05 February 2010

Kenapa Orang Jawa Tidak Mau Memberontak?

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya: Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa. Kali ini saya ingin berbagai cerita tentang pandangan masyarakat Wonodadi mengenai pemerintah dan berbagai “kezaliman” yang dilakukan pemerintah kepada mereka. Sebenarnya saya ingin menjawab pertanyaan yang sempat saya ajukan pada diri saya sendiri sebelum saya pergi dan tinggal di sebuah rumah pedalaman Jawa selama dua minggu: kenapa masyarakat Jawa tidak memberontak pada NKRI? Namun setelah tinggal di sana saya tetap tidak bisa menjawabnya. Selain karena saya hanya tinggal selama dua minggu, keterbatasan komunikasi karena faktor bahasa membuat saya tidak dapat maksimal mengeksplorasi pandangan hidup mereka. Beberapa kejadian yang saya alami di sana sedikit mengarah ke jawaban pertanyaan saya. Namun saya tidak berani menyimpulkan apapun.

Suatu hari di Wonodadi saya pergi dengan Pak Nurdin yang hendak mencari rumput untuk pakan kambing peliharaannya. Untuk mencari rumput, kami perlu mendaki sebuah gunung yang becek namun tidak terlalu terjal. Di sana ditanam rumput gajah untuk pakan sapi dan hidup secara liar rambatan untuk makanan kambing. Di sela-sela mencari rambatan saya berdiskusi dengan Pak Nurdin mengenai kehidupan mereka. Dari diskusi itu antara lain Pak Nurdin mengatakan kalau dusunnya sekarang semakin sulit. Masyarakat semakin banyak, sementara tanah tidak bertambah. Hutan yang ada di sekeliling dusun juga milik Perhutani. Kalau ada tanaman di sana, misalnya kopi, harus membayar pajak kepada Perhutani setiap tahun. Katanya uang keamanan. Masyarakat diperbolehkan mengambil getah Pinus milik perhutani. Namun mereka harus membawa ke tempat penampungan di kecamatan. Dan itu dengan berjalan kaki menelusuri jalan pegunungan yang sangat susah. Padahal per kilogram Perhutani hanya membayar Rp. 2.000,- Harga ini menurut Pak Nurdin sangat tidak sesuai dengan kerja keras yang mereka lakukan dalam mendapatkan getah Pinus.

Saya bertanya, kalau Bapak merasa tidak adil, kenapa bapak tidak sampaikan kepada mereka? Pak Nurdin mengatakan: “Susah Mas, kalau disampaikan nanti malah ngak dapat apa-apa lagi. Lagian, meskipun harga getah murah dan susah membawanya, kita kan tetap bisa menanam kopi dan mendapatkan hasil kopi setiap tahun. Apalagi kalau nanam kopi di kebun Perhutani kopinya aman dan tidak diganggu. Paling ada orang-orang nakal yang mengambil sedikit. Kita biarkan saja.”

Di hari yang lain saya pergi ke Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan. Kajen adalah kota kecil yang nampaknya tidak ada geliat pembangunan. Saya mencari-cari batik pekalongan di Kajen, tapi tidak menemukan. Menurut info dari seorang warga yang saya tanyai, Batik Pekalongan banyak dijual di Pekalongan Kota. Saat naik angkot, saya duduk di depan dan berbincang-bincang dengan sopir angkot. Antara lain saya menanyakan mengenai pembangunan yang dilakukan oleh bupati mereka yang perempuan. Katanya, bupati sekarang hanya fokus dalam mambangun rumah ibadah. Dalam beberapa tahun terkahir kepemimpinannya, beberapa masjid besar dibangun, dan banyak sumbangan untuk masjid-masjid kecil. Ia tidak membangun jalan dan sarana publik yang lain.

Saya katakan pada Sopir, kalau itu suatu hal yang bagus, siapa tahu dari situ akan lahir kader-kader terbaik Pekalongan yang dapat membangun kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Bang Sopir mengatakan, “kalau niatnya begitu tidak masalah. Tapi ini kan dia (bupati) mau menutup aib setelah kasus perselingkuhannya dengan wakil bupati terbongkar dan diketahui masyarakat banyak.” Kalau anda tahu mereka berslingkuh kenapa di didemo atau digugat sama-sama ke pengadilan? Kenapa dewan diam saja? Jangan-jangan itu main-mainan lawan politik mereka saja? Sopir nampak serius dan mengatakan. Benar lho mereka selingkuh. Tapi kan tidak ada yang berani melapor dan menggugat. Kalau mahasiswa berani mendemo SBY, karena mereka tidak dapat apa-apa dari SBY. Tapi mahasiswa takut demo sama bupati, nanti mereka tidak mendapat bantuan lagi.

Saat duduk di pangkalan ojek menunggu doplak yang akan membawa saya pulang ke Wonodadi, saya berbincang dengan tukang ojek mengenai pembangunan di bawah pemerintahan bupati Pekalongan sekarang ini. Jawabannya sedikit berbeda dengan Sopir Angkot. Katanya bupati hanya fokus membangun pasar. Di mana-mana pasar dibangun, diperluas dan dilengkapi dengan fasilitas yang bagus. Tapi bupati tidak membangun jalan. Di mana-mana jalan rusak dan tidak diperbaiki. Saya mengatakan kalau pasar itu kebutuhan banyak orang dan memang diperlukan dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Namun Bang Ojek mengatakan itu semua dilakukan untuk menutupi berita perselingkuhannya dengan wakil bupati. Saya sedikit komentar: kalau masyarakat tahu bupatinya selingkuh dan memiliki bukti, kenapa diam saja? Bang Ojek menjawab: “Wah… di sini susah mas. Orang kalau sudah bisa hidup, dapat makan seadanya, sudah cukup. Tidak mau ribut-ribut. Mahasiswa saja yang biasanya suka demo juga diam saja, apalagi masyarakat seperti saya ini, bagusan nrimo saja. Kan kata orang-orang tua dulu, nrimo itu pangkal kebahagiaan.”

03 February 2010

Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa (1)

Dua minggu terakhir bulan Januari 2010 yang mengkuti pelatihan penelitian etnografi dengan taman-teman dari Jurusan Antropologi UGM Jogjakarta. Pelatihan ini langsung menempatkan mahasiswa di lapangan selama dua minggu. Kali ini, lapangan yang dipilih adalah dua kecamatan di Kab. Pekalongan Jawa Tengah, yaitu Kec. Lebakbarang dan Kec. Petungkroyono. Kedua kecamatan ini berada dalam hutan dan memiliki jalan akases yang agak sulit ke kota. Tingkat kesulitannya berbeda-beda. Sebagian besar dusun di Kec. Lebak Barang jauh lebih mudah diakses sarana transportasi dibandingkan dengan kebanyakan dusun di Petungkriyono. Saya sendiri dikirim ke dusun Wonodadi, Kec. Petungkriyono bersama dengan seorang mahasiswa Antropologi UGM semester lima.

Perjalanan Panjang dan Melelahkan

Perjalanan ke Wonodadi kami mulai dari Jogja dengan bus selama enam jam. Kami berhenti di Simpang Durian Kec. Karanganyar, Pekalongan. Dari sana kami naik “doplak”, sebutan masyarakat di sana untuk minibus pickup, menuju lokasi. Perjalanan dengan doplak menghabiskan waktu tiga jam melewati perkampungan dan perkebunan. Setelah satu jam perjalanan mulai mendaki gunung dengan jurang di sebelah kanan dan tebing curam di sebelah kiri. Beberapa kali kami terasa sampai ke puncak gunung yang diselimuti kabut dan samar-samar melihat tumpukan-tumpuan pemukiman di lereng gunung yang lain. Tumpukan pemukiman itu adalah dusun-dusun yang dihuni oleh masyarakat. Di sekitarnya terlihat hutan belantara yang hijau.

Ketika jalan sudah berakhir dan tidak bisa ditempuh lagi dengan doplak, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 2 km. Perjalanan ini harus menempuh sebuah turunan curam dan tanjakan terjal. Turunan ini basah dan becek karena terus diguyur hujan. Di sisi kiri saya terlihat persawahan masyarakat yang bertingkat dan membentang luas sampai ke lembah. Sementara di sisi kanan beberapa buah air terjun kecil menghiasi jalan. Air tersebut mengalir di sisi jalan bahkan banyak yang masuk ke area jalan hingga jalan menjadi sangat basah. Belakangan saya ketahui jalan itu adalah jalan yang dibuat sendiri oleh masyarakat secara kerja sama. Mereka butuh waktu empat tahun untuk menyelesaikan jalan 2 km tersebut. Saya membutuhkan istirahat tiga kali sebelum sampai ke dusun. Olah raga yang kurang dan tidak terbiasa mungkin menjadi penyebabnya. Seorang laki-laki yang melihat saya kelelahan saat mendaki jalan yang menuju ke dusun menawarkan bantuannya. Ia mengangkat tas pakaian saya dan membawa kami ke rumah kepala Dusun Wonodadi.

Wonodadi, Dusun Yang Baru Merdeka

Dusun Wonodadi adalah sebuah dusun di Desa Songowedi Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Dusun ini dipimpin oleh seorang laki-laki paruh baya yang dipilih oleh masyarakat. Namun karena ia tidak memiliki ijazah SMP, sebagai persyaratan untuk menjadi kepala dusun, maka secara administratif pemerintahan SK kepala dusun dibuat atas nama anak laki-lakinya. Di dusun ini jarang sekali ada orang yang berusia paruh baya memiliki ijazah. Bahkan banyak masyarakatnya tidak tamat SD. Dua bulan yang lalu ada program dari UGM Jogja melaksanakan sekolah buta aksara dan banyak warga yang mengaku ikut program itu. Sayangnya setelah program itu berakhir, berakhir pula kegiatan baca tulis dalam masyarakat.

Ini semua terjadi karena Wonodadi baru saja merdeka dari isolasi kehidupan. Dibuatnya jalan oleh masyarakat empat tahun yang lalu mengawali terbukanya akses ke Wonodadi. Program PNPM membantu membuat jalan setapak yang menanjak dari Wonodadi ke kelurahan. Pemerintah membantu membuat sebuah jembatan yang kokoh sehingga pada “musim terang”, istilah masyarakat untuk musim kemarau, mobil tertentu bisa masuk ke Wonodadi. Sebuah turbin pembangkit listrik tenaga air diletakkan di dekat jembatan. Turbin inilah yang menjadikan kehidupan malam masyaraat Wonodadi lebih terang. Dan itu baru terjadi setahun terakhir. Jembatan dan turbin listrik adalah awal “kemerdekaan” masyarakat. Saat ini mereka sudah bisa menenton televisi dan membuat rumah dari semen. Sebuah masjid beton yang nampak kokoh berdiri di tengah dusun.

Hidup dari Alam


Setiap pagi laki-laki dan perempuan berjalan ke arah Selatan Dusun. Di sanalah gunung di mana masyarakat mencari rizki untuk kehidupan mereka. Sebuah gunung yang berhutan lebat seolah sebuah supermarket yang menyedikan berbagai keperluan hidup masyarakat. Di sana tumbuh ratusan pohon aren, kopi, dan cengkeh. Aren diambil oleh masyarakat setiap hari yang kemudian diolah menjadi gula jawa. Sementara kopi dan cengkeh hanya dipanen sekali dalam setahun ketika sampai musimnya. Di lereng-lereng gunung masyarakat menanam padi sepanjang tahun. Sampai saat saya berada di sana mereka belum pernah merasakan musim kering dan gagal penen karena ketersediaan air yang cukup. Semua padi disimpan dan dikonsumsi sendiri. Menjual padi sebuah hal yang tabu bagi masyarakat. Itu hanya dilakukan kalau mereka benar-benar tidak memiliki sesuatu yang lain untuk dimakan.

Masyarakat sangat tergantung dengan hasil yang diberikan alam. Aren, kopi dan cengkeh adalah tanaman yang tidak perlu perawatan dan pemupukan. Ia tumbuh sendiri dengan subur. Masyarakat hanya mebersihkan di bagian bawahnya sesekali. Beberapa warga yang saya temui bahkan tidak mengetahui siapa yang menanam kopi dan cengkeh di kebunnya. Sejak ia lahir kopi dan cengkeh itu sudah ada di sana dan dia hanya mengambilnya. Ia juga tidak pernah bertanya pada Bapaknya, apakah ia pernah menanam tanaman tersebut. Kenyataannya saat ini pohon-pohon itulah yang menghidupi mereka.
Satu-satunya sumber ekonomi yang terencana adalah peternakan sapi. Hampir semua masyarakat memelihara sapi di kebunnya. Sapi-sapi itu dikurung saja dan tidak dilepaskan. Saban hari mereka mencari rumput untuk makanan sapi. Rumput makanan sapi dicarikan oleh perempuan dan laki-laki. Perempuan yang menggendong seikat besar rumput makanan sapi di punggungnya adalah hal yang biasa dan lumarah saja di Wonodadi. Ini dilakukan di lereng-lereng terjal dan tanjakan atau turunan.

Bersambung....



15 January 2010

Etnografi: Mendesain Metode Pembelajaran

(Selasa, 140110) Pagi ini kami pergi menuju Fakultas Ilmu Budaya UGM untuk menemui panitia pelaksana. Saya menjumpai Mas Sarwo dan Mbak Lala. Keduanya adalah panitia yang akan menghandel program ini di UGM. Kami menjumpainya di perpusatakaan antropologi UGM. Perpustakaan ini terletak di bagian paling Selatan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Saya tidak masuk ke dalam perpustakaan. Namun nampaknya perpustakaan kecil saja, sebab bangunannya juga kecil dan rendah. Mas Jarwo menyalami kami dan memperkenalkan kami kepada Mbak Lala dan beberapa mahasiswa yang lain yang terlibat dalam program ini. Mbak Lala-lah yang menjelaskan program ini kepada kami secara lengkap. Sayangnya kami belum berjumpa dengan Mas Pujo Sumedi.

Dari informasi yang kami dapatkan ternyata program ini dilakukan untuk mahasiswa antropologi UGM secara rutin setiap tahun. Bahkan mereka memiliki daerah “praktek” yang tetap, di mana mereka mengirimkan mahasiswanya ke sana setiap tahun. Bahkan beberapa kali mereka juga mengirimkan mahasiswanya ke daerah lain di Indonesia untuk sebuah praktek penelitian etnografi. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk diikuti oleh mahasiswa yang lain, bahkan ada beberapa mahasiswa yang ikut adalah mahasiswa Pascasarjana yang belajar dengan Bapak Pujo Sumedi. Kami, dari Aceh adalah bagian dari acara ini dan bergabung dengan peserta yang lain di UGM. Panitia telah menyusun perencaan yang matang untuk acara ini. diantaranya, kami dari Aceh akan membayar Rp. 100.000,- sebagai peserta. Namun uang ini akan “dikembalikan” kepada peserta –bahkan ditambah Rp. 200.000 lagi- untuk diberikan kepada “ibu kos” saat berada di lapangan nanti. Sementara biaya transportasi akan ditanggung sendiri oleh pantia UGM.

Dalam misi kunjungan etnografi kali ini, panitia UGM memilih sebuah tema besar “Di bawah bayang-bayang cahaya kota.” Tema ini dipiliha berdasarkan gambaran umum lokasi penelitian. Menurut survey awal terlihat desa-desa yang ada di sana adalah desa transisi kepada perubahan yang ada di kota. Dengan jalan yang sudah bagus, aliran listrik yang lancar dan adanya singnal untuk handphone, maka semua perubahan yang ada di kota juga akan terjadi di desa. Mereka mengkonsumsi berita televisi sebagaimana yang dikonsumsi masyaraat kota. Demikia juga mereka mengkonsumsi suguhan iklan dan terpengaruh olehnya seperti halnya masyarakat kota. Sehingga berbagai pola hidup desa mereka merujuk pada pola hidup masyarakat kota. Di sisi lain mereka tetap tidak bsia melepaskan kehidupann pedesaan yang serba terbatas, seperti penghasilan, fasilitas kebersihan, sistim kehiudpan bersama dan lain sebagainya. Fenomena ini duterjemahkan ke dalam sub-sub kecil lain yang dapat dipilih oleh peserta. Ada sepuluh sub tema kecil, diantaranya, pemerintahan desa, konsumsi, kecantikan, agraria, dan pola kerja.

Esok malam, 15/01, semua peserta akan dikirim ke dua desa di Jawa Tengah. Desa yang dipiliha adalah Desa Lebak Barang dan Petung Proyono di Kecamatan Pekalongan. Daerah ini akan ditempuh selama enam jam perjalanan bus dari Jogjakarta. Panitia telah menyediakan bus wisata sebagai sarana transportasi yang akan membawakan semua peserta ke sana. Di sana akan dikumpulkan di kantor Koramil untuk makan pagi. Kemudian akan melanjutkan perjalanan ke dusun masing-masing dengan mobil pick up, satu-satunya sarana transportasi umum yang tersedia di wilayah kerja. Bagi saya ini bukan hanya sebagai sebuah cara belajar etnografi semata, namun juga sebuah perencanaan petualangan yang menantang.

Ada sebuah penggambaran umum yang diberikan oleh Mbak Lala tentang lokasi lapangan yang akan kami kunjungi. Lokasi ini adalah daerah perkampungan Jawa di mana banyak masyarakatnya yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Secara geografis daerah tujuan ini adalah dataran tinggi yang dingin sehingga kami dipesan untuk membawa baju hangat dan pakaian secukupnya. Sebab ada kemungkinan di sana akan terjadi musim hujan. Bahkan saat di daerah lain musim kering di sana sering terjadi musim hujan. Banyak masyarakat yang pergi ke sawah dan ladang dengan menggunakan baju hujan. Desa-desa tujuan kebanyakan juga masih sangat sederhana dalam fasilitas publik, seperti toilet dan tempat mandi. Beberapa desa masih menggunakan pemandian umum di mana semua orang satu dusun mandi di sana.

Entah bagimana gambar sebenarnya dari lokasi itu, saya tidak tahu. Mudah-mudahan saya sampai ke sana dengan selamat dan dapat belajar menulis dan menceritakan kepada dunia tentang apa yang terjadi dalam salah satu bagian buminya.


14 January 2010

Banda Aceh – Yogyakarta: Siapkah kita Menjadi Masyarakat Dunia?

Seperti telah direncanakan kami berangkat ke Jogja pada pagi hari Rabu, 13 Januari 2010 naik pesawat Lion Air. Tiba di bandara Banda Aceh hari masih sepi. Namun banyak calon penumpang yang sudah menunggu di lobby. Beberapa porter dengan sedikit ramah, atau berusaha meramahkan diri, menawarkan jasa membawa tas dan melakukan chek in. Di beberapa bagian lobby bandara tertulis jasa porter Rp.5.000,- untuk satu kali bantuan. Namun berdasarkan pengalaman beberapa teman, mereka harus bayar Rp. 30.000,- bahkan Rp. 50.000,-. Saya tidak tahu apa benar demikian atau pengakuannya saja. Saya sendiri lebih suka mengurus sendiri. Apalagi tidak banyak bawaan. Dalam pepergian seperti ini saya selalu berusaha meminimalisir bawaan. Cukup sebuah tas jinjing atau ransel dan sebuah tas pakaian yang saya masukkan ke bagasi.

Setelah chek in masih ada waktu setengah jam untuk keberangkatan. Kami masuk ke ruang tunggu. Sebelumnya semua calon penumpang harus bayar pajak bandara Rp.25.000,- Saya dengar dari beberapa teman, Indonesia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan membayar pajak di bandara. Bahkan kalau mau ke Luar Negeri, kita harus merogoh kantong Rp. 100.000,- sekali bepergian. Di sisi penerima pajak ada bangku lain yang bertuliskan Sumbangan Untuk pembangunan Aceh Besar. Bangku ini dijaga oleh sepasang anak muda. Ketika saya tanya mereka menjelaskan bahwa sumbanguan itu sifatnya sukarela. Ya sudah, karena saya pernah tinggal di Aceh Besar, tidak ada salahnya memberikan sumbangan pembangunan Aceh Besar, Rp. 5.000,-
Bandara Banda Aceh yang sudah berubah menjadi bandara Internasional, saat ini telah dilengkapi berbagai fasilitas yang layak seperti bandara internasional yang lain di Indonesia. Saya sempat masuk kamar kecil sebelum masuk ruang tunggu. Kamar kecilnya rapi, bersih dan wangi. Sayangnya ada sisa pembuangan yang tidak habis disiram. Nampaknya “pengunjung” terakhir lupa menyiram buangannya. Fasilitas yang bersih dan indah ini menjadi tidak berarti di tangan orang yang tidak sadar. Saya jadi malu pada mbah Surip almarhum.

Di pintu masuk boarding terpampang sebuah banner yang bertuliskan tahapan orang masuk ke pesawat. Yang pertama adalah ibu yang memiliki bayi, orang tua dan orang cacat. Dilanjutkan dengan mereka yang duduk di kursi bagian depan, bagian tengah dan terakhir yag duduk di belakang. Namun tulisan tetap hanya menjadi saksi atas semua peritiwa. Tidak ada kepedulian dengan peraturan itu. Semua orang berdiri dan mulai masuk. Seorang bapak paruh baya yang mendorong kursi roda meminggirkan kursinya karena tidak bisa berdesakan dengan antrian. Hanya satu orang ibu dengan bayinya yang tetap antri dengan penumpang lain. Ia nampaknya sedang mengajarkan bayinya tentang kehidupan yang keras ini.

Turun di Polonia Medan 50 menit kemudian kami harus ikut turun juga. Turun sekedar melapor, masuk ruang tunggu, keluar dan naik pesawat lagi. Kalau cepat dan bukan waktu yang padat, proses ini selesai dalam lima belas menit. Namun tidak jarang harus antri lama hanya untuk mendapatkan secarik kertas bertulis “transit” lalu memberikan kembali kepada petugas dan kemudian naik ke pesawat kembali. Hal ini lumrah saja jika pesawatnya diganti, namun terkadang pesawat yang sama juga harus mengikuti prosedur itu. Prosedur ini dilakukan dalam semua perjalan dari Banda Aceh ke Jakarta atau sebaliknya jika singgah di Polonia Medan.

Dua jam kemudian kami sampai di Bandara Cengkareng, Jakarta. Ini adalah bandara Internasional yang besar. Saya tidak tahu apapkah ada yang lebih besar dari cengkareng di Indonesia. Sebagai bandara yang ada di pusat ibu kota maka bandara ini menjadi pijakan awal para pengunjung Indonesia dari berbagai belahan dunia dan berbagai daerah. Sebab sangat jarang ada penerbangan natar daerah di kepulauan besar di Indonesia tanpa melewati Jakarta. Ini adalah sisa sentralisasi ala Sueharto yang belum diubah oleh pemerintah saat ini sebab mereka sedang sibuk dengan Bank Century. Bandara Suekarno-Hatta adalah bandara yang besar. Saya bayangkan kalau lahan ini ditanami ganja mungkin hasilnya dapat menjadi devisa tunggal untuk pembangunan Indonesia sepuluh tahun mendatang. Napakat?

Masuk ke ruang tunggu, di sambut dengan dua loket asuransi kecelakaan pesawat terbang, sebuah lokat “Inspeksi Bandara” dan sebuah loket Palang Merah Indonesia. Banyak orang yang singgah di loket asuransi kecelakaan pesawat udara. Asuransi ini menjanjikan premi besar untuk para pelanggannya. Saya tidak pernah membayar asuransi ini. Padahal sangat jarang keajaiban terjadi pada kecelakaan pesawat untuk tetap hidup dan selamat. Kebanyakan adalah “Seluruh penumpang dan kru pesawat meninggal dunia.” Asuransi setidaknya dapat menjamin keluarga yang ditinggalkan terjamin keuangannya, sehingga terjamin pula pendidikan anak-anaknya. Namun siapa tahu saya mengambil asuransi? Kalau pesawat yang saya tumpangi kecelakaan dan saya mati, apakah keluarga saya tahu saya mendaftar asuransi? Kalau saya beri tahu, apa bukti yang dipegang oleh keluarga saya untuk mengklaim asuransi? Entahlah, mugkin satu saat saya ingin mendaftar asuransi untuk mengetahui jawabannya.

Masuk ruang tunggu selalu nampak beberapa sampah yang berserakan di lantai. Di antaranya minnuman kaleng dan botol air mineral yang diletakkan dipinggiran tiang yang di sana disedikan tong sampah. Jarak antara botol minuman kaleng yang masih tegak dengan tong sampah itu hanya 30 cm. Saya tidak yakin si pemiliki botol tidak melihat tong sampah. Mungkin ia berharap cleaning service membantunya.

Beberapa kamar kaca disedikan untuk perokok. Di setiap sekat dinding sepanjang lorong-lorong masuk ke ruang tunggu utama ditempel stiker tanda dilarang merokok. Sebuah spanduk besar digantung dengan tulisan dilarang merokokdi ruang ber AC. Namun di beberapa tempat terlihat terserak abu rokok, terutama di pinggir dinding dan tiang. Beberapa perokok, semua laki-laki dengan baju kaos oblong dan bersepatu, malah asik menikmati rokoknya di dekat sebuah famplet besi bertulis besar-besar, dilarang merokok. Dua petugas perempuan muda berbaju hijau mendatangi mereka dan meminta para perokok mamasukkan rokoknya ke dalam gelas yang diisi air. Beberapa perokok agak keberatan, tetap saja menghisap rokoknya di depan perempuan muda yang sedang menunggu dengan gelas di tangan. Meskipun akhirnya mereka mematikan rokoknya dan tertawa di belakang perempuan itu. Saya tidak tahu apa yang lucu dari peristiwa itu dan kenapa mereka tertawa.

Sebuah pot berisi pesanan kopi otomatis di sedikan di salah satu bagian ruang. Masukkan uang sejumlah harga yang ingin dipesan, tekan gambar kopi yang hendak di pesan, maka segelas kopi akan keluar. Ini merupakan fasilitas yang memudahkan para pelancong. Sayangnya banyak air yang tumpah di lantai dan bekar gelas yang berserakan. Beberapa orang yang menggunakan fasilitas itu hanya tahu cara membeli kopi tapi tidak tahu menjaga agar kopinya tidak tumpah di lantai.

Saat jam menunjukkan waktu seperi yang tertulis di tiket, tidak ada tanda-tanda keberangkatan ke Jogja akan dilakukan. Meskipun di sana ada beberapa awak Lion Air, namun tidak ada tindakan pemberitahuan yang diberitahukan. Semua menunnggu dengan diam saja. Setelah menunggu lebih dua puluh menit baru ada pengumuman bahwa pesawat siap diberangkatkan dan calon penumpang dipersilahkan memasuki pesawat dari jalan yang telah ditetapkan. Beberapa penumpang nampak membawa koper besar yang akan dibawa masuk ke dalam kabin pesawat. Biasanya laki-laki paruh baya dengan jaket dan sepatu mengkilat. Mereka nampaknya orang sibuk yang tidak bisa menunggu antrian di tempat mengambilan barang. Sayangnya aksi mereka sering mengganggu penumpang yang lain karena butuh waktu untuk memasukkan barang yang berat itu ke dalam kabin pesawat. Saat hendak turun sering kali terjadi “kemacetan” gara-gara mereka susah menurunkan barang bawaannya.

Demikian adanya bandara kita. Dari sisi fasilitas dan sistem nampaknya sudah cukup syarat untuk mengatakan bandara Internasional dengan dengan layanan internasional pula. Namun dari sisi perilaku dan budaya orangnya, terutama masyarakat pengguna jasa penerbangan, nampak masih sangat “lokal” dan tidak mengerti kalau mereka adalah bagian dari masyarakat dunia yang membangun peradaban bersih, rapi, disiplin dan menghargai orang lain. Berbagai aturan yang membawa pada ketertiban, kerapian, kebersihan dan keindahan bersama, tidak mendpat perhatian penuh dari penumpang. Membuang sampah sembarangan, merokok di tempat terlarang, menuangkan air di lanati, tidak mau menghargai ibu yang membawa bayi, orang tua dan orang cacat masih kerap kita saksikan. Dan ini menjadi pemandangan biasa dalam perjalan dengan pesawat terbang. Kita bisa membangun fisik yang berstandar internasional, namun tidak bisa membangun budaya yang universal.


12 January 2010

Belajar Etnografi ke Jogjakarta

Saya mendapatkan kesempatan yang langka. Kursus penelitian etnografi bersama teman-teman di Antropologi UGM Jogjakarta selama dua minggu (14-29/01/10), di bawah bimbingan “mbah” antropolog UGM. Menurut rancangannya, kursus ini bukan belajar di kelas mendengarkan kisah-kisah seru para antropolog di lapangan. Akan tetapi peserta langsung diturunkan ke lapangan, di sejumlah desa pedalaman Jawa. Di sana setiap peserta akan belajar sendiri dari kehidupan yang ada dalam masyarakat desa. Ini dilakukan dengan pengamatan, keterlibatan dalam aktifitas mereka dan melakukan wawancara dengan siapa saja yang dijumpai di sana, lalu mencatat dan mendeskripsikan.

Sebagai orang Aceh yang juga berasal dari pedalaman, bagi saya ini akan menjadi pengalaman menarik. Melihat dan membandingkan dua kehidupan sosial yang berada jauh dari ibukota. Sebab selama ini semua isue politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya diambil berdasarkan kehidupan masyarakat perkotaan semata. Ada memang ungkapan ekonomi rakyat, pembangunan masyarakat pedesaan, namun rakyat yang diuntungkan selalu rakyat kelas super seperti Anggodo Cs. Hasilnya, masyarakat pedesaan yang ada di pedalaman tetap hidup seperti alur takdir mereka tanpa ada kebijakan politik yang mengubahkanya. Mereka tetap saja sebagai komoditas yang dijual untuk isue pembangunan tapi menjadi korban dalam pembangunan itu sendiri.

Penahanan terhadap Lanjar (Kompas, 11/01) yang dituduh menyebakan kematian istrinya sendiri adalah contoh dari realitas ini. Seorang yang sama sekali buta hukum tiba-tiba harus menjadi pesakitan di depan meja hijau pengadilan. Belum lagi kesedihannya hilang, ia sendiri malah harus berhadapan dengan aparat hukum yang pongah. Sementara orang yang benar-benar menyebabkan kematian istrinya, menggilas dengan mobil yang bisa disaksikan mata dan memiliki bukti fisik malah dibebaskan dengan alasan tidak sengaja dan sudah berusaha menghindari kecelakaan. Pengemudi mobil bebas karena ia anggota polisi. Di negeri ini, polisi dan koruptor sering kali bernasib sama, bebas dari jeratan hukum.

Terlepas dari masalah itu, misi saya kali ini akan menjadi ajang menjawab sebuah pertanyaan lama yang pernah saya ajukan pada diri sendiri, yang hampir saja saya lupa; kenapa orang Jawa tidak memberontak kepada NKRI dan menuntut merdeka? Melihat potensi alam kemungkinan Jawa dan Aceh dan beberapa daerah lain di nusantara hampir seragam. Melihat keadilan kepada masyarakat yang diberikan oleh pemerintah, mungkin juga tidak jauh berbeda, masyarakat pedalaman adalah korban dan tumbal kebijakan pemerintah yang zalim, di Jawa atau di daerah lain di Indonesia Namun, tidak seperti masyarakat Aceh yang langsung memanggul senjata membela diri, masyarakat Jawa nampaknya lebih bisa menerima kenyataan ini dan menyatakan diri sebagai masyarakat pendukung setia negera. Mudah-mudahan jawaban pertanyaan ini bisa menjadi sebuah refleksi bagi saya dalam memahami masalah sosial dari perspektif yang lebih luas dan plural ke depan.

Saya juga berharap mendapatkan sebuah pemahaman yang “berbeda” dari kunjungan ke pedalaman Jogja dua minggu ke depan. Apalagi masyarakat Jawa selama ini selalu menjadi objek kajian menarik bagi antropolog. Kenapa orang Jawa begitu unik? Kenapa kehidupan mereka begitu berwarna? Apa yang ada di balik semuanya? Singkresisme-kah seperti yang dipersepsikan oleh Cliffort Geertz atau Islam mistik seperti dikatakan Woodward. Atau ada sesuatu yang lain? Mudah-mudahan kunjungan dua minggu ke depan dapat meberikan sedikit titik terang menjawab masalah ini. Wallahu’a’lam.