27 December 2009

Sebuah Kenangan bersama ARTI

Desember 2009 ini secara resmi berakhir aktifitas Aceh Research Institute (ARTI) di Aceh. Berakhirnya peran lembaga ini menjadi sebuah ending yang mengharukan bagi banyak orang yang pernah terlibat di sana. Selama tiga tahun terakhir ARTI telah melakukan peran penting sebagai mesin produksi lahirnya peneliti-peneliti muda Ilmu Sosial dan Humaniora di Aceh. Meskipun kantornya ada di Banda Aceh, namun ARTI menjangkau berbagai perguruan tinggi lain, seperti Universitas Malikussaleh dan STAIN Malikusaleh di Lhokseumawe, Universitas Gajah Puteh Aceh Tengah dan Universitas Teuku Umar Aceh Barat. Di sana peneliti Aceh masa depan dikaderkan dengan bimbingan dan arahan intensif dari peneliti senior lokal, nasional dan internasional.

Saya adalah satu di antara orang yang mendapatkan kesempatan masuk ke dalam mesin produksi peneliti ARTI. Meskipun saat ini belum lahir sebagai seorang peneliti handal, namun saya sudah melihat jalan itu dan tahu arahnya. Bola ada di kaki saya, apakah saya akan membawa diri ke sana atau tidak itu adalah pilihan, usaha, nasib, dan doa; saya sendiri yang menentukan. Namun ARTI telah melakukan tugasnya dengan baik, membuka mata pada realitas yang lebih besar, menunjukkan bahwa Aceh adalah ladangnya penelitian sosial, mengatakan bahwa di sana, di mana-mana orang begitu bersemangat bicara ilmu pengetahuan, dan petunjuk-petunjuk lain yang diberikan.
Apa yang dilakukan ARTI bagi saya merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Dengan sistem pelatihan yang berbeda dengan apa yang saya peroleh sebelumnya, dengan keseriusan, ketegasan, kedisiplinan yang diterapkan, dengan fasilitas dan pendampingan yang disediakan, saya dengan jujur mengatakan bahwa ARTI telah melakukan yang terbaik untuk saya bahkan jauh di atas apa yang saya bisa bayangkan. Saya yakin ini pula yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.

Saat saya ikut kelas ARTI level Pertama, saya berjumpa dengan Prof. David Reeve, penulis biografi terkenal. Salah seorang tokoh Indonesia yang ditulis dengan begitu apik adalah Ong Hok Ham, orang Tionghoa yang lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri. David memperkenalkan dasar-dasar penelitian dengan begitu renyah. Sebelumnya saya membayangkan sebuah penelitian begitu rumit. Beberapa kali belajar metodologi penelitian saya disuguhkan dengan berbagai teori dan pengertian yang tidak pernah saya ketahui maksudnya secara pasti hingga sekarang. Namun hal ini menjadi berbeda di tangan David. Penelitian adalah berusaha menulis apa yang kamu ingin tulis. Bagaimana caranya, itu terserah kamu. Kamulah yang tahu bagaimana melakukan pekerjaanmu sendiri. Orang boleh mengatakan apa saja, namun yang harus memutuskan adalah kamu sendiri, sebab kamu yang tahu akan menulis apa, tentang apa, lokasinya di mana, orangnya seperti apa, dan lain sebagainya. Saya terkesan dan terkesima, ternyata peneliti itu adalah saya sendiri dan sayalah yang menentukan langkahnya.

Ketika saya dipanggil untuk masuk ke level kedua saya berjumpa dengan Arskal Salim, Adlin Sila, dan Eka Srimulyani. Para peneliti muda yang pengalaman pelitiannya sudah mendunia. Arskal Salim adalah dosen UIN Jakarta yang melakukan penelitian di Aceh dalam beberapa topik. Ia memiliki berpengalaman yang kaya dalam penyusun proposal penelitian yang berhubungan dengan funding internasional yang sering membiayai penelitian. Dan darinyalah kami menuntut “Ilmu Proposal”, tentang bagaimana membuat proposal yang baik. Sebab, kata Arskal, tidak ada proposal yang benar atau proposal salah. Sebuah proposal –selama dibuat dengan serius- telah melewati tahapan pemikiran dan kontemplasi yang panjang. Oleh sebab itu yang diperlukan adalah bagiamana menjadikannya lebih baik. Dan proposal yang baik adalah proposal yang jelas masalahnya apa, tujannya untuk apa, dan bagaimana anda akan melakukan penelitian. Kalau tiga hal ini sudah jelas maka yang lain akan menyusul pula, hanya perlu ketekunan dan keseriusan saja.

Kemudian, yang tidak mungkin saya lupakan adalah pelatihan tahap ketiga. Dalam tahapan ini peserta dibimbing oleh tiga pembimbing sekaligus; lokal, nasional dan internasional. Saya teringat ketika ibu Laura Yoder, direktur ARTI tahun 2008 mengirimi saya SMS yang isinya kira-kira: Selamat, anda berhak mengikuti pelatihan tahap ketiga. Ini adalah awal dari sebuah pengalaman yang tidak pernah akan saya lupakan. Saya ditawarkan memilih sendiri siapa yang akan menjadi pembimbing saya untuk penelitian yang saya ajukan: “Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet.” Saya memilih orang yang saya sudah kenal dalam dunia akademik meskipun belum kenal secara fisik. Pembimbing lokal saya memilih Bapak Aslam Nur, dosen Antropologi Agama di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Untuk Nasional saya memilih Prof. Irwan Abdullah, Direktur (sekarang mantan) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. Dan untuk pembimbing internasional saya memilih (atas saran dari Laura) Prof. Anthony Reid, sejarawan yang telah menulis beberapa buku dan jumlah artikel ilmiah yang tidak terkira mengenai sejarah Aceh. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Seorang anak kampung yang baru bisa berbicara bahasa Indonesia dalam usia 17 tahun, berjumpa dengan orang-orang besar adalah anugerah yang tiadatara. Dan di bawah bimbingan merekalah saya belajar melakukan penelitian.

Saya ingin cerita sedikit tentang dua orang pembimbing saya, Anthony Reid dan irwan Abdullah. Bagi saya Toni adalah sebuah kebun ilmu yang sangat luas. Wawasan dan pengetahuannya terbentang tak bertepi. Setidaknya begitulah yang saya lihat dalam konsultasi pertama kali bersamanya. Saya bagaikan sebuah gelas yang kecil dan ia adalah ember besar penuh air ilmu. Tatkala air di dalamnya dituangkan, sangat banyak yang tercecer dan terbuang karena keterbatasan tempat penampungan yang saya miliki. Saya hanya menangkap sedikit sekali dari ilmunya. Meskipun, dengan keterbatasan komunikasi karena kendala bahasa, saya tahu ia telah berusaha menyesuaikan memberikan pengetahuan sesuai dengan tingkat atau kadar keilmuan saya.

Dalam konsultasi pertama yang saya laksanakan dengan Anthony saya mendapatkan banyak pengetahuan. Yang paling berkesan adalah, cara pandangannya mengenai sebuah masalah kecil dalam konteks yang besar. Semula saya berfikir, apalah artinya penelitian mengenai kenduri kematian dalam masyaraat Kluet. Ini hanyalah masalah kecil dan tidak menyelesaikan apa-apa dan tidak menjelaskan banyak hal. Namun tatkala Toni sedikit demi sedikit mebawa saya ke cakrawala ilmu yang berkembang di dunia, saya mulai sadar bahwa apa yang saya lakukan dalam membahas kenduri dalam masyraklat Kluet bukan sekecil yang saya bayangkan. Ia berada di antara semaraknya kajian keilmuan dalam bidang yang sama yang telah dilakukan banyak orang lain. Saya bukanlah satu-satunya orang yang mengerjakan dan tertarik dengan bidang ini.

Prof. Irwan Abdullah saya umpamakan dengan sebuah kebun pengetahuan serba ada. Meskipun ia memperkenalkan diri sebagai antropolog, namun dalam diskusi bersamanya ia ternyata menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan metodologi ilmu-ilmu. Pertemuan pertama saya bersamanya tatkala ia datang ke Banda Aceh untuk sebuah urusan. Ia menelpon saya dan mengajak saya minum kopi pagi di warung kopi Cek Yuke jalan Tepi Kali. Bagi saya ini sungguh menyenangkan. Kapan lagi bisa duduk dengan Profesor Antropologi UGM? Saya akan memanfaatkan waktu untuk maksimal menggali ilmu darinya. Dan apa yang saya pikirkan benar terwujud. Dalam diskusi bersamanya, keran ilmunya mulai dibuka dan sedikit demi sedikit airnya mengalir. Awalnya saya katakan, saya kesulitan dalam menentukan sistematika sebuah tulisan. Lalu ia mulai mendiskusikan tulisan saya dan membuat coretan yang sampai sekarang masih saya simpan sebagai kenangan dan yang paling penting itu adalah model untuk tulisan apapun juga. Darinya saya juga belajar semangat menulis. “Coba kamu pikirkan, apakah saya, sebagai seorang direktur sekolah pascasarjana UGM, memiliki waktu untuk menulis dan melakukan penelitian?” Saya bayangkan, sebagai seorang dosen muda dan baru saja saya sering tidak cukup waktu, bagaimana lagi dengan seorang Prof. Irwan? Ternyata saya salah. Ia mengatakan tulisanya terbit hampir setiap bulan di berbagai jurnal ilmiah. Ia juga menulis sendiri makalah seminar, modul mengajar dan materi pelatihan. Kapan itu dilakukan? “Kitalah yang menetukan waktu untuk menulis, bukan waktu yang mengatur kita.” Lalu ia menjelaskan beberapa tips yang dapat digunakan. Misalnya memulai dengan membuat kerangka, mengisi ide pokok, pengembangkan paragraf, dan seterusnya. Saat mendengar penjelasanya, rasanya keesokan hari saya bisa menulis lima artikel akademik. Tapi ternyata, saya masih saja belum bisa selancar yang saya bayangkan.

Memang saya akui saya tidak dapat melakukan penelitian tahap tiga dengan maksimal, terutama dalam bagian akhir penelitian sampai penulisan hasilnya. Pertama karena kesibukan pembimbing nasional dan internasional saya. Prof. Irwan Abdullah adalah direktur Sekolah Pascasarjana yang tidak mungkin datang ke Aceh dan menemani saya di lapangan, jauh di pedalaman Kluet Timur Aceh Selatan. Demikian juga Anthony Reid yang tinggal di Singapura. Saya berjumpa dengan mereka beberapa kali saja, selebihnya berkomunikasi dengan e-mail. Sebagai orang yang masih sangat awam dengan penelitian seperti ini, maka saya masih sangat kesulitan dalam mewujudkan banyak saran dari pembimbing saya tersebut. Namun masalah paling berat adalah ketika pada 10 Agustus 2008 bapak saya tercinta meninggal dunia. Beliau adalah orang Kluet, beliau mengetahui banyak adat budaya Kluet. Beliau menjadi teman diskusi saya selama di lapangan, bahkan tidak jarang diskusi sampai pagi. Setelah beliau meninggal dunia, sangat berat bagi saya untuk membaca catatan lapangan dan hasil wawancara saya di lapangan. Sebab penelitian saya juga mengani kenduri kematian. Sehingga membuka file-file penelitian itu saya langsung terbayang wajahnya, tawanya, semangatnya, kasih sayang dan cintanya. Dan saya butuh waktu berbulan-bulan untuk memisahkan saya sebagai seorang peneliti dengan saya sebagai anak yang memiliki kedekatan emosional dengan orang tua. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan artikel penelitian saya meskipun paling terlambat dibandingkan teman-teman yang lain.
Dan yang sangat-sangat tidak mungkin terlupakan adalah bimbingan, pencerahan, kuliah, diskusi yang dilakukan dalam sela-sela program pelatihan yang dilaksanakan.

Saya ingat sekali bagaimana Ibu Melly dan Eve selalu mengirimi SMS bahwa akan ada seorang ahli datang ke ARTI dan dia bersedia memberikan kuliah dan bimbingan. Di waktu lain ada SMS yang isinya ada pemaparan hasil penelitian sementara dari seorang mahasiswa internasional yang sedang melakukan penelitian di Aceh. Pernah juga seorang ahli dalam bidang tertentu datang ke ARTI dan kami berkumpul untuk mendiskusikan berbagai temuan sementara di lapangan dan mencari pemecahannya bersama.
Hal di atas masih ditambah dengan berbagai pelatihan lain yang saya ikuti di kampus dan di luar kampus. Di IAIN Ar-Raniry saya megikuti sebuah pelatihan metodologi penelitian bagi dosen. Saya juga mengikuti pelatihan metodologi penelitian bencana alam di Yogayakarta. Pada pertengahan 2009 saya mengikuti metode penulisan makalah ilmiah di USU Medan. Di ARTI sendiri diadakan pelatihan penulisan artikel untuk buku kompilasi. Semua menerpa saya untuk dapat maju dan berusaha menggapai yang terbaik.

Apa yang saya dapatkan dari ini semua? Tidak terhingga dan tidak terkira, mungkin ini jawaban saya. Saya merasa “lebih nyambung” saat mendiskusikan penelitian dengan siapapun di bandingkan dulu. Harus saya akui saya kewalahan dalam teori-teori dan istilah yang rumit, terutama dalam penelitian angka-angka. Namun alhamdulillah saya sedikit diberikan kemudahan oleh Allah dalam membahas penelitian-penelitin sosial lapangan. Saya merasa lebih percaya diri dalam menceritakan dan membincangkan penelitian kepada orang lain. Saya lebih mudah membagi pengetahuan mengenai penelitian dengan teman dan mahasiswa. Saya lebih mudah dan terbimbing dalam menulis, walaupun masih jauh dari sempurna. Dan banyak hal lain. Yang sangat penting adalah saya memiliki semangat yang menggelora untuk terus belajar menulis, melakukan penelitian, mendiskusikan ilmu pengetahuan dalan lain sebagainya. Saya tahu bahwa di balik semua ini salah satunya ada ARTI.

Saat ini saya sedang menyelesaikan peneltian saya mengenai Adat Gayo bersama Internasional Center foa Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Awal Desember 2009 saya mempresentasikan sebuah hasil penelitian saya di International Posgraduate Conference di Yogyakarta. Di kampus saya mengasuh mata kuliah Metodologi penelitian. Beberapa teman mulai menjadikan saya sebagai salah seorang teman disksui dalam membuat penelitian. Bagi saya ini adalah rahmat keilmuan yang Allah berikan melalui serangkaian pelatihan bersama ARTI.

Hanya karena penguasan bahasa Inggris yang sangat buruk sehingga saya masih merasa ada yang mengganjal dalam diri saya ketika mau mengembangkan diri lebih baik lagi. Dan persoalan bahasa ini pula yang membuat saya masih terus menunda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya masih berusaha untuk meningkatkan kemampuan meskipun terasa sangat berat. Hanya ada satu keyakinan bahwa ini bukan “hil yang mustahal” untuk diwujudkan.Saya masih mengimpkan suatu saat saya dapatmelanjutkan pendidikan di tempat yang pebih maju dan memiliki iklim akademik yang menyenangkan.

Akhirnya saya ingin mengatakan terima kasih Arti, Pak Michael, Ibu Barbara, Ibu Laura, Pak Harold, Eve, Ibu Melly, Ibu Eka, David, Arskal, Adlin, Kamaruzzaman, Irwan Abdullah, Anthony Reid, Aslam Nur, dan semua teman-teman pelatihan ARTI Level I, II dan III. Mudah-mudahan apa yang telah saya peroleh dari ARTI menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat untuk kehidupan umat manusia.


26 December 2009

Tsunami: yang Tersisa Adalah Pelajaran (5)

Peristiwa itu terus mejauh. Tanggal 26 Desember 2009 kali ini berarti telah lima tahun ia berlalu. Namun gempa dahsyat, gelombang hitam, gerombolan manusia yang melarikan diri, lautan genangan air hitam, mayat-mayat yang berserakan, puing rumah yang roboh, anak-anak yang mejerit mencari orang tuanya, orang tua yang menangis kehilangan anaknya, manusia yang terurai ususnya terbaring tanpa pertolongan, seorang gadis kecil yang kehilangan sebelah lengannya, seorang orang tua yang kehilangan matanya, seorang ibu yang kehilangan kakinya, masih terbayang jelas di pelupuk mata. Rasanya gambar itu terukir dan tidak mungkin hilang lagi. Begitu jelas, begitu hidup, begitu nyata, sampai kini.

Namun saya yakin pula bahwa hidup bukan hanya untuk mengenang itu saja. Ada banyak hal lain yang perlu dilakukan. Bencana memang datang, prahara memang terjadi, kekacauan, konflik, perebutan kekuasaan selalu terulang dan terulang. Tapi hidup tetap harus dilalui dengan perjuangan dan kebahagiaan. Terlarut dalam duka dan kenangan masa lalu akan menghantarkan manusia pada masa lalu itu dalam hayal dan mimpinya. Ia terbuai dan terlalai dengan mimpi itu hingga ia lupa realita yang ada di depan matanya. Dan tidak ada yang diperoleh oleh orang yang demikian selain penyesalan dan kegagalan. Kita harus bangkit dan bersemangat!

Semangat saya semakin bangkit tatkala ribuan orang datang dari berbagai daerah dan negera bahu-membahu menampakkan kepedulian mereka untuk membantu masyarakat Aceh bangkit kembali. Malam kedua pasca bencana langit Banda Aceh dipenuhi oleh pesawat yang datang setiap menitnya. Beberapa diantaranya harus terbang berputar di udara untuk menapatkan “giliran” mendarat. Mereka membawa orang yang hendak membantu meringankan penderitaan korban tsunami dan membawa banyak bantuan yang diperlukan; makanan, pakaian, obat-obatan, selimut, tenda, dan lainnya. Sehingga pada minggu pertama saja ratusan tenda pengungsi telah dilengkapi dengan posko kesehatan dan tenaga medis. Bukan hanya tenaga kesehatan dari Indonesia, namun juga dari manca negara. Pasukan militer dari Jerman, Malaisya, Amerika, Australia, Jepang, Inggis, Rusia dan dari berbagai negara lain mendirikan tenda pelayanan bagi pengungsi. Saya takjub, mereka begitu siap, begitu lengkap, begitu rapi terkoordinasi. Kehadiran mereka sungguh membuat semangt hidup saya bangkit kembali.

Beberapa bulan kemudian, kala bantuan darurat itu selesai, disusul pula bantuan jangka panjang, fisik dan mental intelektual. Saya adalah salah satu orang yang “bangkit” dengan berbagai bantuan tersebut. Dua bulan setelah tsunami saya bekerja dengan Nonviolence International selama delapan bulan. Kemudian saya bergabung dengan British Red Cross Society (BRCS) untuk program community development, di Aceh Jaya. Bekerja dengan lembaga asing, berteman dan bergaul dengan orang yang berbeda daerah dan negara menjadikan saya seolah lupa bahwa saya adalah bagian dari korban. Saya malah merasa orang yang harus membantu teman-teman, saudara-saudara, masyarakat Aceh yang menjadi korban tsunami. Bekerja dengan mereka saya belajar banyak hal, tentang pergaulan, manajemen, keuangan, kedisiplinan, kepemimpinan, fasilitasi dan lain sebagainya. Nampak saja saya bekerja, padahal sesungguhnya saya sedang belajar. Dan belajar adalah terapi untuk mental saya yang droup dan trauma setelah musibah itu melanda.

Wujud bantuan dan kepedulian Indonesia dan Dunia pasca tsunami terus berlanjut pada hitungan bulan dan tahuan kemudian. Kepada masyarakat yang rumahnya hancur dibangun kembali rumah, walaupun tidak sebaik dan seindah sebelumnya. Kepada mereka yang hilang mata pencaharian diberikan modal usaha. Kepada mereka yang tidak memiliki keterampilan diberikan pelatihan. Kepada mereka yang tidak memiliki biaya pendidikan diberikan beasiswa. Pemerintah Aceh dan kabupaten kota, baik yang terkena tsunami atau tidak juga mendapatkan bantuan yang besar. Banyak bangunan yang didirikan dengan bantuan dari berbagai negara, banyak fasilitas yang disediakan dengan sumbangan masyarakat Internasional. Banyak pelatihan, seminar, workshop yang digelar untuk kemajuan sumber daya manusia di Aceh oleh berbagai organisasi nasional dan Internasional. Dan berkah yang paling besar adalah terwujudnya perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Republik Indonesia (RI) pada tanggal 15 Agustus 2005. Sungguh, bagi saya ini adalah berkah dan nikmat yang tiada terkira. Andai mereka tidak ada atau tidak peduli, mungkin Aceh hari ini adalah sebuah kota tua yang terhapus dari peta dunia.

Saya berjumpa dengan orang yang merasa dizalimi dan tidak puas dengan semua bantuan itu. Ada mereka yang merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan semua yang diberikan untuk korban tsunami. Ada juga yang sampai hari ini masih tinggal di tenda-tenda karena mereka terabaikan dari pantauan pemberi bantuan. Di sebalik itu ada mereka yang memanfaatkan bantuan untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya. Ada yang menggunakan data korban untuk mencari uang. Tidak sedikit pula yang “mengemis” mengatakan ia adalah korban tsuami untuk membangkitkan emosi iba pada orang lain dan memberinya bantuan. Bagi saya itu adalah fenomena manusiawi yang ada dan terjadi di mana saja di dunia ini.

Satu hal yang pasti, setelah bencana besar itu terjadi lima tahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang tak terkira besarnya. Pelajaran tentang fenomena alam, tentang keterbukaan, tentang kerja sama dan bantuan kemanusiaan, pelajaran kehidupan dari masyarakat yang berbeda, pelajaran tentang berbagai ilmu kehidupan yang kaya yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di kesempatan lain dalam hidup saya. Dan saya berterima kasih kepada semua yang memberikan perhatian itu, sejak hari pertama tsunami hingga hari ini. Terima kasih Indonesia, terima kasih dunia.

25 December 2009

Menulis Itu Sebagian Dari Iman

Kalau dalam sebuah hadits disebutkan kebersihan adalah sebagian dari iman, maka saya yakin pula kalau menulis juga sebagian dari iman. Sebab menulis menyebabkan orang tahu kalau ada hadits yang mengatakan demikian. Andai menulis tidak ada, atau andai apa yang dikatakan Nabi tidak tertulis, mungkin ucapannya kini hilang ditelan zaman. Menulislah yang menyelamatkannya, maka menulis itu sebagai dari iman.
Almarhum Hamka, orator, ulama dan sastrawan Indonesia yang terkenal mengatakan, “tulisalah apa yang baik orang lakukan atau lakukanlah apa yang baik orang tuliskan.” Hal inilah yang akan menjadikan seseorang tercatat dalam buku stambuk dunia. Sebab seorang penulis atau seorang yang melakukan hal-hal yang perlu ditulis akan hidup lebih lama dari ajalnya. Sementara mereka yang tidak menulis atau melakukan hal-hal yang layak ditulis akan mati sebelum ajalnya tiba.

“Saya hanya menulis apa yang saya benar-benar lakukan,” kata Paulo Coelho, penulis novel best seller sepanjang zaman, The Alchemist. Sebab tanpa melakukan, maka tulisan bukanlah keluar dari hati namun hanya sebuah kamuflase semata. Pembaca mungkin saja tertipu dengan olah kata dan diksi puitis dalam sebuah tulisan sehingga mempengaruhinya masuk dalam alam tulisan itu. Namun tulisan yang tidak sesuai dengan kepribadian penulisnya tidak akan menadapatkan nilai di sisi yang Maha Menulis, Dia yang menulis segala apa yang terjadi pada ciptaan-Nya. Sementara seorang penulis yang menulis sekaligus melakukan apa yang ditulisnya akan mendapatkan nilai double, dari manusia yang mendapatkan manfaat dari tulisannya dan dari Tuhan yang Maha Menulis. Bahkan jika ia menulis tentang kebenaran yang mendapatkan cacian dan ejekan dari manusia lain, Tuhan tetap memihak padanya. Dalam koteks inilah Bunda Taresha pernah mengatakan bahwa teruslah berbuat baik meskipun orang memandang perbuatanmu hina dan tercela. Sebab pada akhirnya perbuatan baik itu bukanlah antara engkau dengan mereka, namun antara engkau dengan Dia di Sana.

Teruslah menulis sebab itu akan membuat catatan amal baik kita menjadi lebih banyak. Menulis membantu para malaikat yang bertugas mencatat amalan kebajikan dalam menilai perbuatan kita. Mereka terbantu karena tulisan kita adalah bukti tidak terbantahkan dihadapan Tuhan atas apa yang telah kita lakukan di dunia. Tulisan yang kita buat sekarang akan merekam siapa saja yang membacanya dan siapa saja yang mengambil manfaat darinya. Suatu saat kelak, ketika hari pembalasan tiba, ia akan menjadi saksi di hadapan Tuhan bahwa apa yang kita lakukan telah meberikan manfaat yang besar untuk banyak manusia. Ia akan menceritakan siapa yang membacanya dan siapa yang mengambil manfaat darinya kepada Tuhan. Dan berdasarkan laporan itu Tuhan akan menganugerahkan satya lencana Surga bagi penulisnya. Amin…


24 December 2009

Pengabdian dan Masa Depan (4)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2006. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------

Saya mendapatkan makan pagi di rumah famili setelah berjalan kaki 4 km. Kemudian saya dipesankan untuk melihat nenek yang ada di Kp. Keuramat, sekitar 7 km dari rumah itu. Berbekal sebuah sepeda kecil saya menelusuri jalan di Kota Banda Aceh pas sehari setelah tsunami. Sengaja saya memilih jalan utama kota untuk menyaksikan bagaimana peristiwa ini meluluhlantakkan semua yang ada di kota ini. Sayangnya berjalan dengan sepeda pada hari kedua tsunami sama saja dengan membawa sepeda. Artinya bukan kita yang naik ke atas sepeda, tapi sepeda yang harus digendong. Sampah-sampah bercampur mayat menggunung di sepanjang jalan. Saya dengan terpaksa, kadang sengaja terkadang tidak, harus menginjak mayat yang ada di sepanjang jalan itu (Kepada mayat yang merasa saja injak, saja mohon maaf).

Pada hari itu beberapa mobil yang datang entah dari mana sudah mulai membersihkan jalan. Banyak orang mulai mencari saudaranya yang hilang. Ada juga yang mencari kenderaan atau benda berharga di dalam puing-puing rumahnya yang ditinggalkan. Namun tidak sedikit ada orang yang sangat tidak bermoral, hari itu mereka datang untuk mengumpulkan emas dan barang berharga yang ada di tubuh dan pakaian jenazah korban tsunami. Saya tidak tahu mereka datang dari mana. Semoga Tuhan memberikan balasan yang setimpal untuk kejahatan itu.

Saya mendapatkan saudara saya yang di kampung Keuramat selamat. Mereka sempat naik ke lantai dua hingga air yang penuh di lantai satu rumah itu tidak mencederai siapapun. Namun tidak ada yang dapat diselamatkan di dalam rumah. Semua barang, mobil, motor, buku, lemari dan lainnya hancur dimakan air. Kami mencoba turun dari lantai dua dengan menyusun beberapa lemari dekat jendela. Sebab lantai satu, jalan yang ada tangganya sudah tertutup sama sekali. Lalu dari sana kami berjalan dan mencari tempat yang aman. Setelah membawa mereka ke rumah famili yang lain, saya kembali ke Rukoh dan sekitarnya untuk membantu mengangkat jenazah yang berserakan di pinggir jalan dan di dalam rumah. Saat itu sudah banyak orang yang bekerja untuk mengangkat jenazah.

Keesoan harinya (hari selasa), saya baru sadar kalau tamu di rumah famili di Lambaro sudah sangat banyak. Beras, air, makanan lain yang ada di sana tidak mungkin mencukupi untuk orang sejumlah itu. Dengan tiga orang laki-laki lain yang ada di sana kami menempuh perjalanan ke Peunayong (10 km) untuk mencari makanan. Di Peunayong kami mencari makanan yang terbuang yang masih bisa dimanfaatkan. Saya mendapatkan minyak goreng dan sekardus Indomie. Teman saya yang lain mendapatkan roti dan makanan yang lain lagi. Inilah yang kami bawa pulang, lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sampai di rumah saya kelelahan dan hampir tidak daat bergerak lagi. Tangan, kaki, dan badan saya semuanya seperti patah-padah tidak berdaya. Saya tertidur telentang dan fana. Baru sadar keesokan harinya. Saya tertidur 14 jam.

Saya katakan sama Makcik pemilik rumah bahwa saya tidak mungkin berpangku tangan atas kejadian ini. Saya ingin melakukan sesuatu. Memang saya korban, namun kesedihan, kerugian, pederitaan saya tidak sebanding dengan penderitaan banyak orang lain yang juga menjadi korban tsunami. Saat itulah saya pergi ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman di Asrama Pascasarjana IAIN Banda Aceh. Asrama ini menampung 300 kk pengungsi dari seputaran IAIN. Di sana antara lain ada Bapak Prof. Rusjdi, Rektor IAIN Ar-Raniry dan Prof. Muslim, ketua MPU Aceh. Mereka mengungsi karena rumahnya juga diterjang gelombang. Selain mereka ada juga dosen lain dan masyarakat di sekitar kampus.

Beberapa hari kemudian kami membentuk Pusat Koordinasi Pasca Bencana (PKPB) atas nama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Saya salut dengan Prof. Muslim yang pada masa itu langsung berfikir untuk melakukan koordinasi dengan berbagai organisasi sosial masyarakat untk bentuan pasca bencana. Sebab saat itu, seminggu setelah Tsunami, banyak bantuan yang datang namun tidak terdistribusi dengan merata. PKPB rencanya akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak lain hingga bantuan tidak tumpang tindih sementara banyak pengungsi yang sama sekali tidak mendapatkan bantuan. Sayangnya PKPB hanyalah kelompok kecil, sehingga untuk melakukan itu tidak memiliki bergaining yang kuat. Jadinya, PKPB melakukan servey ke beberapa lokasi yang disinyalir tidak mendapatkan bantuan lalu memberikan info kepada organisasi yang menangani bantuan untuk menyalurkan ke sana.

Sebulan setelah tsunami adalah bulan pengabdian. Bergabung dengan teman-teman saya mencoba melakukan apa yang paling baik untuk menjadikan kehidupan dalam kesedihan itu bisa bersemangat kembalai. Pada akhir bulan Januari 2005 kami sempat menyelenggarakan pertemuan pertama berbagai tokoh dan unsur masyarakat mengenai rehabilitasi pasca bencana. Seingat saya inilah pertemuan pertama menyusun rancangan pembangunan Aceh pasca Tsunami. Salah satu rekomendasinya adalah perbaikan jalan. Sebab katanya, orang Aceh kalau ada jalan tanpa bantuan yang lain juga bisa hidup dan bangkit kembali. Sayangnya jalanlah yang terakhir dibuat. Hingga saat ini, lima tahun pasca tsunami, Barat-Selatan Aceh masih terisolir karena tidak ada jalan.

Hidup adalah Saling Memberi (3)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-----------------------------------------------------------------------
Di tengah kerumunan orang saya melihat manusia yang tidak sempurna. Ada yang tanpa kaki, tanpa lengan, usus yag keluar, tanpa mata sebelah, dan kebanyakan tanpa nyawa. Beberapa orang berinisiatif menutupi jasad tanpa nyawa itu dengan kain yang ada di badannya, lalu seorang bapak paruh baya mengatakan, tutuplah yang masih hidup dan dirimu sendiri. Jaga yang masih hidup agar tetap hidup, iklaskan yang telah meninggal dunia. Pakaian tidak berarti apa-apa untuk mereka. Kitalah yang memerlukan pakaian sekarang. Kalau pakaian ini kita berikan kepada yang telah mati, apa yang akan kita gunakan untuk mngusir dingin nanti malam? Petuah bapak paruh baya ini dipatuhi. Mayat-mayat yang tergeletak disana akhirnya terbuka tanpa tutupan sama sekali. Hanya beberapa lembar tikar lusuh dan kertas koran dari asrama yang digunakan untuk menutupinya.

Lalu saya meminta izin kepada adik perempuan saya untuk pergi. Saya sudah pastikan mereka selamat dan sementara itu cukup. Saya harus membantu banyak orang yang mungkin bisa diselamatkan. Turun dari asrama saya mencoba menyusuri jalan yang berlumpur di depannya. Pemandangan mayat dan orang sakit ada di mana-mana. Saya membantu beberapa orang menganggat orang yang terluka. Tiba-tiba sala melihta sepotong tangan bergerak di tengah lumpur. Tangan itu melambai-lambai sambil berucap: Allah… Allah…. Allah… Seorang anak muda lari ketakutan. Tangan tanpa kepala itu disangka hantu. Saya dan seorang teman jadi penasaran. Tidak mungkin hantu mengucapkan lafaz suci nama Ilahi. Kami mendekati tangan hitam legam itu. Ternyata seorang orang tua yang terkubur lumpur. Lalu kami mengangkat orang itu dan membawa ke asrama.

Hari itu saya habiskan untuk membantu mengangkat jenazah, sampai sore. Sedikit waktu saya sisakan untuk mengantar makanan kepada adik-adik saya di asrama. Makanan yang saya peroleh dari sebuah kulkas yang hanyut (Seandainya ada yang merasa sebagai pemilik kulkas itu izinkan saya telah mengambil beberapa potong kue dan beberapa buah jeruk di dalamnya). Lalu kami berjalan kaki 6 km ke Lambaro Angan, rumah famili yang tidak terkena tsunami karena jauh dari lautan. Di sana berkumpul banyak famili lain dan saudara dari famili itu. Sehingga rumah kecil tiga kamar itu menjadi penuh sesak. Sebuah tenda darurat harus segera dibangun di depannya karena di dalam rumah tidak cukup tempat. Saya sendiri kembali ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman lain yang tidak ada saudaranya di Banda Aceh. Sangat tidak enak rasanya membiarkan mereka “terbuang” tanpa kebersamaan.

Malam hari kami tidur seputaran masjid dan perpustakaan Induk Unsyiah. Di sana tidur dan berkumpul banyak orang, entah dari mana saja asalnya. Pemandangan korban tsunami semakin beragam. Di atas masjid saya menjumpai beberapa orang dengan usus terburai di laur badan tidur dengan berlapis koran. Beberapa orang lainnya merintih kesakitan karena anggota badannya yang hilang. Namun hanya sedikit yang dapat terlayani, sebab kebanyakan mereka harus melayani diri sendiri. Di Masjid itu juga kami sering harus berlarian karena ada isu tsunami yang lebih besar muncul lagi. Katanya, air sudah smpai ke Rukoh dan dua kali lebih besar dari pagi tadi. Dan itu terjadi beberapa kali. Sampai ada inisiatif dari pengurus masjid untuk menjamin kebenaran informasi. Jam 11.00 malam pengurus masjid mengumumkan lewat microfon bahwa yang memiliki otoritas untuk menyatakan benar atau tidaknya info tsunami hanyalah pengurus masjid, selebihnya tidak boleh dipercaya. Kalau pengurus mengatakan ada air laut naik, maka larilah. Kalau sumber informasi tidak jelas, maka baikan saja. Sejak saat itulah kami sedikit lebih tenang dan dapat tidur dengan nyenyak.

Saya tidak memiliki kain selain baju yang menempel di badan. Di sebuah aula dekat perpustakaan ada dipajang beberapa papan bunga yang berisi ucapan selamat pernikahan yang dilaksanakan paginya. Saya dan beberapa orang yang lain merusak papan bunga itu dan mengambil kain dasarnya. Ternyata pemilik bunga menggunakan kain bludu yang agak tebal untuk ditusuk dengan jarum bunga. Setelah bunga-bunga itu saya buang saya mendapatkan selembar kain tebal yang luas dan sangat hangat. Cukup untuk mebungkus badan dan menghabiskan sisa malam itu. Dengan kain itu saya mencari posisi di tengah orang-orang yang sudah berbaring di sembarang tempat di sekitar masjid dan perpustakan. Di sebuah tempat kosong, di antara tubuh-tubuh yang terbujur lelap saya membaringkan diri berselimut kain bunga.

Saya bangun ketika matahari sudah naik sehasta dan menyilaukan mata. Meskipun masih ngantuk dan lelah saya mencoba bangun dan menggerakkan badan. Ketika keluar dari bungkjusan kain selimut dan membuka mata saya sedikit heran kanapa orang-orang yang tidur di samping kanan dan kiri saya juga belum bangun. Mereka masih tidur dengan tenang dan nyaris tanpa gerakan. Beberapa detik kemudian saya baru sadar kalau di sana adalah tempat meletakkan jenazah korban tsunami yang sudah ditutp dengan berbagai macam benda, kain, goni, daun, koran dan lain sebagainya. Padahal pagi tad saya ikut mengantarkan jenazah ke sana, namun saya lupa. Semalam fenomena ini tidak nampak karena gelapnya malam sehingga saya tidur di sana bersma mereka. Dan ketika pagi datang saya baru tahu kalau semalam saya tidur diapit oleh jenazah-jenazah korban tsunami. Pantas saya bermimpi masuk surga.

Artikel ini juga dimuat di:
www.sehatihsan.blogspot.com
www.kompasiana.com/sehatihsan