27 February 2010

Catatan Lapangan Antropolog

Guru Antropologi Saya di UGM Jogja menasehati saya satu hal: Catatlah apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu rasakan." Ia mengatakan ini saat kami hendak berangkat menuju lapangan untuk sebuah training penelitian. Semula, saya tidak sepenuhnya mengerti kenapa ini perlu dilakukan. Sebab tidak semua apa yang kita lihat di lapangan itu perlu. Lagi pula untuk sebuah studi yang telah dipilih topik dan masalahnya rasanya tidak mesti harus bersusah-susah menulis hal lain yang secara langsung memang kita tidak butuhkan untuk penelitian yang sedang dilakukan. Namun sebagai murid, saya lakukan saja apa yang ia minta sambil tetap memendam pertanyaan itu dalam hati dan berniat akan menanyakan padanya kalau ada waktu yang tepat.

Dua minggu setelah itu, waktu itu tiba. Saya menumpang mobilnya saat pulang dari lapangan ke kampus. Saya duduk persis di belakangnya. Saya ajukan pertanyaan yang sudah dua minggu saya pendam. Kenapa harus mencatat semua yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan saat berada di lapangan. Ia mengatakan kalau itu memang dibutuhkan. Saya menimpali, dari catatan yang saya bikin jelas terlihat kalau ada bagian yang tidak perlu dalam penelitian saya. Saya menulis tentang selametan, lalu apa hubungannya dengan pembangkit listrik tenaga air di dusun lokasi penelitian saya? Ia mengatakan, itu mungkin memang tidak bermanfaat padamu kali ini. Namun saat kamu menulis tema lain, misalnya pengembangan wilayah, informasi ini akan menjadi catatan berharga. Lagi pula, siapa yang mengetahui mengenai pembangkit listrik tenaga air di dusun itu sepuluh tahun mendatang? Catatanmu akan menjadi bukti sejarah yang tidak terbantahkan. Ia akan menjelaskan kepadamu bagaimana kamu saat berada di sana pada tahun ini.

Saat ini, saya akui, ada banyak hal yang saya alami, saya saksikan, saya rasa, saya dapatkan bukti, lima tahun lalu. Namun hari ini saya tidak dapat berbuat banyak karena tidak ada catatan sama sekali. Mungkin saya ingat peristiwanya, namun saya tidak ingat detailnya. Mungkin saya ingat konteksnya, namun saya lupa kontennya. Padahal, lima tahun lalu, saat bekerja sebagai relawan tsunami, bekerja dengan Palang Merah Inggris, menjadi trainer dan lainnya, saya mendapatkan banyak "data" yang sangat penting. Tapi kini itu telah hilang seiring dengan perkembangan zaman. Peristiwa itu kini menjadi kisah yang kadang saya ceritakan dengan sedikit bumbu romantis. Saya benar-benar melupakan apa yang sudah saya dapatkan.

Kembali kepada Guru saya dari UGM. Ia mengatakan masih memiliki catatan lapangan mengani Kabupaten Pekalongan sejak 20 tahun yang lalu. Hampir setiap bulan dia menghabiskan satu buku untuk mencatat data-data yang diperlukan. Hingga saat ini, ia telah mengoleksi lebih dua ratus buku catatan lapangan. Catatan-catatan itu amat membantunya dalam menulis artikel. Beberapa artikel publikasi internasionalnya dibuat berdasarkan catatan lapangan tersebut. "Kalau untuk artikel jurnal kampus, tinggal ambil satu buku secara acak, sudah bisa membuat satu artikel" katanya. Catatan-catatan itu benar-benar mereka dengan detai apa yang terjadi di Pekalongan 20 tahun yang lalu.

Saya tahu ini sesuatu yang berat, meskipun saya juga tahu ini sesuatu yang perting. Hanya sebuah usaha sungguh-sungguh yang dapat meweujudkan ini semua. Keseriusan, kejelian, kewaspadaan akan membantu kita mendapatkan hal-hal sederhana yang bercerita. Dan ini semua, pada saatnya nanti akan menjadi saksi tidak terbantahkan tentang sebuah periode sejarah yang pernah berlangsung dan bagaimana kita memahaminya.

Jadi, catatlah apa yang ada di sekitarmu, suatu saat ia akan menjelaskan padamu siapa dirimu sebenarnya.


Tulisan ini saya muat juga di: www.sehatihsan.blogspot.com

23 February 2010

Menjadikan Artikel Akademik Layak Publish Internasional

Saya berfikir beberapa kali untuk judul tulisan ini. Mudah-mudahan tulisan di atas mengena dengan isi yang akan saya bahas. Ini adalah sebuah pengalaman pribadi yang menurut saya dapat menjadi pelajaran juga bagi banyak orang. Satu waktu, pertengahan tahun lalu, saya jumpa dengan seorang peneliti senior dari Sumatera Utara. Beliau lulusan Australian National University dan sudah melakukan beberapa penelitian berkaitan dengan perkebunan dan lahan di berbagai daerah di Indonesia. Sekarang ia menjadi team leader untuk penelitian perubahan iklim dan kemiskinan di Aceh. Orangnya biasa saja, penampilannya juga sederhana, tidak terlalu istimewa menurut saya.

Sebentar saja berkenalan dengannya langsung terasa akrab. Kami mulai banyak bercerita tentang kegiatan masing-masing. Ternyata pengalaman penelitiannya bukan hanya di Indonesia, namun di mancanegara. Ia sudah menulis beberapa buku. Yang paling mengagumkan saya adalah, ia sudah menghasilkan 86 buah artikel ilmiah yang dipublikasikan di dalam jurnal dalam negeri dan luar negeri. Ia menunjukkan kepada saya jurnal dari Cina, Jepang, Malaysia, Australia, Amerika dan beberapa Jurnal ilmiah lainnya. Duh, ini adalah gambaran ideal saya di masa depan, saya membatin. Jujur, saya berharap dapat menjadi orang yang memberi kontribusi akademik bagi dunia internasional di satu masa. Apa yang saya pikirkan tentang hidup semoga dapat bermanfaat untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Saya mengatakan kalau saya akan belajar banyak dari beliau dan mulai berkonsultasi mengenai apa yang selama ini saya lakukan dan saya keluhkan di lapangan dalam penelitian yang saya lakukan. Dan, sebagai seorang senior, dan saya yakin ia memiliki apasitas itu, ia mulai memberikan beberapa saran untuk kebaikan penelitian saya. Peratama, saya mengeluhkan tetang rasionalisasi dalam menyususn sub-bab dalam sebuah artikel hasil penelitan ilmiah. Saya mendapatkan banyak data di lapangan, namun saya kesulitan menyusunnya menjadi sebuha artikel yang runtut dan logik. Ia menjelaskan kalau itu memang agak sulit bagi penelitian grounded yang tidak memiliki fokus yang kongkrit. Namun itu sedikit mudah bagi seorang peneliti yang sudah terlebih dahulu memiliki fokus dan menyusun sebuah rencana yang matang sebelum ke lapangan. Sebab ia hanya mencari data yang kemudian ia jadikan basis untuk apa yang ia sudah rancang. Memang kekurangan metode ini banyak, diantaranya kita berusaha “memperkosa data” memaksa data masuk ke dalam kerangka pikir yang sedang telah kita buat sebelumnya. Kalau penelitian etnografi yang sifatnya grounded, seperti yang sedang saya lakukan, maka yang diperlukan adalah mencari data sebanyaknya, lalu mengklasifikasikan data dan dari situ kemudian kita melahirkan sub bab. Sub bab inilah yang akan menyusun artikel kita. Perkuat dengan teori yang sudah ada sehingga ada hubungannya dengan dunia akademik yang lebih luas.

Kedua, saya mengeluhkan mengenai data lapangan yang terkadang tidak tahu harus dimasukkan ke mana. Ada bagian yang data lapangannya kuat, namun banyak pula yang tidak didukung oleh data lapangan yang ril dan kuat. Ini menjadikan tulisan terasa tidak mendalam dan tidak menjawab semua masalah yang sedang dibahas. Ia menyarankan saya memakai sebuah program komputer yang dapat meberikan masukan untuk merancang penlisan yang berbasis data. Ia memilikinya dan ia berjanji akan memberikan kepada saya masternya dan akan mengajarkan saya pemakaiannya. Mmmm... ini adalah rizki yang datang tiba-tiba. Dan saya berjanji akan belajar banyak dengan apa yang ia berikan.

Ia juga menjelaskan beberapa trik mencari dana penelitian. Katanya, Indonesia ini adalah ladang bagi penelitian. Dari sini lahir berbagai teori mengenai masyarakat dunia, terutama Asia dan negara berkembang. Teori itulah yang kemudian digunakan untuk pembangunan. Karena itu banyak lembaga yang mau dan bersedia memberikan banyak uang untuk melakukan penelitian di Indonesia, apa saja. “Yang penting kita memiliki pengalaman penelitian yang baik dan hasil karya kita akan dibaca. Makanya kalau peneltian itu ajngan main-main,” katanya. Sebab itu akan menjadi sebuah pencitraan diri kita. Orang akan melihat kita dari apa yang kita tulis. Mungkin kita tidak pandai ceramah, tidak bisa khutbah,, namun kalau kita bisa menulis dengan baik maka kita bisa tunjukkan apa yang telah kita tulis dan orang akan tahu apa yang kita sampaikan.

Yang paling menyenangkan ia menjelaskan mengani karakter tulisan akademik yang sangat disukai oleh jurnal-jurnal internasional, ringkas, padat dan tidak bertele. Sebuah paragraf itu hanya memuat satu atau dua ide. Kalimat berikutnya adalah supporting idea. Semua paragraf yang ada dalam sebuah sub bab adalah supporting terhadap mainidea yang ada dalam awal pargaraf sub bab itu. Dan semua sub bab adalah supporting idea dalam sebuah tulisan. Kompilasi dari ini semua kita sebuat dengan artikel akademik. Dan model inilah yang diterima oleh jurnal-jurnal Internasional. Lalu ia berharap (entah berdoa) semoga saya menjadi seorang penulis yang dapat mempublikasi karya di level Internasional. Amin.... kabulkanlah ya Allah.


Tulisan ini juga dimuat di Blog Pribadi saya: http://www.sehatihsan.blogspot.com/

18 February 2010

Sebuah Kenangan di Tanah Gayo

Saya ingin menulis sesuatu tentang Gayo. Tapi ada sebuah pepatah yang saya percaya pasti benar: Foto bercerita lebihd ari seribu kata." Saya postingkan saja beberapa foto di sini. Mudah-mudahan ia bisa bercerita sendiri;


Pada tikungan hendak memasuki Kota Takengon, Ibu Kota Aceh Tengah kita akan disuguhi sebuah tulisan Visit Tanoh Gayo 2008. Saya pergi ke sana pada tahun 2009, tulisan itu masih belum diganti. Ada sebuah gerbang yang sedang dibangun untuk menyambut kedatangan tamu, namun saya belum sempat mengambil fotonya.



Dari salah satu bagian sebelum masuk ke Kota Takengon kita bisa saksikan bentangan Danau Laut Tawar dan jalan berliku menuju ke sana. Saya mengambil foto ini dari sebuah warung kopi yang menghadap ke Danau. Satu saat saya ingin menum kopi di sana sambil menatap indahnya Danau LAut Tawar.


Jalan masuk ke KOta Takengon yang masih dalam perbaikan dan perluasan. Kota Takengon adalah ibu kota Aceh Tengah. Terletak persis di dekat Danau Laut Tawar nan eksotik.


Salah satu pasar tradisonal di Takengon. Di sini kita bisa dapatkan berbagai oleh-oleh khas Gayo. Mau ikan depik? Nah, di pasar ini bisa diperoleh. Tapi kalau mau yang segar dan masih mentah silahkan tangkap sendiri di dalam danau. Heheh


Kalau Capek, bisa istirakat di cafe-cafe yang ada di KOta Takengon sambil makan mie goreng Spesial Khat Takengon dan jus melon.


Atu minum segelas kopi Gayo yang Sruuuppp.... maknyuusss.


Mari kita berjalan mengelilingi Danau Laut Tawar. Tidak ada kenderaan umum yang khusus disediakan untuk wisatawan. Kalau anda mau melakukannya, maka carilah teman atau kenalan, atau siapa saja yang bisa anda ajak untuk melakukan ini. Kebetulsan saya punya teman di sana, saya memakai motornya untuk mengelilingi danau.


Satu sisi Danau yang teramat indah untuk dilewati. Duduk di atas tempat pemancingan milik masyarakat sambil menunggu ikan-ikan memakan umpan.


Sisi lain dari Danau Laut Tawar dengan pemandangan masyarakat yang sedang mencari ikan. Ada ikan Depik yang menjadi trade mark Danu LAut TAwar. Sayangnya populasi ikan ini semakin berkurang. Mungkin karean terlalu banyak orang yang suka, sehinga banyak pula yang diambil oleh nelayan.


Sebuah Gua yang ada di pinggir Danau Laut Tawar yang penh misteri. Saya tidak pernah masuk ke dalamnya.


Sebuah bangunan yang dibuat oleh TNI di Bintang, daerah sebelah Timur Danau LAut Tawar. Di dekat tugu ini sering juga dilaksanakan pacuan kuda tradisional. Beberapa warung kopi menghadap Danau sangat cocok untuk istirahat dan bersantai sejenak.


Kopi adalah tanaman yang banayk tumbuh di Tanoh Gayo. KArenanya di mana-mana kita bisa dapatkan segelas kopi yang nikmat.


Beberapa hiasan yang terbuat dari akar kopi. Hiasan kerajinan tangan ini agak sulit diperoleh, biasanya hanya ada di rumah penduduk dan tidak di jual di pasar.


Seorang anak dengan pakaian adat Gayo.

Aslinya, foto-foto ini ada di: www.sehatihsan.blogspot.com

15 February 2010

Cinta Anak Alam: Cerita Dari Wonodadi (4)


Anak-anak memiliki bahasa yang sama, bahasa cinta dan kasih sayang yang tulus. Di mana saja mereka terbebas dari kepentingan, prasangka dan kemunafikan. Ketulusan yang ditunjukkan anak-anak Wonodadi, sebuah dusun pedalama Jawa Tengah, selama saya berada di lapangan adalah salah satu contohnya. Mereka mengungkapkan persahabatan dengan jujur tanpa mengharapkan balasan. Mereka menunjukkan perhatian dengan tulus tanpa meminta imbalan. Mereka membantu dengan iklas dan sepenuh hati. Beberapa pengalaman berikut adalah bukti itu semua.

Suatu sore, anak-anak berkumpul di depan rumah di mana saya tinggal. Saya tidak tahu kapan, namun mereka mengatakan saya berjanji untuk main-main ke pemandian di atas gunung yang dikenal dengan Kali Sepi (saya tidak tahu kenapa namanya sepi, meskipun memang di sana sangat sepi karena di lereng gunung). Saat itu jam masih menunjukkan pukul 12 siang. Di Wonodadi, jam 12 siang sama sekali tidak terasa terik mata hari. Tanah selalu dilindungi awan dari sengatan matahari. Karenanya, meskipun tengah hari bukanlah saat yang terik kalau mau melakukan perjalanan.

Saya sebenarnya sedikit malas untuk pergi mandi sebab ini siang hari dan sedang ada pekerjaan (menulis cacatatan lapangan). Lalu saya katakan kalau saya khawatir akan terjadi hujan dan mengajak mereka mandi keesokan hari saja. Sebab biasanya siang hujan akan turun meskipun nampaknya matahari bersinar terang. Namun alasan ini kurang diterima oleh anak-anak itu. Mereka tetap mengajak saya untuk pergi ke pemandian. Saya tidak punya alasan lain. Saya meminta mereka menunggu sampai anak-anak kelas lima dan enam pulang dari sekolah mereka. Nampak mereka bersabar.
Setelah semua anak berkumpul kami pergi menunju pemandian. Hampir semua anak di dusun ini ikut bersama. Ada beberapa yang, karena masih terlalu kecil, tidak mau ikut karena karena terlalu jauh. Beberapa orang warga yang lewat menanyakan ke mana kami mau pergi dan saya jawab mau main-main bersama anak-anak dusun, dan mereka paham dengan kenyataan ini. Saya tidak mendengar ungkapan, “hati-hati ya,” dari para orang tua yang melihat anaknya dalam rombongan itu. Kemungknan bagi mereka ini sudah biasa dan mereka sudah selalu melihat anaknya naik ke sana.

Saat anak-anak sedang asik mandi, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Saya mengajak mereka naik ke darat dan segera pulang. Semuanya bergegas naik dan mengenakan pakaian. Hujan terus turun dengan sangat lebat dan mereka berpakaian cepat-cepat dan segera beranjak pulang. Kami berjalan buru-buru pulang karena hujan semakin deras. Tidak jauh dari tempat permandian kami sudah basah kuyup. Beberapa anak perempuan mengambil daun keladi besar sebagai payung. Namun angin yang kencang menerbangkan payung itu. Mereka berlari kembali. Tiba-tiba dari belakang seorang anak laki-laki menawarkan saya daun pisang yang entah diambil di mana dan bagaimana. Sebuah daun pisang kecil tentu tidak cukup melindungi dari guyuran hujan. Namun tidak mungkin juga menolak pemberian itu. Saya mengucapkan terima kasih dan mengambil daun pisang tersebut. Saya terus berjalan dalam hujan itu dengan cepat dan meminta anak-anak juga berjalan cepat.

Saat melewati anak perempuan, seorang anak perempuan mengatakan meminta maaf kepada saya karena mengajak saya ke pemandian sehingga menjadi basah. Padahal saya sebelum berangkat sudah mengatakan kalau hujan mau turun dan menawarkan pergi ke pemandian keesokan harinya. Namun mereka memaksa untuk tetap pergi lalu saya ikut pergi. Jadinya sekarang kami semua basah kuyup. Saya mengatakan tidak apa-apa dan tidak ada yang salah. Mereka mengkhawatirkan saya kemasukan angin dan sakit. Saya mengatakan tidak masalah, sebab kalau masuk angin nanti saya akan keluarkan di kelas saat mengajar. Dan mereka tertawa.

Pada suatu pagi yang lain, saya mengajak mereka jalan-jalan sebelum kelas dimulai. Kami jalan-jalan ke jembatan besar di mana turbin listrik diletakkan. Jalan menuju ke sana lebih terjal dibandingkan dengan jalan pemandian yang penah kami lewati sebelumnya. Jalan ini terbuat dari batu gunung yang dipecahkan dan disusun rapi. Kami berjalan menurun sedikit demi sedikit. Bekas hujan malam tadi menyebabkan jalanya mash dan licin. Saya harus selalu mengingatkan anak-anak agar hati-hati. Sebab dalam pandangan saya mereka terlalu ceroboh dan buru-buru. Mungkin saja ini hanya pandangan saya, sebab kenyataannya mereka memang selalu berjalan cepat pada jalan seperti itu. Turun ke jembatan memang membutuhkan energi besar. Jalan yang terjal dan licin membutuhkan kehati-hatian yang besar.

Kami hanya berfoto bersama di jembatan dan melihat-lihat sungai dengan air yang mengalir deras. Setelah berfoto bersama saya dan anak-anak mau kembali ke sekolah. Kembali ke sekolah berarti harus menempuh jalan menanjak yang terjal dan licin yang tadi kami turuni. Baru beberapa meter berjalan saya sudah merasakan kelelahan dan ini langsung nampak pada anak-anak. Saya berjalan sangat lambat dan dengan nafas tersengal-sengal. Sesekali saya menompang tangan di lutut untuk menambah tenaga. Melihat ini beberapa anak perempuan langsung memberikan bantuan dengan mendorong saya. Tiga anak perempuan meletakkan kedua tangannya di pinggul saya dan mendorong saya ke depan. Terasa lebih nyaman dan kuat. Namun hal ini tidak mungkin saya lakukan karena akan menjadikan mereka lebih capek. Bagaimanapun kami sedang menempuh jalan yang sama dengan tanjakan yang sama. Namun mereka tidak mengindahkan larangan saya dan terus mendorong. Sampai akhirnya saya harus memegang tangan kecil itu dan memindahkannya.

Kami kembali berjalan sampai ke atas. Saya sangat kelehan. Keringat keluar mengalir membasahi baju. Begitu sampai di tanah yang datar saya langsung duduk di sebuah kayu balok yang akan dijadikan papan cor. Beberapa anak-anak meminta izin pada saya untuk minum. Mereka pergi ke arah perumahan di belakang sekolah. Sekejap kemudian mereka datang kembali dengan membawa segelas air dan memberikan kepada saya. “Mas kan capek,” katanya.


13 February 2010

A Shadow Falls: Antropologi Bergaya Novel

Ketika saya pulang dari Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah di mana saya melakukan penelitian, saya menumpang mobil Bapak P, konsultan penelitian saya dari Jurusan Antropologi UGM Yogyakarta. Saya duduk persis di bangku belakang Bapak P yang bertindak sebagai sopir. Di sana ada sebuah kotak plastik yang berisi sebuah kamera besar dengan dua lensanya, beberapa baterai dan senter. Dalam kotak plastik itu juga ada sebuah buku tebal, sekitar 5 cm, yang berwarna kuning, begambar ilustrasi masjid, dan backgroundnya tulisan hanacoroko yang saya tidak tahu bacaannya. Saya mengambil buku itu dan yang pertama saya baca adalah pengarangnya; Andrew Beatty. Saya katakan pada Bapak P, apalah penulis buku ini adalah penulis Varieties of Javanese Religion? Ternyata benar. Ia menulis buku yang setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Variasi Agama Di Jawa.

Saya mendiskusikan buku itu dengan Bapak P. Dengan bahasa Inggis saya yang teramat sangat terbatas, saya mencoba sedikit memahami apa yang ditulis oleh Beatty dalam buku itu. Saat membuka halaman secara acak saya mendapatkan ia sedang bercerita tentang kunjungannya di lapangan dan mengungkapkan apa yang diceritakan masyarakat kepadanya. Saya pikir ini adalah sebagian saja dari bukunya yang tebal tersebut. Ternyata ketika saya membuka beberapa halaman yang lain, saya menjadi heran, di sana tertera cerita-cerita yang lain yang sama sekali tidak mirip dengan “buku ilmiah” yang selama ini saya kenal. Ini membuat saya bertanya pada Bapak P, apakah itu “dibenarkan” dalam Antropologi. Ternyata, model penulisan begitu adalah sebuah model baru yang dikembangkan dalam Antropologi khususnya dalam studi etnografi.

Beatty, menurut Bapak P adalah seorang antropolog yang “kemungkinan ia akan menjadi antropolog keas dunia.” Ia menggabungkan gaya bercerita yang biasanya dipakai oleh novelis dalam menyusun ceritanya dengan data-data lapangan yang diperoleh selama ini tinggal di lokasi penelitian. Saya membaca buku-buku antropolog lain yang menulis mengenai Indonesia semacam Clifford Geerzt, Minako Sakai, Mark Woodward, Leena Avonius dan John R. Bowen yang menulis mengenai masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Di sana saya memang menemukan gaya menulis bercerita dengan deskripsi yang sangat akrobatik tentang penglaman penulisnya di lapangan. Namun –sejauh yang saya pahami- mereka menjadikan cerita itu hanya sebagai “jalan masuk” saja untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tema yang mereka pilih. Selanjutnya mereka melakukan analisis dan pendalaman yang hampir sama dengan tulisan ilmiah sosial lainnya. Namun yang dilakukan Beatty adalah, ia terus bercerita dari paragraf pertama hingga terakhir. Bahkan ia tidak pernah menyebut-nyebut referensi atau membandingkannya dengan studi lain yang pernah ada. Ketika saya melihat di bagian akhir buku, tidak ada juga tercantum daftar referensi yang ia gunakan dalam menulis bukunya.

Di Banda Aceh, saya memiliki seorang teman Jerman, mahasiswa Antropologi dari Leiden University, Mr. D, yang sedang melakukan penelitian disertasinya di Aceh. Satu hari kami minum kopi di Solong, Ulee Kareng. Saya menceritakan pengalaman saya melakukan studi etnografi di Jawa. Kami mendiskusikan beberapa metodologi dalam mengumpulkan data lapangan, membuat catatan lapangan dan mengorganisir data. Kami juga mendiskusikan beberapa hal yang lain. Namun yang menarik adalah ketika ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Sambil mengatakan “Saya membawa buku menarik yang sebaiknya Sehat baca” ia mengeuarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Baru sedikit nampak warna kuning buku itu saya langsung katakan “Andrew Beatty”. Ia sedikit terkejut mendengarnya karena saya tahu tentang buku itu. Padahal untuk konteks Aceh, buku-buku baru terbitan luar negeri tentu tidak mudah dijumpai. Saya menjelaskan kalau saya pernah melihat buku tersebut di Yogyakarta. Kemudian kami mendiskusikan buku itu. Lagi-lagi, seperti Bapak P, teman bule ini mengatakan itu adalah buku yang menarik dan “bacaan wajib” bagi antropolog (atau yang merasa diri antropolog, seperti saya. heheh). Ia juga menjelaskan bagaimana Beatty “memasukkan” referensi dan teori-teori sosial dalam tulisannya.Memang nampak ia tidak mengutip tulisan orang lain dengan menulis nama orang tersebut, namun ia memiliki gambaran teoritis yang kaya sehingga dialog-dialog yang terbangun dalam buku itu juga menjadi sangat kaya dan sarat pengetahuan. “Inilah yang membedakannya dengan sebuah novel biasa,” kata Mr. D.

Di hari yang lain, saya minum kopi bersama teman bule Amerika, Mr. J, seorang mahasiswa antropologi asal Amerika yang sedang melakukan penelitian disertasinya sekaligus bekerja di Aceh. Ternyata ia juga menyebut-yebut tetang buku itu dan mengaku telah membacanya. Ia mengatakan buku itu adalah buku yang bagus yang harus dibaca untuk belajar model baru penulisan antropologi. Namun ia sedikit memberikan kritik pada Andrew Beatty, si penulis buku. Beatty, menurut Mr. J tidak mengakomodir pendapat-pendapat dari masyarakat yang ada di pemerintahan negara, politisi dan masyarakat modernis mengenai pemikiran keagamaan mereka. Bahkan Beatty nampaknya memberikan nilai negatif pada mereka dan menganggap aparatur pemerintah dan modernis “mengganggu” perkembangan Islam “yang benar” yang berkembang dalam masyarakat Pedesaan Jawa.

Sayangnya, saya hanya mendengar para antropolog kenalan saya mengatakan kalau buku itu bagus, baik, layak dibaca, memberikan gaya penulisan baru antropologi, dan lainnya. Saya sendiri tidak memiliki bukunya, dan belum membaca kecuali sesaat di dalam mobil Bapak P dan sesaat di warung kopi bersama Mr. D. Hal ini karena buku tersebut diterbitkan di London oleh Faber and Faber dan juga masih sangat baru, terbitan tahun 2009, dan pasti mahal untuk ukuran Rupiah. Padahal, jujur saya akui, gaya penulis buku yang dilakukan oleh Andrew Beatty adalah gaya yang “gw banget!” Saya ingin belajar dari apa yang telah dipraktekkan oleh Beatty, gaya menulis, sistematika, pemilihan subjek, dan lainnya. Sebuah laporan antropologi bergaya novel! Saya yakin, kalau demikian gaya menulisnya, bukan hanya antropolog dan akademisi sosial yang berkepentingan saja yang akan membaca buku “ilmiah” namun juga masyarakat umum yang lain akan menyukainya. Bahkan satu saat, saya membayangkan semua buku ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan ringan saja sehingga semua orang yang memiliki latar belakang ilmu yang berbeda dapat menikmati dan belajar darinya.

09 February 2010

Antropologi Visual: Hidup adalah Sebuah Film

Pada sebuah Senin 13 Juli 2009, di kantor ARTI Banda Aceh kami menonton sebuah film dokumenter yang berjudul “Playing Between The Elephant.” Film ini dibuat oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan pendidikan S3nya di Amerika dalam ilmu Antropologi Visual. Saya baru mendengar jenis ilmu ini. Selama ini saya hanya tahu antropologi, namun tidak mengetahui secara detail mengenai ilmunya. Maklum, saya bukan antropolog, saya hanya mencoba-coba masuk ke ranah ilmu ini lalu tertarik. Mungkin juga karena penelitian yang saya lakukan (tepatnya yang mendapatkan dana) hanya penelitian yang berkaitan dengan bidang ilmu ini. Guru-guru penelitian saya juga kebanyakan dari jenis ilmu ini. Akirnya, saya jatuh cinta pada antropologi meskipun saya tidak paham dasar-dasar teori antropologi.

Kembali ke film. Film itu dibuat selama setahun setengah di sebuah desa di Pidie, Aceh, yang terkena dampak tsunami tahun 2004. Selain tsunami, penduduk desa ini juga tergolong dalam masyarakat yang sederhana, bukan hanya dalam struktur sosial, namun juga dalam ekonomi dan lokasi desanya. Dari film itu nampak desa mereka dipisahkan oleh sebuah sungai besar yang dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung yang sangat riskan kalau dilalui oleh mobil dengan muatan berat. Ketertinggalan juga nampak dari model rumah penduduk yang ada di sana. Rumah yang sangat sederhana, sebuah petakan yang tinggi di sepinggang yang kemungkinan tanpa kamar. Sayangnya dalam film tidak menshot kondisi di dalam rumah.

Film ini bercerita mengenai proses pembangunan rumah yang dilakukan oleh UN-Habitat sejak perencanaan awal hingga kahir dan keterlibatan masyarakat di dalamnya. Sang sutradara dengan cerdas mengambil setiap kejadian yang ada dalam masyarakat di sana selama setahun. Hasil itu kemudian diramu menjadi sebuah film yang SUNGGUH!!! sangat hidup. Bahkan mirip dengan sebuah film yang dibuat dengan sebuah narasi yang direncanakan. Padahal jelas, ini adalah film dokumenter yang semuanya tidak diseting dan tidak diatur oleh seorang sutradara sebelum film dibuat. Ia hanya menshoting berbagai kejadian dalam masyarakat lalu kemudian dirangkai menjadi sebuah film. Bagai saya si mahasiswa telah melakukan sebuah pekerjaan luar biasa. Ia masuk ke dalam sebuah masyarakat tanpa sebuah perencanaan film yang bagaimana akan dibuat nantinya. Ia mengaku hanya ada bayangan awal bahwa akan ada sebuah rekonstruksi rumah dalam masyarakat tersebut. Namun sedikitpun ia tidak membayangkan kalau hasilnya adalah seperti yang dia buat dalam sebuah film tersebut.

Bagi saya, meskipun ini adalah sebuah hasil antropologi visual, namun kalau saya pelajari dari “balik layarnya” ini adalah sebuah pelajaran mengenai antropologi. Ada beberapa catatan yang saya ambil dari cerita si mahasiswa dalam proses pembuatan dan pemutaran film ini. Pertama, ia adalah “orang asing” yang masuk ke dalam sebuah masyarakat. Saya yakin pasti ada cara-caranya masuk ke dalam masyarakat tersebut. Bagaimana ia menyampaikan maksudnya, bagaimana ia menjelaskan kepada masyarakat bahwa ia akan membuat sebuah film. Bagaimana ia dengan rajin setaip hari datang ke sana, ke dalam kampung itu dan kemudian mendapatan engle yang luar biasa menarik sehingga dapat dirangkai menjadi sebuah film. Bagaimana ia bisa mendapatkan masyarakat yang -dalam kamera- nampak tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Masyarakat dalam berbagai kesempatan tetap saja berjalan sebagaimana adanya, nampak seperti tidak dibuat-buat -dan memang saya yakin begitu adanya. Hanya beberapa sisi dari Pak Keuchik saja yang nampaknya diseting oleh sutradara. Namun kebanyakan dari aksi masyarakat berjalan sangat alamiah dan seperi umumnya yang ada dalam masyarakat.

Kedua, bagaimana dia bisa mendapatkan titik-titik yang menarik dalam masyarakat yang sedang berjalan, lalu ia menjadikan titik itu sebagai rangkaian cerita yang mengalir dan bersambung. Padahal apa yang ia lakukan adalah sebuah proses yang sangat lama dan terus berubah dalam amsyarakat. Namun nampak jelas kemudian bagaimana ia mampu menghubungkan titik yang ia peroleh tersebut menjadi sebuah rangakian cerita yang sangat menggugah. Saya lihat tidak ada masyarakat yang nampaknya keberatan dengan apa yang dilakukan sang sutradara terhadap mereka. Mereka tetap saja melakukan segala seuatu sebagaimana adanya, kebiasaan mereka sendiri di kampungnya.

Ketiga, bagaimana ia meutuskan untuk mengamil sebuah alur cerita yang kemudian menjadi sebuah film. Dari informasi si mahasiswa, ia memiliki 200 jam hasil shotuingan di lapangan. Dari 200 jam ini kemudian ia hanya mengambil 2 jam saja untuk sebuah film. Bagaimana caranya memilih? Bagaimana ia menentukan sesuatu yang perlu dan sesuatu yang tidak perlu dari datanya padahal ia sudah mendapatkan data tersebut? Bagaimana ia dengan “teganya” membuang data yang sudah diperoleh dengan suah-payah hanya untuk mempertahankan 2 jam film yang ia perlukan. Ini butuh kejelian dan kemampuan dalam memahami secara mendapam apa yang ada di lapangan dan apa yang kita butuhkan untuk penelitian.

Saya yakin apa yang dilakukan orang ini adalah sebuah usaha besar yang melelahkan dan sangat sulit untuk dibuat pada awalnya. Namun setelah ia menjadi film dan ditonton, sungguh ini adalah sebuah karya yang ajaib dan menentukan sebuah cerita yang sangat khas Aceh pada masa awal tsunami. Saya tahu ini sebab saya juga pernah menjadi petugas lapangan di Teunom. Apa yang ada dalam film ini adalah apa yang saya lihat di teunom dulu. Banyak orang yang marah-marah, yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Banyak orang yang tidak mengerti dengan program yang mereka ikut atau sok tidak mengerti. Banyak orang yang melakukan hal-hal yang pada dasarnya tidak mungkin dan tidak perlu.

Saya sangat yakin sebagai sebuah karya antropologi, apa yang dilakukan oleh sutradara film ini juga sebuah pelajaran pada seorang antropolog atau seorang yang sedang melakukan penelitan sosial. Langkah yang ia jalankan oleh orang tersebut juga langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti sosial yang lain. Apa yang kemudian dikaryakan sebagai hasil dari kerja lapangan yang panjang dalam masyarakat tersebut juga sebagai sebuah hasil yang seharusnya diperoleh oleh seorang yang sedang melakukan penelitian lapangan di desa.

Saya belajar bagaimana sebuah karya antropologi yang sifatnya etnografi memang terkadang jauh dari apa yang sebelumnya direncanakan oleh seorang peneliti. Apa yung diperoleh di lapangan sungguh sangat tidak terduga dan tidak dapat dipredisksi. Makanya diperlukan sebuah pencatatan yang mendatail dari apa yang ada di lapangan dan sedikit komentar yang sifatnya general. Ini akan sangat membantu seorang peneliti dalam membuat sebuah karya ilmiah setelah ia kembali ke kantornya di mana ia memulai menulis.

06 February 2010

“Agama Itu Sama Saja, Yang Penting Akhlaknya (3)”

Judul di atas adalah ungkapan dari seorang pengikut tarekat Shiddiqiyah, warga Wonodadi di mana saya melakukan kunjungan lapangan selama dua minggu. Baginya, Islam, Kristen, Budha, Hindu dan agama lainnya, atau bahkan tidak bergama sekalipun adalah sama saja dalam menempuh hidup di dunia ini. Sama-sama manusia dan sama-sama ciptaan Allah. Kalau kemudian mereka berbeda dalam memahaminya, maka itu adalah sebuah kewajaran karena Allah sendiri menciptakan manusia itu dalam keberagaman, termasuk dalam berfikir. Jadi berbagai agama, berbagai kepercayaan, berbagai keyakinan baik dalam agama yang berbeda atau dalam satu agama tertentu sebagai sebuah hal yang wajar saja. Yang penting adalah terbangunnya rasa saling menghormati dan memupuk keberagaman itu untuk kebaikan bersama.

Pak Tahir, demikian nama bapak yang saya temui itu adalah salah seorang anggota tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Tarekat ini masuk ke sana belasan tahun yang lalu. Semula dibawa oleh seorang guru SD yang sekarang sudah pindah, lalu bermunculan tokoh lokal di Wonodadi sendiri. Menurut sejarahnya, tarekat Shiddiqiyah dikembangkan pertama kali oleh Kiai Muhammad Mukhtar Luthfi dari Jombang, Jawa Timur. Tarekat ini bertujuan mendapatkan ridha Allah dalam menjalani kehidupan di dunia. Dalam pemahaman mereka, tarekat adalah tingkatan dalam beragama setelah syariat. Seseorang tidak cukup hanya melaksanakan syariat saja, namun perlu juga melaksanakan tarekat untuk kesempurnaan beragama. Dengan tarekat seseorang akan lebih banyak amalannya dalam beribadah.

Kehadiran tarekat Shiddiqiyah awalnya ditentang oleh sebagian masyarakat Wonodadi karena dianggap sebagai agama baru. Namun saat saya berada di sana penentangan itu tidak nampak lagi. Mungkin saja mereka yang menentang tidak paham dengan apa yang dilakukan jamaah tarekat. Atau jamaah tarekat yang mampu menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan tidak lain sebagai sebuah pelaksanaan ajaran agama juga. Saya belum mendapatkan jawaban. Yang pasti, saat ini hampir setengah masyarakat Wonodadi adalah anggota jamaah Shiddiqiyah. Di pinggiran sebuah hutan tidak jauh dari perkampungan dibangun sebuah gubuk zikir yang khusus digunakan untuk berzikir bagi jamaah Tarekat Shiddiqiyah.

Tarekat Shiddiqiyah adalah sebuah tarekat yang mengusung semboyan kedamaian hidup berbangsa dan bertanah air Indonesia. Saya mengikuti dua kali kausaran, sebuah pengajian tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Dalam pengantarnya yang memakai Bahasa Jawa yang tidak sepenuhnya saya pahami, pemimpin tarekat menjelaskan bahwa doa tarekat ditujukan untuk kedamaian hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan berbangsa dan bertanah air Indonesia. Dalam pengantar itu juga dijelaskan kenapa kedamaian itu perlu. Antara lain karena dalam damai sebuah kedekatan dan silaturahim akan terbina. Silaturahim dengan manusia dan alam, serta silaturahim dengan Allah. Dalam damai pula sebuah peradaban akan tumbuh, sebuah kesejahteraan akan muncul dan keadilan akan bisa diwujudkan.

Wujud kecintaan kepada kemanusiaan jamaah tarekat Wonodadi memupuk semangat saling membantu dalam kehidupan dunia dan kehiudpan spiritual. Dalam kehiudpan duniawi, dusun kecil Wonodadi ikut memberikan sumbangan untuk berbagai musibah yang menimpa masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Menurut Pak Rahmat, sesepuh tarekat di Wonodadi, saat gempa Bantul dan Sumatera Barat, mereka menyumbangkan sejumlah uang yang disatukan dengan sumbangan jamaah Shiddiqiyah yang lain dari seluaruh Indonesia. Dalam bentuk spiritual, mereka mengadakan kausaran selama empat puluh hari pasca gampa. Dalam kausaran mereka berzikir dan berdoa agar apa yang menimpa masyarakat di daerah bencana tertasi dan mereka diberi ketabahan oleh Allah.

Dusun Wonodadi memang terpencil dari transportasi dan komunikasi. Namun masyarakat di sana memiliki pandangan luas tentang kemanusiaan. Semangat membantu, semangat menghargai, semangat memahami jauh melampaui batas-batas dusun mereka yang kecil dan sempit. Boleh saja jalan tidak ada, namun itu tidak menciutkan jalan mereka untuk membantu. Boleh saya komunikasi terbatas, namun itu didak menghalangi mereka untuk menjalin persaudaraan dengan berbagai masyarakat lain di Indonesia, meskipun memlalui doa.


05 February 2010

Kenapa Orang Jawa Tidak Mau Memberontak?

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya: Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa. Kali ini saya ingin berbagai cerita tentang pandangan masyarakat Wonodadi mengenai pemerintah dan berbagai “kezaliman” yang dilakukan pemerintah kepada mereka. Sebenarnya saya ingin menjawab pertanyaan yang sempat saya ajukan pada diri saya sendiri sebelum saya pergi dan tinggal di sebuah rumah pedalaman Jawa selama dua minggu: kenapa masyarakat Jawa tidak memberontak pada NKRI? Namun setelah tinggal di sana saya tetap tidak bisa menjawabnya. Selain karena saya hanya tinggal selama dua minggu, keterbatasan komunikasi karena faktor bahasa membuat saya tidak dapat maksimal mengeksplorasi pandangan hidup mereka. Beberapa kejadian yang saya alami di sana sedikit mengarah ke jawaban pertanyaan saya. Namun saya tidak berani menyimpulkan apapun.

Suatu hari di Wonodadi saya pergi dengan Pak Nurdin yang hendak mencari rumput untuk pakan kambing peliharaannya. Untuk mencari rumput, kami perlu mendaki sebuah gunung yang becek namun tidak terlalu terjal. Di sana ditanam rumput gajah untuk pakan sapi dan hidup secara liar rambatan untuk makanan kambing. Di sela-sela mencari rambatan saya berdiskusi dengan Pak Nurdin mengenai kehidupan mereka. Dari diskusi itu antara lain Pak Nurdin mengatakan kalau dusunnya sekarang semakin sulit. Masyarakat semakin banyak, sementara tanah tidak bertambah. Hutan yang ada di sekeliling dusun juga milik Perhutani. Kalau ada tanaman di sana, misalnya kopi, harus membayar pajak kepada Perhutani setiap tahun. Katanya uang keamanan. Masyarakat diperbolehkan mengambil getah Pinus milik perhutani. Namun mereka harus membawa ke tempat penampungan di kecamatan. Dan itu dengan berjalan kaki menelusuri jalan pegunungan yang sangat susah. Padahal per kilogram Perhutani hanya membayar Rp. 2.000,- Harga ini menurut Pak Nurdin sangat tidak sesuai dengan kerja keras yang mereka lakukan dalam mendapatkan getah Pinus.

Saya bertanya, kalau Bapak merasa tidak adil, kenapa bapak tidak sampaikan kepada mereka? Pak Nurdin mengatakan: “Susah Mas, kalau disampaikan nanti malah ngak dapat apa-apa lagi. Lagian, meskipun harga getah murah dan susah membawanya, kita kan tetap bisa menanam kopi dan mendapatkan hasil kopi setiap tahun. Apalagi kalau nanam kopi di kebun Perhutani kopinya aman dan tidak diganggu. Paling ada orang-orang nakal yang mengambil sedikit. Kita biarkan saja.”

Di hari yang lain saya pergi ke Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan. Kajen adalah kota kecil yang nampaknya tidak ada geliat pembangunan. Saya mencari-cari batik pekalongan di Kajen, tapi tidak menemukan. Menurut info dari seorang warga yang saya tanyai, Batik Pekalongan banyak dijual di Pekalongan Kota. Saat naik angkot, saya duduk di depan dan berbincang-bincang dengan sopir angkot. Antara lain saya menanyakan mengenai pembangunan yang dilakukan oleh bupati mereka yang perempuan. Katanya, bupati sekarang hanya fokus dalam mambangun rumah ibadah. Dalam beberapa tahun terkahir kepemimpinannya, beberapa masjid besar dibangun, dan banyak sumbangan untuk masjid-masjid kecil. Ia tidak membangun jalan dan sarana publik yang lain.

Saya katakan pada Sopir, kalau itu suatu hal yang bagus, siapa tahu dari situ akan lahir kader-kader terbaik Pekalongan yang dapat membangun kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Bang Sopir mengatakan, “kalau niatnya begitu tidak masalah. Tapi ini kan dia (bupati) mau menutup aib setelah kasus perselingkuhannya dengan wakil bupati terbongkar dan diketahui masyarakat banyak.” Kalau anda tahu mereka berslingkuh kenapa di didemo atau digugat sama-sama ke pengadilan? Kenapa dewan diam saja? Jangan-jangan itu main-mainan lawan politik mereka saja? Sopir nampak serius dan mengatakan. Benar lho mereka selingkuh. Tapi kan tidak ada yang berani melapor dan menggugat. Kalau mahasiswa berani mendemo SBY, karena mereka tidak dapat apa-apa dari SBY. Tapi mahasiswa takut demo sama bupati, nanti mereka tidak mendapat bantuan lagi.

Saat duduk di pangkalan ojek menunggu doplak yang akan membawa saya pulang ke Wonodadi, saya berbincang dengan tukang ojek mengenai pembangunan di bawah pemerintahan bupati Pekalongan sekarang ini. Jawabannya sedikit berbeda dengan Sopir Angkot. Katanya bupati hanya fokus membangun pasar. Di mana-mana pasar dibangun, diperluas dan dilengkapi dengan fasilitas yang bagus. Tapi bupati tidak membangun jalan. Di mana-mana jalan rusak dan tidak diperbaiki. Saya mengatakan kalau pasar itu kebutuhan banyak orang dan memang diperlukan dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Namun Bang Ojek mengatakan itu semua dilakukan untuk menutupi berita perselingkuhannya dengan wakil bupati. Saya sedikit komentar: kalau masyarakat tahu bupatinya selingkuh dan memiliki bukti, kenapa diam saja? Bang Ojek menjawab: “Wah… di sini susah mas. Orang kalau sudah bisa hidup, dapat makan seadanya, sudah cukup. Tidak mau ribut-ribut. Mahasiswa saja yang biasanya suka demo juga diam saja, apalagi masyarakat seperti saya ini, bagusan nrimo saja. Kan kata orang-orang tua dulu, nrimo itu pangkal kebahagiaan.”

03 February 2010

Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa (1)

Dua minggu terakhir bulan Januari 2010 yang mengkuti pelatihan penelitian etnografi dengan taman-teman dari Jurusan Antropologi UGM Jogjakarta. Pelatihan ini langsung menempatkan mahasiswa di lapangan selama dua minggu. Kali ini, lapangan yang dipilih adalah dua kecamatan di Kab. Pekalongan Jawa Tengah, yaitu Kec. Lebakbarang dan Kec. Petungkroyono. Kedua kecamatan ini berada dalam hutan dan memiliki jalan akases yang agak sulit ke kota. Tingkat kesulitannya berbeda-beda. Sebagian besar dusun di Kec. Lebak Barang jauh lebih mudah diakses sarana transportasi dibandingkan dengan kebanyakan dusun di Petungkriyono. Saya sendiri dikirim ke dusun Wonodadi, Kec. Petungkriyono bersama dengan seorang mahasiswa Antropologi UGM semester lima.

Perjalanan Panjang dan Melelahkan

Perjalanan ke Wonodadi kami mulai dari Jogja dengan bus selama enam jam. Kami berhenti di Simpang Durian Kec. Karanganyar, Pekalongan. Dari sana kami naik “doplak”, sebutan masyarakat di sana untuk minibus pickup, menuju lokasi. Perjalanan dengan doplak menghabiskan waktu tiga jam melewati perkampungan dan perkebunan. Setelah satu jam perjalanan mulai mendaki gunung dengan jurang di sebelah kanan dan tebing curam di sebelah kiri. Beberapa kali kami terasa sampai ke puncak gunung yang diselimuti kabut dan samar-samar melihat tumpukan-tumpuan pemukiman di lereng gunung yang lain. Tumpukan pemukiman itu adalah dusun-dusun yang dihuni oleh masyarakat. Di sekitarnya terlihat hutan belantara yang hijau.

Ketika jalan sudah berakhir dan tidak bisa ditempuh lagi dengan doplak, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 2 km. Perjalanan ini harus menempuh sebuah turunan curam dan tanjakan terjal. Turunan ini basah dan becek karena terus diguyur hujan. Di sisi kiri saya terlihat persawahan masyarakat yang bertingkat dan membentang luas sampai ke lembah. Sementara di sisi kanan beberapa buah air terjun kecil menghiasi jalan. Air tersebut mengalir di sisi jalan bahkan banyak yang masuk ke area jalan hingga jalan menjadi sangat basah. Belakangan saya ketahui jalan itu adalah jalan yang dibuat sendiri oleh masyarakat secara kerja sama. Mereka butuh waktu empat tahun untuk menyelesaikan jalan 2 km tersebut. Saya membutuhkan istirahat tiga kali sebelum sampai ke dusun. Olah raga yang kurang dan tidak terbiasa mungkin menjadi penyebabnya. Seorang laki-laki yang melihat saya kelelahan saat mendaki jalan yang menuju ke dusun menawarkan bantuannya. Ia mengangkat tas pakaian saya dan membawa kami ke rumah kepala Dusun Wonodadi.

Wonodadi, Dusun Yang Baru Merdeka

Dusun Wonodadi adalah sebuah dusun di Desa Songowedi Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Dusun ini dipimpin oleh seorang laki-laki paruh baya yang dipilih oleh masyarakat. Namun karena ia tidak memiliki ijazah SMP, sebagai persyaratan untuk menjadi kepala dusun, maka secara administratif pemerintahan SK kepala dusun dibuat atas nama anak laki-lakinya. Di dusun ini jarang sekali ada orang yang berusia paruh baya memiliki ijazah. Bahkan banyak masyarakatnya tidak tamat SD. Dua bulan yang lalu ada program dari UGM Jogja melaksanakan sekolah buta aksara dan banyak warga yang mengaku ikut program itu. Sayangnya setelah program itu berakhir, berakhir pula kegiatan baca tulis dalam masyarakat.

Ini semua terjadi karena Wonodadi baru saja merdeka dari isolasi kehidupan. Dibuatnya jalan oleh masyarakat empat tahun yang lalu mengawali terbukanya akses ke Wonodadi. Program PNPM membantu membuat jalan setapak yang menanjak dari Wonodadi ke kelurahan. Pemerintah membantu membuat sebuah jembatan yang kokoh sehingga pada “musim terang”, istilah masyarakat untuk musim kemarau, mobil tertentu bisa masuk ke Wonodadi. Sebuah turbin pembangkit listrik tenaga air diletakkan di dekat jembatan. Turbin inilah yang menjadikan kehidupan malam masyaraat Wonodadi lebih terang. Dan itu baru terjadi setahun terakhir. Jembatan dan turbin listrik adalah awal “kemerdekaan” masyarakat. Saat ini mereka sudah bisa menenton televisi dan membuat rumah dari semen. Sebuah masjid beton yang nampak kokoh berdiri di tengah dusun.

Hidup dari Alam


Setiap pagi laki-laki dan perempuan berjalan ke arah Selatan Dusun. Di sanalah gunung di mana masyarakat mencari rizki untuk kehidupan mereka. Sebuah gunung yang berhutan lebat seolah sebuah supermarket yang menyedikan berbagai keperluan hidup masyarakat. Di sana tumbuh ratusan pohon aren, kopi, dan cengkeh. Aren diambil oleh masyarakat setiap hari yang kemudian diolah menjadi gula jawa. Sementara kopi dan cengkeh hanya dipanen sekali dalam setahun ketika sampai musimnya. Di lereng-lereng gunung masyarakat menanam padi sepanjang tahun. Sampai saat saya berada di sana mereka belum pernah merasakan musim kering dan gagal penen karena ketersediaan air yang cukup. Semua padi disimpan dan dikonsumsi sendiri. Menjual padi sebuah hal yang tabu bagi masyarakat. Itu hanya dilakukan kalau mereka benar-benar tidak memiliki sesuatu yang lain untuk dimakan.

Masyarakat sangat tergantung dengan hasil yang diberikan alam. Aren, kopi dan cengkeh adalah tanaman yang tidak perlu perawatan dan pemupukan. Ia tumbuh sendiri dengan subur. Masyarakat hanya mebersihkan di bagian bawahnya sesekali. Beberapa warga yang saya temui bahkan tidak mengetahui siapa yang menanam kopi dan cengkeh di kebunnya. Sejak ia lahir kopi dan cengkeh itu sudah ada di sana dan dia hanya mengambilnya. Ia juga tidak pernah bertanya pada Bapaknya, apakah ia pernah menanam tanaman tersebut. Kenyataannya saat ini pohon-pohon itulah yang menghidupi mereka.
Satu-satunya sumber ekonomi yang terencana adalah peternakan sapi. Hampir semua masyarakat memelihara sapi di kebunnya. Sapi-sapi itu dikurung saja dan tidak dilepaskan. Saban hari mereka mencari rumput untuk makanan sapi. Rumput makanan sapi dicarikan oleh perempuan dan laki-laki. Perempuan yang menggendong seikat besar rumput makanan sapi di punggungnya adalah hal yang biasa dan lumarah saja di Wonodadi. Ini dilakukan di lereng-lereng terjal dan tanjakan atau turunan.

Bersambung....