26 August 2008

Selamat Jalan Ayah


I
Dan ketika takdir itu datang
tidak ada kuasa mengubahnya
dan ketika masa itu tiba
tak ada yang mampu mengelakkan
ia datang begitu cepat kataku
tanpa aba-aba
aoakah Dia tidak menunjukkannanya?
atau aku yang alpa?

dan ketika ia datang
aku tak kuasa mengelaknya
selamat jalan Ayah....
melangkah lah dengan tenang
bekalmu cukup banyak untuk menempuh jalan panjang keabadian


II
selamat jalan bapak
selamat jalan guruku
selamat jalan pembimbingku

kau adalah pelita
yang menerangi gulita malamku
kau adalah bara
yang membakar ego-egoku
kenapa aku lupa bersandar dibahumu?
padahal di sana ada sejuta keindahan dan harapan

selamat jalan ayah
selamat jalan

Allahummaghfirlahu
warhamhu
wa'afihi
wa'fu'anhu
waakrim nuzulahu
wawassi' madkhalahu
waghsilhu bil ma-i
was salji
walbaradi
kama yunakhas saubal abyadhu
minad danasi

allahmmaghfirli
waliwalidayya
warham huma
kama rabbayani
saghira


III
ada semangat yang hilang ketika kau pergi. aku merasakan betapa ruhku ikut pudar. ada sejuta kisah yang belum kau ceritakan padaku. ada sejuta petua yang kau belum ngkapkan. aku masih balita dalam ilmu kehidupan. hanya sedikit dari ilmumu yang kau turunkan. kurasa ini belum cukup. aku masih miskin dengan kesabaran. aku masih kurang dalam ketabahan. aku masih lemah dalam semangat.

ku tahu kau telah berikan. tapi aku yang almu melakukan
aku lalai melaksanakan
aku meninggalkan kebenaran yang kau sisakan.

IV
tak habis kata ingin kutuliskan untukmu
atas semua apa yang kau telah lakukan demiku
atas semua pengorbanan hidupmu
kau bapakku
kau guruku
kau penunjuk jalanku
padamu do'aku selalu.

V
bapakku meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2008 yang lalu. kepergian yang tiba-tiba menurutku. tanpa tanda yang aku dapat fahami. beliau masih menghadiri upacara pernikahan saudara sepupuku. sampai seore hari. dan saat mau pulang ketika matahari mulai senja ia merasa lemah. lemah dan lalu meninggalkan dunia.
inna lillahi wa inna ilaii raji'un.
selamat jalan Bapakku

VI
bagiku bapak adalah teladan, adalah semangat.




04 August 2008

NostalGILA Menulis

Aku buat beberapa link tulisan masalaluku di serambi indonesia. Sebuah pembelajaran yang tidak akan mungkin kulupakan. Dulu, aku menulis banyak, yan terkadang akusendiri tidak tahu artinya apa, masalahnya bagaimana. niatku hanya menulis dan menulis. dan kini, aku mengenang kembali.
heheh
nostalGila Menulis

1. Islam Mazhab al-Yateh
2. Dekonstruksi Sejara dan Sastra Aceh
3. Tasawuf, Pisau Bedah Problema Sosial
4. Nasib Islam Pasca Kuningan
5. Membela Islam
6. Ideologi Abu Waki
7. Pemimpin Yang Melayani
8. Tasawuf Dan Formalilasi Syariat
9. Hamzah Fansuri Sudahlah Karam
10. Berkorban Demi Siapa?
11. Pecinta Bola dan Kaum Sufi






03 August 2008

Tasawuf di Aceh: Sebuah Peta Kronologis


Tasawuf dan Islam di Aceh tidak dapat dipisahkan. Masuk dan berkembangnya Islam di Aceh tidak terlepas dari peran aktif para sufi pengembara yang datang dari berbagai belahan dunia Islam, baik di dari Timur Tengah maupun Asia Selatan. Perkembangan tasawuf di di Aceh dapat dibagi dalam dua priode, yakni priode kalsik dan priode modern. Dalam periode klasik masih pengaruh pemikiran tasawuf falsafi dari Baghdat dan Persia masih mendominasi. Hal ini terlihat dalam konsep-konsep falsafi dalam mistisisme Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani dan lainnya. Sementara dalam perkembagan modern tasawuf di Aceh tidak dapat dipisahkan dengan gerakan perkembangan pemikiran modern dalam tasawuf di dunia Islam.



Perkembangan tasawuf di Indonesia dapat dipetakan dalam dua tipologi, yaitu Falsafi dan Sunni. Tasawuf falsafi merujuk pada konsep tasawuf yang dihubungkan dengan mistisisme phanteistik Ibnu Arabi. Sedangkan Sunni dihubungkan dengan model Al-Ghazali. Kedua tradisi tasawuf tersebut sama-sama memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam di Nusantara. Tasawuf falsafi pernah memperoleh masa kejayaannya di Aceh pada masa Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani, dan Syekh Syaifurrizal. Di Pulau Jawa, tasawuf falsafi dikembangkan oleh Syekh Siti Jenar beserta murid-muridnya, seperti Ki Ageng Pengging dan Jaka Tingkir.
Pada zaman modern, para cendikiawan melakukan reinterpretasi pada tasawuf dalam sebuah terma yang disebut neo sufisme. Tasawuf modern bermakna juga tasawuf yang diperbaharui atau Tasawuf Modern. Dalam Tasawuf Modern mencoba memaknai kembali tasawuf dan memposisikannya dalam kehidupan manusia zaman ini. Dengan ini tasawuf menjadi bagian yang tidak asing dan terpisah dari kehidupan manusia dan mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban manusia modern.
Perkembangan pemikiran tasawuf modern tidak hanya terjadi dalam level internasional, dalam konteks keindonesiaan, pemikiran tasawuf ini juga mendapatkan penafsiran yang baru. Hamka mengawalinya dengan mengarang buku Tasawuf Modern, yang menjelaskan berbagai tafsiran baru tentang tasawuf. Konsepsi Hamka tentang tasawuf menekankan pentingnya aspek akhlak dalam kehidupan, dan inti sesungguhnya dari tasawuf adalah akhlak itu sendiri. Ia juga mengkritik berbagai praktek tasawuf yang menyimpang, seperti pemujaan kuburan “orang suci”, wasilah dalam bero’a dalan lainnya. Pemikiran Hamka diikuti oleh pemikir-pemikir muslim lainnya di Indonersia sekarang ini.
Tulisan ini berupaya melihat perkembangan tasawuf di Aceh. Aceh yang pada masa lalu menjadi pusat awal perkembangan Islam dan tasawuf memiliki sejarah tasawuf yang tidak ada habisnya, termasuk sekarang. Beberapa praktek dan gerakan keagamaan di Aceh jelas memiliki dimensi tasawuf. Upaya ini dinilai penting dengan alasan; pertama, sebagai upaya mengkomparasikan pemikiran dan aksi tasawuf di Aceh zaman dulu dan zaman sekarang. Kedua, menjelaskan aspek-aspek modernisme dalam tasawuf yang ada di zaman modern di Aceh, baik dari pemikiran atau dari sisi aksinya.

Tasawuf Aceh Klasik
Banyak teori yang ada mengenai masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara dan khususnya Aceh. Namun dari setiap teori yang dikemukakan oleh para ahli, lahir pula kelemahan dan kritiknya. Sehingga tidak ada teori yang benar-benar lengkap dan dapat memberikan gambaran komprehensif bagi kita tentang bagaimana dan dari mana islam datang ke Nusantara meskipun para sarjana yang meneliti masalah itu sedemikian banyak. Kebuntuan ini sedikit “terobati” setelah A.H. Johns mengemukakan “teori SufI” tentang penyebaran Islam di Nusantara. Teori ini menyimpulakn bahwa yang mebawa Islam ke Nusantara daah para sufi. Hal ini dikemukanakan oleh John untuk menandingi anggapa mayoritas sarjana yang mengatakan bahwa Islam di Nusantara hanya disebarkan oleh pedagang yang berkeluarga dengan peduduk setempat dan akulturasi budaya.
Para sufi memiliki kelebihan dibandingkan dengan saudagar (meskipun ada sufi yang datang sebagai saudagar). Mereka mampu menyajikan Islam dalam kemasan atraktif, khususnya dengan menekankan kesesuaian dengan Islam atau kontinuitas, ketimbang perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan lokal. Dengan menggunakan tasawuf sebagai sebuah kategori dalam sejarah Melayu-Indonesia, John memerikas sejarah lokal Nusantara untuk memperkuat pendapatnya. Hasil dari apa yang dilakukan para sufi ini terlihat dari konversi agama yang terjadi pada abad 13 tersebut di seluruh Nusantara. Masyarakat akan menjadi muslim setelah mereka berjumpa dengan sufi.
Bangkitnya peradaban Islam di Aceh yang bercorak sufistik juga ditandai dengan lahirnya karya tulisa sastra dan nonsastra dari tangan para sufi. Hamzah Fansuri yang menjadi icon mengarang puluhan kitab yang menjelaskan berbagai dimensi ajaran agama Islam. Ia mencoba memaparkan konsepsi tasawuf dengan pendekatan “Melayu” di mana ia menjelaskan berbagai posisi manusia dalam upaya pendekatan dirinya dengan Allah. Hamzah yang sufi ini kemudian menjadi soko guru bagi sarjana-sarjana Islam lainnya di Nusantara, terutama yang belajar pada murid-muridnya di kemudian hari.
Bersamaan dengan Hamzah hidup juga Syamsuddin Pase, atau dikenal juga dengan Syamsuddin al-Sumatrani. Ia adalah teman sekaligus murid Hamzah. Setelah Hamzah meninggal dunia, ia mencoba menerjemahkan pemikiran Hamzah dalam beberapa karya, diantaranya dalam bentukfaham martabat tujuh. Pemikiran ini dikembangan Syamsuddin dengan tambahan pengetahuan yang diperoleh dari Tuhfah al-Mursalah ila Ruhi al-Nabi karya Muahmmad Ibn Fadhillah, seorang ulama Sufi dari Gujarat India. Ia mencoba menjelaskan faham ini dalam pandangan yang penteistik dan menyebarkannya. Faham ini kemudian menjalar sampai ke seluruh Nusantara. Pengaruhnya di Jawa terlihat dalam kitab Centini, Wirid Hidayat Nabi, kitab Martabat alam tujuhnya Kyai Hasan Mustafa dan lain sebagainya.
Pasca Syamsuddin al-Sumatrani, Ar-Raniry mencoba menghapus ajaran Hamzah dan Syamsuddin yang dianggapnya bertentangan dengan syri’at dan tasawuf yang benar. Ia melaukan berbagai upaya untuk membuat pengikut Hamzah dan Syamsuddin bertaubat, kembali pada keimanan yang benar. Ini dapat dilakukan oleh Ar-Raniry karena ia memiliki kedudukan sebagai Syaikh al-Islam dalam kesultanan Aceh yang saat itu di bawah pimpinan Iskandar Tsani. Di satu sisi Ar-Raniry mampu “memaksa” pengikut Hamzah dan Syamsuddin bertaubat, namun di sisi lain sesungghnya ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorong pemahaman tasawuf seperti yang diajarkan Hamzah semakin kuat. Apalagi setelah tujuh athun menjadi syaikh al-Islam di Aceh Ar-Raniry kembali ke Ranir, India, maka tasawuf bercorak panteistik tersebutkembali muncul, walaupun tidak berkembang sebagaimana awalnya.
Pada masa As-Sinkili, tasawuf bercorak falsafi tidak begitu terkenal dan populer dalam masyarakat. Meskipun dari beberapa karangannya terlihat as-Sinkili tidak setuju dengan faham tasawuf Hamzah, namun ia tidak pernah menyatakan secara eksplisit dalam tulisan-tulisannya. Ia sendiri menganut tarekat Syaththariyah, meskipun ia juga mengantongi ijazah tareqat Naqsabandiyah. Ia memilih tarekai ini karena menganggap tarekat ini lebih mudah dan lebih tinggi, dasar amalannya dari al-Qur’an dan hadits Rasulullah dan dikerjakan oleh sekalian sahabat. Di Nusantara ia menjadi guru utama tareqat ini, dan ia masuk dalam silsilah tarekat yang dibacakan penganut tarekat Syattariyah sampai saat ini.
Abdurrauf memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Nurantara. Ia memiliki murid dari berbagai daerah. Di Sumatera Barat ajaran-ajaran tasauf As-Sinkili dibawa oleh muridnya Syaikh Burhanuddin Ulakan. Berkat muridnya ia Tarekat Syattariyah menjadi tarekat yang sangat berpengaruh di sekitaran daerah Pariaman. Sementara di Sulawesi ajaran-ajaran tasawuf as-Sinkili dibawa olehSyaikh Yusuf Tajul Khalwati Makssar. Di kepulauan Jawa Syattariyah disebarkan oleh muridnya Syaeh Abdul Muhyi. Ia belajar kepada as-Sinkili pada saat singgah di Aceh dalam pejalanannya ke Makkah utuk menunaikan ibadah haji. Tarekat ini juga berkembang hingga ke Tanah Melayu yang dibawa oleh muridnya, Abdul Malik bin Abdullah.
Melihat banyaknya murid As-Sinkili dari berbagai daerah di Nusantara tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa tasawuf memiliki peranan penting dalam perkembangan Islam di Nusantara pasca melemahnya kerajaan Aceh Darussalam. Sebab pada masa itu, murid menjadi ujung tobak dalam penyebaran Islam. Saat ia telah “tamat” belajar pada guru tertentu, ia akan mencari guru lain atau pulang ke daerahnya dan menyebarkan ilmu keislaman di sana. Ini juga yang terjadi pada murid-murid as-Sinkili. Dengan jalan inilah pengaruh tasawuf yang diajarkan as-Sinkili menjlaar ke seluruh Nusantara.

Perkembangan Pasca Abdurra’uf
Abdurra’uf yang telah menyemai bibit-bibit tarekat sebagai jalan pengamalan tasawuf, mulai tumbuh dan berkembang pada masa-masa selanjutnya. Masyarakat Aceh yang memiliki tradisi mistis lebih kuat dibandingkan tradisi fiqh dalam pengamalan agama menjadi lahan yang subur dalam pengambangan tasawuf bercorak tarekat ini. Ulama-ulama yang datang kemudian menjadikan tareakt sebagai dasar dalam pengambangan syi’ar Islam. Mereka membuka kelompok-kelompok tasawuf di dayah-dayah yang diikuti oleh kelompok masyarakat. Ini menjadi awal bagi organisasi sosial masyarakat dalam gerakan sosial yang bersifat filantropy atau juga gerakan sosial dalam menantang penjajahan.
Perkembangan tasaawuf ke arah pelaksanaan tarekat mulai marak pada akhir abad XIX. Salah seorang ulama yang mengembangkan tarekat adalah Hasan Krueng Kalee (L. 1886). Orang tua Hasan bernama Teungku Muhammad Hanafiah, yang berasal dari Aceh Besar. Ia adalah sahabat dekat Teungku Syeikh Muhammad Saman Tiro (teungku Chik Di Tiro). Kakeknya juga seorang ulama besar yang bernama Teungku Syekh Abbas, putra dari seorang ulama bernama Teungku Syeikh Muhammad Fadlil. Menurut catatan sejarah keluarga, Teungku Syeikh Muhammad Fadlil juga anak dari ulama besar dan bapaknya juga anak dari ulama besar yang lain. Demikian hingga Teungku Hasan Krueng Kalee dapat dikatakan keturunan ulama tujuh turunan.
Hasan pernah menetap di Makkah selama tujuh tahun. Setelah mengajar di beberapa dayah almamaternya, pada tahun 1916 ia memimpin dayah Krueng Kalee peninggalan almarhum Bapaknya yang hampir tidak terurus lagi. Selama di Makkah mempelajari Tarekat Haddaiyah. Tarekat Haddadiyah adalah sebutan lain dari tarekat Alawiyyah. Tarekat ini lahir di Hadralmaut yang dibawa oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir (selanjutnya Imam Ahmad). Ia adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW.
Tarekat Haddiyah merupakan tarekat yang sangat sederhana, menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan. Dengan demikian wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah diamalkan dan dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada dua wirid utama yang diajarkan dalam tarekat Haddiyah, yakni, Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara Tarekat Syadziliyah [yang menekankan riyadlah qulub (olah hati) dan batiniah] dan Tarekat Al-Ghazaliyah [yang menekankan riyadlah al-‘abdan (olah fisik)].
Di Aceh, Hasan Krueng Kalee merupakan orang petama yang mengemabangkan tareat Haddadiyah. Untuk memudahkan penyebaran dan pengambangan tarekat ini ia mnullis sebuah kitab yakni “Risalah Latifah”. Dalam kitab ini ia menjelaskan tatacara dan zikir yang diucapkan oleh salik. Kitab “tuntunan” yang dikarang Krueng Kalee menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan taswuf akhlaqi di Aceh pada awal abad XX.
Ulama lain yang mengembangkan tarekat di Aceh Teungku Muda Wali al-Khalidi. Ia pernah mengunjungi dayah Hasan Krueng Kalee, namun tidak menetap lama di sana. Ia merupakan pengembang Tarekat Naqsabandiyah di Aceh. Dayah yang dibangun di Blang Poroh Labuhan Haji Aceh selatan sampai saat ini masih menjadi pusat pendidikan agama dan pengajaran Suluk (tarekat) di Aceh. Setiap tahun didatangi ribuan salik yang akan melaksanakan suluk di dayah tersebut.
Saat ini terekat Nagqsabandiyah merupakan tarekat terbanyak diamalkan dan diikuti oleh masyarakat Aceh. Umumnya tarekat ini berkembang di dayah-dayah salafiyah baik di pedesaan maupun di kota-kota. Ini semua tidak terlepas dari pengaruh Muda Wali yang tersebar melalui murid-muridnya. Dayah-dayah besar di Aceh saat ini memiliki keterkaitan batin dengan Muda Wali. Ia menjadi salah satu syaikh yang dimasukkan dalam zikir-zikir para penganut tarekat Naqsabandiyah. Demikian juga ia menjadi “desainer” model pelaksanaan suluk di Aceh yang sampai saat ini masih dilaksanakan di dayah-dayah.
Selaian Muda Wali, di Pidie, tepatnya di Lueng Putu Pidie, pada akhir abad XVIII, lahir seorang ulama yang mencoba mensinergiskan tasawuf dengan syari’at. Ia dikenal dengan nama Teungku Disimpang. Ia pasti memiliki nama asli nama asli, namun kemuliaannya di mata masyarakat menyebabkan ia tidak dikenal dengan nama aslinya, namun lebih dikenal dengan nama laqab-nya.
Tgk. Disimpang menulis sebuah artikel panjang dengan judul Dawa’ al-Qulub min al-‘Uyub. Artikel ini dicetak dan disebarkan dengan beberapa artikel lain mengenai ibadah, fiqh, tasawuf dan lain sebagainya dalam Kitab Jam’ Jawami’ al-Mushhannafat, atau di Aceh di kenal dengan sebutan Kitab Lapan (Kitab delapan). Disebut delapan karena di dalamnya terdapat delapan artikel mengenai berbagai aspek keislaman.
Apa yang ditulis Tgk. Disimpang menunjukkan ia mencoba memposisikan tasawuf lebih “dekat” dengan kehidupan manusia modern. Ia menakankan pentingnya menghadirkan hati dalam setiap amal yang dilakukan manusia. Selain itu ia juga memberikan berbagai “obat hati” dalam menyelesaikan masalah kehidupan, tertama hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan dosa yang dilakukan manusia.
Dalam pemaparan yang diberikannya, terlihat Tgk. Disimpang amat dipengaruhi oleh pemikiran tasawuf al-Ghazali hampir seribuan tahun sebelumnya. Namun jels pemikiran tersebut masih relevan untuk kehidupan masyarakat modern di Aceh.
Selain perkembangan tarekat dan pemikiran tasawuf seperti di atas, ada juga sebuah usaha pemurnian tasawuf dari praktik yang tidak sesuai dengan kaidah syari’at Islam. Hal ini dilakukan oleh Abdullah Ujong Rimba, dengan mencoba menghapus praktik salek buta dalam masyarakat. Salik buta (saleek buta atau eleumee salek) yang berkembang di Aceh memiliki hubungan langsung dengan praktek tasawuf wujudiyah yang berkembang di masa pemerintahan Iskandar Muda dan seterusnya. Hamzah Fansuri yang menjadi tokoh utama perkembangan tasawuf di Aceh telah menyebarkan pemahaman dan praktek tasawuf dalam masyarakat.
Ujoeng Rimba menganggap praktek salik buta di Aceh berkembang di Aceh bertentangan dengan ajaran syari’at. Oleh sebab itu ia berusaha memberikan penjelasan kepada masyarakat mengani masalah ini. Bahkan untuk itu ia mengarang sebuah kitab dengan judul Pedoman Menolak Salib Buta. Dalam buku ini ia menjelasskan sejarah salek buta dan “kesesatannya”. Ia kemudian memberikan berbagai angkah untuk menolak dan memposisikan kaum salik buta tersebut.
Perkembangan tasawuf saat ini juga terlihat dari banyaknya jamaah muslim yang menekankan aspek tasawuf dalam gerakannya, diantaranta adalah Majelis Zikir al-Waliyah. Majelis ini dipimpin oleh Abuya Muhibbudin Wali. Ia adalah anak tertua dari Muda Wali al-Khalidi yang membawa dan mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di Aceh. Majelis Zikir ini berupa sebuah kelompok Muslim yang mempraktekkan zikir tertentu dengan dipimpin oleh Abuya Muhibbuddin Wali sendiri. Bukan hanya di Banda Aceh, majelis ini juag ada di daerah-daerah yang berbasis dayah/pesantren.
Gerakan lain dalam hal tasawuf adalah Majelis Tauhid Tasawuf yang dibawa oleh Abuya Amran Wali. Ia juga anak dari Muda Wali. Tauhid tasawuf berupaya memurnikan tauhid kaum muslimin dengan pendekatakan tasawuf. Sebab dengan pendekatan ini maka seseorang akan memperoleh dua manfaat sekaligus, kedekatan dengan Tuhan dan kemurnian aqidah. Mejelis ini mengadakan pengajian bulanan di Dayah Talibul Huda Aceh Besar dan beberapa masjid lainnya. Gerakan ini berpusat di Aceh Selatan, di dayah Darul Ihsan, pimpinan Abuya Amran Wali sendiri.
Praktek tasawuf yang sangan nampak ada di dayah-dayah tradisional di seluruh Aceh. Selain sebagai subjek ajar, tasawuf juga menjadi salah satu kekhasan dalam dayah dengan pengadaaan Suluk dan Tawajuh. Suluk (Arab: salaka, yasluku) secara literal berarti melalui atau menempuh jalan; atau juga berarti perangai atau perilaku. Suluk selalu dikaitkan dengan aktivitas ruhaniah seseorang yang mengambil jalan tasawuf untuk menedekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, suluk adalah tasawuf yang diterjemahkan dalam praktek. Berbagai langkah dan metode teoritis yang dijelaskan dalam tasawuf dicapai dengan sebuah latihan yang berat dan disiplin tinggi. Dan suluk merupakan wujud dari latihan tersebut.
Dalam pelaksanaan suluk, para salik melaksanakan amalan suluk sesuai dengan mazhab tariqat yang dianutnya. Mereka dipimpin oleh seorang mursyid atau sering juga disebut dengan khalifah. Khalifahlah yang membimbig para salik agar mereka tetap pada jalan atau adab suluk yang telah ditetapkan sehiangga suluk yang mereka jalankan akan dapat mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Gerakan lain di Aceh yang memiliki ruh tasawuf adalah Jama’ah Tabligh di Aceh Besar. Jama’ah Tabligh merupakan salah satu gerakan dakwah Islam yang berkembang di Aceh modern. Pada mulanya gerakan dakwah ini dikembangkan di India oleh Maulana Muhammad Ilyas (1885-1944). Aktifitas kemisian Jama’ah Tabligh dimulai pada 1926, ditandai dengan pergerakan dakwah dari pintu ke pintu yang dilakukan oleh Maulana Ilyas. Ia membawa sebuah pesan: “Ai Musalmano Musalman Bano” (Wahai kaum muslimin, jadilah muslim yang baik!). Ia menyentuh orang dengan pesan-pesan al-Qur’an dan Sunnah dan menjadikannya di atas segalanya. Dengan kegigihan, semangat, pantang menyerah, tidak kenal lelah ia mengabdikan seluruh hidup dan hatinya untuk menyampaikan apa yang dia sebut dengan misi para nabi, yakni membawa umat Islam denkat dengan Islam itu sendiri.
Di Aceh, Jama’ah Tabligh juga ikut berkembang. Saat ini hampir di sluruh Aceh terdapat Jama’ah Tabligh. Untuk saat ini (Agustus 2007) pusat dakwah Majelis Tabligh adalah di Desa Cot Goh, Montasik, Aceh Besar. Di sana sistem koordinasi dijalankan untuk seluruh jama’ah Jama’ah Tabligh di seluruh Aceh. Pada setiap kamis malam diadakan pertemuan yang dihadiri oleh semua jamaah yang mungkin menghadirinya (wilayah Kutaraja). Pertemnuan itu dikenal dengan uzlah, yakni pengasingan diri untuk beribadah kepada Allah dan belajar berbagai materi pelajaran agama.
Jama’ah Tabligh mimiliki misi dasar untuk mengajak umat Islam untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam segenap aspek kehidupan. Pelaksanaan ajaran agama, terutama dalam hal ibadah, sangat ditekankan kepada jamaahnya. Jama’ah diharapkan melaksanakan ibadah-ibadah kepada Allah, bukan hanya ibadah wajib, namun juga ibadah sunat sebanyak mungkin. Jama’ah Tabligh percaya bahwa dengan ibadah inilah mereka akan dekat dengan Allah dan Allah akan memberikan segalanya kepada hamba tersebut.
Salah satu aktifitas dakwah yang dilakukan oleh jamah adalah khuruj. khuruj merupakan aktifitas jamaah yang dilakukan di luar lingkungan aslinya untuk berdakwah dan menebarkan ajaran Islam sebagaimana yang mereka yakini. Khuruj dibagi tiga, berdasarkan lamanya waktu yang dibutuhkan. Khuruj tiga hari, dilakukan selama tiga hari di mushalla di luar mushalla asalnya. Jamaah dari musalla yang satu datang ke mushalla lain untuk menjadi da’I dan menyampaikan misi dakwah di lingkungan mushalla tersebut. Khusruj 40 hari dilakukan selama 40 hari. Khuruj ini dapat dilakukan di luar kabupaten, atau provinsi.

Kesimpulan
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini adalah bahwa perkembangan tasawuf di Aceh masa lalu menekankan tasawuf yang berbasis filsafat dan pendekatan diri dengan Tuhan dalam dimensi asketik murni. Faham ini dianut secara menyeluruh oleh masyarakat kerjaan Aceh pada masa Iskandar Muda, bahkan Iskandar Muda sendiri adalah salah seorang peganut tasawuf yang dikembangkan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani tersebut. Selain itu pada masa ini para ulama “memprodukdi” ilmu, atau memiliki akses yang besar dengan dunia keilmuan Islam di Arabiya. Dengan demikian mereka melahirkan karya-karya besar dan mampu menjadi guru dalam sajarah tasawuf di Nusantara.
Namun dalam perkembangan modern di Aceh hal ini tidak ada lagi. Para ulama modern kebanyakan menjadi pelaksanana atau pengikut dari gerakan tasawuf yang sudah ada. Dalam berbagai praktek ajaran tasawuf yang ada di Aceh modern, hanya Jama’ah Tabligh saja yang menunjukkan sebuah gerakan kesufian dalam dunia modern. Namun sayangnya gerakan ini bukan sebagai sebuah konsekwensi perkembangan pemikiran tasawuf klasik di Aceh, namun merupakan unsur luar yang masuk ke Aceh dan memiliki pengikutnya di sini.
Dalam pendnagan penulis ini semua terjadi karena pengaruh modernisasi dengan dimensi materialistik dan konsumeristik yang mulai masuk dalam pemahaman agama masyarakat. Bukan hanya kehidupan sosial saja yang dinilai dengan uang, praktik ritual agamapun sering diukur dengan keuntungan-keuntungan finansial. Ini mengakibatkan cara pandang yang keliru menganai praktik agama, sehingga melahirkan politisasi agama demi kepentingan sesaat dan ragawi.
Pengaruhnya tentu saja pada stagnasi pemikiran dan rendahnya motivasi belajar dalam ilmu-ilmu keislaman “melangit,” sebagaimana dilakukan oleh ulama klasik. Masyarakat cenderung belajar dan mengirim anaknya untuk pendidikan yang menjanjikan pekerjaan dan “jaminan masa depan.” Dengan demikian lambat laun ahli dalma bidang agama teoritis mulai langka dan akhirnya menghilang sama sekali, sebagaimana kita saksikan saat ini.


29 July 2008

Tasawuf Aceh: Debat Tuhan dalam Sejarah Aceh


Katanya, pemberlakuan syariat Islam di Aceh saat ini didasari pada kenyataan masa lalu di mana Aceh memiliki kekayaan dalam pemikiran agama dan budaya. Islam telah menjadi bagian dari budaya dan kehidupan sosial masyarakat Aceh sejak lama. sehingga timbul sebuah ungkapan di Aceh, "agama ngen adat lage zat ngen sifet." Ini berarti agama dan adat sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat sejak dalam lama dalam sejarah Aceh. Orang aceh, karenanya, percaya sekali kalau menerapkan Syariat Islam dalam kehidupan sosial bukan hanya tanggung jawab religius, namun juga tanggung jawab historis, yakni mengembalikan kejayaan Aceh masa lalu di Bumi sermabi Makkah. Kejayaan Aceh masa lalu disebabkan oleh ketaatan masyarakat pada agama dan kesabaran mereka dalam menjalankan ajaran agama mereka.

Apakah ini benar? apakah Islam memang menjadi dasar historis dan sosial di Aceh masa lalu? tegasnya, apakah syariat islam yang ada di aceh saat ini memang memiliki dasar dalam sejarah Islam di Aceh?

Pertanyaan tersebutlah yang hendak dijawab oleh buku ini. Penulis mencoba menelusuri sejarah keberadaan islam di Aceh dan perkembangannya, sejak Islam masuk sampai dunia kontemporer. namun ia mencoba membatasinya dalam hal perkembangan tasawuf dan pemikiran para sufi. kerenanya ini dapat pula disebutkan sebagai "Sejarah Perkembangan Pemikiran TAsawuf di Aceh.

Pemilihan tasawuf sebagai objek penulisannya bukan tanpa alasn. Kalau kita lihat perkembangan islam di Aceh, maka tidak bsia dipisahkan dari perkembangan tasawuf. Tasawuf mewarnai corak islam yang masuk ke aceh. Sufi adalah pembawanya. masyarakat yang memiliki kepercayaan mistik sebagaimana diajarkan tasaeuf membudaya dalam hampir seluruh masyarakat aceh. pun sekarang ini. oleh sebab itu dapat dikatakan kalau islam di aceh adalah islam sufistik.

itu dulu. ketika islam pertama kali masuk dan berkembang di sini. namun saat ini, setelah perkembangan masyarakat memiliki hubungan yang sangat mudah dengan masyarakat lain, dan bahkan bangsa lain, maka hal ini tidak lagi dapat menjadi pegangan. Bahkan belakangan, di Aceh modern, tasawuf tidak lagi mendapatkan tempat sebagai tradisi perkembangan islam dan pemikiran keagamaan di Aceh. Para ulama dan cendikiawan di Aceh cenderung menempatkan moralitas-moralitas formal yang diatur secara rigid dalam undang-undang (qanun). karenanya, Islam menjadi teralienasi dari habitatnya yang bersifat ruh dan spiritual.

Bagian yang sangat penting dalam studi ini adalah dimensi perdebatan tentang Tuhan yang dilakukan para sufi masa lalu di Aceh, khususnya pada dua mazhab besara tasawuf, Wahdatul Wujud dan Wahdatus Syuhud. golongan pertama diwakili oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. kedua tokoh ini mengembangkan pemikiran yang mendiskusikan hubungan Tuhan dengan ciptaannya. Mereka menganggap Tuhan termanifestasi dalam setiap ciptaaannya. karenanya segala sesuatu selain Tuhan adalah wujud Tuhan yang dinampakkan.

pandangan ini ditentang oleh Nuruddin Arraniry. ia tidak sepakat dengan pemikiran ini. Tuhan tidak mungkin terwujud dalam alam ciptaannya. sebab Tuhan adalah zatyang maha yang mustahil berwujud. karenanay Ar-Raniry menganggap pernyataan Hamzah sudah kelar dari rel ajaran islam yang benar. dan kerenanya hamzah dan pengikutnya dianggap sesat.

Secara garis besar dalam buku inipenulis membahas beberapa judul berikut:

Pengantar Penerbit
Pengantar Penulis Daftar Isi
Pengantar: Prof. Dr. Ahmad Daudy, M.A
Prolog; Menelusuri Jejak Tasawuf di Aceh
Perkembangan Awal Islam di Aceh
Peran Sufi dalam Islamisasi di Nusantara
Hamzah Fansuri; Mendayung Perahu Menggapai ‘Arsy
Syamsuddin as-Sumatrani; Pelanjut Risalah Hamzah Fansuri
Nuruddin ar-Raniry; Membendung Birahi Salik Menuju Tuhan
Abdurrauf as-Singkili; Mendamaikan Dua Mazhab
Mistisisme Modern di Aceh; Dari Tasawuf ke Tarekat
Epilog
Daftar Pustaka
Indeks
Penulis

Segera dapatkan di toko buku langganan anda!!!!!!!
hehehe.... kok jadi promosi.

21 July 2008

Senandung Cinta Hamzah Fansuri



Hamzah Fansuri lebih dikenal dengan pemikiran sufistik panteistik. Para peneliti menganggap ajaran Hamzah tersebut sangat dipengaruhi oleh pandangan wahdatul wujud Ibnu ‘Arabi. Pandangan Hamzah mengenai kesauan alam-Tuhan terlihat dalam berbagai karya prosa dan sya’ir yang dikemukakannya. Namun demikian, sesungguhnya Hamzah, di dalam berbagai prosa dan sya’irnya juga mengemukakan pandangan cinta. Dalam pandangan Hamzah Fansuri dalam berbagai sya’irnya rasa cinta kepada Tuhan diuangkapkan Hamzah bukan hanya dalam tataran bentuk, namun ia juga mengemukakan bagaimana seorang manusia bisa mendapatkan Cinta-Nya. Pandangan Cinta Hamzah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mewarisi pemikiran Ibnu ‘Arabi dalam bidang wujud Tuhan, namun ia juga memiliki pengetahuan dalam bidang tasawuf cinta dari sufi lainnya, seperti Rumi, Attar, Ain al-Qudhdat dan lainnya. Dari kajian penulis, pemikiran mahabbah (cinta) yang dikemukakan Hamzah merupaka sebuah bangunan yang berdampingan dengan pemahamannya tentang Tuhan. Karenanya Tuhan dan Cinta tidak bisa dipisahkan.


Pendahuluan
Hamzah Fansuri dikenal sebagai sufi dan pemikir tasawuf dari Aceh yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya dalam bidang tasawuf. Ia dilekatkan dengan pemikiran wahdat al wujud yang diprakarsai oleh Ibnu ‘Arabi. Bahkan ia dianggap menjadi penyebar pemikiran-pemikiran Ibnu ‘Arabi di Nusantara. Omar A. Bakar menyatakan kalau karya-karya Hamzah Fansuri merupakan penjelasan dan pengulangan pemikiran Ibnu ‘Arabi dalam bahasa Melayu. Pandangan ini diberikan setelah melihat kecenderungan dan inti pemikiran Hamzah Fansuri yang tidak terlalu berbeda dengan pemikiran para sufi sebelumnya. Hamzah sendiri sering menyebut nama para sufi Islam masa lalau dalam karyanya, terutama para sufi falsafi seperti Abu Yazid al-Bistami, Al-Hallaj dan Ibnu ‘Arabi dalam beberapa karyanya. Ini semakin meguatkan tesis para ahli yang menempatkan Hamzah sebagai pensyarah pemikiran sufi klasik Islam dalam bahsa Melayu, dapat menjadi hujjah bahwa Hamzah dianggap tidak memiliki pemikiran original dalam masalah tasawuf.
Di sisi lain, meskipun Hamzah menyebutkan beberapa nama Sufi klasik Islam dalam berbagai karyanya, ataupun kesamaan ajaran dan pemikiran tasawuf Hamzah dengan mereka, tetap menjadikan Hamzah sebagai seorang sufi dan pemikiran tasawuf Nusantara yang istimewa dalam pandangan beberapa sarjana yang lain. Abdul Hadi WM dalam Tasawuf Tertindas, Kajian Heurmaneutika Puisi Hamzah Fansuri mengemukakan bahwa Hamzah telah menjadi duta bagi perkembangan dan kemajuan sastra Melayu. Ia adalah perintis sastra becorak Islam di Nusantara. Maka tidak heran, sampai saat ini karyanya menjadi inspirasi bagi pasa sastrawan. Sebelum Abdul Hadi, Syeed Naquib al-Attas dalam The Mysticisme of Hamzah Fansuri mengatakan bahwa Hamzah memiliki peran besar dalam membantu Bangsa Melayu dan bangsa lain di Nusantara menimba ilmu dari pemikiran Arab-Parsi, dan melalui itu pula dapat menimba ilmu dari falsafah Yunani Kuno dan memperkaya kebudayaan bangsa di Nusantara serta memperkokoh hubungannya dengan bangsa lain di laut tengah. Dalam penelitiannya, al-Attas juga menjelaskan bahwa pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri bukan hanya masalah wahdat al- wujud semata, namun dalam berbagai karyanya juga terdapat pemikiran lainnya yang berhubungan dengan tasawuf dan kehidupan manusia. Setidaknya ada delapan pokok pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri yang dikemukakan oleh al-Attas; yakni doktrin dan pengajaran kebatinan tentang keesaan Tuhan; berbagai hal yang diciptakan Tuhan di dunia; kontinyuitas ciptaan, takdir; masalah roh dan jiwa; atribut yang ilahi; arti pemunahan diri; dan pengetahuan dan kebebasan dalam ilmu kebatinan Islam atau Sufism.
Dalam hemat penulis, dua sisi pandang yang telah dikemukakan oleh sarjana sebagaimana tersebut di atas masih menyisakan berbagai topik yang mungkin dikaji dalam karya-karya yang ditinggalkan oleh Hamzah Fansuri yang ada saat ini. Salah satu di atantaranya adalah masalah mahabbahtullah. Mahabbatullah atau cinta ketuhanan merupakan salah satu pemikiran tasawuf Hamzah yang tersirat secara konsisten dalam berbagai karyanya, baik puisi-puisi ruba’i, maupun dalam berbagai essainya. Ini menunjukkan Hamzah memiliki perhatian besar dalam masalah mahabbatullah dan dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan.
Mahabbahtullah sendiri bukanlah pemikiran baru dalam khazanah pemikiran Tasawuf Islam. Pada awal perkembangan tasawuf saja sudah lahir Rabi‘ah al-‘Adawiyah yang sya’ir cintanya memberikan nuansa baru dalam pemikiran tasawuf masa itu yang cenderung pada kezahidan dan penempatan Tuhan sebagai objek yang ditakuti. Rabi‘ah berhasil membangun fondasi pemikiran Cinta kepada Tuhan yang mempu memberikan paradigma lain dalam melihat Tuhan. Ia menemptakan Tuhan sebagai Kekasih yang ia dan Tuhan saling merindukan. Perkembangan ini mendapat sistematisasi pada masa Ibnu ‘Arabi. Dengan filsafat mistisnya tentang wujud ia memperjelas hubungan yang didasari cinta antara Tuhan dan hamba. Di mana wujud cinta Tuhan kepada hamba termanifestasi pada penciptaan Adam (dan ketrunannya) dan wujud cinta hamba kepada-Nya adalah kesadaran akan keberadaaanya yang semu. Pada saat yang hampir bersamaan pula, di Konya,Turki, Jalaluddin Rumi meliris puluhan ribu sya’ir cinta dalam Matsnawi. Sya’ir-sya’ir ini mencoba mendeskripsikan hubungan cinta manusia dan Tuhan yang abadi.
Di Nusantara, seriring dengan berkembangnya agama Islam, maka mazhab tasawuf yang dilandasi cinta ini juga berkembang. Hamzah Fansuri merupakan salah satu sufi yang memiliki keterpengaruhan dengan filsafat mistis yang berlandskan cinta sebagaimana yang pernah berkembang dalam tasawuf Islam klasik. Dalam berbagai sya’irnya ia mencoba menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan yang dilandsai cinta. Cintalah yang akan membawa kesempurnaan hidup manusia dan membawanya pada kebahagiaan hakiki yakni perjumpaan dengan Allah.
Tulisan ini berusaha mendeskripsikan hakikat cinta dalam pandangan Hamzah Fansuri. Hakikat cinta hanya akan diperoleh setelah mengetahui makna, proses pencapaian dan manifestasinya. Dengan demikian pembahasan akan dimulai dengan kajian terhdap pandangan mahabbah dalam perspektif mazhab tasawuf Islam klasik. Dengan demikian akan mampu memberikan fondasi bagi posisi pemikiran Hamzah dalam mahbbah nantinya.

Diskursus Mahabbah Dalam Pandangan Sufi

Pemaknaan dan pemahaman cinta dalam dunia sufi bukanlah hal yang baru dan asing. Sejak kemunculannya, sufisme telah dihiasi dengan pemaknaan cinta mistik oleh para sufi. Rabi’ah al-Adawiyah sebagai sufi pertama yang mengemukakakn masalah mistisisme cinta ini mengatakan bahwa mencintai Allah dengan dua model cinta:
“Aku mencintaimu dengan dua cinta,
cinta rindu dan cinta karena Kau layak dicinta
adapun cinta rindu, karena hanya Kau kukenang selalu bukan selain-Mu
adapun cinta karena Kau layak dicinta, karena Kau singkapkan tirai sampai Kau nyata bagiku
baik ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.
namun bagi-Mu Sendiri sekalian puji.”
Menurut al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin cinta rindu (hub al-hawa) yang dimaksudkan Rabi’ah adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya kepadanya, dengan seketika. Dan cinta kepada-Nya karena Dia layak dicintai ialah cinta keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap padanya. Cinta kedua inlah yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan. Hal ini seperti disabdakan Rasulullah saw dalam sebuah Hadits Qudsi bahwa Allah berfirman: “Bagi hambaku yang shaleh Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terbesit kalbu manusia.”
Penjelasan lain mengenai cinta ini diberikan oleh Abu Thalib al-Makiy dalam Quth al-Qulub. Ia mengatakan bahwa makna cinta karena rindu adalah rasa cinta yang timbul karena nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah. Adapun yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat materil dan bukan spirituil, karena hub di sini bersifat hub inderawi. Walau demikian, cinta rindu yang diajukan Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan tidak berkurang karena bertambah atau berkurangnya nikmat. Hal ini karena Rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri tetapi sesuatu yang ada di sebalik nikmat tersebut. Sementara cinta karena Kau layak dicintai adalah cinta yang tidak didorong oleh kesenangan inderawi, tetapi didorong oleh Zat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apapun. Dan kewajiban yang dijalankan oleh Rabi’ah semuanya bermula dari perasaan cinta dari Zat yang dicintai.
Rabi’ah sendiri saat ditanyai mengenai cinta mengatakan:
“Cinta datang dari keabadian (azal) dan melampaui hingga keabadian (abad). Dia tidak menemukan siapapun dalam delapanbelas ribu alam untuk meminum seteguk darinya. Dia akhirnya mencapai al-Haqq, dan dari-Nya-lah ungkapan ini tinggal: Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya.” Mereka bertanya: “Apakah engkau melihat Dia yang engkau sembah?” Rabi’ah menjawab: “Jika aku tidak melihat, maka aku tidak akan menyembah.”

Rabi’ah menempatkan kehadiran Dia Yang dicintai dalam hati sebagai unsur pokok dari cinta. Dengan kehadiran Tuhan dalam hatilah ia membuang segala sesuatu selain Dia. Bahkan kehadiran-Nya menjadikan ia tidak memiliki tempat untuk mencintai sesama manusia –bahkan Rasulullah- dan juga membenci setan.
“Akibat cinta yang menggelora, aku tidak memiliki alasan untuk membenci setan. Aku melihat Rasulullah dalam sebuah mimpi. Dia berkata, Rabi’ah apkah engkau mencintaiku? Aku berkata, Ya Rasulullah, siapakah yang tidak mencintaimu? Tetapi cinta al-Haqq telah begitu meliputiku sehingga tidak ada tempat dalam hatiku untuk cinta atau benci terhadap yang lain.”

Sufi lainnya, Maulana Jalaluddin Rumi adalah sufi lain yang mengemukakan masalah mahabbah dalam tasawufnya. Penjelasan Rumi dalam berbagai sya’ir dan karya bebasnya kerapkali dilandasaan pada cinta ketuhanan. Namun demikian ia menegaskan cinta adalah sesuatu yang tidak teridentifikasikan. Akal yang menjelaskan cinta laksana keledai dalam paya, dan pena yang berusaha menggambarkannya akan hancur berkeping-keping. Karena hati manusia merupakan “astroable Cinta”, yang memperlihatkan berbagai aspek dan posisinya. Rumi menjelaskan masalah ini dengan ungkapan-ungkapan segar, paradoks yang aneh, dan dialog kecilyang hidup antara hatinya dan kekuatan luar biasa tersebut. Ia jarang melakukan pengulangan. Ungkapan yang satu dengan yang lain susul menyusul dengan kecepatan yang menyesakkan nafas walaupun kelihatannya susunanya tidak logis. Dalam sebuah sya’irnya ia “bebincang” dengan Cinta untuk mencari tahu bagaimana rupa Cinta tersebut:
Satu malam aku bertanya kepada Cinta: “Katakan,siapa sesungguhnya dirimu?”
Katanya: “Aku ini kehidupan abadi,
Aku memperbanyak kehidupan indah.”
Kataku: “Duhai yang di luar tempat,
di manakah rumahmu?”
katanya: “Aku ini bersama api hati,
dan di luar mata yang basah,
Aku ini tukang cat; karena akulah setiap pipi
berubah jadi berwarna kuning.
Akulah utusan yang ringan kaki,
sedangkan pecinta adalah kuda urusanku.
Akulah merah padamnya bunga tulip,
harganya barang itu,
Akulah manisnya ratapan, penyibak
segala yang tertabiri…

Namun demikian, dalam beberapa sya’irnya Rumi menjelaskan makna cinta dengan anlogi yang beragam:
Cinta adalah ikatan kasih sayang, ia adalah sifat Tuhan
Cinta adalah sifat Tuhan, dan takut adalah sifat hamba yang menderita karena nafs dan kerakusan.
Ketahuilah bahwa Cinta dan Kasih adalah sifat-sifat Tuhan, dan takut, oh kawan, bukan Sifat Tuhan!
Yang lain menyebut Engkau Cinta, tetepai aku memanggil Dikau Sultan Cinta, oh Dikau yang berada di seberang konsep ini dan itu, jangan pergi tanpa diriku!
Jika aku harus meneruskan keteranganku tentang Cinta, walau seratus kebangkitan berlalu, belum juga purna. .
Analogi cinta seperti yang ada dalam sya’irnya di atas selalu konsisten dalam semua ungkapan Rumi tentang cinta lainnya yang menunjukkan Rumi memiliki “mazhab” cinta tersendiri. Konsistensi Rumi dalam “mazhab” cinta inilah yang menjadi dasar bagi F. C. Happold memasukkannya sebagai tokoh terkemuka dalam mistisisme cinta dan penyatuan mistik. Minstisisme jenis ini berusaha membebaskan diri dari rasa terpisah dan kesebatangkaraan diri, melalui jalan persatuan dengan alam dan Tuhan, yang membawa rasa damai dan memberi kepuasan kepada jiwa. Merasa sepi, mistikus cinta berusaha menanggalkan ‘diri khayali’ atau ego rendah (nafs) dan pergi menuju diri yang lebih agung, diri sejati dan hakiki, mendapatkan keriangan bersama Tuhan.
Sudahkah engkau mendengar maklumat Sang Kaisar? Segenap keindahan akan meruyak dari balik selubung.
Inilah maklumat-Nya: “Tahun ini Aku ingin agar gula murah harganya.”
Tahun yang membahagiakan! Luar biasa, hari yang terberkati! Kaisar Yang Murah Hati! Tawa kemenangan, sungguh menawan!
Saat ini, terlarang untuk duduk berdiam di rumah, karena Sang Kaisar sedang berjalan-jalan di alun-alun.
Mari bersama kami menuju ke sana dan saksikan perjamuan yang penuh keceriaan-baik yang tampak maupun tersembunyi.
Meja telah disiapkan, pemberkatan yang bersahutan terdengar menggema: halwa dan unggas panggang.
Para pelayan berdiri bagai rembulandi depan saki; musisi memainkan nada yang lebih manis dari kehidupan.
Namun, cinta kepada Sang Raja telah membebaskan ruh para pemabuk dari saki dan meja perjamuan.
Engkau berkata: “Di mana hal ini mungkin terjadi?” Kujawab: “Di sana, tepat di titik tempat pikiran “Di mana” menyeruak.”
Dalam pandangan Rumi, cinta dapat digunakan sebagai jalan untuk memahami kehidupan dan asal usul ketuhanan dari dirinya senidiri. Cinta adalah asas penciptaan alam semesta dan kehidupan, cinta adalah keinginan kuat untuk menggapai sesuatu, untuk menjelmakan diri cinta adalah penggerak kehidupan dan perputaran alam semesta. Cinta sejati dapat membawa seseorang mengenal alam akibat yang tersembunyi dalam bentuk-bentuk lahiriah kehidupan. Oleh sebab cinta dapat membawa manusia kepada kebenaran yang tinggi maka cinta menjadi unsur terpenting dalam transendensi diri. Cintalah sayap yang membuatnya dapat terbang tinggi menuju Yang Satu. Dalam hal ini Rumi mengungkapkan:
Inilah Cinta: Terbang tinggi ke langit, mi’raj
Mencampakkan, setiap saat, ratusan hijab
Mula-mula dengan menyangkal dunia (zuhud)
Pada akhirnya jiwa berjalan tanpa kaki jasad
Sejak itu jiwa memandang dunia telah raib
Dan tak peduli semua yang tampak di depan mata
O hati, kurestui kau dan kuizinkan
Memasuki lingkaran (da’irah) para pencinta!
Memandang jauh ke balik dunia rupa
Menembus lubuk terdalam hakikat
Dari mana napas ini datang kepadamu, o jiwaku?
Dari mana keasyikan ini datang, o hati?
O burung (ruh) bicaralah dalam bahasa burung
Kini kutahu makna tersembunyi kata-katamu!

Dalam sya’ir lain ia mengungkapkan:
Lewat Cintalah semua yang pahit akan jadi manis,
Lewat Cintalah semua tembaga akan jadi emas
Lewat Cintalah semua endapan
akan jadi anggur murnni
Lewat Cintalah semua kesedihan akan jadi obat
Lewat Cintalah si mati akan jadi hidup
Lewat Cintalah raja akan jdi budak!

Karenanya Rumi mengajak para pecinta menunju hakikat cinta, meninggalkan dan melupakan segala yang lainnya. Sebab “kematian terburuk adalah hidup tanpa cinta.” Tuhan adalah keindahan, Dia indah dan mencintai keindahan. Dengan demikian tidak ada keindahan lain selain keindahan Tuhan. Keindahan hakiki hanyalah milik-Nya sedankan keindahan yang lain hanyalah bayangan dari keindahan Hakiki.
Dalam bagian lain Rumi mengatakan bahwa cinta merupakan alasan kenapa alam diciptakan. “Aku ingin (cinta) untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia.” Hadits inienggambarkan bagaimana Tuhan merupakan sesuatu yang tersembunyi yang berkeinginan untuk dikenal. Berkeinginan di sini tidak dimaksudkan sebagai penggambaran kebutuhan Tuhan sebab Tuhan tidak membutuhkan segala sesuatu. Cinta bukanlah zat, namun ia sifat, selaiknya sifat Tuhan yang lainnya.
Makhluk-makhluk bergerak karena Cinta, Cinta oleh keabadian tanpa permulaan: angin menari-nari karena semesta, pohon-pohon disebabkan oleh angin.
Tuhan berkata pada Cinta, “Jika bukan karena keindahanmu, untuk apa Aku mesti menatap pada cermin eksistensi?”

Sya’ir Cinta Hamzah Fansuri
Sebagaimana saya kemukakan dalam pembahasan di atas, mahabbah bukanlah wacana yang asing dalam tasawuf Islam. Sejak awal kemunculan tasawuf sebagai suatu mazahab pemikiran, maka wacana tersebut telah tumbuh dan berkembang. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi mengatakan bahwa mahabbah memiliki tiga tingkatan: pertama, cinta orang biasa, yakni selalu mengingat Allah dengan berzikir, suka menyebut nama Allah SWT dan memperoleh kesenangan dalam dialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya. Kedua, cinta orang siddiq (jujur, benar), yaitu orang yang mengenal Allah SWT seperti kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Cinta ini dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah SWT sehingga ia dapat melihat yang ada pada Allah SWT. Ia mengadakan “dialog” dengan Allah dan memperoleh kesenangan dari dialog tersebut. Cinta tingkat kedua ini membuat orang sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri, sementara hatinya penuh dengan perasaan cinta dan selalu rindu kepada Allah. Ketiga, cinta orang arif, yaitu cinta orang yang tahu betul akan Allah SWT, yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta tapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkatan ke tiga inilah yang menyebabkan seorang hamba dapat berdialog dan menyatu dengan (kehendak) Allah.
Pandangan Hamzah Fansuri dalam masalah ini agaknya terkait erat dengan apa yang dimasukkan dalam kategori ketiga oleh Al-Sarraj. Dalam salah satu Ruba’i-nya Hamzah mengatakan:
Mahbubmu itu tiada ber-hail
Fa ainama tuwallu jangan kau ghafil
Fa samma wajhullah sempurna wasil
Inilah jalan orang yang kamil


Syamsuddin al-Sumatrani dalam Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri, mengatakan bahwa dari syair ini Hamzah ingin menjelaskan bagaimana hakikat hubungan antara seorang pecinta dan yang dicintainya. Bait pertama menjelaskan tentang keterbukaan Allah dari hijab bagi seorang pecintanya. Ia dapat disaksikan oleh pecinta tanpa ada apapun yang membatasi padangannya. Hal ini dijelaskan lagi dalam bait kedua di mana Allah itu sendiri ada di mana saja sang pecinta menghadakan wajahnya. Tatakala seorang pecinta telah jatuh cinta dengan cinta yang benar pada yang dicintainya, maka wajah sang Kekasih akan termanifestasi dalam segala apa yang dilihatnya. Fa samma wajhullah menguatkan bahwa dimana-mana ada wajah-Nya. Sehingga pecinta sejati tidak akan pernah kehilangan kesempatan melihat-Nya. Inilah cinta sejati bagi seorang pecinta.
Melihat Tuhan bisa saja terjadi dan dilakukan oleh seorang salik karena bagi seorang salik, Tuhan bukanlah zat yang tersembunyi. Ia zahir dan nyata di mata batin sang pecinta. Rahman sebagai sifat Tuhan dan iapula cinta, dan cinta itu adalah Wujud, yakni eksistensi Tuhan itu sendiri.
Rahman itulah yang bernama wujud
Keadaan Tuhan yang sedia ma’bud
Kenyataan Islam Nasrani dan Yahud
Dari rahman itulah sekalian maujud


Rahman di sini adalah rahman dalam ati zatiyah. Hal ini terlihat karena hal ini dilimpahkan kepada semua –ras- manusia tanpa pilih kasih, Islam, Nasrani dan Yahidi sama saja. Ia ada sejak zaman azali dan bahkan dari rahman itulah semuanya diciptakan.
Ma’bud itulah yang terlalu bayan (nyata)
Pada kedua alam kull yawm huwa fi sya’n
Ayat ini dari surah al-rahman
Sekalian alam di sana hayran


Dalam bait ini Hamzah menjelaskan kesatuan Tuhan dengan ciptaannya. Kull yawm huwa fi sya’n menunjukkan “kesibukan-Nya” mengurus alam. Setiap hari ia menyatu dengan alam dan mengurus makhluk-Nya. Maka, dalam posisi Tuhan seperti ini, setiap salik pecintanya akan mendapatkannay dengan mudah dan melihatnya pada segala sesuatu.
Haqiqat itu terlalu ‘iryan
Pada rupa kita sekalain insan
Aynama tuwallu suatu burhan
Fa tsamma wajh Allah pada sekalian makan


Aynama tuwallu…. Fa tsamma wajh Allah (QS:: 2: 115) menggambarkan bahwa wajah Allah termanifestasi dalam setiap diri insan dan segala yang wujud. Manifestasi wujud Tuhan dalam Insan ini disinggung pula dalam hadits, Allah menciptakan Adam menyerupai shurah (rupa) al-Rahman. Dalam hal ini maka Adam mendapatkan segala rupa lain dari alam semesta yang berupa miniaturnya. Sementara wajah Allah berarti Nur-Nya. Ia adalah hakikat nur, sehingga nur-nur yang lain berasal dari Nur-Nya.
Akhir dari perjalan seorang salik adalah mendapatkan cinta Ilahi yang akan mennjadikannya sebagai insan kamil. Penggapaian ini berwujud pada kesadaran kesatuan pandang antara diri dan Tuhan, seperti terungkap dalam sya’irnya:
Ma’bud itulah yang bernama haqiq
Sekalian alam di dalamnya ghariq
Olehnya itu sekalian fariq
Pada kunhi-nya tiada beroleh thariq


Seorang salik harus terus menerus berusaha menggapai cinta Ilahi tertinggi dengan kesadaran akan kebersatuannya. Hal ini dilakukan dengan pelaksanaan ajaran Islam dengan sempurna pula. Salah satu usaha dasar yang diperlukan adalah pembersihan jiwa.
Aho segera kita yang asyqi
Ingat-ingat akan makna insani
Jika sungguh engkau bangsa ruhani
Jadikan dirimua supaya Sultani

Kenal dirimu hai anak ‘alim
Supaya engkau senantiasa salim
Dengan dirimu yogya kau qaim
Itulah hakikat shalat dan shaim

Dirimu itu bernama khalil
Tiada bercerai dengan rabbul al-jalil
Jika dapat ma’na dirimu akan dalil
Tiada berguna mazhab dan sabil

Kullu man ‘alaihafanin ayat min rabbihi
Menyatakan makna irji’I ila ashliki
Akan insan yang beroleh tawfiqihi
Supaya karam di dalam sirru sirrihi

Situlah wujud sekalian fanun
Tinggallah engkau dari mal wal al-banun
Engkaulah ‘asyiq terlalu junun
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un


Langkah pertama dan utama yang harus diperhatikan seorang salik dalam menuju Tuhan adalah meningkatkan kehidupan ruhani sehingga ia semakin dekat dengan sifat-sifat Tuhan dan akan mengenalnya dengan baik. Seorang salik mesti terus menerus menempauh jalan hakikat ini, sebab iru merupakan hakikat terdalam dari peribadatan kepada Allah. Jika seseorang telah mengenal dan bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan-Nya maka tidak perlu lagi baginya mazhab-mazhab ibadah sebagaimana diamalkan oleh orang awam.
Ketika ia menggapai posisi tertinggi dalam maqam kedekatan dengan Tuhan, maka sang salik dianggap telah mampu memancarkan nur ketuhanan dan alm dirinya, atau dikenal dengan manusia sebagai wadah tajalli Tuhan. Manusia seperti ini adalah manusia sempurna. Manusia paripurna, atau disebut juga dengan istilah adi manusia atau al-insan al-kamil, merupakan wujud terbaik yang diekspresikan oleh manusia. Kebahagiaan-kebahagiaan yang konstan yang dialami oleh manusia akan membawanya menjadi manusia sempurna. Manusia sempurna berarti wujud terbaik yang diekspresikan oleh manusia dengan kemampuan memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya.
Pembicaraan mengenai al-insan al-kamil mendapatkan porsi yang sangat besar dalam tradisi sufi, terutama setelah Ibn 'Arabi dan muridnya al-Jili. Pembahasan mengenai insan kamil dalam perspektif al-Jili tidak bisa dilepaskan dari konsep al-insan al-kamil yang dikembangkan oleh Ibn 'Arabi sebelumnya. Inti dari tasawuf Ibn ’Arabi pada dasarnya adalah al-insan al-kamil, yang dikembangkan dari konsep wahdat al-wujud-nya.
Al-insan al-kamil seperti dikembangkan oleh para sufi tradisional Islam tersebut menempatkan al-insan al-kamil sebagai manusia yang mampu mencerminkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Pemancaran sifat Tuhan dalam al-insan al-kamil dimungkinkan karena di dalam dirinya memang terdapat potensi ketuhanan yang disebut dengan dimensi ruh.
Dalam pandangan Hamzah Fansuri, kemulian manusia terletak pada kesempurnaannya dalam berhubungan dengan Allah. Manusia yang paling sempurna adalah mereka yang mampu memabifestasikan keseluruauhan sifat Tuhan dalam diriya. Dalam Burung Pingai Hamzah menyatakan:
Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
‘akulah wasil’ akan katanya

Sayapnya bernama furqan
Tubuhnya bersurat Qur’an
Kakinya Hannan dan Mannan
Daim bertengger di tangan Rahman

Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan angganya
Nur Allah kana matanya
Nur Muhammad daim sertanya


Syair di atas menggambarkan posisi manusia yang telah menyatu dengan Tuhan. Ia menggambarkan bagaimana keseluruhan dirinya diliputi oleh asma’ dan sifat Tuhan. Tidak ada sisi dalam dirinya yang tidak diliputi Tuhan. Bagaikan Tuhan ia dikawal malaikat-Nya dan berdiri di atas kakinya yang juga merupakan malaikat-Nya (Hannan dan Mannan). Dalam tataran inilah manusia menjadi sempurna:
Dengarkan, hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu
Ilmunya yogya kau ramu
Supaya jadi mulai adamu



Kesimpulan

Dari paparan di atas terlihat bahwa Hamzah menjelaskan mahabbah dalam pandangan Hamzah adalah perjalanan dan pencapaian. Perjalanan dilakukan dengan suluk yakni upaya-upaya penyucian diri dari segala sesuatu yang duniawi menuju hakikat Ilahi. Penyucian diri dilakukan terus menerus hingga ia menggapai cinta hakiki yakni Tuhan. Dalam tataran tertinggi penggapaiannya maka ia akan “menyatu” dengan Tuhan dan menjadi menifes Tuhan dalam alam.
Cinta adalah hakikatt Tuhan yang Wujud dalam alam. Ia menampakkan dirinya berupa surah dalam diri manusia. Setiap manusia yang menempah jalan menuju Tuhan mesti membersihkan diri dari sifat keduniawian. Sifat ketuhanan akan masuk dalam diri yang telah bebas dari sifat keduniawiannya. Seseorang yang telah mampu menampakkan sifat-sifat ketuhanan dalam irinya ia adalah insan kamil.
Hamzah Fansuri menggambarkan mahabbah sebagai landasan sangat penting dalam tasawuf. Seperti ualma-ulama tasawuf sebelumnya, Hamzah Fansuri menempatkan Tuhan sebagai Zat “tanpa murka” karena cinta-Nya lebih besar dari murka-Nya. Karenanya seorang salik hendaknya melihat Tuhan dari wajah cinta dan mengabaikan wajah murka. Dengan demikian aia akan menjadi seorang salik yang akan menjumpai Tuhan dalam cinta, sebab hanya dalam cintalah kebahagiaan dan kesempurnaan hakiki akan tercapai.