06 May 2026

Belajar tentang masa lalu di bukit Lamreh. Membaca pesan-pesan sufistik abad XIV di makam tua Lamuri
_______
"Kita akan naik gunung dan masuk hutan, apa kalian siap?"
"Siap Pak!"
"Tapi di sana banyak monyet dan mungkin babi hutan."
"Ngak apa-apa pak, kami siap!"
Saya ngak menyangka tawaran iseng saya kepada mahasiswa untuk mengunjungi situs makam kerajaan Lamuri (Abad XIV-XV) disambut begitu semangat. Saya yakin bukan karena "Lamuri-nya", tetapi karena belajar di luar ruang kelas.
Syahdan, kamipun berangkat ke sana hari ini, Rabu, 6 Mei 2026, 10 sepeda motor, dua mobil.
Kesan pertama, tidak terkesan.

17 April 2015

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia ini yang hidup tanpa masalah. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, manusia selalu berhadapan dengan berbagai persoalan. Bahkan, saat tidur pun terkadang masalah masih menghampiri. Namun, justru dengan adanya masalah, manusia bisa bertahan hidup. Mereka yang kuat adalah mereka yang mampu mengatasi masalah yang menimpa dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk menghadapi masalah berikutnya.

Namun demikian, “masalah penelitian” sering kali tidak mudah ditemukan oleh semua orang. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang sudah lama belajar di perguruan tinggi, rajin membaca, aktif berdiskusi, dan tergolong “pintar” sekalipun tetap kesulitan menemukan masalah penelitian. Hal ini membuat mereka kesulitan menyelesaikan tugas akhir, seperti skripsi, tesis, atau disertasi.

Berdasarkan pengalaman saya, ada lima trik agar kita bisa menemukan masalah dalam penelitian:

16 September 2014

Autoetnografi: Dari Pengalaman ke Teks

Apa yang paling mudah ditulis? Jawabnya sudah pasti: pengalaman pribadi, sesuatu yang pernah dilakukan, dialami, dan itu sangat berkesan. Berbeda dengan pengetahuan yang sering kali terlupakan, pengalaman seperti terpatri di dalam ingatan seseorang. Semakin berkesan sebuah pengalaman, maka semakin kuat ia melekat dalam ingatan. Memang terkadang ia mengalami degradsai, atau bahkan penambahan dalam beberapa aspek detail, namun substansi sebuah pengalaman tetap tidak akan pernah hilang. 

Sayangnya, seringkali pengalaman personal ini diposisikan sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bisa dipakai sebagai data dalam penelitian. Penelitian yang -selalu dianggap- sangat objektif, berusaha seminimal mungkin menggunakan intervensi pribadi sipeneliti dalam laporannya. Peneliti -dianggap- harus independen, harus tidak memihak, dan harus menyajikan data apa adanya seperti yang ia temukan di lapangan. Ia harus memihak pada data, pada temuan-temuan faktual yang ada tenpam emanipulasinya. Hanya dengan cara seperti itu sebuah masalah dapat dilihat lebih terang dan intervensi atas masalah tersebut bisa dilakukan dengan objektif pula. 

29 March 2012

Temanku Sufi Tapi Komunis

"Aku seorang sufi"
"Apa kamu seorang muslim?"
"Bukan, tapi aku suka sufi, dan aku bermujahadah dan riadhah"
Begitulah percakapan singkatku dengan teman ini. Ia orang Veneto, provinsi yang beribukota Venezia. Minggu lalu ia menyewa kamar satu apartemen denganku. Pada malam pertama ia menginap di sana kami berbincang banyak hal, termasuk masalah sufisme. Di sanalah aku tahu kalau ia menyukai sufi.

Semula aku tidak percaya. Bagaimana mungkin di kota Milan yang materialitis ini ada seorang laki-laki Italia mengaku pengagum Sufi? Bagaimana mungkin dalam budaya hidup yang nafsi-nafsi ini ada seorang pria yang menyukai spiritualitas? Lebih aneh lagi, bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan diri sufi namun ia bukan seorang Muslim? Tapi aku tidak bisa menanyakan ini padanya. Aku justru ingin tahu lebih lanjut apa yang ia pikirkan tentang sufi.

28 March 2012

Berkunjung ke Museum Castello Sforzesco

Salah satu objek wisata paling banyak dikunjungi di Milan adalah Museum. Seperti di bebrbagai negara Eropa lainnya, Museum bukanlah sebuah "gudang" untuk menyimpan benda-benda unik, namun etalasa ilmu bagi manusia. Dari museum orang banyak mengenal seperti apa masa lalu mereka, seperti apa masa kini. Tidak heran kalau "berkunjung ke museum" sering menjadi liburan akhir pekan bagi keluarga di Eropa. Jangan bandingkan dengan museum di negeri kita.

Hari minggu lalu aku berkunjung ke museum di Castello Sforzesco. Hari itu semua museum pemerintah di Milan gratis. Jika masuk pada hari yang lain, harus bayar. Aku tidak tahu berapa, namun biasanya museum tidak kurang dari lima euro. Hari ini, mumpung gratis, aku ingin memanfaatkannya. Sudah lama aku ingin melihat isi dalam museum itu dan ini adalah kesempatan yang paling bagus. Aku bisa masuk ke semua museum (14 buah museum) dan menikmati semua pameran mereka. Di pintu masuk aku diberikan selembar tiket gratis. Tiket ini perlu untuk masuk ke berbagai museum yang ada di dalam Castello ini. Aku memegang tiket itu dan memulai tour museum gratis ini.