat. Mulai bulan agustus 2012 kita akan lihat lahirnya tulisan-tulisan "ilmiah" yang dipublikasikan melalui berbagai jurnal, termasuk "jurnal online".
Namun sebaliknya kalau tujuannya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui publikasi ilmiah maka ada banyak jalan lain yang harus dilakukan dan pemaksaan tidak termasuk diantaranya. Jalan itu antaa lain adalah meningkatkan kesadaran ilmiah di kalangan akademisi kampus, ya mahasiswa ya dosen. Tanpa kesadaran akademik, mampu memproduksi jutaan jurnal sekalipun SDM bukannya akan semakin baik tapi semakin hancur karena lahirnya tulisan asal-asalan dan jurnal hasil plagiasi.
Di sinilah, menurut saya, peran dosen di peguruan tinggi. Dosen seharusnya menjadi sebuah panutan bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Jika seorang dosen mengajarkan mahasiswa tentang menulis, maka ia harus bisa mencontohkan tulisannya sendiri. Bukan berarti tidak boleh mengambil contoh tulisan lain (yang dengan jujur diakui lebih baik) tapi menunjukkan tulisan sendiri akan melahirkan sebuah motivasi berbeda pada masiswa karena si dosen tidak "omdo" alias omong doang. Dengan mencontohkan tulisan sendiri si dosen juga bisa bercerita bagaimana tulisan itu diproses dari awal hingga selesai dan dipublikasi. Dengan cara ini publukasi di jurnal akan banyak dan juga bagus. Semoga.
Paling umum ada dua -katakanlah- kubu yang terbentuk akibat keputusan tersebut. Mereka sama-sama berpijak pada satu keinginan yang mulia yaitu memajukan dunia akademik Indonesia. Hanya saja kelompok yang pro dengan surat Dikti merasa cara "pemaksaan" ala Dikti ini sudah pas karena mau tidak mau orang akan berfikir keras untuk menulis agar ia bisa lulus di sebuah jenjang pendidikan. Sementara kelompok kedua berfikir itu tidak logis sebab kita belum siap dengan fasilias dan sistim pengelolaan jurnal. Kebijakan mendadak seperti ini bukannya akan meningkatkan iklim akademik di perguruan tinggi, malah menjadi pendorong lahirnya tulisan asal-asalan.
Seorang teman saya pengurus sebuah jurnal bersyukur dengan munculnya surat Dikti ini. Ia berharap pemaksaan ala Dikti ini akan meningkatkan jumlah tulisan ilmiah yang akan masuk ke jurnal yang dikelolanya. Selama ini katana, ia sangat sulit mendapatkan tulisan sehingga jurnalnya sering terbit terlambat. Jangankan tulisan yang berbobot, tulisan dengan kualitas biasa saja hampir tidak mencukupi untuk sekali terbit
Dengan adanya surat dikti maka mau-tidak mau mahasiswa akan menulis dan mencari jurnal untuk memuat tulisan mereka. Dalam kondisi seperti ini pengelola jurnal mungkin akan kebanjiran tulisan. Bahkan kalau mau pasang tarif sekalipun akan tetap mendapatkan tulisan (sesuatu yang sulit untuk konteks penerbitan jurnal selama ini).
Menulis itu mudah?
Ada sebuah kecenderungan belakangan ini tentang dunia menulis di Indonesia. Beberapa orang menjadi(kan dirinya) sebagai motivator menulis. Prinsip mereka sama saja: menulis itu mudah. Mereka mengkampanyekan prinsip bahwa cara menulis adalah dengan mulai menulis. Beberapa diantaranya lebih spesifik lagi, misalnya bagaimana menulis di koran, menulis novel, menulis buku dalam seminggu, dan lain sebagainya.
Bahkan setelah keluarnya surat Dikti saya membaca beberapa artikel yang mengatakan menulis di jurnal itu mudah dan juga menyenangkan. Jadi tidak ada alasan untuk takut dengan peraturan tersebut. Sealiknya malah surat Dikti bisa menjadi pendorong bagi kita untuk terus berkarya. Perlu dicatat, yang menulis artikel tersebut adalah seorang editor penerbitan, bukan seorang akademisi di kampus.
Apa yang salah? Tidak ada! Semua orang punya hak mengemukakan pendapatnya, termasuk mengenai menulis. Bahkan siapa saja berhak mengemukakan pandangannya mengenai cara menulis, termasuk "cara menulis mudah di jurnal ilmiah". Hanya saja, apakah apa yang dikatakan tersebut bisa sesuai dengan kenyataan di lapangan? Mungkin aspek ini bisa menjadi celah kita berdiskusi.
Menulis vs Menulis di Jurnal
Saya sendiri memandang, ada perbedaan antara "menulis" dengan "menulis di jurnal. Saya membuat tulisan ini dengan meggunakan handphone sambil duduk berjemur (karena ini adalah hari kedua matahari bersinar terang) di balkon apartemen saya di Milan dan menikmati kopi espresso. Dengan ini, saya sudah "menulis". Apakah dengan cara yang sama saya bisa menulis sebuah artikel untuk jurnal ilmiah? Saya sendiri menjawab, tidak akan!
Menulis di jurnal adalah sebuah proses yang serius dan -sedikit- kerja keras. Tidak bisa instan atau tiba-tiba siap. Menulis jurnal adalah seuah abstraksi dari pandangan seorang penulis terhadap realitas dengan menggunakan kacamata keilmuan. Tulisan akan jadi "ilmiah" jika ia terkoneksi dengan teori tertentu dalam sebuah bidang ilmu. Sekali lagi, menurut saya, maaf, ini bukan hal mudah.
Oleh sebab itu tulisan di jurnal tidak bisa dibuat asal-asalan dan sambil lalu. Ambil sana copot sini kopas sana sini, plum! Jadilah sebuah tulisan. Apakah itu bisa disebut karya ilmiah? Kalau "iya" maka benar anggapan menulis di jurnal itu mudah. Namun bagi saya, tulisan di jurnal harus dimulai dengan mengidentifikas masalah, mengemukakan literatur atau debat singkat teoritis mengenai tulisan dimaksud, lalu kita menawarkan sesuatu yang berbeda atau cara berbeda dalam hal yang sama.
Tidak hanya di situ, tulisan di jurnal juga wajib mendapatkan pembacaan dan koreksi dari satu atau berapa orang lain yang dianggap paham dengan bidang ilmu yang dibahas dalam sebuah tulisan. Tidak bisa seperti saya menulis di blog ini, membuka template buat postingan baru, menulis, lalu tekan publish, selesai. Publikasi di jurnal membutuhkan sebuah proses yang jauh lebih lama dan panjang.
Kejar kuantitas atau tingkatkan kualitas
Andai tujuan publukasi di jurnal seperti yang ada dalam surat Dikti (untuk mengejar kuantitas publikasi yang jauh tertinggal dari Malaysia) maka cara Dikti memaksa publikasi kepada mahasiswa sudah sangat tepat. Mulai bulan agustus 2012 kita akan lihat lahirnya tulisan-tulisan "ilmiah" yang dipublikasikan melalui berbagai jurnal, termasuk "jurnal online".
Namun sebaliknya kalau tujuannya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui publikasi ilmiah maka ada banyak jalan lain yang harus dilakukan dan pemaksaan tidak termasuk diantaranya. Jalan itu antaa lain adalah meningkatkan kesadaran ilmiah di kalangan akademisi kampus, ya mahasiswa ya dosen. Tanpa kesadaran akademik, mampu memproduksi jutaan jurnal sekalipun SDM bukannya akan semakin baik tapi semakin hancur karena lahirnya tulisan asal-asalan dan jurnal hasil plagiasi.
Di sinilah, menurut saya, peran dosen di peguruan tinggi. Dosen seharusnya menjadi sebuah panutan bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Jika seorang dosen mengajarkan mahasiswa tentang menulis, maka ia harus bisa mencontohkan tulisannya sendiri. Bukan berarti tidak boleh mengambil contoh tulisan lain (yang dengan jujur diakui lebih baik) tapi menunjukkan tulisan sendiri akan melahirkan sebuah motivasi berbeda pada masiswa karena si dosen tidak "omdo" alias omong doang. Dengan mencontohkan tulisan sendiri si dosen juga bisa bercerita bagaimana tulisan itu diproses dari awal hingga selesai dan dipublikasi. Dengan cara ini publukasi di jurnal akan banyak dan juga bagus. Semoga.
Subscribe to:
Posts (Atom)

