05 June 2010

Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!

Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: Mahalnya Ongkos Sekolah. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)

Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.

Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.

Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.

Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.

Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.

Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.

Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.

Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.



Tsunami dan Aceh Yang Berubah

“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”

Profesor Emeritus Harold Crouch
ANU-Australia

Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.

Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?

Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.

Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.

Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.

Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.

Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.




Kenapa Membaca Biografi?

Semua orang akan menjalani hidup seperti adanya. Semua orang punya jalannya sendiri. Anda tidak mungkin berjalan di rel orang lain meskipun mereka dengan rel itu telah sampai pada tujuannya. Tuhan Maha Kaya dan Dia menciptakan semua manusia sebuah rel.

Lalu kenapa perlu membaca biografi orang lain? Pertanyaan ini muncul suatu ketika saat kami mulai mendiskusikan beberapa tokoh sufi terkemuka pada awal-awal kebangkitan Islam. Kalau para sufi sukses itu adalah jalannya sendiri yang sama sekali tidak ada kesamaan dengan jalan sufi lainnya. Dan mereka membentuk jalannya sendiri tanpa mencontoh jalan spiritual yang dibangun oleh orang lain. Lalu untuk apa kita tahu hidupnya? Bukankah kita juga memiliki jalan spiritual sendiri?

Biografi adalah penjelasan dari sebuah potret kehidupan yang pernah dijalani oleh seseorang dalam mendapatkan suatu tujuan. Selama ini biografi identik dengan kehidupan orang sukses dan mendapatkan posisi “terhormat” dalam kehidupan masyarakat. Sebab kesukksesan dalah keinginan semua orang. Sehingga mereka cenderung ingin mengetahui apa dan bagaimana seorang telah melakukan sesuatu sehingga ia menjadi sukses.

Ada seribu alasan untuk mengatakan kenapa sebuah biografi itu perlu. Diantaranya adalah membaca biografi akan membuka mata kita pada jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup. Tidak ada masalah yang sama di dunia ini, yang ada hanyalah kemiripan. Terkadang kita stres tidak mendapatkan jalan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Nah, dengan membaca biografi mungkin kita mendapatakn alternatif pemecahan dan solusi berdasarkan pengalaman orang lain.

Kedua, membaca biografi akan memberikan kita penjelasan lebih beragam mengenai kehidupan. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, punya pemikiran yang berbeda pada satu hal yang sama. Dengan membaca biografi kita akan tahu kalau di sana ada banyak cara orang menafsirkan suatu hal dan suatau persoalan. Dan ini bisa menjadi sebuah pengayaan wawasan kita dan menjadi suatu masukan untuk menyempurnakan konstruksi pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Ketiga, membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.

Ada yang mau mendambahkan?

Kesimpulan: Membaca biografi memperkaya jiwa :-D

menulis biografi apalagi, meperkaya jiwa, dan memperkaya diri (baca: mendapatkan komisi hasil penjualan, heheheh)




29 May 2010

Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek

Mungkin satu-satunya kota provinsi yang tidak ada bioskop hanyalah Banda Aceh. Saya tidak terlalu yakin dengan kesimpulan ini, namun dari sedikit kota yang saya kunjungi, nampaknya di daerah lain di Indonesia bioskop bukan hanya di kota provinsi, namun juga banyak terdapat di kota-kota kabupaten. Bahkan beberapa kecamatan yang agak besar juga memiliki bioskop sendiri. Meskipun dengan banyaknya media yang bisa dipakai untuk menonton film belakangan ini, namun citra bioskop sebagai tempat menonton film sesungguhnya masih sangat terasa dalam masyarakat. Jadinya, sebuah film akan terasa berbeda rasa dan kesannya jika ditonton di rumah dengan di bioskop.

Namun demikian di Banda Aceh, sampai saat ini tidak ada sebuah bioskop yang menayangkan film secara terjadwal dengan tetap seperti di kebanyakan kota lain. Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak bermasalah. Sebab tanpa bioskop masyarakat tetap bisa mendapatkan hiburan berupa film melalui media yang lain, seperti VCD Palyer, TV, Internet dan bahkan di handphone dengan fasilitas tertentu. Jadi sebenarnya tanpa bioskoppun masyarakat tetap mendapatkan kepuasan tontonan melalui media-media tersebut. Namun bagi sebagian orang kepuasan dalam menonton hanya diperoleh jika ia menonoton di pada layar lebar dan dengan suara besar-besar. Oleh sebab itu media-media pemutar film yang ada selama ini sangat tidak memadai. Selain suaranya kecil dan sulit didengar, juga gambar yang ditampilkannya tidak sedramatis dalam bioskop.

Sebelum Tsunami

Sebenarnya Banda Aceh bukan sama sekali tidak pernah memiliki bioskop. Dulu, tahun 2000-an dan sebelumnya, ada beberapa bioskop yang beroperasi di Banda Aceh. Antara lain Sinar Indah Bioskop (SIB) di Penayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Center. Namun semua bioskop itu sekarang sudah mati dan sama sekali tidak ada aktifitas pemutaran film lagi. Bahkan gedung bioskop itu sendiri sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kepentingan yang lain.

Pun demikian, bioskop-bioskop tersebut di atas, dalam sejarahnya tidak semuanya menayangkan film-film terbaru dan “berkualitas.” Saya dan beberapa orang teman satu kos-kosan pernah pergi menonton bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam dekat Balang Padang tahun 1998. Saat itu harga tiket sekitar Rp. 750 untuk satu orang. Saya dengan semua teman-teman sama sekali belum pernah menonoton bioskop sebelumnya. Pilihan kami pada Garuda hanya karena tiketnya murah dan lebih terkenal dibandingkan bioskop “murah” yang lain.

Di dalam gedung besar itu kami duduk di kursi yang sudah sangat lusuh dan goyang-goyang. Teman saya kesakitan dan gatal-gatal setelah pulang dari sana karena digigit kutu busuk. Belum lagi suasana yang gelap dan pengap. Meskipun film belum diputar, lampu yang menerangi ruangan besar itu hanya beberapa watt saja dan tidak mampu menunjukkan celah dan jalan yang ada di dalam sana. Saya dengar dari beberapa teman, hal yang sama terjadi juga di bioskop Jelita dan SIB. Namun saya tidak pernah masuk ke dalam dua bioskop tersebut. Hanya saja dari sisi performa luar bangunannya, sepertinya tidak jauh beda dengan bioskop Garuda.

Film yang diputar juga bukan film baru yang sedang hangat dalam berita televisi atau koran. Di sana diputar film-film lama yang judulnya saja terkadang tidak diketahui. Pada sore harinya, di depan gedung bioskop memang dipasang spanduk tentang film yang akan diputar pada malam harinya. Namun kenyataannya, tidak semua film yang ditunjukkan di depan bioskop diputar di dalam bioskop. Beberapa bioskop bahkan memutar blue film di sela-sela film yang sedang diputar. Saat saya menonton bioskop tahun 1998 tersebut, saya juga mendengar teriakan dari penonton “puta asoe sigoe!” (putar “yang berisi” sekali). Kata “asoe” atau “berisi” berarti mereka meminta diputarkan blue film.

Pas 21 dan Gajah Theater

Namun tidak semua bioskop demikian adanya. Pas 21 dan Gajah Theater adalah bioskop yang memutar film terbaru dan film-film modern. Jadwal tayangnya juga tetap dan konsisten. Bahkan mereka mempublikasi film yang akan ditayangkan di koran lokal setiap hari. Kedua bioskop ini tidak jauh berbeda dengan bioskop Pas 21 yang hampir ada di berbgaia kota di Indonesia saat ini. Namun Pas 21 berakhir setelah terjadi kebakaran (dikbakar?) hebat di Pasar Aceh Shoping Center pada tahun 2001 (?). Sejak saat itu bioskop ini tidak beroperasi lagi di Banda Aceh. Gajah Theater menjadi pemain terakhir yang menutup lapaknya setelah tsunami melanda Aceh.

Kenapa bioskop di Banda Aceh gulung tikar? Menurut saya ini adalah pertanyaan menarik untuk ditelusuri. Sebab ada beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin “bisnis tidak menguntungkan” adalah jawaban dari pengusaha bioskop itu sendiri. Namun sebagai daerah yang memiliki tiga peristiwa “seksi”; Syariat Islam Konflik dan tsunami, kita tidak bisa bisa hanya melihat dari sisi bisnis semata. Di balik itu, ketiga peristiwa lain, menurut saya, pasti memiliki kontribusi yang menyebabkan bioskop di Banda Aceh ditutup oleh pengusahanya.

Konflik dan Syariat Islam


Suasana konflik di Aceh yang mulai memanas pada tahun 2008 memang menjadi salah satu penyebab utama. Setidaknya konflik menyebabkan dikuranginya jam penayangan film dimalam hari. Tahun 1997 saya masih jualan durian sampai jam satu malam di Pasar Aceh. Saat itu tidak ada masalah dengan tengah malam berada di luar ruamah. Namun setelah konflik mulai membesar di Aceh, jam malam mulai berlaku. Akibatnya bisoskop di Banda Aceh menutup pemutaran film di malam hari. Mereka hanya membukanya sore hari saja. Kondisi ini meyababkan bioskop SIB, Garuda dan Jelita Theater mati suri. Sebab sebelumnya pangsa pasar mereka ada di malam hari, terdiri dari pekerja dan mahasiswa yang hanya punya waktu malam hari untuk menonton.

Kemudian, pemberlakuan Syariat Islam juga mungkin menjadikan usaha ini menjadi tidak menarik bagi pengusaha. Sebab hampir diketahui bersama, dalam bioskop orang bukan hanya menonotn film saja, namun juga mengambil kesempatan bersepi-sepi, atau dalam bahasan Syariat Islam di Aceh, berhalwat. Sebuah pasangan yang masuk ke dalam gedung itu tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan, namun juga menjadi ajang di mana mereka bisa bermesra-mesraan, peluk cium dan meraba-raba. Kondisi ini ingin dihindari oleh pemerintah Aceh setelah penerapan syariat Islam. Oleh sebab itu ada sebuah seruan agar bioskop memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menonton. Saya memang tidak melihat hal ini dipraktekkan dengan baik di gedung bioskop. Namun setidaknya seruan ini menyebabkan pengusaha bioskop enggan membuka bioskopnya. Sebab akan sangat banyak pasangan muda yang menjadi target pasar mereka memilih tidak menonton bioskop dari pada ditangkap Wilayatul Hisbah (petugas pengawas penerapan syariat Islam) yang bertugas untuk menertipkan mereka.

Sejak konflik dan adanya penerapan syariat Islam di Aceh, operasi bioskop di Banda Aceh mulai surut. Bahkan setelah Pas 21 terbakar hanya Gajah Theater yang beroperasi. Seingat saya, tahun 2003 saya masih sempat beberapakali menonton bioskop di Gajah Theater. Di sanalah saya melihat instruksi dari pemerintah agar melakukan pemisahan penonton laki-laki dan perempuan sama sekali tidak diindahkan. Di dalam bioskop laki-laki dan perempuan tetap juga duduk bersama, seperti di berbagai bioskop kota lain di Indonesia. Namun saat itu bioskop hanya diputar sampai jam 18.30, sesaat sebelum azan maghrib. Hal ini berkaitan dengan jam malam yang diterapkan oleh pemerintahan militer yang sempat memegang kendali pemerintahan Aceh pada awal tahun 2000-an.

Bioskop Pasca Tsunami


Setelah tsunami melanda Aceh semua bioskop musnah. Gajah Theater yang bertahan sampai tsunami juga menutup usahanya hingga saat ini. Sekarang ini gedung Gajah Theater telah dipakai oleh aparat militer sebagai gudang logistik mereka. Saya tidak tahu apakah bangunan itu memang miliki militer. Sebab dari sisi lokasinya, Gajah Theater memang berada di dekat komplek militer, jadi memang memungkinkan kalau bangunan dan usaha itu memang milik mereka sebelumnya.

Apakah bioskop masih diperlukan di Banda Aceh? wallahu’a’lam. Dilihat dari sisi pengembangan kota dan kebutuhan modern masyarakat sebuah bioskop adalah keniscayaan. Apalagi belakangan ini masyarakat Aceh jelas terlihat kekurangan hiburan. Pusat-pusat hiburan dikunjungi banyak orang dan jauh melebihi kapasitasnya. Namun dilihat dari mudharatnya, terutama berkaitan dengan penerapan syariat Islam, menghadirkan bioskop mungkin perlu sebuah kajian mendalam lagi, baik dari film yang diputar, setting tempat duduk di dalam ruangan dan lain sebagainya. Saya sangat yakin, semangat Islam tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk mendapatkan hiburan.Wallahu’a’lam.

12 April 2010

Minum Kopi Bersama Tuhan

Saya hanya satu diantara jutaan dan mungkin milyaran penggila kopi di dunia ini. Seperti penggila lainnya, kebanyakan penggila kopi juga hanya menghabiskan waktunya dengan gelas-gelas kopi. Pagi, siang, sore malam. Kebanyakan tidak pernah mengambil pelajaran dari apa yang dilakukannya. Semua berlalu begitu saja, seperti air mengalir. Minum kopi adalah jalan melepaskan lelah, penat, bosan, sterss, atau sekedar hobi bersama teman. Sampai seorang teman “asing” muncul dan dia menjelaskan ada apa dengan kopi.

Saat sebuah SMS masuk ke ponselmu dari seorang teman, katanya memulai, yang isinya mengajakmu minum kopi. Engkau langsung membalas: “Oke, i’m coming!” tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan, tanpa macam-macam. Engkau sudah tahu maksudnya, engkau sudah tahu tempatnya. Namun, apakah engkau melakukan hal yang sama ketika azan menggema? engkau tahu apa artinya, engkau tahu di mana tempatnya, engkau tahu harus melakukan apa ketika mendengar suara itu. Tapi engkau mengabaikan, melanjutkan kerjamu.

Engkau habiskan waktu bersama teman-temanmu bercengkrama, bercerita, bersuara, berteriak dan terbahak di warung kopi. Kau kisahkan keluh kesahmu selama hidup, kau ceritakan kerjamu, keluarga dan masalahmu padanya. Terkadang engkau menjadi klein yang sedang curhat pada sahabatmu, namun terkadang kau menjadi konselor untuk masalah temanmu. Apakah kau melakukan hal yang sama di masjid? adakah kau bicara dengan Tuhan di sana? berlama-lama bersuka-ria bersama-Nya. Mengugkapkan masalahmu, mengatakan problem hidupmu, curhat masalah keluarga dan pekerjaanmu? Padahal Dia adalah konselor yang akan menyelesaikan masalahmu, bahkan yang engkau sendiri tidak tahu masalahnya apa.

Saat kau bisa paham terhadap masalah temanmu dalam keramaian, saat kau bisa mendengar jerit temanmu dalam kegaduhan warung kopi, saat kau bisa menerawang diri untuk introspeksi melihat kenyataan hidupmu dalam keributan di sana. Kenapa kau tidak bisa lakukannya dalam kesunyian masjid? dalam ketangangan dan kenyamanan? Bukankah di sana kau akan aman dan nyaman berfikir tentang dirimu, memberi nilai pada kelakuanmu, memberi reward atas kesuksesanmu dan menjatuhkan punishment atas kealpaanmu. Bukankah di sana kau akan lebih mendapatkan makna hidup? kenapa kau tak lakukan?

Kau memakan banyak makanan yang tidak sehat untuk dirimu, tidak sesuai untuk perutmu, hanya sekedar gaya dan menurutkan selera. Kau memesan makanan yang kau sendiri tidak terlalu suka dengannya. Kau membayar untuk asap yang masuk ke kerongkonganmu menitipkan racun lalu keluar kembali meracuni orang lain di sekitarmu. Tapi kau abaikan seorang pengemis yang datang menghampirimu. Dengan hormat kau katakan: “maaf”, seolah kau tak punya pecahan seribuan, atau bahkan limaratusan dalam saku celanamu. Padahal apa artinya uang kecil itu dibandingkan sepotong kue yang tidak membuatmu kenyang? apa artinya uang seribuan dibandingan sebatang rokok yang tak menyehatkan. Tapi engkau lakukan, seolah uang seribuan terlalu banyak bagi peminta.

Ayolah kita minum kopi bersama Tuhan. Kalau kau mampu melakukannya di warung kopi, kau bisa juga melakukan hal yang sama di masjid-masjid, musahalla-mushalla, atau di rumahmu sendiri, saat semua terlelap dalam mimpinya. Datanglah pada Sahabat Sejati. Dia yang mengetahui segala. Dia yang menyelesaikan masalah-masalahmu. Dia yang memberimu ketenangan yang kau takkan mungkin dapatkan dengan berapapun uang yang kau miliki.