26 December 2009

Tsunami: yang Tersisa Adalah Pelajaran (5)

Peristiwa itu terus mejauh. Tanggal 26 Desember 2009 kali ini berarti telah lima tahun ia berlalu. Namun gempa dahsyat, gelombang hitam, gerombolan manusia yang melarikan diri, lautan genangan air hitam, mayat-mayat yang berserakan, puing rumah yang roboh, anak-anak yang mejerit mencari orang tuanya, orang tua yang menangis kehilangan anaknya, manusia yang terurai ususnya terbaring tanpa pertolongan, seorang gadis kecil yang kehilangan sebelah lengannya, seorang orang tua yang kehilangan matanya, seorang ibu yang kehilangan kakinya, masih terbayang jelas di pelupuk mata. Rasanya gambar itu terukir dan tidak mungkin hilang lagi. Begitu jelas, begitu hidup, begitu nyata, sampai kini.

Namun saya yakin pula bahwa hidup bukan hanya untuk mengenang itu saja. Ada banyak hal lain yang perlu dilakukan. Bencana memang datang, prahara memang terjadi, kekacauan, konflik, perebutan kekuasaan selalu terulang dan terulang. Tapi hidup tetap harus dilalui dengan perjuangan dan kebahagiaan. Terlarut dalam duka dan kenangan masa lalu akan menghantarkan manusia pada masa lalu itu dalam hayal dan mimpinya. Ia terbuai dan terlalai dengan mimpi itu hingga ia lupa realita yang ada di depan matanya. Dan tidak ada yang diperoleh oleh orang yang demikian selain penyesalan dan kegagalan. Kita harus bangkit dan bersemangat!

Semangat saya semakin bangkit tatkala ribuan orang datang dari berbagai daerah dan negera bahu-membahu menampakkan kepedulian mereka untuk membantu masyarakat Aceh bangkit kembali. Malam kedua pasca bencana langit Banda Aceh dipenuhi oleh pesawat yang datang setiap menitnya. Beberapa diantaranya harus terbang berputar di udara untuk menapatkan “giliran” mendarat. Mereka membawa orang yang hendak membantu meringankan penderitaan korban tsunami dan membawa banyak bantuan yang diperlukan; makanan, pakaian, obat-obatan, selimut, tenda, dan lainnya. Sehingga pada minggu pertama saja ratusan tenda pengungsi telah dilengkapi dengan posko kesehatan dan tenaga medis. Bukan hanya tenaga kesehatan dari Indonesia, namun juga dari manca negara. Pasukan militer dari Jerman, Malaisya, Amerika, Australia, Jepang, Inggis, Rusia dan dari berbagai negara lain mendirikan tenda pelayanan bagi pengungsi. Saya takjub, mereka begitu siap, begitu lengkap, begitu rapi terkoordinasi. Kehadiran mereka sungguh membuat semangt hidup saya bangkit kembali.

Beberapa bulan kemudian, kala bantuan darurat itu selesai, disusul pula bantuan jangka panjang, fisik dan mental intelektual. Saya adalah salah satu orang yang “bangkit” dengan berbagai bantuan tersebut. Dua bulan setelah tsunami saya bekerja dengan Nonviolence International selama delapan bulan. Kemudian saya bergabung dengan British Red Cross Society (BRCS) untuk program community development, di Aceh Jaya. Bekerja dengan lembaga asing, berteman dan bergaul dengan orang yang berbeda daerah dan negara menjadikan saya seolah lupa bahwa saya adalah bagian dari korban. Saya malah merasa orang yang harus membantu teman-teman, saudara-saudara, masyarakat Aceh yang menjadi korban tsunami. Bekerja dengan mereka saya belajar banyak hal, tentang pergaulan, manajemen, keuangan, kedisiplinan, kepemimpinan, fasilitasi dan lain sebagainya. Nampak saja saya bekerja, padahal sesungguhnya saya sedang belajar. Dan belajar adalah terapi untuk mental saya yang droup dan trauma setelah musibah itu melanda.

Wujud bantuan dan kepedulian Indonesia dan Dunia pasca tsunami terus berlanjut pada hitungan bulan dan tahuan kemudian. Kepada masyarakat yang rumahnya hancur dibangun kembali rumah, walaupun tidak sebaik dan seindah sebelumnya. Kepada mereka yang hilang mata pencaharian diberikan modal usaha. Kepada mereka yang tidak memiliki keterampilan diberikan pelatihan. Kepada mereka yang tidak memiliki biaya pendidikan diberikan beasiswa. Pemerintah Aceh dan kabupaten kota, baik yang terkena tsunami atau tidak juga mendapatkan bantuan yang besar. Banyak bangunan yang didirikan dengan bantuan dari berbagai negara, banyak fasilitas yang disediakan dengan sumbangan masyarakat Internasional. Banyak pelatihan, seminar, workshop yang digelar untuk kemajuan sumber daya manusia di Aceh oleh berbagai organisasi nasional dan Internasional. Dan berkah yang paling besar adalah terwujudnya perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Republik Indonesia (RI) pada tanggal 15 Agustus 2005. Sungguh, bagi saya ini adalah berkah dan nikmat yang tiada terkira. Andai mereka tidak ada atau tidak peduli, mungkin Aceh hari ini adalah sebuah kota tua yang terhapus dari peta dunia.

Saya berjumpa dengan orang yang merasa dizalimi dan tidak puas dengan semua bantuan itu. Ada mereka yang merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan semua yang diberikan untuk korban tsunami. Ada juga yang sampai hari ini masih tinggal di tenda-tenda karena mereka terabaikan dari pantauan pemberi bantuan. Di sebalik itu ada mereka yang memanfaatkan bantuan untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya. Ada yang menggunakan data korban untuk mencari uang. Tidak sedikit pula yang “mengemis” mengatakan ia adalah korban tsuami untuk membangkitkan emosi iba pada orang lain dan memberinya bantuan. Bagi saya itu adalah fenomena manusiawi yang ada dan terjadi di mana saja di dunia ini.

Satu hal yang pasti, setelah bencana besar itu terjadi lima tahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang tak terkira besarnya. Pelajaran tentang fenomena alam, tentang keterbukaan, tentang kerja sama dan bantuan kemanusiaan, pelajaran kehidupan dari masyarakat yang berbeda, pelajaran tentang berbagai ilmu kehidupan yang kaya yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di kesempatan lain dalam hidup saya. Dan saya berterima kasih kepada semua yang memberikan perhatian itu, sejak hari pertama tsunami hingga hari ini. Terima kasih Indonesia, terima kasih dunia.

25 December 2009

Menulis Itu Sebagian Dari Iman

Kalau dalam sebuah hadits disebutkan kebersihan adalah sebagian dari iman, maka saya yakin pula kalau menulis juga sebagian dari iman. Sebab menulis menyebabkan orang tahu kalau ada hadits yang mengatakan demikian. Andai menulis tidak ada, atau andai apa yang dikatakan Nabi tidak tertulis, mungkin ucapannya kini hilang ditelan zaman. Menulislah yang menyelamatkannya, maka menulis itu sebagai dari iman.
Almarhum Hamka, orator, ulama dan sastrawan Indonesia yang terkenal mengatakan, “tulisalah apa yang baik orang lakukan atau lakukanlah apa yang baik orang tuliskan.” Hal inilah yang akan menjadikan seseorang tercatat dalam buku stambuk dunia. Sebab seorang penulis atau seorang yang melakukan hal-hal yang perlu ditulis akan hidup lebih lama dari ajalnya. Sementara mereka yang tidak menulis atau melakukan hal-hal yang layak ditulis akan mati sebelum ajalnya tiba.

“Saya hanya menulis apa yang saya benar-benar lakukan,” kata Paulo Coelho, penulis novel best seller sepanjang zaman, The Alchemist. Sebab tanpa melakukan, maka tulisan bukanlah keluar dari hati namun hanya sebuah kamuflase semata. Pembaca mungkin saja tertipu dengan olah kata dan diksi puitis dalam sebuah tulisan sehingga mempengaruhinya masuk dalam alam tulisan itu. Namun tulisan yang tidak sesuai dengan kepribadian penulisnya tidak akan menadapatkan nilai di sisi yang Maha Menulis, Dia yang menulis segala apa yang terjadi pada ciptaan-Nya. Sementara seorang penulis yang menulis sekaligus melakukan apa yang ditulisnya akan mendapatkan nilai double, dari manusia yang mendapatkan manfaat dari tulisannya dan dari Tuhan yang Maha Menulis. Bahkan jika ia menulis tentang kebenaran yang mendapatkan cacian dan ejekan dari manusia lain, Tuhan tetap memihak padanya. Dalam koteks inilah Bunda Taresha pernah mengatakan bahwa teruslah berbuat baik meskipun orang memandang perbuatanmu hina dan tercela. Sebab pada akhirnya perbuatan baik itu bukanlah antara engkau dengan mereka, namun antara engkau dengan Dia di Sana.

Teruslah menulis sebab itu akan membuat catatan amal baik kita menjadi lebih banyak. Menulis membantu para malaikat yang bertugas mencatat amalan kebajikan dalam menilai perbuatan kita. Mereka terbantu karena tulisan kita adalah bukti tidak terbantahkan dihadapan Tuhan atas apa yang telah kita lakukan di dunia. Tulisan yang kita buat sekarang akan merekam siapa saja yang membacanya dan siapa saja yang mengambil manfaat darinya. Suatu saat kelak, ketika hari pembalasan tiba, ia akan menjadi saksi di hadapan Tuhan bahwa apa yang kita lakukan telah meberikan manfaat yang besar untuk banyak manusia. Ia akan menceritakan siapa yang membacanya dan siapa yang mengambil manfaat darinya kepada Tuhan. Dan berdasarkan laporan itu Tuhan akan menganugerahkan satya lencana Surga bagi penulisnya. Amin…


24 December 2009

Pengabdian dan Masa Depan (4)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2006. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------

Saya mendapatkan makan pagi di rumah famili setelah berjalan kaki 4 km. Kemudian saya dipesankan untuk melihat nenek yang ada di Kp. Keuramat, sekitar 7 km dari rumah itu. Berbekal sebuah sepeda kecil saya menelusuri jalan di Kota Banda Aceh pas sehari setelah tsunami. Sengaja saya memilih jalan utama kota untuk menyaksikan bagaimana peristiwa ini meluluhlantakkan semua yang ada di kota ini. Sayangnya berjalan dengan sepeda pada hari kedua tsunami sama saja dengan membawa sepeda. Artinya bukan kita yang naik ke atas sepeda, tapi sepeda yang harus digendong. Sampah-sampah bercampur mayat menggunung di sepanjang jalan. Saya dengan terpaksa, kadang sengaja terkadang tidak, harus menginjak mayat yang ada di sepanjang jalan itu (Kepada mayat yang merasa saja injak, saja mohon maaf).

Pada hari itu beberapa mobil yang datang entah dari mana sudah mulai membersihkan jalan. Banyak orang mulai mencari saudaranya yang hilang. Ada juga yang mencari kenderaan atau benda berharga di dalam puing-puing rumahnya yang ditinggalkan. Namun tidak sedikit ada orang yang sangat tidak bermoral, hari itu mereka datang untuk mengumpulkan emas dan barang berharga yang ada di tubuh dan pakaian jenazah korban tsunami. Saya tidak tahu mereka datang dari mana. Semoga Tuhan memberikan balasan yang setimpal untuk kejahatan itu.

Saya mendapatkan saudara saya yang di kampung Keuramat selamat. Mereka sempat naik ke lantai dua hingga air yang penuh di lantai satu rumah itu tidak mencederai siapapun. Namun tidak ada yang dapat diselamatkan di dalam rumah. Semua barang, mobil, motor, buku, lemari dan lainnya hancur dimakan air. Kami mencoba turun dari lantai dua dengan menyusun beberapa lemari dekat jendela. Sebab lantai satu, jalan yang ada tangganya sudah tertutup sama sekali. Lalu dari sana kami berjalan dan mencari tempat yang aman. Setelah membawa mereka ke rumah famili yang lain, saya kembali ke Rukoh dan sekitarnya untuk membantu mengangkat jenazah yang berserakan di pinggir jalan dan di dalam rumah. Saat itu sudah banyak orang yang bekerja untuk mengangkat jenazah.

Keesoan harinya (hari selasa), saya baru sadar kalau tamu di rumah famili di Lambaro sudah sangat banyak. Beras, air, makanan lain yang ada di sana tidak mungkin mencukupi untuk orang sejumlah itu. Dengan tiga orang laki-laki lain yang ada di sana kami menempuh perjalanan ke Peunayong (10 km) untuk mencari makanan. Di Peunayong kami mencari makanan yang terbuang yang masih bisa dimanfaatkan. Saya mendapatkan minyak goreng dan sekardus Indomie. Teman saya yang lain mendapatkan roti dan makanan yang lain lagi. Inilah yang kami bawa pulang, lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sampai di rumah saya kelelahan dan hampir tidak daat bergerak lagi. Tangan, kaki, dan badan saya semuanya seperti patah-padah tidak berdaya. Saya tertidur telentang dan fana. Baru sadar keesokan harinya. Saya tertidur 14 jam.

Saya katakan sama Makcik pemilik rumah bahwa saya tidak mungkin berpangku tangan atas kejadian ini. Saya ingin melakukan sesuatu. Memang saya korban, namun kesedihan, kerugian, pederitaan saya tidak sebanding dengan penderitaan banyak orang lain yang juga menjadi korban tsunami. Saat itulah saya pergi ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman di Asrama Pascasarjana IAIN Banda Aceh. Asrama ini menampung 300 kk pengungsi dari seputaran IAIN. Di sana antara lain ada Bapak Prof. Rusjdi, Rektor IAIN Ar-Raniry dan Prof. Muslim, ketua MPU Aceh. Mereka mengungsi karena rumahnya juga diterjang gelombang. Selain mereka ada juga dosen lain dan masyarakat di sekitar kampus.

Beberapa hari kemudian kami membentuk Pusat Koordinasi Pasca Bencana (PKPB) atas nama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Saya salut dengan Prof. Muslim yang pada masa itu langsung berfikir untuk melakukan koordinasi dengan berbagai organisasi sosial masyarakat untk bentuan pasca bencana. Sebab saat itu, seminggu setelah Tsunami, banyak bantuan yang datang namun tidak terdistribusi dengan merata. PKPB rencanya akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak lain hingga bantuan tidak tumpang tindih sementara banyak pengungsi yang sama sekali tidak mendapatkan bantuan. Sayangnya PKPB hanyalah kelompok kecil, sehingga untuk melakukan itu tidak memiliki bergaining yang kuat. Jadinya, PKPB melakukan servey ke beberapa lokasi yang disinyalir tidak mendapatkan bantuan lalu memberikan info kepada organisasi yang menangani bantuan untuk menyalurkan ke sana.

Sebulan setelah tsunami adalah bulan pengabdian. Bergabung dengan teman-teman saya mencoba melakukan apa yang paling baik untuk menjadikan kehidupan dalam kesedihan itu bisa bersemangat kembalai. Pada akhir bulan Januari 2005 kami sempat menyelenggarakan pertemuan pertama berbagai tokoh dan unsur masyarakat mengenai rehabilitasi pasca bencana. Seingat saya inilah pertemuan pertama menyusun rancangan pembangunan Aceh pasca Tsunami. Salah satu rekomendasinya adalah perbaikan jalan. Sebab katanya, orang Aceh kalau ada jalan tanpa bantuan yang lain juga bisa hidup dan bangkit kembali. Sayangnya jalanlah yang terakhir dibuat. Hingga saat ini, lima tahun pasca tsunami, Barat-Selatan Aceh masih terisolir karena tidak ada jalan.

Hidup adalah Saling Memberi (3)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-----------------------------------------------------------------------
Di tengah kerumunan orang saya melihat manusia yang tidak sempurna. Ada yang tanpa kaki, tanpa lengan, usus yag keluar, tanpa mata sebelah, dan kebanyakan tanpa nyawa. Beberapa orang berinisiatif menutupi jasad tanpa nyawa itu dengan kain yang ada di badannya, lalu seorang bapak paruh baya mengatakan, tutuplah yang masih hidup dan dirimu sendiri. Jaga yang masih hidup agar tetap hidup, iklaskan yang telah meninggal dunia. Pakaian tidak berarti apa-apa untuk mereka. Kitalah yang memerlukan pakaian sekarang. Kalau pakaian ini kita berikan kepada yang telah mati, apa yang akan kita gunakan untuk mngusir dingin nanti malam? Petuah bapak paruh baya ini dipatuhi. Mayat-mayat yang tergeletak disana akhirnya terbuka tanpa tutupan sama sekali. Hanya beberapa lembar tikar lusuh dan kertas koran dari asrama yang digunakan untuk menutupinya.

Lalu saya meminta izin kepada adik perempuan saya untuk pergi. Saya sudah pastikan mereka selamat dan sementara itu cukup. Saya harus membantu banyak orang yang mungkin bisa diselamatkan. Turun dari asrama saya mencoba menyusuri jalan yang berlumpur di depannya. Pemandangan mayat dan orang sakit ada di mana-mana. Saya membantu beberapa orang menganggat orang yang terluka. Tiba-tiba sala melihta sepotong tangan bergerak di tengah lumpur. Tangan itu melambai-lambai sambil berucap: Allah… Allah…. Allah… Seorang anak muda lari ketakutan. Tangan tanpa kepala itu disangka hantu. Saya dan seorang teman jadi penasaran. Tidak mungkin hantu mengucapkan lafaz suci nama Ilahi. Kami mendekati tangan hitam legam itu. Ternyata seorang orang tua yang terkubur lumpur. Lalu kami mengangkat orang itu dan membawa ke asrama.

Hari itu saya habiskan untuk membantu mengangkat jenazah, sampai sore. Sedikit waktu saya sisakan untuk mengantar makanan kepada adik-adik saya di asrama. Makanan yang saya peroleh dari sebuah kulkas yang hanyut (Seandainya ada yang merasa sebagai pemilik kulkas itu izinkan saya telah mengambil beberapa potong kue dan beberapa buah jeruk di dalamnya). Lalu kami berjalan kaki 6 km ke Lambaro Angan, rumah famili yang tidak terkena tsunami karena jauh dari lautan. Di sana berkumpul banyak famili lain dan saudara dari famili itu. Sehingga rumah kecil tiga kamar itu menjadi penuh sesak. Sebuah tenda darurat harus segera dibangun di depannya karena di dalam rumah tidak cukup tempat. Saya sendiri kembali ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman lain yang tidak ada saudaranya di Banda Aceh. Sangat tidak enak rasanya membiarkan mereka “terbuang” tanpa kebersamaan.

Malam hari kami tidur seputaran masjid dan perpustakaan Induk Unsyiah. Di sana tidur dan berkumpul banyak orang, entah dari mana saja asalnya. Pemandangan korban tsunami semakin beragam. Di atas masjid saya menjumpai beberapa orang dengan usus terburai di laur badan tidur dengan berlapis koran. Beberapa orang lainnya merintih kesakitan karena anggota badannya yang hilang. Namun hanya sedikit yang dapat terlayani, sebab kebanyakan mereka harus melayani diri sendiri. Di Masjid itu juga kami sering harus berlarian karena ada isu tsunami yang lebih besar muncul lagi. Katanya, air sudah smpai ke Rukoh dan dua kali lebih besar dari pagi tadi. Dan itu terjadi beberapa kali. Sampai ada inisiatif dari pengurus masjid untuk menjamin kebenaran informasi. Jam 11.00 malam pengurus masjid mengumumkan lewat microfon bahwa yang memiliki otoritas untuk menyatakan benar atau tidaknya info tsunami hanyalah pengurus masjid, selebihnya tidak boleh dipercaya. Kalau pengurus mengatakan ada air laut naik, maka larilah. Kalau sumber informasi tidak jelas, maka baikan saja. Sejak saat itulah kami sedikit lebih tenang dan dapat tidur dengan nyenyak.

Saya tidak memiliki kain selain baju yang menempel di badan. Di sebuah aula dekat perpustakaan ada dipajang beberapa papan bunga yang berisi ucapan selamat pernikahan yang dilaksanakan paginya. Saya dan beberapa orang yang lain merusak papan bunga itu dan mengambil kain dasarnya. Ternyata pemilik bunga menggunakan kain bludu yang agak tebal untuk ditusuk dengan jarum bunga. Setelah bunga-bunga itu saya buang saya mendapatkan selembar kain tebal yang luas dan sangat hangat. Cukup untuk mebungkus badan dan menghabiskan sisa malam itu. Dengan kain itu saya mencari posisi di tengah orang-orang yang sudah berbaring di sembarang tempat di sekitar masjid dan perpustakan. Di sebuah tempat kosong, di antara tubuh-tubuh yang terbujur lelap saya membaringkan diri berselimut kain bunga.

Saya bangun ketika matahari sudah naik sehasta dan menyilaukan mata. Meskipun masih ngantuk dan lelah saya mencoba bangun dan menggerakkan badan. Ketika keluar dari bungkjusan kain selimut dan membuka mata saya sedikit heran kanapa orang-orang yang tidur di samping kanan dan kiri saya juga belum bangun. Mereka masih tidur dengan tenang dan nyaris tanpa gerakan. Beberapa detik kemudian saya baru sadar kalau di sana adalah tempat meletakkan jenazah korban tsunami yang sudah ditutp dengan berbagai macam benda, kain, goni, daun, koran dan lain sebagainya. Padahal pagi tad saya ikut mengantarkan jenazah ke sana, namun saya lupa. Semalam fenomena ini tidak nampak karena gelapnya malam sehingga saya tidur di sana bersma mereka. Dan ketika pagi datang saya baru tahu kalau semalam saya tidur diapit oleh jenazah-jenazah korban tsunami. Pantas saya bermimpi masuk surga.

Artikel ini juga dimuat di:
www.sehatihsan.blogspot.com
www.kompasiana.com/sehatihsan

23 December 2009

Manuskrip Yang Tertindas

Kemarin (22/12/09), seharian saya mengikuti seminar pernaskahan Nusantara yang dilaksanakan Oleh LSM PKPM Aceh bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Topik utama seminar ini adalah melihat begaimana perkembangan upaya penyelamatan naskah lama (manuskrip) yang ada di Aceh dan dinusantara pada umumnya. Bagi saya ini menarik karena persoalan manuskrip bukan hanya masalah ilmuan semata, namun juga masalah politik. Kesadaran yang rendah akan manuskrip di kalangan pemerintah menyebabkan banyak kekayaan cagar budaya berbentuk naskah kuno berpindah tangan kepada ilmuan asing dan bangsa asing yang kemudian menyimpannya di perpustakaan negara mereka. Ilmuan Indonesia yang memiliki ketertarikan dengan naskah tersebut atau ada usaha untuk mengkaji berbagai perkembangan sosial dalam sejarah Indonesia harus datang ke luar negeri, ke museum-museum dan perpustakaan di Belanda, Inggris, Amerika, Jepang dan Jerman untuk mendapatkannya.

Dalam seminar terungkap beberapa pengalaman teman-teman yang melakukan usaha penyelamatan naskah kuno di Aceh dan Indonesia umumnya ketika berhadapan dengan sistem kebijakan pemerintah. Misalnya, ketika mereka membutuhkan kertas penempel untuk naskah yang rusak dan bolong, mereka harus memesannya di Jepang. Meskipun Indonesia bisa membuatnya, namun kebutuhan yang sangat sedikit membuat perusahaan tidak mengeluarkan kertas tersebut. Di Jepang, kertas itu mereka beli dengan harga sekitar 5 juta. Namun ketika masuk ke Indonesia, pemerintah mengenakan pajak barang Impor senilai 11 juta. Padahal kertas tersebut jelas untuk kepentingan penyelamatan naskah kuno Indonesia dan bukan untuk kepentingan komersil.

Pengalaman lain adalah kedatangan kolektor ke daerah-daerah, seperti Aceh, Riau dan Padang yang menjadi “gudang” naskah kuno Melayu. Mereka datang dari berbagai belahan dunia, terutama Malaysia, Inggris, Belanda, Jerman dan Amerika. Naskah tua mereka beli dengan harga murah (tapi mahal bagi masyarakat kita). Lalu naskah tersebut dibawa ke negeri mereka. Pihak imigrasi di Bandara tidak pernah mempermasalahkan dan menangkap barang tersebut. Padahal jelas itu termasuk benda cagar budaya yang dijamin penyelamatannya oleh undang-undang. Dengan cara ini maka naskah-naskah lama mulai berpindah ke luar negeri. Saya tidak tahu persis apakah bandara tidak memiliki sistem untuk mengetahui manuskrip yang dibawa keluar atau mereka tidak peduli, apalah arti sebuah buku lama.

Apa akibatnya? Saat ini para cendikiawan Indonesia yang hendak melakukan penelitian mengenai naskah kuno dan perkembangan masyarakat di Nusantara dalam sejarah, harus datang ke negara lain untuk mendapatkan bahannya. Di sana untuk melihat dan mendapatkan focopynya mereka harus membayar mahal. Namun tidak ada pilihan lain karena Indonesia sendiri tidak menjaga dan melestarikannya. Pemerintah nampaknya tidak peduli dengan masalah ini karena pemahaman yang kurang mengenai manuscrip dan kegunaannya. Sampai sekarang, setelah dimulai tahun 2003, Perpustakaan Nasional baru menyelesaikan restorasi (penyelamatan) sekitar 1300 naskah kuno (termasuk peta dan surat). Padahal indonesia adalah gudang bagi manuskrip kuno tersebut. Dengan pola kerja seperti sekarang Perpusnas butuh waktu 150 tahun untuk menyelesaikan semua naskah yang tersedia.

Alhamdulillah, belakangan ini ada sebuah keinginan baik dari berbagai negara lain untuk “mengembalikan” manuskrip Indonesia. Pengembalian ini bukanlah dalam bentuk fisiknya, sebab hal ini tidak mungkin, selain mereka tidak mau, Indonesia pasti belum siap untuk mejaganya. Mereka akan mengembalikan dalam bentuk digital. Untuk manuskrip Aceh di Belanda sudah dilakukan tahun lalu. Semua manuskrip Aceh bisa diperoleh secara online di www.acehbooks.org. Kita masih menunggu “kebaikan hati” negara lain untuk melakukan hal yang sama sehingga sejarah bangsa kita bisa dikaji oleh naka Indonesia sendiril

Agaknya diperlukan sebuah badan khusus untuk mpenanganan Naskha dan manuskrip kono di Indonesia. Kalau pemerintah membuat Badan Arkeologi Nasional, seharusnya ada juga Badan Manuskrip Nasional, agar manuskrip hasil karya bapak bangsa yang ratusan tahun yang lalu dapat diselamatkan dan dipelajari kembali.

Semoga.