23 December 2009

Manuskrip Yang Tertindas

Kemarin (22/12/09), seharian saya mengikuti seminar pernaskahan Nusantara yang dilaksanakan Oleh LSM PKPM Aceh bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Topik utama seminar ini adalah melihat begaimana perkembangan upaya penyelamatan naskah lama (manuskrip) yang ada di Aceh dan dinusantara pada umumnya. Bagi saya ini menarik karena persoalan manuskrip bukan hanya masalah ilmuan semata, namun juga masalah politik. Kesadaran yang rendah akan manuskrip di kalangan pemerintah menyebabkan banyak kekayaan cagar budaya berbentuk naskah kuno berpindah tangan kepada ilmuan asing dan bangsa asing yang kemudian menyimpannya di perpustakaan negara mereka. Ilmuan Indonesia yang memiliki ketertarikan dengan naskah tersebut atau ada usaha untuk mengkaji berbagai perkembangan sosial dalam sejarah Indonesia harus datang ke luar negeri, ke museum-museum dan perpustakaan di Belanda, Inggris, Amerika, Jepang dan Jerman untuk mendapatkannya.

Dalam seminar terungkap beberapa pengalaman teman-teman yang melakukan usaha penyelamatan naskah kuno di Aceh dan Indonesia umumnya ketika berhadapan dengan sistem kebijakan pemerintah. Misalnya, ketika mereka membutuhkan kertas penempel untuk naskah yang rusak dan bolong, mereka harus memesannya di Jepang. Meskipun Indonesia bisa membuatnya, namun kebutuhan yang sangat sedikit membuat perusahaan tidak mengeluarkan kertas tersebut. Di Jepang, kertas itu mereka beli dengan harga sekitar 5 juta. Namun ketika masuk ke Indonesia, pemerintah mengenakan pajak barang Impor senilai 11 juta. Padahal kertas tersebut jelas untuk kepentingan penyelamatan naskah kuno Indonesia dan bukan untuk kepentingan komersil.

Pengalaman lain adalah kedatangan kolektor ke daerah-daerah, seperti Aceh, Riau dan Padang yang menjadi “gudang” naskah kuno Melayu. Mereka datang dari berbagai belahan dunia, terutama Malaysia, Inggris, Belanda, Jerman dan Amerika. Naskah tua mereka beli dengan harga murah (tapi mahal bagi masyarakat kita). Lalu naskah tersebut dibawa ke negeri mereka. Pihak imigrasi di Bandara tidak pernah mempermasalahkan dan menangkap barang tersebut. Padahal jelas itu termasuk benda cagar budaya yang dijamin penyelamatannya oleh undang-undang. Dengan cara ini maka naskah-naskah lama mulai berpindah ke luar negeri. Saya tidak tahu persis apakah bandara tidak memiliki sistem untuk mengetahui manuskrip yang dibawa keluar atau mereka tidak peduli, apalah arti sebuah buku lama.

Apa akibatnya? Saat ini para cendikiawan Indonesia yang hendak melakukan penelitian mengenai naskah kuno dan perkembangan masyarakat di Nusantara dalam sejarah, harus datang ke negara lain untuk mendapatkan bahannya. Di sana untuk melihat dan mendapatkan focopynya mereka harus membayar mahal. Namun tidak ada pilihan lain karena Indonesia sendiri tidak menjaga dan melestarikannya. Pemerintah nampaknya tidak peduli dengan masalah ini karena pemahaman yang kurang mengenai manuscrip dan kegunaannya. Sampai sekarang, setelah dimulai tahun 2003, Perpustakaan Nasional baru menyelesaikan restorasi (penyelamatan) sekitar 1300 naskah kuno (termasuk peta dan surat). Padahal indonesia adalah gudang bagi manuskrip kuno tersebut. Dengan pola kerja seperti sekarang Perpusnas butuh waktu 150 tahun untuk menyelesaikan semua naskah yang tersedia.

Alhamdulillah, belakangan ini ada sebuah keinginan baik dari berbagai negara lain untuk “mengembalikan” manuskrip Indonesia. Pengembalian ini bukanlah dalam bentuk fisiknya, sebab hal ini tidak mungkin, selain mereka tidak mau, Indonesia pasti belum siap untuk mejaganya. Mereka akan mengembalikan dalam bentuk digital. Untuk manuskrip Aceh di Belanda sudah dilakukan tahun lalu. Semua manuskrip Aceh bisa diperoleh secara online di www.acehbooks.org. Kita masih menunggu “kebaikan hati” negara lain untuk melakukan hal yang sama sehingga sejarah bangsa kita bisa dikaji oleh naka Indonesia sendiril

Agaknya diperlukan sebuah badan khusus untuk mpenanganan Naskha dan manuskrip kono di Indonesia. Kalau pemerintah membuat Badan Arkeologi Nasional, seharusnya ada juga Badan Manuskrip Nasional, agar manuskrip hasil karya bapak bangsa yang ratusan tahun yang lalu dapat diselamatkan dan dipelajari kembali.

Semoga.

Memori Tsunami: Amal dan Ilmu (2)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
------------------------------------------
Sukses menyelamatkan diri dari kejaran Tsunami ternyata bukan akhir dari pejalanan hari itu, malah sebaliknya, awal dari semua perubahan yang saya alami sampai saat ini. Saya berlari lebih kurang 1,5 km dari rumah sampai benar-benar selamat dari amukan gelombang. Di Darussalam, tepatnya di lokasi kampus Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, ternyata banyak orang berkumpul. Sebab di sanalah ujung dari gelombang dahsyat itu. Saya berjumpa dengan banyak teman yang juga “berhasil” menyelamatkan diri. Saat bertemu kami bercanda, tertawa, mengisahkan kehebohan yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Sama sekali saya, dan juga beberapa teman, tidak sadar ini adalah sebuah peristiwa besar yang mengubah sejarah Aceh dan mungkin juga sejarah Indonesia.

Sampai tiba-tiba kami dihebohkan dengan sekelompok orang yang mengangkat sesosok jenazah laki-laki telanjang dari dalam air yang masih tergenang. Orang-orang berkerumun menyaksikan jenazah itu. Mungkin sebagian ingin tahu itu jenazah siapa, namun banyak pula yang hanya ingin melihat saja kondisi jenazah yang tidak lazim itu. Sebelum semua orang dapat melihat, dari arah lain sudah terdengar kabar ada jenazah yang lain lagi, dan bagitu seterusnya. Muka-muka senang dan penuh canda yang kami perlihatkan sebelumnya mendadak kecut dan takut. Saya berjalan agak ke Barat, dekat Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Di sana ada sebuah jalan yang mengarah ke dalam lautan air gelombang yang sedang surut. Tiba-tiba seorang perempuan setengah telanjang, berkulit putih, sedikit gemuk dan agak pendek diangkat dari air. Itu persis seperti ciri-ciri adik perempuan saya. Tiba-tiba jantung saya berdetak cepat. Saya lupa diri dan kalut. Tidak peduli dengan air gelombang yang surut dengan begitu deras, saya masuk dan berenang. Niat hati hanya satu, memastikan kondisi tiga orang adik perempuan saya plus dua adik sepupu yang tinggal di desa Rukoh, sebuah desa yang turut hancur terkena tsunami.

Saya berusaha berenang dan sesekali berjalan mengarungi air gelombang yang sedang surut. Tempat di mana saya berjalan pada dasarnya memang sebuah jalan umum, namun gelombang lautan yang naik tiba-tiba menjadikannya sebagai sebuah sungai. Saya berusaha terus berjalan dan sesekali berenang. Setelah 100 meter saya lalui, air sudah mulai mengering hingga menjadi selutut. Saya bisa berjalan lebih cepat ke arah rumah adik saya meskipun dengan sebuah perjuangan keras karena air surut yang sangat deras.

Perjalanan itu menimbulkan kesan yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan. Untuk pertama kali, saya melihat beberapa jenazah tersangkut di pagar dan di dalam mobil. Sebuah mobil angkutan yang penuh sesak dengan penumpang terbalik ke selokan di pinggir jalan dengan seluruh penumpang di dalamnya tewas menggenaskan. Banyak jenazah tertutup lumpur dan hanya terlihat bagian tertentu dari badannya. Kebanyakan jenazah itu terbuka pakaiannya hingga telanjang. Mungkin ganas dan putaran air yang sangat kuat menjadikan semua yang melekat pada tubuh mereka lepas dan hilang. Saya juga melihat beberapa potongan tubuh yang tidak utuh. Di atas sebuah sampah yang menumpuk saya lihat sebuah potongan tangan yang badannya sama sekali tidak ada di sana. Belum lagi beberapa peralatan rumah tangga masyarakat yang berhamburan ke tengah jalan. Mobil, motor, kulkas, mesin cuci, dispenser, kompor gas, gas kompor, semuanya berserakan di tengah dan sekitar jalan yang saya lalui.

Tapi saya tidak bisa peduli dengan itu semua karena pikiran dan perasaan saya masih berkecamuk. Bagaimana nasip adik-adik saya? Dengan kondisi yang saya saksikan di sepanjang jalan, membuat saya semakin khawatir nasib mereka. Saya terus berjalan hingga sampai di ujung jalan, di mana ada tiga asrama mahasiswa Unsyiah berlantai tiga yang penuh sesak dengan manusia. Saya mencoba menuju ke sana, sebab bangunan itu tidak jauh dari rumah kosan adik saya. Ketika saya masuk ke pagar halaman yang di sisi kirinya tersangkut mayat seorang bapak tua, sebuah suara serak penuh tangisan memanggil saya dari lantai dua. Saya kenal pasti dengan suara itu, dan itu adalah adik perempuan saya. Setetes air mata meleleh di pipi saya. Setidaknya satu orang pasti selamat. Lalu saya bergegas naik ke lantai dua bangunan yang penuh sesak itu. Alhamdulillah, saya berjumpa dengan tiga orang adik perempuan saya dan dua adik sepupu. Mereka semuanya selamat. Hanya saja rumah dan semua isinya hancur lebih diterjang tsunami. Saya teringat dua lemari buku yang berisi lebih kurang 600 judul buku plus makalah, majalah, jurnal, kliping, dll yang saya “titip” di rumah mereka. Semuanya wa’fuanna, innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Renungan:


Saya kalang kabut, tidak hati-hati dan ceroboh. Perasaan sedih dan duka membuat saya bertindak tidak hati-hati. Saya “terjun” ke dalam air begitu ingin tahun kondisi adik saya. Padahal saya hanya punya pakaian di badan satu-satunya dan handphone di dalam kantong. Saya juga masuk ke dalam air yang masih deras. Saya bertindak tanpa ilmu. Handphone saya sebenarnya sudah selamat, namun ia menjadi korban kecerobohan saya. Untung saya selamat dalam air surut yang di tempat lain memakan banyak korban. Seharusnya saya sedikit berfikir dan tenang sebelum bertindak.

Bagian I

22 December 2009

Memori Tsunami: Ilmu dan Amal (1)

Artikel ini saya tulis untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------------------------------------------------
Pagi itu saya bangun agak awal dari biasanya. Maklum minggu, jatahnya olahraga bagi kebanyakan anak kos di tempat saya. Saya dan beberapa teman kosan yang lain bermain bola di depan rumah kontrakan kami yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Saat kami asyik dengan sikulit bundar, berteriak, berlarian, tiba-tiba sebuah getaran dari pusat bumi datang, disusul dengan ayunan tanah yang maha dahsyat. Pepohonan yang ada di sekitar rumah bergoncang layaknya ditiup sangkakala kiamat. Kami menjauh dari pepohonan dan duduk berkerumun di tengah halaman sambil memandang pohon yang berayun. Takut kalau-kalau tumbang ke arah kami. Dari lidah kami keluar ucapan: “lailaha illallah” berulang-ulang. Meudo’a oh wate saket, Meuratep oh wate geumpa, kata orang Aceh. Sindiran untuk orang yang menyebut nama Allah hanya pada saat sakit dan dalam bencana.

Sepuluh menit kemudian gempa berhenti. Dari wajah kami terpancar rasa ketakutan, kekhawatiran, was-was dan berbagai macam perasaan lain yang tak tergambarkan. Saya, selain orang yang paling tua dan paling lama tinggal di sana, juga yang paling “senior” menjadi tempat teman-teman bercerita perasaannya. Kami berkerumun di bawah pohon akasia yang masih teguh berdiri dan mulai bertukar cerita tentang perasaan mereka diguncang gempa selama sepuluh menit. Tidak semua, beberapa diantaranya mengejar sarang burung yang jatuh dari pohon kelapa. Ada anak burung yang masih kecil jatuh dari sana. Katanya itu burung tiong meuh (tiung emas – maaf kalau bahasa indonesianya keliru) yang bisa dijual mahal kalau sudah mulai tumbuh bulu dan mulai bisa terbang.

Kebetulan saya punya sedikit pengetahuan tentang tsunami. Saya becerita kepada teman-teman mengenai berbagai peristiwa tsunami yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, misalnya Bayuwangi. Tsunami adalah naiknya air laut ke daratan sampai jauh. Hal semacam ini sering terjadi di Jepang. Biasanya tsunami terjadi setelah gempa besar melanda. Ada banyak penyebab kenapa ini terjadi. Diantaranya adalah terjadinya sebuah retakan di dasar lautan yang menyebabkan air masuk ke dalamnya, lalu ketika air penuh maka terjadi gelombang balik ke daratan dan akan menghancurkan kehidupan di sana.

Saya ingat bagaiamana teman-teman saat itu menyimak apa yang saya katakan dengan hati-hati. Mereka paham bahwa itu adalah sebuah realitas yang alami dan terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Pelajaran penting yang kami catat bahwa gempa dan tsunami bukan karena Tuhan sudah mulai bosan apalagi marah dengan apa yag dilakukan anak manusia di bumi-Nya, namun itu adalah bagian dari cara Dia mengatur tata kehidupan bumi agar semakin stabil dan berjalan lancar.

Itu hanya lima belas menit. Saya kemudian mandi dan mengganti baju. Rencananya saya akan pergi ke rumah paman karena ada sedikit pekerjaan yang harus saya lakukan. Sepuluh menit menunggu angkot tapi tidak juga kunjung datang. Tiba-tiba dari arah jembatan Lamnyong, 100 m dari tempat saya berdiri, orang-orang berkerumun mengatakan kalau air laut naik ke darat. Lari…. larii…. air laut naiik…. Teriakan itu diulang-ulang. Saya bukannya lari menjauh tapi justru lari ke jembatan. Penasaran bagaimana wujud air laut yang naik ke darat tersebut. Namun langkah saya terhalang oleh gerombolan besar manusia yang lari menjauh.

Saya bergegas kembali ke rumah. Saya ingat di dalam tas saya ada kunci toko teman yang saya pinjam dua hari sebelumnya saat saya ingin mengetik di komputernya. Saya berniat mengambil kunci tersebut, siapa tahu bisa menyelamatkan orang ke dalam toko kalau-kalau airnya besar. Bergegas pulang dan masuk ke dalam kamar lalau mengambil kunci. Saat keluar saya melihat sebuah gelombang hitam pekat, tinggi dan kekar, seolah ingin mencengkram semua benda di depannya, membawa kayu, papan, seng, droum, sampah segala jenis, berlari kencang mengejar saya. Saat itu, dengan kekuatan entah dari mana, saya lari menjauh. Saya tidak bisa lagi sampai ke pintu keluar pagar komplek karena terlalu jauh. Sehingga terpaksa langsung melompat pagar kawat berduri yang berada lima meter dari tempat saya berdiri. Wallahu’a’lam. Entah dari mana tenaga, pagar setinggi satu meter setengah itu berhasil saya lewati. Hanya sebuah goresan memanjang di kaki saya (saya baru sadar tiga hari kemudian) terkena duri pagar. Saya lalu main kejar-kejaran dengan gelombang hitam. Ada jarak 10 meter di antara kami. Namun kekuatan gelombang yang semakin melemah dan akhirnya pecah membuat pelarian saya tidak terlalu jauh. Inilah yang kemudian disebut tsunami.

Renungan:


Saya sedih dan kecewa, kenapa pengetahuan saya mengenai tsunami tidak menggerakkan saya untuk mengajak masyarakat mengungsi dan lari. Saya hanya bercerita tapi tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan saya. Andai waktu itu apa yangs aya ketahui saya sampaikan kepada banyak orang, mungkin akan lebih banyak lagi orang yang terselamatkan, atau setidaknya akan banyak barang berharga bisa diselamatkan pemiliknya.

Bersambung ke Bag.II: Memori Tsunami: Amal dan Ilmu (2)

20 December 2009

Tasawuf Gaul

Tiba-tiba saya ingat cerita seorang teman yang dulu kuliah di UIN Jakarta tahun 1998, beberapa bulan setalah Sueharto lengser. Dalam sambutan pelepasan jenazah Prof. Harun Nasution, Pjs. Rektor UIN Jakarta, saya lupa nama beliau, mengatakan: “Pak Harun ini Sufi, tapi beliau Shalat.” kalimat pendek ini menimbulkan dua pertanyaan: pertama, memang kalau sufi tidak shalat? kedua, apakah seseorang yang melakukan shalat tidak bisa jadi sufi?

Dalam belantara wacana pemikiran keislaman, tasawuf sering kali diposisikan sebagai ajaran yang meninggalkan berbagai ajaran islam “biasa” dan melakukan hal-hal yang tidak biasa. Hal yang tidak biasa adalah menunjukkan perilaku yang bagi normalnya ajaran agama adalah sesat dan tidak sesuai dengan kaidah kesilaman. Oleh sebab itu sering kali para sufi dianggap sebagai pembawa aliran sesat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. Dalam sejarah kita bisa lihat bagaimana sufi dan fuqaha salaling klaim kebenaran dan tidak mau melakukan dialog untuk kebaikan kehidupan beragama. Pandangan demikian tentu saja kurang bijak, sebab selain bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri yang menempatkan kebebasan berfikir di atas segalanya, tasawuf dan para sufi juga sama sekali bukan orang yang meninggalkan ajaran Islam syariat.

Kalau kita lihat asal kata dan asal munculnya, sufi adalah mereka yang dengan semangat yang kuat ingin menjadikan hidup dan segala aktifitasnya sebagai cara menunju Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semua yang ia lakukan, selama ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran agama dan kebaikan universal, maka itu bisa dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah yang dilakukan para sufi. Setiap gerah dan pemikiran yang ada padanya, setiap potensi yang ia miliki, setiap masalah yang ia terima, setiap apapun yang terjadi padanya, maka itu adalah sarana menunju kepada Tuhan. Ia menghadirkan Tuhan dalam pekerjaaan, dalam pemikiran, dalam wacana, dalam aktifitas yang ia lakukan.

Untuk konteks modern saat ini maka sufi bisa hadir dalam diri setiap orang selama ia melakukan sesuatu dengan landasan keinginan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya sangat yakin sufi bisa berwujud dalam seorang pekerja kantoran, pedagang, penguasa, pengajar, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan semua orang. Hanya sata yang mereka butuhkan yaitu kesadaran dan keinginan mempersembahkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhan dan kehidupan manusia. Sebab kehidupan manusia yang baik juga sebagai sebuah amanah dari Tuhan. Dalam konteks ini maka sufi pasti shalat dan orang yang rajin shalat pasti bisa jadi sufi. Sufi pasti berbuat untuk kebaikan sosial dan masyarakat dalam bentuk apapun dan bagaimanapu, dan mereka yang berbuat untuk kebajiakan pasti bisa jadi sufi. Dan mereka inilah yang saya namakan dengan Sufi Gaul.

09 December 2009

Peluncuran Buku itu Perayaan

Ada satu hal menarik dari peluncuran buku "Perempuan Dalam Masyarakat Aceh: Memahami Beberapa Persoalan Kekinian" yang dilaksanakan Aceh Research Training Institute (ARTI) tadi pagi. Peluncuran adalah perayaan atas sebuah usaha yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan buku tersebut. Ini sedikit berbeda dengan kebiasaan peluncuran yang saya ikuti selama ini di mana peluncuran sekaligus sebagai forum diskusi dan perdebatan. Perbedaan sedikit ini bermakna besar. Sebagai sebuah perayaan maka peluncuran adalah ajang di mana semua orang yang hadir di sana bergembira atas terwujudnya sebuah buku. Sebaliknya, jika peluncuran adalah sebuah ajang diskusi maka forum akan menjadi tempat di mana penulis mendapatkan kritikan atas karyanya pada hari pertama hasil karya itu dipublikasi.

Bagi saya ini menarik karena menyangkut dengan penghargaan terhadap kerja keras. Selama ini peluncuran buku disertai dengan kritik 7C yang diajukan kepada penulisnya; cover, content, color, construc, comment, (apalagi? saya lupa). Padahal hari itu adaalh hari pertama secara resmi buku itu beredar. Uniknya lagi orang yang mengkritik belum membaca buku itu secara keseluruhan. Umumnya mereka baru mendapatkan pada hari ketika acara itu dilakukan. Namun dengan "semena-mena" mereka menyatakan buku itu belum sempurna dan masih perlu diperbaiki.

Apakah ada karya yang sempurna? semua karya adaalh sebuah proses. Kesempurnaan adaalh milik Tuhan. Sebuah karya lahir dari sebuah kerja keras yang dilakukan penulisnya berbulan-bulan dengan pengorbanan yang tidak sedikit, uang, waktu, perasaan, keluarga dan lainnya. Sangat menyedihkan melihat mereka, sipenulis, tertunduk lesu pada hari pertama hasil kerja kerasnya dipublikasikan.

Ke depan saya pikir model peluncuran ini layak dicontoh. Semua orang yang hadir dalam peluncuran buku akan memberikan pujian kepada penulisnya dan mengungkapkan kebanggaannya atas keluarnya karya itu. Sebuah pujian yang tulus dan iklas akan memberikan motivasi kepada sipenulis untuk terus berkarya dan berusaha mewujudkan karya yang lainnya. Sebaliknya sebuah kritikan, meskipun itu dibalut dengan kritikan positif yang membangun, tetap saja menyisakan duka kepada penulis bahwa apa yang dilakukannya belum layak publish. Padahal belum tentu orang yang mengkritiknya telah melakukan usaha yang sama dengan apa yang dilakukan si penulis.Meunan kira-kira.