Belakangan ini kampanye dan usaha mengubah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry semakin kencang. Pihak kampus IAIN melakukan beberapa audiensi dengan berbagai pihak di Aceh untuk mendapatkan dukungan perubahan tersebut. Selain pemerintah Aceh, pemerintah kota Banda Aceh, DPRA, Polda Acehpun sudah menyatakan dukungan untuk perubahan IAIN menjadi UIN. Dukungan ini menjadi salah satu aspek yang akan menguatkan tawaran IAIN kepada pemerintah dalam usaha perubahan ini. Tanpa mengecilkan arti usaha itu, sebuah pertanyaan yang layak diajukan adalah: sejauh mana perlunya perubahan IAIN menjadi UIN?
Alasan terdepan yang selalu dikemukakan oleh petinggi kampus dalam usaha perubahan ini adalah, "agar IAIN bisa membuka fakultas umum seperti halnya kampus tetangga, Unsyiah". Pembukaan fakultas dan prodi umum akan menjadikan IAIN ampu bersaing dengan universitas lain dalam menjaring minat studi mahasiswa. Apalagi belakangan di Aceh sudah berdiri STAIN Malikussaleh dan STAIN Cot Kala yang juga memiliki misi studi Islam yang hampir sama dengan IAIN. Nyaris, mahasiswa IAIN Ar-Raniry beberapa tahun terakhir didominasi oleh alumni SMA/MAN dari pantai Barat Selatan dan Banda Aceh-Aceh Besar.
Tujuan lainnya yang meskipun tidak terlalu populer namun ada dalam pikiran semua pihak di IAIN adalah, perubahan IAIN menjadi UIN akan memberikan jalan yang lebih mudah untuk menerapkan dan merealisasikan ide-ide tentang ilmu integrasi islam dan ilmu pengetahuan umum yang selama beberapa dasawarsa terakhir sudah sangat populer di dunia Islam. Sudah terlalu banyak "teori" integrasi yang sudah diberikan, namun masih sangat sedikit aplikasinya di lapangan. Dengan menjadi UIN maka kesempatan IAIN mengaplikasikan teori tersebut akan menjadi lebih mudah.
Arti IAIN: Sebuah Introspeksi
Meskipun sebagai dosen di IAIN Ar-Raniry, saya tidaklah terlalu ambisius untuk perubahan ini, meskipun saya bukan orang yang menolak sama sekali. Ada sebuah keraguan yang tidak bisa saya hindari ketika semangat perubahan ini didengungkan. Keraguan ini adalah menyangkut dengan pertanyaan: Apakah kita sanggup dengan perubahan tersebut?
Banyak kolega saya di IAIN menyambutnya dengan acungan kepalan tangan ke atas dan mengatakan: "Kita bisa!" Sungguh sebuah jawaban yang luar biasa. Saya yakin, kesiapan dan semangat akan membuat semuanya menjadi lebihmudah. Jika semua orang di IAIN sudah merasa perubahan ini akan menjadikan IAIN lebih baik, maka tidak tidak alasan untuk menundanya.
Namun saya ingin mengatakan, janganlah semangat perubahan menjadi UIN hanya didasarkan pada keinginan "kesempatan membuka prodi umum" dan "kesempatan integrasi ilmu keislaman dengan ilmu umum" semata tanpa melihat apa yang bisa kita lakukan selama ini. "Bisa" di sini adalah, apa yang sudah kita lakukan selama ini dengan status kampus yang "hanya" Institut.
Ada sebuah pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab. Apakah yang menyebabkan IAIN mundur karena "institut" atau karena faktor lain yang ada di dalamnya. Kedua, apakah nama "universitas Islam" akan menjamin IAIN ke depan lebih baik? Dua pertanyaan ini akan membawa kita untuk bisa melihat kembali pada diri masing-masing, lalu menilais sejauh mana perubahan nama ini perlu.
Kualitas Pribadi vs Sebuah Nama
Saya sendiri cenderung berfikir bahwa ketertinggalan kampus bukan disebabkan oleh namanya, namun ada pada sistim pengelolaan yang ada di dalamnya. "Institut" dan "Universitas" bagi saya sama saja sejauh ia bisa dikelola dengan baik dan dengan sebuah visi yang jelas. Selain itu, di dalamnya ada civitas akademika yang memiliki dedikasi dan semnagat yang tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Apapun namanya, jika ia memiliki dedikasi yang kuat dalam pengembangan ilmu, maka ia tetap akan maju dan diincar oleh siapa saja.
Selama ini, saya melihat, IAIN belumlah menjadi sentral pengembangan ilmu pengetahuan agama di Aceh. Peran IAIN masih sekedar menjalankan administrasi pendidikan ilmu agama Islam saja, belum sampai pada mengembangkan dan mensponsori pengembangan ilmu keislaman. Sebagai "administrator", selama ini IAIN menjadi media transformasi ilmu dari seorang dosen kepada mahasiswa. Dosen mendapatkan ilmu dari tempat lain dan membaginya kepada mahasiswa. Tidak ada ilmu "khas" IAIN yang dikembangkan, yang ada hanyalah pengambilan ilmu dari tempat lain dan bulat-bulat diberikan kembali kepada mahasiswa.
Mudahnya begini. Meskipun IAIN berada di Aceh, namun Aceh sama sekali tidak bisa dilihat dari IAIN. Penelitian-penelitian yang ada di IAIN masih tidak bisa menggambarkan apa yang terjadi di Aceh. Bahkan apa yang terjadi di Aceh, tidak bisa dijelaskan oleh civitasakademika IAIN. Justru ornag luar -provinsi atau negara- yang datang ke Aceh untuk melakukan penelitian dan dokumentasi mengenai Aceh. Celakanya, dokumentasi mereka kemudian menjadi rujukan bagi civitasakademika IAIN dalam melihat daerahnya sendiri.
Tentu kita tidak bisa menafikan beberapa pakar dari IAIN yang berperan dalam pengembangan agama dan pemerintahan di Aceh. Namun itu jelas bukan (setidaknya tidak 100%) bagian dari posisinya sebagai ilmuan. Sebagai ilmuan, menurut saya, civitasakademika IAIN harus menjadi "perekam peradaban" yang sedang berlangsung di Aceh, dan menempatkan perspektifnya dalam semua hal yang yang terjadi di Aceh belakangan ini. Apakah ini sudah terjadi? Saya melihatnya belum.
Hal yang paling mudah adalah dengan melihat konteks Aceh kontemporer, saat ini. Sekarang di Aceh sedang berlangsung sebuah proses pemeilihan kepala daerah. Ada banyak partai, ada banyak kekerasan, ada banyak teror, ada banyak intrik politik, dan lain sebagainya. Di sisi lain, IAIN memiliki jurusan politik Islam. Pertanyaannya, sejauh mana akademisi di jurusan politik Islam mencerdasi apa yang terjadi dalam proses demokrasi di Aceh ditinjau dari eprspektif Islam? Apakah proses ini sudah sesuai dengan prinsip politik Islam?
Seharunya, ini menjadi "laboraorium hidup" bagi IAIN untuk menerapkan apa yang berkembang di kampus. Apa yang sudah didiskusikan di kelas, bisa dilihat di pangangan dan melakukan penilaian. Hasil penelitian akan kembali didiskusikan di kampus dan diabstraksikan dalam bentuk tesis-tesis keilmuan yang akan terus berkembang secara dinamis. Semakin lama, abstraksi ini semakin kuat dan teruji. Dan pada suatu masa ia akan menjadi salah satu produk ilmu pengetahuan khas yang lahir dari IAIN.
Mungkin lain kali saya akan mencoba memberikan gambaran dan contoh dari beberapa fenomena sosial di Aceh lainnya.
Kembali ke pertanyaan semula, apakah untuk melakukan ini perlu mengubah IAIN menjadi UIN? Saya kembali menjawabnya: Tidak! Dalam status sebagai IAINpun, hal ini bisa dilakukan.
Namun pertanyaan yang paling -menurut saya- sulit untuk dijawab adalah, Apakah alumni sebuah kampus yang bergelut dengan wacana keilmuan teoritis adakan bisa mendapatkan pekerjaan setelah ia menjadi sarjana?
Mungkin ini bisa jadi sebuah pertanyaan yang lain lagi, namun sekaligus harus dijawab berbarengan dengan keinginan perubahan IAIN menjadi UIN. Memang sulit mengatakan bahwa seorang alumni IAIN bisa eksis di dunia kerja kalau kampus tidak menyesuaikan diri dengan apa yang berkembang. Seorang ahli filsafat Islam alumni Fakultas Ushuluddin misalnya. Ia lulus dengan predikat terbaik di kampus, mau jadi apa? Apa yang bisa dilakukannya? Satu dua orang bisa menjadi peneliti atau penulis, namun berapa banyak yang bisa demikian? Akhirnya mereka akan kembali ke kampung dan hidup seperti masyarakat biasa di sana. Lalu untuk apa kuliah?
Saya sendiri sungguh tidak punya jawaban untuk pertanyaan seperti ini. Jika dengan mengubah Institut menjadi Universitas mampu mengatasi problem ini, maka saya bisa maklumi kalau perubahan itu memang niscaya. Saya ikut mendoakan saja.
24 February 2012
12 December 2011
Kreasi -sesat- Pasta
Salah satu tantangan yg tidah kalah besar dalam mengarungi hidup di negeri orang adalah makanan. meskipun pada awal kedatanganku di milan tidak masalah, namun lama kelamaan rindu masakan istri di Aceh akhirnya datang juga. Terbayang kuah leumak, asam keu eung, asam udeung, dll. Tapi apa boleh buat? andai SMS bisa juga dipakai untuk mengirim masakan, mungkin masalah ini tidak akan muncul.Sebenarnya saya bisa memasak beberapa masakan Aceh. Hanya saja di sini hampir tidak ada bumbu yg bisa dipakai buat memasak makanan sperti di kampung, seperti buah belimbing, asam sunti, asam kuyuen, dll.
Jadi terpaksa berfikir bagaimana menyesuikan masakan italia dengan masakan aceh. Salah satu cara negosiasinya adalah memasak pasta italia dengan cara Aceh. hasilnya seperti gambar di atas. rasanya juga maknyus... seperti mie Aceh.
Published with Blogger-droid v2.0.1
17 July 2011
Di Aceh, Setiap Hari Ada yang Dipancung!
Heboh pemancungan seorang TKW di Arab Saudi masih menyisakan pilu bagi banyak warga Indoensia, baik yang ada di Arab Saudi atau yang berada di Indonesia. Bahkan pemerintah dibuat repot dengan masalah ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menjawab pertanyaan, tudingan, keluhan banyak masyarakat. Tapi sebatas itu, mereka tetap tidak melakukan apapun untuk menyelematkan “Ruyati” lain yang akan ikut dipancung juga.
Beda dengan di Arab yang suka memancung manusia, di Aceh yang dipancung adalah kopi. Bukan batang kopi atau biji kopi, tapi takaran minum kopi. Di warung kopi, di mana-mana seluruh Aceh anda bisa pesan yang namanya kopi pancung. Semua orang tahu. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “kupi pancong”, atau “kupi sikhan”.
Kupi pancong sama saja dengan kopi lainnya. Ia disebut “pancong” karena isinya yang tidak penuh satu gelas. Paling setengah gelas atau bahkan kurang. Rasa dan aromanya juga sama saja. Ia juga dibuat dari bubuk yang sama, diolah dengan cara yang sama dan disajikan dengan cara yang sama pula. Hanya karena isinya yang setengah, ia disebut kopi pancong.
Meskipun kupi pancong adalah hal yang lumrah dalam masyarakat, ada filosofi besar yang dikandungnya terkait dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh secara keseluruhan. Kupi pancong dipesan karena seseorang biasanya tidak bisa (atau tidak dibolehkan) minum kopi terlalu banyak karena terkait dengan masalah penyakitnya. Yang lain merasa tidak mau minum kopi terlalu banyak hingga memesan setengahnya saja. Ada juga yang tidak memiliki cukup uang sehingga ia memesan kopi pancong agar harganya lebih murah dari kopi biasa.
Namun terkadang kopi pancong juga terkait dengan sikap malas dan budaya santai dalam masyarakat Aceh. Ada ungkapan, “kupi sikhan glah, peh bereukah lua nanggroe.” (minum kopi hanya setengah gelas, tapi omongannya hingga ke laur negeri). Biasanya orang seperti ini adalah laki-laki. Sebelum pergi bekerja mereka duduk dulu di warung kopi hingga menceritakan banyak hal. Bahkan ada yang akhirnya tidak jadi pergi bekerja karena keasyikan bercerita.
Jadi bagi yang hobbi kopi, jagan sungkan-sungkan pesan kalo ke Aceh.
Bi kupi pancong saboh!
Beda dengan di Arab yang suka memancung manusia, di Aceh yang dipancung adalah kopi. Bukan batang kopi atau biji kopi, tapi takaran minum kopi. Di warung kopi, di mana-mana seluruh Aceh anda bisa pesan yang namanya kopi pancung. Semua orang tahu. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “kupi pancong”, atau “kupi sikhan”.
Kupi pancong sama saja dengan kopi lainnya. Ia disebut “pancong” karena isinya yang tidak penuh satu gelas. Paling setengah gelas atau bahkan kurang. Rasa dan aromanya juga sama saja. Ia juga dibuat dari bubuk yang sama, diolah dengan cara yang sama dan disajikan dengan cara yang sama pula. Hanya karena isinya yang setengah, ia disebut kopi pancong.
Meskipun kupi pancong adalah hal yang lumrah dalam masyarakat, ada filosofi besar yang dikandungnya terkait dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh secara keseluruhan. Kupi pancong dipesan karena seseorang biasanya tidak bisa (atau tidak dibolehkan) minum kopi terlalu banyak karena terkait dengan masalah penyakitnya. Yang lain merasa tidak mau minum kopi terlalu banyak hingga memesan setengahnya saja. Ada juga yang tidak memiliki cukup uang sehingga ia memesan kopi pancong agar harganya lebih murah dari kopi biasa.
Namun terkadang kopi pancong juga terkait dengan sikap malas dan budaya santai dalam masyarakat Aceh. Ada ungkapan, “kupi sikhan glah, peh bereukah lua nanggroe.” (minum kopi hanya setengah gelas, tapi omongannya hingga ke laur negeri). Biasanya orang seperti ini adalah laki-laki. Sebelum pergi bekerja mereka duduk dulu di warung kopi hingga menceritakan banyak hal. Bahkan ada yang akhirnya tidak jadi pergi bekerja karena keasyikan bercerita.
Jadi bagi yang hobbi kopi, jagan sungkan-sungkan pesan kalo ke Aceh.
Bi kupi pancong saboh!
15 July 2011
Baru 32 Tahun Sudah Punya Dua Cucu
Tetangga rumoh kontrakan saya di Jogja adalah keluarga kecil dengan dua orang anak. Yang sulung perempuan dan adiknya laki-laki. Si kakak baru berusia 18 bulan dan adiknya masih 2 bulan. Bapaknya bekerja serabutan. Keluar pagi pulang petang. Si ibu tidak ada pekerjaan sama sekali. Ia nampak masih sangat muda. Bahkan, masih kekanak-kanakan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu kalau usianya kini baru 16 tahun. Ia menikah saat masih kelas dua SMP dengan kakak kelasnya di SMP yang kini jadi suaminya.Baru 16 tahun sudah punya dua anak, itu sungguh mengejutkan.
Tapi lebih mengejutkan saya, ternyata ibunya si perempuan baru berusia 32 tahun! dan baru dua minggu yang lalu melahirkan anaknya yang keempat.
Saya jadi teringat dua pengalaman sebelumnya. Pertama di Aceh Jaya, tahun 2006 saat saya bekerja sebagai relawan di Palang Merah Inggris dalam pembangunan rumah korban sunami. Salah satu penerima manfaat kami adalah seorang ibu dengan sua orang anak. Si ibu tidak memiliki suami, bukan tidak punya, tapi suaminya sudah merantau ke Malaysia saat konflik dan tidak pernah mengirimkan berita apapun selama ia pergi. Selama itu pula si ibu harus menghidupi dua anaknya. Yang tua, saat itu sudah berumur tujuh tahun. adinya lima tahun. Mau tahu berapa usia si ibu? 19 tahun!!
Di sebuah dusun pedalaman di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah tempat saya pernah melakukan penelitian saya mendapatkan fenomena yang serupa. Selama penelitian saya tinggal di rumah kepala dusun. Anak laki-laki kadus adalah seorang kakek tiga cucu. Usia si “kakek” baru 38 tahun. Sementara istrinya, saat saya di sana masih berusia 32 tahun. Dan cucu tertuanya berusia 5 tahun. Artinya, ia berusia sekitar 27 tahun saat pertama kali menimbang cucu. Anda bisa bayangkan usia berapa ia menikah dan usia berapa ia melahirkan. Kalikan juga, usia berapa anaknya menikah hingga kini ia memiliki cucu.
Ini sungguh fenomena memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya masih menikmati masa sekolah dan masa bermain tiba-tiba harus menerima kenyataan hidup yang berat. Jangan tanya soal pendidikan. Itu jelas sama sekali tidak pernah dipikirkan lagi. Apalagi masalah kesehatan. Dukun dan tabib adalah pilihannya. Lebih menyedihkan adalah biaya hidup sehari-hati. Suaminya masih tergolong anak-anak yang jika belum menikah ia masih ditanggung oleh orang tuanya. Sekarang ia dibebani tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.
Siapa yang salah?
Tidak ada yang mau di salahkan. Namun hampir semua pihak menyumbangkan sedikit kesalahan yang berujung pada munculnya masalah ini. Pemerintah jelas tidak sukses menjelaskan amsalah KB dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat. Bukan hanya masyarakat pedesaan yang kadang jauh dari jangkauan informasi, di perkotaan sekalipun masih banyak kita temukan anak yang sudah memiliki anak.
Kedua, ini pengaruh media yang menyiarkan gaya hidup hedonis dan pergaulan dengan kecenderungan pada relasi seksual antara laki-laki dan perempuan. Saat ini, berita tentang pacaran dan pasangan berevolusi dengan sangat. Isue utama yang ditekankan adalah pasangan muda yang mengedepankan hubungan laiknya suami istri. Semakin jauh melangkah dalam relasi seksual tanpa nikah dianggap semakain modern dan semakin cinta.
Tokoh agama juga menyumbangkan masalah. Doktrin agama yang tidak dipahami dalam konteks perkembangan zaman dan perubahan budaya menyebabkan banyak perempuan yang harus menerima kenyataan nikah muda, baik karena dipaksa oleh orang tuanya, juga karena merasa ia “hanya seorang perempuan” yang tidak diizinkan oleh agama memilih hidup yang lebih baik. Bahkan tidak jarang tokoh agama pula yang mengambil kesempatan ini dengan menikahi gadis belia dan mengorbankan masa depannya.
Yang paling bertanggung jawab sesuangguhnya adalah masyarakat itu sendiri. bagaimanapun sebuah kontruksi masyarakat yang bagus dan sadar akan pendidikan dan kesehatan bisa mencegah lahirnya “nenek-nenek” muda di masa depan. Sebab “nenek muda” ini jelas bukan sebuah prestasi, malainkan sebuah masalah sosial yang semakin membuat masalah sosial lainnya bermunculan. Seperti pengangguran, gelandangan, pengemis, dan lainnya.
02 July 2011
Budaya Ngopi; antara Aceh dan Milan
Siapa yang tidak kenal kopi? Mau tidak mau, suka tidak suka, saya kira semua orang di dunia ini mengenalnya. Bedanya, sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman akrab, sebagian yang lain teman biasa, dan tidak jarang pula menjadi musuh bebuyutan karena dianggap (atau bahkan memang) mendatangkan penyakit baginya. Namun, bagaimanapun, kopi tetap dikenal.Di Indonesia, kopi menjadi minuman paforit banyak suku. Apalagi tanaman kopi bisa hidup di banyak tempat dengan “mudah”. Sehingga kita sering dengar istilah “petani kopi” yang berarti sekelompok orang yang bekerja untuk menanam kopi, menjaga, memanen dan mengolahnya. Kondisi ini pula yang selanjutnya memunculkan personal-personal yang sangat menyukai kopi.
Salah satu suku bangsa yang “gila” kopi adalah orang Aceh. Bagi yang pernah datang ke Aceh tahu bagaimana kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat keseharian. Di Banda Aceh misalnya, anda tidak perlu capek-capek bikin kopi sendiri. Berbagai jenis kopi, aroma kopi, ada di warung kopi dengan harga terjangkau. Lebih mudah lagi, warung kopi itu ada di mana-mana, sangat mudah mencarinya. Dari yang paling kecil hingga yang besar. Dari pinggiran hingga pusat kota. Tersebar merata.
Di Milan (dan Italia pada umumnya), minum kopi juga menjadi sebuah budaya yang tidak teprisahkan dari kultur masyarakatnya. Sama seperti di Aceh warung kopi dengan mudah bisa diperoleh di Milan. Di mana-mada ada Bar atau cafe yang menyedikan kopi. Kopi menjadi minuman paforit juga di kantin kampus, di terminal, di stasion kereta api, dan lainnya. Singkatnya, kopi adalah minuman yang sangat populer di Milan (juga Italia).
Seperti kata pepatah “beda padang beda ilalang, beda lubuk beda ikannya”, antara Aceh dan Milan memiliki budaya minum kopi yang berbeda. Beberapa perbedaannya adalah sebagai berikut:
Pertama, kebanyakan orang Aceh mengkonsumsi kopi dalam gelas sedang yang diisi dengan kopi encer ditambah gula. Meskipun ada beberapa orang yang suka minum kopi pahit, namun itu bukanlah fenomena umum di kota-kota. Anak muda dan lelaki paruh baya biasanya memesan kopi manis. Bahkan sangat manis hingga rasa pahit kopi jadi hilang. Sedangkan di Milan, orang sangat suka minum espresso, kopi pahit yang kental yang diisi dalam gelas kecil, sebesar jempol kaki. Itupun tidak penuh, mungkin hanya setengah. Beberapa orang memang menambahkan gula ke dalamnya, namun yang lebih umum, orang Milan meminum kopi itu apa adanya. Pahitnya menusuk jantung dan kepala. Tapi sedapnya menyebar ke seluruh tubuh.
Kedua, Orang Aceh memiliki warung kopi yang banyak, besar dan rame. Kalau anda masuk ke warung kopi, anda akan mendengar suara “gemuruh” seperti di pasar. Semua orang berbicara, tertawa, bercerita, berdiskusi, seperti menjerit. Kalau mau minum kopi dengan tenang dan senyap memang bukan warung kopi tempatnya. Kecuali pada waktu tidak banyak orang, atau di warung kopi yang tidak populer. Nah, ini sangat berbeda dengan di Milan. Banyak warung kopi tidak menyediakan tempat duduk. Kalau mau ngopi, anda masuk ke dalam, memesan kopi yang anda inginkan, dan minum sambil berdiri. Kadang ada satu set meja kursi, namun itu jarang dipakai. Orang lebih suka minum kopi sambil berdiri, bahkan kalau mereka berdua atau bertiga.
Ketiga, di Aceh, kopi diolah secara tradisional. Di warung kopi Banda Aceh dan Aceh Besar, sebelum kopi dituangkan ke dalam gelas, kopi disaring dengan kain khusus sehingga tidak ada serbuk kopi yang masuk ke dalam gelas. Di beberapa kabupaten lain, kopi dihidangkan bersama bubuk kopi yang masih kasar sehingga setelah selesai diminum di dalam gelas akan tersisa ampasnya. Orang Aceh mengatakan kopi pertama dengan “kupi sareng” dan kopi kedua dengan “kupi tubroek”. Di Milan, pada umumnya kopi disajikan dengan menggunakan mesin modern. Bubuk kopi hanya dimasukkan dalam sebuah alat pengolahan. Ketika ada yang memesan, penjual akan mengeluarkan perasan kopi dari alat tersebut. Ini membuat kopi yang keluar adalah ekstrak kopi yang sangat kental dan rasanya juga sangat nikmat. Sebab ia adalah “uap kopi” yang memiliki aroma menusuk hidung.
Keempat, Di Aceh pada umumnya hanya ada kopi hitam saja dan tidak banyak pilihan olahan. Selain kopi hitam, paling kita bisa memesan kopi susu, kopi sanger (kopi+susu+gula), kopi kocok, dan kopi telor. Namun kopi hitam sangat pupuler dan yang lainnya hanya insidentil dan disukai oleh orang tertentu saja. Di Milan, ada banyak olahan kopi dan sangat variatif. Dua kopi yang sangat terkenal adalah espresso dan capucino. Kalau espresso adalah kopi hitam pekat, capucino adalah kopi campur susu yang lumayan “terang”. Dua-duanya populer dan dua-duanya memiliki kenikmatan tersendiri yang masyaallah.
Kelima, Di Aceh kopi pada umumnya ditanam sendiri oleh orang Aceh. Memang, kebanyakan berasal dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua kabupaten di dataran tinggi Aceh yang memiliki kebun kopi yang maha luas. Ada juga kopi yang di datangkan dari Sumatera Utara, hasil produksi dari dataran tinggi Berastagi. Namun masyarakat Aceh pada umumnya memiliki kebun kopi untuk kebutuhan sendiri mereka, terutama masyarakat pedesaan Aceh. Lantas dari mana kopi yang ada di Milan? Seorang teman yang saya temui mengatakan kalau kopi di Milan diimpor dari luar. Di Italia sendiri tidak banyak tumbuh kopi, mereka mendatangkannya dari negara lain. Salah satu negara pemasok kopi ke Milan adalah Belanda.
Belanda? saya jadi ingat sebuah perusahan kopi asal Belanda yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Mereka menampung kopi masyarakat dan mengirimkannya langsung ke Belanda. Apakah perusahaan ini yang memasok kopi ke Milan? Boleh jadi. Kalu benar, berarti saya sudah minum kopi Aceh di Milan. Hehehehe
Btw, bagaimana budaya minum kopi di tempat anda? Saya yakin pasti menarik!
Subscribe to:
Posts (Atom)

