05 June 2010

Kenapa Membaca Biografi?

Semua orang akan menjalani hidup seperti adanya. Semua orang punya jalannya sendiri. Anda tidak mungkin berjalan di rel orang lain meskipun mereka dengan rel itu telah sampai pada tujuannya. Tuhan Maha Kaya dan Dia menciptakan semua manusia sebuah rel.

Lalu kenapa perlu membaca biografi orang lain? Pertanyaan ini muncul suatu ketika saat kami mulai mendiskusikan beberapa tokoh sufi terkemuka pada awal-awal kebangkitan Islam. Kalau para sufi sukses itu adalah jalannya sendiri yang sama sekali tidak ada kesamaan dengan jalan sufi lainnya. Dan mereka membentuk jalannya sendiri tanpa mencontoh jalan spiritual yang dibangun oleh orang lain. Lalu untuk apa kita tahu hidupnya? Bukankah kita juga memiliki jalan spiritual sendiri?

Biografi adalah penjelasan dari sebuah potret kehidupan yang pernah dijalani oleh seseorang dalam mendapatkan suatu tujuan. Selama ini biografi identik dengan kehidupan orang sukses dan mendapatkan posisi “terhormat” dalam kehidupan masyarakat. Sebab kesukksesan dalah keinginan semua orang. Sehingga mereka cenderung ingin mengetahui apa dan bagaimana seorang telah melakukan sesuatu sehingga ia menjadi sukses.

Ada seribu alasan untuk mengatakan kenapa sebuah biografi itu perlu. Diantaranya adalah membaca biografi akan membuka mata kita pada jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup. Tidak ada masalah yang sama di dunia ini, yang ada hanyalah kemiripan. Terkadang kita stres tidak mendapatkan jalan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Nah, dengan membaca biografi mungkin kita mendapatakn alternatif pemecahan dan solusi berdasarkan pengalaman orang lain.

Kedua, membaca biografi akan memberikan kita penjelasan lebih beragam mengenai kehidupan. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, punya pemikiran yang berbeda pada satu hal yang sama. Dengan membaca biografi kita akan tahu kalau di sana ada banyak cara orang menafsirkan suatu hal dan suatau persoalan. Dan ini bisa menjadi sebuah pengayaan wawasan kita dan menjadi suatu masukan untuk menyempurnakan konstruksi pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Ketiga, membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.

Ada yang mau mendambahkan?

Kesimpulan: Membaca biografi memperkaya jiwa :-D

menulis biografi apalagi, meperkaya jiwa, dan memperkaya diri (baca: mendapatkan komisi hasil penjualan, heheheh)




29 May 2010

Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek

Mungkin satu-satunya kota provinsi yang tidak ada bioskop hanyalah Banda Aceh. Saya tidak terlalu yakin dengan kesimpulan ini, namun dari sedikit kota yang saya kunjungi, nampaknya di daerah lain di Indonesia bioskop bukan hanya di kota provinsi, namun juga banyak terdapat di kota-kota kabupaten. Bahkan beberapa kecamatan yang agak besar juga memiliki bioskop sendiri. Meskipun dengan banyaknya media yang bisa dipakai untuk menonton film belakangan ini, namun citra bioskop sebagai tempat menonton film sesungguhnya masih sangat terasa dalam masyarakat. Jadinya, sebuah film akan terasa berbeda rasa dan kesannya jika ditonton di rumah dengan di bioskop.

Namun demikian di Banda Aceh, sampai saat ini tidak ada sebuah bioskop yang menayangkan film secara terjadwal dengan tetap seperti di kebanyakan kota lain. Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak bermasalah. Sebab tanpa bioskop masyarakat tetap bisa mendapatkan hiburan berupa film melalui media yang lain, seperti VCD Palyer, TV, Internet dan bahkan di handphone dengan fasilitas tertentu. Jadi sebenarnya tanpa bioskoppun masyarakat tetap mendapatkan kepuasan tontonan melalui media-media tersebut. Namun bagi sebagian orang kepuasan dalam menonton hanya diperoleh jika ia menonoton di pada layar lebar dan dengan suara besar-besar. Oleh sebab itu media-media pemutar film yang ada selama ini sangat tidak memadai. Selain suaranya kecil dan sulit didengar, juga gambar yang ditampilkannya tidak sedramatis dalam bioskop.

Sebelum Tsunami

Sebenarnya Banda Aceh bukan sama sekali tidak pernah memiliki bioskop. Dulu, tahun 2000-an dan sebelumnya, ada beberapa bioskop yang beroperasi di Banda Aceh. Antara lain Sinar Indah Bioskop (SIB) di Penayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Center. Namun semua bioskop itu sekarang sudah mati dan sama sekali tidak ada aktifitas pemutaran film lagi. Bahkan gedung bioskop itu sendiri sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kepentingan yang lain.

Pun demikian, bioskop-bioskop tersebut di atas, dalam sejarahnya tidak semuanya menayangkan film-film terbaru dan “berkualitas.” Saya dan beberapa orang teman satu kos-kosan pernah pergi menonton bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam dekat Balang Padang tahun 1998. Saat itu harga tiket sekitar Rp. 750 untuk satu orang. Saya dengan semua teman-teman sama sekali belum pernah menonoton bioskop sebelumnya. Pilihan kami pada Garuda hanya karena tiketnya murah dan lebih terkenal dibandingkan bioskop “murah” yang lain.

Di dalam gedung besar itu kami duduk di kursi yang sudah sangat lusuh dan goyang-goyang. Teman saya kesakitan dan gatal-gatal setelah pulang dari sana karena digigit kutu busuk. Belum lagi suasana yang gelap dan pengap. Meskipun film belum diputar, lampu yang menerangi ruangan besar itu hanya beberapa watt saja dan tidak mampu menunjukkan celah dan jalan yang ada di dalam sana. Saya dengar dari beberapa teman, hal yang sama terjadi juga di bioskop Jelita dan SIB. Namun saya tidak pernah masuk ke dalam dua bioskop tersebut. Hanya saja dari sisi performa luar bangunannya, sepertinya tidak jauh beda dengan bioskop Garuda.

Film yang diputar juga bukan film baru yang sedang hangat dalam berita televisi atau koran. Di sana diputar film-film lama yang judulnya saja terkadang tidak diketahui. Pada sore harinya, di depan gedung bioskop memang dipasang spanduk tentang film yang akan diputar pada malam harinya. Namun kenyataannya, tidak semua film yang ditunjukkan di depan bioskop diputar di dalam bioskop. Beberapa bioskop bahkan memutar blue film di sela-sela film yang sedang diputar. Saat saya menonton bioskop tahun 1998 tersebut, saya juga mendengar teriakan dari penonton “puta asoe sigoe!” (putar “yang berisi” sekali). Kata “asoe” atau “berisi” berarti mereka meminta diputarkan blue film.

Pas 21 dan Gajah Theater

Namun tidak semua bioskop demikian adanya. Pas 21 dan Gajah Theater adalah bioskop yang memutar film terbaru dan film-film modern. Jadwal tayangnya juga tetap dan konsisten. Bahkan mereka mempublikasi film yang akan ditayangkan di koran lokal setiap hari. Kedua bioskop ini tidak jauh berbeda dengan bioskop Pas 21 yang hampir ada di berbgaia kota di Indonesia saat ini. Namun Pas 21 berakhir setelah terjadi kebakaran (dikbakar?) hebat di Pasar Aceh Shoping Center pada tahun 2001 (?). Sejak saat itu bioskop ini tidak beroperasi lagi di Banda Aceh. Gajah Theater menjadi pemain terakhir yang menutup lapaknya setelah tsunami melanda Aceh.

Kenapa bioskop di Banda Aceh gulung tikar? Menurut saya ini adalah pertanyaan menarik untuk ditelusuri. Sebab ada beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin “bisnis tidak menguntungkan” adalah jawaban dari pengusaha bioskop itu sendiri. Namun sebagai daerah yang memiliki tiga peristiwa “seksi”; Syariat Islam Konflik dan tsunami, kita tidak bisa bisa hanya melihat dari sisi bisnis semata. Di balik itu, ketiga peristiwa lain, menurut saya, pasti memiliki kontribusi yang menyebabkan bioskop di Banda Aceh ditutup oleh pengusahanya.

Konflik dan Syariat Islam


Suasana konflik di Aceh yang mulai memanas pada tahun 2008 memang menjadi salah satu penyebab utama. Setidaknya konflik menyebabkan dikuranginya jam penayangan film dimalam hari. Tahun 1997 saya masih jualan durian sampai jam satu malam di Pasar Aceh. Saat itu tidak ada masalah dengan tengah malam berada di luar ruamah. Namun setelah konflik mulai membesar di Aceh, jam malam mulai berlaku. Akibatnya bisoskop di Banda Aceh menutup pemutaran film di malam hari. Mereka hanya membukanya sore hari saja. Kondisi ini meyababkan bioskop SIB, Garuda dan Jelita Theater mati suri. Sebab sebelumnya pangsa pasar mereka ada di malam hari, terdiri dari pekerja dan mahasiswa yang hanya punya waktu malam hari untuk menonton.

Kemudian, pemberlakuan Syariat Islam juga mungkin menjadikan usaha ini menjadi tidak menarik bagi pengusaha. Sebab hampir diketahui bersama, dalam bioskop orang bukan hanya menonotn film saja, namun juga mengambil kesempatan bersepi-sepi, atau dalam bahasan Syariat Islam di Aceh, berhalwat. Sebuah pasangan yang masuk ke dalam gedung itu tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan, namun juga menjadi ajang di mana mereka bisa bermesra-mesraan, peluk cium dan meraba-raba. Kondisi ini ingin dihindari oleh pemerintah Aceh setelah penerapan syariat Islam. Oleh sebab itu ada sebuah seruan agar bioskop memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menonton. Saya memang tidak melihat hal ini dipraktekkan dengan baik di gedung bioskop. Namun setidaknya seruan ini menyebabkan pengusaha bioskop enggan membuka bioskopnya. Sebab akan sangat banyak pasangan muda yang menjadi target pasar mereka memilih tidak menonton bioskop dari pada ditangkap Wilayatul Hisbah (petugas pengawas penerapan syariat Islam) yang bertugas untuk menertipkan mereka.

Sejak konflik dan adanya penerapan syariat Islam di Aceh, operasi bioskop di Banda Aceh mulai surut. Bahkan setelah Pas 21 terbakar hanya Gajah Theater yang beroperasi. Seingat saya, tahun 2003 saya masih sempat beberapakali menonton bioskop di Gajah Theater. Di sanalah saya melihat instruksi dari pemerintah agar melakukan pemisahan penonton laki-laki dan perempuan sama sekali tidak diindahkan. Di dalam bioskop laki-laki dan perempuan tetap juga duduk bersama, seperti di berbagai bioskop kota lain di Indonesia. Namun saat itu bioskop hanya diputar sampai jam 18.30, sesaat sebelum azan maghrib. Hal ini berkaitan dengan jam malam yang diterapkan oleh pemerintahan militer yang sempat memegang kendali pemerintahan Aceh pada awal tahun 2000-an.

Bioskop Pasca Tsunami


Setelah tsunami melanda Aceh semua bioskop musnah. Gajah Theater yang bertahan sampai tsunami juga menutup usahanya hingga saat ini. Sekarang ini gedung Gajah Theater telah dipakai oleh aparat militer sebagai gudang logistik mereka. Saya tidak tahu apakah bangunan itu memang miliki militer. Sebab dari sisi lokasinya, Gajah Theater memang berada di dekat komplek militer, jadi memang memungkinkan kalau bangunan dan usaha itu memang milik mereka sebelumnya.

Apakah bioskop masih diperlukan di Banda Aceh? wallahu’a’lam. Dilihat dari sisi pengembangan kota dan kebutuhan modern masyarakat sebuah bioskop adalah keniscayaan. Apalagi belakangan ini masyarakat Aceh jelas terlihat kekurangan hiburan. Pusat-pusat hiburan dikunjungi banyak orang dan jauh melebihi kapasitasnya. Namun dilihat dari mudharatnya, terutama berkaitan dengan penerapan syariat Islam, menghadirkan bioskop mungkin perlu sebuah kajian mendalam lagi, baik dari film yang diputar, setting tempat duduk di dalam ruangan dan lain sebagainya. Saya sangat yakin, semangat Islam tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk mendapatkan hiburan.Wallahu’a’lam.

12 April 2010

Minum Kopi Bersama Tuhan

Saya hanya satu diantara jutaan dan mungkin milyaran penggila kopi di dunia ini. Seperti penggila lainnya, kebanyakan penggila kopi juga hanya menghabiskan waktunya dengan gelas-gelas kopi. Pagi, siang, sore malam. Kebanyakan tidak pernah mengambil pelajaran dari apa yang dilakukannya. Semua berlalu begitu saja, seperti air mengalir. Minum kopi adalah jalan melepaskan lelah, penat, bosan, sterss, atau sekedar hobi bersama teman. Sampai seorang teman “asing” muncul dan dia menjelaskan ada apa dengan kopi.

Saat sebuah SMS masuk ke ponselmu dari seorang teman, katanya memulai, yang isinya mengajakmu minum kopi. Engkau langsung membalas: “Oke, i’m coming!” tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan, tanpa macam-macam. Engkau sudah tahu maksudnya, engkau sudah tahu tempatnya. Namun, apakah engkau melakukan hal yang sama ketika azan menggema? engkau tahu apa artinya, engkau tahu di mana tempatnya, engkau tahu harus melakukan apa ketika mendengar suara itu. Tapi engkau mengabaikan, melanjutkan kerjamu.

Engkau habiskan waktu bersama teman-temanmu bercengkrama, bercerita, bersuara, berteriak dan terbahak di warung kopi. Kau kisahkan keluh kesahmu selama hidup, kau ceritakan kerjamu, keluarga dan masalahmu padanya. Terkadang engkau menjadi klein yang sedang curhat pada sahabatmu, namun terkadang kau menjadi konselor untuk masalah temanmu. Apakah kau melakukan hal yang sama di masjid? adakah kau bicara dengan Tuhan di sana? berlama-lama bersuka-ria bersama-Nya. Mengugkapkan masalahmu, mengatakan problem hidupmu, curhat masalah keluarga dan pekerjaanmu? Padahal Dia adalah konselor yang akan menyelesaikan masalahmu, bahkan yang engkau sendiri tidak tahu masalahnya apa.

Saat kau bisa paham terhadap masalah temanmu dalam keramaian, saat kau bisa mendengar jerit temanmu dalam kegaduhan warung kopi, saat kau bisa menerawang diri untuk introspeksi melihat kenyataan hidupmu dalam keributan di sana. Kenapa kau tidak bisa lakukannya dalam kesunyian masjid? dalam ketangangan dan kenyamanan? Bukankah di sana kau akan aman dan nyaman berfikir tentang dirimu, memberi nilai pada kelakuanmu, memberi reward atas kesuksesanmu dan menjatuhkan punishment atas kealpaanmu. Bukankah di sana kau akan lebih mendapatkan makna hidup? kenapa kau tak lakukan?

Kau memakan banyak makanan yang tidak sehat untuk dirimu, tidak sesuai untuk perutmu, hanya sekedar gaya dan menurutkan selera. Kau memesan makanan yang kau sendiri tidak terlalu suka dengannya. Kau membayar untuk asap yang masuk ke kerongkonganmu menitipkan racun lalu keluar kembali meracuni orang lain di sekitarmu. Tapi kau abaikan seorang pengemis yang datang menghampirimu. Dengan hormat kau katakan: “maaf”, seolah kau tak punya pecahan seribuan, atau bahkan limaratusan dalam saku celanamu. Padahal apa artinya uang kecil itu dibandingkan sepotong kue yang tidak membuatmu kenyang? apa artinya uang seribuan dibandingan sebatang rokok yang tak menyehatkan. Tapi engkau lakukan, seolah uang seribuan terlalu banyak bagi peminta.

Ayolah kita minum kopi bersama Tuhan. Kalau kau mampu melakukannya di warung kopi, kau bisa juga melakukan hal yang sama di masjid-masjid, musahalla-mushalla, atau di rumahmu sendiri, saat semua terlelap dalam mimpinya. Datanglah pada Sahabat Sejati. Dia yang mengetahui segala. Dia yang menyelesaikan masalah-masalahmu. Dia yang memberimu ketenangan yang kau takkan mungkin dapatkan dengan berapapun uang yang kau miliki.

09 April 2010

Tasawuf di Era Syariat

MELIHAT sejarah perkembangan pemikiran Islam, para pendukung tasawuf dan para pendukung syariat pernah berseteru. Bukan hanya di Timur Tengah di mana Islam mulai berkembang dan tumbuh besar, di Aceh pada abad XVII juga pernah terjadi. Al-Hallaj dan ‘Ain al-Qudhad al-Hamdani dihukum mati di tiang gantungan. Demikian juga buku Hamzah Fansuri pernah dibakar dan murid-muridnya diusir dari Aceh dan bahkan dibunuh. Alasan perseturuan itu sama saja, sekelompok ulama menganggap ulama lain telah meninggalkan ajaran Islam yang benar, dengan kata lain mereka telah sesat.

Apakah perseturuan itu masih ada hingga kini? Agak sulit menjawabnya secara tegas. Dalam konteks Aceh, selama ini hubungan antar ulama, baik secara kelembagaan maupun secara personal nampak baik-baik saja. Beberapa “riak” yang terjadi adalah suatu hal yang lumrah dalam perkembangan peradaban manusia.

Salah satu “riak” yang terjadi saat ini adalah pandangan beberapa ulama yang menempatkan tasawuf sebagai “aliran sesat” dalam pemahaman Islam kaffah. Hal ini disebabkan beberapa ajaran dalam tasawuf dianggap menyimpang dan tidak pantas dipelajari dan diketahui umat Islam. Beberapa hal yang sering disebutkan adalah konsep mengenai fana wa bawa, ittihad, hulul, wahdatul wujud, dan lain sebagainya. Konsep ini dianggap terlalu filosofis dan tidak mudah dicerna masyarakat awam. Kesalahan dalam memahaminya, bisa menjadi awal dari kesalahan beraqidah yang akan membawa umat pada kesesatan.

Sebenarnya akar dari pemahaman tasawuf dalam dimensi filosofis seperti di atas berawal dari pemahaman-pemahaman yang dikembangkan Abu Yazid al-Bistami dan Abu Mansur al-Hallaj sejak abad kedua hijriah. Mereka, mengaku sebagai pengalaman spiritual, mengatakan bahwa manusia mampu bersatu dan melebur bersama Allah. Hal ini diperoleh setelah manusia mensucikan harinya dari berbagai pengaruh duniawi sehingga ia murni, tinggal fitrah kemanusiaan dan dimensi ilahiyah dalam dirinya, maka ia akan dapat mendaki sebuah perjalanan menuju Allah.

Pandangan seperti ini, meskipun tidak sama persis, berkembang juga di tangan Ibnu ‘Arabi dan al-Jili beberapa abad berikutnya dengan konsepnya wahdatul wujud dan Insan Kamil. Ia mengemukakan bahwa Tuhan dan manusia pada hakikatnya satu kesatuan. Yang membuat nampak berbeda adalah wajud materil saja. Ini pula yang dikembangankan Hamzah Fansuri di Aceh. Dalam syair-syairnya ia mengumpamakan Allah dan Manusia dengan lautan dan gelombang. Meskipun zahirnya keduanya berbeda, namun hakikatnya satu kesatuan juga.

Pandangan seperti inilah yang menempatkan tasawuf dianggap sebagai ajaran”sesat”. Dalam pandangan banyak ulama lain, Tuhan adalah satu entitas yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan manusia, apalagi menyatakan manusia dan Tuhan sebagai satu kesatuan. Dalam beberapa ayat-Nya jelas dikatakan manusia sebagai ciptaan dan Dia sebagai Pencipta. Berdasarkan ayat-ayat tersebut dan dalam rasio yang diterima manusia, maka tidak mungkin sama antara pencipta dengan ciptaannya.

Perdebatan yang terjadi di kalangan ilmuan Islam tersebut sebenarnya pernah dicoba “selesaikan” oleh al-Ghazali. Kita tahu al-Ghazali setelah “lelah” berkelana dalam pemikiran filsafat yang menurutnya tidak dapat memberikan pencerahan batin kepadanya, ia berteduh di bawah pohon tasawuf. Pada saat itulah ia menulis salah satu karya besarnya, Ihya Ulumuddin. Banyak ilmuan Islam mengatakan ini adalah karya besar yang memadukan tasawuf dengan fiqh Islam. Al-Ghazali dengan sangat baik memberikan pemahaman bahwa tidak ada pertentangan antara tasawuf san fiqh, yang ada adalah saling menyempurnakan. Jika keduanya dipahami dengan benar dan diamalkan dengan baik akan menjadi dasar bagi kesempurnaan iman dan Islam seseorang.

Inti dari apa yang dikembangkan al-Ghazali pada dasarnya adalah harmonisasi antar pemahaman yang cenderung fiqh dengan pemahaman yang cenderung tasawuf saja. Bagi al-Ghazali Islam adalah kesatuan dimensi zahir dan dimensi batin manusia sekaligus. Menjalankan satu aspek ajaran Islam semata menjadikan ibadah tidak sempurna. Umpamanya, melakukan shalat tanpa disertai rasa ikhlas dan khusyuk, mencari rizki tanpa tawakkal, dan menjalani ketentuan Allah tanpa disertai dengan rasa tawadhu’, maka itu semua akan ditolak.

Model tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali di atas akan memupuk kesadaran beragama yang jauh dari rasa ujub dan takabur. Seseorang akan menjalankan ajaran agama karena ia memiliki semangat dan kesadaran bahwa apa yang dijalankannya adalah sebuah kebenaran dan akan mendekatkan dirinya dengan Allah. Lebih jauh, model pengamalan agama seperti ini juga akan menghindari sikap ekstrim yang berlebihan dalam melaksanakan ajaran agama dengan merendahkan, melecehkan, dan bahkan sama sekali tidak menghormati perbedaan yang ada sebagai sebuah sunnatullah.

Kehidupan beragama di Aceh belakangan ini ada dalam sebuah dilema yang rumit. Di satu sisi pemerintah Aceh telah menyatakan diri sebagai daerah penerapan syariat Islam. Di sisi lain hampir tidak ada perbedaan signifikan antara Aceh dan luar Aceh dalam hal keadilan, kemakmuran, keterberdayaan, korupsi, manipuasi dan lain sebagainya. Satu-satunya hal yang berbeda mungkin, hanyalah perempuan Aceh lebih banyak mengenakan jilbab daripada perempuan di daerah lain di Indonesia.

Kondisi ini menunjukkan Islam yang berlangsung di Aceh belum sampai pada hakikat kesadaran beragama. Nuansa semangat dan kesadaran mengamalakan ajaran agama masih sangat jauh dari keseharian masyarakat Aceh yang dipertunjukkan lewat kekuasan dan kehidupan sosial. Syariat Islam dijadikan kebanggan semata dengan mengeluarkan beberapa qanun yang tidak prinsipil yang kemudian lebih banyak menjadi masalah daripada solusi terhadap masalah kehidupan sosial. Dalam posisi inilah diperlukan sebuah pemahaman agama yang integral dan komprehensif.

Merujuk pada model tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali seperti yang saya kemukakan di atas, maka untuk konteks pemberlakukan syariat Islam di Aceh diperlukan sebuah pemahaman yang menempatkan fiqh dan tasawuf dalam posisi setara dan bersanding. Langkah paling mudah adalah melakukan internalisasi nilai moralitas dalam pembelajaran agama dengan penyesuaian konteks kehidupan sosial masyarakat modern.

Pengajaran agama bukan hanya menekankan dimensi hukum, namun juga akhlak. Akhlak bukan hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, orang tua dan manusia, namun juga kepada alam semesta dan sistem sosial. Banyak masalah yang ada saat ini sesungghnya dimulai dari pemahaman yang timpang mengenai moralitas ini. Dan dengan sebuah pendekatan yang integral antara dimensi tasawuf dan syariat mungkin ini akan menjadi sebuah sumbangan yang baik untuk kehidupan manusia yang lebiih beradab di masa yang akan datang.

Tulisan ini telah dipublikasi oleh Haian Serambi Indonesia: Jum'at 09 April 2010

05 April 2010

Indatu Ureung Aceh

Indatu adalah sebutan orang Aceh kepada funding father mereka. Kata ini sepadan dengan kata ‘nenek monyang’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘indatu’ tidak merujuk pada seseorang atau sekelompok orang tertentu, namun merujuk pada beberapa orang yang samar yang dianggap pernah hidup pada masa lalu. Kata indatu selalu disebutkan pada beberapa kesempatan yang berkaitan dengan tercemarnya moralitas, tercoreng harga diri, dan perubahan budaya pada sistem yang dianggap tidak memiliki dasar budaya sendiri. Arti kata ‘indatu’ dipersepsikan sangat kontekstual, sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung.

Pada kasus pencemaran moralitas, maka yang dianggap indatu adalah para ulama yang pernah hidup di Aceh sejak masa lalu hingga ulama yang meninggal belum lama. Orang Aceh menempatkan ulama sebagai bagian yang integral dan tidak terpisahkan dari kehidupan sosial mereka. Mereka menempatkan ulama sebagai rujukan untuk sebuah pembenaran mengenai salah dan benar dalam suatu perbuatan. Peran demikian ini menjadikan ulama sangat sentral karena semua perbuatan dan aktifitas yang dilakukan masyarakat dikaitkan dengan keputusan dari ulama. Karenanya, ulama tetap mendapatkan penghormatan, pun mereka sudah meninggal dunia.

Pencemaran moralitas yang dianggap telah mengotori ajaran indatu dari kalangan ulama umumnya berkaitan dengan pakaian dan pergaulan. Seseorang yang melihat banyak masyarakat yang memiliki gaya pakaian tidak sesuai dengan budaya Aceh (yang umumnya dikaitkan dengan Islam) maka masyarakat tersebut dianggap sudah mencoreng wajah indatu. Mereka telah mengkhianati budaya Aceh yang lalu yang penuh dengan nilai-nilai Islam dalam berpakaian. Mengenakan pakaian ala eropa yang terbuka dan tidak mengenakan kerudung berarti telah menjadikan orang luar Aceh sebagai patron dalam berpakaian. Ini salah satu indikasi kalau masyarakat Aceh telah melupakan ajaran indatu mereka.

Harga diri orang Aceh dalam hubungannya dengan indatu berkaitan dengan kebijakan politik. Dalam hal ini indatu yang dipersepsikan adalah mereka yang membangun kerajaan Aceh Darussalam ratusan tahun yang lalu. Mereka telah membangun kerajaan Aceh Darussalam sebagai sebuah bangsa merdeka seperti halnya bangsa-bangsa lain di dunia. Banyak orang Aceh bahkan sangat yakin kalau Aceh pada masa lalu termasuk salah satu kerjaan besar yang setara dengan Dinasti Otoman di Turki bahkan dengan kerjaan Inggris di Eropa. Kebesaran kerajaan Aceh ini dikaitkan dengan kepemimpinan beberapa rajanya yang berjaya menjadikan Aceh go Internasional melalui perdagangan dan kerja sama peperangan.

Dengan persepsi di atas, maka ketertundukan kepada berbagai kebijakan pemerintah, dalam hal ini Indonesia, yang terjadi selama ini dianggap telah “melukai” hati indatu yang berjuang keras menegakkan kerajaan Aceh Darussalam di masa lalu. Apalagi ketertundukan yang dilakukan pemerintah Aceh saat ini bukan sekedar ketertundukan administratif di mana Aceh mengakui diri sebagai bagian dari Indonesia, namun juga ketertundukan politik. Ketertundukan polisitk ini ditunjukkan ketika politik dan kebijakan di Aceh sangat ditentukan oleh kebijakan politik di Jakarta. Berbagai penghargaan dengan menyebut Aceh sebagai daerah istimewa tidak berarti apa-apa. Politisi dari pemerintah pusat tetap mendominasi kebijakan politik di Aceh. Ketertundukan ini juga dianggap sebagai praktek yang telah mencoreng harga diri indatu orang Aceh masa lalu.

Aspek lain yang dianggap “mencoreng muka” indatu adalah kecenderungan masyarakat yang mengikut gaya hidup yang jauh berbeda dengan apa yang pernah ada dalam masyarakat Aceh dalam sejarah. Beberapa gaya makan, prosesi budaya –seperti pernikahan dan pesat lainnya-, juga hubungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari yang dianggap lebih bebas dari sewajarnya. Perilaku ini merupakan salah satu indikasi kalau masyarakat Aceh dianggap telah meninggalkan ajaran indatu mereka.

Kuasa Indatu

Dalam beberapa masyarakat suku di Nusantara ada keyakinan bahwa nenk monyang mereka yang sudah ada di alam akhirat dapat mempengaruhi kehidupan mereka yang masih ada di dunia. Inilah yang menyebabkan beberapa suku Dayak dan Asmat membuat kuburan batu sebagai tempat peristirahatan yang baik bagi tulang belulang nenek monyangnya. Demikian juga orang Batak Toba besaing membangun Tugu tempat menyimpanan tulang belulang nenek monyang mereka di pulau Samosir. Ini semua dilakukan agar nenek monyang tidak murka kepada mereka yang masih hidup namun lalu menurunkan bencana kepada mereka.

Dalam tataran konsep pandangan seperti tersebut di atas hampir tidak ditemukan dalam masyarakat Aceh. Hal ini disebabkan keyakinan bahwa orang yang telah meninggal dunia tidak memiliki hubungan dengan oarang yang masih hidup di dunia. Mereka telah berada di alam sana yang sama sekali tidak mampu lagi mengatur berbagai problematika kehidupan di alam dunia. Para ulama di Aceh juga selalu menjelaskan persoalan ini kepada umat Islam. Bahwa seseorang yang telah pergi meninggalkan dunia, maka hubungannya telah terputus dengan dunia ini. Ia sama sekali tidak dapat mengintervensi lagi apa-apa yang terjadi di dunia.

Pun demikian dalam beberapa kelompok masyarakat keyakinan bahwa indatu mereka dapat memberi berkah, memberi kesembuhan, memberi kedamaian dan bahkan dapat menjadi perantara untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. Hal ini terlihat dari beberapa prosesi budaya yang berkembang dalam masyarakat. Di beberapa kuburan indatu orang Aceh dilaksanakan prosesi penghormatan kepada mereka. Sekelompok masyarakat di Aceh Jaya misalnya, melaksanakan sebuah kenduri masal pada harii Raya Idul Adha setiap tahun untuk menghormati indatu mereka yang dimakamkan di sebuah bukit pinggir laut. Demikian juga dengan masyarakat Nagan Raya yang menempatkan sebuah makam indatu mereka sebagai tempat yang mulia. Mereka datang ke sana untuk berdoa dan beribadah dengan harapan ibadah mereka lebih cepat diterima Allah.

Penghormatan pada Indatu

Yang paling banyak dilakukan masyarakat Aceh adalah penghormatan pada indatu mereka dengan memberikan pelayanan pada makam dan nama besar mereka. Di Aceh ada sebuah kenduri yang dikenal dengan nama kenduri jeurat. Kenduri ini adalah salah satu prosesi yang dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menghormati mereka yang telah meninggal dunia. Dalam prosesi ini, selain membersihkan makam-makam umum, makam keluarga dan makam-makan tokoh yang mereka hormati, juga mengadakan doa bersama kepada mereka yang sudah ada di alam sana. Doa ini dikirim kepada mereka dengan memohon kepada Allah agar memberikan mereka kebahagiaan dan menjauhkan mereka dari siksa.

Penghormatan lain yang diberikan dengan membuat bangunan yang bagus di atas makam-makam tertentu. Seperti halnya di daerah lain di seluruh dunia Islam, makam ulama, raja, pahlawan, dan orang penting lainnya berbeda dengan makam masyarakat biasa. Di atas makam mereka didirikan bangunan beton yang kuat sehingga bisa bertahan puluhan tahun. Pada beberapa makam penting, seperti makam Syiah Kuala di Banda Aceh, juga disediakan mushalla tempat di mana orang bisa beribadah dan berdoa. Makam-makam seperti ini bukan hanya dikunjungi oleh orang Aceh saja, namun banyak pula yang berasal dari luar Aceh, bahkan luar negeri, seperti Malaysia.

Indatu dan Pemberontakan

Sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kepada negara Republik Indonesia selama hampir sepuluh tahun (1998- 2005) memasukkan indatu sebagai salah satu alasannya. Bagi kelompok GAM, Aceh adalah sebuah negara berdaulat sebagai negara sendiri dan bukan menjadi bagian dari negara lain seperti yang terjadi selama ini. Oleh sebab itu bergabungnya Aceh dengan Indonesia telah melangkahi perjuangan Indatu Ureung Aceh masa lalu di mana mereka telah bersusah payah berjuang mendirikan Aceh sebagai negara berdaulat. Apalagi, menurut GAM, selama bergabung dengan Indonesia Aceh dijadikan sapi perahan dengan mengambil seluruh kekayaan alam di Aceh dan membawanya ke Jakarta, sementara orang Aceh sendiri hidup menderita.

Dengan alasan meneruskan perjuangan indatu tersebut, GAM melancarkan pemberontakan pada negara Repulik Indonesia. Pemberontakan ini sering dianggap sebagai kelanjutan dari pemberontakan lain yang memang terjadi di Aceh sepanjang sejarah. Pada masa kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam sekalipun berbagai pemberontakan telah dilakukan oleh orang Aceh melawan Portugis, Inggris, Belanda, Jepang, dan lain sebagainya. Dengan demikian pemberontakan yang dilakukan kepada pemerintah Indonesia adalah salah satu “kalanjutan” dari rangkaian pemberontakan tersebut. Meskipun akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 2005 GAM mengakhiri pemberontakannya, namun pemikiran yang menempatkan indatu sebagai dasar untuk mengatakan hubungan Aceh-Indonesia bermasalah, masih ada dalam banyak jiwa orang Aceh hingga sekarang ini.

Masa Depan Indatu

Keyakinan akan peran besar indatu dalam kehidupan duniawi orang Aceh telah menjadi sebuah spirit dalam banyak hal. Meskipun tidak secara langsung, adanya keyakinan akan keberadaan indatu menyebabkan tumbuhnya semangat berbuat baik dan memperjuangkan kebenaran. Pasti tidak semua apa yang terjadi di aceh dan dilakukan dalam masyarakat Aceh didorong oleh keberadaan indatu, namun setidaknya itu menjadi faktor dominan dalam beberapa praktik budaya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi modern apakah semangat yang dilatari oleh keberadaan indatu ini akan punah? Waktu akan menjawabnya. Namun belajar dari beberapa bangsa besar jelas menunjukkan mereka tetap menempatkan pahlawan dan orang yang berjasa sebagai bukti semangat. Beberapa bangsa bahkan memahat patung besar untuk mengenang nenek monyang mereka. Di Eropa dan Amerika sekalipun, negara yang tingkat rasionalitasnya sudah maju, kebudayaan modern semakin berkembang, penghomatan pada indatu tetap mereka lakukan. Wallahu’a’lam.

tulisan ini pernah dimuat di Harian Aceh, Maret 2010