06 May 2026

Belajar tentang masa lalu di bukit Lamreh. Membaca pesan-pesan sufistik abad XIV di makam tua Lamuri
_______
"Kita akan naik gunung dan masuk hutan, apa kalian siap?"
"Siap Pak!"
"Tapi di sana banyak monyet dan mungkin babi hutan."
"Ngak apa-apa pak, kami siap!"
Saya ngak menyangka tawaran iseng saya kepada mahasiswa untuk mengunjungi situs makam kerajaan Lamuri (Abad XIV-XV) disambut begitu semangat. Saya yakin bukan karena "Lamuri-nya", tetapi karena belajar di luar ruang kelas.
Syahdan, kamipun berangkat ke sana hari ini, Rabu, 6 Mei 2026, 10 sepeda motor, dua mobil.
Kesan pertama, tidak terkesan.

Hamparan hutan muda, tanah kering, jalan berbatu dan sempit. Beberapa tanjakan kami lalui, hingga kahirnya tiba di ujung tebing Bukit Lamreh.
Ternyata di sana ada sebuah cafe, dengan beberapa tempat duduk di depannya, sebuah ayunan, dan pemandangan hamparan lautan Hindia.
Tidak jauh dari ujung bukit itu ada sebuha pulau batu kecil yang dinamakan bukit Ramanyang, folktale ala Malin Kundang di Aceh.
Saya membuka peta, hendak melihat di mana titik makam-makam berada. Celaka! signal hp tidak bagus, tidak bisa menunjukkan posisi makam dengan jelas. Namun dari pengalaman sebelumnya, saya menunjuk satu arah ke Barat, saya yakin di sana ada beberapa makam yang bisa dikunjungi.
Menuruni bukit di mana kami berada lalu mendaki bukit di depannya. berusaha menghindari beragam ranting tajam dan berduri. merunduk, merangkak, berjalan teratih menyusuri tebing lereng, akhirnya kami sampi di titik yang saya maksud.
Alhamdulillah, dalam hutan kecil itu signal membaik. saya bisa melacak lebih jelas di mana makam-makam berada. Dan setelah beberapa kali percobaan kami tiba di salah satu komplek pemakaman kerajaan Lamuri ini.
______
Di komplek pemakaman kerajaan Lamuri ini terdapat lebih dari 250 makam. Mapesa Aceh yang rutin berkunjung dan melakukan penelitian di sana berhasil membaca beberapa inskirpis nama pemilik makam pesan-pesan sufistik yang ada di dalam makam itu.
Dari beberapa inskripsi yang berhasil di baca menunjukkan komplek pemakaman ini merupakan pemakaman kerajaan Lamuri yang eksis di abad ke XV. Ini mungkin hampir semasa dengan kerajaan Samudera Pasai.
Sayangnya, kita tidak mendapatkan informasi yang cukup lengkap tentang kerajaan ini. Selain darin makam, ada juga beberapa catatan dari Laksamana Cheng Ho yang beberapa kali singgah di sana, dan sebuah prasasti di India. Masih perlu lebih banyak penelitian tentang ini.
______
Setelah kuliah satu kali pertemuan di tengah hutan itu, kami beranjak pulang. Melalui kembali jalan yang telah kami lalui sebelumnya dan berkumpul kembali ke cafe di mana kami parkirkan kenderaan.
Kami istirahat dan makan siang di sana. Lalu melanjutkan petualangan kami ke beberapa makam yang lain dan diakhiri dengan turun ke pinggir pantai di mana terdapat Benteng Kuta Lubok.
Hari yang melelahkan.
Kami mulai beranjak pulang saat matahari mulai turun ke Barat. Saya melihat muka kelelahan mahasiswa.
"Pak, minggu depan kemana lagi kita kuliahnya?"
"Di kelas!"
"Jangaaaannnnn!"

No comments:

Post a Comment