28 June 2011

Sehari Bersama Keluarga Italia

Saya beruntung, dalam sebuah kunjungan ke Milan beberapa waktu yang lalu, saya bisa tinggal dengan sebuah keluarga asli Italia. Awalnya, saya diperkenalkan oleh seorang teman kepada seorang perempuan yang menurut saya hampir sebaya saya juga, namanya Amalia. Ia tinggal di Pavia, sebuah kota yang tidak jauh dari Milan. Ia mengundang saya ke kotanya untuk melihat kota lama peninggalan Romawi kuno. Dan pada satu hari minggu, saya memenuhi undangannya mengunjungi Pavia. Hanya 30 menit dari Milan dengan kereta api.

Sebelum mampir ke rumahnya, saya diajak makan siang di sebuah desa pinggiran, tidak jauh dari Pavia. Perjalan ke sana butuh waktu 30 menit. Namun karena ini perjalanan pertama saya ke Eropa, saya merasa semua indah. Pohon-pohon yang masih kering, lahan gandum yang siap tanam, dan pegunungan di kejauhan yang nampak ditutup salju. Sungguh memikat hati. Apalagi Amalia selalu menjelaskan tentang semua tempat yang kami lewati.

Rumah yang kami tuju adalah sebuah bangunan kecil namun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ia ada di tengah ladang gandum yang maha luas. Rumah itu nampak seperti tidak terurus. Di depannya tumbuh rumput hijau yang memanjang dan tidak dirapikan. Ada sampah dedauanan di mana-mana. Bebeberapa pohon yang tumbuh di depan rumah juga seperti tidak dirapikan. Namun kondisi ini menunjukkan sebuah suasana pedesaan yang sangat khas.

Si empunya rumah adalah keluarga muda yang punya tiga orang anak, dua perempuan dan yang bungsu laki-laki, masih balita. Clara, sanga istri mengaku tidak kuliah. Setelah tamat SMU ia menikah dan mengurus anaknya. Karenanya, ia bekerja sebagai desainer sekaligus penjahit di rumahnya. Semula saya kurang yakin, sebab dalam benak saya, kalau ia desainer dan penjahit, pasti ia butuh tenaga kerja. Sementara itu tidak terlihat di rumahnya. Setelah saya tanya, ternyata ia mendesain sendiri dan menjahit sendiri baju yang akan dijual. Ia mengaku memilih jenis kain yang bagus, membuatnya dengan bagus pula sehingga bisa dijual mahal. Baju hasil desainnya dijual di pusat kota Milan.

Si suami, Fabio, adalah laki-laki muda yang tinggi. Ia mengaku seorang petani. Ia pernah bekerja di Inggris 9 bulan sebagai pelayan restoran. Karenanya ia bisa bahasa Inggris, meskipun sudah tidak lancar lagi karena sudah lama. Namun kemampuan bahasa ini membuat saya merasa nyaman berada di sana. Apalagi selama ada saya, mereka tidak bicara bahasa Italia, melainkan bahasa Inggris.

Fabio ahli masak. Dialah yang memasak makan siang untuk kami. Ia mengatakan kalau ia memasak sesuatu yang berbeda kepada saya. Katanya” “Amalia bilang kalau kamu seornag muslim. Kami hanya tahu kalau muslim tidak boleh makan babi. Saya masak pasta dengan labu untuk kamu. Saya masakkan dalam panci masak air, supaya tidak ada bekas babi.” Sungguh saya terharu. Grazie Fabio. Mereka menghargai keimanan saya dengan caranya sendiri.

Namun ada yang mengesakan saya. Anak perempuan Clara yang berusia tujuh tahun digigit anjing saat ia sedang bermain hingga berdarah. Ia tidak menjerit, tidak menangis. Ia datang kepada ibunya dan mengatakan kalau ia digigit anjing. Karena Clara sedang membereskan piring di meja, ia meminta kakaknya membersihkan luka si adik dengnan tissue. Setelah darah dibersihkan, mereka kembali bermain, termasuk anjing yang barusan menggigitnya.

Menjelang sore kami kembali ke Pavia, menuju rumah Amalia. Saya diperkenalkan dengan suami Amalia. Ia mengaku pernah pergi ke Bali lima tahun yang lalu. Dan masih bisa mengucapkan “Apa Kabar” denga nada dan intonasi khas Italia. Ia seorang punk, namun juga seorang professor sejarah Eropa Klasik yang mengajar di sebuah Universitas di Bologna.

bersambung…..

25 June 2011

Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?

Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant. Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.

Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.

Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.

Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.

Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.

Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.

Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.

02 December 2010

Konflik Aceh dan Kebijakan Jakarta


Michelle Ann Miller, seorang ilmuan politik dan penerima beasiswa Post-doktoral dari the Asia Research Institute, National University of Singapore telah mempublikasi riset yang luar biasa dan studi yang lengkap tentang gerakan separatis di Aceh dan bagaimana pemerintah pusat Indonesia menanggapi dan meyikapi masalah di Aceh. Tulisan ini, bagaimanapun adalah sebuah paparan yang sangat lenggkap tentang apa yang bisa dipelajari dari berbagai strategi penyelesaian konflik di Aceh.

Apa yang paling menarik dari buku ini adalah, kemampuan Miller untuk merekan perkembangan konflik Aceh berdasarkan pemerintahan presiden pasca Soeharto jatuh. Ia menunjukkan bagaimana setipa pemimpin Indonesia memiliki kebijakan yang berbeda dalam melihat dan menyelesaikan masalah Aceh. Terkadang bahkan bertentangan.

Download bukunya Di Sini!

Catatan: Kalau anda berkenan mohon berbagi kesan dan pengetahuan setelah membaca buku ini di kolom komentar. Terima kasih

05 June 2010

Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!

Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: Mahalnya Ongkos Sekolah. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)

Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.

Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.

Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.

Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.

Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.

Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.

Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.

Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.



Tsunami dan Aceh Yang Berubah

“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”

Profesor Emeritus Harold Crouch
ANU-Australia

Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.

Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?

Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.

Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.

Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.

Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.

Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.