27 February 2010

Catatan Lapangan Antropolog

Guru Antropologi Saya di UGM Jogja menasehati saya satu hal: Catatlah apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu rasakan." Ia mengatakan ini saat kami hendak berangkat menuju lapangan untuk sebuah training penelitian. Semula, saya tidak sepenuhnya mengerti kenapa ini perlu dilakukan. Sebab tidak semua apa yang kita lihat di lapangan itu perlu. Lagi pula untuk sebuah studi yang telah dipilih topik dan masalahnya rasanya tidak mesti harus bersusah-susah menulis hal lain yang secara langsung memang kita tidak butuhkan untuk penelitian yang sedang dilakukan. Namun sebagai murid, saya lakukan saja apa yang ia minta sambil tetap memendam pertanyaan itu dalam hati dan berniat akan menanyakan padanya kalau ada waktu yang tepat.

Dua minggu setelah itu, waktu itu tiba. Saya menumpang mobilnya saat pulang dari lapangan ke kampus. Saya duduk persis di belakangnya. Saya ajukan pertanyaan yang sudah dua minggu saya pendam. Kenapa harus mencatat semua yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan saat berada di lapangan. Ia mengatakan kalau itu memang dibutuhkan. Saya menimpali, dari catatan yang saya bikin jelas terlihat kalau ada bagian yang tidak perlu dalam penelitian saya. Saya menulis tentang selametan, lalu apa hubungannya dengan pembangkit listrik tenaga air di dusun lokasi penelitian saya? Ia mengatakan, itu mungkin memang tidak bermanfaat padamu kali ini. Namun saat kamu menulis tema lain, misalnya pengembangan wilayah, informasi ini akan menjadi catatan berharga. Lagi pula, siapa yang mengetahui mengenai pembangkit listrik tenaga air di dusun itu sepuluh tahun mendatang? Catatanmu akan menjadi bukti sejarah yang tidak terbantahkan. Ia akan menjelaskan kepadamu bagaimana kamu saat berada di sana pada tahun ini.

Saat ini, saya akui, ada banyak hal yang saya alami, saya saksikan, saya rasa, saya dapatkan bukti, lima tahun lalu. Namun hari ini saya tidak dapat berbuat banyak karena tidak ada catatan sama sekali. Mungkin saya ingat peristiwanya, namun saya tidak ingat detailnya. Mungkin saya ingat konteksnya, namun saya lupa kontennya. Padahal, lima tahun lalu, saat bekerja sebagai relawan tsunami, bekerja dengan Palang Merah Inggris, menjadi trainer dan lainnya, saya mendapatkan banyak "data" yang sangat penting. Tapi kini itu telah hilang seiring dengan perkembangan zaman. Peristiwa itu kini menjadi kisah yang kadang saya ceritakan dengan sedikit bumbu romantis. Saya benar-benar melupakan apa yang sudah saya dapatkan.

Kembali kepada Guru saya dari UGM. Ia mengatakan masih memiliki catatan lapangan mengani Kabupaten Pekalongan sejak 20 tahun yang lalu. Hampir setiap bulan dia menghabiskan satu buku untuk mencatat data-data yang diperlukan. Hingga saat ini, ia telah mengoleksi lebih dua ratus buku catatan lapangan. Catatan-catatan itu amat membantunya dalam menulis artikel. Beberapa artikel publikasi internasionalnya dibuat berdasarkan catatan lapangan tersebut. "Kalau untuk artikel jurnal kampus, tinggal ambil satu buku secara acak, sudah bisa membuat satu artikel" katanya. Catatan-catatan itu benar-benar mereka dengan detai apa yang terjadi di Pekalongan 20 tahun yang lalu.

Saya tahu ini sesuatu yang berat, meskipun saya juga tahu ini sesuatu yang perting. Hanya sebuah usaha sungguh-sungguh yang dapat meweujudkan ini semua. Keseriusan, kejelian, kewaspadaan akan membantu kita mendapatkan hal-hal sederhana yang bercerita. Dan ini semua, pada saatnya nanti akan menjadi saksi tidak terbantahkan tentang sebuah periode sejarah yang pernah berlangsung dan bagaimana kita memahaminya.

Jadi, catatlah apa yang ada di sekitarmu, suatu saat ia akan menjelaskan padamu siapa dirimu sebenarnya.


Tulisan ini saya muat juga di: www.sehatihsan.blogspot.com

23 February 2010

Menjadikan Artikel Akademik Layak Publish Internasional

Saya berfikir beberapa kali untuk judul tulisan ini. Mudah-mudahan tulisan di atas mengena dengan isi yang akan saya bahas. Ini adalah sebuah pengalaman pribadi yang menurut saya dapat menjadi pelajaran juga bagi banyak orang. Satu waktu, pertengahan tahun lalu, saya jumpa dengan seorang peneliti senior dari Sumatera Utara. Beliau lulusan Australian National University dan sudah melakukan beberapa penelitian berkaitan dengan perkebunan dan lahan di berbagai daerah di Indonesia. Sekarang ia menjadi team leader untuk penelitian perubahan iklim dan kemiskinan di Aceh. Orangnya biasa saja, penampilannya juga sederhana, tidak terlalu istimewa menurut saya.

Sebentar saja berkenalan dengannya langsung terasa akrab. Kami mulai banyak bercerita tentang kegiatan masing-masing. Ternyata pengalaman penelitiannya bukan hanya di Indonesia, namun di mancanegara. Ia sudah menulis beberapa buku. Yang paling mengagumkan saya adalah, ia sudah menghasilkan 86 buah artikel ilmiah yang dipublikasikan di dalam jurnal dalam negeri dan luar negeri. Ia menunjukkan kepada saya jurnal dari Cina, Jepang, Malaysia, Australia, Amerika dan beberapa Jurnal ilmiah lainnya. Duh, ini adalah gambaran ideal saya di masa depan, saya membatin. Jujur, saya berharap dapat menjadi orang yang memberi kontribusi akademik bagi dunia internasional di satu masa. Apa yang saya pikirkan tentang hidup semoga dapat bermanfaat untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Saya mengatakan kalau saya akan belajar banyak dari beliau dan mulai berkonsultasi mengenai apa yang selama ini saya lakukan dan saya keluhkan di lapangan dalam penelitian yang saya lakukan. Dan, sebagai seorang senior, dan saya yakin ia memiliki apasitas itu, ia mulai memberikan beberapa saran untuk kebaikan penelitian saya. Peratama, saya mengeluhkan tetang rasionalisasi dalam menyususn sub-bab dalam sebuah artikel hasil penelitan ilmiah. Saya mendapatkan banyak data di lapangan, namun saya kesulitan menyusunnya menjadi sebuha artikel yang runtut dan logik. Ia menjelaskan kalau itu memang agak sulit bagi penelitian grounded yang tidak memiliki fokus yang kongkrit. Namun itu sedikit mudah bagi seorang peneliti yang sudah terlebih dahulu memiliki fokus dan menyusun sebuah rencana yang matang sebelum ke lapangan. Sebab ia hanya mencari data yang kemudian ia jadikan basis untuk apa yang ia sudah rancang. Memang kekurangan metode ini banyak, diantaranya kita berusaha “memperkosa data” memaksa data masuk ke dalam kerangka pikir yang sedang telah kita buat sebelumnya. Kalau penelitian etnografi yang sifatnya grounded, seperti yang sedang saya lakukan, maka yang diperlukan adalah mencari data sebanyaknya, lalu mengklasifikasikan data dan dari situ kemudian kita melahirkan sub bab. Sub bab inilah yang akan menyusun artikel kita. Perkuat dengan teori yang sudah ada sehingga ada hubungannya dengan dunia akademik yang lebih luas.

Kedua, saya mengeluhkan mengenai data lapangan yang terkadang tidak tahu harus dimasukkan ke mana. Ada bagian yang data lapangannya kuat, namun banyak pula yang tidak didukung oleh data lapangan yang ril dan kuat. Ini menjadikan tulisan terasa tidak mendalam dan tidak menjawab semua masalah yang sedang dibahas. Ia menyarankan saya memakai sebuah program komputer yang dapat meberikan masukan untuk merancang penlisan yang berbasis data. Ia memilikinya dan ia berjanji akan memberikan kepada saya masternya dan akan mengajarkan saya pemakaiannya. Mmmm... ini adalah rizki yang datang tiba-tiba. Dan saya berjanji akan belajar banyak dengan apa yang ia berikan.

Ia juga menjelaskan beberapa trik mencari dana penelitian. Katanya, Indonesia ini adalah ladang bagi penelitian. Dari sini lahir berbagai teori mengenai masyarakat dunia, terutama Asia dan negara berkembang. Teori itulah yang kemudian digunakan untuk pembangunan. Karena itu banyak lembaga yang mau dan bersedia memberikan banyak uang untuk melakukan penelitian di Indonesia, apa saja. “Yang penting kita memiliki pengalaman penelitian yang baik dan hasil karya kita akan dibaca. Makanya kalau peneltian itu ajngan main-main,” katanya. Sebab itu akan menjadi sebuah pencitraan diri kita. Orang akan melihat kita dari apa yang kita tulis. Mungkin kita tidak pandai ceramah, tidak bisa khutbah,, namun kalau kita bisa menulis dengan baik maka kita bisa tunjukkan apa yang telah kita tulis dan orang akan tahu apa yang kita sampaikan.

Yang paling menyenangkan ia menjelaskan mengani karakter tulisan akademik yang sangat disukai oleh jurnal-jurnal internasional, ringkas, padat dan tidak bertele. Sebuah paragraf itu hanya memuat satu atau dua ide. Kalimat berikutnya adalah supporting idea. Semua paragraf yang ada dalam sebuah sub bab adalah supporting terhadap mainidea yang ada dalam awal pargaraf sub bab itu. Dan semua sub bab adalah supporting idea dalam sebuah tulisan. Kompilasi dari ini semua kita sebuat dengan artikel akademik. Dan model inilah yang diterima oleh jurnal-jurnal Internasional. Lalu ia berharap (entah berdoa) semoga saya menjadi seorang penulis yang dapat mempublikasi karya di level Internasional. Amin.... kabulkanlah ya Allah.


Tulisan ini juga dimuat di Blog Pribadi saya: http://www.sehatihsan.blogspot.com/

18 February 2010

Sebuah Kenangan di Tanah Gayo

Saya ingin menulis sesuatu tentang Gayo. Tapi ada sebuah pepatah yang saya percaya pasti benar: Foto bercerita lebihd ari seribu kata." Saya postingkan saja beberapa foto di sini. Mudah-mudahan ia bisa bercerita sendiri;


Pada tikungan hendak memasuki Kota Takengon, Ibu Kota Aceh Tengah kita akan disuguhi sebuah tulisan Visit Tanoh Gayo 2008. Saya pergi ke sana pada tahun 2009, tulisan itu masih belum diganti. Ada sebuah gerbang yang sedang dibangun untuk menyambut kedatangan tamu, namun saya belum sempat mengambil fotonya.



Dari salah satu bagian sebelum masuk ke Kota Takengon kita bisa saksikan bentangan Danau Laut Tawar dan jalan berliku menuju ke sana. Saya mengambil foto ini dari sebuah warung kopi yang menghadap ke Danau. Satu saat saya ingin menum kopi di sana sambil menatap indahnya Danau LAut Tawar.


Jalan masuk ke KOta Takengon yang masih dalam perbaikan dan perluasan. Kota Takengon adalah ibu kota Aceh Tengah. Terletak persis di dekat Danau Laut Tawar nan eksotik.


Salah satu pasar tradisonal di Takengon. Di sini kita bisa dapatkan berbagai oleh-oleh khas Gayo. Mau ikan depik? Nah, di pasar ini bisa diperoleh. Tapi kalau mau yang segar dan masih mentah silahkan tangkap sendiri di dalam danau. Heheh


Kalau Capek, bisa istirakat di cafe-cafe yang ada di KOta Takengon sambil makan mie goreng Spesial Khat Takengon dan jus melon.


Atu minum segelas kopi Gayo yang Sruuuppp.... maknyuusss.


Mari kita berjalan mengelilingi Danau Laut Tawar. Tidak ada kenderaan umum yang khusus disediakan untuk wisatawan. Kalau anda mau melakukannya, maka carilah teman atau kenalan, atau siapa saja yang bisa anda ajak untuk melakukan ini. Kebetulsan saya punya teman di sana, saya memakai motornya untuk mengelilingi danau.


Satu sisi Danau yang teramat indah untuk dilewati. Duduk di atas tempat pemancingan milik masyarakat sambil menunggu ikan-ikan memakan umpan.


Sisi lain dari Danau Laut Tawar dengan pemandangan masyarakat yang sedang mencari ikan. Ada ikan Depik yang menjadi trade mark Danu LAut TAwar. Sayangnya populasi ikan ini semakin berkurang. Mungkin karean terlalu banyak orang yang suka, sehinga banyak pula yang diambil oleh nelayan.


Sebuah Gua yang ada di pinggir Danau Laut Tawar yang penh misteri. Saya tidak pernah masuk ke dalamnya.


Sebuah bangunan yang dibuat oleh TNI di Bintang, daerah sebelah Timur Danau LAut Tawar. Di dekat tugu ini sering juga dilaksanakan pacuan kuda tradisional. Beberapa warung kopi menghadap Danau sangat cocok untuk istirahat dan bersantai sejenak.


Kopi adalah tanaman yang banayk tumbuh di Tanoh Gayo. KArenanya di mana-mana kita bisa dapatkan segelas kopi yang nikmat.


Beberapa hiasan yang terbuat dari akar kopi. Hiasan kerajinan tangan ini agak sulit diperoleh, biasanya hanya ada di rumah penduduk dan tidak di jual di pasar.


Seorang anak dengan pakaian adat Gayo.

Aslinya, foto-foto ini ada di: www.sehatihsan.blogspot.com

15 February 2010

Cinta Anak Alam: Cerita Dari Wonodadi (4)


Anak-anak memiliki bahasa yang sama, bahasa cinta dan kasih sayang yang tulus. Di mana saja mereka terbebas dari kepentingan, prasangka dan kemunafikan. Ketulusan yang ditunjukkan anak-anak Wonodadi, sebuah dusun pedalama Jawa Tengah, selama saya berada di lapangan adalah salah satu contohnya. Mereka mengungkapkan persahabatan dengan jujur tanpa mengharapkan balasan. Mereka menunjukkan perhatian dengan tulus tanpa meminta imbalan. Mereka membantu dengan iklas dan sepenuh hati. Beberapa pengalaman berikut adalah bukti itu semua.

Suatu sore, anak-anak berkumpul di depan rumah di mana saya tinggal. Saya tidak tahu kapan, namun mereka mengatakan saya berjanji untuk main-main ke pemandian di atas gunung yang dikenal dengan Kali Sepi (saya tidak tahu kenapa namanya sepi, meskipun memang di sana sangat sepi karena di lereng gunung). Saat itu jam masih menunjukkan pukul 12 siang. Di Wonodadi, jam 12 siang sama sekali tidak terasa terik mata hari. Tanah selalu dilindungi awan dari sengatan matahari. Karenanya, meskipun tengah hari bukanlah saat yang terik kalau mau melakukan perjalanan.

Saya sebenarnya sedikit malas untuk pergi mandi sebab ini siang hari dan sedang ada pekerjaan (menulis cacatatan lapangan). Lalu saya katakan kalau saya khawatir akan terjadi hujan dan mengajak mereka mandi keesokan hari saja. Sebab biasanya siang hujan akan turun meskipun nampaknya matahari bersinar terang. Namun alasan ini kurang diterima oleh anak-anak itu. Mereka tetap mengajak saya untuk pergi ke pemandian. Saya tidak punya alasan lain. Saya meminta mereka menunggu sampai anak-anak kelas lima dan enam pulang dari sekolah mereka. Nampak mereka bersabar.
Setelah semua anak berkumpul kami pergi menunju pemandian. Hampir semua anak di dusun ini ikut bersama. Ada beberapa yang, karena masih terlalu kecil, tidak mau ikut karena karena terlalu jauh. Beberapa orang warga yang lewat menanyakan ke mana kami mau pergi dan saya jawab mau main-main bersama anak-anak dusun, dan mereka paham dengan kenyataan ini. Saya tidak mendengar ungkapan, “hati-hati ya,” dari para orang tua yang melihat anaknya dalam rombongan itu. Kemungknan bagi mereka ini sudah biasa dan mereka sudah selalu melihat anaknya naik ke sana.

Saat anak-anak sedang asik mandi, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Saya mengajak mereka naik ke darat dan segera pulang. Semuanya bergegas naik dan mengenakan pakaian. Hujan terus turun dengan sangat lebat dan mereka berpakaian cepat-cepat dan segera beranjak pulang. Kami berjalan buru-buru pulang karena hujan semakin deras. Tidak jauh dari tempat permandian kami sudah basah kuyup. Beberapa anak perempuan mengambil daun keladi besar sebagai payung. Namun angin yang kencang menerbangkan payung itu. Mereka berlari kembali. Tiba-tiba dari belakang seorang anak laki-laki menawarkan saya daun pisang yang entah diambil di mana dan bagaimana. Sebuah daun pisang kecil tentu tidak cukup melindungi dari guyuran hujan. Namun tidak mungkin juga menolak pemberian itu. Saya mengucapkan terima kasih dan mengambil daun pisang tersebut. Saya terus berjalan dalam hujan itu dengan cepat dan meminta anak-anak juga berjalan cepat.

Saat melewati anak perempuan, seorang anak perempuan mengatakan meminta maaf kepada saya karena mengajak saya ke pemandian sehingga menjadi basah. Padahal saya sebelum berangkat sudah mengatakan kalau hujan mau turun dan menawarkan pergi ke pemandian keesokan harinya. Namun mereka memaksa untuk tetap pergi lalu saya ikut pergi. Jadinya sekarang kami semua basah kuyup. Saya mengatakan tidak apa-apa dan tidak ada yang salah. Mereka mengkhawatirkan saya kemasukan angin dan sakit. Saya mengatakan tidak masalah, sebab kalau masuk angin nanti saya akan keluarkan di kelas saat mengajar. Dan mereka tertawa.

Pada suatu pagi yang lain, saya mengajak mereka jalan-jalan sebelum kelas dimulai. Kami jalan-jalan ke jembatan besar di mana turbin listrik diletakkan. Jalan menuju ke sana lebih terjal dibandingkan dengan jalan pemandian yang penah kami lewati sebelumnya. Jalan ini terbuat dari batu gunung yang dipecahkan dan disusun rapi. Kami berjalan menurun sedikit demi sedikit. Bekas hujan malam tadi menyebabkan jalanya mash dan licin. Saya harus selalu mengingatkan anak-anak agar hati-hati. Sebab dalam pandangan saya mereka terlalu ceroboh dan buru-buru. Mungkin saja ini hanya pandangan saya, sebab kenyataannya mereka memang selalu berjalan cepat pada jalan seperti itu. Turun ke jembatan memang membutuhkan energi besar. Jalan yang terjal dan licin membutuhkan kehati-hatian yang besar.

Kami hanya berfoto bersama di jembatan dan melihat-lihat sungai dengan air yang mengalir deras. Setelah berfoto bersama saya dan anak-anak mau kembali ke sekolah. Kembali ke sekolah berarti harus menempuh jalan menanjak yang terjal dan licin yang tadi kami turuni. Baru beberapa meter berjalan saya sudah merasakan kelelahan dan ini langsung nampak pada anak-anak. Saya berjalan sangat lambat dan dengan nafas tersengal-sengal. Sesekali saya menompang tangan di lutut untuk menambah tenaga. Melihat ini beberapa anak perempuan langsung memberikan bantuan dengan mendorong saya. Tiga anak perempuan meletakkan kedua tangannya di pinggul saya dan mendorong saya ke depan. Terasa lebih nyaman dan kuat. Namun hal ini tidak mungkin saya lakukan karena akan menjadikan mereka lebih capek. Bagaimanapun kami sedang menempuh jalan yang sama dengan tanjakan yang sama. Namun mereka tidak mengindahkan larangan saya dan terus mendorong. Sampai akhirnya saya harus memegang tangan kecil itu dan memindahkannya.

Kami kembali berjalan sampai ke atas. Saya sangat kelehan. Keringat keluar mengalir membasahi baju. Begitu sampai di tanah yang datar saya langsung duduk di sebuah kayu balok yang akan dijadikan papan cor. Beberapa anak-anak meminta izin pada saya untuk minum. Mereka pergi ke arah perumahan di belakang sekolah. Sekejap kemudian mereka datang kembali dengan membawa segelas air dan memberikan kepada saya. “Mas kan capek,” katanya.


13 February 2010

A Shadow Falls: Antropologi Bergaya Novel

Ketika saya pulang dari Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah di mana saya melakukan penelitian, saya menumpang mobil Bapak P, konsultan penelitian saya dari Jurusan Antropologi UGM Yogyakarta. Saya duduk persis di bangku belakang Bapak P yang bertindak sebagai sopir. Di sana ada sebuah kotak plastik yang berisi sebuah kamera besar dengan dua lensanya, beberapa baterai dan senter. Dalam kotak plastik itu juga ada sebuah buku tebal, sekitar 5 cm, yang berwarna kuning, begambar ilustrasi masjid, dan backgroundnya tulisan hanacoroko yang saya tidak tahu bacaannya. Saya mengambil buku itu dan yang pertama saya baca adalah pengarangnya; Andrew Beatty. Saya katakan pada Bapak P, apalah penulis buku ini adalah penulis Varieties of Javanese Religion? Ternyata benar. Ia menulis buku yang setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Variasi Agama Di Jawa.

Saya mendiskusikan buku itu dengan Bapak P. Dengan bahasa Inggis saya yang teramat sangat terbatas, saya mencoba sedikit memahami apa yang ditulis oleh Beatty dalam buku itu. Saat membuka halaman secara acak saya mendapatkan ia sedang bercerita tentang kunjungannya di lapangan dan mengungkapkan apa yang diceritakan masyarakat kepadanya. Saya pikir ini adalah sebagian saja dari bukunya yang tebal tersebut. Ternyata ketika saya membuka beberapa halaman yang lain, saya menjadi heran, di sana tertera cerita-cerita yang lain yang sama sekali tidak mirip dengan “buku ilmiah” yang selama ini saya kenal. Ini membuat saya bertanya pada Bapak P, apakah itu “dibenarkan” dalam Antropologi. Ternyata, model penulisan begitu adalah sebuah model baru yang dikembangkan dalam Antropologi khususnya dalam studi etnografi.

Beatty, menurut Bapak P adalah seorang antropolog yang “kemungkinan ia akan menjadi antropolog keas dunia.” Ia menggabungkan gaya bercerita yang biasanya dipakai oleh novelis dalam menyusun ceritanya dengan data-data lapangan yang diperoleh selama ini tinggal di lokasi penelitian. Saya membaca buku-buku antropolog lain yang menulis mengenai Indonesia semacam Clifford Geerzt, Minako Sakai, Mark Woodward, Leena Avonius dan John R. Bowen yang menulis mengenai masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Di sana saya memang menemukan gaya menulis bercerita dengan deskripsi yang sangat akrobatik tentang penglaman penulisnya di lapangan. Namun –sejauh yang saya pahami- mereka menjadikan cerita itu hanya sebagai “jalan masuk” saja untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tema yang mereka pilih. Selanjutnya mereka melakukan analisis dan pendalaman yang hampir sama dengan tulisan ilmiah sosial lainnya. Namun yang dilakukan Beatty adalah, ia terus bercerita dari paragraf pertama hingga terakhir. Bahkan ia tidak pernah menyebut-nyebut referensi atau membandingkannya dengan studi lain yang pernah ada. Ketika saya melihat di bagian akhir buku, tidak ada juga tercantum daftar referensi yang ia gunakan dalam menulis bukunya.

Di Banda Aceh, saya memiliki seorang teman Jerman, mahasiswa Antropologi dari Leiden University, Mr. D, yang sedang melakukan penelitian disertasinya di Aceh. Satu hari kami minum kopi di Solong, Ulee Kareng. Saya menceritakan pengalaman saya melakukan studi etnografi di Jawa. Kami mendiskusikan beberapa metodologi dalam mengumpulkan data lapangan, membuat catatan lapangan dan mengorganisir data. Kami juga mendiskusikan beberapa hal yang lain. Namun yang menarik adalah ketika ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Sambil mengatakan “Saya membawa buku menarik yang sebaiknya Sehat baca” ia mengeuarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Baru sedikit nampak warna kuning buku itu saya langsung katakan “Andrew Beatty”. Ia sedikit terkejut mendengarnya karena saya tahu tentang buku itu. Padahal untuk konteks Aceh, buku-buku baru terbitan luar negeri tentu tidak mudah dijumpai. Saya menjelaskan kalau saya pernah melihat buku tersebut di Yogyakarta. Kemudian kami mendiskusikan buku itu. Lagi-lagi, seperti Bapak P, teman bule ini mengatakan itu adalah buku yang menarik dan “bacaan wajib” bagi antropolog (atau yang merasa diri antropolog, seperti saya. heheh). Ia juga menjelaskan bagaimana Beatty “memasukkan” referensi dan teori-teori sosial dalam tulisannya.Memang nampak ia tidak mengutip tulisan orang lain dengan menulis nama orang tersebut, namun ia memiliki gambaran teoritis yang kaya sehingga dialog-dialog yang terbangun dalam buku itu juga menjadi sangat kaya dan sarat pengetahuan. “Inilah yang membedakannya dengan sebuah novel biasa,” kata Mr. D.

Di hari yang lain, saya minum kopi bersama teman bule Amerika, Mr. J, seorang mahasiswa antropologi asal Amerika yang sedang melakukan penelitian disertasinya sekaligus bekerja di Aceh. Ternyata ia juga menyebut-yebut tetang buku itu dan mengaku telah membacanya. Ia mengatakan buku itu adalah buku yang bagus yang harus dibaca untuk belajar model baru penulisan antropologi. Namun ia sedikit memberikan kritik pada Andrew Beatty, si penulis buku. Beatty, menurut Mr. J tidak mengakomodir pendapat-pendapat dari masyarakat yang ada di pemerintahan negara, politisi dan masyarakat modernis mengenai pemikiran keagamaan mereka. Bahkan Beatty nampaknya memberikan nilai negatif pada mereka dan menganggap aparatur pemerintah dan modernis “mengganggu” perkembangan Islam “yang benar” yang berkembang dalam masyarakat Pedesaan Jawa.

Sayangnya, saya hanya mendengar para antropolog kenalan saya mengatakan kalau buku itu bagus, baik, layak dibaca, memberikan gaya penulisan baru antropologi, dan lainnya. Saya sendiri tidak memiliki bukunya, dan belum membaca kecuali sesaat di dalam mobil Bapak P dan sesaat di warung kopi bersama Mr. D. Hal ini karena buku tersebut diterbitkan di London oleh Faber and Faber dan juga masih sangat baru, terbitan tahun 2009, dan pasti mahal untuk ukuran Rupiah. Padahal, jujur saya akui, gaya penulis buku yang dilakukan oleh Andrew Beatty adalah gaya yang “gw banget!” Saya ingin belajar dari apa yang telah dipraktekkan oleh Beatty, gaya menulis, sistematika, pemilihan subjek, dan lainnya. Sebuah laporan antropologi bergaya novel! Saya yakin, kalau demikian gaya menulisnya, bukan hanya antropolog dan akademisi sosial yang berkepentingan saja yang akan membaca buku “ilmiah” namun juga masyarakat umum yang lain akan menyukainya. Bahkan satu saat, saya membayangkan semua buku ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan ringan saja sehingga semua orang yang memiliki latar belakang ilmu yang berbeda dapat menikmati dan belajar darinya.